bank yang melakukan kegiatan usaha pada ketiga jenis usaha di atas. Penelitian ini sendiri akan dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan (bulan Oktober-Desember 2007) dengan jumlah sampel yang ditarik sebanyak 360 unit usaha.
Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari kuisioner yang dibagikan kepada dua katagori kelompok sampel, yaitu sampel pengusaha UMK dan lembaga pembiayaan bank dan non-bank. Selanjutnya, dalam penelitian ini, selain pelaksanaan survei terhadap UMK dilakukan pula indepth interview bagi pelaku usaha non-bank pada masing-masing kabupaten/kota yang terpilih sebagai lokasi penelitian. Isi dari indepth interview tersebut antara lain adalah sejarah perkembangan usaha, nilai dan jenis kredit yang disalurkan, tingkat imbal hasil/bunga, teknik pemasaran kredit, ada/tidaknya kerjasama dengan lembaga lain serta tingkat kepedulian dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Adapun metode analisis pada penelitian ini adalah (1) analisis deskriptif; (2) analisis pemetaan untuk melihat posisi relatif masing-masing lembaga pembiayaan terkait dengan karakteristik UMK dengan menggunakan tabulasi silang; (3) analisis kuantitatif (chi-square) untuk mengetahui hubungan antara karekteristik usaha seperti status badan usaha, jenis usaha, kepemilikan tempat usaha, ketersediaan dokumen kredit, nilai aset dan skala usaha; dan (4) untuk studi kasus (sebagaimana disebutkan dalam tujuan penelitian) di samping menggunakan analisis deskriptif yang dilengkapi dengan indepth interview.
Hasil pengolahan data dan analisis yang dilakukan mengungkapkan bahwa:
a. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada pemberian kredit menurut jenis usaha UMK (hortikultura/tanaman pangan, perikanan/kelautan, dan industri rumah tangga) baik yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan bank maupun non-bank. Dengan kata lain, berdasarkan perspektif lembaga pembiayaan, ketiga jenis usaha ini memiliki prospek usaha yang relatif sama.
b. Terdapat perbedaan yang signifikan antara pemberian kredit skala mikro dan kecil baik yang dilakukan oleh lembaga keuangan bank maupun non-bank. Lembaga pembiayaan non-bank cenderung untuk lebih memperhitungkan faktor risiko kredit dibandingkan lembaga pembiayaan bank.
c. Debitur (pengusaha mikro/kecil) yang mengambil kredit melalui dua sumber lembaga pembiayaan (bank dan non-bank) memiliki rata-rata nilai kredit yang lebih besar dibandingkan debitur yang memilih hanya salah satu sumber lembaga pembiayaan.
Secara implisit, kondisi ini menunjukkan bahwa plafon kredit yang ditetapkan oleh masing-masing lembaga pembiayaan relatif lebih kecil dibandingkan kebutuhan kredit debitur.
Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Selatan Triwulan IV-2007 69 d. Diantara unit usaha yang bankable terdapat 25,59% yang lebih memilih kepada lembaga
pembiayaan non-bank. Kondisi ini disebabkan oleh kesesuaian dan mudah dipenuhinya jaminan, syarat-syarat pemberian kredit relatif lebih ringan dan proses persetujuan yang tidak berbelit-belit. Lebih lanjut, lembaga pembiayaan non-bank memiliki ciri khas berupa jangka waktu kredit yang fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan debitur, kedekatan nasabah dengan lembaga sumber pembiayaan non-bank serta terdapatnya berbagai bonus.
