• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Pustaka (Literature Review)

Dalam dokumen PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MELALUI KELOMPOK PKK (Halaman 25-33)

Penelitian tentang pemberdayaan perempuan sudah banyak dilakukan, ada yang menggunakan teori pemberdayaan dengan fokus pada

9

organisasi perempuan dan ada yang melihat pemberdayaan perempuan dengan melihat perempuan secara individual. Penelitian ini akan difokuskan untuk melihat berhasil atau tidaknya suatu proses pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh Organisasi PKK dengan melihat perempuan secara individual.

Adapun beberapa penelitian terdahulu yang berfokus pada peran organisasi perempuan dalam melakukan pemberdayaan perempuan telah dilakukan oleh (Oyelude & Bamigbola, 2013); (Wambua, 2013);

(Hossain, Hossain, & Khatun, 2017); (Harthanti & Syamsiar, 2016);

(Foilyan, Idris, & Swasto, 2009) yang secara umum membahas bagaimana peran organisasi perempuan menyediakan program-program dan fasilitas untuk memberdayakan perempuan. Mulai dari program pelatihan keterampilan, pelatihan penggunaan teknologi, pinjaman modal usaha dan lain sebagainya.

Tidak jauh berbeda dengan upaya pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh Organisasi Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Indonesia. Seperti yang diteliti oleh (Aslichati, 2011);

(Trisnawati & Jatiningsih, 2017); & (Riana, Sjamsuddin, & Hayat, 2011), Metode pemberdayaan yang dilakukan adalah dengan menjalankan program kerja dari PKK, yang kemudian diwujudkan kedalam berbagai program dan kegiatan seperti posyandu, pemberian modal usaha, fasilitas

10

untuk mengakses informasi dan sumberdaya, serta berbagai kegiatan pelatihan keterampilan yang bertujuan mampu untuk dijadikan peluang usaha bagi perempuan.

Beberapa penelitian tersebut memiliki kesamaan dalam metode pelaksanaannya yaitu sebatas merancang dan menjalankan program serta menyediakan fasilitas untuk membedayakan perempuan. Namun tidak dibahas lebih spesifik mengenai berhasil atau tidaknya pemberdayaan tersebut dan apakah program-program pemberdayaan tersebut sudah responsif gender atau belum? Berbeda dengan penelitian terdahulu, peneliti ini akan melihat berhasil atau tidaknya proses pemampuan perempuan yang dilakukan oleh Organisasi PKK, dan juga menilai program-program pemberdayaan perempuan yang disediakan oleh Organisasi PKK apakah sudah responsive gender atau belum.

Penelitian ini ingin melihat subyek penelitian adalah perempuan secara individu, yang aktif dalam organisasi PKK dengan menggunakan analisis gender Longwe. Analisis Gender Longwe adalah suatu teknik analisis yang dikembangkan sebagai metode pemberdayaan perempuan dengan lima kriteria analisis meliputi Kesejahteraan, Akses, Kesadaran kritis, Partisipasi dan Kontrol (Handayani & Sugiarti, Konsep dan Teknik Penelitian Gender, 2008). Analisis Longwe ini digunakan untuk menganalisis proses pemampuan perempuan, yang berfokus pada upaya

11

menangani isu gender yang menjadi kendala dalam proses pemberdayaan perempuan.

Adapun penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Setyawati &

Susanto, 2013); (Avillia, 2006); (Noor, 2010) dan (Lestari, 2013) menggunakan teknik analisis gender Longwe untuk menganalisis kesenjangan gender dan belum maksimalnya pemberdayaan perempuan yang dilakukan dilihat melalui lima kriteria pemberdayaan yaitu kesejahteraan,akses,kesadaran kritis,partisipasi dan kontrol. Selain itu, penelitian tersebut juga melihat bagaimana pencapaian dari proses pemberdayaan perempuan yang dilakukan.

