• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. HASIL PENELITIAN

3.2. Manisan Jambu Biji

3.2.1.3. Kadar Vitamin C

Berdasarkan hasil pengamatan, terjadi penurunan kadar vitamin C selama 12 jam pengujian pada

ketiga tingkat konsentrasi larutan gula dan ketiga ketebalan disajikan pada Tabel 7. Dari tabel

tersebut terlihat bahwa pada perlakuan ketebalan dan konsentrasi larutan gula berpengaruh

secara nyata terhadap kadar vitamin C yang dihasilkan. Pada ketebalan yang sama, perlakuan

konsentrasi larutan gula berpengaruh secara nyata terhadap kadar vitamin C yang dihasilkan.

Begitu pula pada konsentrasi larutan gula yang sama, perlakuan ketebalan juga berpengaruh

secara nyata terhadap kadar vitamin C yang dihasilkan.

34

Tabel 7. Kadar Vitamin C Manisan Jambu Biji pada Waktu Perendaman dengan Berbagai Macam Perlakuan Ketebalan dan

Konsentrasi Larutan Gula.

Tebal Kons Jam ke-

Gula 0 1 2 3 4 5 6 1cm 40% 35,96 ± 2,03aA1 34,21 ± 2,10bA1 33,59 ± 1,96bcA1 33,17 ± 0,98bcA2 32,15 ± 1,17cA2 30,36 ± 1,64dA12 28,35 ± 1,38eA1 50% 35,04 ± 1,73aA1 34,12 ± 1,16abA1 33,99 ± 1,89abA1 32,2 ± 2,15bcA1 30,77 ± 2,30cA12 31,23 ± 1,38cA2 27,65 ± 2,17dA1 60% 35,01 ± 1,63aA1 33,94 ± 1,94aA1 32,87 ± 2,59abA1 31,19 ± 2,59bcA1 30,73 ± 1,38cdA1 29,5 ± 2,59cdA1 28,52 ± 0,54deA1 2cm 40% 35,99 ± 5,42aA1 35,32 ± 3,10aA1 34,65 ± 1,90abA1 33,35 ± 1,38abA2 32,21 ± 1,23bA2 31,92 ± 1,48bA2 29,18 ± 2,18cA1 50% 37,15 ± 3,56aA1 36,04 ± 1,15aA2 34,93 ± 2,66abA1 33,57 ± 1,56bA1 32,63 ± 2,05bcA2 30,94 ± 1,38cdA2 30,32 ± 1,95cdeA2 60% 36,36 ± 2,11aA1 35,27 ± 2,11abA1 34,63 ± 1,76abcA1 34,04 ± 1,73bcdA2 32,91 ± 1,73cdA2 31,96 ± 1,73deA2 30,32 ± 1,14eA2 3cm 40% 35,25 ± 1,38aA1 34,76 ± 1,38aA1 32,56 ± 0,97bA1 31,54 ± 0,97bcA1 30,35 ± 1,70cdA1 28,63 ± 1,79dA1 28,51 ± 1,12dA1 50% 35,5 ± 0,75aA1 34,03 ± 1,01abA1 33,09 ± 0,79bcA1 31,82 ± 1,64cdA1 30,12 ± 1,31deA1 28,75 ± 2,33efA1 27,63 ± 1,79fgA1 60% 35,42 ± 2,84aA1 34,85 ± 2,42aA1 32,28 ± 2,13bA1 30,71 ± 1,03bcA1 29,14 ± 1,72cdA1 28,53 ± 0,35dA1 27,92 ± 1,92dA1

