KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS A. Kajian Pustaka
1. Model Pembelajaran
a. Pengertian Model Pembelajaran
Model secara harfiah berarti “bentuk”, dalam pemakaian secara umum model merupakan interpretasi terhadap hasil observasi dan pengukurannya yang
diperoleh dari beberapa sistem.
Sedangkan menurut Agus Suprijono (2011: 45), model diartikan sebagai
bentuk representasi akurat sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang
atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu.Pengertian
menurut Syaiful Sagala (2005: 175) sebagaimana dikutip oleh Indrawati dan
Wanwan Setiawan (2009: 27), mengemukakan bahwa model pembelajaran adalah
kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar peserta didik untuk mencapai tujuan
belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan
guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Dari
beberapa pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman
dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.
b. Ciri-ciri Model Pembelajaran
Model pembelajaran memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 9
a. Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu. Misalnya model berpikir induktif dirancang untuk mengembangkan proses berpikir induktif.
b. Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar dikelas. Misalnya model Synectic yang tujuannya untuk memperbaiki kreativitas dalam pelajaran mengarang.
c. Memiliki bagian-bagian model pelaksanaan, yaitu (1) urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax), (2) adanya prinsip-prinsip reaksi, (3) system sosial, dan (4) system pendukung.
d. Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran. Dampak tersebut meliputi : dampak penggiring, yaitu hasil belajar jangka panjang. e. Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedoman
model pembelajaran yang dipilihnya. c. Karakteristik Model Pembelajaran
Ismail yang dikutip oleh Rachmadi Widdiharto (2004: 3) menyebutkan
bahwa istilah model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak
dipunyai oleh strategi atau metode tertentu yaitu:
1) Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya
2) Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai
3) Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut berhasil
4) Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran tercapai
Rangke L Tobing, dkk sebagimana dikutip oleh Indrawati dan Wanwan
Setiawan (2009: 27) mengidentifikasi lima karakteristik suatu model
1) Prosedur ilmiah Suatu model pembelajaran harus memiliki suatu prosedur
yang sistematik untuk mengubah tingkah laku peserta didik atau memiliki
sintaks yang merupakan urutan langkah-langkah pembelajaran yang
dilakukan guru-peserta didik.
2) Spesifikasi hasil belajar yang direncanakan Suatu model pembelajaran
menyebutkan hasil-hasil belajar secara rinci mengenai penampilan peserta
didik.
3) Spesefikasi lingkungan belajar Suatu model pembelajaran menyebutkan
secara tegas kondisi lingkungan di mana respon peserta didik diobservasi.
4) Kriteria penampilan Suatu model pembelajaran merujuk pada kriteria
penerimaan penampilan yang diharapkan dari para peserta didik. Model
pembelajaran merencanakan tingkah laku yang diharapkan dari peserta
didik yang dapat didemonstrasikannya setelah langkahlangkah mengajar
tertentu.
5) Cara-cara pelaksanaannya Semua model pembelajaran menyebutkan
mekanisme yang menunjukkan reaksi peserta didik dan interaksinya
dengan lingkungan.
Guru sebagai perancang pembelajaran harus mampu mendisain seperti apa
pembelajaran yang akan dilaksanakan. Model pembelajaran merupakan
disain pembelajaran yang akan dilaksanakan guru di dalam kelas. Dengan
melihat beberapa ciri khusus dan karakteristik model pembelajaran
tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa sebelum mengajar, guru harus
pembelajaran, guru dapat melaksanakan proses pembelajaran sesuai
dengan pola, tujuan, tingkah laku, lingkungan dan hasil belajar yang
direncanakan. Dengan demikian proses pembelajaran akan berjalan
dengan baik dan tepat sesuai dengan mata pelajarannya.
2. Hakikat Belajar dan Hasil Belajar a. Pengertian Belajar
Istilah belajar adalah hal yang lumrah kita dengar dalam kehidupan
sehari-hari. Untuk mengetahui lebih jauh akan dikemukakan beberapa
pendapat. Menurut R. Gagne (Suprijono, 2013:2) mengemukakan bahwa
belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang
melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari
proses pertumbuhan seseorang secara ilmiah.
Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan
pada individu. Harold Spears (Suprijono, 2013) menyebutkan bahwa yang
dimaksud dengan belajar adalah mengamati membaca, meniru, mencoba
sesuatu, mendengar dan mengikuti arah tertentu. Pengertian itu dipertegas lagi
Sunaryo (Suprijono, 2013:5) yang menyatakan belajar adalah perubahan
tingkah laku yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman. Dari
kegiatan belajar akan terlihat sebagai perubahan tingkah laku. Dari hasil
pengalaman-pengalaman inilah yang akan membentuk pribadi individu kearah
kedewasaan.
Menurut Sunaryo (Komalasari, 2010:2) mengemukakan bahwa belajar
perubahan tingkah laku yang ada pada dirinya dalam pengetahuan, sikap dan
keterampilan. Sudah barang tentu tingkah laku tersebut adalah tingkah laku
yang positif, artinya untuk mencari kesempurnaan hidup.
Adapun pengertian belajar menurut W.S. Winkel (Susanto, 2013:4)
adalah suatu aktivitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif antara
seseorang dengan lingkungan, dan menghasilkan perubahan-perubahan dalam
pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap yang bersifat relatif
konstan dan berbekas.
Abdurrahman, (2012:19) menjelaskan bahwa belajar merupakan suatu
proses dari seorang individu yang berupaya mencapai tujuan belajar atau yang
biasa disebut hasil belajar, yaitu suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif
menetap. Seperti yang dikemukakan Sudjana (Rusman, 2013:1) belajar juga
merupakan proses melihat, mengamati dan memahami sesuatu.
Berdasarkan beberapa pengertian belajar diatas, dapat ditarik kesimpulan
bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja
dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman atau
pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan
perilaku yang relatif tetap baik dalam berpikir, merasa, maupun bertindak.
b. Hasil Belajar
Berdasarkan uraian tentang konsep belajar di atas, dapat dipahami
murid, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sebagai
hasil dari kegiatan belajar.
Untuk mengetahui meningkat atau tidaknya dalam pembelajaran di dalam
kelas, seorang guru harus mengetahui hasil belajar setiap murid. Definisi hasil
belajar menurut Nana Sudjana (2009:43) adalah kemampuan yang dimiliki
murid setelah menerima pengalaman belajarnya, sedangkan menurut Sadiman
AM (2009:15), hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh
pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Pengertian hasil belajar
menurut Sumarso (2009:29) adalah segala sesuatu yang diperoleh, dikuasai
atau merupakan hasil proses belajar mengajar. Berdasarkan ketiga pendapat
dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang didapat
melalui pengalaman belajar setelah mengalami aktivitas belajar yang kemudian
mengartikan hal-hal yang mereka dapatkan serta kemudian diterjemahkan,
ditafsirkan dan dibuat kesimpulan atau rangkuman dan dapat menjelaskan
dengan kata-kata atau bahasa murid sendiri.
Menurut Benjamin S. Bloom (Abdurrahman, 2012:26) mengatakan
bahwa ada tiga ranah hasil belajar, yaitu kognitif yang berhubungan dengan
wawasan murid, afektif yang berhubungan dengan perilaku murid dan
psikomotorik yang berhubungan keterampilan murid. Hasil belajar merupakan
keluaran (output) dari suatu sistem proses masukan (input). Masukan dari
sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya
adalah perbuatan atau kinerja (performance). Secara sederhana, yang dimaksud
melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses
dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan
perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan
instruksional, biasanya guru menetapkan tujuan pembelajaran. Anak yang
berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan
pembelajaran atau tujuan instruksional.
