KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori
1. Kajian Tentang Guru Pendidikan Agama Islam a. Pengertian guru
Dalam perspektif pendidikan Islam, seorang guru disebut sebagai
ustadz, mu‟allim, murabby, mursyid, mudarris, dan muaddib.14
Sebagai
ustadz, ia dituntut untuk komitmen terhadap profesionalisme dalam
mengemban tugasnya yaitu menyiapkan generasi penerus yang akan hidup pada zamannya di masa depan. Sebagai mu‟allim, ia dituntut mampu mengajarkan kandungan ilmu pengetahuan dan al hikmah atau kebijakan dan kemahiran melaksanakan ilmu pengetahuan itu dalam kehidupan yang mendatangkan manfaat dan semaksimal mungkin menjauhi madlarat. Sebagai murabby, guru dituntut menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, sekaligus mengatur dan memelihara hasil kreasinya agar tidak menimbulkan efek negatif bagi dirinya, masyarakat, dan alam sekitarnya.
Guru sebagai mursyid, dituntut menularkan penghayatan
(transinternalisasi) akhlaq dan/atau kepribadian pada peserta didik, baik itu berupa etos ibadah, etos kerja, etos belajar, maupun dedikasinya, atau dalam pengertian yang lebih mudah dipahami guru harus menjadi “model” atau pusat panutan, teladan bagi peserta didik. Sementara sebgai mudarris
14
Muhaimin. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. (Jogjakarta: Pelajar Pustaka, 2003), hal: 209-213
guru bertugas mencerdaskan peserta didiknya, menanamkan pengetahuan serta melatih keterampilan peserta didik sesuai minat, bakat, dan kemampuannya. Sebagai mu‟addib, seorang guru memiliki peran dan fungsi untuk membangun peradaban (civilization) yang berkualitas di masa yang akan datang.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi guru adalah orang
yang pekerjaan, mata pencaharian atau profesinya mengajar. 15menurut A.
Malik Fajar, Guru merupakan sosok yang mengemban tugas mengajar,
mendidik dan membimbing. 16
Guru adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada siswa dalam perkembangan jasmani dan rohani agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah SWT., sebagai khalifah di bumi, sebagai makhluk
sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.17
Terkait dengan guru, Moh. Uzer Usman mengemukakan bahwa definisi guru adalah:
Jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Pekerjaan ini bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru. Untuk menjadi guru diperlukan syarata-syarat tertentu, apalagi sebagai guru yang profesional yang harus menguasai betul seluk beluk pendidikan dan pengajaran dengan berbagai ilmu
15
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), Edisi III, hal:330
16A. Malik Fajar, Visi Pembaruan Pendidikan Islam, (Jakarta: Lembaga Pengembangan
Pendidikan dan Penyusunan Naskah Indonesia (LP3NI), 1998), hal:212
17Abd Aziz, Orientasi Sistem Pendidikan Agama Di Sekolah, (Yogyakarta: Teras, 2010), hal: 18
pengetahuan lainnya yang perlu dibina dan dikembangkan melalui
masa pendidikan tertentu atau pendidikan pra-jabatan.18
Seorang guru Pendidikan Agama Islam adalah orang yang
bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik denggan mengupayakan seluruh kompetensinya, baik potensi afektif, potensi kognitif, maupun potensi psikomotorik. Di samping itu ia juga mampu
menjadi sebagai makhluk sosial dan makhluk individu yang mandiri.19
Dalam hal ini, guru adalah aktor terpenting dalam keberhasilan
proses pendidikan. Walaupun science dan technology sudah sangat maju tapi posisi guru tidak bisa tergantikan, guru yang baik adalah guru yang dapat melakukan transformasi dan internalisasi nilai-nilai ilmu pengetahuan baik yang teoritis maupun praktis dengan metode yang tepat dan sarana serta alat pendidikan yang sesuai. Guru tidak hanya dikelas, tapi juga di masyarakat. Sehingga guru betul-betul menjadi manusia yang digugu dan ditiru (menjadi tauladan). Guru merupakan salah satu komponen terpenting dalam dunia pendidikan. Ruh pendidikan sesungguhnya terletak dipundak guru. Bahkan, baik buruknya atau berhasil tidaknya pendidikan hakikatnya ada di tangan guru, yakni guru yang betul-betul professional. Sebab, sosok guru memiliki peranan yang strategis dalam “mengukir” peserta didik menjadi pandai, cerdas, terampil, bermoral dan berprestasi dengan luasnya pengetahuan yang ia peroleh.
18Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesonal, (Bandung: Rosdakarya, 1998), hal: 5
19Muhammad Nurdin, Kiat Menjadi Guru Prifesional, (Jogjakarta, Ar-Ruzz Media, 2008), hal: 128
Sebagai tenaga edukatif dalam lingkup sekolah, guru harus memiliki kompetensi-kompetensi dasar kependidikan. Sebab dalam interaksi pembelajaran peserta didik, seorang guru harus bisa melakukan demonstrasi yang hidup dan menyenangkan bagi peserta didik. Sehingga kompetensi tersebut menyebabkan pembelajaran semakin bertambah baik. Di samping ia juga harus memiliki kemampuan tertentu yang sesuai dengan nilai dan norma yang seharusnya dimilikinya. Misalnya, berkepribadian dewasa, mandiri dan bertanggung jawab sehingga dapat dijadikan tauladan yang baik bagi peserta didiknya.
Dari beberapa pendapat tersebut diatas, maka yang dimaksud
degan guru adalah seorang yang memiliki kompetensi, ilmu pengetahuan dan mempunyai tugas mengajar, membimbing, melatih, mengarahkan, memberi tauladan, menilai peserta didik dalam proses belajar mengajar. b. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agama Islam, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran pada semua jenjang
pendidikan.20
Di dalam GBPP PAI di sekolah umum, dijelaskan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha secara sadar untuk menyiapkan
peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam bimbingan kerukunan antar umat beragama di masyarakat untuk mewujudkan persatuan dalam keberagaman dan keberagamaan.
Menurut Muhaimin, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam Pendidikan Agama Islam yaitu sebagai berikut:
1. Pendidikan Agama Islam sebagai usaha sadar, yakni suatu kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar atas tujuan yang hendak dicapai.
2. Pendidik lebih spesifik guru PAI yang melakukan kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan secara sadar terhadap peserta didiknya untuk mencapai tujuan Pendidkan Agama
Islam.21
Menurut Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No 16 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Pendidikan Agama pada Sekolah BAB VI pasal 1 menjelaskan bahwa Pendidikan Agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran pada semua jalur,
jenjang dan jenis pendidikan.22 Guru Pendidikan Agama Islam adalah
pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
21Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam (Upaya Mengefektifkan PAI di Sekolah), (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002), hal: 76.
22
membimbing, mengarahkan, melatih, memberi tauladan, menilai dan
mengevaluasi peserta didik.23
Dari beberapa pengertian baik tentang guru maupun Pendidikan Agama Islam tersebut, maka yang dimaksud dengan guru Pendidikan Agama Islam adalah orang yang memiliki kompetensi, ilmu pengetahuan, mempunyai tugas mengajar, membimbing, melatih, mengarahkan, menilai, memberikan tauladan, pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agama Islam. c. Tugas dan Tanggung jawab Guru PAI
Tugas guru yang utama menurut imam al-Ghazali adalah menyempurnakan, membersihkan, mensucikan, serta membawakan hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME, karena pendidikan
adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME.24Sedangkan
tanggung jawab guru Pendidikan Agama Islam menurut teori Zuhairini dkk, pendidik bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik, tetapi juga membentuk akhlak seorang
siswa sehingga akhirnya memiliki akhlak yang baik.25Untuk seorang guru
perlu mengetahui dan dapat menerapkan beberapa prinsip mengajar agar ia dapat melaksanakan tugasnya, yaitu sebagai berikut:
23
Kepmenag No 211 Tahun 2011 BAB 1
24
Muhaimin, Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalismenya, (Bandung: Trigenda Karya, 2009), hal: 169.
