• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. BAGI PERUSAHAAN (TEMPAT PPL)

1.3. KAJIAN PUSTAKA

Perusahaan yang baik apalagi membawa nama syariah, adalah lembaga yang berorientasi pada empat hal : inovasi, efisiensi, servis, dan responsibilitas.

Inovasi merupakan ruh-nya karena setiap pemain pasar terbuka harus memiliki keunggulan yang membedakan dari pemain lainnya, baik dalam bentuk produk, layanan, atau nilai tambah lainnya

Pada perusahaan berbasis syariah, budaya perusahaan yang berkembang dalam perusahaannya sudah pasti berbeda dengan perusahaan konvensional. Para karyawan wajib menjaga hubungan antar sesama,dari mulai tingkat paling atas (manajerial) sampai tingkat paling bawah (staf). Seluruh pola, perilaku, sikap, dan

٤

aturan-aturan dalam perusahaan itu harus mampu mencerminkan nilai-nilai syariah.

Permasalahan - permasalahan sistem operasional, manajemen dana, manajemen pembiayaan, dan akuntansi serta teknik perhitungan bagi hasil dalam lembaga keuangan syariah maupun non syariah dapat semakin meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mahasiswa pelaksana PPL

METODOLOGI

Adapun langkah-langkah dalam menyelesaikan PPL kami adalah:

1. Mengambil permasalahan yang sesuai dengan judul Laporan PPL di (tempat PPL),

2. Membuat gambaran umum lokasi PPL, sistem operasional dan produk-produk (Bank Umum Syari’ah atau BPRS) serta menguraikan pelaksanaan praktek yang dilakukan di lokasi PPL.

3. Menganalisa deskriptif komparatif dari sistem operasional dan produk-produk (Bank Umum Syari’ah atau BPRS) yang diterapkan di lokasi (tempat PPL).

WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN

Praktek kerja lapangan (PPL) akan dilaksanakan dalam kurun waktu dimulai Tanggal : 5Januari –5Februari 2021(sesuai dengan ijin

instansi)

Tempat : Koperasi Konsumen Al Fawaaid Indramayu Alamat : Jl. Letjend Suprapto No. 29 Indramayu Jawa Barat Sedangkan jam kerja peserta PPL disesuaikan dengan jam kerja instansi atau perusahaan

٥

BAB II

LANDASAN TEORI 1. Ekonomi Islam

Ekonomi islam adalah kumpulan dari dasar-dasar umum ekonomi yang diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah serta dari tatanan ekonomi yang dibangun diatas dasar-dasar tersebut, sesuai dengan berbagai macam bi’ah (lingkungan) dan setiap zaman1.

Dari pengertian tersebut dapat kita simpulkan bahwa ekonomi islam itu adalah sebuah kumpulan dasar dasar ekonomi yang diambil dari dasar-dasar umum yang diambil dari firman Allah dalam Al Qur’an serta dari sunnah Rasulullah, serta mengambil berbagai macam tatanan ekonomi yang diambil dari sumber tersebut yang kemudian dikumpulkan menjadi satu bersama dengan dasar-dasar umum yang diambil dari sumber tersebut.

Tidak lupa juga melihat keadaan lingkungan sekitar kita ketika melakukan kegiatan ekonomi dari satu zaman ke zaman yang lain kemudian mencatat bagaimana masyarakat melakukan kegiatan ekonomi sehingga akan ada berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonomi dari satu zaman ke zaman yang lain sehinngga masyarakat bisa melihat dan memperbaiki kesalahan yang dilakukan melalui catatan tersebut dan mampu mencari solusi agar dapat memajukan kegiatan masyarakat yang akan dilalui dimasa yang akan datang.

Pemikiran ekonomi Islam lahir dari kenyataan bahwa Islam adalah sistem yang diturunkan Allah kepada seluruh manusia untuk menata seluruh aspek kehidupannya dalam seluruh ruang dan waktu2.

