• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

KAJIAN PUSTAKA

O. Pembinaan Akhlak

Pembinaan merupakan bagian dari pendidikan yang di dalam pelaksanaannya mencakup pengembangan sikap, kemampuan dan kecakapan secara praktis. Pembinaan bertujuan untuk membantu individu dalam rangka menemukan dan mengembangkan kemampuannya untuk memperoleh hasil yang lebih baik sehingga mampu mewujudkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Dari segi bahasa (etimologi), kata akhlak (bahasa Arab) adalah bentuk jamak dari khulk. Menurut kamus Al-Munjid di dalam buku Pengantar Studi Akhlak (Asmaran, 2002: 1), khulk berarti budi pekerti, perangai tingkah laku atau tabiat.

Menurut Imam Al-Ghazali, al-khuluq (akhlak) merupakan suatu sifat yang terpatri dalam jiwa, yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memikirkan dan merenung terlebih dahulu (Mahmud, 2004: 28). Jika sifat yang tertanam itu darinya terlahir perbuatan-perbuatan baik dan terpuji maka sifat tersebut dinamakan akhlak yang baik. Sedangkan jika yang terlahir adalah perbuatan-perbuatan buruk, maka sifat tersebut dinamakan dengan akhlak yang buruk.

Al-khuluq adalah suatu sifat jiwa dan gambaran batinnya. Sebagaimana halnya keindahan bentuk lahir manusia secara mutlak tak dapat

terwujud hanya dengan keindahan dua mata, dengan tanpa hidung, mulut dan lainnya. Sebaliknya, semua unsur tadi harus indah sehingga terwujud keindahan lahir manusia. Demikian juga dalam batin manusia ada empat rukun yang harus terpenuhi sehingga terwujudlah keindahan khuluq (akhlak). Jika keempat rukun itu terpenuhi, indah dan bersesuaian, maka terpenuhilah keindahan akhlak itu. Menurut Imam Al-Ghazali di dalam buku Akhlak Mulia (Mahmud, 2004: 28) keempat rukun agar terwujud keindahan akhlak yaitu:

1. Kekuatan ilmu

Keindahan dan kebaikannya adalah dengan membentuknya hingga menjadi mudahmengetahui perbedaan antara jujur dan dusta dalam ucapan, antara kebenaran dan kebatilan dalam berakidah, dan antara keindahan dan keburukan dalam perbuatan.

2. Kekuatan marah

Keindahannya adalah jika pengeluaran marah itu dan penahannya sesuai dengan tuntunan hikmah.

3. Kekuatan syahwat

Keindahan dan kebaikannya adalah jika ia berada di bawah perintah hikmah, yaitu perintah akal dan syariat. Hal ini digambarkan dengan sifat iffah yaitu menjaga kesucian diri.

4. Kekuatan keadilan

Kekuatan keadilan adalah kekuatan dalam mengendalikan syahwat dan kemarahan di bawah perintah akal dan syariat.

Siapa yang dapat mewujudkan keseimbangan unsur-unsur tersebut, ia pun menjadi sosok yang berakhlak baik secara mutlak. Sementara orang yang hanya dapat mewujudkan sebagian unsur tersebut, maka ia menjadi orang yang berakhlak baik jika dilihat pada segi yang baik itu saja. Dengan demikian, pokok-pokok utama keutamaan akhlak menurut Al-Ghazali (Mahmud, 2004: 31) adalah empat sifat yaitu: hikmah,keberanian, iffah, dan keadilan.

Hikmah adalah kondisi jiwa yang dengannya seseorang dapat mengetahui yang benar dan yang salah, dalam seluruh perbuatan yang dilakukan. Keberanian adalah kondisi kekuatan kemarahan yang tunduk kepada akal, dalam maju dan mundurnya. Iffah atau kesucian diri adalah melatih kekuatan syahwat dengan kendali akal dan syariat. Sedangkan keadilan adalah kondisi jiwa dan kekuatannya yang memimpin kemarahan dan syahwat, dan membimbingnya untuk berjalan sesuai dengan tuntutan hikmah, juga memegang kendalinya dalam melepas dan menahannya sesuai dengan tuntutan kebaikan.

