• Tidak ada hasil yang ditemukan

I. PENDAHULUAN

1. Kadar Air

2. Kadar abu (%) Maks 6 Maks 13 Maks 9

3. Kadar zat mudah menguap (%)

Maks 30 Maks 19 Maks 16

4. Kadar karbon terikat (%) Min 60 Min 58 Min 75

5. Kerapatan (gram/cm3) - - Min 1

6. Keteguhan tekan (kg/cm2) - - Min 13

7. Nilai Kalor (kal/gram) Min 6000 Min 6500 Min 7300 Sumber: Pari et al. (1990)

Salah satu persyaratan briket yang baik adalah memiliki nilai kalor sepadan dengan bahan bakar lain. Nilai kalor unit dari berbagai bahan bakar dapat dilihat pada Lampiran 1 dan nilai kalor beberapa jenis briket biomassa pada Lampiran 2.

 

21   

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Bahan dan Alat 3.1.1 Bahan

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah spent bleaching earth dari proses pemurnian CPO yang diperoleh dari PT. Panca Nabati Prakarsa, Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta. Tempurung kelapa sawit yang digunakan berasal dari PTPN VIII Kertajaya Malingping, Kabupaten Lebak, Banten. Sebagai bahan perekat digunakan pati tapioka yang diperoleh dari pasar daerah Bogor.

3.1.2. Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah retort, penggiling, saringan 40 mesh, tanur listrik, bomb calorimeter, sohxlet, cawan kaca, alat pengempa briket manual, desikator, cawan porselin, timbangan, neraca analitik, tungku tanah liat, panci, oven, pengukur, stopwatch, alat penguji keteguhan tekan, dan pengaduk.

3.2 Tempat Penelitian dan Waktu Pelaksanaan

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia Kayu dan Energi Biomassa, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Bogor. Penelitian ini berlangsung pada Mei hingga September 2009.

3.3 Metode Penelitian

3.3.1 Penelitian Pendahuluan

Pada penelitian pendahuluan dilakukan analisis sifat fisik dan kimia dari spent bleaching earth (Gambar 2) untuk mengetahui kelayakan bahan tersebut untuk dijadikan bahan baku briket. Analisa yang dilakukan meliputi kadar minyak, kadar air, kadar zat mudah menguap, kadar abu, kadar karbon terikat (Lampiran 4). Parameter mutu ini mengacu kepada parameter briket pada umumnya.

 

22   

Gambar 2. Diagram alir analisa karakteristik spent bleaching earth Spent bleaching earth merupakan bahan utama dalam penelitian ini yang berbentuk sangat liat dan ‘lunak’ sehingga diberikan pengujian pengaruh perekat terhadap pengempaan briket (Gambar 3). Perlakukan yang diberikan berupa pengempaan dengan perekat 3% dan pengempaan tanpa perekat. Setelah itu akan dilihat penampilan secara visual briket yang dihasilkan.

Gambar 3. Diagram alir pembuatan briket dengan/tanpa Perekat Kempa

menjadi briket

Spent Bleaching Earth

Tanpa perekat Perekat tapioka 3%

Penilaian penampakan Spent Bleaching Earth Dimasukan ke dalam cawan untuk dianalisa Kadar abu Nilai kalor Kadar zat

mudah menguap Kadar karbon terikat Kadar

air Kadar

 

23   

Penelitian pendahuluan berikutnya adalah pengujian untuk melihat pengaruh penambahan arang terhadap mutu pembakaran yang dihasilkan (Gambar 4). Pengujian ini didasarkan karena arang memiliki kemampuan mempertahankan nyala api, sehingga dengan penambahan arang ini diharapkan dapat menyebabkan kualitas waktu menyala spent bleaching earth lebih baik.