Islam merupakan suatu agama, di dalam agama islam setiap aspek kegiatan telah diatur oleh Allah baik dari hal yang besar maupun yang

1 Izzan Ahmad, Referensi Ekonomi Syariah Ayat-Ayat Al Qur’an yang Berdimensi Ekonomi, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2006), hlm.32

2 Izzan Ahmad, Referensi Ekonomi Syariah Ayat-Ayat Al Qur’an yang Berdimensi Ekonomi, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2006), hlm.1

٦

terkecil atau sepele sekalipun baik dalam hal keagamaan maupun kehidupan duniawi salah satunya adalah kegiatan ekonomi, di dalam islam Allah telah mengatur apa yang diperbolehkan ataupun yang dilarang Allah dalam melakukan kegiatan ekonomi, sehingga tidak aneh bagi kita jika muncul pemikiran tersebut karena kaum muslimin pasti ada yang menginginkan adanya kegiatan ekonomi yang terbebas dari sesuatu yang dilarang oleh Allah.

Al Qur’an adalah sumber utama dan utama bagi ekonomi islam, salah satunya adalah pada surat Al Baqarah ayat: 275 “...padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba) maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba) maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal didalamnya.”3.

Dari ayat diatas dapat kita ketahui bahwa Allah telah memperbolehkan kita dalam melakukan kegiatan jual beli dan melarang kita melakukan kegiatan tersebut yang didalamnya ditambahkan unsur riba, karena riba bisa membuat kerugian bagi yang melakukannya baik ketika ia berada didunia maupun ketika ia berada diakhirat.

1. Sistem Murabahah dalam Ekonomi Islam

Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal (harga perolehan) dengan tambahan keuntungan (margin) yang disepakati oleh kedua belah pihak4. Singkatnya murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan yang disepakati oleh penjualdan pembeli. Akad ini merupakan salah satu bentuk natural

3 Izzan Ahmad, Referensi Ekonomi Syariah Ayat-Ayat Al Qur’an yang Berdimensi Ekonomi, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2006), hlm.32

4 Burhanuddin, Koperasi Syariah dan Pengaturannya di Indonesia, (Malang: UIN-Maliki Press,2013), hlm.227

٧

certainty contracts karena dalam murabahahditentukan berapa keuntungan yang diperoleh.5

Jual beli yang harga jualnya itu lebih tinggi dari pada harga asal barang tersebut sehingga penjual barang tersebut dapat memperoleh keuntungan dari hasil penjualan barang tersebut, dan harga jual beli tersebut telah disepakati ketika akad jual beli tersebut berlangsung.

Para ulama mazhab berbeda pendapat tentang biaya apa saja yang dapat dibebankan kepada harga jual barang tersebut. Misalnya, ulama mazhab Maliki membolehkan biaya-biaya yang langsung terkait dengan transaksi jual beli itu dan biaya-biaya yang tidak langsung terkait dengan transaksi tersebut, namun memberikan nilai tambah pada barang itu.6

Ulama mazhab Safi’i membolehkan membebankan biaya-biaya yang secara umum timbul dalam suatu transaksi jual beli, kecuali biaya tenaga kerjanya sendiri karena komponen ini termasuk dalam keuntungannya. Begitu pula biaya-biaya yang tidak menambah nilai barang tidak boleh dimasukkan sebagai komponen biaya.7

Ulama mazhab Hanafi membolehkan membebanka biaya-biaya yang secara umum timbul dalam satu transaksi jual beli, namun mereka tidak membolehkan biaya-biaya yang memang semestinya dikerjakan oleh si penjual.8

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa para mazhab diatas membolehkan membebankan biaya langsung yang harus dibayarkan kepada pihak ketiga dan para mazhab tersebut bersepakat tidak membolehkan pembebanan biaya langsung yang berkaitan dengan pekerjaan yang memang semestinya dilakukan penjual maupun biaya langsung yang berkaitan dengan hal-hal yang berguna. Al-Qur’an tidak pernah secara langsung membicarakan murabahah

5 Adiwarman karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), h. 11

6 Adiwarman karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), h.114

7 Adiwarman karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), h.115

8 Adiwarman karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), h.115

٨

meski di sana ada sejumlah acuan tentang jual beli, laba, rugi, dan perdagangan.

