• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. PENENTUAN PERBANDINGAN MASSA ALUMINIUM

3. Kadar Gliserol

Kadar gliserol merupakan salah satu parameter penentu mutu biodiesel hasil pemurnian. Dalam proses pembuatannya, biodiesel kasar yang dihasilkan dipisahkan dari fase gliserolnya menggunakan labu pemisah (gravitasi).

Keberadaan gliserol dalam biodiesel murni mengindikasikan kurang sempurnanya proses pemisahan antara kedua fase tersebut dan kurang efisiennya proses pemurnian biodiesel. Nilai kadar gliserol terdiri atas kadar gliserol total, bebas dan terikat. Keberadaan gliserol yang cukup tinggi dapat membahayakan mesin diesel dikarenakan adanya gugus OH yang agresif terhadap logam non besi dan campuran krom (Widyanagari, 2008).

0

B100% = Biodiesel aluminium silikat 100 % T100% = Biodiesel magnesium silikat 100%

B1T1 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (1:1) B1T2 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (1:2) B1T3 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (1:3) B2T3 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (2:3) B2T1 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (2:1) B3T1 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (3:1) B3T2 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (3:2)

Gambar 21. Kadar Gliserol Total Biodiesel Hasil Pemurnian Menggunakan Berbagai Perbandingan Massa Aluminium Silikat dan Magnesium Silikat

Gliserol total menunjukkan jumlah semua gliserol baik bebas maupun terikat yang ada dalam suatu sampel biodiesel. Hasil analisis gliserol total terhadap biodiesel yang dimurnikan menggunakan berbagai perbandingan massa aluminium silikat dan magnesium silikat dapat dilihat pada Gambar 21.

Kadar gliserol total yang diperbolehkan dalam biodiesel yang sesuai dengan SNI 04-7182-2006 adalah sebesar 0.24 %-berat. Kandungan gliserol total biodiesel kasar adalah sebesar 0.2974 % dan setelah dilakukan pemurnian, terjadi penurunan nilai sebesar 0.01 – 0.07 %.

Dari gambar dapat dilihat bahwa hampir semua biodiesel yang dimurnikan menggunakan berbagai perbandingan massa adsorben memiliki nilai kadar gliserol total lebih tinggi dibandingkan nilai standar, kecuali biodiesel yang dimurnikan menggunakan perbandingan massa B:T (2:1), yaitu sebesar 0.2318 %-berat. Uji keragaman dengan tingkat kepercayaan 95 % (α = 0.05) yang dilanjutkan dengan uji Duncan menunjukkan bahwa biodiesel B:T (2:1) memiliki nilai kadar gliserol total yang tidak berbeda nyata dengan biodiesel yang dimurnikan menggunakan adsorben komersial dan berbeda nyata dengan biodiesel lainnya yang dimurnikan menggunakan berbagai jenis perbandingan massa kedua adsorben.

Gliserol bebas merupakan hasil samping proses transesterifikasi yang berjalan sempurna, sehingga sudah tidak berikatan lagi dengan asam-asam lemak membentuk mono, di, atau trigliserida. Bahan bakar dengan kelebihan gliserol bebas biasanya memiliki masalah dengan pengendapan gliserol pada saat penyimpanan, menciptakan campuran yang sangat kental yang dapat menyumbat filter bahan bakar dan menyebabkan masalah pembakaran dalam mesin (Knothe, et al., 2004). Hasil analisis gliserol bebas terhadap biodiesel yang dimurnikan menggunakan berbagai perbandingan massa aluminium silikat dan magnesium silikat dapat dilihat pada Gambar 22.

Nilai standar untuk kadar gliserol bebas menurut SNI adalah sebesar 0.02

%-berat. Dari gambar dapat dilihat bahwa semua biodiesel murni memiliki nilai kadar gliserol bebas di bawah standar SNI, yaitu berada pada kisaran 0.005 – 0.01

%. Biodiesel cuci air memiliki nilai kadar gliserol bebas terkecil, yaitu 0.0014 %-berat. Biodiesel lain yang memiliki nilai gliserol bebas yang rendah dan

mendekati nilai gliserol bebas biodiesel cuci air adalah biodiesel yang dimurnikan dengan aluminium silikat 100 % atau B100%, yaitu sebesar 0.0054 %-berat.