At-Tahanawi mengartikan akhlak sebagai keseluruhannya kebiasaan, sifat alami, agama dan harga diri (Mahmud, 2004: 34). Beliau membagi akhlak atas tiga hal, yaitu: keutamaan, kehinaan dan selain keduanya. Keutamaan merupakan dasar bagi apa yang sempurna. Kehinaan merupakan dasar bagi apa yang kurang. Sedangkan selain keduanya merupakan dasar bagi selain kedua hal tersebut (keutamaan dan kehinaan).

Akhlak yang agung bagi para shalihin menurut At-Tahanawi di dalam buku Akhlak Mulia (Mahmud, 2004: 34) adalah berpaling dari dua semesta, dan menghadap hanya kepada Allah SWT semata secara total. Akhlak yang agung bagi Nabi Muhammad SAW adalah yang disinyalir dalam firman Allah SWT, (QS Al-Qalam: 4) “Dan sesungguhnya kamu benar-benar

berbudi pekerti yang agung”. Akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Quran, yang bertindak sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan telah tertanam kuat dalam diri, sehingga beliau dalam menjalaninya tanpa kesulitan.

Akhlak merupakan menangnya keinginan dari beberapa keinginan manusia dengan langsung berturut-turut (Ahmad Amin, 1991: 62). Orang yang baik ialah orang yang menguasai keinginan baik dengan langsung berturut-turut dan begitu juga sebaliknya orang yang jahat atau tidak baik.

Menurut definisi para ulama, akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam diri dengan kuat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa diawali berfikir panjang, merenung dan memaksakan diri (Mahmud, 2004: 34). Sedangkan sifat-sifat yang tidak tertanam kuat dalam diri, seperti kemarahan seseorang yang asalnya pemaaf, maka itu bukan akhlak. Demikian juga sifat kuat yang justru melahirkan perbuatan-perbuatan kejiwaan dengan sulit dan berpikir panjang, seperti orang bakhil yang berusaha menjadi dermawan ketika ingin dipandang orang, maka itu tidak dinamakan akhlak.

Dari definisi-definisi akhlak di atas dapat disimpulkan bahwa akhlak merupakan sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian sehingga dari situ timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan

dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran yang dalam. Jika kondisi tersebut timbul kelakuan yang baik dan terpuji menurut pandangan syariat dan akal pikiran, maka ia dinamakan akhlak mulia. Sebaliknya apabila yang lahir kelakuan yang buruk maka disebutlah akhlak yang tercela.

Ukuran akhlak yang baik/mulia adalah jika ia sesuai dengan syariat Allah, berhak mendapatkan ridho-Nya dan dalam memegang akhlak yang baik ini selalu memperhatikan pribadi, keluarga, dan masyarakat sehingga di dalamnya terdapat kebaikan dunia dan akhirat. Secara sederhana yang menjadi dasar akhlak mulia adalah pendidikan dan latihan atau pembinaan untuk selalu berbuat baik.

Adapun sifat-sifat pokok dari nilai akhlak dalam Islam (Asmaran, 2002: 128) dapat disebutkan sebagai berikut:

1. Akhlak Rabbani

Akhlak rabbani merupakan ajaran akhlak dalam Islam bersumber dari wahyu Ilahi yang termaktub di dalam Al-Quran maupun Sunnah Rasul. Sifat rabbani ini menyangkut dengan tujuan Islam yaitu untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia kini dan di akhirat nanti, dalam hubungan manusia dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, orang lain maupun alam sekitar. Akhlak rabbanilah yang mampu menghindari kekacauan nilai moralitas dalam hidup manusia.