Demikian pula, tampaknya tidak ada hadis yang memiliki rujukan langsung kepada murabahah. Para ulama generasi awal, semisal Malik dan Syafi’i, yang secara khusus menyatakan bahwa jual beli murabahah adalah halal, tidak memperkuat pendapat mereka dengan satu hadis pun. Al-kaff (tt), seorang kritikus murabahah kontemporer,menyimpulkan bahwa murabahah adalah ”salah satu jenis jual beli yang tidak dikenal pada zaman nabi atau para sahabatnya.”

Menurutnya, para tokoh ulama mulai menyatakan pendapat mereka tentang murabahah pada

seperempat pertama abad kedua hijriah, atau bahkan lebih akhir lagi.9

Syafi’i, tanpa menyadarkan pendapatnya pada suatu teks syariah, berkata,

“ jika seseorang menunjukkan suatu barang kepada seseorang dan berkata,

‘belikan barang (seperti) ini untukku dan aku akan, membermu keuntungan sekian.”lalu orang itupun membelinya, tentang

jual beli ini adalah sah.10

Faqih mazhab Hanafi, membenarkan keabsahan murabahah berdasarkan syarat- syarat yang penting bagi keabsahan suatu jual beli ada dalam murabahah, dan juga karena orang memerlukannya. Faqih dari mazhab Syafi’i cukup menyatakan, “murabahah adalah boleh tanpa ada penolakan sedikitpun. “11

Dalam melakukan Bay’ Al-Murabahah terdapat beberapa rukun dan syarat yang harus dilakukan:

 Penjual dan pembeli : keduanya harus mengerti hukum dan melakukan kegiatan jual beli tersebut dengan sukarela dan tidak di bawah tekanan

 Objek yang di jual belikan : barang yang di perjual belikan tidak termasuk barang yang dilarang, bermanfaat serta tidak menyembunyikan adanya cacat yang terdapat pada barang

9 Veitzal Riva’i, Islamic Financial Managemen, Opcit , h. 145

10 Veitzal Riva’i, Islamic Financial Managemen, Opcit , h. 145

11 Veitzal Riva’i, Islamic Financial Managemen, Opcit , h. 145

٩

 Sighat akad : harus jelas secara spesifik (siapa) para pihak yang berakad, antara ijab qabul harus selaras dan transparan baik dalam spesifikasi barang (penjelasan fisik barang) maupun harga yang disepakati (memberitahu biaya modal kepada pembeli)12

Dari syarat dan rukun di atas dapat diketahui bahwa jual beli murabahah merupakan jual beli yang dilakukan dengan sukarela serta dalam melakukan akad penjual harus memberitahu pembeli tentang harga awal barang yang akan dibeli dan memberitahu berapa jumlah keuntungan yang ia dapatkan kepada pembeli, pembeli pun harus menyelesaikan pembayaran sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.

Persyaratan Spesifik Dalam Murabahah

Ada beberapa persyaratan spesifik yang berkenaan dengan syarat sahnya transaksi menggunakan murabahah, terkait dengan peraturan murabahah dari segi barang yang dijual, harga orisinil yang penjual bayarkan, biaya yang terkait untuk perhitungan total biaya yang akan menjadi dasar dari Murabahah, selain itu margin/ keuntungan yang ditambahkan pada biaya yang telah ditetapkan.

Berdasarkan ulasan diatas, persyaratan dapat dilihat sebagai berikut:13 a. Barang yang harus diperdagangkan riil, tetapi tidak harus berwujud.

b. Valuta atau unit moneter apapun terkena hukum Ba’i Ash-Sharf tidak dapat dijual melalui murabahah, karena dalam pertukaran valuta haruslah secara bersamaan.

c. Hukum Murabahah mengenai Dokumen kredit yang mewakili utang seseorang tidak terkena hukum tersebut. Pertama karena utang tidak dapat dijual kecuali bila terkena hukum Hiwalah, dan yang kedua karena tambahan keuntungan sedikit pun yang diambil akan menjadi riba.

d. Penjual harus bersikap jujur mengenai penyertaan harga orisinil penjualan barang dan harus jujur atas perkataannya.

12 Burhanuddin, Koperasi Syariah dan Pengaturannya di Indonesia, (Malang: UIN-Maliki Press,2013), hlm.227-228

13 Muhammad Ayub, Understanding Islamic Finance (A-Z Keuangan Syariah), Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009, h. 340-342

١٠

e. Didalam murabahah penjual haruslah prospektif dituntut mengungkapkan semua yang menyangkut aspek yang terkait dengan komoditas, kecacatan, atau tambahan manfaat apapun serta mode pembayaran pada penjual/pemasok orisinil.

f. Harga harus disepakati antara pembeli dengan penjual atas margin/

keuntungan secara bersama.

g. Harga Majhul (tidak dapat dispesifikasikan) tidak dapat menjadi basis bagi murabahah, itu dikarenakan melibatkan kemiripan dengan ketidakpastian itu berakibat penjualan murabahah tidak sah.

h. Apabila penjual dalam pernyataannya itu tidak benar atas harga orisinil/biaya barang yang dijual, maka pembeli bisa membatalkannya, kecuali penjual menyatakan yang sebenarnya terkait adanya perbedaan antara biaya riil dan biaya yang dinyatakannya. Dalam kasus tersebut bersifat mengikat, tidak dapat diputuskan secara sembarangan harus keduanya terlibat memutuskan bagaimana baiknya agar saling keterbukaan dalam jual beli.

i. Pada ketentuan Murabahah pembeli memiliki hak dam melakukan pemilihan, bahkan jika persyaratan ini tidak ada atau ketentuan dalam kontrak (akad). Maka pembeli bisa menolak karena dalam ketentuan murabahah sudah diatur mengenai syarat yang diberlakukan mengenai kejujuran tanpa adanya penipuan didalamnya.

Dari penjelasan diatas pada dasarnya bahwa Murabahah adalah jenis penjualan yang sah, akan tetapi memiliki batasan tersendiri. Pada abad pertengahan bukanlah mode pembiayaan, melainkan jenis perniagaan. Sedangkan para fuqaha kontemporer menerimanya sebagai mode bisnis dan menjadi alternatif pembayaran dengan batasan tertentu. Hal ini terkait akan tingkat transparansi dan keadilan yang telah diperintahkan Islam dalam aktivitas komersial. Pada intinya bahwa penjualan aktual harus terjadi pada saat yang tepat ketika bank telah memperoleh kekuasaan dan kepemilikan atas barang melalui pertukaran, penawaran, dan penerimaan.14 Janji sekedarnya tidak dianggap sebagai transaksi

14 Muhammad Ayub, Understanding Islamic Finance (A-Z Keuangan Syariah), Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009, h. 353

١١

atas jual-beli, akan tetapi perjanjian dalam jual beli dilakukan secara transparansi tanpa adanya penipuan didalamnya.

Karakteristik Murabahah

Didalam kitab Al-umm karya Imam Syafi‟i, beliau menguraikan karakteristik murabahah, diantaranya: 15

1. Boleh bagi pemesan/nasabah menentukan spesifikasi pesanannya.

2. Terjadi kesepakatan dalam penentuan keuntungan (margin) pada saat perjanjian.

3. Penentuan besar kecilnya keuntungan (margin) berdasarkan kelihaian yang diberi pesanan dalam menyediakan pesanan sesuai spesifikasi yang diminta, kualitas pesanan dan kemampuannya memperoleh dengan harga yang relatif murah.

4. Sistem pembayaran pemesan (cash atau cicil) jadi patokan dalam penentuan keuntungan.

Menurut M. Syafi‟i Antonio karakteristik Murababah secara umum adalah:16 1. Bank harus memberitahukan tentang biaya atau modal yang dikeluarkan

(capital outlay) atas barang tersebut kepada nasabah.

2. Akad pertama harus sah.

3. Akad tersebut harus bebas dari riba.

4. Bank harus mengungkapkan dengan jelas dan rinci tentang ingkar janji/wanprestasi yang terjadi setelah pembelian. Bank harus mengungkapkan tentang syarat yang diminta dari harga pembelian kepada nasabah, misalnya pembelian berdasarkan angsuran.

Dari pernyataan diatas mengenai karakteristik murabahah menurut kedua para ahli yaitu Imam Syafi‟i dan M. Syafi‟i Antonio bahwa dapat disimpulkan karakter dari murabahah tersebut tidak memberatan salah satu pihak antara

15Muhammad Syafi‟i Antonio, Bank Syariah...,h. 102

16Muhammad Syafi‟i Antonio, Bank Syariah...,h. 102

١٢

pembeli dan penjual, margin yang disepakati tidak memberatkan pembeli atau merugikan penjual, dan tidak adanya wanprestasi baik dari penjual maupun pembeli. Selain itu, baik penjual maupun pembeli tidak ada yang ditutup-tutupi baik dari bukti pembelian atau yang berkaitan dengan pembelian barang yang disepakati. Jika ada kejanggalan dalam akad yang disepakati, maka salah satu pihak bisa mengutarakan yang menjadi ganjalan tersebut, apabila sudah tidak ada maka akad bisa disahkan melalui perjanjian yang sudah dibuat sebelumnya.

Tujuan Murabahah

Murabahah tidak dapat digunakan sebagai cara pembiayaan (mode of financing) selain untuk nasabah memperoleh dana guna membeli barang/komoditas yang diperlukannya. Demikian ditegaskan oleh Maulana Taqi Usmani. Apabila untuk tujuan lain selain untuk membeli barang/komoditas, Murabahah tidak boleh digunakan.17 Misalnya dalam Murabahah digunakan dalam pembelian barang/komoditas malahan digunakan untuk pembayaran listrik, pembayaran SPP sekolah anak, atau digunakan pembayaran yang lain yang tidak bersifat barang/komoditas yang riil, padahal Murabahah digunakan untuk keperluan pembelian barang/komoditas yang benarbenar nyata bersifat konsumtif maupun produktif.

Manfaat Murabahah

“Bai’ al-Murabahah memberi banyak manfaat kepada bank syariah. Salah satunya adalah keuntungan yang muncul dari selisih harga beli dari penjual dengan harga jual kepada nasabah. Selain itu, sistem bai‟al-murabahah juga sangat sederhana. Hal tersebut memudahkan penanganan administrasinya di bank syariah.” (Syafi‟i Antonio, 2001).18

17 Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan Syariah (Produk-Produk Dan Aspek-Aspek Hukumnya), Jakarta: Kencana, h. 205

18Zulia Hanum, “Analisis Penerapan Transaksi Murabahah pada PT. Bank Pembiayaan Rakyat (BPR) Syariah Gebu Prima Medan”, Jurnal Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, ISSN 1693-7600,Vol 14 No. 01 Juli 2014, t.d. 29 Wangsawidjaja Z, Pembiayaan Bank Syariah, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, h. 205-206

١٣

Keuntungan yang didapatkan bagi penjual merupakan hasil selisih pokok yang telah disepakati dan bagi pembeli puas terhadap barang yang telah didapatkan dari pembelian menggunakan ba’i al-Murabahah. Penanganan dan persyaratannya juga mudah dan juga memberikan kenyamanan tersendiri untuk nasabah dalam menggunakan ba’i alMurabahah.

