BAB V PENUTUP…………………………………………………………... 122-127
A. Kesimpulan
1. Pembentukan Kerajaan Bone diawali dengan kemunculan To Manurung (orang yang dipercaya turun dari langit sebagai personifikasi dewa di bumi) yang sesuai dengan kepercayaan masyarakat pada saat itu. Akan tetapi, pada saat ini kepercayaan tersebut tidaklah benar dan To Manurung dianggap sebagai antropologi politik dengan kemampuan raja menyusun berbagai sistem kenegaraan sesuai sikap hidup dan nilai-nilai ideal dari wujud kebudayaannya, seperti hukum, kaidah kehidupan dan sebagainya. Kesepakatan seluruh rakyat
(anang) pada saat itu yang diwakili oleh matowa dengan To Manurung untuk
tetap tinggal di daerahnya dan menjadi raja. Pada saat itulah Kerajaan Bone terbentuk dan raja pertamanya adalah To Manurung yang selanjutnya dinamakan Mata Silompo’e Manurung’e ri Matajang. Selanjutnya raja digantikan oleh keturunannya yang mempunyai darah To Manurung dengan tidak membedakan laki-laki atau perempuan, mudah atau tua, dan bahkan raja tidak hanya diperuntukkan bagi putra/putri mahkota saja, akan tetapi, baik saudara, kemanakan, sepupu dari raja sebelum dan atas persetujuan dari Ade
Pitue setelah terbentuknya. Dalam strata sosial To Manurung adalah dasar
strata sosial masyarakat di Kerajaan Bone, dia dan keturunannya memiliki starata yang paling tinggi yang disebut anakarung dan lapisan dibawanya adalah lapisan maradeka dan ata’. Kepercayaan kepada To Manurung sebagai personifikasi dewa di bumi, mengisyaratkan bahwa kepercayaan masyarakat
pada saat itu mempercayai makhluk supranatural yang mempunyai kekuatan, sehingga masyarakat melakukan ritual-ritual kepada dewa supaya mereka dimurkai oleh dewa. Ada tiga yang dipercayai menguasai dunia ini yakni; dewa langit (dewata langie), dewa bumi (dewata mallinoe), dan dewa air
(dewata uwae) dan dewa tersebut adalah pembantu dewata seuwae dipandang
sebagai pusat kekuatan manusia, hewan dan makhluk lainnya, meliputi makhluk halus, orang yang masih hidup dan orang yang telah mati semuanya bergantung kepadanya. Pada perkembangan selanjutnya, Kerajaan Bone menjadi suatu kerajaan yang sangat berpengaruh di Sulawesi Selatan pada masa La Tenritatta Sultan Saaduddin (1672-1696 M) sampai awal abad XX, sehingga Kerajaan Bone dianggap sebagai standar dari pola-pola kehidupan politik-ekonomi dan kebudayaan bagi kerajaan-kerajaan Bugis lainnya. maka sampai sekarang ini yang dijadikan bahasa Bugis standar, adalah bahasa Bugis orang Bone. Sistem kebudayaan masyarakat atau yang disebut pangngadereng di Bone tidak berbeda dengan kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan, yang mempunyai empat unsur yakni: ade’, rapang, bicara, dan wari. Empat unsur pangngadereng inilah yang menjadi standar pola kehidupan bermasyarakat Kerajaan Bone atau pada kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan.
2. Perkenalan Kerajaan Islam dengan agama Islam tidak terlepas dari peran kerajaan kembar orang Makassar, yakni Kerajaan Gowa-Tallo, yang selanjutnya dikenal dengan Kerajaan Gowa. Perkenalan dilakukan oleh Kerajaan Gowa dengan dua cara yakni dengan cara damai dan perang. Dengan cara damai penguasa Gowa mampu mengislamkan Raja XI Kerajaan Bone La
Tenriruwa Sultan Abdullah (1611 M), meskipun menurut informasi dari
Lontara Akkarungeng ri Bone Raja X Kerajaan Bone We Tenri Tuppu yang
masuk Islam di Sidenreng, dan dalam lontara tidak dijelaskan faktor yang mempengaruhi beliau masuk Islam. Akan tetapi, merujuk pada teori Taufik Abdullah tentang fairness (kewajaran) dalam sejarah, maka faktor yang dapat mempengaruhi beliau memeluk agama Islam di Sidenreng adalah pengaruh dari Kedatuan Luwu yang lebih dahulu memeluk agama Islam dan menjadikannya sebagai agama resmi kedatuan, penyebaran Islam berkembang dari Kedatuan Luwu itu lebih bersifat lunak dan damai. We Tenri Tuppu Matinroe ri Sidenreng adalah raja Bone yang pertama masuk Islam pada tahun 1611 M. Selanjutnya cara kedua yang dilakukan Kerajaan Gowa yakni Perang, ditandai dengan perang yang dikenal dengan nama Musu Selleng (perang pengislaman), dalam peperangan tersebut Kerajaan Bone mengalami kekalahan pada tanggal 23 November 1611 M, dan memaksa Raja XII Kerajaan Bone La Tenri Pale Sultan Abdullah (1611-1626 M) memeluk Islam dan seluruh rakyatnya dan menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan, Kerajaan Bone adalah kerajaan terakhir memeluk Islam di Sulawesi Selatan, kecuali Toraja. Penerimaan Islam di Kerajaan Bone terbilang singkat disebabkan kepercayaan masyarakat mengenai raja yang merupakan keturunan To Manurung yang merupakan personifikasi dewa di bumi, dan sebuah ungkapan dalam bahasa Bugis polo papa, polo panni (patah tulang, patah sayap), sebuah ungkapan masyarakat tentang perintah raja, dimana rakya tidak punya daya dan kekuatan untuk tidak melaksanakan perintah rajanya. Penyebaran dengan singkat itu, dikarenakan raja juga menjadi ulama yang mendakwakan dan belajar Islam.
