KONDISI JALAN DI DEPAN RUMAH
5.2. Kajian dan Opsi Partisipasi Masyarakat dan Gender di Area Prioritas
Masyarakat yang merupakan salah satu komponen dalam suatu komunitas yang mempunyai posisi penting dalam pembangunan, pengelolaan serta pemeliharaan sanitasi. Namun sejauh ini partisipasi mereka belum mendapat perhatian yang proporsional dari pihak pemerintah dan pihak terkait lainnya. Oleh karena itu perlu diatur suatu studi yang menilai tentang partisipasi masyarakat dan peran jender dalam pengelolaan dan pemeliharaan sanitasi, baik dalam skala yang paling kecil dalam hal ini tingkat kota sampai pada skala nasional.
Studi ini melibatkan masyarakat sebagai subyek secara langsung dan partisipatif akan sangat berguna dalam menyusun strategi pembangunan sistem sanitasi yang efektif dan efisien.
Untuk mendapatkan sebuah penilaian yang kredibel dan obyektif dibutuhkan data dan informasi yang valid dan kredibel pula. Untuk itu diperlukan serangkaian survey dan observasi langsung yang terencana dan komprehensif terhadap kondisi partisipasi
masyarakat dan jender serta permasalahan serta solusinya,dalam upaya penanganan sistem sanitasi dalam skala kota beserta prospek pengembangannya di masa yang akan datang.
Masyarakat diharapkan mampu mengenali permasalahan terkait dengan sanitasi rumah tinggal dan lingkungan mereka, merencanakan kegiatan, melaksanakan melalui kerjasama dengan berbagai pihak dan pemerintah, serta melakukan evaluasi dan pengembangan kegiatan program secara mandiri dan tepat.
Sementara itu pelaksanaan program sanitasi juga diharapkan dapat secara partisipatif, tanpa harus menunggu “perintah” dari pemerintah. Untuk memampukan masyarakat agar memiliki kemampuan seperti di atas, penilaian tentang kondisi sanitasi masyarakat dilakukan dengan menggunakan pendekatan partisipatif yang mengadopsi Methodology for Participatory Assessment (MPA). MPA merupakan metodologi yang mendorong keterlibatan, dan antusias masyarakat dalam berpartisipasi yang sangat diharapkan dari metodologi partisipatif yang sudah ada sebelumnya Participatory Rural Assessment (PRA) yang dapat digunakan untuk tujuan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program, termasuk di dalamnya program air bersih dan sanitasi, di tingkat komunitas. MPA terbukti sangat bermanfaat untuk pembangunan diberbagai sektor, yang mengaitkan keberlanjutan pelayanan program dengan kegiatan peka jender, berpihak pada kaum miskin, pendekatan tanggap kebutuhan (Demand Responsive Approach = DRA), menyatakan pola asosiasi antara pelayanan yang baik bisa dimanfaatkan dan berkelanjutan, hingga munculnya berbagai institusi dan pengambil kebijakan mendukung pendekatan ini.
Studi tentang Partisipasi Masyarakat dan Jender (PMJ) dilakukan dengan tujuan:
a. Terkumpulnya informasi sanitasi secara kuantitatif-sistematis dengan menggunakan alatalat partisipatori, untuk menilai kesinambungan dan ketanggapan terhadap kebutuhan;
b. Teridentifikasinya pengalaman masyarakat dalam kegiatan/proyek perbaikan sanitasi, baik yang dilakukan secara swadaya atau gotong royong maupun bantuan dari instansi lain.
c. Teridentifikasinya kebutuhan dan kesanggupan masyarakat untuk berkontribusi dalam perbaikan sanitasi
d. Teridentifikasinya peran perempuan pada tahap perencanaan pembangunan sarana sanitasi dan beberapa perubahan tugas antara perempuan dan laki-laki.
e. Teridentifikasi keberadaan, manfaat, peranan dan hubungan berbagai lembaga yang ada di kelurahan.
Sementara itu, hasil yang diharapkan dari studi PMJ adalah:
a. Peningkatan kesadaran masyarakat, tokoh masyarakat, dan pemerintah kota baik laki-laki dan perempuan mengenai kondisi dan seriusnya masalah sanitasi dan kebersihan.
b. Munculnya kebutuhan masyarakat laki-laki dan perempuan disertai dengan kemauan untuk berkontribusi dalam pelaksanaan program sanitasi.
Teridentifikasinya daerah setingkat Kelurahan yang berpotensi untuk pelaksanaan program program sanitasi berbasis masyarakat secara berkelanjutan.
