BAHAN DAN METODE PENELITIAN
1. Kadar Tanin
Pengaruh letak daun terhadap kadar tanin
Dari data analisis sidik ragam (Lampiran 1) dapat dilihat bahwa letak daun memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap kadar tanin teh daun gambir yang dihasilkan.
Hasil uji LSR terhadap perlakuan letak daun dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Uji LSR efek utama pengaruh letak daun terhadap kadar tanin
Jarak LSR Letak Daun Rataan (%) Notasi 0,05 0,01 0,05 0,01 - - - L1 = Daun Pucuk 5,15 a A 2 0,259 0,356 L2 = Daun ke-2 4,42 b B 3 0,272 0,375 L3 = Daun ke-3 4,26 b B 4 0,279 0,384 L4 = Daun ke-4 3,38 c C
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa perlakuan L1 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan L2, L3 dan L4. Perlakuan L2 berbeda tidak nyata terhadap perlakuan L3 dan berbeda sangat nyata terhadap perlakuan L4. Perlakuan L3 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan L4. Kadar tanin tertinggi terdapat pada perlakuan L1 yaitu sebesar 5,15% dan terendah pada perlakuan L4 yaitu sebesar 3,38%.
Hubungan letak daun terhadap kadar tanin teh daun gambir yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 3.
Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa semakin bawah letak daun maka kadar tanin semakin menurun.
Pengaruh lama pelayuan terhadap kadar tanin
Dari data analisis sidik ragam (Lampiran 1) dapat dilihat bahwa lama pelayuan memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap kadar tanin teh daun gambir yang dihasilkan.
Hasil uji LSR terhadap perlakuan lama pelayuan dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Uji LSR efek utama pengaruh lama pelayuan terhadap kadar tanin
Jarak LSR Lama Rataan
(%) Notasi 0,05 0,01 Pelayuan 0,05 0,01 - - - P1 = 15 jam 3,17 d D 2 0,259 0,356 P2 = 16 jam 4,11 c C 3 0,272 0,375 P3 = 17 jam 4,73 b B 4 0,279 0,384 P4 = 18 jam 5,20 a A
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa perlakuan P1 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan P2, P3 dan P4. Perlakuan P2 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan P3 dan P4. Perlakuan P3 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan P4. Kadar tanin tertinggi terdapat pada perlakuan P4 yaitu sebesar 5,20% dan terendah pada perlakuan P1 yaitu sebesar 3,17%.
Hubungan lama pelayuan terhadap kadar tanin teh daun gambir yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Grafik hubungan lama pelayuan terhadap kadar tanin
Dari Gambar 4 dapat dilihat bahwa semakin lama pelayuan maka kadar tanin semakin tinggi.
Pengaruh interaksi antara letak daun dan lama pelayuan terhadap kadar tanin
Dari data analisis sidik ragam (Lampiran 1) dapat dilihat bahwa lama pelayuan memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap kadar tanin teh daun gambir yang dihasilkan. Untuk mengetahui perbedaan tiap-tiap perlakuan pada interaksi antara letak daun dan lama pelayuan terhadap kadar tanin dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Uji LSR efek utama pengaruh interaksi antara letak daun dan lama pelayuan terhadap kadar tanin
Jarak LSR Perlakuan Rataan
(%) Notasi 0,05 0,01 0,05 0,01 - - - L1P1 3,53 fg EFG 2 0,518 0,713 L1P2 5,41 bc ABC 3 0,544 0,749 L1P3 5,62 ab AB 4 0,558 0,768 L1P4 6,03 a A 5 0,570 0,784 L2P1 3,33 g FGH 6 0,577 0,794 L2P2 3,95 ef EF 7 0,582 0,806 L2P3 4,99 cd BCD 8 0,585 0,815 L2P4 5,41 bc ABC 9 0,589 0,822 L3P1 3,12 gh GHI 10 0,592 0,827 L3P2 3,95 ef EF 11 0,592 0,832 L3P3 4,79 d CD 12 0,594 0,836 L3P4 5,20 bcd ABC 13 0,594 0,839 L4P1 2,71 h HIJ 14 0,596 0,842 L4P2 3,12 gh GHI 15 0,596 0,846 L4P3 3,53 fg EFG 16 0,597 0,848 L4P4 4,16 e DE
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Dari Tabel 11 dapat dilihat bahwa kadar tanin tertinggi terdapat pada perlakuan L1P4 yaitu sebesar 6,03% dan terendah terdapat pada perlakuan P4L1 yaitu sebesar 2,71 %.