Analisis Risiko Akad Murabahah

Risiko pada akad Murabahah yang disebabkan oleh nasabah Wanprestasi atau default, dan resiko pasar yang disebabkan oleh penggerakan nilai tukar jika pembiayaan atas dasar akad murabahah diberikan dalam valuta asing.19 Ketika nasabah sudah berani mengingkari perjanjian yang telah dibuat dan disetujui sebelumnya, maka risiko terjadinya permainan akad yang merugikan pihak terkait didalamnya. Pada akhirnya keduanya terlibat perpecahan dan melakukan pembelaan dalam risiko wanprestasi tersebut. Padahal nasabah jelas melakukan kesalahan, sedangkan bank merasa dibohongi atas ulah nasabah yang melakukan wanprestasi. Maka yang seharusnya dilakukan antara nasabah dengan bank terkait risiko yang telah terjadi, maka direalisasikan dengan cara memberikan penjelasan nasabah terhadap bank mengapa bisa terjadi wanprestasi, kemudian jika sudah ada penjelasan bank mengambil tindakan tegas terkait risiko wanprestasi tersebut.

Pembiayaan terkait risiko penyebab terjadinya diberikan pembiayaan berupa valuta asing itu akan menyulitkan, dan tidak bisa langsung digunakannya pembiayaan tersebut untuk kebutuhan yang mendesak, baik kebutuhan yang bersifat produktif maupun konsumtif. Dalam memudahkan nasabah untuk memenuhi kebutuhan terkait diberikannya pembiayaan yang berupa valuta asing, itu akan menurunkan nilai tukar rupiah. Sedangkan risiko yang terjadi jika semakin kuat nilai tukar terhadap valuta asing. Jika semakin banyak pembiayaan yang diberikan itu berupa valuta asing maka risiko yang terjadi adalah tingkat nilai tukar rupiah terhadap valuta asing semakin lama semakin menurun.

Pengendalian yang dilakukan yaitu dengan cara membatasi pemberian

19 Wangsawidjaja Z, Pembiayaan Bank Syariah, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, h.

205-206

١٤

pembiayaan dengan valuta asing, dan memberikan pembiayaan dengan uang rupiah, itu agar memudahkan nasabah dalam memenuhi kebutuhan, tidak perlu menukarkan kembali dan langsung bisa digunakan untuk kebutuhan. Namun ada beberapa risiko yang harus diantisipasi antara lain:20

1. Default atau kelalaian; nasabah sengaja tidak membayar angsuran.

2. Fluktuasi harga komparatif, ini terjadi bila harga suatu barang dipasar naik setelah bank membelikannya untuk nasabah. Bank tidak bisa mengubah harga beli tersebut.

3. Penolakan nasabah; barang yang dikirim bisa saja ditolak oleh nasabah karena berbagai sebab.

4. Dijual; karena bai‟ al-murabahah bersifat jual beli dengan utang, maka ketika kontrak ditandatangani barang tersebut menjadi milik nasabah.

Nasabah bebas melakukan apapun terhadap asset miliknya tersebut, termasuk untuk menjualnya.

Berdasarkan beberapa resiko diatas bahwa mengatasi dengan cara memahami persoalan yang dihadapi oleh bank atau nasabah. Itu akan meminimalisir terjadinya permasalahan dalam jual beli, misalnya harga barang yang diminta tidak sesuai dengan harga pasar padahal harganya sudah naik, ingin menaikkan harga tetapi tidak sesuai dengan kontrak yang disetujui. Oleh karena itu dalam jual beli harus memperhatikan harga dan barang yang ingin dibeli atau yang ingin dijual agar penjual dengan pembeli sama-sama merasa untung, sehingga resiko diatas dapat dihindari.