Tabel 5-5
Hasil Temuan dan Analisa Data Survei Partisipasi Masyarakat & Jender di Area Beresiko Tinggi
No. Topik Temuan dan Analisa
1. A. ALUR SEJARAH MASYARAKAT Tingkat Keberhasilan Pembangunan
Pembangunan berhasil ¾ dan hanya dapat dimanfaatkan oleh½ masyarakat
1. Bantuan untuk pembangunan sarana fisik seperti jamban/WC, sarana saluran air, drainase lingkungan, paving block jalan, pembangunan got kecil/parit rumah dengan sumber dana dari Pemda dan proyek NUSSP.
2. Pada umumnya masyarakat (laki-laki dan perempuan) tidak terlibat pada pelaksanaan pembangunan sarana yang sumber dana dari Pemda. Hal ini disebabkan pelaksana pekerjaan sudah menyediakan tukang sendiri. Masyarakat masih memanfaatkan empang/sungai sebagai tempat untuk b.a.b, walaupun sudah ada bantuan pembangunan sarana jamban/WC umum yang hanya dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat saja.
B. KEMAUAN BERKONTRIBUSI Pengalaman membangunprasarana secara gotong royong dan kemauan berkontribusi
Pernah dilakukan, masyarakat berkontribusi berupa tenaga kerja, material lokal dan uang tunai 1. Masyarakat laki-laki dan perempuan, kaya dan
miskin sudah terbiasa melakukan gotong royong dalam membangun sarana umum di lingkungan tempat tinggalnya.
2. Masyarakat mempunyai tingkat kemauan untuk berkontribusi yang cukup tinggi material lokal, tenaga kerja, konsumsi (makanan & minuman) dan uang tunai & membayar iuran/urunan untuk pembangunan sarana di lingkungan mereka.
3. Di beberapa lokasi laki-laki kaya dan miskin tidak menunjukkan kemauan untuk berkontribusi dalam semua pilihan jenis kontribusi. Demikian juga dengan perempuan kaya dan miskin juga tidak menunjukkan kemauan untuk berkontribusi dalam bentuk material lokal dan pembayaran iuran/urunan.
4. Sarana yang sudah terbangun tetap dimanfaatkan tetapi kurang dipelihara oleh masyarakat.
5. Hal ini menunjukkan adanya potensi positif bilamana di lokasi ini akan diberikan bantuan pembangunan sarana sanitasi yang bersifat umum ataupun individual Oleh karena itu perlu dibentuk Kelompok Pengguna Sarana di masyarakat agar lebih jelas tugas dan tanggungjawab serta pengelolaan dan pemanfaatan dana yang terkumpul. KPS dapat mengelola semua sarana umum baik air bersih maupun sanitasi yang ada di wilayah tempat tinggal mereka
2. A. SIAPA MELAKUKAN APA 1. Pekerjaan yang berhubungan dengan hal-hal teknis umumnya masih didominasi dan dilakukan oleh laki-laki, sedangkan perempuan mengerjakan pekerjaan domestik/rumah tangga.
2. Sudah ada pembagian tugas dan bertukar peran
antara lakilaki dan perempuan untuk banyak jenis pekerjaan/kegiatan di rumah tangga yang dilakukan bersama oleh laki-laki dan perempuan.
Pembagian tugas tetap ada walaupun fungsi laki-laki lebih dominan dalam perencanaan dan pembangunan fisik sanitasi Keadaan seperti di atas perlu dipertahankan, tetapi masih diperlukan penguatan melalui penyuluhan dan media-media kampanye yang berhubungan dengan kesetaraan jender pada masyarakat dengan topik .
Pentingnya bagi peran dan bertukar peran diantara laki-laki dan perempuan baik kaya maupun miskin dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
B. PEMBAGIAN JENIS PEKERJAAN BERDASARKAN JENDER
a. Keseimbangan beban kerja antara perempuan, laki-laki, kaya danmiskin selama masa pelaksanaan &pemeliharaan sarana
b. Keseimbangan dalam pembayaran upah kerja (dalam bentuk uang dan in-kind/lainnya) selama masa pemeliharaan
Pekerjaan dengan ketrampilan dikerjakan hanya oleh laki-laki (kaya & miskin), sedangkan perempuan mengerjakan pekerjaanyang tidak membutuhkan ketrampilan
1. Belum ada keseimbangan dalam pembagian beban kerja antara laki-laki (kaya dan miskin) dan perempuan (kaya dan miskin) karena semua pekerjaan yang membutuhkan ketrampilan hanya dikerjakan oleh laki-laki baik kaya & miskin, sedangkan perempuan kaya & miskin hanya melakukan pekerjaan yang tidak membutuhkan ketrampilan seperti menyiapkan makanan dan minuman.
2. Sudah ada keseimbangan diantara laki-laki kaya dan miskin dalam pembagian beban kerja baik yang perlu ketrampilan maupun yang tidak perlu ketrampilan.
