PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MELALUI KELOMPOK PKK
STUDI PADA AKTIVIS PKK DI DASAWISMA DAHLIA,KELURAHAN RAGUNAN,JAKARTA SELATAN
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh :
Ririeh Rihastuti Hadiningsih (11151110000002)
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2020
2
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MELALUI KELOMPOK PKK
STUDI PADA AKTIVIS PKK DI DASAWISMA DAHLIA,KELURAHAN RAGUNAN,JAKARTA SELATAN
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh :
Ririeh Rihastuti Hadiningsih (11151110000002) Dibawah Bimbingan
Dr. Dzuriyatun Toyibah, M.Si., M.A.
NIP : 197608032003122002
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2020
i
ii
iii
iv ABSTRAK
Pada umumnya perempuan akan lebih berdaya dan memiliki power ketika mereka berada atau menjadi bagian dari suatu organisasi dibandingkan ketika mereka bertindak secara individual. Organisasi PKK dinilai mampu memfasilitasi perempuan untuk berdaya. Tujuan penelitian ini untuk melihat bagaimana keberhasilan pemberdayaan perempuan melalui kelompok Dasawisma PKK di Kelurahan Ragunan, Jakarta Selatan. Penelitian ini menggunakan teknik analisis gender Longwe yang terdiri dari lima dimensi yaitu Dimensi Kesejahteraan, Dimensi Akses, Dimensi Kesadaran Kritis, Dimensi Partisipasi dan Dimensi Kontrol.. Hasil temuan lapangan dalam penelitian ini melihat bahwa setiap dimensi tidak bergerak meningkat, artinya kegiatan pemberdayaan perempuan yang dilaksanakan melalui PKK belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pola relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan baik dalam rumah tangga ataupun lingkungan masyarakat.
Hal ini menunjukkan bahwa proses pemberdayaan perempuan melalui PKK yang dilihat menggunakan kelima dimensi tersebut belum tercapai. Keadaan ini dipengaruhi beberapa faktor salah satunya adalah budaya patriarki yang masih mempengaruhi kehidupan masyarakat.
Kata kunci : organisasi, pemberdayaan perempuan, gender.
v
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat, hidayah serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Shalawat serta salam tidak lupa penulis curahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan seluruh umatnya yang senantiasa istiqomah dalam menjalankan sunnahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan pada program studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pemberdayaan Perempuan Melalui Kelompok PKK (Studi Pada Aktivis PKK di Dasawisma Dahlia, Kelurahan Ragunan, Jakarta Selatan)”
Skripsi ini, penulis susun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam melakukan penelitian dan terselesaikannya skripsi ini, penulis sangat terbantu dari berbagai pihak yang senantiasa memberikan arahan, bimbingan, doa doronagn dan bantuan dengan keikhlasannya baik secara fisik, moril maupun materil hingga skripsi ini selesai. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang turut membantu, diantaranya;
vi
1. Ibu Prof. Dr. Hj. Amany Burhanudin Lubis, Lc, Ma selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Prof. Dr. Ali Munhanif, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Dr. Dzuriyatun Toyibah, M.Si., M.A selaku dosen pembimbing skripsi saya yang sudah sangat sabar membantu saya menyelesaikan skripsi ini dan memberikan banyak saran serta masukan pada skripsi saya.
4. Ibu Dr. Cucu Nurhayati, M.Si selaku ketua program studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Ibu Dr. Joharatul Jamilah, S.Ag., M.Si selaku sekertaris jurusan program studi Sosiologi.
6. Segenap dosen dan staf akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya pada Program Studi Sosiologi yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, atas segala ilmu dan pengetahuan selama penulis menempuh studi di kampus ini , baik di dalam maupun di luar kelas perkuliahan.
7. Surga dan ridho dari Sang Rahman teruntuk Kedua orangtua penulis yang tercinta Bapak Solichin Hadi dan Ibu Sri Wahyuningsih yang telah mendidik, merawat, memberikan semangat, selalu mendukung, memberi motivasi, materi serta doa yang tiada henti.
8. Danang Nurhidayana terimakasih telah senantiasa mendoakan penulis, memberikan semangat, mendegarkan keluh kesah serta mendampingi penulis
vii
dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah membalas kebaikan dan ketulusan danang.
9. Teman-teman “Avenger” : Shafly, Farah, Rifna, Jaunt, Abdilah, Dodi Firas, Hanif, atas pertemanan yang penuh dengan berbagai cerita selama ini.
10. Terimakasih kepada kaka Galih Adi Widodo yang selama masa perkuliahan selalu memberikan semangat, motivasi dan nasehat yang baik serta setia mendengarkan keluh kesah perkuliahan dan kehidupan penulis.
11. Teman-Teman “WRP” : Wida Azalia dan Putri Navia yang menjadi teman seperjuangan, selalu memotivasi saya untuk menyelesaikan skripsi ini dan selalu ada ketika saya senang dan sedih. Terimakasih juga kepada “DRY”
yaitu Ryan Andrian dan Yoan Miro yang juga selalu memberikan penulis semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.
12. Terimakasih kepada sahabat-sahabat saya sejak SMA, yaitu Maya, Qori dan Indri yang juga selalu mendengarkan keluh kesah saya, memberikan canda tawa dan selalu menguatkan saya.
13. Terimakasih kepada sahabat lama saya Afifah Sururi yang tidak henti mengingatkan dan mendoakan terselesaikannya skripsi ini.
14. Terimakasih kepada kepada seluruh teman-teman Sosiologi UIN angkatan 2015 yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, terimakasih atas kebersamaannya selama ini.
viii
15. Terimakasih juga kepada teman-teman satu atap 24 x 30 hari ku “KKN SEMARAK 64” yang selalu memberikan semangat agar terselesaikannya skripsi ini.
16. Terimakasih juga kepada teman-teman seperjuangan di Himpunan mahasiswa Islam (HmI) KOMFISIP atas pengalaman dan kebersamaannya selama ini.
Penulis juga mengucapkan terimakasih untuk semua pihak yang takbisa penulis sebutkan satu per satu, yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah SWT membalas dengan pahala yang berlibat ganda. Amin. Akhir kata penulis mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya.
Wassalamualaikum. Wr. Wb
Jakarta, 20 Januari 2020
Ririeh Rihastuti Hadiningsih
ix DAFTAR ISI
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR……….…..xiii
DAFTAR BAGAN ………..……xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I A. Pernyataan Masalah ... 1
B. Pertanyaan Penelitian ... 7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian ... 8
2. Manfaat Penelitian ... 8
D. Tinjauan Pustaka ... 8
E. Kerangka Teori ... 16
1. Pemberdayaan Perempuan ... 16
x
2. Teknik Analisis Gender Longwe ... 23
F. Metode Penelitian 1. Metode Penentuan Infroman ... 29
2. Lokasi Penelitian ... 32
3. Teknik Pengumpulan Data ... 32
a) Wawancara ... 34
b) Observasi ... 34
c) Dokumentasi ... 35
4. Metode Analisa Data ... 36
G. Sistematika Penulisan ... 38
BAB II Gambaran Umum A. Organisasi Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) ... 40
B. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 44
C. Kependudukan di Kelurahan Ragunan ... 49
BAB III Temuan Data dan hasil Penelitian A. Keterlibatan Perempuan dalam PKK dan Pengembangan Kesejahteraan………...53
B. Program PKK sebagai sarana peningkatan akses terhadap pemberdayaan perempuan ... 64
C. Kesadaran Kritis Perempuan dalam Mengaktualisasikan diri di PKK ... 74
xi
D. Partisipasi Perempuan dalam Kegiatan PKK dan
Lingkungan Masyarakat……….79
E. Kemampuan Kontrol Perempuan dalam PKK, Rumah Tangga dan Lingkungan Masyarakat ... 84
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ... 89
B. Saran ... 90
Daftar Pustaka ... 92
Lampiran………...97
xii Daftar Tabel
Tabel 1.1 Tabel Daftar Informan ... 30 Tabel 2.1 Kelurahan Di Kecamatan Pasar Minggu ... 44 Tabel 2.2 Program Kerja PKK Dan PKK RW.07 ... 48 Tabel 2.3 Jumlah Struktur Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Tahun 2019 ... 49 Tabel 2.4 Susunan Penduduk Menurut Umur Dan Jenis Kelamin
Di Kelurahan Ragunan ... 50 Tabel 3.1 Temuan Data Dimensi Kesejahteraan………...59 Tabel 3.2 Bentuk Kegiatan Program UP2K ………..…....66
xiii
Daftar Gambar
Gambar 2.1 Batasan Wilayah Kelurahan Ragunan ... 46 Gambar 2.2 Piramida Penduduk Kelurahan Ragunan Tahun 2019 ... 51
xiv Daftar Bagan
Bagan 1.1 Piramida Analisis Longwe ... …28 Bagan 2.1 Mekanisme Gerakan PKK di Kelurahan……….…..43 Bagan 2.2 Struktur Organisasi PKK RW. 07 Kelurahan Ragunan………47
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Pedoman Wawancara ... 97 Lampiran 2. Dokumentasi………...102
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Pernyataan masalah
Perempuan Indonesia masih menghadapi banyak masalah dalam bidang ekonomi, politik dan sosial. Permasalahan perempuan di bidang ekonomi selalu berkaitan dengan pendapatan. Dalam kegiatan usaha, perempuan terbagi menjadi empat kelompok yaitu perempuan tidak mampu berusaha karena beban kemiskinan, perempuan yang belum atau tidak berusaha, perempuan pengusaha mikro dan perempuan pengusaha kecil dan menengah (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2012). Permasalahan yang dihadapi antara kelompok-kelompok perempuan tersebut memiliki sedikit perbedaan, namun secara garis besar persoalan pokok yang dihadapi perempuan pengusaha mikro kecil dan menengah pada umumnya terletak pada aspek pemasaran, permodalan, sumber daya manusia, teknologi, rendahnya penguasaan perempuan pada aset produksi serta dibutuhkannya pendampingan dari lembaga yang mampu memberikan kemudahan pengembangan usaha bagi perempuan.
