dibandingkan pencapaian pada akhir tahun 2006 yang sebesar Rp390,80 miliar. Peningkatan triwulanan disumbang oleh tabungan yang tercatat sebesar 8,51% (q.t.q), sementara untuk simpanan giro memberikan kontribusi negatif yaitu sebesar -3,29%. Sedangkan peningkatan tahunan terbesar disumbang oleh deposito, yaitu sebesar 18,01% dan mengalami peningkatan sebesar 47,15% hingga mencapai Rp219,64 miliar. Sumbangan lainnya diberikan oleh tabungan yaitu sebesar 17,88% atau mengalami peningkatan sebesar 37,89% menjadi Rp341,61 miliar. Sementara giro tercatat mengalami penurunan sebesar 0,26% menjadi Rp56,94 miliar Peningkatan instrumen deposito diperkirakan karena nilai bagi hasilnya masih melebihi tingkat suku bunga perbankan konvensional sehingga tetap menarik nasabah dalam menempatkan dananya pada jenis instrumen tersebut.
Dari sisi pembiayaan, kinerja perbankan syariah pada triwulan IV-2007 tercatat mencapai sebesar Rp858,27 miliar atau meningkat sebesar 30,55% dibandingkan dengan akhir 2006. Penggunaan pembiayaan tersebut didominasi untuk modal kerja (44,19%), diikuti kredit konsumsi (39,80%) dan kredit investasi (16,01%). Sementara itu dari sisi sektoral, alokasi pembiayaan sebagian besar masih disalurkan ke sektor lainnya (39,80%) dan jasa dunia usaha (25,48%). Lebih lanjut, kualitas pembiayaan perbankan syariah secara bruto (NPF gross) masih lebih baik dibandingkan dengan kredit perbankan konvensional yaitu sebesar 5,54%, lebih baik pula dibanding akhir tahun 2006 yang tercatat sebesar 5,81%.
Secara triwulanan, pada triwulan IV-2007 terjadi peningkatan pembiayaan sebesar 8,33%
(q.t.q) dibandingkan pembiayaan pada triwulan III-2007 yang tercatat sebesar Rp792,26 miliar. Peningkatan pembiayaan tersebut didorong oleh sumbangan peningkatan pembiayaan konsumsi yaitu sebesar 4,94%.
Dengan adanya peningkatan yang relatif tinggi pada penghimpunan dana dan ekspansi pembiayaan secara langsung maka akan meningkatkan perkembangan aset perbankan syariah, yang pada triwulan IV-2007 menjadi sebesar Rp1,03 triliun atau tumbuh 34,85% dibanding akhir 2006, atau tumbuh 6,07% dibanding aset pada triwulan III-2007.
3.2.5. Kinerja Bank Pekreditan Rakyat (BPR) dan BPR Syariah (BPRS)
Dari segi kelembagaan, pada triwulan IV-2007 jumlah bank dan kantor BPR yang beroperasi di wilayah Sulsel tidak mengalami perubahan dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu sebanyak 27 bank (21`konvensional dan 6 syariah) dengan 45 kantor (32 konvensional dan 13 syariah). Total kredit/pembiayaan yang berhasil disalurkan oleh BPR/S pada triwulan IV-2007 tercatat naik sebesar 77,70% dibanding posisi triwulan IV-2006 atau menjadi Rp175,04 miliar pada triwulan IV-2007. Peningkatan tersebut juga terjadi apabila dibandingkan dengan triwulan III-2007 dimana kredit yang disalurkan tercatat sebesar Rp155,05 miliar. Sehingga kredit yang disalurkan BPR/S pada triwulan IV-2007 naik 12,89%
Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Selatan Triwulan IV-2007 65 Grafik 3.12. Pangsa Kredit BPR/S per Sektor Ekonomi
- Lain-lain,
Sumber : Lap. Bulanan BPR
dibanding posisi triwulan III-2007. Searah dengan alokasi dana oleh bank umum, maka mayoritas kredit BPS/S masih dialokasikan pada sektor lainnya (sebagian besar untuk konsumsi) dan sektor perdagangan, yaitu masing-masing sebesar 60,70% dan 22,33%.
Adapun dari sisi kualitas kredit/pembiayaan yang disalurkan oleh BPR/S, rasio NPLs
(gross) BPR/S pada triwulan IV-2007 tercatat adalah sebesar 7,82%, lebih baik dibandingkan kinerja pada triwulan IV-2006 yang tercatat sebesar 11,63%.
Perbaikan rasio tersebut juga terjadi secara triwulanan, yang tercatat rasio NPLs pada triwulan III-2007 sebesar 8,63%.
Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) BPR/S mencatat peningkatan sebesar 66,19% dari Rp68,46 miliar pada triwulan IV-2006 menjadi Rp113,78 miliar pada triwulan IV-2007. Dengan demikian, rasio perbandingan kredit/pembiayaan dengan dana pihak ketiga (LDR) BPR/S pada triwulan IV-2007 tercatat mengalami peningkatan dari 143,88% menjadi 153,84%. Kondisi ini merupakan cerminan dari peningkatan fungsi intermediasi BPR/S yang sejalan dengan kinerja intermediasi oleh bank umum (baik konvensional maupun syariah). Namun bila dibandingkan dengan LDR triwulan III-2007 yang tercatat sebesar 158,40%, maka kinerja BPR/S di Sulsel mengalami penurunan. Penurunan tersebut diakibatkan karena peningkatan penyaluran kredit yang tercatat sebesar 12,89% (q.t.q) tidak mampu mengimbangi peningkatan DPK yang tercatat sebesar 16,24% (q.t.q).
Tabel 3.5. Indikator Utama BPR/S di Sulsel
DPK 38,105 68,462 113,779
Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank
Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Selatan Triwulan IV-2007 67 Usaha Mikro Kecil pada umumnya sangat berhubungan dengan kehidupan rakyat kecil sehari-hari mengingat banyaknya komponen masyarakat yang berkerja pada sektor ini.
Keunggulan UMK pada dasarnya berupa fleksibilitas kebutuhan investasi yang relatif kecil, berbasis bahan baku lokal dan mampu menyerap cukup banyak tenaga kerja terutama angkatan kerja yang tidak tersalur pada sektor pemerintahan dan industri yang membutuhkan kualifikasi standar pendidikan dan keterampilan tertentu.
Namu demikian, dukungan pembiayaan terhadap pengembangan UMK ini dirasakan masih sangat kurang memadai. Khusus untuk pembiayaan UMK di wilayah Sulsel terdapat beberapa aspek penting (Yunus, 2003 dan 2006; Robinson, 2004; Untoro, 2004), antara lain (1) masih terdapatnya resistensi dari pihak perbankan daerah dalam penyaluran kredit kepada UMK yang lebih bersifat fund channeling; (2) UMK masih menilai terdapatnya kendala birokrasi dan aturan yang menyebabkan berkurangnya akses terhadap kredit perbankan; (3) masih terbatasnya sumber pendanaan dengan biaya dana yang terjangkau di daerah; (4) terjadinya double financing, kompetisi yang tidak adil, lemahnya informasi dan jaringan yang kemudian menyebabkan munculnya moral hazard dan adverse selection; (5) perlunya bantuan teknis atau pembinaan untuk mendorong UMK agar dapat memenuhi lending criteria dan pemahaman terhadap cakupan pendanaan oleh lembaga pembiayaan bank maupun non bank.
Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui peranan lembaga pembiayaan bank dan non bank dalam penyaluran kredit pada UMK di Sulsel; (2) untuk mengetahui peta penyaluran kredit lembaga pembiayaan bank dan non-bank pada UMK di Sulsel; (3) untuk mengetahui keterkaitan antara karakteristik UMK dengan perilaku pengambilan kredit melalui lembaga pembiayaan bank dan non-bank dan (4) untuk memaparkan studi kasus tentang bagaimana teknik dan strategi yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan bank dan non-bank dalam rangka melakukan penyaluran kredit pada UMK di Sulsel. Fokus penelitian ini adalah pada enam kabupaten/kota yaitu Makassar, Pangkep, Wajo, Enrekang, Takalar dan Bulukumba.
Penentuan daerah-daerah tersebut didasarkan kepada kondisi karakteristik jenis usaha yang difokuskan pada penelitian ini (hortikultura/tanaman pangan, perikanan/kelautan, dan industri rumah tangga) di masing-masing kabupaten/kota di Sulsel, sementara unit analisis adalah UMK yang memperoleh bantuan pembiayaan dari lembaga keuangan bank dan non
Box 2
Pemetaan Lembaga Pembiayaan Bank dan Non-Bank Dalam Penyaluran Kredit Pada Usaha Mikro Kecil (UMK)di Sulawesi Selatan
(Penelitian Bersama Bank Indonesia dgn Rielbank Universitas Hasanuddin)
Triwulan IV-2007 Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Selatan