Saat ini, sistem kliring dan RTGS yang telah tersedia di Indonesia belum dapat mengakomodir kebutuhan penyelesaian transaksi yang dapat mendukung pembayaran dengan menggunakan valuta asing
(multi-cur-rency) baik untuk jangkauan domestik
maupun internasional (cross-border). Kajian kemungkinan penerapan PVP di Indonesia diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya kebutuhan PVP oleh perbankan dan menentukan alternatif mekanisme PVP yang sesuai dengan penyelenggaraan sistem pembayaran di Indonesia.
Concern utama Bank Indonesia
dalam transaksi multi-currency dan cross
border adalah terhadap potensi systemic risk yang dapat mempengaruhi stabilitas
sistem keuangan secara nasional. Pengendalian risiko dalam transaksi
multi-currency dan cross border agak
sulit dilakukan karena melibatkan mata uang asing, perbedaan hukum negara, dan perbedaan mekanisme penyelesaian akhir atas transaksi dimaksud. Kesulitan lain adalah dalam hal mengidentifikasi sumber masalah yang dapat menimbulkan risiko systemic dan upaya untuk mengurangi/mengantisipasi terhadap risiko tersebut.
Ditinjau dari sisi efisiensi, penyelesaian transaksi yang dilakukan antar penduduk domestik yang
menggunakan valuta asing dirasakan kurang efisien. Inefisiensi terjadi karena banyaknya settlement agent yang terlibat dalam transaksi tersebut dan biaya (fee) yang harus dikeluarkan untuk penerusan dan penyelesaian transaksi dimaksud sebagaimana gambar berikut:
Mekanisme tesebut juga menimbulkan ketidakpastian terutama dalam penerimaan pembayaran dari partner usaha dan bank penerima
(re-ceiver bank) di luar negeri karena
penyelesaian akhir mata uang domestik diselesaikan di dalam negeri sedangkan mata uang asing diselesaikan melalui bank koresponden di luar negeri.
Untuk memperolah gambaran yang lebih mendalam mengenai kebutuhan PVP di Indonesia, Tim Kajian PVP telah melakukan survey lapangan terhadap 57 bank devisa di Indonesia yang menjadi member SWIFT. Secara umum hasil sur-vey menunjukkan adanya kebutuhan yang cukup signifikan terhadap transaksi pembayaran yang bersifat
multi-cur-rency dan cross-border. Survey ini
tentunya akan ditindaklanjuti kedalam aspek yang lebih rinci misalkan pilihan metode settlement, mekanisme link dengan RTGS dan kesiapan infrastruktur lain yang diperlukan untuk cross boder
payment.
Mengenai pilihan mekanisme PVP, BIS-CPSS report mengajukan 4 (empat) pilihan pengembangan sistem pembayaran PVP khusus untuk transaksi
cross-border and multi-currency, yaitu:
1. Melakukan modifikasi atau membuat tersedianya sistem pembayaran dan settement untuk mata uang domestik (home-currency payment
and settlement services);
2. Memperpanjang jam operasional sistem transfer dana untuk nilai besar mata uang domestik (operating hours of
home-currency payment systems);
3. Membangun jaringan operasional
cross-border antar sistem pembayaran
(cross-border links between payment
sys-tems);
4. Membangun sistem pembayaran dan setelmen untuk pembayaran dalam berbagai mata uang (multi-currency
pay-ment and settlepay-ment services).
Namun demikian, penentuan pilihan terhadap mekanisme PVP sangat tergantung pada berbagai komponen sistem pembayaran lain seperti kesiapan dari segi kerangka hukum/kebijakan, infrastruktur, dan mekanisme settlement sehingga kajian perspektif PVP di Indo-nesia ini masih perlu dilakukan
cost-ben-efit analysis yang lebih menyeluruh agar
sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sistem pembayaran di Indonesia.
