HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.3. Kadar Hemoglobin
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh rata-rata kadar hemoglobin seperti pada Gambar 7 berikut.
Rata-Rata Kadar Hb Darah Mencit
0 5 10 15 20 Perlakuan R era ta K ada r H b ( g /d L ) Kadar Hb Kadar Hb 14.43 11.96 13.5 15.03 14.03 14.4 14.7 14.73 14.9 15.16 K0 K1 K2 K3 P1 P2 P3 P4 P5 P6
Gambar 7. Grafik Rata-Rata Kadar Hemoglobin Mencit
Keterangan :
K1 = Kelompok kontrol Pb yang diberi larutan Pb asetat 25 mg/kg BB K2 = Kelompok kontrol asetat yang diberi larutan asetat 1 %
K3 = Kelompok kontrol kitosan yang diberi larutan kitosan
P1 = Kelompok perlakuan yang diberi larutan Pb asetat 25 mg/g BB + kitosan A 1 % P2 = Kelompok perlakuan yang diberi larutan Pb asetat 25 mg/g BB + kitosan A 2 % P3 = Kelompok perlakuan yang diberi larutan Pb asetat 25 mg/g BB + kitosan B 1 % P4 = Kelompok perlakuan yang diberi larutan Pb asetat 25 mg/g BB + kitosan B 2 % P4 = Kelompok perlakuan yang diberi larutan Pb asetat 25 mg/g BB + kitosan C 1 % P5 = Kelompok perlakuan yang diberi larutan Pb asetat 25 mg/g BB + kitosan C 2 % Kitosan A = Kitosan dengan derajat deasetilasi 64 %
Kitosan B = Kitosan dengan derajat deasetilasi 65 % Kitosan C = Kitosan dengan derajat deasetilasi 75 %
Berdasarkan data dari Gambar 7 pada kelompok K1 (kontrol Pb) memiliki kadar hemoglobin terendah (12 g/dL) dibandingkan dengan kelompok perlakuan yang lain. Sedangkan kelompok P6 memiliki kadar hemoglobin tertinggi (15,2 g/dL) dibandingkan dengan kelompok lain.
Berdasarkan hasil analisis statistik dengan uji anova satu arah diperoleh hasil yang signifikan p=0.000 (p<0,05) di antara kelompok perlakuan. Untuk mengetahui perbedaan antar kelompok perlakuan dilakukan uji Beda Nyata Terkecil dan diperoleh hasil seperti pada Tabel 4 berikut.
Tabel 4. Hasil Uji Beda Nyata Terkecil Rata-Rata Kadar Hemoglobin
Perlakuan K0 K1 K2 K3 P1 P2 P3 P4 P5 P6 K0 * * ns ns ns ns ns ns * K1 * * * * * * * * * K2 * * * ns * * * * * K3 ns * * * ns ns ns ns ns P1 ns * ns * ns ns ns * * P2 ns * * ns ns ns ns ns * P3 ns * * ns ns ns ns ns ns P4 ns * * ns ns ns ns ns ns P5 ns * * ns * ns ns ns ns P6 * * * ns * * ns ns ns
Berdasarkan hasil uji BNT pada Tabel 4 di atas dapat dilihat bahwa kelompok K1 (kontrol Pb) berbeda nyata (p<0,05) dengan semua kelompok perlakuan (K0, K2,K3, P1, P2, P3, P4, P5, dan P6) yaitu terjadi penurunan kadar hemoglobin. Begitu juga dengan kelompok K2 (kontrol asetat) berbeda nyata dengan semua kelompok perlakuan kecuali dengan kelompok P1 (Pb asetat + Kitosan A 1%).
Pada kelompok P1 kadar Hb lebih rendah dan berbeda nyata dari kelompok P5 (Pb asetat + Kitosan C 1%), P6 (Pb asetat + Kitosan C 2 %), dan K3 (kontrol kitosan) tetapi masih lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok K1. Begitu juga dengan kelompok P2 (Pb asetat + kitosan A 2%) lebih rendah dan berbeda nyata dengan kelompok P6.