Gambar 4. Diagram alir pembakaran briket dengan pengaruh penambahan arang

3.3.2 Penelitian Utama

Setelah hasil penelitian pendahuluan menunjukkan hasil bahwa spent bleaching earth dapat dijadikan bahan baku briket maka dilakukan penelitian utama yaitu pembuatan briket (Gambar 5). Awalnya spent bleaching earth dikeringkan dengan penjemuran di bawah sinar matahari untuk mengurangi kadar air serta mencegah timbulnya bau tengik dan penjamuran. Dilakukan juga sortasi awal agar tidak mengandung bahan-bahan yang mengganggu proses pengempaan.

Kempa menjadi briket Spent Bleaching Earth Tanpa Penambahan Arang Penambahan Arang 50 % Uji Pembakaran Briket

 

24   

Pada bahan tambahan yaitu tempurung kelapa sawit dilakukan pengarangan dengan menggunakan retort. Sebelum pengarangan, dilakukan persiapan pada tempurung kelapa sawit untuk mencegah adanya pasir dan batu-batuan dalam bahan agar tidak mengganngu kerja retort pada proses pengarangan berlangsung. Selain itu tempurung kelapa sawit juga dikeringkan terlebih dahulu untuk mengurangi kadar air dan mempercepat pengarangan. Suhu pengararangan dimulai dari suhu kamar hingga mencapai 500°C dengan waktu 5 jam untuk sekali pengarangan. Arang tempurung kelapa sawit hasil pengarangan digiling untuk mengecilkan ukurannya dan disaring hingga mencapai 40 mesh.

Kemudian dilakukan pencampuran arang tempurung kelapa sawit dengan spent bleaching earth sesuai dengan komposisi briket yang diinginkan. Campuran ini kemudian diberi perekat yang berasal dari pati tapioka. Setelah bahan-bahan tercampur rata, maka campuran dapat dikempa dengan alat pengempa briket manual untuk dicetak menjadi briket-briket. Briket yang telah siap dicetak kemudian dikeringkan ke dalam oven dengan suhu 60°C selama 24 jam atau sampai beratnya konstan. Kemudian dilakukan uji kualitas briket campuran spent bleaching earth dan arang tempurung kelapa sawit. Pengujian mutu briket yang dilakukan meliputi kadar air, kadar zat mudah menguap, kadar abu, kadar karbon terikat, kerapatan, keteguhan tekan, nilai kalor (Lampiran 4).

  25   

Gambar 5. Diagram alir pembuatan briket spent bleaching earth dengan campuran arang tempurung kelapa sawit Wood Vinegar Arang Tempurung Kelapa Sawit Pengarangan Pencampuran Spent Bleaching Earth Pati Tapioka Pemanasan Perekat

Kadar abu Kadar zat mudah Nilai Kalor

menguap Kadar karbon terikat Kerapatan Keteguhan Tekan Kadar Air Pengempaan Pengeringan

 

26   

3.4 Perlakuan Percobaan

Perlakuan dalam penelitian ini terdiri dari dua faktor, yaitu konsentrasi perekat tapioka (A) yang terdiri dari tiga taraf yaitu konsentrasi perekat 2% (A1), 3% (A2), 4% (A3); dan konsentrasi arang tempurung kelapa sawit (B) yang terdiri dari tiga taraf yaitu konsentrasi campuran 25 % (B1), 50% (B2), 75% (B3). Kombinasi yang dibuat adalah 9 kombinasi yaitu A1B1, A1B2, A1B3, A2B1, A2B2, A2B3, A3B1, A3B2, dan A3B3.

3.5 Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan untuk menentukan kombinasi konsentrasi terbaik perekat dan konsentrasi arang tempurung kelapa sawit dalam pembuatan briket ini adalah rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor. Model matematis rancangan percobaan yang digunakan adalah sebagai berikut:

dimana:

Yijk : nilai pengamatan pada ulangan ke-k yang memperoleh kombinasi perlakuan ij (taraf ke-i dari faktor konsentrasi perekat dan taraf ke-j dari faktor konsentrasi arang tempurung kelapa sawit)

: nilai tengah (rata-rata)

αi : pengaruh taraf ke-i dari perlakuan faktor konsentrasi perekat. βj : pengaruh taraf ke-j dari perlakuan faktor konsentrasi arang

tempurung kelapa sawit.

(α β)ij : pengaruh interaksi taraf ke-i faktor konsentrasi perekat dan dan taraf ke-j dari perlakuan faktor konsentrasi arang tempurung kelapa sawit.

ijk : pengaruh galat dari percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi perlakukan ij.

 

27   

3.6 Uji Aplikasi Mendidihkan Air

Pada pengujian pembakaran disiapkan sekitar 250 gram briket kombinasi terbaik, sebagai pembanding disiapkan juga 250 gram briket dengan 100 % spent bleaching earth, briket dengan 100 % arang tempurung kelapa sawit, serta briket komersial. Hal yang diamati pada pengujian ini adalah untuk mengetahui pengaruh spent bleaching earth dan arang tempurung kelapa sawit terhadap kualitas pembakaran briket. selain itu, disiapkan tungku tanah liat, pemancing, panci, dan beberapa liter air yang akan dimasak dengan briket. Bagan alir uji pembakaran briket dapat dilihat pada Gambar 8. Uji pembakaran yang dilakukan pada penelitian pendahuluan untuk mengetahui mudah atau tidaknya sampel terbakar sedangkan uji pembakaran pada penelitian utama untuk melihat kualitas pembakaran briket meliputi lama briket menyala, laju pembakaran, lama mendidihkan air, laju mendidihkan air, warna nyala api, serta ada/tidaknya asap dan bau pada pembakaran.

masih menyala

tidak

Gambar 6. Diagram alir uji pembakaran briket kombinasi terbaik Letakkan briket dalam

tungku dan nyalakan dengan bantuan pemancing

Masukan air per liter pada panci, lalu didihkan air dengan menggunakan briket

Briket sebanyak 250 gram

Pemancing

Catat:

- Lama menyala briket - Waktu mulai

Catat :

- Lama mendidihkan per liter briket - Amati warna bara, asap, bau

- Suhu air mendidih

d ditetapkan 100

Abu Briket

Catat:

- Bobot Akhir

 

28   

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Penelitian Pendahuluan

Kelayakan briket dalam penelitian ini adalah sebagai bahan bakar alternatif khususnya bahan bakar alternatif industri. Pada penelitian pendahuluan dilakukan pengujian karakteristik spent bleaching earth (SBE) yang meliputi kadar minyak, kadar air, kadar zat mudah menguap, kadar abu, kadar karbon terikat, serta nilai kalor. Parameter yang diujikan ini didasarkan pada parameter mutu briket pada umumnya. Selain itu dilakukan uji penampilan fisik dengan membuat briket sederhana kemudian diamati bentuk hasil pengempaan dengan tujuan untuk memperkirakan apakah briket yang dihasilkan teguh, dan layak dalam penanganan. Pada penelitian pendahuluan juga dilakukan uji pembakaran untuk mengetahui apakah bahan baku SBE dapat terbakar. Gambar SBE dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Spent Bleaching Earth

4.1.1 Analisa Karakteristik Spent Bleaching Earth (SBE)

Beberapa parameter yang dianalisis pada sampel ini adalah kadar minyak, kadar air, kadar zat mudah menguap, kadar abu, kadar karbon terikat, dan nilai kalor bahan. Hasil pengujian karakteristik SBE dapat dilihat pada Tabel 9.