Dari hasil penelitian ini, terdapat beberapa rekomendasi baik kepada pemangku kebijakan maupun perbankan di daerah, yaitu :
a. Diharapkan partisipasi bank swasta untuk dapat mengambil bagian dalam pemberian kredit pada UMK di daerah kabupaten dan kecamatan dapat ditingkatkan.
b. Perbankan diharapkan dapat memberikan persyaratan kredit yang lebih berdasarkan kepada skala usaha misalnya semakin kecil skala usaha maka semakin kecil imbal hasil/bunga yang dibebankan dan persyaratan administrasi yang relatif dipermudah.
c. Lembaga pembiayaan non-bank, khususnya ventura dan pegadaian perlu memperluas jaringan dengan membuka akses di daerah, khususnya kecamatan dan pedesaan agar UMK yang bergerak pada jenis usaha hortikultura/tanaman pangan dan perikanan/kelautan akan lebih memiliki akses terhadap sumber-sumber pembiayaan.
d. Mengingat pengusaha mikro/kecil cenderung memilih lembaga pembiayaan yang dekat dengan lokasi usaha (biasanya adalah koperasi) maka lembaga pembiayaan yang berada di wilayah kota perlu meningkatkan kerjasama dengan lembaga pembiayaan yang lebih dekat dengan pelaku usaha, misalnya dengan mengoptimalkan mekanisme channeling.
e. Pemerintah Daerah (Pemda) perlu mencermati kemungkinan pengembangan regulasi yang memudahkan UMK mengakses sumber-sumber pembiayaan yang tersedia di daerah, khususnya bagi lembaga pembiayaan bank maupun non-bank yang dimiliki oleh Pemda.
Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank
Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Selatan Triwulan IV-2007 71
Bab 4
Perkembangan Sistem Pembayaran
Sebagai bank sentral, Bank Indonesia terus mengupayakan terselenggaranya sistem pembayaran yang efisien, cepat dan aman. Hal ini disebabkan karena Sistem Pembayaran (payment system) merupakan salah satu jenis layanan utama perbankan dalam mendukung kelancaran aktivitas perekonomian. Dari sisi media transaksi sistem pembayaran yang ada saat ini dapat berupa sistem pembayaran tunai (menggunakan uang kartal) dan sistem pembayaran non tunai (kliring dan BI-RTGS).
Pada triwulan IV-2007, perkembangan sistem pembayaran non tunai, Bank Indonesia terus melakukan penyempurnaan sistem kliring, yaitu dengan mengimplementasikan Sistem Kliring Nasional (SKN) dan sistem RTGS. Sementara pada sistem pembayaran tunai, Bank Indonesia terus berupaya memenuhi kebutuhan uang kartal dalam jumlah dan pecahan yang cukup dan layak edar, terutama pada saat hari raya Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan tahun baru.
4.1. Pengedaran Uang Kartal
4.1.1. Aliran Uang Kartal Masuk (Inflow) dan Keluar (Outflow)
Aliran uang kartal masuk (inflow) maupun aliran uang keluar (outflow) di KBI Makassar pada triwulan IV-2007 mengalami penurunan dibanding triwulan IV-2006.
Penurunan tersebut, selain karena adanya mekanisme Cash Center, juga diperkirakan adanya pergeseran bulan Ramadhan yang pada tahun 2007 jatuh pada triwulan III-2007. Pada triwulan IV-2007, inflow ke KBI Makassar tercatat sebesar Rp1,31 triliun, atau meningkat 41,73% (y.o.y) dibandingkan triwulan III-2007. Kondisi yang sama juga terjadi pada outflow yang turun sebesar 30,59% (y.o.y) dibandingkan triwulan lalu atau menjadi Rp1,81 triliun, sehingga pada triwulan IV-2007, KBI Makassar mengalami net-otflow .
Sementara secara triwulanan, pada triwulan IV-2007 terjadi peningkatan outflow yang sangat tinggi yaitu sebesar 367,29% dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami penurunan sebesar 67,53% (q.t.q). Peningkatan tersebut selain karena adanya kegiatan keagamaan, juga diperkirakan adanya pengaruh kegiatan pilkada Sulsel. Sementara inflow juga meningkat yaitu sebesar 56,33% (q.t.q) namun lebih rendah dibanding inflow triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 68,55%.
Secara kumulatif, pada tahun 2007, inflow ke Bank Indonesia tercatat sebesar Rp4,67 triliun, atau turun 50,88% dibanding dengan inflow pada triwulan yang sama tahun
Triwulan IV-2007 Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Selatan