2. Akhlak Manusiawi

Akhlak manusiawi yang dimaksud adalah bahwa ajaran akhlak dalam Islam sejalan dengan dan memenuhi tuntutan fitrah manusia. Kerinduan jiwa manusia kepada kebaikan akan terpenuhi dengan mengikuti ajaran akhlak dalam Islam. Ketetapan akal tentang kebaikan akan bertemu dengan ajaran kebaikan dalam akhlak Islam. Ajaran akhlak dalam Islam diperuntukkan bagi manusia yang merindukan kebahagiaan dalam arti yang hakiki, bukan kebahagiaan semu. Allah yang menciptakan manusia dengan fitrahnya. Manusia dibimbing dengan akhlak Islam agar dapat hidup sesuai dengan tuntutan fitrahnya.

3. Akhlak Universal

Akhlak universal yang dimaksud adalah ajaran akhlak dalam Islam sesuai dengan kemanusiaan yang universal dan mencakup segala aspek hidup manusia. Manusia diciptakan Allah SWT berkedudukan sebagai individu, makhluk sosial dan yang mendiami serta memperoleh sarana kehidupannya dari alam lingkungannya. Dengan demikian ajaran akhlak dalam Islam memberikan pedoman tentang bagaimana seharusnya manusia hidup dan berkehidupan dengan diri pribadinya sendiri, berhadapan dengan masyarakatnya, berhadapan dengan alam lingkungannya dan lebih-lebih berhadapan dengan Allah SWT.

4. Akhlak Keseimbangan

Yang dimaksud dengan akhlak keseimbangan adalah bahwa ajaran akhlak dalam Islam adalah tengah-tengah antara yang mengkhayalkan

manusia sebagai malaikat yang hanya menitikberatkan segi kebaikannya dan yang mengkhayalkannya sebagai hewan yang menitikberatkan pada sifat keburukannya saja.

Akhlak Islam memenuhi tuntutan kebutuhan hidup manusia, jasmani dan rohani secara seimbang, memenuhi tuntutan hidup bahagia di dunia dan akhirat secara seimbang pula. Memenuhi kebutuhan pribadi juga harus seimbang dengan memenuhi kewajiban terhadap masyarakat. 5. Akhlak Realistik

Akhlak realistik dimaksud adalah bahwa ajaran akhlak dalam Islam memperhatikan kenyataan manusia. Meskipun sebagai makhluk yang mulia dan mempunyai kelebihan dari makhluk-makhluk lainnya, manusia mempunyai kelemahan-kelemahan, memiliki berbagai macam kecenderungan manusiawi dan berbagai macam kebutuhan material dan spiritual. Termasuk realistiknya akhlak Islam adalah bahwa keadaan luar biasa yang dihadapi manusia dalam hidupnya diperhatikan. Hal yang dalam keadaan biasa dilarang, diberikan pengecualian jika keadaan memaksa.

P. Siswa Tunagrahita SMPLB

8. Pengertian Siswa Tunagrahita SMPLB

Menurut Wikipedia siswa adalah istilah bagi peserta didik pada jenjang pendidikan dasar, menengah pertama dan menengah atas. Siswa adalah komponen masukan dalam sistem pendidikan, yang selanjutnya

diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Sebagai suatu komponen pendidikan, siswa dapat ditinjau dari berbagai pendekatan, antara lain: pendekatan sosial, pendekatan psikologis, dan pendekatan edukatif/pedagogis.

Dalam penelitian ini, siswa yang dimaksud adalah peserta didik yang belajar di jenjang sekolah menengah pertama yang melayani anak berkebutuhan khusus yang disebut dengan SMPLB. Sesuai dengan subyek penelitian, maka siswa yang dipilih peneliti yaitu siswa pada SMPLB Negeri Salatiga. Sekolah tersebut melayani siswa dengan berbagai ketunaan, antara lain: tunanetra, tuna rungu wicara, tunagrahita, tunadaksa dan lain sebagainya.

