• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Literatur Dan Pengembangan Hipotesis

4510 Soediro Bandung : Penerbit ITB Halaman

PENGARUH METODE SIBERMATIK MELALUI FILOSOFI MEDIA BERGAMBAR PADA KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN EKSPOSISI PADA SISWA

1. Kajian Literatur Dan Pengembangan Hipotesis

Menulis adalah menuangkan gagasan, pendapat, perasaan, keingi-nan, dan kemauan, serta informasi ke

dalam tulisan dan kemudian “mengirimkannya” kepada orang lain. Selain itu, menulis juga merupakan suatu

aktivitas komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai medianya.

Karangan eksposisi adalah karangan yang tujuannya memberikan informasi kepada pembaca agar pembaca memperoleh informasi yang lengkap tentang suatu objek, sehingga pengetahuan pembaca bertambah. Oleh karena itu karangan eksposisi sifatnya memberi tahu, mengupas, menyarankan, atau menerangkan sesuatu.

Sesuatu yang diinformasikan dalam karangan eksposisi dapat berupa :

1. Data faktual, yaitu sesuatu kondisi yang benar-benar terjadi, ada, dan bersifat historis. 2. Sesuatu analisis atau penafsiran objektif terhadap seperangkat fakta.

3. fakta tentang seseorang yang berpegang teguh pada sesuatu pendirian. Ada beberapa langkah-langkah menulis karangan eksposisi yaitu : 1. Menentukan tema

2. Menentukan tujuan karangan 3. Mengumpulkan bahan karangan 4. Membuat kerangka tulisan 5. Mengembangkan tulisan

Kegiatan pembelajaran menulis karangan eksposisi, siswa akan mempelajari empat pola pengembangan eksposisi. Keempat pola tersebut adalah sebagai berikut :

1. Eksposisi grafik 2. Eksposisi perbandingan 3. Eksposisi proses 4. Eksposisi identifikasi

Konsep Metode Pembelajaran

Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satupun metode mengajar yang dirumuskan para ahli psikologi dan pendidikan .

Dalam kegiatan belajar guru tidak terfokus pada satu metode saja akan tetapi sebaiknya menggunakan metode yang bervariasi agar pembelajaran tidak membosankan. Metode yang bervariasi itu juga harus disesuaikan dengan situasi dan psikologi anak didik karena terlalu banyak variasi tidak akan menguntungkan kegiatan belajar mengajar bila penggunaannya tidak tepat pada setiap materi pembelajaran. Hal ini menyebabkan

4513

guru harus memilih metode yang akan digunakan sebelum ia menyampaikan materi pengajaran untuk mencapai standard kompetensi.

Pengalaman membuktikan bahwa kegagalan dalam pengajaran disebabkan kurang tepat memilih metode pengajaran. Sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar, media mempunyai beberapa fungsi, merumuskan fungsi media pengajaran menjadi enam kategori, sebagai berikut :

1. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan. Tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.

2. Penggunaan media pengajaran merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar. Ini berarti bahwa media pengajaran merupakan salah satu unsure yang harus dikembangkan oleh guru.

3. Media pengajaran dalam pengajaran, penggunaanya integral dengan tujuan dari isi pembelajaran. Fungsi ini mengandung pengertian bahwa penggunaan media harus melihat kepada tujuan dan bahan pembelajaran. 4. Penggunaan media dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan, dalam arti digunakan hanya sekedar

melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.

5.

Penggunaan media dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar pengajaran dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.

6. Pengadaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar. Dengan perkataan lain, menggunakan media, hasil belajar yang dicapai siswa tahan lama diingat siswa, sehingga mempunyai nilai tinggi.

Metode Sibernetik

Metode belajar sibernetik adalah metode yang berkembang sejalan dengan perkembangan tekhnologi dan informasi. Metode ini mementingkan system informasi dari pesan atau materi yang dipelajari. Metode pembelajaran ini jika digunakan dalam kelas maka akan menyenangkan karena suasana kelas menjadi terkendali. Masing-masing siswa akan terfokus dari pesan yang didapatnya berdasarkan pengalamannya tanpa terikat dari pembelajaran secara konvensional.

Dalam proses pembelajaran menulis eksposisi sangat dibutuhkan suatu informasi yang relevan dengan topik yang akan dikembangkan. Semua informasi dikembalikan pada siswa itu sendiri agar siswa lebih leluasa memilih dan mendapatkan sumber informasi. Dengan demikian siswa akan menghubungkan daya nalarnya dengan sumber informasi yang terdapat dalam sebuah gambar atau siswa akan menggunakan daya ingatannya dari apa yang pernah dialaminya dari suatu peristiwa yang dijadikan sebagai sumber informasi. Dalam hal ini tentu ada hubungannya dengan urat syaraf otak yang bekerja untuk mengendalikan ingatan sehingga membangkitkan kembali memori untuk berpikir dan berimajenasi.