25
1) Guru harus dapat membangkitkan perhatian peserta didik pada materi pelajaran yang diberikan serta dapat mengemukakan berbagai media dan sumber belajar yang bervariasi.
2) Guru harus dapat membangkitkan minat peserta didik untuk aktif dalam berpikir serta mencari dan menemukan sendiri pengetahuan.
3) Guru harus dapat membuat urutan dalam memberikan pelajaran
dan penyesuaian terhadap usia dan tahapan tugas
perkembangan peserta didik.
4) Guru perlu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik (kegiatan apersepsi).
5) Sesuai dengan prinsip repetisi dalam proses pembelajaran, diharapkan guru dapat menjelaskan unit pelajaran secara berulang-ulang sehingga tanggapan peserta didik menjadi jelas. 6) Guru wajib meperhatikan dan memikirkan korelasi anatara
mata pelajaran dan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. 7) Guru harus tetap menjaga konsentrasi belajar para peserta didik
dengan cara memberikan kesempatan berupa pengalaman secara langsung, mengamati, menyimpulkan pengetahuan yang didapatkan.
8) Guru harus mengembangkan sikap peserta didik dalam membina hubungan sosial, baik dalam kelas maupun di luar kelas.
9) Guru harus menyelidiki dan mendalami perbedaan peserta didik secara individual agar dapat melayani siswa sesuai
dengan perbedaannya tersebut.26
Menurut Zakiyah Darajat, Guru agama berbeda dengan guru-guru bidang studi lainnya. Guru agama disamping melaksanakan tugas pengajaran, yaitu memberitahukan pengetahuan keagamaan, ia juga melaksanakan tugas pengajaran dan pembinaan bagi peserta didik, ia
membantu pembentukan kepribadian, pembinaan akhlak serta
menumbuhkembangkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik.27
26Hamzah B. Uno. Profesi Kependidikan “Problema, Solusi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia”, (Jakarta: PT Bumi Aksara, Cet Ke-6, 2010), hal: 16
27Zakiyah Darajat, Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah, (Jakarta: Ruhaman, Cet Ke-2, 1995), hal: 99
Menurut Ahmad D. Marimba dalam buku filsafat Pendidikan Islam karangan Samsul Nizar peranan guru Pendidikan Agama Islam dalam pendidikan Islam adalah membimbing dan mengenal kebutuhan atau
kesanggupan siswa, menciptakan situasi yang kondusif bagi
berlangsungya proses kependidikan, menambah dan mengembangkan pengetahuan yang dimiliki guna ditransformasikan kepada peserta didik, serta senantiasa membuka diri terhadap segala keluhan atau kekurangannya.
Mencermati tugas guru yang telah dikemukakan di atas, jelas bahwa tugas guru Pendidikan Agama Islam sengatlah luas, termasuk membentuk manusia yang beriman dan bertakwa serta beramal saleh, memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan diamanatkan oleh Undang-undang RI. Di dalam Undang-undang RI No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Bab II dijelaskan tentang guru sebagai berikut:
Dalam melaksanakan tugas guru keprofesionalan, guru
berkewajiban:
1) Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses
pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran;
2) Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi serta seni;
3) Bertindak obyektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;
4) Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika, dan
5) Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.28 Tugas dan tanggung jawab sebagaimana yang telah dijelaskan tersebut, adalah sangat jelas bahwa seorang guru Pendidikan Agama Islam wajib dibuktikan dengan sertifikasi pendidik, mempunyai akhlak mulia, terampil, menguasai sain dan teknologi, berwawasan kebangsaan, tidak diskriminatif, mampu merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi pembelajaran dengan efektif dan efesien, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik sesuai dengan apa yang diharapkan.
2. Kajian Tentang Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam