Dalam setiap kegiatan penelitian dibutuhkan objek dan sasaran.4 Dalam mengumpulkan data merupakan hal yang tidak bisa dihindari dalam kegiatan penelitian dengan pendekatan apapun, pengumpulan data menjadi fase yang sangat strategis untuk menghasilkan penelitian yang baik dan bermutu.5
Untuk memperoleh data atau sumber yang diperlukan peneliti, maka menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu:
1. Observasi
Observasi adalah kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan panca indra yang dimiliki manusia meliputi panca indra pendengaran dan penglihatan untuk mendapatkan informasi yang tepat dan akurat terkait masalah yang terjadi di lapangan sehingga peneliti dapat memperoleh hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, atau kondisi dan perasaan emosi seseorang.6
Peneliti turun langsung ke lapangan untuk mengumpulkan data-data dengan mengamati, dan merekap serta merampungkan dengan cara mencatat atau merekam data-data yang dibutuhkan sebagai sumber kelengkapan. Adapun dalam penelitian ini yang diobservasi adalah guru pendidikan agama Islam dan peserta didik untuk mengetahui kegiatan guru pendidikan agama Islam dalam memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik saat kegiatan pembelajaran berlangsung.
2. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan fenomena atau kejadian yang
4Burhan Bungin, Metode Penelitian Kualitatif (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004).
5Sadarwan Danim, Menjadi Peneliti Kualitatif (Jakarta: CV Pustaka Setia, 2002), h. 51.
6Sitti Mania, Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Cet. 1: Makassar: Alauddin University Press, 2013), h. 187.
terkait dengan permasalahan yang akan diteliti dengan menyiapkan instrumen wawancara untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada narasumber.
Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan metode wawancara jenis wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara terstruktur adalah untuk menemukan informasi tentang kegiatan guru pendidikan agama Islam dalam memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik juga faktor penghambat dan pendukung serta bagaimana kemampuan membaca al-Qur’an peserta didik.
Adapun pihak yang diwawancarai adalah guru Pendidikan Agama Islam dan peserta didik untuk memperoleh data yang berkaitan dengan penelitian ini.
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan sarana yang dapat mendukung kebenaran dan keakuratan data yang diperoleh dari bahan-bahan yang telah diperoleh di lapangan. Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang telah berlalu, yang berbentuk gambar, tulisan, buku-buku, surat-surat serta arsip dokumen yang berada pada lingkungan penelitian. Dalam hal ini, bertujuan untuk mengumpulkan data yang tersedia dalam bentuk dokumen sebagai pendukung data-data yang sudah ada sebelumnya melalui observasi dan wawancara. Dalam penelitian ini peneliti mendapatkan dokumentasi berupa dengan mengambil gambar suasana kegiatan di sekolah serta data tentang profil sekolah.
4. Tes
Tes merupakan alat yang berguna untuk mengukur atau mengetahui keterampilan, pengetahuan, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh kelompok maupun individu. Dalam hal ini untuk mengetahui kemampuan membaca al-Qur’an peserta didik, peneliti melakukan tes dengan menyuruh peserta didik membaca ayat dalam al-Qur’an yang telah ditentukan oleh peneliti.
E. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen adalah hal penting dalam menentukan mutu suatu penelitian, instrumen merupakan salah satu alat atau perangkat yang diperlukan peneliti dan harus disiapkan sebelum turun ke lapangan untuk melakukan penelitian.
Menurut Suharsimi Arikunto, instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.7
Berikut instrumen yang digunakan peneliti untuk mengetahui peran guru Pendidikan Agama Islam serta upaya memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik di SMP Negeri 1 Enrekang, yaitu:
1. Pedoman observasi
Dalam penelitian ini, pedoman observasi merupakan pedoman yang digunakan sebagai panduan dalam mengamati objek penelitian pada saat melakukan penelitian di lapangan dengan memperoleh data yang berkaitan dengan peran guru Pendidikan Agama Islam dalam memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik.
2. Pedoman wawancara
Pedoman wawancara merupakan alat atau instrument yang digunakan dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan tujuan tertentu, yakni mewawancarai guru Pendidikan Agama Islam tentang bagaimana peran memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik serta element yang mendukung berkaitan dengan judul skripsi ini.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah kumpulan data-data dari informan yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Dokumentasi tersebut berupa
7Mamik, Metodelogi Kualitatif (Sidoarjo: Zifatama Publisher, 2015), h. 76.
gambar, buku-buku, catatan, transkrip, majalah, surat kabar dan sebagainya.hal ini metode dokumentasi yang digunakan yaitu foto kegiatan observasi, wawancara dan hasil tes.