Selain daya kerja syaraf otak untuk mengendalikan daya ingatan yang diperlukan dalam kreatifitas menulis, metode sibernetik juga memaparkan faktor lingkungan pun sangat berperan sebagai bahan sajian menulis. Jadi, pembelajaran yang menggunakan metode sibernetik adalah pembelajaran yang mengelola proses informasi, berupa inspirasi, faktor pengalaman, faktor lingkungan dan daya kerja syaraf otak berupa ingatan jangka panjang dan ingatan jangka pendek.

4514

Teori Belajar Sibernetik dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Teori belajar pemprosesan informasi ini mendeskripsikan tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan. Tahapan ini dapat dimudahkan dengan menggunakan metode pembelajaran yang mengikuti urutan tertentu sebagai peristiwa pembelajaran, yang mendeskripsikan kondisi belajar internal dan eksternal. Ada Sembilan tahapan dalam peristiwa pembelajaran yang diasumsikan sebagai cara-cara eksternal yang berpotensi mendukung proses-proses internal dalam kegiatan belajar adalah :

1. Menarik perhatian

2. Memberitahukan tujuan pembelajaran kepada siswa. 3. Merangsang ingatan pada prasyarat belajar.

4. Menyajikan bahan perancang. 5. Memberikan bimbingan belajar. 6. Mendorong unjuk kerja

7. Memberikan balikan informasi. 8. Menilai unjuk kerja.

9. Meningkatkan retensi dan alih ajar.

Keunggulan strategi pembelajaran yang berpijak pada teori pemprosesan informasi adalah cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol, penyajian pengetahuan memenuhi aspek ekonomi, kapabilitas belajar dapat disajikan lebih lengkap, adanya keterarahan seluruh kegiatan belajar pada lingkungan kehidupan yang sesungguhnya, control belajar ( content control, pace control, display control dan conscious control)

memungkinkan belajar sesuai dengan irama masing-masing (prinsip perbedaan individu terlayani), sebaliknya informative memberikan rambu-rambu yang jelas tentang tingkat unjuk kerja yang telah dicapai dibandingkan dengan unjuk kerja yang diharapkan.

Peran Guru dan Siswa dalam Metode Sibernetik

Dalam proses pembelajaran sibernetik, setiap guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa. Dalam proses pembelajaran konvensional, hal ini sering terlupakan sehingga proses pembelajaran tak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak, yang menurut Paulo Freire sebagai system penindasan.

Seorang guru harus dapat menyesuaikan media gambar dengan pengetahuan dan pengalaman siswa, sehingga media dan kemampuan saling berhubungan. Pemberian materi atau media yang begitu ilmiah mengakibatkan ketidakberhasilan dalam penulisan. Hal ini disebabkan materi yang akan diungkapkan diluar batas kemampuan siswa. Media gambar yang diberikan dapat dilakukan dengan memberikan penawaran terlebih dahulu kepada siswa hal apa yang mereka sukai. Dengan cara seperti ini guru lebih mudah mengukur pengetahuan dan pengalaman siswa sehingga media yang diberikan sangat sesuai dengan kemampuannya.

Filosofi Media Bergambar

Sutrisno Hadi mengemukakan bahwa “ilmu pengetahuan adalah kumpulan dari pengalaman-pengalaman

4515

teratur”. Ilmu pengetahuan – ilmu pengetahuan yang ada sebagian terdiri dari pengetahuan-pengetahuan yang

telah diuji kebenarannya, akan tetapi sebagian lagi masih berbentuk pengetahuan – pengetahuan yang masih disangsikan kebenarannya atau masih berbentuk hipotesis yang masih memerlukan pengujian. Sedangkan batang tubuh ilmu pengetahuan dibentuk melalui filosofi, konsep-konsep, teori-teori dan proses. Filosofi adalah studi mengenai kebijaksanaan, dasar-dasar pengetahuan, dan proses yang digunakan untuk mengembangkan dan merancang pandangan mengenai suatu kehidupan. Filosofi memberi pandangan dan menyatakan secara tidak langsung mengenai sistem kenyakinan dan kepercayaan. Setiap filosofi individu akan dikembangkan dan akan mempengaruhi prilaku dan sikap individu tersebut. Seseorang akan mengembangkan filosofinya melalui belajar dari hubungan interpersona, pengalaman pendidikan formal dan informal, keagamaan, budaya dan lingkungannya.

