4. PEMBAHASAN Pada penelitian ini, dilakukan pembuatan manisan kering menggunakan bahan baku jambu biji (Psidium guajava L.). Sampel jambu biji yang telah diberikan pretreatment kemudian dikeringkan dengan menggunakan pengeringan dehumidifier. Sebelum dikeringkan sampel mendapat perlakuan berbagai variasi ketebalan (1 cm; 2 cm; dan 3 cm), perendaman asam sitrat dan blanching (steam blanching). Kemudian sampel manisan jambu biji didirendam dengan beberapa variasi konsentrasi larutan gula (40%; 50%; dan 60%) selama 12 jam. Setelah itu setiap jam diuji kandungan kadar air, kadar sukrosa, kadar vitamin C, tekstur (hardness), dan uji sensoris. Menurut Anonim (2007), buah berwarna merah seperti jambu biji merupakan jenis buah yang mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun buah ini menurut Astawan dan Astawan (1991) termasuk buah yang sifatnya mudah mengalami perubahan kimia dan fisik bila tidak ditangani secara tepat. Akibatnya, mutu pada buah akan turun secara drastis dan menyebabkan buah jambu biji menjadi tidak segar lagi dalam waktu yang sangat singkat. Perubahan sifat pada buah ini sering disebabkan karena terjadi proses oksidasi karena buah telalu sering terkena sinar matahari secara langsung, proses pemanenan yang kurang baik, serta pengaruh biologis karena adanya pertumbuhan jamur sehingga mempermudah terjadinya pembusukan pada buah. Oleh karena itu dilakukan pengolahan buah sebagai salah satu alternatif guna untuk mendapatkan nilai tambah (Satuhu, 1996). Dan dalam penelitian ini dilakukan pembuatan manisan kering dengan jambu biji sebagai bahan bakunya. Hal ini juga sesuai dengan teori Lucianaratih (2003) bahwa pengolahan ini dimaksudkan untuk menganekaragamkan pangan, meningkatkan nilai ekonomi, memperpanjang umur simpan dan mempertahankan atau memperbaiki mutu gizi buah 4.1. Pembuatan Manisan Jambu Biji Pretreatment sebelum pengeringan termasuk dalam persiapan bahan mentah. Persiapan raw material meliputi seleksi, sorting, pencucian, pengelupasan kulit, pemotongan, dan blanching kematangan dan kesegaran, kemudian dicuci untuk menghilangkan debu, kotoran serangga, spora, jamur, dan bagian-bagian lain yang dapat mengkontaminasi atau mempengaruhi warna, aroma ataupun flavour dari buah dan sayuran. Pada proses awal pembuatan manisan kering jambu biji, bahan baku (jambu biji) yang dipergunakan harus dicuci bersih, dikupas kulit luar dan dibuang bijinya terlebih dahulu. Proses pembuatan manisan kering jambu biji, dilakukan berbagai variasi ketebalan, yaitu 1 cm; 2 cm; dan 3 cm. Hal ini sesuai dengan teori Raghupathy dan Thangavel (1995) bahwa pengupasan buah atau penghilangan bagian buah yang tidak diperlukan biasanya dilakukan setelah pencucian. Selanjutnya produk akan dipotong sesuai dengan bentuk dan ukuran. Sofyan (2004) juga mengatakan bahwa ketebalan irisan buah merupakan faktor yang penting, dimana irisan buah yang terlalu tebal akan menyebabkan proses pengeringan berlangsung lama karena semakin jauh jarak yang ditempuh oleh uap air, penutupan jalan keluarnya air, penghambatan oleh rongga-rongga udara. Karena air dapat dengan mudah keluar maka semakin tipis ketebalan suatu irisan semakin sedikit kandungan air yang terkandung di dalamnya. Selanjutnya dilakukan perendaman dengan larutan asam sitrat dilakukan setelah proses pemotongan. Perendaman dengan asam sitrat berlangsung selama 10 menit. Hal ini sesuai dengan teori de Man (1997) bahwa tujuan dari perendaman dengan asam sitrat adalah untuk mencegah terjadinya browning enzimatis pada jambu biji yang disebabkan oleh enzim polifenoloksidase. Penyebab utama pada proses browning adalah reaksi enzim polifenoloksidase dengan oksigen yang akan mengubah senyawa o-difenol pada jambu biji menjadi o-kuinon. Dengan adanya asam sitrat dapat mencegah reaksi browning yaitu dengan cara asam sitrat akan