Hubungan interaksi antara letak daun dan lama pelayuan terhadap kadar tanin (%) teh daun gambir yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Grafik hubungan pengaruh interaksi antara letak daun dan lama pelayuan terhadap kadar tanin
Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa semakin bawah letak daun maka kadar tanin pada semakin menurun. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gumbira-Sa’id
et al (2009) yang menyatakan bahwa adanya perbedaan kadar katekin pada
gambir dipengaruhi oleh kondisi daun yang diekstrak. Daun gambir muda memiliki kandungan katekin dan rendemen ekstrak yang lebih tinggi dari daun tua. Dari Gambar 5 juga dapat dilihat bahwa semakin lama pelayuan maka kadar tanin semakin meningkat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Alf (2004) yang menyatakan bahwa perubahan yang terjadi selama pelayuan adalah melemasnya daun akibat menurunnya kandungan air, selain itu pengurangan air dalam daun akan memekatkan bahan-bahan yang dikandung.
2. Kadar Air
Pengaruh letak daun terhadap kadar air
Dari data analisis sidik ragam (Lampiran 2) dapat dilihat bahwa letak daun memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar air teh daun gambir yang dihasilkan.
Hasil uji LSR terhadap perlakuan letak daun dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12. Uji LSR efek utama pengaruh letak daun terhadap kadar air
Jarak LSR Letak Daun Rataan
(% bb) Notasi 0,05 0,01 0,05 0,01 - - - L1 = Daun Pucuk 4,59 a A 2 0,175 0,240 L2 = Daun ke-2 4,04 b B 3 0,183 0,253 L3 = Daun ke-3 2,43 c C 4 0,188 0,259 L4 = Daun ke-4 2,21 d CD
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Dari Tabel 12 dapat dilihat bahwa perlakuan L1 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan L2, L3 dan L4. Perlakuan L2 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan L3 dan L4. Perlakuan L3 berbeda nyata terhadap perlakuan L4. Kadar air tertinggi terdapat pada perlakuan L1 yaitu sebesar 4,59 (% bb) dan terendah pada perlakuan L4 yaitu sebesar 2,21 (% bb).
Hubungan letak daun terhadap kadar air teh daun gambir yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Histogram hubungan letak daun terhadap kadar air
Dari Gambar 6 dapat dilihat bahwa semakin bawah letak daun maka kadar air semakin rendah.
Pengaruh lama pelayuan terhadap kadar air
Dari data analisis sidik ragam (Lampiran 2) dapat dilihat bahwa lama pelayuan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar air teh daun gambir yang dihasilkan.
Hasil uji LSR terhadap perlakuan lama pelayuan dapat dilihat yaitu pada Tabel 13.
Tabel 13. Uji LSR efek utama pengaruh lama pelayuan terhadap kadar air
Jarak LSR Lama Rataan
(% bb) Notasi 0,05 0,01 Pelayuan 0,05 0,01 - - - P1 = 15 jam 3,94 a A 2 0,175 0,240 P2 = 16 jam 3,48 b B 3 0,183 0,253 P3 = 17 jam 3,11 c C 4 0,188 0,259 P4 = 18 jam 2,74 d D
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Dari Tabel 13 dapat dilihat bahwa perlakuan P1 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan P2, P3 dan P4. Perlakuan P2 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan P3 dan P4. Perlakuan P3 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan P4. Kadar air tertinggi terdapat pada perlakuan P1 yaitu sebesar 3,94 (% bb) dan terendah pada perlakuan P4 yaitu sebesar 2,74 (% bb).
Hubungan lama pelayuan terhadap kadar air teh daun gambir yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Grafik hubungan lama pelayuan terhadap kadar air (% bb)
Dari Gambar 7 dapat dilihat bahwa semakin lama pelayuan maka kadar air semakin rendah.