F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data sangat berkaitan dengan analisis data. Data yang diperoleh dari berbagai sumber berupa hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi yang telah dilakukan sehingga memuat data secara lengkap dan akurat.
Dalam proses pengolahan data, dengan mengikuti teori Miles Dan Huberman bahwa ada tiga alur kegiatan, yaitu:
1. Reduksi Data (data reductioni)
Mereduksi data ialah merangkum, memilih hal-hal yang pokok, mengambil data yang penting dan memisahkan data yang kurang penting.
Memfokuskan pada hal-hal yang penting dengan memilah-milah menjadi data yang dapat dikelola dan membuang yang tidak perlu. Demikian data yang telah direduksi mempunyai gambaran yang jelas, peneliti melakukan reduksi dengan memilih data-data yang hanya terkait dengan pembahasan tentang peran guru dan upaya memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik. Maka, peneliti mendapatkan hasil yang valid atau jelas dan mudah dipahami setelah melakukan reduksi data.
2. Penyajian Data (data display)
Penyajian data merupakan data yang telah direduksi, disusun secara baik dan diuraikan secara singkat, berupa uraian, bagan atau kesimpulan-kesimpulan sehingga mudah dipahami tentang pembahasan yang terkait dengan penelitian.
Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun, dalam pola hubungan, penelitian yang dilakukan menggunakan informasi langsung yang telah
dianalisis kebenaran datanya. Kemudian tahap ini disajikan dan diuraikan dalam bentuk deskriptif naratif.
3. Penarikan Kesimpulan (verification)
Dalam penelitian ini, kesimpulan masih bersifat sementara baik dari segi objek atau deskripsi yang ditulis sebagai kesimpulan. Kesimpulan sementara ini akan berubah ketika kesimpulan ini tidak mendapat bukti-bukti dan buku pendukung yang kuat. Akan tetapi, jika sudah mempunyai bukti dan data pendukung yang kuat, maka kesimpulan tersebut sudah jelas. Kemudian dalam verifikasi data yaitu membuktikan kebenaran dan keabsahan data melalui informan yang memahami terkait tentang permasalahan yang terjadi, setelah peneliti melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi di SMP Negeri 1 Enrekang. Maka peneliti akan menarik kesimpulan serta menjawab pertanyaan yang terdapat dalam rumusan masalah.
G. Pengujian Keabsahan Data
Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif yaitu dengan menggunakan uji kredibilitas yang meliputi:
1. Perpanjangan pengamatan
Dengan adanya perpanjangan pengamatan, maka peneliti kembali ke lapangan untuk melaksanakan pengamatan atau obeservasi, wawancara, dan dokumentasi lagi dengan menemui sumber data yang telah ditemui sebelumnya ataupun yang baru. Dengan perpanjangan pengamatan memiliki arti bahwa hubungan peneliti dengan informan atau narasumber semakin akrab, terbuka, sampai akhirnya tidak ada lagi informasi yang disembunyikan, adanya perpanjangan pengamatan maka peneliti bisa mengecek apakah data tersebut benar adanya atau tidak, bila data yang diperoleh selama ini setelah dilakukan pengecekan kembali pada sumber data yang asli dan data tersebut tidak benar
adanya maka peneliti kemabli mengecek atau melakukan pengamatan kembali secara luas dan mendalam sampai ditemukan data yang benar-benar asli.8
Seiring dengan berjalannya waktu, peneliti melakukan perpanjangan penelitian sampai peneliti mendapatkan data yang pasti atau valid, dalam hal ini perpanjangan pengamatan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang benar valid atau pasti tentang peran guru pendidikan agama Islam dalam memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik.
2. Meningkatkan Ketekunan
Meningkatkan ketekunan memiliki arti meningkatkan keseriusan, lebih teliti, lebih cermat dan berkesinambungan. Oleh karena itu urutan dan kepastian peristiwa bisa direkam dengan pasti dan sistematis, dengan meningkatkan ketekunan maka peneliti bisa melakukan pengecekan kembali apakah data yang telah ditemukan benar atau tidak. Demikian juga dengan meningkatkan ketekunan, maka peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang apa saja yang telah diamati.9
3. Triangulasi sumber data.
Triangulasi sumber data merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lainnya, di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding data.10 Berdasarkan teknik tersebut, peneliti membandingkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam, dengan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan peserta didik, dan juga peneliti membandingkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan data yang diperoleh dari observasi, sehingga dapat
8Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2006), h. 367.
9Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2006), h. 371.
10Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Cet.XXII, Bandung:
Alfabeta, 2015), h. 330.
diketahui kesesuaian data hasil wawancara dengan fakta dilapangan. Karena, setiap hal temuan harus dicek keabsahannya agar hasil dari penelitian dapat dipertanggungjawabkan dan keabsahannya dapat dibuktikan kebenarannya.
45 BAB IV
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMPERBAIKI BACAAN AL-QUR’AN PESERTA DIDIK KELAS VIII DI SMPN 1
ENREKANG
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Sejarah singkat SMP Negeri Enrekang
Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Enrekang terletak di Jln. Jendral Sudirman No.3 Enrekang. SMP Negeri 1 Enrekang merupakan salah satu SMP Negeri di kecamatan Enrekang yang sekarang dipimpin oleh bapak Nasruddin, S.Pd Sekolah ini mulai berdiri pada tahun 1957. SMP Negeri 1 Enrekang berdiri berdasarkan SK izin operasional dengan tanggal 1957-08-23. Saat ini keadaan bangunan sekolah sangat memadai dan jumlah peserta didiknya 575 orang.
Tenaga pendidik yang sekarang bertugas di SMP Negeri 1 Enrekang dengan jumlah 51 orang guru, ada yang berstatus sebagai pegawai negeri sipil dan ada juga yang honorer.
2. Profil Sekolah
Nama sekolah : SMPN 1 Enrekang
NPSN : 40305801
Jenjang pendidikan : SMP Status Sekolah : Negeri
Alamat sekolah : Jln. Jendral Sudirman No.3 Enrekang
RT/RW : 1/1
Kode Pos : 91712
Kelurahan : Galonta
Kecamatan : Kec. Enrekang
Kabupaten : Kab. Enrekang
Provinsi : Prov. Sulawesi Selatan
Negara : Indonesia
Kepemilikan Tanah : Pemerintah Pusat
E-mail : [email protected]
3. Visi dan Misi SMPN 1 Enrekang 1. Visi SMPN 1 Enrekang
Terwujudnya warga sekolah yang sehat, kompetetif, dan unggul dalam IPTEKS, serta berbudaya lingkungan melalui pelayanan prima berlandaskan Iman dan Taqwa.
2. Misi SMPN 1 Enrekang
a. Menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan kondusif
b. Menumbuhkan penghayatan terhadap nilai-nilai keagamaan sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak.
c. Menumbuhkembangkan sikap peduli lingkungan dengan mengintegrasikan pendidikan lingkugan hidup.
d. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, intensif, sehingga siswa berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki.
e. Menumbuhkembangkan semangat keunggulan secara intensif terhadap seluruh warga sekolah.
f. Memanfaatkan sumber daya yang dimiliki sekolah secara efektif dan efisien.
g. Mendorong lulusan yang berkualitas dan berkompetitif.
h. Meningkatkan usaha untuk mencegah, menjaga dan melestarikan lingkungan hidup.
3. Tujuan SMPN 1 Enrekang
a. Unggul dalam kesehatan lingkungan sekolah b. Unggul dalam keagamaan dan kepedulian sekolah
c. Unggul dalam penerapan ilmu pengetahuan dan tekhnologi d. Unggul dalam perolehan nilai ujian akhir
e. Unggul dalam persaingan masuk kejenjang pendidikan yang lebih tinggi
B. Hasil Penelitian
Peneliti mulai melakukan penelitian di SMP Negeri 1 Enrekang bulan Desember 2021 pada akhir semester ganjil tahun ajaran 2021/2022 sampai dengan bulan Februari 2022. Peneliti melakukan observasi yang berhubungan dengan Peran Guru PAI dalam Memperbaiki Bacaan al-Qur’an Peserta didik kelas VIII di SMP Negeri 1 Enrekang. Hal tersebut dilakukan agar peneliti mengetahui kondisi, situasi, sikap dan perilaku yang dilakukan guru pendidikan agama Islam dalam memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik. Kemudian, yang menjadi informan yaitu guru pendidikan agama Islam dan peserta didik. Peneliti mengumpulkan data dan analisisnya pada saaat penelitian, sebagai berikut:
1. Kemampuan membaca al-Qur’an peserta didik
Membaca al-Qur’an merupakan suatu keharusan bagi umat Islam. Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dan jika kita membacanya maka akan mendapatkan pahala dan juga membacanya merupakan suatu ibadah.
Peneliti sudah berupaya maksimal untuk mendapatkan data yang sesuai agar dapat mengetahui bagaimana kemampuan membaca al-Qur’an peserta didik di SMP Negeri 1 Enrekang, dalam hal ini peneliti melakukan wawancara dengan guru pendidikan agama Islam kelas VIII dan tujuh orang peserta didik untuk diketahui kemampuan baca al-Qur’annya.
