KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori
1. Pengertian Pemasaran
Dalam suatu perusahaan, kegiatan pemasar merupakan salah satu kegiatan pokok. Dimana melalui pemasaran perusahaan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya, baik untuk berkembang maupun untuk mendapatkan laba. Seperti yang dikemukakan Wiliam J. Stanton (dalam Dharmmesta, 2000:3) bahwa: “Pemasar adalah
suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan baik pada pembeli yang ada maupun pembeli yang potensial”.
Menurut Kotler (2005) pemasaran adalah proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
2. Pengertian Manajemen Pemasaran
Manajemen Pemasaran atau Marketing Management
menurut kotler (2000:9) adalah “is the process of planning and executing the conception, pricing, promotion, and distribution of
ideals, goods, services to create exechange that satisfy individual and organizational goals”. Manajemen pemasaran adalah proses
pelaksanaan dan perencanaan pemikiran, penetapan harga, promosi serta penyaluran gagasan, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memenuhi sasaran-sasaran individu dan organisasi.
3. Pengertian Loyalitas
Menurut Kotler dan Keller (2009:139) loyalitas adalah komitmen yang dipegang secara mendalam untuk membeli atau mendukung kembali produk atau jasa yang disukai di masa depan meskipun pengaruh situasi dan usaha pemasaran berpotensi menyebabkan pelanggan beralih.
Menurut Aaker (1997) ada lima tingkatan loyalitas yaitu sebagai berikut:
a. Pembeli yang berpindah-pindah (Switcher)
Pelanggan yang berada pada tingkat loyalitas ini dikatakan sebagai pelanggan yang berada pada tingkat paling dasar. Semakin tinggi frekuensi suatu merek ke merek-merek yang lain mengidikasikan mereka sebagai pembeli yang sama sekali tidak tertarik pada merek tertentu. Pada tingkatan ini merek apapun mereka anggap memadai serta memegang peranan yang sangat kecil dalam keputusan pembelian. Ciri yang paling nampak dari
jenis pelanggan ini yaitu mereka membeli suatu produk karena haarganya murah.
b. Pembeli yang bersifat kebiasaan (Habitual buyer)
Pembeli yang berada dalam tingkat loyalitas ini dapat dikategorikan sebagai pembeli yang puas dengan merek produk yang dikonsumsinya atau setidaknya mereka tidak mengalami kepuasan dalam mengkonsumsi produk tersebut. Pada tingkatan ini pada dasarnya tidak didapati alasan yang cukup untuk menciptakan keinginan untuk membeli merek produk lain atau berpindah merek terutama jika peralihan tersebut memerlukan usaha, biaya , maupun berbagai bentuk pengorbanan lain. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembeli ini dapat membeli suatu merek didasarkan atas kebiasaan mereka selama ini.
c. Pembeli yang puas dengan biaya peralihan (Satisfied buyer) Pada tingkat ini pembeli masuk dalam kategori puas bila mereka mengkonsumsi merek tersebut, meskipun demikian mungkin saja mereka memindahkan pembeliannya ke merek lain dengan menanggung biaya peralihan (switching cost) yang terkait dengan waktu, uang, atau resiko kinerja yang melekat dengan tindakan mereka beralih merek. Untuk dapat menarik minat para pembeli yang masuk dalam tingkat loyalitas ini maka para pesaing perlu mengatasi biaya peralihan yang harus ditanggung oleh pembeli yang masuk dalam kategori ini dengan menawarkan
berbagai manfaat yang cukup besar sebagai kompensasinya (switching cost loyal).
d. Pembeli yang menyukai merek (likes the brand)
Pembeli yang masuk dalam kategori loyalitas ini merupakan pembeli yang sungguh-sungguh menyukai merek tersebut. Pada tingkatan ini dijumpai perasaan emosional yang terkait pada merek. Rasa suka pembeli bias saja didasari oleh asosiasi yang terkait dengan pribadi maupun oleh kerabatnya ataupun disebabkan oleh kesan kualitas yang tinggi. Meskipun demikian seringkali rasa suka ini merupakan suatu perasaan yang sulit diidentifikasi dan ditelusuri dengan cermat untuk dikategorikan ke dalam sesuatu yang spesifik.
e. Pembeli yang komit (commited buyer)
Pada tahap ini pembeli merupakan pelanggan yang setia. Mereka memiliki suatu kebanggaan sebagai pengguna suatu merek dan bahkan merek tersebut menjadi sangat penting bagi mereka dipandang dari segi fungsinya maupun sebagai suatu ekspresi mengenai siapa sebenarnya mereka. Pada tingkatan ini, salah satu aktualisasi loyalitas pembeli ditunjukkan oleh tindakan merekomendasikan dan mempromosikan merek tersebut kepada orang lain.
4. Pengertian Brand Switching
Menurut Peter dan Olson (2002) dalam Rohman (2016), perpindahan merek (brand switching) adalah pola pembelian yang dikarekteristikan dengan perubahan atau pergantian dari satu merek ke merek lain. Sementara menurut David, et.al (1996) perilaku perpindahan merek dapat disebabkan oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam individu yang bersangkutan, misalnya adanya keinginan untuk mencoba merek baru. Sedangkan faktor ekstrinsik adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu, misalnya adanya diskon harga atau harga yang lebih murah.
Olson (2014;522) perpindahan merek (brand switching) adalah pembelian yang dikarakteristikan dengan perubahan atau pergantian dari satu merek ke merek yang lain. Sedangkan menurut Hawkins dan Mothersbaugh (2016;637), brand switching adalah hasil dari ketidakpuasan konsumen akan suatu produk yang mengakibatkan konsumen melakukan penghentian pembelian produk pada suatu merek dan menggantinya dengan merek lain. Berikut ini adalah indikator dari brand switching.
a. Perilaku konsumen
Perilaku konsumen pada hakikatnya untuk
mereka lakukan”. Menurut Kotler dan Keller (2008:214):
Perilaku konsumen adalah studi bagaimana individu, kelompok dan organisasi memilih, membeli, menggunakan dan menempatkan barang, jasa, ide atau pengalaman untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka.
Definisi perilaku konsumen menurut Schiffman dan Kanuk (2008:6): Perilaku konsumen menggambarkan cara individu mengambil keputusan untuk memanfaatkan sumber daya mereka yang tersedia (waktu, uang, usaha) guna membeli barang-barang yang berhubungan dengan konsumsi.
Dari dua pengertian tentang perilaku konsumen di atas dapat diperoleh dua hal yang penting, yaitu: (1) sebagai kegiatan fisik dan (2) sebagai proses pengambilan keputusan. Berdasarkan beberapa definisi yang telah disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen adalah semua kegiatan, tindakan, serta proses psikologis yang mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah melakukan hal-hal di atas atau kegiatan mengevaluasi. Faktor yang mempengaruhi Perilaku Konsumen. Kotler dan Keller (2009: 166-175) mengatakan bahwa, perilaku pembelian
konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis.
Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah sebagai berikut:
a) Faktor Budaya
Budaya, sub-budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi perilaku pembelian. Budaya (culture) adalah determinan dasar keinginan dan perilaku seseorang. Setiap budaya terdiri dari beberapa subbudaya (subculture) yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk anggota mereka. Subbudaya meliputi kebangsaan, agama, kelompok, ras, dan wilayah geografis.
b) Faktor Sosial
Selain faktor budaya, faktor sosial seperti kelompok referensi, keluarga, serta peran sosial dan status mempengaruhi perilaku pembelian.
1) Kelompok referensi dapat memperkenalkan perilaku dan gaya hidup baru kepada seseorang, mereka mempengaruhi sikap dak konsep diri, dan mereka menciptakan tekanan kenyamanan yang dapat mempengaruhi pilihan produk dan merek.
2) Keluarga adalah organisasi pemmbelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat, dan anggota keluarga merepresentasikan kelompok referensi utama yang paling berpengaruh. Keluarga orientasi terdiri dari orang tua dan saudara kandung. Dari orang tua, seseorang mendapatkan orientasi terhadap agama, politik, dan ekonomi serta rasa ambisi pribadi, harga diri, dan cinta.
3) Peran dan Status
Kedudukan seseorang dapat ditentukan berdasarkan posisi seseorang dalam tiap kelompok dimana ia menjadi anggota berdasarkan peran dan status. Peran terdiri dari kegiatan yang diharapkan dapat dilakukan seseorang.
c) Faktor Pribadi
Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi. Faktor pribadi meliputi usia dan tahap dalam siklus hidup pembeli, pekerjaan dan keadaan ekonomi, kepribadian dan konsep diri, serta gaya hidup dan nilai.
