• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.6 Kadar Protein

Pengujian kadar protein ini bertujuan untuk mengetahui kadar protein dalam pati biji alpukat. Adapun kadar protein yang diperoleh dari pati biji alpukat adalah sebesar 10,44 %.Protein mengandung karbon, hidrogen dan oksigen. Protein mengandung sekitar 16% nitrogen juga sulfur dan bahan lain seperti fosfor, besi dan kobalt.Struktur dasar penyusun protein adalah asam amino[79].Persentase protein minimum yang terkandung dalam biji alpukat yaitu sekitar 0,4% [59].

Pati yang digunakan berasal dari biji alpukat. Pati yang telah diekstrak diayak menghasilkan serbuk pati biji alpukat berwarna cokelat berukuran ±100 mesh. Gambar 4.1 berikut ini merupakan gambar pati biji alpukat hasil ekstraksi.

Gambar 4.1 Pati Biji Alpukat dengan Ukuran ±100 mesh

4.2

HASIL FOURIER TRANSFORM INFRA RED (FTIR)

4.2.1 Hasil Analisis FTIRPati Biji Alpukat, Kitosan, Bioplastik Tanpa Pengisi Kitosan dan PlasticizerSorbitol, Dan Bioplastik Dengan Pengisi Kitosan Dan PlasticizerSorbitol

Hasil analisa FTIR (Fourier Transform Infra Red) dilakukan bertujuan mengidentifikasi gugus fungsi darikomponen-komponen penyusun bioplastik dan bioplastik yang dihasilkan. Berikut ini merupakanhasil FTIR yang terdiri dari hasil analisa FTIR pati, kitosan, bioplastik tanpa pengisi kitosan dan plasticizersorbitol, dan bioplastik dengan pengisi kitosan dan plasticizersorbitolyang disajikan pada Gambar 4.2 berikut ini.

Gambar 4.2 Hasil Analisa Fourier Transform Infra Red (FTIR)

Dari hasil FTIR senyawa pati biji alpukat dapat dilihat munculnya puncak serapan pada bilangan gelombang 3317,56cm-1yang menunjukkan keberadaan gugus OH alkohol (H-bonded).Disamping itu, terdapat munculnya puncak serapan pada bilangan gelombang 2935,66cm-1yang merupakan keberadaan gugus C–H alkana (stretch). Adanya puncak serapan pada bilangan gelombang 1643,35cm-1 yang didukung dengan munculnya puncak serapan menunjukkan adanya keberadaan gugus C=O amida. Terlihat puncak serapan pada bilangan gelombang 1246,02cm-1, 1145,72 cm-1 dan 1006,84 cm-1 yang didukung dengan munculnya puncak serapan menunjukkan adanya keberadaan gugus C–O eter.Menurut Lu et al (2012), spektrum infra merah pada pati biji alpukat terlihat adanya gugus O-H, C-H, dan C-O [81].

Dari hasil FTIR senyawa kitosan dapat dilihat munculnya puncak serapan pada bilangan gelombang 3452,58 cm-1 yang menunjukkan keberadaan gugus N–H yang simetris. Adanya puncak serapan pada bilangan gelombang 1145,72 cm-1 yang didukung dengan munculnya puncak serapan menunjukkan adanya keberadaan gugus C-O ester. Menurut Kusumaningsih (2004), serapan khas kitosan terlihat pada bilangan gelombang 1629,7 cm-1 menunjukkan getaran tekuk N-H dari amina (- NH2). Pita serapan pada bilangan 1039,6 cm-1 menunjukkan vibrasi ulur gugus –C-

O- [83].

Dari hasil FTIR senyawa bioplastik tanpa penambahan pengisi kitosan dan

plasticizer sorbitol dapat dilihat munculnya puncak serapan pada bilangan gelombang 3587,60 cm-1 yang merupakan keberadaan gugus O–H alkohol. Adanya puncak serapan pada bilangan gelombang 2947,23 cm-1 dan 2870,08 cm-1 yang merupakan keberadaan gugus C–H alkana dan C–H aldehida. Munculnya serapan pada bilangan gelombang 1681,93 cm-1 yang menunjukkan adanya keberadaan gugus C=O amida. Terlihat pula serapan pada bilangan gelombang 1168,86 cm-1, 1118,71 cm-1, dan 1064,71 cm-1 yang menunjukkan adanya keberadaan gugus C– O.Munculnya gugus C=Oaldehida pada pati disebabkankarena terjadinya pemutusan rantaiglikosida membentuk gugus C=O aldehidadan gugus OH pada ujung amilosa atau amilopektin yang terdapat pada pati [84].Bioplastik dengan bahan baku pati biji alpukat adalah contoh dari jenis bioplastik biodegradable dan bio-based termasuk juga polihidroksialkanoat (PHA). PHA merupakan poliester yang mempunyai beberapa gugus fungsi dominan seperti karbonil ester C=O, ikatan polimerik –C-O- C-, -OH, -CH-, dan -CH2. Hasil identifikasi gugus fungsi yang terjadi pada bioplastik

