• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

Kajian pustaka merupakan uraian hasil pengkajian kita terhadap berbagai referensi yang dijadikan acuan dalam penelitian. Kajian pustaka misalnya dapat mengkaji beberapa hal sebagai berikut.

1. Pendidikan Karakter a. Pengertian Karakter

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (dalam Samani dan Hariyanto, 2012: 42) karakter merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Pendapat lain yang diungkapkan Alwisol (dalam Zubaedi, 2011: 11) bahwa karakter diartikan sebagai gambaran tingkah laku yang menonjolkan nilai benar-salah, baik-buruk, baik secara eksplisit maupun implisit.

Dalam tulisan bertajuk Urgensi Pendidikan Karakter, Suyanto (dalam Zubaedi, 2011: 11) menjelaskan bahwa karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk

hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa karakter adalah kebiasaan seseorang yang ditunjukkan dari cara berpikir dan berperilaku secara khas, sehingga menjadi ciri khas seseorang dalam membedakan seseorang yang satu dengan yang lainnya.

b. Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah upaya sadar dan sungguh-sungguh dari seorang guru untuk mengajarkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik, pendapat ini disampaikan oleh Winton (dalam Samani dan Hariyanto, 2012: 43). Di pihak lain, Wibowo (dalam Kurniawan, 2016: 31) mendefinsikan pendidikan karakter sebagai pendidikan yang menanamkan dan mengembangkan karakter-karakter luhur kepada peserta didik sehingga mereka memiliki karakter luhur tersebut, menerapkan dan mempraktikkan dalam kehidupannya, entah dalam keluarga, sebagai anggota masyarakat dan warga Negara. Sedangkan, pendapat yang disampaikan Burke (dalam Samani dan Hariyanto, 2012: 43) bahwa pendidikan karakter merupakan bagian dari pembelajaran yang baik dan merupakan bagian yang fundamental dari pendidikan yang baik

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah upaya yang dilakukan oleh seorang guru untuk mendidik dan menanamkan nilai-nilai

karakter kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

2. Program Penguatan Pendidikan Karakter a. Latar belakang

Di era globalisasi saat ini, program Penguatan Pendidikan Karakter perlu diterapkan pada setiap satuan pendidikan di Indonesia. Mengingat bahwa saat ini krisis karakter telah menimpa anak muda di Indonesia, yang secara tidak langsung akan memengaruhi kepribadian dan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari dengan menimbulkan dampak yang negatif. Jika generasi muda tidak memiliki tameng yang kuat dalam membendung aroma negatif, bukan tidak mungkin kebudayaan popular juga akan meruntuhkan nilai-nilai kearifan lokal (Ilahi, 2014: 27-28). Berkaitan dengan permasalahan tersebut, maka pendidikan karakter sangat penting untuk diterapkan di setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan karakter bukanlah sesuatu yang baru di dunia pendidikan. Salah satu tokoh pelopor pendidikan di Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara. Beliau berpendapat bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak (Samani dan Hariyanto, 2012: 33). Menurut Ki Hajar Dewantara, komponen budi pekerti, pikiran dan tubuh anak tidak dapat dipisahkan melainkan saling terintegrasi.