Kontribusi perempuan dalam usaha mikro sangat penting bagi perekonomian nasional. Terdapat lebih dari 30 juta perusahaan mikro, kecil dan menengah yang 60% nya terdiri dari perempuan. Menurut Sakernas
2
(2018) dalam (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2019) presentase perempuan yang bekerja pada sektor formal sebesar 38,20 % dan pada sektor informal sebesar 61,80 %. Dari 17 lapangan pekerjaan, mayoritas perempuan bekerja pada 3 lapangan pekerjaan utama, pertama pada sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebanyak 26,62%.
Kedua, pada sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor sebanyak 23,71%. Ketiga, pada sektor industri dan pengolahan sebanyak 16,45%. Hal tersebut menunjukkan sebagian besar perempuan masih bekerja di sektor informal.
Proporsi tersebut menunjukkan dua indikasi, yaitu masih banyaknya keterbatasan akses perempuan untuk masuk ke dalam sektor formal dan perempuan memilih bekerja pada sektor informal dengan pertimbangan tugas domestik yang harus dilakukan sebagai seorang istri atau ibu. Dengan bekerja di sektor informal, para pekerja biasanya tidak memiliki jaminan perlindungan sosial, hukum dan jaminan kesehatan yang memadai. Selain itu, tingkat pendapatan para pekerja juga cenderung rendah. Menurut data (Badan Pusat Statistik, 2019) rata-rata pendapatan yang diterima oleh pekerja laki-laki lebih tinggi dibandingan dengan pekerja perempuan. Pada tahun 2018, rata-rata upah pekerja laki-laki sebesar Rp 2,74 juta, sedangkan rata-rata upah pekerja perempuan sebesar Rp 2,18 juta. Sebagian besar pekerja baik laki-laki maupun perempuan menerima upah dua juta rupiah atau lebih. Pada tahun
3
2016 persentase pekerja laki-laki yang menerima upah dua juta rupiah atau lebih ada sebesar 47,61% meningkat menjadi 57,04% pada tahun 2018.
Sementara, persentase pekerja perempuan yang menerima upah dua juta rupiah atau lebih mengalami peningkatan dari 36,45% menjadi 40,70%.
Selain masih banyaknya pekerja perempuan dalam sektor informal dan rendahnya pendapatan perempuan, tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan, pada tahun 2019 presentase TPAK yaitu laki-laki sebesar 83,18% dan perempuan sebesar 55,50%. Dengan demikian, walaupun perempuan telah berperan dalam angkatan kerja, namun mereka tidak memiliki akses dan peluang pasar untuk membantu perempuan dapat bersaing dengan laki-laki.
Selanjutnya dalam bidang politik, partisipasi perempuan dalam bidang politik dan ruang publik masih terbilang cukup rendah. Rendahnya keterwakilan perempuan di ranah politik salah satunya disebabkan masih mengakarnya budaya patriarki pada sebagian besar masyarakat Indonesia (Fauzziyah, 2018). Perempuan dicitrakan dan diposisikan sebagai pihak yang tidak memiliki otonomi dan kemandirian termasuk dalam bidang politik..
Untuk sebagian besar perempuan, khususnya pada tingkat akar rumput dan pedesaan menganggap politik merupakan ruang publik yang tabu bagi perempuan. Selain itu, politik juga dinilai lekat dengan sifat maskulin serta belum sepenuhnya perempaun memahami nilai-nilai demokrasi dan pemilu
4
sebagai sarana membangun masa depan Indonesia yang demokratis (Hidayah, 2018). Secara global perempuan sudah memiliki hak untuk memilih, namun hal tersebut belum memberikan dampak yang terlalu besar, terutama dalam penentuan kebijakan politik dan ekonomi dikarenakan perempuan masih menempati posisi sebagai minoritas (Fakih, 1996). Perempuan lebih diidentikan dengan peran domestik sebagai istri dan ibu rumah tangga (Ilyas, 1997). Seperti sekitar tahun 1990-an, hanya enam negara di dunia ini yang memiliki pemimpin perempuan. Dari 93 negara di dunia hanya 3,5% dari menteri-menteri kabinetnya adalah perempuan. Bahkan hanya 10% posisi senior di PBB yang dijabat kaum perempuan (Ilyas, 1997). Di Indonesia sendiri, kuota 30% untuk perwakilan perempuan di parlemen belum direalisasikan secara maksimal (Hidayah, Keterwakilan Perempuan dalam Politik, 2018). Banyak masalah yang menjadi sebab rendahnya pemenuhan kuota ini, mulai dari budaya yang masih menghambat perempuan, kurangnya dukungan publik hingga berbagai hambatan sistemik (Misi, 2017).
Begitu hal nya dalam bidang sosial, permasalahan perempuan masih banyak dijumpai (Misi, 2017). Misalnya masih banyaknya diskriminasi perempuan dan kekerasan terhadap perempuan. Menurut data catatan tahunan (Komisi Nasional Perempuan , 2019), jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat 14% dibandingkan tahun 2018. Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan tahun 2019 tercatat sebanyak 406.178 kasus.
Data tersebut bersumber dari perkara yang ditangani oleh pengadilan negeri
5
atau pengadilan agama. Berdasarkan data yang terkumpul, jenis kekerasan yang peling menonjol adalah KDRT 9.637 kasus (71%), kekerasan terhadap perempuan di ranah komunitas/publik 3.915 kasus (28%) yang terdiri dari kasus pencabulan, perkosaan, pelecehan seksual dan persetubuhan, serta kekerasan terhadap perempuan di ranah negara 16 kasus (0,1%). Kekerasan yang paling banyak terjadi adalah kekerasan fisik sebanyk 3.927 kasus (41%), kekerasan seksual sebanyak 2.988 kasus (31%), kekerasan psikis sebanyak 1.658 kasus (17%) dan kekerasan ekonomi sebanyak 1.064 kasus (11%).
Permasalahan selanjutnya adalah masih banyak ditemui pernikahan dini dan paksa serta sunat perempuan. Perkawinan anak perempuan juga dilegitimasi oleh undang-undang yang mengatur 16 tahun sebagai usia minimum perempuan untuk dapat menikah. Hal ini didukung juga dengan kuatnya pandangan konservatif masyarakat. Kemudian, belum adanya jaminan partisipasi penuh dan efektif serta kesempatan yang sama bagi perempuan untuk memimpin dan mengambil keputusan dalam kehidupan politik, ekonomi dan masyarakat. Dan yang terakhir adalah masih dibutuhkannya akses universal terhadap kesehatan seksual dan reproduksi serta hak reproduksi.
