• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1-26

D. Kajian Pustaka

Upaya penelusuran terhadap berbagai sumber yang memiliki relevansi dengan pokok permasalahan dalam penelitian ini telah penulis lakukan. Tujuan pengkajian pustaka ini antara lain agar fokus penelitian ini tidak merupakan pengulangan dari penelitian-penelitian sebelumnya, melainkan untuk mencari sisi lain yang signifikan untuk diteliti dan dikembangkan.

1. Naskah Lontara

Lontara sebagai sumber primer dalam penelitian ini yang juga sumber sejarah

tertulis bagi suku Bugis dan Makassar, dan pada Lontara ditemukan informasi tentang islamisasi di Kerajaan Bone. Lontara yang dimaksud adalah:

a. Lontara Akkarungeng ri Bone, Lontara ini berisi tentang asal mula

munculnya To Manurung di Bone, sampai masa pemerintahan Lamappanyukki, profil setiap raja, sepak terjang raja, dan silsilah raja. Pemilik naskah ketika disalin oleh pihak Arsip Nasional RI adalah Drs. Muh. Salim, berbahasa Bugis, aksara Lontara, dan halamannya sebanyak 265. Salinan Lontara ini tersimpan di Arsip Nasional RI Makassar pada Rol 5 No. 8.

b. Lontara Attoriolong. Lontara ini di salin oleh B. F. Matthes dalam

Boegineesche Chrestomathie III, lontara ini berisi tentang sejarah kerajaan

41

Leonard Y. Andaya, The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi

(Celebes) in the Seventeenth Century, terj. Nurhady Sirimorok, Warisan Arung Palakka (Cet. I;

Bone, Wajo, Soppeng, dan Luwu. Di dalamnya juga dijelakan tentang beberapa perjanjian seperti perjanjian Bone dan Luwu (Polo Malela ri Unyi) dan perjanjian antara Bone, Soppeng, dan Wajo (Perjanjian Tellumpoccoe), dan peperangan antara Gowa dengan Bone, Soppeng yang dibantu oleh Kompeni Belanda. Lontara ini berbahasa Bugis, aksara Lontara, dan jumlah halamannya sebanyak 178. Kopian Lontara penulis dapatkan di perpustakaan Yayasan Andi Muallim di Watampone, Kabupaten Bone.

c. Lontara Attoriolonge ri Bone, lontara ini berisikan tentang sejarah Kerajaan

Bone, mulai dari To Manurung ri Matajang sampai Raja XIII La maddaremmeng halaman 1-15., juga berisi beberapa nasihat orang-orang tua dan pesan-pesan raja seperti Raja Bone dan Raja Gowa (Karaeng Matowa kepada anaknya). Lontara ini berbahasa Bugis, aksara lontara, dan jumlah halamannya 162. Kopian Lontara penulis dapatkan di perpustakaan Yayasan Andi Muallim di Watampone, Kabupaten Bone.

d. Lontara Latoa, Lontara ini berisi keterangan tentang pangngadereng (wujud

kebudayaan orang Bugis-Makassar) dan pengaruh Islam dalam

panggadereng. Lontara ini ditulis pada abad XVI dan sebagian pada abad

XVII yakni setelah Islam tersebar di daerah Bugis-Makassar. Pada tahun 1872 disalin ulang oleh seorang Belanda B.F. Matthes dalam bukunya

Boeginesche Chestomathie, Jilid II.

2. Buku-buku

a. Mattulada, Agama Islam di Sulawesi Selatan (1976). Tulisan ini merupakan penelitian mengenai “Masuknya Islam di Sulawesi Selatan” yang dilakukan pada tahun 1975, dan diterbitkan dalam bentuk buku kumpulan laporan

penelitian dengan judul, “Agama Islam dan Perubahan Sosial” pada tahun 1983. Informasi yang didapatkan dari hasil penelitian adalah masuknya Islam di Kerajaan Bugis dan pola perkembangan Islam di Kerajaan Bone. b. Ahmad M. Sewang, “Islamisasi Kerajaan Gowa, pertengahan Abad XVI

sampai Abad XVII” (2005). Hasil penelitian ini memberikan informasi tentang islamisasi Kerajaan Gowa-Tallo dan peran Kerajaan Gowa-Tallo dalam penyebaran Islam ke beberapa kerajaan di dataran Sulawesi, termasuk Kerajaan Bone dan metode yang dilakukan oleh Kerajaan Gowa-Tallo dalam menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan.

c. Christian Perlas, Manusia Bugis (2006). Hasil penelitian ini memuat tentang orang Bugis atau Suku Bugis dari berbagai aspek, mulai dari awal kemunculannya berdasarkan bukti dan sumber data arkeologis serta epos dan teks sejarah, hingga keberadaannya di dunia modern. Pada salah satu bagian dari uraian pembahasan buku itu, juga dipaparkan kajian dan hasil penelitian tentang keadaan masyarakat Bugis menjelang kedatangan Islam hingga masuknya Islam.