Perkembangan agama Islam di Kerajaan Bone sangatlah menarik dengan memperkenalkan Islam versi baru yang tidak kenal di kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Selatan, yakni dengan menyerukan untuk menghapus sistem perbudakan di Kerajaan Bone dan di beberapa kerajaan-kerajaan tetangganya. Diterimanya Islam di Kerajaan Bone, maka kerajaan pun bercorak Islam dengan pemakaian term Islam pada raja yakni ‘Sultan’ hal yang sama dilakukan dibeberapa kerajaan di Nusantara, meskipun di Kerajaan tidak mengkonversi “kerajaan” ke “kesultanan”, akan tetapi pemakaian gelar sultan pada raja menandakan kerajaan terbut sudah bercorak Islam. Sebagai konsukuwensi logis diterimanya Islam, pada masa La Maddaremmeng Sultan Saleh (1626-1643 dan 1667-1672 M) struktur kerajaan ditambah dengan pejabat syariat Islam (parewa sara’) dengan mengangkat Fakih Amrullah sebagai Kadhi (kali) serta dibantu oleh pejabat-pejabat sara’ lainnya seperti; Khatib (katte), Imam (imang), Amil (amele’), dan doja. Mereka semua mempunyai tugas dalam melaksanakan syariat Islam dan mengajarkan kepada masyarakat. Sehingga syariat Islam sudah masuk pada ke pelosok daerah dan menyatu dengan sosial kultur masyarakat, dengan dimasukkannya sara’ pada struktur kerajaan dan sara’ juga dimasukkan di pangngadereng (sistem kebudayaan masyarakat) yang sebelum datangnya Islam hanya terdapat empat unsur yakni, ade’, rapang, bicara, dan wari. Pada masa Raja XVI Kerajaan Bone La Patau Matanna Tikka Matinroe ri Nagauleng Sultan Alimuddin (1696-1714 M), Islam semakin menyatu dengan sosial masyarakat Bone pada saat dan pada saat itulah ungkapan dalam bahasa Bugis tenna ugi kotenna
menandakan bahwa Islam sudah menjadi identitas tersendiri bagi orang Bugis, disebabkan syariat Islam (sara’) sendiri sudah menjadi unsur dari
pangngadereng. Pangngadereng sebagai sistem kebudayaan masyarakat orang
Bugis dan didalamnya sudah masuk syariat Islam, sehingga orang yang melanggarnya yang salah satunya adalah syariat Islam, maka orang tersebut tidak bisa dikatakan sebagai orang Bugis.
3. Akulturasi dalam politik dan sosial masyarakat Bone, memperlihatkan bentuk negosiasi. Dalam pelaksanaan sistem pangngadereng, nampak pembagian tugas antara pakkatenni ade’ (pemangku adat) dengan parewa sara’ (pejabat syariat). Kedua lembaga ini mempunyai fungsi dan tugas sesuai dengan bidangnya masing-masing dan memiliki kekuasaan otonomi tersendiri. Pemimpin tertinggi pakkatenni ade’ adalah raja yang khusus menangani pemerintahan sedangkan pemimpin tertinggi parewa sara’ adalah kalie yang menangani hal-hal yang berhubungan dengan syariat Islam. Demikian juga dengan penetrasi Islam dalam kehidupan sosial masyarakat mengambil bentuk negosiasi. Maksud akulturasi yang bersifat negosiasi adalah syariat Islam dilaksanakan secara bersama-sama dengan tradisi lokal.