Penelitian filosofis (philosophycal inquiry) melibatkan penggunaan mekanisme analisis intelektual untuk memperjelas makna, membuat nilai-nilai menjadi nyata, mengidentifikasi etika, dan studi tentang hakikat pengetahuan. Peneliti filosofis mempertimbangkan ide atau isu-isu (idea or issue) dari semua perspektif dengan eksplorasi ekstensif atas literatur, menguji atau menelaah secara mendalam makna konseptual, merumuskan pertanyaan, mengajukan jawaban, dan menyarankan implikasi atas jawaban-jawaban itu.Gambar termasuk media pembelajaran berbasis visual. Telah diketahui bahwa media berbasis visual seperti gambar dapat memudahkan pemahaman terhadap suatu materi pelajaran yang rumit atau kompleks. Media gambar dapat menyuguhkan elaborasi yang menarik tentang struktur atau organisasi suatu hal, sehingga juga memperkuat ingatan. Media gambar dapat menumbuhkan minat siswa dan memperjelas hubungan antara isi materi pembelajaran dengan dunia nyata. Untuk memperoleh kemanfaatan yang sebesar-besarnya dalam penggunaan media gambar dalam pembelajaran ini, maka ia haruslah dirancang dengan sebaik-baiknya.

Jenis-jenis media gambar dalam pembelajaran dapat disajikan dalam bentuk :Poster, Kartun, Komik, Fotografi, Slide Bagan, dan Diagram.

Contoh penerapan Menulis karangan Eksposisi dengan menggunakan metode sibermatik melalui filosofi media bergambar .

Dalam hal ini kita akan memberikan contoh karangan eksposisi indentitas yang mengungkapkan makna filosofi atau informasi yang terkandung dalam sebuah media bergambar berikut :

Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi masa depan anak bangsa yang berperan sebagai elemen dasar untuk membangun manusia yang berpotensi dan berbudi pekerti yang baik.

4516

Pada gambar diatas tersimpan makna yang mendalam yang dapat kita ungkapan sebagai informasi yang mendekati kebenaran. Hal ini dapat kita analisa maksud dari tema, tulisan, bentuk gambar, warna, subjek dan sebagainya. Semua unsur-unsur tersebut berkaitan dengan gambar, kemudian hasil analisa akan dikaitkan dengan pengalaman atau pengetahuan yang telah mereka peroleh dari lapangan, buku dan media-media lainnya.

Pada gambar diatas, tema yang sesuai adalah „Semarakan Wajib Belajar 12 Tahun‟ sebagaimana telah

tertulis jelas pada gambar tersebut. Pada gambar diatas terlihat logo pendidikan Tut Wurihandayani dan bendera merah putih yang menjelaskan bahwa Ini adalah bagian dari program pemerintah Indonesia untuk mengentaskan

pendidikan minimal 12 tahun yaitu pada jenjang sekolah menengah atas. Kata „Semarakkan‟ pada tema diatas

bermakna pemerintah mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersemangat mensukseskan program tersebut bersama-sama dan tulisan tersebut berwarna merah bermakna memperjuangkan program tersebut dengan gagah berani. Terlihat juga pada gambar tersebut tiga profil kartun anak-anak dengan berpakaian sekolah berwarna putih dan merah untuk tingkat sekolah dasar (SD) kemudian putih dan biru untuk sekolah menengah pertama (SMP) dan putih dan abu-abu untuk sekolah menengah atas (SMA). Hal itu bermakna bahwa program wajib belajar 12 tahun ditujukan untuk tingkat SD, SMP dan SM

Dan hipotesis dalam konsep ini ingin mengetahui adakah pengaruh yang signifikan dalam penerapan metode sibermatik melalui filosofi media bergambar terhadap peningkatan kemampuan menulis karangan eksposisi.

3.Metode Penelitian

Metode penelitian eksperimen yaitu metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan Desain pada penelitian ini dapat disimbolkan melalui desain berikut :

O

1

X

O

2

O

3

X

O

4

Hasil pretest yang baik bila nilai kelompok eksperimen tidak berberbeda secara signifikan. Pengaruh perlakuan adalah ( O2-O1 )-(O4-O3 ). Penelitian dengan menggunakan metode eksperimen atau percobaan untuk melihat pengaruh yang terjadi ketika sebuah metode diujicobakan. Untuk mendapatkan hasil yang akurat maka penelitian menggunakan kelas kontrol dan kelas eksperimen. Kelas eksperimen adalah kelas yang mendapat perlakuan dari variable bebas yaitu metode pembelajaran sibernetik melalui filosopi media bergambar terhadap variable terikat yaitu keterampilam menulis karangan eksposisi, sedangkan kelas kontrol tidak mendapat perlakuan pembelajaran metode sibernetik.

Variabel Penelitian

Sugiono (2003:31), bahwa variabel penelitian adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.

4517