Pengaruh interaksi antara letak daun dan lama pelayuan terhadap kadar air Dari data analisis sidik ragam (Lampiran 2) dapat dilihat bahwa lama pelayuan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar air teh daun gambir yang dihasilkan. Untuk mengetahui perbedaan tiap-tiap perlakuan pada interaksi antara letak daun dan lama pelayuan terhadap kadar air dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Uji LSR efek utama pengaruh interaksi antara letak daun dan lama pelayuan terhadap kadar air
Jarak LSR Perlakuan Rataan
(% bb) Notasi 0,05 0,01 0,05 0,01 - - - L1P1 5,53 a A 2 0,349 0,481 L1P2 4,82 b B 3 0,367 0,505 L1P3 4,36 c B 4 0,376 0,518 L1P4 3,66 d C 5 0,384 0,529 L2P1 4,90 b B 6 0,389 0,536 L2P2 4,38 c B 7 0,392 0,544 L2P3 3,69 d C 8 0,395 0,550 L2P4 3,21 e CD 9 0,397 0,554 L3P1 2,80 f DE 10 0,399 0,558 L3P2 2,52 fg EFG 11 0,399 0,561 L3P3 2,32 gh EFG 12 0,401 0,564 L3P4 2,10 hij FG 13 0,401 0,566 L4P1 2,55 fg EF 14 0,402 0,568 L4P2 2,21 ghi FG 15 0,402 0,571 L4P3 2,08 hij FG 16 0,403 0,572 L4P4 2,00 hij G
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Dari Tabel 14 dapat dilihat bahwa kadar air tertinggi terdapat pada perlakuan P1L1 yaitu sebesar 5,53 (% bb) dan terendah terdapat pada perlakuan P4L4 yaitu sebesar 2,00 (% bb).
Hubungan interaksi antara letak daun dan lama pelayuan terhadap kadar air (% bb) teh daun gambir yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Grafik Hubungan interaksi antara letak daun dan lama pelayuan terhadap kadar air
Dari Gambar 8 dapat dilihat bahwa kadar air tertinggi terdapat pada daun pucuk dan kadar air semakin menurun dengan semakin tuanya daun. Hal ini sesuai dengan pernyataan Heriyanto dan Limantara (2006) yang menyatakan bahwa kandungan air pada daun dan batang akan turun perlahan sejalan dengan bertambahnya umur tanaman. Pada Gambar 8 juga dapat dilihat bahwa semakin lama pelayuan maka kadar air pada masing-masing daun juga semakin menurun. Hal ini sesuai dengan pernyataan Situmorang (2010) yang menyatakan bahwa tujuan pelayuan adalah untuk mengurangi kadar air yang terdapat pada pucuk, untuk meningkatkan konsentrasi zat-zat didalam getahnnya serta untuk menjadikan daun teh menjadi kenyal agar tidak lekas hancur sebelum getahnya terperas sebanyak-banyaknya ketika didalam mesin giling.
3. Kadar Abu
Pengaruh letak daun terhadap kadar abu
Dari data analisis sidik ragam (Lampiran 3) dapat dilihat bahwa letak daun memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap kadar abu teh daun gambir yang dihasilkan.
Hasil uji LSR terhadap perlakuan letak daun dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 15. Uji LSR efek utama pengaruh letak daun terhadap kadar abu
Jarak LSR Letak Daun Rataan
(% bk) Notasi 0,05 0,01 0,05 0,01 - - - L1 = Daun Pucuk 4,61 d C 2 0,091 0,125 L2 = Daun ke-2 4,92 c B 3 0,096 0,132 L3 = Daun ke-3 5,03 b AB 4 0,098 0,135 L4 = Daun ke-4 5,11 a A
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Dari Tabel 15 dapat dilihat bahwa perlakuan L1 berbeda nyata terhadap perlakuan L2, berbeda sangat nyata terhadap perlakuan L3 dan L4. Perlakuan L2 berbeda nyata terhadap perlakuan L3 dan berbeda sangat nyata terhadap perlakuan L4. Perlakuan L3 berbeda nyata terhadap perlakuan L4. Kadar abu tertinggi terdapat pada perlakuan L4 yaitu sebesar 5,11 (% bk) dan terendah pada perlakuan L1 yaitu sebesar 4,61 (% bk).
Hubungan letak daun terhadap kadar abu dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9 . Histogram hubungan letak daun terhadap kadar abu
Dari Gambar 9 dapat dilihat bahwa semakin bawah letak daun maka kadar abu semakin meningkat.
Pengaruh lama pelayuan terhadap kadar abu
Dari data analisis sidik ragam (Lampiran 3) dapat dilihat bahwa lama pelayuan memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap kadar air teh daun gambir yang dihasilkan.
Hasil uji LSR terhadap perlakuan lama pelayuan dapat dilihat yaitu pada Tabel 16.
Tabel 16. Uji LSR efek utama pengaruh lama pelayuan terhadap kadar abu
Jarak LSR Lama Rataan
(% bk) Notasi 0,05 0,01 Pelayuan 0,05 0,01 - - - P1 = 15 jam 4,69 d D 2 0,091 0,125 P2 = 16 jam 4,83 c BC 3 0,096 0,132 P3 = 17 jam 4,95 b B 4 0,098 0,135 P4 = 18 jam 5,21 a A
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Dari Tabel 16 dapat dilihat bahwa perlakuan P1 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan P2, P3 dan P4. Perlakuan P2 berbeda nyata terhadap perlakuan P3 dan sangat nyata terhadap perlakuan P4. Perlakuan P3 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan P4. Kadar abu tertinggi terdapat pada perlakuan P4 yaitu sebesar 5,21 (% bk) dan terendah pada perlakuan P1 yaitu sebesar 4,69 (% bk). Hubungan lama pelayuan terhadap kadar abu dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10. Grafik hubungan lama pelayuan terhadap kadar abu
Dari Gambar 10 dapat dilihat bahwa semakin lama pelayuan maka kadar abu semakin meningkat.
Pengaruh interaksi antara letak daun dan lama pelayuan terhadap kadar abu
Dari data analisis sidik ragam (Lampiran 3) dapat dilihat bahwa lama pelayuan memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap kadar abu teh daun gambir yang dihasilkan. Untuk mengetahui perbedaan tiap-tiap perlakuan pada interaksi antara letak daun dan lama pelayuan terhadap kadar abu dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17. Uji LSR efek utama pengaruh interaksi antara letak daun dan lama pelayuan terhadap kadar abu
Jarak LSR Perlakuan Rataan
(% bk) Notasi 0,05 0,01 0,05 0,01 - - - L1P1 4,40 h EF 2 0,182 0,251 L1P2 4,60 g DE 3 0,191 0,263 L1P3 4,72 efg CD 4 0,196 0,270 L1P4 4,74 efg CD 5 0,200 0,276 L2P1 4,75 efg CD 6 0,203 0,279 L2P2 4,88 cdef BCD 7 0,205 0,283 L2P3 4,96 bcd BC 8 0,206 0,286 L2P4 5,11 b B 9 0,207 0,289 L3P1 4,75 efg CD 10 0,208 0,291 L3P2 4,92 bcde BC 11 0,208 0,293 L3P3 5,05 bc B 12 0,209 0,294 L3P4 5,42 a A 13 0,209 0,295 L4P1 4,84 defg BCD 14 0,209 0,296 L4P2 4,92 bcde BC 15 0,209 0,297 L4P3 5,09 b B 16 0,210 0,298 L4P4 5,58 a A
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Dari Tabel 17 dapat dilihat bahwa kadar abu tertinggi terdapat pada perlakuan P4L4 yaitu sebesar 5,58 (% bk) dan terendah terdapat pada perlakuan L1P1 yaitu sebesar 4,40 (% bk).
Hubungan interaksi antara letak daun dan lama pelayuan terhadap kadar abu (% bk) teh daun gambir yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11. Grafik hubungan pengaruh interaksi antara letak daun dan lama pelayuan terhadap kadar abu
Dari Gambar 11 dapat dilihat bahwa semakin bawah (tua) letak daun maka kadar abu semakin meningkat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Susanto (2008) yang menyatakan bahwa semakin hijau warna daun semakin tinggi kandungan klorofilnya dimana salah satu penyusun klorofil selain C, H, O, N yaitu Mg (mineral). Dengan semakin banyaknya kandungan klorofil pada daun tua maka salah satu komponen penyusun klorofil yaitu Mg juga semakin banyak yang dihitung sebagai mineral (abu). Dari Gambar 11 juga dapat dilihat bahwa semakin lama pelayuan maka kadar abu semakin meningkat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Situmorang (2010) yang menyatakan bahwa tujuan pelayuan adalah untuk mengurangi kadar air yang terdapat pada pucuk, untuk meningkatkan konsentrasi zat-zat didalam getahnnya. Jadi dengan meningkatnya konsentrasi zat- zat didalam getahnya maka konsentrasi mineral juga meningkat.
4. Uji Organoleptik Rasa
Pengaruh letak daun terhadap uji Organoleptik rasa
Dari data analisis sidik ragam (Lampiran 4) dapat dilihat bahwa letak daun memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap uji organoleptik rasa teh daun gambir yang dihasilkan.
Hasil uji LSR terhadap perlakuan letak daun dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 18. Uji LSR efek utama pengaruh letak daun terhadap uji organoleptik rasa
Jarak LSR Letak Daun Rataan Notasi
0,05 0,01 0,05 0,01
- - - L1 = Daun Pucuk 3,15 a A
2 0,080 0,111 L2 = Daun ke-2 2,83 b B
3 0,084 0,116 L3 = Daun ke-3 2,80 bc BC
4 0,087 0,119 L4 = Daun ke-4 2,75 bcd BCD
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Dari Tabel 18 dapat dilihat bahwa perlakuan L1 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan L2, L3 dan L4. Perlakuan L2 berbeda nyata terhadap perlakuan L3 dan L4. Perlakuan L3 berbeda nyata terhadap perlakuan L4. Uji organoleptik rasa tertinggi terdapat pada perlakuan L1 yaitu sebesar 3,15 dan terendah pada perlakuan L4 yaitu sebesar 2,75.
Hubungan letak daun terhadap uji organoleptik rasa dapat dilihat pada Gambar 12.
Gambar 12. Histogram hubungan letak daun terhadap uji organoleptik rasa
Dari Gambar 12 dapat dilihat bahwa semakin bawah letak daun maka uji organoleptik rasa semakin menurun. Hal ini sesuai dengan pernyataan
http://www.litbang.deptan.go.id. (2007) yang menyatakan bahwa rasa daun
gambir sepat-sepat manis. Sehingga rasa dari seduhan daun gambir disukai oleh panelis.
Pengaruh lama pelayuan terhadap uji organoleptik rasa
Dari data analisis sidik ragam (Lampiran 4) dapat dilihat bahwa letak daun memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap uji organoleptik rasa teh daun gambir yang dihasilkan.
Hasil uji LSR terhadap perlakuan lama pelayuan dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19. Uji LSR efek utama pengaruh lama pelayuan terhadap uji organoleptik rasa
Jarak LSR Lama Rataan Notasi
0,05 0,01 Pelayuan 0,05 0,01
- - - P1 = 15 jam 2,73 d CD
2 0,080 0,111 P2 = 16 jam 2,82 c C 3 0,084 0,116 P3 = 17 jam 2,94 b AB 4 0,087 0,119 P4 = 18 jam 3,03 a A
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Dari Tabel 19 dapat dilihat bahwa perlakuan P1 berbeda nyata terhadap perlakuan P2, berbeda sangat nyata terhadap perlakuan P3 dan P4. Perlakuan P2 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan P3 dan P4. Perlakuan P3 berbeda nyata terhadap perlakuan P4. Uji organoleptik rasa tertinggi terdapat pada perlakuan P4 yaitu sebesar 3,03 dan terendah pada perlakuan P1 yaitu sebesar 2,73.
Hubungan lama pelayuan terhadap uji organoleptik rasa dapat dilihat pada Gambar 13.
Gambar 13. Grafik hubungan lama pelayuan terhadap uji organoleptik rasa
Dari Gambar 13 dapat dilihat bahwa semakin lama pelayuan maka uji organoleptik rasa semakin meningkat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Alf (2004) yang menyatakan bahwa selain itu, pengurangan air dalam daun akan
memekatkan bahan-bahan yang dikandung. Sehingga dengan semakin lamanya pelayuan maka komponen yang memberi rasa sepat-sepat manis pada daun gambir semakin pekat.
Pengaruh interaksi antara letak daun dan lama pelayuan terhadap uji organoleptik rasa
Dari data analisis sidik ragam (Lampiran 4) dapat dilihat bahwa letak daun memberikan pengaruh berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap uji organoleptik rasa teh daun gambir yang dihasilkan sehingga uji LSR tidak dilanjutkan.