0

B100% = Biodiesel aluminium silikat 100 % T100% = Biodiesel magnesium silikat 100%

B1T1 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (1:1) B1T2 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (1:2) B1T3 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (1:3) B2T3 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (2:3) B2T1 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (2:1) B3T1 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (3:1) B3T2 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (3:2)

Gambar 22. Kadar Gliserol Bebas Biodiesel Hasil Pemurnian Menggunakan Berbagai Perbandingan Massa Aluminium Silikat dan Magnesium Silikat

Uji keragaman dengan tingkat kepercayaan 95 % (α = 0.05) yang dilanjutkan dengan uji Duncan menunjukkan bahwa semua nilai gliserol bebas biodiesel yang dimurnikan menggunakan berbagai perbandingan massa adsorben berbeda nyata dengan nilai gliserol bebas biodiesel kasar. Nilai gliserol bebas biodiesel B100% tidak menunjukkan perbedaan nyata dengan nilai gliserol bebas biodiesel cuci air dan biodiesel hasil pemurnian dengan perbandingan massa aluminium silikat dan magnesium silikat (1:1) dan (1:2). Kadar gliserol bebas yang kecil pada biodiesel cuci air disebabkan oleh larutnya gliserol pada saat pencucian menggunakan air hangat dan pada saat pengeringan.

0

B100% = Biodiesel aluminium silikat 100 % T100% = Biodiesel magnesium silikat 100%

B1T1 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (1:1) B1T2 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (1:2) B1T3 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (1:3) B2T3 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (2:3) B2T1 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (2:1) B3T1 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (3:1) B3T2 = Biodiesel aluminium silikat dan magnesium silikat (3:2)

Gambar 23. Kadar Gliserol Terikat Biodiesel Hasil Pemurnian Menggunakan Berbagai Perbandingan Massa Aluminium Silikat dan Magnesium Silikat

Gliserol terikat merupakan hasil samping proses transesterifikasi yang tidak sempurna dan masih berikatan dengan asam-asam lemak membentuk mono, di, atau trigliserida. Hasil analisis gliserol terikat terhadap biodiesel yang dimurnikan menggunakan berbagai perbandingan massa aluminium silikat dan magnesium silikat dapat dilihat pada Gambar 23.

Nilai standar untuk kadar gliserol terikat memang tidak tercantum di SNI 04-7182-2006, tetapi dapat disimpulkan dari batasan standar nilai gliserol total dan gliserol bebas bahwa nilai maksimum gliserol terikat yang diperbolehkan adalah sebesar 0.22 %-berat. Dari gambar dapat dilihat bahwa nilai gliserol terikat pada semua biodiesel mengalami penurunan terhadap biodiesel kasar yaitu sebesar 0.01 – 0.0.4 %; tetapi kesemuanya, termasuk nilai kadar gliserol terikat pada

biodiesel cuci air, masih berada di atas standar, kecuali untuk biodiesel yang dimurnikan dengan aluminium silikat dan magnesium silikat dengan perbandingan massa B:T (2:1), yaitu sebesar 0.2190 %-berat.

Uji keragaman dengan tingkat kepercayaan 95 % (α = 0.05) yang dilanjutkan dengan uji Duncan menunjukkan bahwa nilai kadar gliserol terikat pada biodiesel B:T (2:1) tidak berbeda nyata dengan nilai gliserol terikat biodiesel yanjg dimurnikan menggunakan adsorebn komersial (0.223 %-berat). Hal ini menunjukkan bahwa adsorben dengan komposisi B:T (2:1) cukup efisien dalam menurunkan nilai kadar gliserol terikat dalam biodiesel. Kombinasi aluminium silikat dan magnesium silikat lebih efektif dalam menyerap gliserol terikat karena gliserol terikat memiliki gugus polar dan non polar. Aluminium silikat akan menyerap gugus polar, sedangkan magnesium silikat akan menyerap gugus non polar (Herdiani, 2009).

Dokumen terkait