Pada kelompok P3 (Pb asetat + kitosan B 1 %) dan kelompok P4 (Pb asetat + kitosan B 2%) tidak berbeda dengan kelompok K0, K3, P1, P2, P5, dan P6. Pemberian kitosan dengan konsentrasi berbeda antara P1 dan P2, P3 dan P4, P5 dan P6 tidak berpengaruh terhadap kadar Hb, tetapi kadar Hb meningkat sejalan dengan kenaikan derajat deasetilasi kitosan yang diberikan.
4.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh pemberian larutan Pb asetat dapat meningkatkan kadar Pb dalam darah hewan uji kelompok K1 (kontrol Pb) sebesar 0,33 µg/100 mL serta menunjukkan penurunan kadar hemoglobin darah (12 g/dL). Hal ini sesuai dengan penelitian Sugiharto (2004), dan Hariono (2005) yang menunjukkan pemberian larutan timbal dapat mengakibatkan penurunan kadar
hemoglobin darah tikus. Menurut Palar (2004), plumbum dapat menghambat proses pengikatan heme dengan globin sehingga Hb yang terbentuk berkurang. Kadar Pb dalam darah sebesar 0,5 µg/mL pada manusia dewasa dapat menurunkan sintesis Hb, pada kadar 0,8 µg/mL dapat mengakibatkan anemia, sedangkan pada anak-anak anemia dapat terjadi apabila dalam darah mengandung timbal pada kadar 0,7 µg/mL (WHO, 1987 ).
Meskipun tidak terdapat perbedaan yang nyata kadar Pb darah di antara kelompok perlakuan namun terdapat kecenderungan penurunan kadar Pb darah antara kelompok kontrol Pb dengan kelompok perlakuan yang diberi kitosan (P1, P2, P3, P4, P5, dan P6). Hal ini dapat dilihat dari kadar hemoglobin kelompok perlakuan. Kecendrungan menurunnya kadar Pb darah pada kelompok perlakuan yang diberi kitosan mengakibatkan peningkatan kadar hemoglobin seperti yang terlihat pada Gambar 7. Terdapat peningkatan yang nyata kadar hemoglobin antara kelompok kontrol Pb (K1) dengan semua kelompok perlakuan yang diberi kitosan (P1, P2, P3, P4, P5, P6), serta terdapat perbedaan yang nyata kadar hemoglobin antara kelompok perlakuan yang diberi kitosan derajat deasetilasi 64 % (P1 dan P2) dengan kadar hemoglobin kelompok perlakuan yang diberi kitosan derajat deasetilasi 75 % (P5 dan P6). Hal ini menunjukkan kemampuan kitosan sebagai pengkelat logam Pb.
Plumbum merupakan logam berat yang merupakan inhibitor enzim. Kerjanya didasarkan pada reaksi dengan gugus sulfhidril (-SH) gugus aktif enzim agar
enzim yang paling mudah terhalang daya kerjanya, karena gugus –SH mudah berikatan dengan ion-ion logam berat. Enzim-enzim pada sistem haemopoietik seperti enzim delta aminolevulinic acid dehydratase ( -ALAD) yang berperan dalam biosintesis hemoglobin adalah salah satu enzim yang mengandung gugus –SH, sehingga daya kerjanya sangat dipengaruhi oleh plumbum. Interaksi antara plumbum dengan gugus –SH enzim -ALAD mengakibatkan pembentukan intermediet porphobilinogen dan kelanjutan dari proses pembentukan haem tidak dapat berlanjut (terputus). Sehingga terjadi hambatan dalam sintesa hemoglobin (Saraswati, 1998; Palar, 2004; Sudarmaji et al, 2006).
Logam berat seperti Pb selain dapat bereaksi dengan gugus –SH pada enzim juga dapat bereaksi dengan gugus karboksilat (-COOH) dan gugus amina (-NH2). Kitosan mengandung gugus amina dan hidroksil (-OH) sehingga menyebabkan kitosan mempunyai reaktifitas kimia yang tinggi, bersifat polielektrolit kation sehingga dapat berperan sebagai penukar ion (ion exchanger) dan dapat berperan sebagai absorben terhadap logam berat dalam air limbah (Marganof, 2003).