3. Karya Ilmiah

a. Pirman, Islamisasi di Bone Skripsi, tahun 1992, Fakultas Adab IAIN Alauddin Ujung Pandang. Di bagian awal skripsi membahas tentang selayang pandang Bone sebagai kerajaan, kabupaten, dan adat masyarakat Bone. Bagian selanjutnya membahas tentang struktur kerajaan Bone, struktur pemerintahan Kabupaten Bone, dan struktur masyarakat Bone. Bab selanjutnya membahas tentang proses islamisasi di Kerajaan Bone, dimulai

dari Bone menerima Islam, selanjutnya Islam dan tradisi Kerajaan Bone, dan Islam di Bone sekarang.

b. Sanitah, Ade’ Pitue di Bone (Studi atas Pengaruhnya Terhadap Islamisasi)

Skripsi, tahun 1991, fakultas Adab IAIN Alauddin Ujung Pandang. Pada

skripsi ini membahas sejarah dan fungsi lembaga Ade’ Pitue sejak dibentuknya terutama hubungannya dengan islamisasi di Bone. Pada bagian awal diuraikan selayang pandang Bone: Kerajaan Bone, Kabupaten Bone, kehidupan masyarakat, dan masuknya Islam di Bone. Selanjutnya dijelaskan mengenai latar belakang, fungsi dan peranan Ade’ Pitue dalam struktur pemerintahan. Pada akhir skripsi dijelaskan mengenai pengaruh Ade’ Pitue dalam Islamisasi di Bone.

c. Andi Nurcahaya, Bataritoja Dattalaga Raja Bone XVII dan XXI; (Studi tentang Peranannya Bagi Pengembangan Agama Islam) Skripsi, tahun 1992, Fakultas Adab IAIN Alauddin Ujung Pandang. Skripsi ini membahas aspek Raja Bataritoja Dattalaga dalam peranannya pengembangan agama Islam di Bone. Pada masa pemerintahannya agama Islam berkembang dengan pesat, dalam skripsi ini juga dibahas tentang pola penyebaran Islam dan jasa-jasa Bataritoja dalam penyebaran agama Islam, dan tantangan yang dihadapinya dan usaha mengatasinya dalam penyebaran agama Islam.

d. Muhammad Rafid, Eksistensi Sara’ dalam Pengadereng di Bone; (Tinjauan Sosio Kultural dalam Hubungannya dengan Proses Islamisasi) Skripsi, tahun 1992, Fakultas Adab IAIN Alauddin Ujung Pandang. Skripsi ini membahas bagaimana panngadereng sebagai suatu ikatan utuh dan sistem nilai pada masyarakat Bone, setelah masuknya Islam di Bone maka

masuklah sara’ (Syariat Islam) sebagai salah satu unsur panngadereng, dimana sebelum datangnya Islam panngadereng hanya mempunyai empat unsur pokok yaitu: ade’, bicara, rapang, dan wari’.

Dari beberapa buku karya ilmiah di atas, secara umum relevan dengan Tesis ini. Namun secara khusus ada perbedaan sebab buku hanya menyinggung proses masuknya Islam di Kerajaan Bone, sedangkan Tesis ini menjelaskan secara total mengenai masuknya, penerimaan, dan penyebaran Islam di Kerajaan Bone. Tesis ini juga menjelaskan peran Kerajaan Bone dalam menjalankan penyebaran Islam di wilayah Bone dan akulturasi kebudayaan Bone dengan Islam.

Adapun skripsi di atas, secara umum memiliki relevan dengan penelitian yang kami lakukan tetapi, secara khusus ada perbedaan di antaranya dari segi teori yang digunakan dan metodologi penelitian yang diterapkan, begitupun juga tesis ini akan berfokus pada peran beberapa Raja Bone dalam penerimaan dan penyebaran Islam di Kerajaan Bone.

Dokumen terkait