 

29   

Tabel 9. Hasil uji karakteristik spent bleaching earth

Parameter Nilai SNI*  

Kadar Minyak (%) 26,325 ‐ 

Kadar Air (%) 3,727 Maks. 6 

Kadar Zat Mudah Menguap (%) 31,230 Maks. 4 

Kadar Abu (%) 68,416 Maks. 30

Kadar Karbon Terikat (%) 0,354 ‐ 

Nilai Kalor (kal/gr) 6795,976 ‐ 

*Standar Nasional Indonesia (1989) 

Pada Tabel 9 menunjukkan bahwa kadar minyak dalam sampel SBE mencapai 26,325% bobot CPO. Hal ini sesuai dengan penelitian Kheang et al. (2006) yang menyatakan bahwa residu CPO dalam SBE mencapai 20-30% bobot CPO. Kadar minyak yang diukur pada sampel ini adalah residu CPO sisa proses pemucatan CPO. Pengukuran kadar minyak ini dilakukan dengan metode soxhlet (Gambar 8). Residu CPO ini yang menyebabkan SBE memiliki nilai kalor dan kadar zat mudah menguap yang tinggi.

 

30   

Untuk menganalisis parameter kadar air, kadar zat mudah menguap, dan kadar abu dapat mengacu kepada standar arang yang selama ini merupakan sering digunakan sebagai bahan baku briket. Pada Tabel 9 dapat dilihat bahwa kadar air SBE memeuhi standar bahan baku arang yang dengan batas maksimum 6%. Hal ini dikarenakan kandungan utama SBE merupakan silika. Silika memiliki kemampuan menyerap air yang kecil (Hendra dan Winarni, 2003). Namun kadar zat mudah menguap SBE sebesar 31,230% lebih tinggi daripada standar baku arang yang hanya memperbolehkan maksimal 4% kadar zat mudah menguap. Semakin tinggi kadar zat mudah menguap yang tinggi maka semakin tinggi asap yang dihasilkan pada saat pembakaran.

Kadar zat mudah menguap merupakan hasil dari penguapan bahan-bahan lain selain air karena air menguap pada suhu lebih dari 1000C. Tingginya kadar zat mudah menguap pada bahan dikarenakan karena menguapnya sekitar 26,325% residu CPO yang terkandung dalam bahan sehingga semakin banyak residu CPO yang tersimpan dalam bahan maka akan meningkatkan kadar zat mudah menguap. Pada parameter kadar abu, SBE memiliki kadar abu yang cukup tinggi yaitu mencapai 68,416% jika dibandingkan dengan standar bahan baku briket (arang) maksimal 30%. Hal ini dipengaruhi karena SBE merupakan mineral monmorilonit yang mengandung silika yang tinggi sehingga sangat sulit dibakar. Kadar zat mudah menguap dan kadar abu merupakan parameter penting untuk menentukan aplikasi suatu briket. Jika ingin aplikasi briket untuk bahan bakar alternatif rumah tangga maka briket yang sesuai adalah briket yang memiliki kadar abu dan kadar zat mudah menguap yang rendah. Semakin tinggi kadar abu yang dihasilkan maka dapat menyulitkan masyarakat dalam membersihkan abu sisa pembakaran, begitupula jika semakin tinggi kadar zat mudah menguap yang dihasilkan maka semakin banyak pula asap yang dihasilkan, sehingga mencemari lingkungan sekitar.

 

31   

SBE memiliki kadar karbon terikat yang rendah jika dibandingkan dengan briket Indonesia. Umumnya briket yang ada di Indonesia adalah briket arang kayu yang memiliki karbon yang tinggi hingga mencapai 75-80% (Suryani, 1986). Namun SBE yang digunakan sebagai bahan baku dalam penelitian ini merupakan lempung yang mengandung mineral-mineral monmorilonit sehingga sumber karbon yang ada hanya berasal dari residu CPO. Bahan SBE ini memiliki nilai kalor yang tinggi yaitu 6796 kal/gram. Pada Lampiran 2 ditunjukkan bahwa nilai kalor briket ini lebih tinggi daripada nilai kalor kayu sebesar 4765 kal/gram. Namun jika dibandingkan dengan batubara nilai kalor SBE ini lebih rendah.