Penilaian hasil belajar murid mencakup segala hal yang dipelajari di
sekolah, baik itu menyangkut pengetahuan, sikap dan keterampilan yang
berkaitan dengan mata pelajaran yang diberikan kepada murid. Berdasarkan
pendapat tentang hasil belajar di atas maka kegiatan belajar mengajar dapat
digunakan sebagai ukuran tingkat penguasaan pengetahuan dan keterampilan
murid setelah melakukan kegiatan belajar dalam bidang tertentu.
c. Tujuan Hasil Belajar 1. Tujuan Umum
a) Untuk menghimpun data tentang taraf kemajuan dan perkembangan peserta
didik, setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu
tertentu. (Sampai dimana keberhasilan mereka dalam mencapai tujuan
kurikuler).
b) Untuk mengetahui efektivitas metode pengajaran yang digunakan dalam
proses pembelajaran.
2.Tujuan Khusus
b) Untuk mencari faktor keberhasilan dan kegagalan peserta didik dalam
mengikuti pembelajaran
d. Fungsi Hasil Belajar
Secara umum evaluasi (penilaian) memiliki banyak fungsi antara lain:
1. Fungsi selektif. Dengan evaluasi, guru dapat menyeleksi peserta tes (murid)
dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Berkaitan dengan tujuan ini
beberapa hal yang dapat diambil dari evaluasi adalah:
a) Menentukan layak diterima atau tidak seorang peserta tes.
b) Menentukan layak dinaikkan atau tidak seorang murid ke kelas
berikutnya.
c) Menentukan layak dilepas atau tidak seorang murid dari lembaga tempat
belajar.
d) Menentukan murid yang layak untuk menerima beasiswa.
2. Fungsi diagnosa. Untuk mengetahui dalam hal apa seorang murid
mempunyai kelemahan dalam belajar.
3. Fungsi penempatan. Dengan hasil evaluasi yang diperoleh, guru dapat
menentukan di mana posisi anak yang tepat.
4. Fungsi pengukuran keberhasilan. Dalam hal ini adalah keberhasilan program.
Termasuk pencapaian tujuan dan metode serta penggunaan sarana.
Lebih spesifik fungsi evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan dalam
PBM di sekolah adalah:
a. Untuk mengetahui seberapa jauh hasil yang telah dicapai dalam proses
b. Untuk mengetahui apakah mata pelajaran yang kita ajarkan dapat kita
lanjutkan dengan bahan yang baru ataukah kita harus mengulangi.
c. Untuk mendapatkan bahan-bahan informasi untuk menentukan apakah
seorang anak dapat dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi atau harus
mengulang.
d. Untuk membandingkan apakah prestasi yang dicapai oleh anak-anak sudah
sesuai dengan kapasitasnya atau belum.
e. Untuk menafsirkan apakah seorang anak telah cukup matang untuk kita
lepaskan kedalam masyarakat atau ke lembaga pendidikan yang lebih
tinggi.
f. Untuk mengadakan seleksi.
g. Untuk mengetahui taraf efisiensi metode yang digunakan dalam proses
belajar mengajar.
e. Manfaat Hasil Belajar 1. Bagi murid:
Murid dapat mengetahui sejauh mana dia telah berhasil mengikuti
pelajaran yang diberikan oleh guru.
2. Bagi guru:
a) Guru akan mengetahui murid mana yang sudah menguasai bahan
pelajarannya.
b) Guru akan mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat bagi
c) Guru akan mengetahui apakah metode yang diberikan sudah tepat atau
belum.
3. Bagi sekolah:
a) Dengan evaluasi dapat diketahui kondisi belajar yang dilangsungkan di
sekolah.
b) Informasi guru tentang tepat tidaknya kurikulum sekolah dapat merupakan
bahan pertimbangan bagi perencanaan sekolah untuk masa-masa yang
akan datang.
c) Informasi hasil penilaian yang diperoleh dari tahun ke tahun dapat
digunakan sebagai pedoman bagi sekolah, yang dilakukan oleh sekolah
sudah memenuhi standar atau belum. Pemenuhan standar akan terlihat dari
bagusnya angka-angka yang diperoleh.
a. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Wasliman (Susanto, 2013:12), hasil belajar yang dicapai oleh
peserta didik merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang
mempengaruhi, baik faktor internal, eksternal maupun formal, sebagai berikut:
a) Faktor Internal
Faktor internal merupakan merupakan faktor yang bersumber dari dalam
diri peserta didik yang mempengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal
ini meliputi kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan,
sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan.
Faktor yang berasal dari luar diri peserta didik yang mempengaruhi hasil
belajar yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Keadaan keluarga berpengaruh
terhadap hasil belajar murid. Keluarga yang berantakan ekonominya,
pertengkaran suami istri, perhatian orang tua yang kurang terhadap anaknya,
serta kebiasaan sehari-hari berperilaku yang kurang baik dari orang tua dalam
kehidupan sehari-hari berpengaruh dalam hasil belajar peserta didik.
c) Faktor Formal
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat
penting dalam menentukan keberhasilan belajar murid, karena itu lingkungan
sekolah yang baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Keadaan
sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan murid,
alat-alat pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan murid yang
kurang baik akan mempengaruhi hasil belajarnya. Guru dituntut untuk
mengusai bahan pelajaran yang akan diajarkan dan memiliki tingkah laku yang
tepat dalam mengajar. Oleh sebab itu, guru harus menguasai bahan pelajaran
yang akan diajarkan dan memiliki metode yang tepat dalam mengajar.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar murid merupakan hasil dari suatu proses yang di dalamnya terlibat
sejumlah faktor yang saling mempengaruhinya.
3. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) a. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang berfungsi
menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila atau Budaya seperti yang terdapat
pada kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan SD.
Menurut Susanto (2013:225) Pendidikan Kewarganegaraan adalah
sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral
yang berakar pada budaya bangsa Indonesia. Nilai luhur dan moral yang
diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku kehidupan murid
sehari-hari, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat dan makhluk ciptaan
Tuhan yang Maha Esa, yang merupakan usaha untuk membekali murid dengan
pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antarwarga
dengan negara serta pendidikan pendahuluan bela negara agar menjadi warga
negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.
b. Hakikat Ilmu Kewarganegaraan (PKn)
Menurut (Susanto, 2013:224) mengatakan bahwa tujuan pendidikan
diIndonesia diharapkan dapat mempersiapkan murid menjadi warga negara
yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Komitmen yang kuat dan konsisten
terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, perlu
ditingkatkan terus menerus untuk memberikan pemahaman yang mendalam
tentang NKRI seiring dengan empat pilar. Adapun empat pilar tersebut, adalah
(1) Pancasila, (2) Undang-Undang Dasar 1945, (3) Negara Kesatuan Republik
Indonesia dan (4) Bhinneka Tunggal Ika. Perkembangan ilmu pengetahuan dan
setiap aspek. Hal ini sangat berpengaruh besar terutama dalam dunia
pendidikan yang menuntut adanya inovasi baru yang dapat menimbulkan
perubahan, secara kualitatif yang berbeda dengan sebelumnya. Tanggung
jawab melaksanakan evaluasi diantaranya terletak pada penyelenggaraan
pendidikan di sekolah, dimana guru memegang peranan utama dan
bertanggung jawab menyebarluaskan gagasan baru, baik terhadap murid
maupun masyarakat melalui proses pembelajaran di kelas. Mata pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan ini merupakan suatu mata pelajaran yang
bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berlandaskan
pada Pancasila, Undang-Undang dan Norma-norma.
c. Tujuan Pembelajaran Kewarganegaraan (PKn)
Pendidikan Kewarganegaraan memiliki tujuan sebagaimana tercantum
dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan
pendidikan dasar dan menengah yaitu untuk meningkatkan kesadaran dan
wawasan peserta didik akan status, hak dan kewajibannya dalam kehidupan
bermasyarakat,berbangsa dan bernegara serta peningkatan kualitas dirinya
sebagai manusia.
Menurut Mulyasa (Susanto 2013: 231) tujuan pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan di sekolah dasar adalah untuk membentuk watak atau
karakteristik warga negara yang baik. Ada tiga tujuan mata pelajaran
1. Untuk menjadikan murid agar mampu berpikir secara kritis, rasional, dan
kreatif dalam menanggapi persoalan hidup maupun isu Kewarganegaraan di
negaranya.
2. Mampu berpartisipasi dalam segala bidang kegiatan secara aktif dan bertang-
gung jawab, sehingga bisa bertindak secara cerdas dalam semua kegiatan.
3. Bisa berkembang secara positif dan demokratis, sehingga mampu hidup
bersama dengan bangsa lain di dunia dan mampu berinteraksi, serta mampu
memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dengan baik.
Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan diajarkan di sekolah dasar
ialah sebagai pemberian pemahaman dan kesadaran jiwa setiap anak didik
dalam mengisi kemerdekaan, dimana kemerdekaan bangsa Indonesia yang
diperoleh dengan perjuangan keras dan penuh pengorbanan harus diisi dengan
upaya membangun kemerdekaan, mempertahankan kelangsungan hidup
berbangsa dan bernegara perlu memiliki apresiasi yang memadai terhadap
makna perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan. Apresiasi
itu menimbulkan rasa senang, sayang, cinta, keinginan untuk memelihara,
melindungi dan membela negara. Untuk itulah Pendidikan Kewarganegaraan
penting diajarkan di sekolah sebagai upaya sadar menyiapkan warga yang
mempunyai kecintaan dan kesetiaan dan keberanian bela bangsa dan negara.
Mereka adalah para penerus bangsa yang akan mengisi bangsa ini pada
kehidupan yang datang. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang bersatu, berilmu
4. Penilaian Portofolio
a. Pengertian Penilaian Portofolio
Penilaian menurut Arnie Fajar (2003:90) dapat diartikan sebagai proses
pembelajaran yang dilakukan secara sistematis, untuk mengungkap kemajuan
murid secara individu untuk menentukan pencapaian hasil belajar. Penilaian ini
memiliki maksud sebagai berikut:
1) Melacak kemajuan murid (keeping track)
2) Mengecek ketercapaiaan kemampuan (checking up)
3) Mendeteksi kesalahan (finding out)
4) Menyimpulkan (summing up)
Penilaian portofolio disini diartikan sebagai kumpulan fakta atau bukti
dan dokumen yang berupa tugas – tugas yang terorganisir secara sistematis dari
seseorang secara individual dalam proses pembelajaran, selain juga diartikan
sebagai koleksi sistematis dari murid dan guru untuk menguji proses dan
prestasi belajar.
Woolfolk Benny A (2009: 177-178) mengemukakan beberapa hal
penting yang perlu diperhatikan dalam menggunakan penilaian portofolio:
a. Murid perlu dilibatkan dalam menentukan kriteria yang digunakan untuk
menilai sebuah portofolio.
b. Sebuah portofolio perlu berisi refleksi murid dan kritik terhadap diri
sendiri.
d. Portofolio dapat menunjukkan fungsi yang berbeda seiring dengan
berjalannya waktu.
e. Portofolio harus mencerminkan adanya pertumbuhan (growth).
f. Murid perlu mengetahui cara menciptakan dan menggunakan portofolio.
Menurut Sumarna (2004:71) menerangkan bahwa penilaian portofolio
merupakan suatu alternatif untuk meningkatkan kemampuan peserta didik
(student achievement) melalui evaluasi umpan balik dan penilaian sendiri (self
achievement). Penilaiaan portofolio peserta didik dapat menunjukkan perbedaan kemampuan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru
dari waktu kewaktu dan juga dibandingkan dengan avidence peserta didik lain.
Penilaiaan portofolio menurut Sumarna (2004:72) memberikan kesempatan
pada murid dan guru untuk menelaah pekerjaan atau hasil karya antara lain:
1. Adanya kerjasama yang terpadu antara peserta didik dengan peserta didik
yang lain atau antara peserta didik dengan guru.
2. Peserta didik dapat memperbaiki hasil karya mereka.
3. Peserta didik berkonsentrasi pada karya individual atau karya kelompok.
4. Peserta didik memahami dan menggunakan kompetensi dasar dan
indikator untuk menilai hasil karya mereka.
Penilaian portofolio pada hasil belajar, murid memiliki kesempatan
yang lebih banyak untuk menilai diri sendiri dari waktu kewaktu. Hal yang
paling penting dalam penilaian portofolio untuk menilai tugas adalah:
Penilaian portofolio menurut Sumarna (2004: 80) menerapkan prinsip
proses dan hasil, yaitu:
a. Proses belajar yang dinilai diperoleh dari catatan perilaku harian peserta
didik (anecdot) mengenai sikapnya dalam belajar antusias tidaknya dalam
mengikuti pelajaran dan sebagainya.
b. Penilaian hasil, meliputi penilaian hasil akhir suatu tugas yang diberikan
oleh guru.
Menurut Arnie Fajar (2003: 91) portofolio bukan merupakan objek,
melainkan perantara penilaian oleh murid dan guru yang menggambarkan
aktivitas dan proses yaitu mendorong murid untuk berdialog, merencanakan
tujuan, bekerjasama, memilih, membandingkan berbagi pengetahuan,
mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan, tetapi juga menguatkan dengan
argumen yang tepat. Penilaian portofolio memungkinkan guru untuk melihat
peserta didik sebagai individu yang masing – masing memiliki karakteristik,
kebutuhan, dan kelebihan tersendiri. Perbedaan penilaian portofolio dengan
penilaian tes menurut Sumarna (2004: 97) antara lain:
1. Menilai peserta didik berdasarkan seluruh tugas dan hasil kerja yang
berkaitan dengan kinerja yang dinilai.
2. Peserta didik turut serta dalam menilai kemajuan yang dicapai dalam
penyelesaian berbagai tugas, dan perkembangan yang berlangsung selama
proses pembelajaran.
3. Menilai setiap peserta didik berdasarkan pencapaian masing – masing,
4. Mewujudkan proses penilaiaan yang kolaboratif.
5. Peserta didik menilai dirinya sendiri sebagai salah satu tujuan.
6. Hal yang mendapat perhatian dalam penilaian adalah kemajuan, usaha dan
pencapaian.
7. Terkait erat antara kegiatan penilaian, pengajaran dan pembelajaran.
b. Fungsi Penilaian Portofolio
Penilaian di sini berfungsi sebagai alat untuk mengetahui seberapa
berhasilkah proses belajar mengajar yang terjadi. Selain itu juga sebagai
perbaikan dalam melakukan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru
dan murid. Dan juga sebagai laporan kemajuan belajar siswa yang diberikan
kepada orang tua agar orang tuanya mengetahui hasil belajar anaknya dalam
bentuk rapor yang biasanya diberikan pada akhir semester.
Fungsi penilaian yang lainnya di sini bukan hanya untuk menentukan
kemajuan belajar murid, tetapi sangat luas. Fungsi penilaian adalah sebagai
berikut:
(a) Penilaian membantu murid merealisasikan dirinya untuk mengubah atau
mengembangkan perilakunya.
(b) Penilaian membantu murid mendapat kepuasan atas apa yang telah
dikerjakannya.
(c) Penilaian membantu guru untuk menetapkan apakah metode mengajar
yang digunakannya telah memadai.
Fungsi penilaian sebagai alat untuk membantu siswa dalam
mewujudkan dan mengubah perilakunya sesuai dengan tata tertib yang ada.
Disini juga murid mendapat kepuasan atas apa yang dikerjakannya yang berupa
nilai. Apabila mereka sungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu maka hasil
yang didapatkan akan bagus sehingga mereka akan puas dengan hasil yang
didapatkannya. Penilaian juga membantu guru dalam menetapkan metode yang
digunakan telah tepat diterapkan.
c. Tujuan Penilaian Portofolio
Tujuan dari penilaian menurut Nana Sudjana, (2009: 4) adalah sebagai