settlement) surat berharga. DVP
adalah kondisi dimana sistem pembayaran terintegrasi dengan sistem settlement surat berharga. Keberadaan sistem yang terintegrasi ini akan membawa dampak positif pada tercapainya kondisi Delivery-versus-Payment (DvP) antara transaksi SBI dengan Surat Utang Negara/Pemerintah yang ditatausahakan di Bank Indonesia di dalam sistem BI-SSSS. Pengembangan DvP ini dilakukan dalam rangka memenuhi prinsip ke 6 dari CP SIPS, serta rekomendasi nomor 8 tentang Money Settlement yang tercantum dalam
Recommendations For Central Counterparties yang dikeluarkan
oleh Committee on Payment and
Settlement Systems (CPSS) BIS
dan Technical Committee of the
International Organization of Securities Commissions (IOSCO)
-Consultative Report tahun 2004. Prinsip dan rekomendasi di muka menyatakan agar settlement sisi dana dari transaksi surat berharga sedapat mungkin dilakukan dengan menggunakan central
bank money (dana bank atau
lembaga non-bank yang disimpan di bank sentral) dengan
tujuan untuk meniadakan resiko mengingat central bank money secara fundamental bebas dari resiko.
Selanjutnya, berdasarkan prinsip-prinsip yang sama, perhatian diarahkan kepada sisi
settlement dana dari transaksi
surat berharga diluar SBI dan Surat Utang Negara/Pemerintah, yang saat ini pencapaian DvP-nya masih dilakukan dengan dengan menggunakan commercial bank
money (dana bank atau lembaga
non-bank yang disimpan di bank komersial). Upaya perlu terus digalang untuk sedapat mungkin memindahkan settlement sisi dana tersebut menjadi menggunakan central bank
money (central bank model)
dengan membangun linkage antara securities settlement
system terkait dengan Sistem
BI-RTGS.
Pengawasan sistem pembayaran ditujukan untuk meminimalkan atau mengeliminasi resiko sistemik
Pengawasan sistem pembayaran ditujukan untuk ... RENC RENCRENC RENCRENCANANANANAANAAAA PENGA PENGAPENGA
yang mungkin timbul dari penyelenggaraan sistem pembayaran. Saat ini metode pengawasan yang telah dilakukan adalah melalui pengawasan langsung maupun tidak langsung. Perumusan perencanaan pengawasan Sistem Pembayaran yang tepat bagi Indonesia didasarkan atas pemahaman konsep umum pengawasan sistem pembayaran, praktek pengawasan sistem pembayaran di negara lain, serta kondisi dan trend perkembangan sistem pembayaran di Indonesia. Perumusan ini dilakukan dengan perencanaan Jangka Pendek (1-2 tahun) yaitu merumuskan tujuan, strategi dan metode serta cara dikomunikasikan; assesment komprehensif dan multi disiplin terhadap pemenuhan CP Sistem BI-RTGS; pembuatan ketentuan sebagai dasar kewenangan pengawasan Sistem Pembayaran;
off site supervision yang efektif
dan on site yang selektif; kerjasama pengawasan setelmen surat berharga surat berharga dengan Otoritas Pasar Modal; peningkatan pengetahuan dan kemampuan SDM pengawasan Sistem Pembayaran; dan
SOSA dirancang menjadi suatu sistem keuangan yang ideal yang ...
pengembangan sistem informasi pendukung pengawasan Sistem Pembayaran. Disamping itu perencanaan yang akan dilakukan untuk Jangka Menengah-Panjang (3-5 tahun) yaitu assesment SWIPS menggunakan kartu; pembuatan FSAP IMF Sistem BI-RTGS; pembuatan ketentuan tata cara perizinan instrumen baru; pembuatan kajian ulang Tujuan Strategi dan Metode pengawasan Sistem Pembayaran; dan peningkatan pengetahuan dan kemampuan SDM pengawasan Sistem Pembayaran.
SOSA dirancang menjadi suatu sistem keuangan yang ideal yang secara fungsional diharapkan memiliki kemampuan input – front end, proses konsolidasi dan output-informasi. Untuk input-front end, SOSA dirancang sehingga dapat dipahami dan dioperasikan dengan mudah oleh para pengguna (user friendly), serta dapat ditelusuri informasi dan
PENGEMB PENGEMBPENGEMB PENGEMB
PENGEMBANGAN SISTEMANGAN SISTEMANGAN SISTEMANGAN SISTEMANGAN SISTEM O
OO O
OTTTTTOMASI SENTRALISASIOMASI SENTRALISASIOMASI SENTRALISASIOMASI SENTRALISASIOMASI SENTRALISASI (SOSA)
(SOSA)(SOSA) (SOSA) (SOSA)