20 Nur Rianto Al Arif, Dasar-Dasar Pemasaran Bank Syariah, Jakarta: Alfabeta, 2010, h. 45

١٥

BAB III

GAMBARAN UMUM TEMPAT PPL 3.1.Sejarah Singkat Koperasi Konsumen Al-Fawaaid Indramayu.

Berawal kepedulian kepada kaum muslimin dengan semaraknya produk-produk ribawi di masyarakat Indramayu sehingga timbul keinginan untuk memberikan solusi kepada kaum muslimin dari produk-produk ribawi tersebut, maka didirikanlah Koperasi yang berbasis Syariah di Indramayu dengan nama Koperasi Konsumen Al-Fawaaid Indramayu.

Koperasi Konsumen Alfawaaid Indramayu adalah Koperasi yang didirikan pada tanggal 25 Oktober 2017 dengan Akta Notaris Citra Yoanita, SH., M.Kn. dengan Akta Pendirian No. 15.

Berdasarkan Keputusan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Nomor : 007457/BH/M.KUKM.2/II/2018, Tanggal 21 Februari 2018.

Koperasi Konsumen Alfawaaid Indramayu menyediakan produk produk non riba sebagai bagian dari ikhtiar untuk memberikan Solusi kepada Kaum Muslimin supaya terhindar dari produk – produk ribawi. Diantara produk – produk yang disediakan oleh Koperasi Konsumen Alfawaaid adalah :

1. Qordul Hasan

Dikemas dalam produk Koperasi Konsumen Alfawaaid yang diberi nama

“Pinjaman Tanpa Riba” (PINTAR). Pinjaman ini digulirkan dengan sumber dana non produktif seperti : Dana Hibah, Infaq/Shodaqoh, dan sebagian keuntungan Koperasi yang diperuntukan produk ini.

2. Taqshiit Murabahah/Musyawwamah

Adalah produk Koperasi Konsumen Alfawaaid berupa Jual Beli dengan cara pembayaran di angsur.

Produk ini adalah produk andalan Koperasi Konsumen Alfawaaid Indramayu dimana dalam prakteknya produk ini banyak di minati masyarakat karena konsumen merasakan begitu banyak mendapatkan keuntungan bagi konsumen dibandingkan produk pembiayaan Konvensional. Diantara keuntungan yang didapat konsumen adalah : 1. Tidak ada bunga

Dengan metoda seperti itu banyak keuntungan yang didapat oleh konsumen, dan hargapun bisa ditekan sehingga harga jual angsurnya menjadi murah. Adapun keuntungan yang didapat Koperasi Konsumen Alfawaaid Indramayu berupa faedah dari selisih jual beli.

3. Mudharabah/Syirkah Mudharabah

Untuk memodali Produk Taqshiit Murabahah/Musyawwamah, maka diperlukan modal yang besar bagi Koperasi Konsumen Alfawaaid Indramayu. Modal itu didapat dari Modal Pokok anggota Koperasi, Modal Wajib Anggota dan Modal Shohibul Maal dengan Metoda Mudharabah/Syirkah Mudharabah (Bagi hasil). Ternyata metoda ini menarik dan banyak yang berminat untuk memodali koperasi dimana Koperasi mematok bagi hasil dengan perbandingan nisbah mudharabah sebesar 60%:40% (60% Mudhorib (Koperasi) berbanding 40% (Shohibul Maal)).

4. Retail

Pada produk retail Koperasi konsumen alfawaaid Indramayu juga menggunakan metoda Syirkah Mudharabah dengan para shohibul maal, dan produk ini berbentuk sebuah mini market yang diberi nama

“ALFAWAAID MART” dan beralamat di Jl. Letjend Suprapto No. 29 Indramayu – Jawa Barat.

Gb. 1.8. RETAIL KOPERASI KONSUMEN ALFAWAAID INDRAMAYU

Gb. 1.8. RETAIL KOPERASI KONSUMEN ALFAWAAID INDRAMAYU

Dokumen terkait