Pekerjaan yang dibayar hanya dilakukan oleh laki-laki (kaya &miskin), perempuan hanya melakukan pekerjaan yang sifatnya sukarela
1. Laki-laki kaya & miskin akan dibayar untuk
pekerjaan yang memerlukan
ketrampilan/keahlian. Mereka juga tidak dibayar untuk pekerjaan yang tidak memerlukan keahlian termasuk pekerjaan yang bersifat sukarela atau gotong royong.
2. Perempuan (kaya & miskin) tidak dibayar dan hanya melakukan pekerjaan yang bersifat sukarela dan tidak membutuhkan suatu keahlian.
Masih sangat diperlukan pendampingan dan penguatan pada masyarakat melalui penyuluhan dan media-media kampanye yang berhubungan dengan kesetaraan jender pada masyarakat dengan topik
Pentingnya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin dalam pembayaran upah kerja dan beban pekerjaan selama masa pemeliharaan sarana.
3. A. KLASIFIKASI KESEJAHTERAAN 1. Ciri-ciri yang sangat membedakan diantar masyarakat yang termasuk golongan Kaya/Mampu, Sedang dan Miskin/Tidak Mampu dalam hal kepemilikan asset, kondisi rumah, jenis pekerjaan, pendidikan dan akses terhadap
pelayanan publik.
B. PEMETAAN SOSIAL MASYARAKAT &
MATRIKS SANITASI
a. Proporsi dan tingkat
kesejahteraanmasyarakat terhadap akses jamban
b.Proporsi dan tingkat
kesejahteraanmasyarakat terhadap akses drainaselingkungan
c. Proporsi dan tingkat kesejahteraan masyarakat terhadap akses
pengelolaan/pengumpuan sampah
Antara ¼ dan ½ masyarakat telah memiliki jamban dan sebagian besar golongan masyarakat kaya/mampu
1. Masyarakat yang belum mempunyai jamban keluarga adalah mayoritas masyarakat miskin sehingga masih buang air besar di tempat-tempat terbuka seperti sungai.
Semua rumah tangga tidak mempunyai akses ke saranadrainase lingkungan.
1. Kondisi saluran yang ada sering mampet/tidak mengalir dengan baik karena muka air sungai lebih tinggi dari posisi/letak bangunan saluran/drainase, sehingga air akan membalik dan tidak bisa mengalir dengan baik.
2. Di wilayah ini sering terjadi banjir atau genangan walaupun tidak masuk rumah, sejak ditaludnya bantaran sungai di sebelah timur RT tersebut.
(sebelumnya banjir masuk rumah)
Kurang dari 1/4 masyarakat dan sebagian besar adalahmasyarakat mampu yang mempunyai akses terhadap pengelolaan/pengumpulan sampah.
1. Beberapa warga yang tinggal di pinggir jalan raya dan umumnya masyarakat mampu yang terlayani oleh pengangkutan sampah dari Dinas Kebersihan Kota.
2. Masyarakat yang tinggal di dalam gang masih menangani sampah dengan membuang di halaman atau pekarangan rumah sendiri dengan membuat lubang atau dibuang ke sungai.
(a) Pilihan Sistem Sanitasi Lokal untuk Limbah Cair Tinja,LimbahCair non Tinja, Pengelolaan Sampah &
Drainase Lingkungan; (b) Pilihan Teknologi untuk Model dan Desain Sarana Sanitasi (c) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
4. KESIAPAN KELEMBAGAAN SAAT INI (DIAGRAM VENN)
Ada lembaga lokal yang penting/bermanfaat untuk sebagianbesar warga, rutin berinteraksi dengan masyarakat, dan memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah
Ada beberapa lembaga di tingkat masyarakat yang mempunyai manfaat sangat besar bagi masyarakat dan mempunyai hubungan sangat dekat dengan masyarakat serta ada pengakuan resmi dari pemerintah seperti Kecamatan, Kelurahan, Puskesmas, PKK, Posyandu Sekolah dan RT/RW.
Tabel 5-6
Permasalahan Sektor Sanitasi
PERMASALAH AN SUB SEKTOR
ASPEK KONDISI ALAM
(LINGKUNGAN) PEMBIAYAAN KELEMBAGAAN SOSIAL TEKNIS AIR LIMBAH Topografi
wilayah relative limbahdi setiap rumah tangga septic tank yang memenuhi standar teknis dan yang tidak
IPLT terbatas
Masyarakat masih buang sampah sembarangan
TPS terbatas (tidak ada warga yang lahannya bersedia
PERMASALAH AN SUB SEKTOR
ASPEK KONDISI ALAM
(LINGKUNGAN) PEMBIAYAAN KELEMBAGAAN SOSIAL TEKNIS sampah sebagai
masalah menjadi sampah sebagai berkah
Wilayah yang jauh dari TPS banyak yang mengelola sampah dengan cara dibakar dan ditimbun
Pemeliharaan belum optimal akses air bersih untuk yang belum punya WC
Kebiasaan
Tingkat kesadaran yang belum