Penelitian yang dilakukan oleh (Setyawati & Susanto, 2013), membahas bagaimana partisipasi perempuan dalam pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Bantul serta alasan perempuan terlibat dalam program tersebut. Pada sektor pendidikan, proyek yang dijalankan berupa rehabilitasi gedung sekolah. Kemudian, pada sektor prasarana proyek yang dijalankan berupa pengaspalan jalan dan reboisasi.

Dalam kasus ini, dimensi kesejahteraan bernilai negatif(-) karena kedua program tersebut belum mampu meningkatkan kesejahteraan perempuan.

Dalam dimensi akses dinilai netral, karena jika dilihat dari segi kebijakan program tersebut tidak mengaitkan isu perempuan, namun tidak ada dampak buruk terhadap perempuan secara langsung. Selanjutnya dalam

12

dimensi penyadaran dinilai positif (+),para perempuan menyadari bahwa mereka harus ikut berperan aktif dalam kegiatan masyarakat , dan kedua program telah menyosialisasikan sikap kritis terhadap pembagian kerja dan menempatkan perempuan dan laki-laki pada posisi yang sama.

Kemudian pada dimensi partisipasi dinilai positif (+) karena menunjukkan bahwa partisipasi perempuan yang sudah baik , dilihat dari keikutsertaan mereka mulai dari penyusunan program, pelaksanaan sampai evaluasi program. Dan yang terakhir pada dimensi kontrol dinilai positif (+) karena menunjukan tidak adanya kuasa yang timpang atau tidak ada salah satu pihak yang mendominasi. Karena hampir seluruh program memiiliki nilai positif (+) disimpulkan bahwa isu perempuan sudah diintegrasikan pada pelaksanaan program pemberdayaan perempuan.

Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh (Avillia, 2006) ,membahas upaya pemberdayaan perempuan melalui Koperasi Bina Usaha Wanita (KBUW) ,di kota Cimahi. Tingkat pemberdayaan perempuan di KBUW bersifat negatif atau tidak tercapai. Pada dimensi kesejahteraan bersifat negatif (-), karena pinjaman modal yang diberikan oleh KBUW tidak dimanfatkan dengan baik. Kemudian, dimensi akses juga bersifat negatif (-), karena perempuan masih kesulitan untuk mengakses berbagai kegiatan KBUW disebabkan peran domestik perempuan sebagai ibu rumah tangga. Selanjutnya pada dimensi kesadaran kritis bersifat negatif (-), karena perempuan menjadi anggota koperasi bukan karena kesadaran

13

dirinya melainkan permintaan dari suami mereka untuk mendapat pinjaman modal usaha. Lalu pada dimensi partisipasi juga bersifat negatif (-), karena partisipasi perempuan dalam KBUW hanya terbatas pada kehadiran, dan dalam hal kehadiran pun masih mengalami kendala berupa kegiatan reproduktif. Perempuan juga belum terlibat dalam proses pengelolaan koperasi. Terakhir pada dimensi kontrol juga bersifat negatif (-), artinya perempuan tidak memiliki kontrol dalam penggunaan modal usaha, pembayaran cicilan atau iuran anggota meskipun mereka yang meminjam modal ke KBUW. Peran anggota perempuan disini hanya sebagai nama untuk meminjamkan modal usaha untuk suami mereka.

Selain itu, pengurus pun tidak memiliki kontrol terhadap pengelolaan KBUW karena banyak dipengaruhi oleh suami mereka. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dikatakan bahwa seluruh program KBUW bersifat negatif (-) atau belum bersifat responsive gender

Kemudian pada penelitian yang dilakukan oleh (Noor, 2010) membahas pemberdayaan ekonomi perempuan dalam prespektif gender di Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Bima. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan program yang dilaksanakan untuk penguatan peran ekonomi perempuan bernilai Negatif (-). Selanjutnya dalam program peningkatan kesejahteraan keluarga dengan bantuan yang diberikan pada perempuan seperti modal usaha, program ini dikategorikan Netral karena perempuan dinilai hanya menjadi gerbang bagi pendapatan