Konsep pendidikan yang terkenal dari Ki Hajar Dewantara yaitu sistem among yang meliputi ing ngarsa sung tuladha (jika di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (jika di tengah-tengah atau sedang bersama-sama menyumbangkan gagasan, maknanya di samping guru memberikan idenya, peserta didik juga didorong untuk mengembangkan karsa atau gagasannya), dan tut wuri handayani (jika berada di belakang, maknanya menjaga agar tujuan pendidikan tercapai dan peserta didik diberi motivasi serta diberi dukungan psikologis untuk mencapai tujuan pendidikan sebenarnya sarat akan nilai-nilai karakter) (Samani dan Hariyanto, 2012: 33). Hal tersebut juga didukung dengan adanya program Penguatan Pendidikan Karakter. Program ini didukung oleh Pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, sehingga program Penguatan Pendidikan Karakter bisa terlaksana dengan baik. Dampak dari penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter adalah terjadinya perubahan yang mendasar di dalam ekosistem pendidikan dan proses pembelajaran sehingga prestasi mereka pun juga meningkat. Program Penguatan Pendidikan Karakter ingin memperkuat pembentukan karakter peserta didik yang selama ini sudah dilakukan di setiap satuan pendidikan (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 7).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa program Penguatan Pendidikan Karakter bertujuan untuk memperkuat karakter peserta didik yang tercermin melalui pembiasaan-pembiasaan yang baik, sehingga hal tersebut menimbulkan dampak yang positif khususnya bagi peserta didik.

b. Pengertian Penguatan Pendidikan Karakter

Penguatan Pendidikan Karakter merupakan gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter melalui pembentukan transformasi (perubahan sifat), transmisi (pesan dari seseorang kepada orang lain), dan pengembangan potensi peserta didik dengan cara harmonisasi olah hati (etik/nilai dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik) sesuai falsafah hidup pancasila (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 17). Melalui penjelasan di atas, maka karakter individu dimaknai sebagai hasil keterpaduan empat bagian. Keterpaduan ini secara ringkas ditunjukkan dalam gambar 2.1 berikut:

Gambar 2.1 Keterpaduan olah hati, olah rasa/karsa, olah pikir dan olah raga

OLAH HATI OLAH RAGA OLAH RASA/ KARSA OLAH PIKIR Beriman dan bertakwa. Jujur, amanah, adil, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, pantang menyerah, rela berkorban, dan berjiwa patriotik Ramai, saling menghargai, toleran, peduli, suka menolong, gotong royong, nasionalis, kosmopolit, mengutamakan kepentingan umum, bangga menggunakan bahasa dan produkIndonesia, dinamis, kerja Cerdas, kritis, kreatif, inovatif, ingin tahu, berpikir terbuka, produktif, berorientasi ipteks, dan reflektif

Bersih dan sehat, disiplin, sportif, tangguh, andal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, ceria, dan gigih

Berdasarkan gambar 2.1 di atas menunjukkan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter saling berkaitan dengan olah hati (etik/nilai dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik) yang memilki keterpaduan dalam diri individu yang telah terintegrasi secara utuh dan menyeluruh.

c. Tujuan Penguatan Pendidikan Karakter

Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter memiliki tujuan (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 16) sebagai berikut :

1) Mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan makna dan nilai karakter sebagai jiwa atau generasi utama penyelenggaraan pendidikan.

2) Membangun dan membekali Generasi Emas Indonesia 2045 menghadapi dinamika perubahan di masa depan dengan keterampilan abad 21.

3) Mengembalikan pendidikan karakter sebagai ruh dan fondasi pendidikan melalui harmonisasi olah hati (etik/nilai dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik).

4) Merevitalisasi dan memperkuat kapasitas ekonomi pendidikan (kepala sekolah, guru, peserta didik, pengawas, dan komite sekolah) untuk mendukung perluasan implementasi pendidikan karakter. 5) Membangun jejaring perlibatan masyarakat (publik) sebagai

6) Melestarikan kebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia dalam mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa program Penguatan Pendidikan Karakter perlu diterapkan dengan tujuan untuk membekali peserta didik dalam menghadapi dinamika perubahan zaman yang semakin global, dengan mengajarkan pembiasaan-pembiasaan yang positif sejak dini dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat sebagai manifestasi dari nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan.

d. Nilai-nilai Penguatan Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau kebajikan yang menjadi nilai dasar karakter. Kebajikan yang menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai (Zubaedi, 2011: 72). Dalam kaitan implementasi nilai-nilai dan proses-proses tersebut, pendidikan bagi peserta didik dilaksanakan dengan maksud memfasilitasi mereka untuk menjadi orang yang memiliki kualitas moral, kewarganegaraan, kebaikan, kesantunan, rasa hormat, kesehatan, sikap kritis, keberhasilan, kebiasaan, insan yang kehadirannya dapat diterima dalam masyarakat (Samani dan Hariyanto, 2012: 50).

Dalam rangka memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter, maka dicetuskan adanya Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang membudayakan dan memberadabkan para pelaku pendidikan. Terdapat lima nilai utama karakter yang saling berkaitan membentuk jejaring

nilai yang perlu dikembangkan sebagai prioritas Penguatan Pendidikan Karakter, antara lain sebagai berikut (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 8): 1) Religiusitas

Nilai karakter religiusitas merupakan nilai yang mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain.

Nilai karakter religiusitas ini meliputi tiga dimensi relasi sekaligus, yaitu hubungan individu dengan Tuhan, individu dengan sesama, dan individu dengan alam semesta (lingkungan). Nilai karakter religiusitas ini ditunjukkan dalam perilaku mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan.

Subnilai religiusitas antara lain cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, kerjasama antar pemeluk agama dan kepercayaan, antibuli dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan dan melindungi yang kecil dan tersingkir.

2) Nasionalisme

Nilai karakter nasionalisme merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial,

budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan diri dan kelompoknya.

Subnilai nasionalisme antara lain apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama. 3) Kemandirian

Nilai karakter kemandirian merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merelisasikan harapan, mimpi dan cita-cita.

Subnilai kemandirian antara lain etos kerja (kerja keras), tangguh tahan banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

4) Gotong royong

Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerjasama dan bahu-membahu menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan/ pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan.

Subnilai gotong royong antara lain menghargai, kerjasama, inklusif, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong menolong, solidaritas, empati, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan.

5) Integritas

Nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral.

Karakter integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran.

Subnilai integritas antara lain kejujuran, cinta pada kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggung jawab, keteladanan dan menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas)

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa ada lima nilai-nilai utama karakter antara lain religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Lima nilai-nilai utama tersebut perlu ditanamkan sejak dini, sehingga karakter peserta didik dapat terbentuk sejak dini dengan melakukan pembiasaan-pembiasaan yang positif dan mampu menerapkan perilaku sesuai dengan nilai-nilai utama karakter, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

e. Pendekatan Basis Penguatan Pendidikan Karakter

Dalam pelaksanaannya program Penguatan Pendidikan Karakter dilakukan berdasarkan tiga basis, antara lain :

1) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kelas

Pendidikan Karakter berbasis kelas merupakan locus educations utama yaitu di mana proses pembentukan karakter terjadi di dalam lingkungan pendidikan. Seluruh reformasi dalam bidang pendidikan, secanggih apa pun programnya, tidak akan efektif bila tidak menyentuh pokok persoalan sendiri, yaitu keseluruhan proses pengajaran yang terjadi di dalam kelas. Pengajaran di kelas yang efektif membawa perubahan besar dalam diri peserta didik. Carbrera (dalam Koesoema, 2018: 9) menyatakan bahwa, pengajaran yang efektif adalah pengajaran yang memproduksi hasil yang dapat dilihat bagi perkembangan kognitif dan afektif peserta didik.

Fokus pendidikan karakter pada peserta didik adalah interaksi dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran di kelas terdapat keseluruhan interaksi antara guru dan peserta didik, dinamika pembelajaran, pendalaman isi materi pembelajaran, pilihan model dan metode pengajaran, cara-cara evaluasi, dan penilaian yang terjadi selama pembelajaran inilah yang menjadi fokus pendidikan karakter berbasis kelas (Koeseoma, 2018: 9).

Pengintegrasian program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis kelas terdiri dari 6 jenis kegiatan, antara lain: pertama, pengintegrasian PPK melalui kurikulum; kedua, pengintegrasian PPK melalui manajemen sekolah; ketiga, pengintegrasian PPK melalui pilihan dan penggunaan model dan metode pembelajaran;

gerakan literasi, keenam, PPK melalui layanan bimbingan konseling (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 27-29).

Salah satu cara yang dilakukan oleh guru untuk memperoleh informasi mengenai pengintegrasian program Penguatan Pendidikan Karakter, yaitu melalui sosialisasi dengan Kelompok Kerja Guru (KKG). Menurut Ratna (2010: 3), Kelompok Kerja Guru (KKG) merupakan wadah dalam pembinaan professional guru yang dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi, bertukar fikiran, berbagi pengalaman, melaksanakan berbagai demonstrasi, atraksi, dan simulasi dalam pembelajaran. Susilo (2017: 10), menyatakan bahwa keberadaan KKG merupakan bagian integral dari perwujudan sistem pembinaan kompetensi guru, yang didalamnya terdapat serangkaian kegiatan peningkatan mutu pendidikan, kemampuan professional guru.

Menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (dalam Pratiwi, 2014: 10), tujuan KKG adalah sebagai berikut: 1) sebagai wadah pembinaan, pengarahan, penjelasan, diskusi penalaran kepada tenaga kependidikan, 2) meningkatkan semangat kerja guru-guru di kelompok gugus untuk meningkatkan mutu, 3) sebagai wahana informasi, inovasi, dan mengajak tenaga kependidikan untuk berbekal diri agar dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berhasil dan sesuai target yang diharapkan.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter berbasis kelas adalah proses pembentukan

karakter yang terjadi dalam proses pembelajaran melalui kegiatan intrakurikuler. Oleh karena itu, demi terwujudnya pengintegrasian PPK berbasis kelas, secara optimal maka dibutuhkan sosialisasi tentang PPK, salah satunya sosialisasi PPK melalui Kelompok Kerja Guru (KKG).

Salah satu contoh dari penerapan pendidikan karakter berbasis kelas yaitu mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Berikut ini merupakan tabel contoh penerapan pendidikan karakter berbasis kelas dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), yang terdapat pada tabel 2.1 sebagai berikut:

Tabel 2.1. Contoh Pengintegrasian Nilai Karakter ke dalam RPP

Muatan Pelajaran

Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Karakter yang dikembangkan

PPKn 3.1 Mengidentifikasi hubungan antara simbol dan sila-sila Pancasila dalam lambang Negara Garuda Pancasila

3.1.1 Menjelaskan arti simbol dalam lambang “Garuda Pancasila”.

Percaya Diri dan Cinta Tanah Air 3.1.2 Menjelaskan contoh sikap

yang dilakukan sesuai pada gambar yang berkaitan dengan pengamalan sila Pancasila kedua. Bahasa Indonesia 4.1 Menirukan ungkapan, ajakan, perintah, penolakan dalam cerita atau lagu anak-anak dengan bahasa yang santun

4.1.1 Memeragakan ungkapan kalimat ajakan sesuai dalam teks percakapan “Lani dan Dayu”.

Berdasarkan pada tabel 2.1 di atas, menunjukkan bahwa karakter yang dikembangkan, antara lain: nilai karakter cinta tanah air yang

kompetensi dasar 3.1 yaitu mengidentifikasi hubungan antara simbol dan sila-sila Pancasila dalam lambang Negara Garuda Pancasila dengan indikator pencapaian 3.1.1 menjelaskan arti simbol dalam lambang “Garuda Pancasila” dan 3.1.2 menjelaskan contoh sikap yang dilakukan sesuai pada gambar yang berkaitan dengan pengamalan sila Pancasila kedua. Sedangkan, nilai karakter percaya diri yang terdapat pada muatan pelajaran PPKn dan Bahasa Indonesia, yang tercantum pada kompetensi 4.1 yaitu menirukan ungkapan, ajakan, perintah, penolakan dalam cerita atau lagu anak-anak dengan bahasa yang santun dengan indikator pencapaian 4.1.1 memeragakan ungkapan kalimat ajakan sesuai dalam teks percakapan “Lani dan Dayu” .

2) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah

Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah merupakan sebuah kegiatan untuk menciptakan iklim dan lingkungan sekolah yang mendukung prestasi PPK dalam bidang akademik (olimpiade matematika, perolehan nilai UN terbaik se-Kecamatan) maupun non akademik (lomba MTQ, lomba taek wondo) dengan melibatkan seluruh sistem, struktur, dan pelaku pendidikan di sekolah. Pengembangan PPK berbasis budaya sekolah termasuk di dalamnya keseluruhan tata kelola sekolah, desain Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), serta pembuatan peraturan dan tata tertib sekolah (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 35).

Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah berfokus pada pembiasaan dan pembentukan budaya yang mempresentasikan nilai-nilai utama PPK yang menjadi prioritas satuan pendidikan. Pembiasaan ini diintegrasikan dalam keseluruhan kegiatan di sekolah yang tercermin dari suasana dan lingkungan sekolah yang kondusif (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 35). Langkah-langkah pelaksanaan PPK berbasis budaya sekolah dapat dilaksanakan dengan menentukan nilai utama PPK, menyusun jadwal harian/ mingguan, mendesain kurikulum yang digunakan pada setiap tingkat satuan pendidikan, evaluasi peraturan sekolah, pengembangan kegiatan kokurikuler, dan ekstrakurikuler (wajib dan pilihan) (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 35).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah adalah proses pembentukan karakter peserta didik melalui sebuah kegiatan untuk menciptakan iklim dan lingkungan sekolah yang mendukung prestasi PPK dalam bidang akademik (olimpiade matematika, perolehan nilai UN terbaik se-Kecamatan) maupun non akademik (lomba MTQ, lomba taek wondo) dengan melibatkan seluruh sistem, struktur, dan pelaku pendidikan di sekolah, desain Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), serta pembuatan peraturan dan tata tertib sekolah. Salah satu contoh pelaksanaan PPK berbasis budaya sekolah, yaitu melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler wajib,

salah satunya ialah kegiatan pramuka. Kegiatan tersebut dapat dilihat pada pada gambar 2.2 di bawah ini:

Gambar 2.2 Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka

Sumber:

http://depoktren.com/2017/12/03/kegiatan-pramuka-bangun-karakter-anak/.

Gambar 2.2 di atas merupakan foto ketika peserta didik sedang melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler wajib yaitu kegiatan pramuka. Kegiatan pramuka merupakan contoh dari implementasi Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah yang dilakukan oleh peserta didik setiap satu minggu sekali disetiap sekolah.

3) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat

Pendidikan karakter berbasis masyarakat merupakan pembentukan karakter peserta didik dengan melibatkan keikutsertaan lembaga, komunitas, dan masyarakat lain di luar lingkungan sekolah. Oleh karena itu, berbagai macam bentuk kolaborasi dan kerjasama antar komunitas dan satuan pendidikan di luar sekolah sangat diperlukan

dalam Penguatan Pendidikan Karakter (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 41-42).

Berikut adalah beberapa contoh bentuk kerjasama dengan komunitas yang dapat membantu program Penguatan Pendidikan Karakter di sekolah yang berfokus pada penguatan kekayaan pengetahuan peserta didik dalam rangka pembelajaran, antara lain: pembelajaran berbasis museum, cagar budaya, dan sanggar, monitoring dengan seniman dan budayawan lokal, kelas inspirasi, program siaran radio on-air, kolaborasi dengan media televisi, koran, dan majalah, gerakan literasi, literasi digital, kerjasama dengan perguruan tinggi: riset dosen-guru, program magang kerja, kerjasama dengan komunitas keagamaan. (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 43-45).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter berbasis masyarakat adalah proses pembentukan karakter peserta didik dengan melibatkan keikutsertaan masyarakat seperti orang tua, organisasi, dan lembaga-lembaga terkait. Salah satu contoh pelaksanaan PPK berbasis masyarakat yaitu kerjasama pihak sekolah dengan pihak kepolisian, salah satunya dengan melaksanakan kegiatan sosalisasi pada peserta didik. Kegiatan tersebut dapat dilihat pada pada gambar 2.3 di bawah ini:

Gambar 2.3 Keterlibatan polisi dalam Sosialisasi di Sekolah dasar

Sumber:

https://simomot.com/2014/04/17/tukang-sodomi-hukum- seberat-beratnya-lebih-50-000-orang-tandatangani-petisi-gabung-yuk/.

Gambar 2.2 di atas merupakan foto keterlibatan polisi dalam melaksanakan sosialisasi di sekolah dasar. Kegiatan sosialisasi tersebut menunjukkan kerjasama antara pihak sekolah dengan pihak kepolisian. Oleh karena itu, kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh polisi terhadap seluruh peserta didik merupakan contoh dari implementasi Penguatan Pendidikan Karakter berbasis masyarakat.

5. Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kelas a. Pengertian Pendidikan Karakter Berbasis Kelas

Pendidikan Karakter berbasis kelas adalah locus educations utama yaitu di mana proses pembentukan karakter terjadi di dalam lingkungan pendidikan. Seluruh reformasi dalam bidang pendidikan, secanggih apa pun programnya, tidak akan efektif bila tidak menyentuh pokok persoalan sendiri, yaitu keseluruhan proses pengajaran yang terjadi di dalam kelas (Koesoema, 2018: 9).

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa pendidikan karakter berbasis kelas adalah proses pembentukan karakter pada setiap peserta didik yang dibentuk melalui proses pembelajaran atau kegiatan intrakurikuler.

b. Jenis-jenis Pengimplementasian Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kelas

1) Pengintegrasian PPK dalam Kurikulum

Pengintegrasian PPK dalam kurikulum ini memiliki arti, bahwa di dalam proses pembelajaran guru mampu mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam setiap mata pelajaran. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan dan menguatkan pengetahuan dalam menanamkan kesadaran peserta didik dan mempraktikkan nilai-nilai karakter, khususnya dalam melaksanakan proses pembelajaran. Dengan demikian, guru dapat memanfaatkan materi yang tersedia di dalam kurikulum secara kontekstual dengan disertai penguatan nilai-nilai karakter (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 27)

Langkah-langkah menerapkan PPK (Tim PPK Kemendikbud, 27-28) melalui pembelajaran terintegrasi dalam kurikulum dapat dilaksanakan dengan cara :

a) Melakukan analisis KD melalui mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung dalam materi pembelajaran, seperti KD yang tercantum dalam mata pelajaran PPKn kelas 4 tema 2 subtema 1 yaitu KD 4.5 Menyajikan laporan hasil pengamatan dan penelusuran informasi

tentang berbagai perubahan bentuk energi. Melalui KD tersebut, nilai karakter yang ingin dikembangkan yaitu nilai disiplin dan tanggung jawab.

b) Mendesain RPP yang memuat fokus penguatan karakter dengan memilih model dan metode pembelajaran dan pengelolaan (manajemen) kelas yang relevan. Misalnya, dengan mempelajari KD 4.5 tersebut, peserta didik menyajikan laporan hasil pengamatan secara berkelompok. Oleh karena itu, model pembelajaran yang digunakan ialah model pembelajaran kooperatif dan menggunakan metode diskusi. Pengelolaan kelas yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik melalui pembelajaran kooperatif yaitu adanya nama-nama pada setiap kelompok. Contohnya, kelompok A dinamakan kelompok kedisiplinan, kelompok B dinamakan kelompok tanggung jawab, dan kelompok C dinamakan gotong royong. Melalui hal tersebut,

Dokumen terkait