bereaksi dengan o-kuinon dan mengubahnya kembali menjadi o-difenol. Metode pretreatment yang dilakukan salah satunya adalah metode blanching. Blanching merupakan proses pemanasan yang biasanya diberikan pada buah-buahan dan sayur-sayuran sebelum mengalami proses pendinginan, pengeringan, atau pengalengan (Winarno et al., 1984; Suprapti, 2005). Blanching pada bahan pangan berfungsi untuk melunakkan jaringan, mengurangi jumlah mikroorganisme, menginaktifasi enzim dan membersihkan jaringan (Satuhu, 1996). Metode blanching yang digunakan dalam penelitian ini adalah steam blanching selama 3 menit. Kehilangan nutrisi terutama yang larut air dengan metode steam blanching dapat diminimalkan karena dengan metode ini, buah tidak bersentuhan langsung dengan air sehingga resiko kehilangan komponen yang larut air dapat diminimalkan. Hal ini sesuai dengan teori Fellows; Sharma et al. (2000) bahwa steam blanching dilakukan dengan cara bahan pangan diberi uap panas yang dihasilkan dari air yang telah mendidih. Uap air akan masuk dan melewati seluruh jaringan dari bahan pangan tersebut. Pretreatment blanching berpengaruh terhadap perubahan kualitas sensoris dan nutrisi pada bahan pangan, misalnya terjadinya perubahan struktur jaringan menjadi lebih lunak, kehilangan beberapa kandungan mineral, kandungan vitamin yang larut dalam air serta komponen larut dalam air lainnya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang didapat bahwa kandungan kadar air, kadar sukrosa, kadar vitamin C, dan tekstur berkurang. Selain dilakukan pre-treatment dilakukan juga perendaman sampel ke dalam beberapa konsentrasi larutan gula (40%, 50%, dan 60%). Jumlah sukrosa yang digunakan dari sejumlah air untuk membuat larutan, hal ini didasarkan pada teori dari Winarno et al. (1984) bahwa dengan penambahan gula ke dalam bahan pangan dalam konsentrasi yang tinggi (paling sedikit 40% padatan terlarut), sebagian dari air yang ada menjadi tidak tersedia untuk pertumbuhan mikroorganisme dan aktivitas air dari bahan pangan berkurang dan dapat mencegah pertumbuhan mikrobia sehingga dapat digunakan sebagai pengawet. Sukrosa merupakan salah satu agen osmotik yang terbaik karena keefektifannya baik, convenience, dan flavor yang disukai (Sharma et al., 2000). 4.2. Pengujian Kimia Manisan Jambu Biji Pada proses pembuatan manisan jambu biji, didapatkan bahwa kadar air jambu biji mengalami penurunan yang signifikan selama 12 jam perendaman larutan gula yaitu sekitar 20-25%. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata kadar air awal jambu biji sebelum perendaman adalah 81-83%, kemudian setelah dilakukan proses perendaman, rata-rata kadar air jambu biji menjadi 61-72% (Tabel 3). Hal ini dikarenakan terjadi proses dehidrasi osmosis pada jambu biji dimana terjadi masuknya komponen gula dan keluarnya kandungan air sel-sel jambu biji untuk mencari keadaan setimbang. Proses masuknya gula dalam sel jambu biji adalah dengan cara menghancurkan dinding sel jambu biji (dengan perbedaan tekanan osmosis kedua bahan tersebut) dan menggantikan komponen air yang ada dalam jambu biji. Hal ini sesuai dengan Sharma et al., (2000), yang mengatakan bahwa potensial kimia air lebih tinggi dalam bahan biologis, sedangkan potensial kimia gula lebih tinggi dalam larutan osmotik. Oleh karena itulah, air mengalir keluar dari bahan biologis dan gula mungkin mengalir ke dalam bahan, tergantung dari waktu kontak dan ukuran membran. Semakin banyak komponen air yang keluar dari buah jambu biji maka komponen gula yang masuk juga semakin banyak. Pada Tabel 3, terlihat perlakuan ketebalan 1 cm dan konsentrasi larutan gula 60% selama perendaman, kadar airnya mengalami penurunan paling cepat keluar dari produk, sedangkan perlakuan konsentrasi larutan gula 40% dan ketebalan 3 cm mengalami penurunan kadar air paling lambat keluar dari produk (sesuai Gambar 4). Hasil tersebut sesuai dengan teori Omowaye (2002), bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan osmotik dan semakin tipis pemotongan irisan, maka laju perpindahan air dari bahan ke dalam larutan osmotik akan semakin tinggi. Jadi semakin lama waktu dehidrasi osmosisnya maka akan semakin banyak air yang hilang dari dalam buah, dan komponen gula yang akan masuk dalam jambu biji semakin besar pula sehingga kandungan sukrosanya meningkat namun kadar airnya menurun. Yang menjadi gaya pendorong penghilangan air adalah adanya perbedaan tekanan osmotik antara bahan pangan dengan larutan yang disekitarnya. Pada perlakuan perendaman konsentrasi larutan gula 40% (Gambar 5), didapatkan bahwa kadar air mengalami penurunan lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan perendaman yang lainnya. Hal ini disebabkan karena pada perlakuan tersebut, kandungan sukrosa yang terkandung pada jambu biji paling rendah sehingga proses keluarnya kandungan air pada jambu biji lebih lambat daripada perlakuan perendaman lainnya. Adanya molekul gula dalam jambu biji akan menutup pori-pori dari jambu biji sehingga proses keluarnya kandungan air pada jambu biji akan sedikit terhambat, yang akan berpengaruh pula terhadap laju pengeringan jambu biji. Pada Gambar 6 terlihat bahwa jambu biji dengan perlakuan ketebalan 1 cm penurunan kadar airnya paling cepat dibanding dengan jambu biji dengan perlakuan ketebalan 3 cm. Hal ini sesuai dengan teori Sofyan (2004), dimana irisan buah yang terlalu tebal akan menyebabkan proses dehidrasi osmosis berlangsung lama karena semakin jauh jarak yang ditempuh oleh uap air, penutupan jalan keluarnya air, penghambatan oleh rongga-rongga udara. Setelah melewati jam ke-5 sampai pada akhir perendaman, proses masuknya larutan gula ke dalam jambu biji tidak semaksimal awal perendaman. Terlihat jelas pada Tabel 3; Gambar 4; 5; 6 dan Gambar 7, bahwa kadar air berjalan lebih melambat. Hal ini dikarenakan kandungan air pada jambu biji sudah keluar sebagian dari sel jambu biji, sehingga akan menyebabkan adanya reaksi pengenceran larutan gula di sekitar jambu biji yang akan secara langsung menurunkan konsentrasi dari larutan gula perendam, dengan adanya perubahan konsentrasi gula tersebut maka kecepatan transfer massa antara gula dengan air menjadi semakin menurun (semakin lama cenderung terlihat konstan). Hal ini sesuai dengan Alvarez et al., (1995) yang mengatakan bahwa proses perpindahan gula ke dalam sel jambu biji akan berakhir pada saat keadaan mencapai equilibrium, dimana konsentrasi di dalam sel jambu biji sama dengan konsentrasi di lingkungan sekitar jambu biji. Gula akan mengalami kristalisasi selama proses pengeringan jambu biji, sehingga menghambat keluarnya air yang ada di bagian dalam buah jambu biji. Dengan adanya gula dalam buah jambu biji maka secara otomatis akan meningkatkan ketahanan internal terhadap perpindahan air dikarenakan tekanan osmosis pada buah jambu biji lebih besar daripada lingkungan sekitarnya. Hasil analisa kadar sukrosa menunjukkan terjadinya peningkatan kadar sukrosa karena adanya waktu dehidrasi osmosis selama perendaman. Hal ini disebabkan karena semakin lama waktu dehidrasi osmosis maka komponen gula yang masuk dalam struktur sel manisan akan semakin besar pula sehingga besarnya kadar sukrosa akan meningkat (Islam dan Flink, 1982). Dari penelitian diketahui selama perendaman bahwa kadar sukrosa yang paling cepat masuk ke dalam produk adalah manisan jambu biji dengan perlakuan ketebalan 1 cm dan konsentrasi larutan gula 60%, sedangkan yang paling lambat masuk ke dalam produk adalah perlakuan ketebalan 3 cm dan konsentrasi larutan gula 40% (Gambar 8-11). Hal ini disebabkan karena semakin kecil ukuran produk, air yang keluar dari produk semakin banyak dan komponen gula yang masuk juga semakin banyak (Sofyan, 2004). Dari Gambar 8 juga dapat dilihat bahwa terdapat titik dimana sukrosa dapat menyerap ke dalam bahan secara maksimal (grafik setelah naik drastis lalu mulai stabil) yaitu pada waktu perendaman jam ke-8. Hal ini dikarenakan penyerapan sukrosa ke dalam bahan akan mengalami titik jenuh dimana sukrosa akan terserap pada bahan dengan cepat dan banyak tetapi kemudian penyerapan sukrosa pada jam ke-10 terhadap bahan akan semakin melambat. Teori Omowaye et al. (2002) mengatakan bahwa dalam dehidrasi osmosis, struktur selular kompleks dari bahan pangan berperan sebagai membran semipermeabel. Karena membran yang bertanggung jawab terhadap transport osmotik tidak benar-benar selektif, maka zat terlarut lain yang ada dalam sel juga akan terikut ke dalam larutan osmotik. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian, dimana adanya hubungan yang tidak sebanding antara masuknya molekul gula dan keluarnya air dari jambu biji. Masuknya molekul gula lebih besar daripada keluarnya kandungan air, hal ini juga terjadi pada semua perlakuan perendaman. Hal ini disebabkan karena kandungan nutrisi yang keluar dari jambu biji bukan hanya air saja, terdapat kandungan nutrisi lainnya yang mungkin keluar dari jambu biji selama proses perendaman, seperti vitamin C, zat warna jambu biji, senyawa volatil, dan kandungan nutrisi lainnya yang larut dalam air. Kandungan nutrisi yang reaktif dengan keberadaan air akan dengan mudah terikut keluar bersama air selama proses perendaman. Pada penelitian ini juga dilakukan pengukuran vitamin C dengan berbagai perlakuan. Kadar vitamin C buah jambu biji segar yang digunakan sebesar 66,85±0,54 mg. Menurut Fellows dan Sharma et al. (2000), selama proses pengolahan terjadi kehilangan komponen-komponen nutrien seperti mineral, vitamin yang larut air, dan komponen larut air lainnya. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa dengan adanya proses perendaman maka kadar vitamin C lebih rendah. Hal ini dikarenakan pada proses perendaman, manisan jambu biji direndam dalam sukrosa yang telah dilarutkan dalam air, sehingga hilangnya vitamin C yang memiliki sifat mudah larut dalam air lebih tinggi. Beberapa faktor yang mempengaruhi kandungan vitamin C dalam bahan antara lain varietas, lama penyimpanan, tingkat kemasakan dan musim. Semakin kecil ukuran maka kadar vitamin C juga semakin rendah. Dari data (Tabel 7) diketahui bahwa manisan jambu biji dengan perlakuan ketebalan 3 cm, dan konsentrasi larutan gula 40% memiliki kadar vitamin C yang paling tinggi yaitu sebesar 24,03±1,01 mg, sedangkan kadar vitamin C yang paling rendah ditunjukkan pada perlakuan ketebalan 1 cm dan konsentrasi larutan gula 60% yaitu sebesar 20,08±0,76 mg. Hal ini dikarenakan dengan adanya pemotongan maka akan memperbesar kehilangan vitamin C pada bahan. Gambar 12-15 menunjukkan bahwa selama perendaman, antar perlakuan konsentrasi larutan gula dan ketebalan tidak mempengaruhi terhadap kadar vitamin C yang dihasilkan. Kadar vitamin C manisan jambu biji mengalami penurunan yang nyata pada waktu perendaman (Tabel 7), tetapi tidak bisa dilihat kestabilannya selama perendaman (Gambar 14 dan 15). Hal ini dikarenakan vitamin C mempunyai sifat sensitif terhadap pengaruh-pengaruh dari luar seperti suhu, oksigen, dan cahaya (Andarwulan dan Koswara, 1992). 