Menurut Inoue et al (1993) Rorrer dan Hsien (1993), gugus hidroksil pada kitosan menyebabkan kitosan menjadi bersifat hidrofilik , dan gugus amina pada rantai kitosan merupakan tempat pengkelat untuk ion logam. Maka dari sifat-sifat ini kitosan mempunyai kemampuan untuk mengikat plumbum darah.
Kemampuan kitosan dalam mengkelat plumbum darah dapat dilihat dari kecendrungan penurunan kadar Pb darah pada kelompok perlakuan yang diberi
kitosan terutama pada kelompok P6 yang diberi kitosan derajat deasetilasi 75 % konsentrasi 2 % mempunyai kadar Pb darah terendah (0,003 µg/100 mL). Juga dari kadar hemoglobin darah terdapat perbedaan yang nyata kadar hemoglobin antara kelompok perlakuan yang diberi kitosan derajat deasetilasi 64 % (P1 dan P2) dengan kadar hemoglobin kelompok perlakuan yang diberi kitosan derajat deasetilasi 75 % (P5 dan P6). Rendahnya kadar Pb darah serta tingginya kadar hemoglobin pada kelompok P6 tersebut karena kemampuan kitosan dengan derajat deasetilasi 75 %, konsentrasi 2 % dalam mengkelat Pb lebih tinggi dibandingkan dengan kitosan derajat deasetilasi 64 % dan 65 %. Keadaan ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Milot et al (1998), bahwa pertambahan nilai derajat deasetilasi dapat meningkatkan keupayaan dalam proses penyerapan ion logam, hal ini disebabkan bertambahnya jumlah gugus amina bebas, serta konsentrasi larutan menyebabkan viskositas menjadi tinggi yang penting untuk kekuatan ion.
Berdasarkan data pada Gambar 6 dan Tabel 3, kelompok K3 (kontrol kitosan) memiliki aktivitas enzim -ALAD tertinggi (1,2 µmol PBG /jam/L eritrosit ) dan berbeda nyata (p<0,05) dengan semua kelompok perlakuan (K0, K1, K2, P1, P2, P3, P4, P5). Belum diketahui mekanisme yang menyebabkan kitosan dapat meningkatkan aktivitas enzim -ALAD di darah. Pada kelompok K1 (kontrol Pb) memiliki aktivitas enzim -ALAD lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok K0, K2, P1, P2, P3, P4, dan P5. Peningkatan aktivitas enzim -ALAD pada pemberian Pb juga dilaporkan
oleh Maes dan Gerber (1978), Fujita et al (1982), Kajimoto et al (1982) Hariono, 2005. Mekanisme kenaikan aktivitas enzim -ALAD ini juga belum diketahui.
Menurut Fujita et al (1982), peningkatan aktivitas enzim -ALAD yang terjadi di dalam darah manusia kemungkinan karena penghambatan yang berlebihan oleh Pb terhadap aktivitas enzim -ALAD tersebut pada sel-sel sum-sum tulang belakang selama pemaparan Pb.
Kelompok P6 (Pb asetat + kitosan derajat deasetilasi 75 % konsentrasi 2 %) memiliki aktivitas enzim -ALAD 0, 9 µmol PBG /jam/l eritrosit berbeda nyata dengan kelompok P5 (Pb asetat + kitosan derajat deasetilasi 75 % konsentrasi 1 %), aktivitas enzim -ALAD 0,49 µmol PBG /jam/l eritrosit; kelompok P3 (Pb asetat + kitosan derajat deasetilasi 65 % konsentrasi 1 %, aktivitas enzim -ALAD 0,43 µmol PBG /jam/l eritrosit; dan kelompok P1 (Pb asetat + kitosan derajat deasetilasi 64 % konsentrasi 1 %) aktivitas enzim -ALAD 0,33 µmol PBG /jam/l eritrosit ).
BAB V