B. Penelitian Sebelumnya
1. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Utami pada tahun 2017 yang berjudul Pengaruh Persepsi Konsumen Pada Kualitas Produk Terhadap Kecenderungan Berpindah Merek (Brand Switching) Bagi Pengguna Iphone (Studi pada Mahasiswa Sanata Dharma Kampus I Mrican Yogyakarta). Hasil penelitian berdasarkan uji validitas menggunakan teknik Corelasi Product Moment dan Uji Reliabilitas menggunakan rumus Cronbach Alpha. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah regresi sederhana. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa persepsi konsumen pada kualitas produk berpengaruh negatif terhadap kecenderungan berpindah merek.
C. Kerangka Konseptual Penelitian
Konsumen
Laki-laki Perempuan
Gambar II.I Kerangka Konseptual
Kerangka Konseptual Kecenderungan Berpindah Merek (Brand Switching) Smartphone Pada Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Kampus II Mrican Yogyakarta.
Dizaman modern sekarang ini sudah banyak konsumen yang menggunakan smartphone untuk kegiatan sehari-hari, dalam menggunakan smarphone kerap kali konsumen mempunyai keinginan untuk berganti merek dari merek satu kemerek lainnya. Dalam memilih smartphone wanita lebih sulit menetukan pilihan sedangkan pria memiliki pemikiran yang lebih sederhana dalam memilih sebuah
Smartphone Advan Pilihan Merek Xiaomi Asus Kecenderungan berpindah merek Samsung Oppo Lainnya
produk, tidak terlalu memusingkan atribut produk. Banyak konsumen baik wanita maupun pria seringkali merasa bosan dengan smartphone yang mereka miliki saat ini, hal ini disebabkan karena ketidakpuasan konsumen terhadap smartphonnya. Di indonesia saat ini ada beberapa merek smartphone yang unggul dan populer dikalangan masyarakat seperti Oppo, Vivo, Xiaomi, Samsung, dan Asus. Dengan fitur dan kecanggihan yang ditawarkan oleh tiap-tiap merek smartphone tersebut membuat konsumen memiliki kecendrungan untuk berpindah merek.
D. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan (Sugiono, 2013:134).
Dalam pemilihan produk terdapat perbedaan dan persamaan sudut pandang antara wanita dan pria. Seperti yang kita ketahui wanita lebih sulit menentukan pilihan jika diberikan dua atau lebih alternatif produk walaupun sekedar warna kemasan, sedangkan pria memiliki pemikiran yang lebih sederhana dalam memilih sebuah produk, tidak terlalu memusingkan atribut produk seperti warna kemasan atau bahkan harganya. Sedangkan persamaan wanita dan pria ketika memilih sebuah produk adalah mencari merek yang sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan dan rasa senang terhadap produk tersebut.
Ha1 : Ada perbedaan kecenderungan perpindahan merek smartphone di kalangan mahasiswa berdasarkan jenis kelamin.
Pada zaman modern ini, dunia bisnis menghadapi era baru dalam persaingan bisnis. Dimana jumlah merek dan produk yang bersaing dalam pasar menjadi sangat banyak, sehingga konsumen memiliki beragam pilihan produk yang dapat memenuhi kebutuhannya. Dan akhirnya menyebabkan keputusan konsumen untuk berpindah merek satu ke merek lainnya dalam pengambilan keputusan pembelian seseorang. Pengambilan keputusan pembelian dipengaruhi oleh beberapa faktor yang bersifat individu, seperti kualitas produk menjadi pertimbangan seseorang pembeli. Biasanya hal ini dinilai dari kualitas produk yang mereka gunakan, jika produk tersebut tidak sesuai dengan harapan konsumen maka biasanya mereka akan melakukan pergantian merek. Dan iklan produk seringkali muncul sehingga menarik konsumen untuk melakukan pembelian pada produk dengan merek tertentu.
Semakin banyak produk smartphone yang ditawarkan oleh perusahaan dan pengembangan produk yang semakin cepat. Konsumen memiliki beragam pilihan dan alternatif produk yang dapat memenuhi kebutuhannya. Adanya berbagai macam produk membuat konsumen satu kemerek lainnya karena kualitas produk
Ha2 : Ada perbedaan kecenderungan perpindahan merek smartphone di kalangan mahasiswa berdasarkan merek smartphone.
18