Di dunia pendidikan luar biasa atau pendidikan khusus anak yang mengalami gangguan kecerdasan disebut juga dengan anak tunagrahita. Istilah-istilah untuk menyebut anak tunagrahita yaitu mental illness, mental retardation, mental retarded, mental deficiency, mentally defective, gangguan intelektual serta terbelakang mental (Tin Suharmini, 2009: 41). Anak tunagrahita biasanya mengalami keterlambatan dalam belajar yang disebabkan karena kemampuan mereka berada di bawah rata-rata kecerdasan anak normal.

Menurut Sutjihati Somantri (2007: 103) anak tunagrahita merupakan anak dengan kondisi kecerdasannya jauh di bawah rata-rata dan ditandai oleh keterbatasan inteligensi dan ketidakcakapan dalam

interaksi sosial. Anak tunagrahita atau dikenal terbelakang mental karena keterbatasan kecerdasannya mengakibatkan dirinya sukar untuk mengikuti program pendidikan di sekolah biasa secara klasikal, sehingga mereka perlu layanan pendidikan secara khusus disesuaikan dengan kondisi anak tersebut.

Menurut Abdurrachman yang dikutip oleh Rahmad Rizani, dkk (2012:06) kata lain dari tunagrahita adalah retardasi mental (mental retardation). Secara harfiah kata tuna adalah merugi, sedangkan grahita adalah pikiran. Ciri utama dari anak tunagrahita adalah lemah dalam berpikir atau bernalar. Kurangnya kemampuan anak dalam berpikir dan bernalar mengakibatkan kemampuan belajar dan adaptasi sosial berada di bawah rata-rata.

Menurut pendapat Munzayanah dalam artikel pendidikan (http://forumgurunusantara.blogspot.co.id/2015/04/pengertian klasifikasi-dan.html, diakses 4 Desember 2016) anak tunagrahita adalah anak yang mengalami gangguan atau hambatan dalam perkembangan daya pikir serta seluruh kepribadianya sehingga dia tidak mampu hidup di masyarakat atas kemampuan sendiri meskipun dengan cara yang sederhana.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa siswa tunagrahita SMPLB yaitu anak yang belajar pada jenjang sekolah menengah pertama luar biasa yang mengalami gangguan atau keterlambatan dalam perkembangan kecerdasan maupun kepribadian

sehingga dapat mengakibatkan kurang mampunya dalam menyesuaikan diri dalam kehidupan di masyarakat. Siswa tunagrahita perlu ditangani oleh lembaga pendidikan khusus atau tenaga-tenaga yang memiliki keahlian khusus di lembaga umum guna dapat memberikan pelayanan secara khusus dan optimal.

9. Karakteristik Tunagrahita

Menurut Sutjihati Somantri (2007: 105) karakteristik anak tunagrahita secara umum adalah sebagai berikut:

a. Keterbatasan Inteligensi

Anak tunagrahita memiliki kekurangan dalam hal kemampuan untuk mempelajari informasi yang baru, berfikir abstrak, kreatif, kritis serta kurang dalam merencanakan masa depan. Kemampuan belajarnya cenderung tanpa pengertian atau cenderung belajar dengan membeo. b. Keterbatasan Sosial

Anak tunagrahita ketergantungan terhadap orang tua, tidak mampu memikul tanggung jawab sosial dengan bijaksana sehingga mereka harus selalu dibimbing dan diawasi. Mereka juga gampang dipengaruhi dan cenderung melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya.

c. Keterbatasan Funsi-fungsi Mental Lainnya

Anak tunagrahita kurang mampu untuk mempertimbangkan sesuatu, membedakan antara yang baik dan yang buruk, serta membedakan yang benar dan yang salah. Hal ini karena kemampuan terbatas

mereka dalam memprediksi terlebih dahulu konsekuensi dari suatu perbuatan.

10. Klasifikasi Tunagrahita

Selain memiliki karakteristik secara umum anak tunagrahita juga memiliki ciri-ciri khusus yang bisa dikelompokkan menjadi klasifikasi anak tunagrahita sesuai dengan sudut pandang disiplin ilmu tertentu. Maksud dari adanya klasifikasi anak tunagrahita tersebut adalah untuk memudahkan penentuan bentuk pelayanan yang tepat bagi masing-masing kelompok atau tingkatan tunagrahita.

Menurut Grosmman Ettel yang dikutip Mulyono Abdurrahman (http://forumgurunusantara.blogspot.co.id/2015/04/pengertian klasifikasi-dan.html, diakses 4 Desember 2016) mengemukakan bahwa klasifikasi ketunagrahitaan untuk keperluan pembelajaran, terbagi atas beberapa kelompok yaitu :

a. Taraf perbatasan atau lamban belajar b. Tunagrahita mampu didik

c. Tunagrahita mampu latih

d. Tunagrahita mampu rawat (berat, dan sangat berat)

Menurut Paula Anne Ford-Martin sebagaimana dikutip oleh Tin Suharmini (2009: 42) klasifikasi anak tunagrahita dibatasi dengan apa yang dinyatakan dari tes inteligensi yang terstandar, atau dengan ukuran umur mental yaitu dengan IQ (Intelligence Quotient). Klasifikasi tersebut yaitu:

a. Mild mental retardation (tunagrahita ringan)

Tunagrahita ringan mempunyai IQ yang bergerak dari 50-75. Anak-anak ini dapat diajar akademik kira-kira sampai kelas 4, 5 atau 6. Mereka juga dapat menjadi anak yang percaya diri, mandiri, berkomunikasi dan berinteraksi sosial dengan baik apabila lingkungan sosialnya mendukungnya. Anak tunagrahita ringan ini biasanya disebut dengan debil.

b. Moderate mental retardation (tunagrahita sedang)

Anak tunagrahita sedang biasa disebut dengan imbesil. Tunagrahita sedang mempunyai IQ yang bergerak dari 35-55. Mereka mampu merawat diri dan melaksanakan tugas sederhana dengan bimbingan. Bimbingan di rumah oleh keluarga sangat menentukan kesuksesan anak terutama dalam keterampilan berkomunikasi.

c. Severe mental retardation (tunagrahita berat)

Kelompok penyandang tunagrahita berat sering disebut idiot. Tunagrahita berat mempunyai IQ yang bergerak dari 20-40. Keterampilan merawat diri dan komunikasi yang dapat mereka lakukan sangat terbatas, hanya pada tingkat dasar.

d. Profound mental retardation (tunagrahita sangat berat)

Tunagrahita sangat berat mempunyai IQ yang bergerak di bawah 20-25. Anak tunagrahita ini kemungkinan dengan latihan-latihan dan supervisi-supervisi akan dapat mencapai perkembangan merawat diri pada tingkat dasar.

11. Faktor-Faktor Penyebab Tunagrahita

Menurut Straus dalam Muamin (1995: 72) membagi penyebab tunagrahita menjadi dua yaitu:

1) Endogen

Endogen adalah faktor yang penyebabnya berasal dari sel keturunan. 2) Eksogen

Eksogen adalah hal-hal lain diluar keturunan misalnya: kecelakaan,kekurangan gizi, faktor penanganan pada saat kelahiran, penyakit pada ibu ketika hamil dan lain sebagainya.

Dalam artikel Rahmat Rizani (2012: 6) menjelaskan cara lain yang sering digunakan dalam pengelompokan faktor penyebab ketunagrahitaan adalah berdasarkan waktu terjadinya, yaitu faktor yang terjadi sebelum lahir (prenatal), saat lahir (natal) dan setelah lahir (postnatal).

1) Prenatal (sebelum lahir)

Yaitu terjadi pada waktu bayi masih ada dalam kandungan. Penyebabnya seperti: campak, diabetes, cacar, virus tokso, juga ibu hamil yang kekurangan gizi, pemakai obat-obatan (naza) dan juga perokok berat.