4.3. Pengujian Fisik Manisan Jambu Biji Pada hasil penelitian, didapatkan bahwa kekerasan jambu biji menurun selama proses perendaman pada semua perlakuan perendaman. Kekerasan jambu biji pada perlakuan ketebalan 1 cm dan konsentrasi larutan gula 60% lebih rendah daripada jambu biji pada perlakuan ketebalan 3 cm dan konsentrasi larutan gula 40% (Tabel 9, Gambar 16, 17, 18 dan 19). Hal ini disebabkan pada perendaman larutan gula, struktur internal sel dalam jambu biji mengalami perubahan yang signifikan. Kekuatan struktur internal sel jambu biji akan menurun pada saat terjadi pemasukan molekul gula ke dalam sel-sel jambu biji karena dinding sel yang semula memiliki kemampuan tahanan bentuk yang kuat menjadi lebih lunak karena masuknya gula ke dalam sel jambu biji dengan cara menghancurkan dinding sel jambu biji, sehingga gula dapat masuk dan kandungan air pada jambu biji dapat keluar (Roy et al., 2001). Akibatnya kekuatan dinding sel dan kekuatan jaringan hilang secara cepat. Perlakuan konsentrasi larutan perendaman dan ketebalan mempengaruhi kekerasan jambu biji secara signifikan. Hal ini dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan gula (satuan %) maka semakin tinggi pula penurunan kekerasan jambu biji selama proses perendaman larutan gula. Hal ini disebabkan karena perbedaan konsentrasi zat terlarut (sukrosa) pada perendaman 60% lebih tinggi daripada perendaman 40% dan 50% sehingga perbedaan tekanan osmotiknya semakin tinggi, maka proses pengeluaran air dari jambu biji semakin banyak dan cepat di antara perlakuan konsentrasi lainnya. Proses pemasukan molekul gula yang semakin banyak, maka semakin banyak pula dinding sel jambu biji yang rusak akibat perbedaan tekanan osmotik yang tinggi sehingga jambu biji akan semakin lunak Hal ini sesuai dengan teori Baker (1997), yang mengatakan bahwa adanya komponen gula yang masuk ke dalam jambu biji saat dehidrasi osmosis menyebabkan terjadinya perubahan struktur jambu biji dari bentuk glassy ke bentuk rubbery, yang menyebabkan hidrolisis komponen-komponen dinding sel dan pergerakan rantai polimer sehingga terjadi pelunakan tekstur seiring dengan perubahan kadar air dan konsentrasi zat terlarut seperti gula. Tekstur lebih banyak ditentukan oleh peranan gula, terutama pada konsentrasi larutan gula lebih dari 50%. Berapa pun ketebalannya, apabila dilarutkan pada konsentrasi larutan gula 60% tetap lunak. Tekstur tidak semata-mata ditentukan oleh konsentrasi larutan gula, namun ada faktor lain yang ikut menentukan. Apabila konsentrasi larutan gula mencapai 50%, ketebalan ikut menentukan. Sedangkan apabila konsentrasi larutan gula lebih tinggi dari 50%, maka kadar air masih menurun, sedangkan konsentrasi larutan gula meningkat. Namun semakin tinggi ketebalan, proses penurunan masih berlangsung, hal ini berarti ada sel-sel yang masih kosong dimana belum terisi oleh larutan gula. 4.4. Pengeringan Jambu biji dalam penelitian ini dikeringkan dengan menggunakan dehumidifier. Pemilihan dehumidifier sebagai alat pengering didasarkan atas pertimbangan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh dehumidifier yaitu: dapat dilakukan pengontrolan suhu, sehingga produk dapat lebih baik dalam warna, flavor, nilai nutrisi, kualitas pemasakan, dan kondisi pemasakan yang higienis. Selain itu panas yang dihasilkan merata dan waktu pengeringannya cepat (Fellows, 1990). Pengontrolan suhu merupakan hal yang penting karena pengeringan jambu biji. Dalam penelitian ini tidak boleh dilakukan pada suhu yang terlalu tinggi karena akan menyebabkan kerusakan nutrisi-nutrisi yang terkandung dalam jambu biji, terutama yang tidak tahan panas, serta dapat merusak komponen madu yang terkandung dalam pepaya sebagai hasil dehidrasi osmosis. Oleh karena itulah pengeringan jambu biji dilakukan pada suhu 60oC. Hal ini didukung teori Kendall and Sofos (2003), yang mengatakan bahwa pengeringan untuk buah dan sayur biasanya berkisar pada 140oF (60oC), sedangkan lamanya waktu pengeringan tergantung dari ukuran sampel yang dikeringkan, humidity, dan jumlah sirkulasi udara yang digunakan. Dengan adanya proses pengeringan maka kadar air pada manisan jambu biji turun dalam jumlah yang besar. Pengeringan jambu biji dilakukan hingga kadar air mencapai ±17-18%. Hal ini sesuai standar SNI 01-3710-1995 tentang buah kering yang menyebutkan bahwa buah kering harus memiliki kadar air di bawah 31%. Menurut Kendall et al. (2004), kadar air yang tepat untuk makanan kering berkisar antara 5-25% tergantung dari jenis bahan pangannya. Dengan kadar air yang rendah maka mikroorganisme akan semakin sulit untuk tumbuh sehingga bahan pangan kering lebih awet (Winarno, 1993). Ketebalan irisan buah merupakan faktor yang penting, irisan buah yang terlalu tebal akan menyebabkan proses pengeringan berlangsung lama karena semakin jauh jarak yang ditempuh oleh uap air, penutupan jalan keluarnya air, penghambatan oleh rongga-rongga udara. Karena air dapat dengan mudah keluar maka semakin tipis ketebalan suatu irisan maka semakin sedikit kandungan air yang terkandung didalamnya (Sofyan, 2004). Hal ini terlihat dari hasil penelitian pada manisan kering jambu biji dengan ketebalan pemotongan 1 cm membutuhkan waktu pengeringan yang paling singkat dibanding dengan manisan kering jambu biji dengan ketebalan pemotongan 2 cm dan 3 cm. Alvarez et al., (1995) juga mengatakan bahwa molekul gula akan mengalami kristalisasi selama proses pengeringan jambu biji, sehingga menghambat keluarnya air yang ada di bagian dalam jambu biji. Seiring dengan waktu pengeringan, komponen gula yang terkandung dalam jambu biji akan mengalami kristalisasi karena kondisi lewat jenuh (terjadi pemekatan gula), sehingga menyebabkan terhalangnya air dari dalam jambu biji untuk keluar. Dengan demikian laju pengeringan buah jambu biji tersebut menjadi semakin lambat sehingga waktu pengeringannya menjadi lama. Pada manisan kering jambu biji yang telah dikeringkan terjadi penurunan kadar sukrosa (Tabel 11). Penurunan kadar sukrosa ini disebabkan karena dengan adanya proses pemanasan dan pengeringan dalam suatu rangkaian pengolahan bahan pangan. Karena pemanasan tersebut larutan sukrosa di dalam bahan pangan akan mengalami inversi atau pemecahan sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa akibat pengaruh asam dan panas yang akan meningkatkan kelarutan gula (Winarno, 1997; Davidek, 1990). Inversi pada sukrosa sering disebut dengan reaksi hidrolisis sukrosa, dimana sukrosa berikatan dengan air sehingga menghasilkan senyawa glukosa dan fruktosa (Gaman and Sherington,1994). Terlihat kadar sukrosa yang masih tinggi didapatkan pada manisan jambu biji dengan perlakuan konsentrasi larutan gula 60% pada tiap perlakuan ketebalan. Jumlah gula yang tinggi dalam produk akan membuat tekstur sampel menjadi lebih lunak dan lebih basah, karena gula akan mengikat sebagian air yang masih terdapat dalam sampel (Sutisna, 2004). Teori ini sesuai dengan hasil penelitian Tabel 11 dimana tekstur paling lunak (nilai paling rendah) didapatkan pada konsentrasi larutan gula 60% dalam tiap perlakuan ketebalan. Winarno (1993) mengatakan bahwa proses pengeringan pada buah dan sayuran akan mengurangi kandungan vitamin C. Andarwulan dan Koswara (1992); Whitfield (2000) juga mengatakan bahwa vitamin C mempunyai sifat kurang stabil dibandingkan vitamin lainnya dan mudah rusak selama pengolahan dan penyimpanan. Setiap bentuk dari perlakuan panas dapat menyebabkan hilangnya vitamin C. 4.5. Sensoris Manisan Jambu Biji Karakteristik sensoris sangat berpengaruh terhadap penerimaan sampel oleh panelis (Fellows, 2000). Parameter yang digunakan dalam analisa sensoris produk manisan kering jambu biji terdiri atas 4 parameter yaitu tekstur, warna, rasa, dan overall. Tekstur dapat diartikan sebagai kualitas dari makanan dimana dapat dirasakan dengan indera peraba (jari) maupun indera perasa (lidah) (Potter, 1978). Dilihat dari segi kesukaan terhadap parameter warna Tabel 12 dan Gambar 21, manisan kering jambu biji yang mendapatkan skor tertinggi adalah manisan dengan perlakuan ketebalan 1 cm Dalam dokumen SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar. Sarjana Teknologi Pangan. Oleh : Devi Octaviani Purwoko (Halaman 59-71)