tanpa penambahan pengisi maupun plasticizeradalah timbulnya gugus fungsi karbonil ester C=O, ikatan polimerik –C-O-C-, -OH, -CH-, dan -CH2 yang

merupakan gugus fungsi dominan PHA [85].

Dari hasil FTIR bioplastik dengan pengisi kitosan dan plasticizer sorbitol dapat dilihat munculnya puncak serapan pada bilangan gelombang 3533,59 cm-1 yang menunjukkan keberadaan gugus OH. Disamping itu, terdapat munculnya puncak serapan pada bilangan gelombang 2989,66 cm-1dan 2873,94 cm-1 yang merupakan keberadaan gugus C–H alkana dan C–H aldehida. Adanya puncak serapan pada bilangan gelombang 1685,79 cm-1 yang didukung dengan munculnya puncak serapan menunjukkan adanya keberadaan gugus C=O. Adanya puncak serapan pada bilangan gelombang 1172,72 cm-1 dan 1118,71 cm-1 yang didukung dengan munculnya puncak serapan menunjukkan adanya keberadaan gugus C–O. Terdapat puncak serapan pada bilangan gelombang 1593,20 cm-1 pada produk bioplastik dengan pengisi kitosan dan plasticizer sorbitol. Bilangan gelombang ini menunjukkan keberadaan gugus NH yang merupakanserapan khas kitosan [83].Hal ini menunjukkan bahwa pengisi kitosan telah terdispersi dalam produk bioplastik.Gugus N-H pada bioplastik dengan penambahan kitosan dan sorbitol

memiliki bilangan gelombang yang lebih besar daripada bioplastik tanpa penambahan kitosan dan sorbitol dimana ditemukan gugus N-H sebesar 1585,49 cm-

1

.

Plastizicer adalah bahan yang ditambahkan ke dalam suatu bahan pembentuk film untuk meningkatkan fleksibilitasnya, karena dapat menurunkan gaya intermolekuler sepanjang rantai polimernya, sehingga film akan lentur ketika dibengkokkan[37]. Salah satu contoh plasticizer adalah sorbitol.

Munculnya gugus C=Oaldehida pada pati disebabkankarena terjadinya pemutusan rantaiglikosida membentuk gugus C=O aldehidadan gugus OH pada ujung amilosa atau amilopektin yang terdapat pada pati [84].Selain adanya gugus OH, adanya gugus fungsi lain yang terdapat didalam bioplastik seperti gugus fungsi karbonil dan gugus fungsi ester. Adanya karakteristik gugus ini membuat plastik mudah terurai.Hal ini dikarenakan gugus fungsi karbonil dan ester merupakan gugus yang bersifat hidrofilik sehingga molekul air dapat mengakibatkan mikroorganisme pada lingkungan memasuki matriks plastik tersebut [7].

Dari gambar 4.2 diperoleh spektrum bioplastik pati biji alpukat dengan pengisi kitosan dan plasticizer sorbitol berada diatas spektrum bioplastik pati biji alpukat tanpaplasticizer sorbitol dan pengisi kitosan. Dari hasil analisa FT-IR pada gambar 4.2 dapat dilihat bahwa terbentuk gugus O-H pada bilangan gelombang 3533,59 cm-1. Hal tersebut menunjukkan adanya interaksi antara pati biji alpukat, sorbitol sebagai plasticizer dengan kitosan sebagai penguat dengan terjadinya perubahan gugus fungsi dan terbentuknya gugus O-H yang diperoleh dari hasil analisa FT-IR.

4.3

HASIL ANALISA RAPID VISCO ANALYZER(RVA)

4.3.1 Hasil AnalisaRVA Pati Biji Alpukatdan Bioplastik dengan Penambahan

Dokumen terkait