2) Natal (waktu lahir)

Proses melahirkan yang sudah terlalu lama dapat mengakibatkan kekurangan oksigen pada bayi, tulang panggul ibu yang terlalu kecil dapat menyebabkan otak terjepit dan menimbulkan pendarahan pada

otak (anoxia). Selain itu juga proses melahirkan yang menggunakan alat bantu (penjepit, tang) yang akan menimbulkan kerusakan pada organ bayi terutama otak.

3) Postnatal ( Sesudah Lahir)

Pertumbuhan bayi yang kurang baik seperti gizi buruk, busung lapar, demam tinggi yang disertai kejang-kejang, kecelakaan, radang selaput otak (meningitis) dapat menyebabkan seorang anak menjadi ketunaan (tunagrahita).

12. Perkembangan Kognitif Anak Tunagrahita

Kognisi meliputi proses dimana pengetahuan itu diperoleh, disimpan dan dimanfaatkan. Jika terjadi gangguan inteligensi atau intelektual anak, maka perkembangan kognitif anak juga akan terganggu. Menurut Sutjihati Somantri (2007: 110) perkembangan kognitif anak tunagrahita secara umum adalah sebagai beriku:

a. Dalam hal kecepatan belajar, anak tunagrahita jauh ketinggalan oleh anak normal. Anak tunagrahita lebih banyak memerlukan ulangan tentang materi yang dipelajari

b. Ketepatan (keakuratan) respon anak tunagrahita kurang daripada respon anak normal.

c. Anak tunagrahita tidak mampu memanfaatkan informasi (isyarat) yang ada untuk menjawab soal

d. Anak tunagrahita tidak mempunyai strategi dalam menyelesaikan tugas-tugasnya

e. Anak tunagrahita sulit dalam hal mengingat yang sifatnya segera 13. Perkembangan Sosial, Emosi dan Kepribadian Anak Tunagrahita

Dalam bukunya Tin Suharmini (2009: 88) menerangkan bahwa perkembangan sosial anak dikatakan baik apabila anak sudah dapat berperilaku sesuai dengan norma-norma masyarakat. Perkembangan emosi sudah dapat mencapai perkembangan yang optimal apabila anak sudah dapat mencapai keseimbangan emosi. Maksud dari keseimbangan emosi adalah anak dapat mengelola emosinya dan dapat mengekspresikannya sesuai dengan aturan yang berlaku di masyarakat.

Kelemahan intelektual anak tunagrahita menyebabkan hambatan dalam perkembangan sosial, emosi maupun kepribadiannya. Emosi anak tunagrahita tidak matang, kadang masih nampak seperti emosi pada kanak-kanak, nampak dengan jelas, mudah dipengaruhi, sensitif, dan kadang meledak-ledak.

Anak tunagrahita juga mempunyai masalah penyesuaian sosial. Sebagaimana halnya dengan anak normal, anak tunagrahita juga mempunyai dorongan untuk berhubungan dengan oranglain, namun mereka mengalami kesukaran dan kegagalan dalam penyesuaian sosial. Pemberian kesempatan untuk berhubungan sosial dan latihan kemandirian akan banyak membantu anak untuk sukses dalam beradaptasi dengan lingkungan.

Perkembangan kepribadian anak banyak ditentukan oleh keadaan fisik, kesehatan, pemberian cap dari orang lain, inteligensi, pola asuh

orang tua, dan sikap masyarakat. Pada waktu anak lahir sampai sebelum sekolah, keluarga merupakan faktor yang banyak menentukan perkembangan kepribadian dan sosial anak tunagrahita. Pada waktu anak sekolah, perkembangan kepribadian dan sosial anak tunagrahita tidak hanya dipengaruhi oleh keluarga saja tetapi juga teman-temannya, guru, dan masyarakat sekitar.