Tebal Kons Jam ke-

Gula 7 8 9 10 11 12 1cm 40% 27,57 ± 0,33eA1 25,13 ± 1,38fA1 25,1 ± 1,50fA1 24,78 ± 1,83fB1 23,67 ± 0,86fgB1 22,56 ± 0,87gB1 50% 25,25 ± 1,38eB1 24,53 ± 2,04efA1 22,83 ± 1,00fgA1 21,73 ± 0,76ghA1 21,19 ± 2,59ghA1 20,63 ± 0,90hA1 60% 26,69 ± 2,59efAB1 24,63 ± 0,90fgA1 23,87 ± 2,59ghA1 22,29 ± 1,38hiA1 21,97 ± 1,34hiAB1 20,08 ± 0,76iA1 2cm 40% 27,18 ± 3,16cdA1 26,73 ± 1,38cdeA1 25,68 ± 1,91defA1 25,65 ± 1,56defA1 24,13 ± 0,65efB1 22,73 ± 1,38fA12 50% 29,76 ± 2,66deA2 28,29 ± 1,42efA2 28,21 ± 1,23efB3 26,27 ± 1,58fgA3 24,27 ± 1,04ghB2 22,58 ± 1,59hA2 60% 27,74 ± 2,45fA1 26,94 ± 2,11fA2 25,97 ± 1,50fgA1 24,19 ± 1,85ghA1 22,86 ± 1,25hiA1 21,54 ± 0,72iA2 3cm 40% 26,67 ± 2,42eA1 25,89 ± 1,48efA1 25,1 ± 1,82efA1 24,72 ± 1,67fB1 24,35 ± 1,56fB1 24,03 ± 1,01fB2 50% 26,52 ± 1,71ghA1 25,67 ± 1,25hiA1 24,81 ± 1,38hijA2 24,29 ± 1,26ijAB2 23,78 ± 2,28jAB2 23,53 ± 0,35jB2 60% 25,34 ± 1,39eA1 24,76 ± 1,34efA1 23,65 ± 1,17efgA1 22,72 ± 1,69fghA1 21,65 ± 1,46ghA1 21,03 ± 1,01hA12

Keterangan :

- Semua nilai merupakan nilai mean ± standar deviasi dalam enam kali ulangan.

- Superscript huruf kecil menunjukkan ada tidaknya beda nyata antar baris tiap titik jam perendaman pada tingkat kepercayaan 95%.

- Superscript huruf besar menunjukkan ada tidaknya beda nyata antar konsentrasi larutan gula pada tiap kolom perlakuan ketebalan pada tingkat kepercayaan 95%.

Pada Tabel 7 dari sembilan kombinasi perlakuan bila disajikan secara grafis, terlihat bahwa pada

akhir perendaman kombinasi ketebalan 1 cm dan konsentrasi larutan gula 60% memiliki kadar

vitamin C paling rendah yaitu sebesar 20,08±0,76 mg, sedangkan yang paling tinggi kombinasi

ketebalan 3 cm dan konsentrasi larutan gula 40% yaitu sebesar 24,03±1,01 mg seperti yang

terlihat pada Gambar 12.

Gambar 12. Penurunan Kadar Vitamin C Manisan Jambu Biji pada Masing-masing Waktu

Perendaman dengan Berbagai Macam Perlakuan Ketebalan dan Konsentrasi

Larutan Gula

Hubungan perlakuan berbagai variabel konsentrasi larutan gula terhadap parameter kadar

sukrosa selama perendaman dapat dilihat pada Gambar 13, dimana menunjukkan bahwa

konsentrasi larutan gula 60% mengalami penurunan kadar vitamin C yang paling banyak. Pada

awal perendaman sampai jam ke-6 terlihat penurunan kadar vitamin C hampir sama tiap variabel

konsentrasi larutan gula. Namun setelah jam ke-6 sampai akhir perendaman terlihat konsentrasi

larutan gula 60% menurun paling banyak.

Gambar 13. Grafik Hubungan Perlakuan Berbagai Konsentrasi Gula Selama Waktu Perendaman

Terhadap Kadar Vitamin C Manisan Jambu Biji yang Dihasilkan.

Sedangkan hubungan perlakuan berbagai variabel ketebalan terhadap parameter kadar vitamin C

selama perendaman dapat dilihat pada Gambar 14, yang menunjukkan bahwa manisan jambu biji

dengan perlakuan ketebalan 2 cm memiliki profil penurunan kadar vitamin C paling tinggi

sampai perendaman jam ke-11 dibandingkan ketebalan lainnya, tetapi pada akhir perendaman

ketebalan 3 cm memiliki kadar vitamin C paling tinggi. Perlakuan ketebalan 1 cm kadar vitamin

C-nya menurun paling cepat dibandingkan pelakuan ketebalan lainnya terlihat jelas sejak jam

perendaman ke-8 sampai akhir perendaman.

Gambar 14. Grafik Hubungan Perlakuan Berbagai Ketebalan Selama Waktu Perendaman

Terhadap Kadar Vitamin C Manisan Jambu Biji yang Dihasilkan.

Interaksi antara perlakuan ketebalan dan konsentrasi larutan gula dapat terlihat pada Gambar 15.

Dari gambar tersebut terlihat bahwa antara ketebalan dan konsentrasi larutan gula memiliki

interaksi. Pada ketebalan 1 cm, terlihat konsentrasi larutan gula 50% sudah menurun maksimal.

Apabila dinaikkan lagi konsentrasi larutan gulanya terlihat tidak ada penurunan lagi. Sebaliknya

pada ketebalan 2 cm dan 3 cm masih ada penurunan lagi dari konsentrasi larutan gula 50% ke

60%.

Gambar 15. Grafik Hubungan Perlakuan Berbagai Ketebalan dan Konsentrasi Gula Terhadap

Kadar Vitamin C Manisan Jambu Biji yang Dihasilkan.

Ketebalan terlihat lebih berpengaruh dibanding konsentrasi larutan gula. Perbedaan tersebut

terlihat bahwa hasil analisis grafis dari kedua variabel perlakuan tersebut yang masing-masing

diisi dalam 3 tingkat. Profil perubahan kadar vitamin C manisan jambu biji selama 12 jam

perendaman dapat digambarkan dengan model matematika ideal yaitu model polynomial tingkat

2 dengan rumus y=ax

2

+bx+c, sedangkan untuk mengetahui koefisien difusi didapatkan dengan

cara menurunkan rumus tersebut menjadi dy/dx (y’) = 2ax+b, dimana y adalah kadar vitamin C,

dy/dx adalah koefisien difusi untuk kadar vitamin C, dan x adalah satuan waktu dehidrasi

osmosis.

Tabel 8. Persamaan Matematik Penurunan Kadar Vitamin C Selama Perendaman

Variabel y=ax

2

+bx+c y' = 2ax+b

40% 0,023 x

2

- 1,374 x + 36,170 0,046 x - 1,374

50% 0,011 x

2

- 1,311 x + 36,181 0,022 x - 1,311

60% 0,003 x

2

- 1,278 x + 35,774 0,006 x - 1,278

1 cm 0,000 x

2

- 1,255 x + 35,709 0,000 x - 1,255

2 cm 0,016 x

2

- 1,322 x + 36,651 0,032 x - 1,322

3 cm 0,046 x

2

- 1,648 x + 35,765 0,093 x - 1,648

Dari profil penurunan kadar vitamin C yang ada pada Gambar 12,13,14, dan 15; Tabel 7 dan 8,

dapat dilihat bahwa manisan jambu biji dengan ketebalan 1 cm dan konsentrasi larutan gula 60%

laju penurunan kadar vitamin C-nya paling banyak dibandingkan dengan perlakuan yang lain.

3.2.2. Analisa Fisik

Analisa fisik pada manisan jambu biji meliputi tekstur (tingkat kekerasan). Dari hasil penelitian

terjadi penurunan tingkat kekerasan pada tekstur selama 12 jam pengujian pada ketiga tingkat

konsentrasi larutan gula dan ketiga ketebalan disajikan pada Tabel 9. Dari tabel tersebut terlihat

bahwa pada perlakuan ketebalan dan konsentrasi larutan gula berpengaruh secara nyata terhadap

kekerasan yang dihasilkan. Pada ketebalan yang sama, perlakuan konsentrasi larutan gula

berpengaruh secara nyata terhadap kekerasan yang dihasilkan. Begitu pula pada konsentrasi

larutan gula yang sama, perlakuan ketebalan juga berpengaruh secara nyata terhadap kekerasan

yang dihasilkan.

38

Tabel 9. Kekerasan Manisan Jambu Biji pada Waktu Perendaman dengan Berbagai Macam Perlakuan Ketebalan dan Konsentrasi

Larutan Gula.

Tebal Kons Jam ke-

Gula 0 1 2 3 4 5 6 1cm 40% 10,14 ± 0,11aA1 9,88 ± 0,24bA1 9,32 ± 0,06cA1 8,9 ± 0,06dA1 8,64 ± 0,06eA1 8,38 ± 0,06fA1 8,09 ± 0,17gA1 50% 10,51 ± 0,57aA1 10,21 ± 0,38abA1 9,84 ± 0,72bcA1 9,33 ± 0,63cA1 8,79 ± 0,25deAB1 8,5 ± 0,10eA1 8,26 ± 0,77eA1 60% 10,67 ± 1,81aA1 9,94 ± 1,03abA1 9,55 ± 0,61bcA1 9,22 ± 0,63bcdA1 8,88 ± 0,14cdB2 8,31 ± 0,50deA 7,7 ± 0,21efA 2cm 40% 10,21 ± 0,07a1A1 9,95 ± 0,51abB1 9,42 ± 0,41bcAB1 8,99 ± 0,72cdA1 8,79 ± 0,31deB1 8,64 ± 0,56deB1 8,29 ± 0,53efB1 50% 10,28 ± 0,77aA1 10,09 ± 0,10aB1 9,75 ± 0,37aB1 9,02 ± 0,51bA1 8,55 ± 0,40bcAB1 8,08 ± 0,58cdAB1 7,84 ± 0,51deAB1 60% 10,58 ± 0,20aA1 9,46 ± 0,35bA1 8,93 ± 0,57cA1 8,51 ± 0,50cdA1 8,11 ± 0,61deA1 7,84 ± 0,58efA 7,58 ± 0,55fA 3cm 40% 10,07 ± 0,43aA1 9,95 ± 0,30abA1 9,49 ± 0,53bA1 8,91 ± 0,35cA1 8,65 ± 0,10cdA1 8,42 ± 0,10cdeA1 8,34 ± 0,75defA1 50% 10,32 ± 0,89aA1 10,27 ± 0,76aA1 9,47 ± 0,66bA1 8,97 ± 0,32bcA1 8,62 ± 0,16cdA1 8,48 ± 0,54cdeA1 8,29 ± 0,11defA1 60% 10,1 ± 0,52aA1 9,63 ± 0,69abA1 9,13 ± 0,69bcA1 8,68 ± 0,69cdA1 8,15 ± 0,69deA1 7,87 ± 0,69efA 7,62 ± 0,69efgA

Tebal Kons Jam ke-

Gula 7 8 9 10 11 12 1cm 40% 7,58 ± 0,17hA1 7,32 ± 0,22iA1 7,04 ± 0,22jA1 6,83 ± 0,14kA1 6,71 ± 0,17kB1 6,44 ± 0,21lA1 50% 7,61 ± 0,33fA1 7,24 ± 0,25fA1 7,22 ± 0,72fA1 6,61 ± 0,33gA1 6,24 ± 0,25gA1 6,18 ± 0,68gA1 60% 7,39 ± 0,73efgA1 7,23 ± 0,64fghA1 6,55 ± 0,52ghiA1 6,31 ± 1,05hiA1 6,21 ± 0,22iA1 6,04 ± 0,22iA1 2cm 40% 8,02 ± 0,39fgA12 7,76 ± 0,43fghA1 7,59 ± 0,39ghA2 7,43 ± 0,71hA12 7,32 ± 0,21hB2 7,2 ± 0,31hB2 50% 7,61 ± 0,84deA1 7,58 ± 0,73deA12 7,54 ± 1,03deA1 7,49 ± 0,10deA2 7,39 ± 0,16deB2 7,22 ± 0,20eB2 60% 7,52 ± 0,18fA1 7,49 ± 0,07fA1 7,41 ± 0,35fA2 6,96 ± 0,25gA12 6,69 ± 0,10gA2 6,5 ± 0,15gA2 3cm 40% 8,09 ± 0,46efgA2 7,84 ± 0,57fghA1 7,73 ± 0,52ghA2 7,61 ± 0,49ghA2 7,52 ± 0,28hA2 7,33 ± 0,18hA2 50% 8,1 ± 0,60defgA1 7,92 ± 0,43efghA2 7,74 ± 0,42fghiA1 7,57 ± 0,08ghiA2 7,42 ± 0,08hiA2 7,28 ± 0,08iA2 60% 7,37 ± 0,69fghA1 7,31 ± 0,45fghA1 7,26 ± 0,27fghA2 7,16 ± 0,18fghB2 6,92 ± 0,34ghB2 6,76 ± 0,23hB2

Keterangan :

- Semua nilai merupakan nilai mean ± standar deviasi dalam enam kali ulangan.

- Superscript huruf kecil menunjukkan ada tidaknya beda nyata antar baris tiap titik jam perendaman pada tingkat kepercayaan 95%.

- Superscript huruf besar menunjukkan ada tidaknya beda nyata antar konsentrasi larutan gula pada tiap kolom perlakuan ketebalan pada tingkat kepercayaan 95%.

Pada Tabel 9 dari sembilan kombinasi perlakuan bila disajikan secara grafis, terlihat bahwa pada

akhir perendaman kombinasi ketebalan 1 cm dan konsentrasi larutan gula 60% memiliki tingkat

kekerasan paling rendah seperti yang terlihat pada Gambar 16.

Gambar 16. Penurunan Kekerasan Manisan Jambu Biji pada Masing-masing Waktu Perendaman

dengan Berbagai Macam Perlakuan Ketebalan dan Konsentrasi Larutan Gula.

Hubungan perlakuan berbagai variabel konsentrasi larutan gula terhadap parameter kekerasan

selama perendaman dapat dilihat pada Gambar 17, dimana menunjukkan bahwa konsentrasi

larutan gula 60% mengalami penurunan kekerasan yang paling banyak terlihat sejak jam

perendaman pertama sampai akhir perendaman.

Gambar 17. Grafik Hubungan Perlakuan Berbagai Konsentrasi Gula Selama Waktu Perendaman

Terhadap Kekerasan Manisan Jambu Biji yang Dihasilkan.

Sedangkan hubungan perlakuan berbagai variabel ketebalan terhadap parameter kekerasan

selama perendaman dapat dilihat pada Gambar 18, yang menunjukkan bahwa perlakuan

ketebalan 1 cm pada awal perendaman sampai jam ke-5 terlihat paling tinggi, jam ke-6 terlihat

sama dengan perlakuan ketebalan lainnya, dan pada jam ke-7 sampai akhir perendaman terlihat

mengalami penurunan paling cepat dibandingkan ketebalan 2 cm dan 3 cm.

Gambar 18. Grafik Hubungan Perlakuan Berbagai Ketebalan Selama Waktu Perendaman

Terhadap Kekerasan Manisan Jambu Biji yang Dihasilkan.

Interaksi antara perlakuan ketebalan dan konsentrasi larutan gula dapat terlihat pada Gambar 19.

Dari gambar tersebut terlihat bahwa antara ketebalan dan konsentrasi larutan gula memiliki

interaksi. Terlihat bahwa baik pada ketebalan 1 cm; 2 cm; dan 3 cm kekerasannya menurun

apabila dikombinasikan dengan konsentrasi larutan gula 60%.

Gambar 19. Grafik Hubungan Perlakuan Berbagai Ketebalan dan Konsentrasi Gula Terhadap

Kadar Sukrosa Manisan Jambu Biji yang Dihasilkan.

Ketebalan terlihat lebih berpengaruh dibanding konsentrasi larutan gula. Perbedaan tersebut

terlihat bahwa hasil analisis grafis dari kedua variabel perlakuan tersebut yang masing-masing

diisi dalam 3 tingkat. Profil perubahan kekerasan manisan jambu biji selama 12 jam perendaman

dapat digambarkan dengan model matematika ideal yaitu model polynomial tingkat dua dengan

rumus y=ax

2

+bx+c, sedangkan untuk mengetahui koefisien difusi didapatkan dengan cara

menurunkan rumus tersebut menjadi dy/dx (y’) = 2ax+b, dimana y adalah tekstur, dy/dx adalah

koefisien difusi untuk tekstur, dan x adalah satuan waktu dehidrasi osmosis.

Tabel 10. Persamaan Matematik Penurunan Kekerasan Selama Perendaman

Variabel y=ax

2

+bx+c y' = 2ax+b

40% 0,012 x

2

- 0,414 x + 10,188 0,025 x - 0,414

50% 0,017 x

2

- 0,502 x + 10,501 0,034 x - 0,502

60% 0,019 x

2

- 0,542 x + 10,282 0,038 x - 0,542

1 cm 0,010 x

2

- 0,477 x + 10,479 0,019 x - 0,477

2 cm 0,021 x

2

- 0,512 x + 10,287 0,041 x - 0,512

3 cm 0,019 x

2

- 0,470 x + 10,205 0,037 x - 0,470

Dari profil penurunan kekerasan yang ada pada Gambar 16,17,18, dan 19; Tabel 9 dan 10, dapat

dilihat bahwa manisan jambu biji dengan ketebalan 1 cm dan konsentrasi larutan gula 60% laju

penurunan kekerasannya paling banyak dibandingkan dengan perlakuan yang lain.

Dokumen terkait