14

kesejahteraan keluarga. Sebagian besar program di Lombok Timur dan Bima masih tergolong dalam pembinaa perempuan produktif dengan tujuan meningkatkan perempuan untuk meningkatkan penghasilan kesejahteraan keluarga. Program yang responsive gender masih terbilang terbatas. Maka, kebijakan dan program pada dua Kabupaten ini dilihat belum memberdayakan perempuan, dalam arti mendorong perempuan untuk mampu berdaya mengontrol kepentingannya. Selanjutnya, dengan bidang sosial budaya meliputi program penguatan kinerja usaha yang didalamnya mencakup bantuan modal usaha,pembinaan usaha dan pengembangan kapasitas pelaku usaha berupa bimbingan,pelaihan,magang dan lain sebagainya Negatif (-) karena tidak merekognisi isu perempuan.

Selanjutnya dalam konteks pemberdayaan ekonomi perempuan, kebijakan dan program yang dibuat . bersifat Netral bahkan Buta Gender. Artinya, kapasitas lokal masih belum mampu mengidentifikasi dan mengembangkan kapasitas perempuan sebagai aktor pembangunan.

Dan yang terakhir pada penelitian yang dilakukan oleh (Lestari, 2013) menggunakan analisis gender Longwe untuk melihat partisipasi perempuan dalam proses pemberdayaan melalui PNPM Mandiri Perkotaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan partisipasi perempuan dalam proses pemberdayaan melalui PNPM Mandiri Perkotaan ditunjukkan dengan tingkat kehadiran dalam kegiatan pemberdayaan.

15

Selanjutnya, terdapat faktor pendorong dan penghambat dalam pemberdayaan. Faktor pendorongnya meliputi adanya kesadaran perempuan untuk membangun desa, dukungan dari suami serta keterlibatan perempuan. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu adanya beban ganda, tidak adanya akses pinjaman dan waktu pelaksanaan kegiatan. Dan yang terakhir implikasi dari partisipasi perempuan adalah meningkatnya peran perempuan yang tadinya pasif menjadi aktif.

Pada penelitian ini peneliti akan membahas bagaimana tingkat keberhasilan program pemberdayaan perempuan oleh PKK yang menggunakan lima dimensi pemberdayaan perempuan dari Longwe yaitu kesejahteraan, akses, kesadaran kritis, partisipasi dan kontrol. Maka dari itu, penelitian ini akan mengadopsi penelitian yang dilakukan selumnya yang dilakukan oleh (Setyawati & Susanto, 2013); (Avillia, 2006); (Noor, 2010) dan (Lestari, 2013) untuk melihat perempuan yang aktif dalam organisasi PKK dengan menggunakan teknik analisis gender Longwe.

Berbeda dengan penelitian sebelumnya (Setyawati & Susanto, 2013) ; (Avillia, 2006) dan (Lestari, 2013) menggunakan analisis longwe untuk melihat pemberdayaan pada organisasi non-pemerintah, dimana penelitian ini akan menganalisis Organisasi PKK yang merupakan Organisasi mitra pemerintah. Selain itu, penelitian sebelumnya yang melihat pemberdayaan perempuan oleh Organisasi PKK hanya berfokus pada program pemberdayaan yang diberikan tanpa melihat apakah program tersebut

16

sudah responsive gender serta berhasil atau tidaknya pemberdayaan perempuan yang dilihat secara individu dalam hal ini kepada perempuan yang diberdayakan. Kemudian dari lokasi penelitian, penelitian yang dilakukan oleh (Setyawati & Susanto, 2013); (Avillia, 2006) dan (Lestari, 2013) berada di daerah pedesaan, sedangkan penelitian ini akan dilakukan di daerah Ibukota Jakarta. Selain perbedaan pendekatan penelitian, fokus penelitian dan lokasi, penelitian pemberdayaan perempuan oleh Organisasi PKK belum banyak yang menggunakan analisis gender Longwe, maka dari itu penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan baru dalam kajian pemberdayaan perempuan.

Dalam dokumen PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MELALUI KELOMPOK PKK (Halaman 25-33)