Berbagai permasalahan tersebut menunujukkan perempuan membutuhkan proses pemberdayaan yang juga didukung oleh masyarakat agar perempuan bisa mendapatkan hak-haknya secara setara dengan laki-
6
laki. Pemberdayaan dinilai berkaitan dengan kekuasaan secara individual dan kolektif. Maka dari itu, dalam pelaksanaan suatu program pemberdayaan dibutuhkan suatu perencanaan pembangunan yang berwawasan gender sehingga kebijakan yang diterapkan dinilai sensitif terhadap isu gender.
Selanjutnya ketika program-program tersebut dijalankan secara sinergi,bertahap dan berkesinambungan kedepannya akan mampu meningkatkan potensi dan kemampuan perempuan dalam berbagai kegiatan pembangunan di Indonesia. Sehingga, agar hal tersebut dapat terwujud maka harus melibatkan berbagai pihak mulai dari Pemerintah, LSM atau Organanisasi non Pemerintah, Perguruan tinggi dan sebagainya serta dilakukan secara berkesinambungan (Nugroho, 2008).
Salah satu perwujudan perhatian dari pemerintah untuk mengaktifkan perempuan dalam kehidupan sosial masyarakat dan partisipasi dalam pembangunan adalah program pembinaan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). PKK atau Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga adalah gerakan pembangunan masyarakat yang terbentuk melalui Seminar Ekonomi di Bogor pada tahun 1957. Program ini merupakan salah satu sarana yang digunakan oleh pemerintah untuk menyalurkan program-program untuk para perempuan baik pada tingkat masyarakat bawah, di pedesaan maupun di perkotaan.
7
Melalui program PKK diharapkan perempuan memiliki wadah atau tempat untuk beraktualisasi, mengekspresikan diri mereka dan berperan aktif dalam sosial masyarakat sehingga tujuan pembangunan bisa tercapai. Namun, dalam pelaksanaan program pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh PKK, belum di analisis lebih lanjut berhasil atau tidaknya pemberdayaan perempuan tersebut, efektif atau tidaknya program tersebut serta berpengaruh atau tidak terhadap kesejahteraan perempuan yang terlibat aktif dalam organisasi PKK. Maka dari itu penulis tertarik untuk mengkaji isu ini menggunakan menggunakan analisis gender Longwe untuk melihat tingkat keberhasilan pemberdayaan yang dilakukan oleh PKK.
Berdasarkan pernyataan masalah diatas, skripsi ini akan meneliti mengenai bagaimana pemberdayaan perempuan melalui kelompok dasawisma PKK (studi pada perempuan yang aktif di dasawisma dahlia PKK RW.07) di PKK Kelurahan Ragunan,Pasar Minggu, Jakarta Selatan menggunakan analisis gender longwe.
B. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan penjelasan dari latar belakang permasalahan di atas, maka peneliti membuat pertanyaan penelitian yaitu :
Bagaimana keberhasilan dari pemberdayaan perempuan yang dilakukan Organisasi PKK dilihat dari teori pemberdayaan Longwe?
8
C. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
Adapun Tujuan dan Manfaat skripsi ini adalah :
Untuk menjelaskan bagaimana keberhasilan dari pemberdayaan perempuan yang dilakukan Organisasi PKK dilihat dari teori pemberdayaan Longwe.
Kemudian dengan skripsi yang peneliti tulis ini, peneliti berharap bisa memberikan manfaat baik manfaat akademis maupun praktis berupa :
1. Manfaat Teoritis : Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam kajian sosiologi khususnya sosiologi gender mengenai pemberdayaan perempuan di Indonesia.
2. Manfaat Praktis : Penelitian ini diharapkan bisa menjadi sumber bacaan atau referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya mengenai studi sosiologi gender terkhusus bagi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif hidayatullah Jakarta jurusan Ilmu Sosiologi.
D. Kajian Pustaka (Literature Review)
Penelitian tentang pemberdayaan perempuan sudah banyak dilakukan, ada yang menggunakan teori pemberdayaan dengan fokus pada
9
organisasi perempuan dan ada yang melihat pemberdayaan perempuan dengan melihat perempuan secara individual. Penelitian ini akan difokuskan untuk melihat berhasil atau tidaknya suatu proses pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh Organisasi PKK dengan melihat perempuan secara individual.
Adapun beberapa penelitian terdahulu yang berfokus pada peran organisasi perempuan dalam melakukan pemberdayaan perempuan telah dilakukan oleh (Oyelude & Bamigbola, 2013); (Wambua, 2013);
(Hossain, Hossain, & Khatun, 2017); (Harthanti & Syamsiar, 2016);
(Foilyan, Idris, & Swasto, 2009) yang secara umum membahas bagaimana peran organisasi perempuan menyediakan program-program dan fasilitas untuk memberdayakan perempuan. Mulai dari program pelatihan keterampilan, pelatihan penggunaan teknologi, pinjaman modal usaha dan lain sebagainya.
Tidak jauh berbeda dengan upaya pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh Organisasi Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Indonesia. Seperti yang diteliti oleh (Aslichati, 2011);
(Trisnawati & Jatiningsih, 2017); & (Riana, Sjamsuddin, & Hayat, 2011), Metode pemberdayaan yang dilakukan adalah dengan menjalankan program kerja dari PKK, yang kemudian diwujudkan kedalam berbagai program dan kegiatan seperti posyandu, pemberian modal usaha, fasilitas
10
untuk mengakses informasi dan sumberdaya, serta berbagai kegiatan pelatihan keterampilan yang bertujuan mampu untuk dijadikan peluang usaha bagi perempuan.
Beberapa penelitian tersebut memiliki kesamaan dalam metode pelaksanaannya yaitu sebatas merancang dan menjalankan program serta menyediakan fasilitas untuk membedayakan perempuan. Namun tidak dibahas lebih spesifik mengenai berhasil atau tidaknya pemberdayaan tersebut dan apakah program-program pemberdayaan tersebut sudah responsif gender atau belum? Berbeda dengan penelitian terdahulu, peneliti ini akan melihat berhasil atau tidaknya proses pemampuan perempuan yang dilakukan oleh Organisasi PKK, dan juga menilai program-program pemberdayaan perempuan yang disediakan oleh Organisasi PKK apakah sudah responsive gender atau belum.
Penelitian ini ingin melihat subyek penelitian adalah perempuan secara individu, yang aktif dalam organisasi PKK dengan menggunakan analisis gender Longwe. Analisis Gender Longwe adalah suatu teknik analisis yang dikembangkan sebagai metode pemberdayaan perempuan dengan lima kriteria analisis meliputi Kesejahteraan, Akses, Kesadaran kritis, Partisipasi dan Kontrol (Handayani & Sugiarti, Konsep dan Teknik Penelitian Gender, 2008). Analisis Longwe ini digunakan untuk menganalisis proses pemampuan perempuan, yang berfokus pada upaya
11
menangani isu gender yang menjadi kendala dalam proses pemberdayaan perempuan.
Adapun penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Setyawati &
Susanto, 2013); (Avillia, 2006); (Noor, 2010) dan (Lestari, 2013) menggunakan teknik analisis gender Longwe untuk menganalisis kesenjangan gender dan belum maksimalnya pemberdayaan perempuan yang dilakukan dilihat melalui lima kriteria pemberdayaan yaitu kesejahteraan,akses,kesadaran kritis,partisipasi dan kontrol. Selain itu, penelitian tersebut juga melihat bagaimana pencapaian dari proses pemberdayaan perempuan yang dilakukan.
Penelitian yang dilakukan oleh (Setyawati & Susanto, 2013), membahas bagaimana partisipasi perempuan dalam pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Bantul serta alasan perempuan terlibat dalam program tersebut. Pada sektor pendidikan, proyek yang dijalankan berupa rehabilitasi gedung sekolah. Kemudian, pada sektor prasarana proyek yang dijalankan berupa pengaspalan jalan dan reboisasi.
Dalam kasus ini, dimensi kesejahteraan bernilai negatif(-) karena kedua program tersebut belum mampu meningkatkan kesejahteraan perempuan.
Dalam dimensi akses dinilai netral, karena jika dilihat dari segi kebijakan program tersebut tidak mengaitkan isu perempuan, namun tidak ada dampak buruk terhadap perempuan secara langsung. Selanjutnya dalam
12
dimensi penyadaran dinilai positif (+),para perempuan menyadari bahwa mereka harus ikut berperan aktif dalam kegiatan masyarakat , dan kedua program telah menyosialisasikan sikap kritis terhadap pembagian kerja dan menempatkan perempuan dan laki-laki pada posisi yang sama.
Kemudian pada dimensi partisipasi dinilai positif (+) karena menunjukkan bahwa partisipasi perempuan yang sudah baik , dilihat dari keikutsertaan mereka mulai dari penyusunan program, pelaksanaan sampai evaluasi program. Dan yang terakhir pada dimensi kontrol dinilai positif (+) karena menunjukan tidak adanya kuasa yang timpang atau tidak ada salah satu pihak yang mendominasi. Karena hampir seluruh program memiiliki nilai positif (+) disimpulkan bahwa isu perempuan sudah diintegrasikan pada pelaksanaan program pemberdayaan perempuan.
Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh (Avillia, 2006) ,membahas upaya pemberdayaan perempuan melalui Koperasi Bina Usaha Wanita (KBUW) ,di kota Cimahi. Tingkat pemberdayaan perempuan di KBUW bersifat negatif atau tidak tercapai. Pada dimensi kesejahteraan bersifat negatif (-), karena pinjaman modal yang diberikan oleh KBUW tidak dimanfatkan dengan baik. Kemudian, dimensi akses juga bersifat negatif (-), karena perempuan masih kesulitan untuk mengakses berbagai kegiatan KBUW disebabkan peran domestik perempuan sebagai ibu rumah tangga. Selanjutnya pada dimensi kesadaran kritis bersifat negatif (-), karena perempuan menjadi anggota koperasi bukan karena kesadaran
13
dirinya melainkan permintaan dari suami mereka untuk mendapat pinjaman modal usaha. Lalu pada dimensi partisipasi juga bersifat negatif (-), karena partisipasi perempuan dalam KBUW hanya terbatas pada kehadiran, dan dalam hal kehadiran pun masih mengalami kendala berupa kegiatan reproduktif. Perempuan juga belum terlibat dalam proses pengelolaan koperasi. Terakhir pada dimensi kontrol juga bersifat negatif (-), artinya perempuan tidak memiliki kontrol dalam penggunaan modal usaha, pembayaran cicilan atau iuran anggota meskipun mereka yang meminjam modal ke KBUW. Peran anggota perempuan disini hanya sebagai nama untuk meminjamkan modal usaha untuk suami mereka.
Selain itu, pengurus pun tidak memiliki kontrol terhadap pengelolaan KBUW karena banyak dipengaruhi oleh suami mereka. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dikatakan bahwa seluruh program KBUW bersifat negatif (-) atau belum bersifat responsive gender
Kemudian pada penelitian yang dilakukan oleh (Noor, 2010) membahas pemberdayaan ekonomi perempuan dalam prespektif gender di Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Bima. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan program yang dilaksanakan untuk penguatan peran ekonomi perempuan bernilai Negatif (-). Selanjutnya dalam program peningkatan kesejahteraan keluarga dengan bantuan yang diberikan pada perempuan seperti modal usaha, program ini dikategorikan Netral karena perempuan dinilai hanya menjadi gerbang bagi pendapatan
14
kesejahteraan keluarga. Sebagian besar program di Lombok Timur dan Bima masih tergolong dalam pembinaa perempuan produktif dengan tujuan meningkatkan perempuan untuk meningkatkan penghasilan kesejahteraan keluarga. Program yang responsive gender masih terbilang terbatas. Maka, kebijakan dan program pada dua Kabupaten ini dilihat belum memberdayakan perempuan, dalam arti mendorong perempuan untuk mampu berdaya mengontrol kepentingannya. Selanjutnya, dengan bidang sosial budaya meliputi program penguatan kinerja usaha yang didalamnya mencakup bantuan modal usaha,pembinaan usaha dan pengembangan kapasitas pelaku usaha berupa bimbingan,pelaihan,magang dan lain sebagainya Negatif (-) karena tidak merekognisi isu perempuan.
Selanjutnya dalam konteks pemberdayaan ekonomi perempuan, kebijakan dan program yang dibuat . bersifat Netral bahkan Buta Gender. Artinya, kapasitas lokal masih belum mampu mengidentifikasi dan mengembangkan kapasitas perempuan sebagai aktor pembangunan.
Dan yang terakhir pada penelitian yang dilakukan oleh (Lestari, 2013) menggunakan analisis gender Longwe untuk melihat partisipasi perempuan dalam proses pemberdayaan melalui PNPM Mandiri Perkotaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan partisipasi perempuan dalam proses pemberdayaan melalui PNPM Mandiri Perkotaan ditunjukkan dengan tingkat kehadiran dalam kegiatan pemberdayaan.
15
Selanjutnya, terdapat faktor pendorong dan penghambat dalam pemberdayaan. Faktor pendorongnya meliputi adanya kesadaran perempuan untuk membangun desa, dukungan dari suami serta keterlibatan perempuan. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu adanya beban ganda, tidak adanya akses pinjaman dan waktu pelaksanaan kegiatan. Dan yang terakhir implikasi dari partisipasi perempuan adalah meningkatnya peran perempuan yang tadinya pasif menjadi aktif.
Pada penelitian ini peneliti akan membahas bagaimana tingkat keberhasilan program pemberdayaan perempuan oleh PKK yang menggunakan lima dimensi pemberdayaan perempuan dari Longwe yaitu kesejahteraan, akses, kesadaran kritis, partisipasi dan kontrol. Maka dari itu, penelitian ini akan mengadopsi penelitian yang dilakukan selumnya yang dilakukan oleh (Setyawati & Susanto, 2013); (Avillia, 2006); (Noor, 2010) dan (Lestari, 2013) untuk melihat perempuan yang aktif dalam organisasi PKK dengan menggunakan teknik analisis gender Longwe.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya (Setyawati & Susanto, 2013) ; (Avillia, 2006) dan (Lestari, 2013) menggunakan analisis longwe untuk melihat pemberdayaan pada organisasi non-pemerintah, dimana penelitian ini akan menganalisis Organisasi PKK yang merupakan Organisasi mitra pemerintah. Selain itu, penelitian sebelumnya yang melihat pemberdayaan perempuan oleh Organisasi PKK hanya berfokus pada program pemberdayaan yang diberikan tanpa melihat apakah program tersebut
16
sudah responsive gender serta berhasil atau tidaknya pemberdayaan perempuan yang dilihat secara individu dalam hal ini kepada perempuan yang diberdayakan. Kemudian dari lokasi penelitian, penelitian yang dilakukan oleh (Setyawati & Susanto, 2013); (Avillia, 2006) dan (Lestari, 2013) berada di daerah pedesaan, sedangkan penelitian ini akan dilakukan di daerah Ibukota Jakarta. Selain perbedaan pendekatan penelitian, fokus penelitian dan lokasi, penelitian pemberdayaan perempuan oleh Organisasi PKK belum banyak yang menggunakan analisis gender Longwe, maka dari itu penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan baru dalam kajian pemberdayaan perempuan.
E. KERANGKA TEORI
1. Pemberdayaan perempuan
Salah satu cara perempuan untuk terlibat dalam kegiatan sosial maupun dalam proses pengambilan kebijakan di lingkungannya adalah dengan terlibat dalam sebuah organisasi (Anwar, 2013). Perempuan pada umumnya semakin memiliki power atau kekuatan ketika mereka berorgansasi daripada ketika mereka bertindak sendiri secara individual. Keterlibatan perempuan dalam sebuah organisasi tidak hanya memberi ruang untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari namun juga member kesempatan bagi perempuan untuk mengungkapkan suatu permasalahan ke dalam sebuah
17
forum. Maka dari itu, sebuah organisasi dapat dikatakan merupakan sebuah instrumen bagi perempuan untuk memberdayakan dirinya sekaligus menjadi arena untuk mencari jalan keluar atas permasalahan yang dihadapi (Anwar, 2013).
Pada tingkat internasional, organisasi juga berperan penting bagi perempuan sejak abad ke-18. Selandia baru merupakan negara pertama yang memberikan hak suara kepada perempuan pada tahun 1893 (International IDEA, 2002). Hal tersebut ditandai dengan diresmikannya Undang-undang pemilihan umum oleh Gubernur Lord Glasslow pada 19 september 1893 (Nursalikah, 2016). Katherine Wilson Sheppard melalui Woman’s Christian Temperance Union (WTCU) memperjuangkan hak suara perempuan di
Selandia Baru melalui pembuatan petisi-petisi, mengadakan rapat-rapat umum, mengirim surat pada media massa dan menjalin hubungan dengan para politikus.