14. Anak Tunagrahita dalam Pandangan Islam

Islam memandang sama semua manusia. Islam tidak melihat dari fisik, harta maupun tahta melainkan dari hati dan keimanan seseoang. Seperti yang tercantum dalam Q.S. An-Nur ayat 61 yang artinya:

“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang

pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudara-saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang

ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar

kamu memahaminya.”

Islam sangat memuliakan manusia sekalipun yang cacat, karena Allah Maha Adil. Islam tidak pernah memandang rendah anak berkebutuhan khusus yang termasuk di dalamnya anak tunagrahita.

Sesuai dengan karakteristiknya, anak tunagrahita termasuk anak yang tidak sempurna akalnya. Di dalam hukum Islam, orang yang tidak sempurna akalnya tidak termasuk mukallaf. Mukallaf yaitu orang yang dibebani ketentuan-ketentuan hukum Syara‟ (Departemen Agama, 1984: 5). Agar seseorang disebut mukallaf harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut:

a. Orang tersebut harus dapat memahami dalil-dalil penetapan hukum baik dari Al-Quran maupun Hadits

b. Orang tersebut harus telah berakal sempurna

Sebagian besar ulama Usul Fiqh mengatakan bahwa dasar adanya taklif (pembebanan hukum) terhadap seorang mukallaf adalah akal dan pemahaman. Seorang mukallaf dapat dibebani hukum apabila ia telah berakal dan dapat memahami taklif secara baik yang ditujukan kepadanya. Oleh karena itu, orang yang tidak atau belum berakal tidak dikenai taklif karena mereka dianggap tidak dapat memahami taklif dari al-Syari‟. Termasuk ke dalam kategori ini adalah orang yang

sedang tidur, anak kecil, gila, mabuk, khilaf dan lupa. Pendapat ini berdasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW:

عفر

ملقلا

هع

ثلاث

:

هع

مئاىلا

يتح

ظقيتسي

و

هع

يبصلا

يتح

ملتحي

هعو

نوىجملا

يتح

قيفي

)

ياور

يراخبلا

وبأو

دوواد

يذمزتلاو

ئاسىلاو

هباو

ةجام

)يىطقراذلاو

Artinya: “Diangkat pembebanan hukum dari tiga (orang); orang tidur

sampai bangun, anak kecil sampai baligh, dan orang gila sampai sembuh”.

Dalam Hadits lain dinyatakan:

عفر

يتمأ

هع

أطخلا

نايسىلاو

امو

يزكتسا

ًل

ياور(

هبا

ةجام

يوازبطلاو

(”

Artinya: “Beban hukum diangkat dari umatku apabila mereka khilaf, lupa dan terpaksa”.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, anak tunagrahita tidak termasuk kategori mukallaf karena mereka tidak

memenuhi persyaratan sebagai mukallaf. Mereka tidak mempunyai akal dan pemahaman yang sempurna sehingga mereka tida bisa dikenai taklif (pembebanan hukum).

Q. Penelitian Sebelumnya yang Relevan

Dalam rangka melengkapi skripsi ini, penulis menggunakan dasar dari penelitian-penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan pembinaan akhlak. Skripsi-skripsi tersebut antara lain:

1. “Pembinaan Akhlak Siswa Madrasah Aliyah Ali Maksum Krapyak Yogyakarta” yang disusun oleh Umi Habibah dari UIN Sunan Kalijaga tahun 2009. Skripsi ini disusun dengan tujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa tentang proses pembinaan akhlak di MA Ali Maksum Yogyakarta, metode-metode yang diterapkan, serta faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya.

2. Skripsi Fitri Pagerwati tahun 2007 dengan judul “Peranan Guru Agama Islam dalam Pembinaan Akhlak Siswa di SMPN 31 Kebayoran Lama

Jakarta Selatan”. Skripsi ini hanya fokus membahas tentang bagaimana peranan guru agama Islam dalam membina akhlak siswanya.

3. Skripsi dari Ida Rosida dengan judul “Pembelajaran Akhlak Terhadap

Dokumen terkait