Berdasarkan parameter hasil analisa pendahuluan karakteristik SBE, maka SBE ini layak untuk dijadikan bahan baku briket dilihat dari segi kadar air, dan tingginya nilai kalor. Hanya saja aplikasinya harus diarahkan untuk bahan bakar industri karena memiliki kadar zat mudah menguap dan kadar abu yang tinggi sehingga tidak sesuai untuk aplikasi rumah tangga. Industri dewasa ini, sangat membutuhkan alternatif bahan bakar industri yang ekonomis dan memiliki nilai kalor yang tinggi.

4.1.2 Pengaruh Perekat terhadap Pengempaan Briket

Umumnya dalam pembuatan briket membutuhkan perekat untuk memudahkan pengempaan. Biasanya perekat yang digunakan sekitar 3-5%. Namun melihat kondisi bahan yang lunak maka dilakukan pengujian pengempaan briket tanpa perekat. Kadar perekat tidak boleh terlalu tinggi karena dapat mengakibatkan penurunan mutu briket dan menimbulkan banyak asap.

 

32   

Tabel 10. Pengaruh perekat terhadap pengempaan briket Parameter Perekat 3 % Tanpa Perekat

Bentuk seperti tabung seperempat /separuh tabung Kekerasan sangat liat dan lunak sedikit liat dan lunak Pengempaan sulit dilepaskan agak mudah dilepaskan

Dari hasil pengujian pengempaan briket dengan perekat 3% atau tanpa perekat (Tabel 10), diperoleh hasil bahwa briket SBE dengan perekat 3% memiliki bentuk yang lebih rapih sesuai cetakan yang digunakan (dalam penelitian ini digunakan cetakan briket berbentuk tabung dengan diameter sekitar 3,7 cm dan tinggi mencapai 2,7 cm). Namun briket SBE tanpa perekat memiliki bentuk yang tidak teguh dan pecah ini dikarenakan tidak adanya bahan yang menyatukan partikel-partikel SBE tersebut.

Jika dibandingkan dari segi kekerasan, briket SBE dengan penambahan perekat sangat liat dan lunak. Hal ini dipengaruhi karena kondisi bahan yang merupakan lempung sehingga dengan penambahan perekat briket SBE yang terbentuk menjadi sangat lunak. Menurut Suryani (1986), lempung (clay) juga merupakan salah satu jenis perekat. Selain itu residu CPO yang terkandung didalamnya mempengaruhi bahan semakin lunak. Dari segi kemudahan pengempaan, briket dengan penambahan perekat 3% sulit dilepaskan dari cetakan karena SBE yang diberi perekat semakin liat, sehingga pada saat diberikan tekanan pengempaan bahan sulit dilepaskan dari cetakan.

Berdasarkan parameter bentuk, briket dengan perekat memiliki bentuk yang lebih utuh. Namun jika dibandingkan dari parameter kekerasan dan pengempaan, briket dengan penambahan perekat memiliki kerugian karena semakin lembeknya bahan sehingga mempengaruhi pada saat pengempaan bahan sulit dilepaskan dari cetakan. Dari pengujian pengaruh perekat terhadap pengempaan maka disimpulkan bahwa dalam pembuatan briket bahan SBE ini sebaiknya

 

33   

tetap menggunakan perekat namun konsentrasi yang digunakan dicoba lebih rendah dari 3%. Selain itu, dapat juga diberikan bahan campuran lain agar dapat mengatasi sifat SBE yang sangat liat ini.

4.1.3 Pengaruh Penambahan Arang terhadap Pembakaran Briket Untuk menjadi salah satu bahan bakar alternatif maka aspek yang penting dalam proses pembuatan briket SBE adalah dapat/tidaknya SBE tersebut terbakar. Salah satu cara untuk mempertahankan lama menyala briket ini digunakan campuran arang yang memang sudah sering digunakan sebagai bahan baku briket arang. Arang yang dipilih adalah arang kayu biasa yang banyak ditemukan di pasar.

Selain itu, ada banyak cara untuk membuat briket terbakar diantaranya menggunakan perendaman dalam minyak tanah, ataupun menggunakan pemancing. Pemancing yang digunakan bisa dengan menggunakan spritus, bensin, minyak tanah ataupun campuran biomassa dengan minyak tanah. Pada penelitian ini digunakan campuran serbuk gergaji dengan minyak tanah sebagai pemancing.

Tabel 11. Pengaruh penambahan arang terhadap pembakaran briket

Parameter Tanpa Arang Arang 50%

Kemudahan

pembakaran sangat sulit terbakar lebih mudah terbakar Lama menyala sangat singkat lebih lama

Asap pembakaran Banyak Sedikit Nyala api seperti 'lilin' seperti 'bara'

Sisa Abu Banyak Sedikit

Berdasarkan Tabel 11, dilihat bahwa briket SBE tanpa arang sangat sulit terbakar dan dalam pelaksanaanya pemancing yang digunakan sangat banyak. Hal ini dikarenakan karena kandungan karbon terikat dalam bahan sangat kecil sehingga memerlukan waktu

 

34   

yang lama untuk terbakar. Setelah briket SBE tanpa arang ini mulai menyala, nyala api briket berbentuk ‘lilin’. Namun nyala api ini berlangsung sangat singkat sejalan dengan residu CPO dalam bahan.

Jika dibandingkan dengan briket SBE dengan campuran arang, briket SBE dengan campuran arang lebih mudah menyala. Hal ini dipengaruhi karena karbon-karbon dalam arang membantu proses pembakaran. Perambatan nyala api ini berlangsung perlahan dan bertahan lebih lama selama karbon yang tersedia masih banyak. Dengan penambahan arang kandungan karbon berasal dari dua bahan yaitu karbon arang, dan karbon yang tersimpan dalam bentuk residu CPO dalam SBE. Semakin banyaknya kandungan karbon yang dimiliki suatu bahan maka semakin banyak karbon yang diubah menjadi energi. Inilah yang menyebabkan briket dengan penambahan arang lebih mudah menyala dan lebih lama menyala jika dibandingkan dengan briket SBE tanpa arang.

Asap pembakaran yang dihasilkan pada pembakaran briket SBE tanpa arang lebih banyak daripada briket SBE dengan penambahan arang. Asap pembakaran ini diakibatkan kadar air dan kadar zat mudah menguap dalam bahan. Semakin banyak SBE yang digunakan maka semakin banyak pula asap pembakaran yang dihasilkan. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 9, yang menunjukkan bahwa kadar zat mudah menguap SBE sebesar 31,230% dan kadar zat mudah menguap arang maksimal 4%. Oleh karena itu, semakin banyak residu CPO dalam bahan maka semakin banyak asap pembakaran yang dihasilkan.

Sisa abu yang dihasilkan dalam pembakaran briket SBE lebih banyak daripada abu yang dihasilkan dari pembakaran briket dengan campuran arang. Abu yang dihasilkan pada pembakaran briket SBE tanpa arang ini dipengaruhi kandungan mineral SBE yang tinggi seperti silika, sehingga semakin banyak kandungan SBE maka semakin banyak kandungan silika sehingga kadar abu yang dihasilkan juga banyak.

 

35   

4.2 Penelitian Utama

Bahan baku pencampur yang dipilih adalah arang tempurung kelapa sawit (TKS). Alasan pemilihan tempurung kelapa sawit sebagai bahan campuran dalam pembuatan briket ini adalah karena SBE dan TKS masih berada dalam satu lini produksi pengolahan kelapa sawit. Alasan berikutnya adalah belum optimalnya pemanfaatan TKS, hanya 50% yang dipakai sebagai bahan bakar boiler sedangkan sisanya digunakan sebagai campuran pengeras jalan atau hanya dibakar. Selain itu, TKS juga memiliki kualitas bahan baku yang baik. Menurut penelitian Nurhayati et al. (2005) arang TKS memiliki nilai kalor yang tinggi yaitu 6001-6905 kal/gram. Nilai kalor ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan tandan kelapa sawit yang memiliki nilai kalor sebesar 5457-5789 kal/gram (Lusia, 2008). TKS juga memiliki kadar abu dan kadar zat mudah menguap yang rendah namun memiliki kadar karbon terikat yang tinggi.

Umumnya briket mengalami proses pengarangan (karbonisasi) kecuali beberapa briket tertentu seperti briket batubara, dan briket yang berasal dari bungkil biji jarak pagar yang ingin dipertahankan potensi minyak jaraknya seperti penelitian terdahulu oleh Wahyuni (2008). Mengacu pada penelitian Wahyuni (2008) yang tidak melakukan pengarangan karena mempertahankan potensi minyak dalam bahan, maka pada penelitian ini juga tidak dilakukan pengarangan pada SBE. Namun, pengarangan hanya dilakukan pada tempurung kelapa sawit. Hal ini bertujuan untuk menurunkan kadar air TKS, mengurangi asap pembakaran, memudahkan proses pengempaan, serta menguraikan lignin dan selulosa pada TKS sehingga meningkatkan kandungan karbon dalam suatu bahan. Perbedaan penampakan TKS dengan arang TKS yang mengalami pirolisis dapat dilihat pada Gambar 9.

 

36   

(a) Tempurung kelapa sawit (b) Arang TKS

Gambar 9. Pirolisis tempurung kelapa sawit (TKS)

Pada Gambar 9, terlihat terjadi perubahan penampakan fisik antara TKS dengan arang TKS yang telah mengalami pirolisis. Pirolisis ini dilakukan hingga suhu mencapai 500 . Proses yang terjadi berupa

penguapan air dan penguraian selulosa hingga pada suhu 260 . Setelah itu

dilanjutkan dengan penguraian selulosa lebih intesif hingga mencapai suhu 310 . Kemudian proses dilanjutkan dengan penguraian lignin hingga

mencapai suhu sekitar 510 (Djatmiko et al.,1976). Jika menggunakan

teknologi pengarangan terpadu seperti pada penelitian Nurhayati et al. (2005) maka menghasilkan cuka kayu/wood vinegar. Pada proses pengarangan TKS dengan 12 kg arang TKS, cuka kayu yang dihasilkan sekitar 10 liter pada suhu 500 . Dengan dihasilkannya arang TKS dan cuka

kayu menunjukkan bahwa limbah TKS dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga meningkatkan nilai tambah TKS.

Ada dua golongan perekat yaitu perekat yang berasap (tar, pitch, dan molase) dan perekat yang kurang berasap (pati, dekstrin, dan tepung beras). Dipilihnya pati tapioka dalam proses pembuatan briket ini didasarkan dari beberapa pertimbangan yaitu 1) pemakaian bahan perekat pati, dekstrin, dan tepung beras akan menghasilkan briket yang tidak berasap sedangkan tar, pitch, dan molase menghasilkan briket dengan banyak asap; 2) perekat pati

 

37   

menghasilkan briket dengan kerapatan dan kadar abu yang lebih tinggi daripada perekat seperti molase; 3) pati tapioka ketersediaannya cukup banyak, dan jika diarahkan untuk kebutuhan produksi skala pabrik maka dapat membantu sektor industri tapioka yang umumnya masih banyak merupakan industri rumah tangga; 4) selain itu perekat tapioka lebih murah, dan lebih aman dalam penggunaannya jika dibandingkan dengan perekat kimiawi lainnya.

Pada penentuan taraf konsentrasi perekat yang dipakai pada penelitian ini, mengacu pada penelitian Achmad (1991) yang menyatakan kadar perekat yang digunakan umumnya tidak lebih dari 5%. Dipilihnya taraf 2% sebagai taraf terendah, karena berdasarkan penelitian pendahuluan mengenai pengaruh perekat terhadap pengempaan diperoleh hasil bahwa dengan

Dokumen terkait