Di Indonesia sendiri perempuan sudah mulai berorganisasi sejak masa pra-kemerdekaan. Organisasi perempuan pertama di Indonesia adalah Poetri Mardika. Lahirnya Poetri Mardika dan gerakan perempuan di Indonesia juga merupakan bagian dari gerakan Nasional dan Internasional yang memperjuangkan emansipasi, nasionalisme dan kolonialisme. Setelah Poetri Mardika hadir mulai muncul berbagai organisasi perempuan yang merupakan bagian dari gerakan nasionalis antara lain Jong Java Meiskering, Young
18
Javanese Girls Circle, Wanita Oetomo, Aisyiah, Poetri Indonesia, Wanita Katolik, Wanito Muljo, Jong Islamieten Bond dan banyak lainnya (Darwin, 2004). Pada masa kolonial organisasi-organisasi perempuan tersebut bersama dengan gerakan nasionalis melawan ketidakadilan dari sistem kolonial sekaligus memperjuangkan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.
Penjelasan diatas menunjukkan bahwa peran organisasi perempuan sangat penting untuk pemberdayaan perempuan. Hampir tidak ada gerakan perempuan yang dilakukan untuk mendapatkan power yang dilakukan secara individual. Pada akhirnya, mereka akan membuat suatu organisasi atau mengorganisasikan diri mereka. Organisasi PKK merupakan salah satu organisasi yang membuat perempuan memiliki kekuatan untuk berdaya.
Pemberdayaan perempuan adalah suatu upaya sistematik dan terencana untuk melibatkan perempuan dalam berbagai program pembangunan dengan memberikan kesempatan dan peran yang sama dengan laki-laki untuk meningkatkan produktivitas, harkat dan martabat serta integritas sebagai individu anggota masyarakat (Imanuel, 2013).
Pemberdayaan dinilai sangat penting untuk menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki potensi untuk ikut serta dalam program-program pembangunan dan ikut serta aktif dalam kegiatan bermasyarakat. Karena biasanya perempuan selalu dibatasi secara sosial , politik maupun ekonomi untuk berperan aktif didalamnya, dikarenakan budaya patriarki yang masih
19
mengakar. keterbatasan tersebut misalnya seperti rendahnya pendidikan, keterampilan, sedikitnya kesempatan kerja, hambatan ideologis perempuan yang terkait rumah tangga serta kendala tertentu yang dikenal dengan istilah
“Tripple burden of women”, yaitu perempuan harus melakukan fungsi reproduksi, produksi dan fungsi sosial secara bersamaa n di masyarakat (Imanuel, 2013).
Menurut Aritonang dalam (Aslichati, 2011), pemberdayaan perempuan adalah “upaya peningkatan kemampuan wanita dalam mengembangkan kapasitas dan keterampilannya untuk meraih akses dan penguasaan terhadap, antara lain: pengambilan keputusan, sumber-sumber, dan struktur atau jalur yang menunjang”. Pemberdayaan perempuan dapat dilakukan dalam bentuk hadirnya berbagai pelatihan dan muncuulnya kesadaran masyarakat terkait hadirnya perempuan dalam kehidupan. Sehingga pada akhirnya perempuan memiliki keterampilan, motivasi dan rasa percaya diri untuk menyatakan jati dirinya, mengambil keputusan, dan menggerakkan perempuan lain untuk mengubah dan memperbaiki kehidupannya.
Menurut hopson dan scally dalam (Olivia, 2017), bahwa
“Pemberdayaan diri dan kelompok dapat menjadi lebih berdaya dengan mempelajari/pelatihan keterampilan-keterampilan hidup (life skils training)”.
Tentunya Skill atau keahlian sangat diperlukan sebagai bekal bagi para perempuan untuk terjun langsung dalam masyarakat. Biasanya program-
20
program pemberdayaan berupa pelatihan-pelatihan terhadap keterampilan atau keahlian tertentu yang berguna bagi perempuan tersebut.
Terdapat beberapa program-program pemberdayaan perempuan menurut (Nugroho, 2008) antara lain :
1. Penguatan organisasi kelompok perempuan di segala tingkat mulai dari kampung hingga nasional. Misalnya PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga), perkumpulan koperasi maupun yayasan sosial. Penguatan kelembagaan ditujukan untuk meningkatkan kemampuan lembaga agar dapat berperan aktif sebagai perencana, pelaksana,maupun pengontrol.
2. Peningkatan fungsi dan peran organisasi perempuan dalam pemasaran sosial program-program pemberdayaan.
3. Pelibatan kelompok perempuan dalam perencanaan, pelaksanaan dan monitoring semua program pembangunan.
4. Peningkatan kemampuan kepemimpinan perempuan, supaya memiliki posisi tawar yang setara serta memiliki akses dan peluang untuk terlibat dalam pembangunan
5. Peningkatan kemampuan anggota kelompok perempuan dalam bidang usaha (skala industri kecil/rumah tangga hingga skala industri besar) dengan berbagai keterampilan yang menunjang seperti kemampuan produksi, kemampuan manajemen usaha serta kemampuan untuk mengakses kredit dan pemasaran yang lebih luas.
21
Menurut (Nugroho, 2008) terdapat empat langkah strategis untuk melaksanakan pemberdayaan perempuan,yaitu :
1. Pemberdayaan Perempuan (Women Empowerment).
Pemberdayaan Perempuan (women empowerment) merupakan sebuah proses tranformasi relasi kuasa gender yang bersifat dari bawah ke atas (bottom-up) baik secara individual maupun kelompok karena berkembangnya kesadaran akan subordinasi perempuan dan terbangunnya kemampuan untuk menghadapinya.
2. Kesetaraan Gender (Gender Equality).
Kesempatan gender yang sama (Gender Equality) memiliki arti bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam menjalankan kehidupan sama seperti laki-laki, termasuk dalam kemampuan untuk berpartisipasi di arena publik.
3. Pemberian Peluang dan Penguatan Aksi (Affirmative Action).
Ini merupakan sebuah cara yang banyak direkomendasikan untuk mencapai kesetaraan kaum perempuan. Ketidaksetaraan perempuan terjadi di semua lini akibat struktrur budaya patriarki pada ranah publik dan privat. Secara historis , istilah affirmative action diaplikasikan di ranah publik di mana negara dan institusi publik mengeluarkan kebijakan yang memberikan peluang atau perlakuan khusus kepada perempuan. Termasuk, kebijakan
22
kuota di lembaga-lembaga negara dan publik: parlemen, pemerintahan, institusi pendidikan dan lapangan pekerjaan.
4. Harmonisasi atau Sinkronisasi Peraturan/Perundang-undangan dan Kebijakan (Synchronization of Regulations and Policies). Sinkronisasi merupakan salah satu langkah untuk melihat suatu peraturan peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi suatu bidang kehidupan tertentu tidak saling bertentangan antara satu dengan yang lain apabila dilihat dari sudut vertikal atau hierarki peraturan perundang-undangan yang ada.
Tahap-tahap pemberdayaan
Menurut (Sulistiyani, 2004) terdapat tiga tahap pemberdayaan, antara lain :
1. Tahap penyadaran dan pembentukan perilaku mengarahkan pada perilaku sadar dan peduli yang membuat individu merasa membutuhkan peningkatan kapasitas diri.
2. Tahap transformasi kemampuan berupa wawasan pengetahuan, kecakapan keterampilan guna membuka wawasan dan memberikan keterampilan dasar sebagai modal untuk peran di dalam pembangunan.
3. Tahap peningkatan kemampuan intelektual, kecakapan keterampilan guna merangsang inisiatif dan dan melahirkan kemampuan inovatif untuk mengantarkan pada kemandirian.
23 2. Teknik Analisis Gender Longwe
Dalam menganalisis data penelitian ini penulis mengunakan pendekatan analisis gender longwe. Pendekatan analisis Longwe (Sara Hlupekile Longwe) atau juga dikenal dengan Kriteria Pembangunan Perempuan (Women’s Empowerment Criteria atau Women’s Development Criteria), adalah suatu teknik analisis yang dikembangkan sebagai metode
pemberdayaan perempuan dengan lima kriteria analisis yang meliputi : kesejahteraan, akses, kesadaran kritis, partisipasi, dan kontrol (Handayani &
Sugiarti, 2008).
Kelima dimensi pemberdayaan perempuan ini merupakan kategori analitis yang bersifat dinamis, saling melengkap dan bersinergi satu sama lain serta bersifat hirarkis. Selain itu lima dimensi ini merupakan tingkatan yang bergerak memutar seperti spiral, makin tinggi tingkat kesetaraan maka otomatis semakin tinggi pula tingkat keberdayaan. Derajad sensitivitas terhadap isu gender dinilai dengan Negatif, Netral dan Positif. Nilai Negatif (-) menunjukkan bahwa tujuan proyek tanpa mengaitkan isu perempuan.
Selanjutnya nilai Netral menunjukkan bahwa isu perempuan sudah dilihat namun belum ditangani dan nilai Positif (+) menunjukkan bahwa tujuan proyek sudah memperhatikan isu perempuan dan menanganinya yang berpengaruh pada pola relasi antara laki-laki dan perempuan.
24
Teknik analisis longwe ini digunakan untuk menganalisis proses pemampuan perempuan dan memahami lima dimensi pemberdayaan sehingga dapat menginterpretasikan pembangunan perempuan sebagai proses penting dan bagian integral dari proses pembangunan serta untuk mencapai pemerataan gender melalui lima dimensi pemberdayaan tersebut. Analisis ini juga dapat digunakan untuk melihat kebutuhan dan isu perempuan dalam implementasi proyek, evaluasi dan program pembangunan, serta melihat derajad sensitivitas pada isu perempuan dengan menilai negatif, netral atau positif.
Dalam aplikasinya, upaya pembangunan perempuan berfokus pada upaya penanganan isu gender yang menjadi kendala dalam proses pemenuhan kepentingan perempuan dan mencapai pemerataan gender bagi perempuan dan laki-laki. Kriteria pembangunan perempuan juga digunakan untuk mengidentifikasi ketimpangan structural akibat diskriminasi gender yang dapat merugikan perempuan atau laki-laki. Pembangunan tidak hanya meliputi peningkatan akses terhadap sumber dan manfaat, melainkan juga bagaimana akses dan manfaat dapat diperoleh. Terdapat lima dimensi dalam pendekatan analisis gender longwe, yaitu : Dimensi Kesejahteraan, Dimensi Akses, Dimensi Kesadaran Kritis, Dimensi Partisipasi dan Dimensi Kontrol.
Penjelasannya adalah sebagai berikut :
25 a. Dimensi Kesejahteraan
Pada dimensi kesejahteraan aspek utama yang dilihat adalah kesejahteraan material yang diukur dari tercukupinya kebutuhan seperti makanan,penghasilan,perumahan dan kesehatan. Dalam dimensi ini, dikatakan bahwa perempuan juga harus memiliki aset untuk diberdayakan dan memiliki peluang untuk memberdayakan dirinya.
Maka dari itu tingkatan ini juga disebut dengan zero level of women’s empowermen atau tingkatan nihil dari pemberdayaan. Maka dari itu,
diperlukan keterlibatan perempuan pada proses pemberdayaan dan tinkat pemerataan yang lebih tinggi.
b. Dimensi Akses
Pada dimensi akses memfokuskan pada perbedaan akses antara laki-laki dan perempuan terhadap sumber daya. Dalam hal ini perempuan dinilai memiliki kesempatan akses yang rendah dibandingkan dengan laki-laki. Rendahnya akses perempuan berimplikasi pada rendahnya produktivitas perempuan. Selain itu, perempuan juga sulit untuk mengembangkan skill yang mereka miliki.
Maka dari itu, pemerataan akses yang dibutuhkan adalah meningkatkan kemampuan perempuan dengan memberikan akses dalam sektor-sektor tertentu untuk mendapatkan kesempatan pendidikan, pelatihan keterampilan, kesempatan bekerja sampai kesempatan mengakses
26
informasi yang setara dengan laki-laki. Namun, pemerataan akses pun dinilai belum cukup karena diskriminasi sistemik harus diretas melalui penyadaran.
c. Dimensi Kesadaran Kritis
Pada dimensi kesadaran kritis, dilihat perlunya menumbuhkan sikap kritis dan menolak adanya subordinasi terhadap perempuan.
Dalam hal ini, kesadaran gender menjadi elemen ideology dalam proses pemberdayaan yang juga menjadi landasan konseptual untuk menuju kesetaraan. Maka dari itu, apabila kesadaran sudah muncul dari dalam diri individu, khususnya perempuan, pada akhirnya mampu menyadari apa yang seharusnya dilakukan untuk mewujudkan keadilan gender.
d. Dimensi Partisipasi
Pada dimensi partisipasi, melihat pemerataan partisipasi perempuan baik dalam keaktifan dalam kegiatan organisasi sampai penetapan keputusan, perencanaan penentuan kebijakan. Hal tersebut merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan. Selain itu, Perempuan juga tidak lagi dijadikan sebagai objek pembangunan, melainkan ikut berpartisipasi melaksanakan pembangunan. Dengan berpartisipasi secara aktif dalam program pembangunan, akan meningkatkan peran serta perempuan, yang juga menjadi salah satu hasil dari pemberdayaan. Dalam hal ini partisipasi juga meliputi
27
keikutsertaan perempuan dalam berbagai kegiatan seperti penetapan kebutuhan,formulasi proyek, implementasi dan monitoring serta evaluasi.
e. Dimensi Kontrol
Pada dimensi kuasa atau kontrol, membahas mengenai kesetaraan kuasa. Kesetaraan kuasa yang dimaksud adalah kuasa yang seimbang antara laki-laki dan perempuan,tidak ada pihak yang saling mendominasi satu sama lain. Kentimpangan kuasa juga dapat dilihat pada tingkat rumah tangga, komunitas sampai tingkatan yang lebih luas lagi. Dalam hal ini berarti, perempuan memilki kuasa untuk mengubah kondisi posisi, keberlangsungan masa depan diri dan komuniatasnya.
Kesetaraan kuasa juga merupakan syarat dari kesetaraan gender dan keberdayaan masyarakat.
28
Bagan 1.1 Piramida Analisis Longwe
Sumber : Konsep dan Teknik Penelitian Gender, Handayani (2008, 172).
Dalam pembahasan ini, lima dimensi pembangunan perempuan menjadi kerangka untuk menganalisa proses pemampuan perempuan, dalam hal ini adalah pemberdayaan perempuan yang dilaksanakan oleh Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Selanjutnya, melalui analisis gender prespektif longwe ini akan dapat diidentifikasi bagaimana efektivitas (cakupan,kesinambungan dan tingkat keberhasilan) PKK dalam proses pemberdayaan perempuan di PKK Kelurahan Ragunan, Jakarta Selatan.
Akses Kesadaran Kritis
Partisipasi Kontrol
Kesejahteraan
29 F. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan tujuan untuk membantu mendeskripsikan fenomena dan mempermudah pemahaman atas substansi penelitian terkait pemberdayaan perempuan melalui PKK. Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan data melalui teknik wawancara, observasi, studi pustaka serta studi dokumen dan selanjutnya data dianalisis untuk memahami dan memberikan kesimpulan dari penelitian.
1. Metode Penentuan informan
Dalam memilih informan, peneliti menggunakan metode purpossive. Terdapat 20 informan yang penulis pilih sesuai dengan kriteria
dan dapat memberikan informasi terkait PKK. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka penulis menentukan informan sebagai berikut:
30
Tabel 1.1 Daftar Informan Penelitian
No. Nama Usia Pendidikan Status / Pekerjaan
Posisi di PKK
1. SL 58 Tahun SMA Ibu rumah
tangga
Ketua PKK Kelurahan Ragunan
2. MR 42 Tahun SMA Ibu rumah
tangga
-Wakil ketua III PKK Kelurahan Ragunan / -Koordinator Dasawisma RW.07
3. ST 60 Tahun SMA Ibu rumah
tangga
Ketua PKK RW.07
4. YN 64 Tahun SMA Ibu rumah
tangga
Koordinator Jumantik RW 07
5. HM 31 Tahun D3 Ibu rumah
tangga
Ketua Dasawisma Dahlia 10 RW.07
6. PY 58 Tahun SMA Ibu rumah
tangga
Anggota PKK Dasawisma RW.07
31
7. WY 40 Tahun SD Ibu rumah
tangga
Anggota
Jumantik dan PKK
Dasawisma RW. 07
8. EW 38 Tahun SMA Ibu rumah
tangga
Anggota PKK Dasawisma RW. 07
9. FT 42 Tahun SMA Ibu rumah
tangga
Anggota PKK Dasawisma RW. 07
10. DD 45 Tahun SMA Ibu rumah
tangga
Ketua Dasawisma Dahlia 9 RW.07
11. RY 55 Tahun SMA Ibu rumah
tangga
Anggota PKK Dasawisma RW. 07
12. YI 40 Tahun S1 Ibu rumah
tangga
Ketua Dasawisma Dahlia 3 RW.07
13. HP 45 Tahun SMA Ibu rumah
tangga
Anggota PKK Dasawisma RW. 07
14. AA 58 Tahun SMA Ibu rumah
tangga
Ketua Dasawisma Dahlia 5 RW.07
15. RM 48 Tahun SMA Ibu rumah
tangga
Anggota PKK Dasawisma RW. 07 16. UR 48 Tahun SMA Suami / Kurir -
32
17. CY 35 Tahun SMA Suami /
Satpam
-
18. MW 60 Tahun SMA Suami /
Ketua RT -
19. SH 65 Tahun S1 Suami /
Wirausaha -
20. RA 42 Tahun S1 Suami /
Karyawan Swasta
-
2. Lokasi Penelitian
Lokasi dilaksanakannya penelitian ini bertempat di PKK wilayah Kelurahan Ragunan, Jakarta Selatan. Penulis memilih lokasi penelitian tersebut sebagai tempat penelitian karena PKK Kelurahan Ragunan dinilai cukup aktif dalam menjalankan kegiatan PKK, dan kian menuai prestasi dari keaktifan para kadernya dalam PKK, yang kemudian hal tersebut menjadi fokus penelitian, dilihat dari keadaan masyarakat dan keaktifan para anggota PKK Kelurahan Ragunan bahwa PKK mampu membantu memberdayakan perempuan.
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data yang diperoleh terbagi menjadi dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini dengan
33
pencarian data lapangan dengan cara menggali informasi melalui Wawancara, Observasi dan Dokumentasi terkait kegiatan pemberdayaan perempuan melalui PKK di Kelurahan Ragunan.
Selanjutnya data sekunder dalam penelitian ini seperti arsip atau data yang dimiliki oleh PKK Kelurahan Ragunan dan PKK RW Dasawisma Dahlia , profil kelurahan ragunan, profil PKK Kelurahan Ragunan, Program PKK, selanjutnya yaitu referensi yang berhubungan dengan pemberdayaan perempuan melalui organisasi sebagai rujukan dengan alasan keakuratannya.
a. Wawancara
Wawancara dilakukan kepada 15 informan perempuan dan 5 informan laki-laki dengan kriteria sebagai berikut :
1. Pengurus PKK Kelurahan Ragunan (dua orang)
2. Pengurus Kelompok PKK Dasawisma Dahlia, Kelurahan Ragunan (dua orang )
3. Ketua Kelompok PKK Dasawisma Dahlia, Kelurahan Ragunan (empat orang)
4. Anggota Kelompok PKK Dasawisma (Aktif) , Kelurahan Ragunan (tujuh orang)
5. Suami kader dasawisma (empat orang)
6. Tokoh masyarakat laki-laki (satu orang)
34
Teknik wawancara dilakukan dengan wawancara perorangan.
Wawancara perorangan dimaksudkan untuk memperoleh informasi terkait keterlibatan mereka di PKK Kelurahan Ragunan dan untuk memperoleh informasi mengenai kondisi kelembagaan PKK. Selain itu, dalam melakukan wawancara juga dilakukan untuk menggali apakah dengan menjadi anggota PKK mampu memberdayakan perempuan yang dilihat melalui analisis gender Longwe.
Adapun beberapa pertanyaan yang diajukan meliputi bagaimana perbedaan kondisi perempuan sebelum dan setelah menjadi anggota PKK, serta apakah kegiatan pemberdayaan yang dilakukan melalui PKK memberikan pengaruh terhadap pola relasi kuasa dalam rumah tangga dan lingkungan masyarakat.
b. Observasi
Teknik observasi ini dilaksanakan secara langsung dalam jangka waktu satu bulan, yakni pada bulan agustus 2019 sampai bulan September 2019. Observasi berlangsung di beberapa tempat seperti di Rakor PKK Kelurahan Ragunan dan tempat pelaksanaan posyandu dan poslansia, untuk mempermudah observasi, peneliti menggunakan bantuan seperti catatan kecil, kamera dan recorder.
35
Ketika melakukan observasi pada saat Rakor PKK Kelurahan, peneliti mengamati bagaimana mekanisme berjalannya rapat, yang dihadiri oleh seluruh kader dasawisma PKK kelurahan ragunan dan pengurus kelurahan, petugas kesehatan dan petugas penyuluhan.
Dalam rapat tersebut membahas laporan kinerja dari setiap kelompok dasawisma, yang dilanjutkan dengan pemberian arahan dari petugas kasikesra dan diakhiri dengan pemberian penyuluhan.
Kemudian pada observasi yang dilakukan di tempat pelaksanaan posyandu dan poslansia, peneliti mengamati jalannya kegiatan posyandu yang dijalankan oleh para kader khusus posyandu, mulai dari pendaftaran, penimbangan balita, pemberian imunisasi dan makanan sehat. Tidak jauh berbeda dengan poslansia yang dijalankan oleh para kader khusus poslansia, diawali dengan pendaftaran, cek kesehatan gratis dan pemberian penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh perwakilan puskesmas.
c. Dokumentasi
Dalam skripsi ini, studi dokumen yang digunakan berupa buku- buku pedoman dari pengurus PKK Kelurahan Ragunan, buku pedoman dari PKK Dasawisma Dahlia Kelurahan Ragunan, buku literature penunjang skripsi serta Foto-foto kegiatan PKK yang
36
bersumber dari dokumentasi pribadi penulis dan Dokumentasi PKK RW.07.
4. Metode analisis data
Metode analisis data merupakan pengumpulan data secara sistematis untuk memudahkan peneliti dalam memperoleh kesimpulan.
Analisis data menurut Bogdan, dalam (Sugiyono, 2009) yaitu proses mencari dan menyusun secara sistematik data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain.
Selanjutnya, menurut (Milles & Huberman, 1992) , proses analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data,penyajian data,penarikan kesimpulan atau verifikasi.
Dari data lapangan yang diperoleh seperti data informasi terkait kondisi para anggota PKK sebelum dan sesudah bergabung di PKK, bagaimana PKK melibatkan perempuan dalam kegiatan pembangunan serta bagaimana tingkat keberhasilan pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh PKK. Setelah memperoleh data-data tersebut dengan berinteraksi secara langsung dengan para informan di lapangan, kemudian peneliti melakukan reduksi data dengan menggolongkan data sesuai dengan tema penelitian, lalu memusatkan tema informasi yang diperoleh terkait
37
keberdayaan perempuan setelah mereka menjadi bagian dari PKK, serta membuang informasi yang dianggap tidak diperlukan.
Kemudian setelah melakukan klasifikasi data, peneliti menyajikan informasi yang didapat dalam penyajian data. Dalam penyajian data berisikan berbagai informasi yang diperoleh dari lapangan penelitian seperti PKK memfasilitasi perempuan untuk memberdayakan diri mereka, yang dilihat dari lima dimensi yaitu dimensi kesejahteraan, dimensi akses, dimensi kesadaran kritis, dimensi partisipasi dan dimensi kontrol. Lalu setelah melakukan penyajian data peneliti memberikan kesimpulan yang sudah diverifikasi validitasnya.
38 G. Sistematika Penulisan Skripsi
Untuk mempermudah penulisan ini, penulis membagi skripsi ini menjadi lima bab, dimana materi dalam skripsi ini dikelompokkan menjadi beberapa sub bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Dalam BAB I penulis menguraikan pernyataan masalah, pernyataan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, kajian literature, metodelogi penelitian, kerangka teori serta sistematika penulisan dalam penelitian Pemberdayaan Perempuan Melalui Organisasi PKK di Kelurahan Ragunan.
BAB II GAMBARAN UMUM
Dalam BAB II penulis mendeskripsikan gambaran umum mengenai Organisasi PKK, PKK Kelurahan Ragunan, Kondisi Sosial dan Ekonomi masyarakat di wilayah Kelurahan Ragunan.
BAB III TEMUAN DATA DAN HASIL PENELITIAN
Dalam BAB III membahas hasil penelitian, yaitu mengenai analisa penulis tentang tingkat keberhasilan pemberdayaan perempuan melalui organisasi PKK melalui lima dimensi pemberdayaan analisis longwe.
39 BAB IV PENUTUP
Dalam BAB IV berisikan kesimpulan dan saran yang penulis berikan baik untuk evaluasi organisasi PKK juga penelitian selanjutnya mengenai tema penelitian ini.
Daftar Pustaka Lampiran
40 BAB II
GAMBARAN UMUM
Pada bab ini penulis akan membahas mengenai gambaran umum lokasi penelitian, yang meliputi pengertian PKK secara umum, PKK di Kelurahan ragunan serta data kependudukan di kelurahan ragunan.
A. Organisasi Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK)
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2013, Gerakan pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga, selanjutnya disingkat gerakan PKK adalah gerakan nasional dalam pembangunan masyarakat yang tumbuh dari bawah yang pengelolaannya dari, oleh dan untuk masyarakat, menuju terwujudnya keluarga yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia dan berbudi luhur, sehat, sejahtera, maju dan mandiri, kesetaraan dan keadilan gender serta kesadaran hukum dan lingkungan. Tim Penggerak PKK yang disingkat dengan TP PKK juga merupakan fasilitator, perencana, pelaksana, pengendali dan penggerak pada masing-masing tingkat pemerintahan untuk terlaksananya program PKK yang merupakan mitra kerja pemerintah dan organisasi kemasyarakatan/lembaga kemasyarakatan lainnya (Miyanti & Oksiana, 2015).
Menurut Peraturan Menteri dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2013 tentang Pemberdayaan Masyarakat melalui gerakan
41
Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga Bab 1 Pasal 1 Ayat 5 yang berbunyi :
“Gerakan pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga, selanjutnya disingkat gerakan PKK adalah gerakan nasional dalam pembangunan masyarakat yang tumbuh dari bawah yang pengelolaanya dari, oleh, dan untuk masyarakat menuju terwujudnya keluarga beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlaq mulia dan berbudi luhur, sehat, sejahtera, maju dan mandiri, kesetaraan dan keadilan gender, kesadaran hukum dan lingkungan”.
Berdasarkan pasal diatas diketahui bahwa PKK memiliki tugas untuk melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat, khususnya perempuan serta PKK merupakan salah satu wadah organisasi perempuan bagi masyarakat.
PKK juga merupakan organisasi kemasyarakatan yang memotori partisipasi masyarakat dalam pembangunan wilayah yang tercangkup oleh PKK tersebut.
Hubungan kerja dalam PKK bersifat konsultatif, koordinatif dan hirarkis. Organisasi PKK ini dipimpin oleh Tim Penggerak PKK yang berada pada tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan kelurahan.
Kemudian untuk memudahkan jangkauan kepada keluarga-keluarga dibentuklah kelompok-kelompok PKK dusun/lingkungan, RW, RT sampai kelompok Dasawisma. Keberhasilan PKK, sebagai organisasi mayoritas beranggotakan kaum perempuan, terutama ibu-ibu mampu menjadi standar tertentu untuk menentukan perempuan telah mampu memberdayakan dirinya sendiri. Keberhasilan tersebut dapat tercapai dengan adanya berbagai kegiatan untuk membantu para perempuan lain diluar organisasi agar berdaya.
Kegiatan-kegiatan tersebut terdapat dalam program kerja yang dimiliki oleh
42
PKK. Dalam menjalankan segala program nya, PKK harus terus bergerak dan melaksanakan berbagai aksi nyata, khususnya dalam memberdayakan perempuan, serta senantiasa berperan secara aktif, dalam menyukseskan berbagai bidang pembangunan di daerahnya masing-masing.
Menurut (Aslichati, 2011) terdapat empat kelompok kerja (Pokja) dalam PKK yang bersifat koordinatif satu sama lain, yaitu:
A. Pokja I, mempunyai ruang lingkup pekerjaan dan fungsi pada bidang penghayatan dan pengamalan Pancasila serta gotong royong.
B. Pokja II, mempunyai ruang lingkup pekerjaan dan fungsi pada bidang pendidikan dan keterampilan.
C. Pokja III, mempunyai ruang lingkup pekerjaan dan fungsi pada bidang pangan, sandang serta perumahan dan tatalaksana rumah tangga.
D. Pokja IV, mempunyai ruang lingkup pekerjaan dan fungsi pada bidang kesehatan, kelestarian lingkungan hidup dan perencanaan sehat.
43 Bagan 2.1 Mekanisme Gerakan PKK
KETUA
PARA WAKIL KETUA
SEKERTARIS BENDAHARA
PEMBINA TP PKK
POKJA I POKJA II POKJA III POKJA IV
KELOMPOK PKK DUSUN/LINGKUN GAN SEBUTAN
LAIN
KELOMPOK PKK DUSUN/LINGKUN GAN SEBUTAN
LAIN
KELOMPOK PKK DUSUN/LINGKUN GAN SEBUTAN
LAIN
KELOMPOK PKK RW/SEBUTAN
LAIN
KELOMPOK PKK RW/SEBUTAN
LAIN
KELOMPOK PKK RW/SEBUTAN
LAIN
KELOMPOK PKK RW/SEBUTAN
LAIN
KELOMPOK PKK RW/SEBUTAN
LAIN
KELOMPOK PKK RT/SEBUTAN
LAIN
KELOMPOK PKK RT/SEBUTAN
LAIN
KELOMPOK PKK RT/SEBUTAN
LAIN KELOMPOK
PKK RT/SEBUTAN
LAIN KELOMPOK
PKK RT/SEBUTAN
LAIN
KELOMPOK DASAWISMA
KELOMPOK DASAWISMA KELOMPOK
DASAWISMA
KELOMPOK DASAWISMA
KELOMPOK DASAWISMA
44 B. Gambaran umum lokasi penelitian
Kantor PKK Kelurahan Ragunan terletak di dalam kantor Kelurahan Ragunan yang bertepatan di Jl. Saco No.1, Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta, 12550. Kelurahan Ragunan merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Pasar Minggu, berikut beberapa kelurahan yang menjadi bagian dari Kecamatan Pasar Minggu adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1 Kelurahan di Kecamatan Pasar Minggu
KECAMATAN PASAR MINGGU 1. Kelurahan Cilandak
Timur
3,52 Km2 2. Kelurahan Ragunan 5,05 Km2 3. Kelurahan Kebagusan 2,26 Km2 4. Kelurahan Pasar Minggu 2,79 Km2 5. Kelurahan Jati Padang 2,50 Km2 6. Kelurahan Pejaten Barat 2,90 Km2 7. Kelurahan Pejaten
Timur
2,88 Km2
Sumber : BPS Kota Administrasi Jakarta Selatan, Tahun 2018.
Berdasarkan Tabel 2.1 dilihat bahwa Kelurahan Ragunan memiliki wilayah paling luas dibandingkan dengan kelurahan lainnya di Kecamatan Pasar Minggu. Kelurahan Ragunan memiliki luas wilayah 5,05 Km2 dengan jarak ketinggian dari permukaan laut 26,2 m , dimana penggunaan lahannya 75% digunakan untuk perumahan, dan 25% Untuk keperluan lainnya seperti
45
perkantoran, fasilitas ibadah, sekolah dan lain sebagainya. Selain itu, di wilayah Kelurahan Ragunan juga belum ditemui pabrik ataupun kegiatan industri lainnya.
Secara geografis, Kelurahan Ragunan memiliki batasan wilayah sebagai berikut :
1. Sebelah barat berbatasan dengan Jalan Cilandak KKO, di Kelurahan Cilandak Timur.
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan Sagu, di Kelurahan Jagakarsa.
3. Sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Kebagusan Raya, di Kelurahan Jagakarsa.
4. Sebelah Utara berbatasan dengan Jalan Pejaten Barat , di Kelurahan Pejaten Barat.
46
Gambar 2.1 Batasan wilayah Kelurahan Ragunan
Sumber :
(https://www.idjakarta.com/selatan/pasarminggu/ragunan/kodepos12550.html) Lokasi yang menjadi objek penelitian adalah PKK RW. 07 Kelurahan Ragunan. PKK RW.07 ini terdiri dari 33 Kelompok Dasawisma yaitu Dasawisma Dahlia 1 sampai dengan Dasawisma Dahlia 33. Dimana anggota dari setiap kelompok dasawisma merupakan perwakilan dari setiap 10 rumah dari lingkungan yang menjadi bagian dari wilayah RW. 07. PKK RW. 07 ini merupakan bagian dan perpanjangan tangan dari PKK Kelurahan Ragunan untuk menjalankan program-program PKK.