Berdasarkan wawancara dengan Ibu Salma sebagai guru pendidikan agama Islam kelas VIII SMP Negeri 1 Enrekang, mengemukakan:
“kemampuan peserta didik dalam membaca al-Qur’an berbeda-beda dalam kurikulum menyatakan bahwa standar kompetensi peserta didik dalam membaca al-Qur’an yaitu sesuai dengan penyebutan huruf hijaiyah yang benar, contohnya bisa membedakan huruf Sa, Tsa, Za dan juga dapat mengetahui panjang pendeknya bacaan, hukum tajwid”.1
Hasil wawancara tersebut peneliti dapat mengetahui bahwa peserta didik memiliki kemampuan bacaan al-Qur’an yang tidak semuanya sama, standar kompetensi peserta didik dapat dikatakan baik bacaaan al-Qur’annya jika mereka bisa membedakan penyebutan huruf hijaiyah sebagai contoh Sa, Tsa, Za, Sya dan lainnya, serta dapat mengetahui bagaimana seharusnya memanjangkan dan memendekkan bacaan al-Qur’an.
Kemudian peneliti mengamati tujuh orang peserta didik, berdasarkan hasil wawancara dengan guru pendidikan agama Islam bahwa tujuh orang peserta didik telah mengalami kemajuan membaca al-Qur’an sejak berada di kelas VIII di mana peserta didik tersebut dari awal tahun ajaran pada semester ganjil kelas VIII belum baik bacaan al-Qur’annya dan juga hasil observasi atau pengamatan peneliti. Tujuh peserta didik yaitu KR, JH, DD, AF, AM, RN, DN.
Peneliti meminta izin kepada guru pendidikan agama Islam kelas VIII SMP Negeri 1 Enrekang untuk menguji bacaan al-Qur’an tujuh peserta didik yang telah disebutkan tadi dan surah yang digunakan untuk mengetahui kemampuan baca al-Qur’an peserta didik yaitu QS Al-Alaq/96:1-5.
1Salmah, Guru Pendidikan Agama Islam, Wawancara, Enrekang, Tanggal 20 Desember 2021 .
Terjemahnya:
(1)Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan (2)Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (3)Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia (4)Yang mengajar manusia dengan pena (5)Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.2
Kemudian, QS Al-Kahfi/18:1-2
(1)Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok (2)sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajukan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik.3
Hasil tes bacaan peserta didik yaitu QS. al-Alaq ayat 1 sampai 5 dan QS al-Kahfi ayat 1-2 dapat diketahui bahwa kemampuan membaca al-Qur’an peserta didik sudah bisa dikategorikan baik sesuai dengan tajwid dan panjang pendek bacaan. Peneliti juga menguji peserta untuk mengetahui sejauh mana peserta didik mampu membedakan penyebutan huruf- huruf hijaiyah, tujuh peserta didik tersebut sudah masuk dalam kategori baik dalam penyebutan huruf hijaiyah.
Hasilnya menunjukkan peserta didik sudah mencapai standar atau syarat yang telah ditentukan dengan guru pendidikan agama Islam yaitu dapat membedakan huruf-huruf yang pada umumnya sulit dibedakan oleh peserta didik, dan hukum bacaan panjang dan pendek dalam membaca al-Qur’an sudah diketahui peserta didik.
2. Usaha yang dilakukan Guru pendidikan agama Islam dalam memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik SMP Negeri 1 Enrekang
2Kementrian Agama RI, Al-Qur’anul Karim (Jakarta: Maktabah Al- Fatih, 2015), h. 597
3Kementrian Agama RI, Al-Qur’anul Karim (Jakarta: Maktabah Al-Fatih,2015), h. 293
Guru selalu berusaha memberikan arahan atau membimbing peserta didik agar mampu mengetahui potensi apa yang dimiliki peserta didiknya. Guru selalu mengarahkan peserta didiknya agar tercapai kewajibannya sebagai pendidik atau pengajar. Agar peserta didiknya bisa menjadi peserta didik yang mampu membaca al-Qur’an serta mampu mengamalkan ayat al-Qur’an dalam kehidupan.
Guru memberikan bimbingan secara terus menerus dapat membantu peserta didik dalam memperbaiki bacaan al-Qur’an, memberikan arahan tentang ilmu tajwid serta membenarkan panjang pendeknya peserta didik dalam membaca al-Qur’an dan juga sebagai pembina kepribadian atau karakter peserta didik hingga menjadi pribadi yang terbentuk. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa kegiatan usaha guru pendidikan agama Islam dalam memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik kelas VIII di SMP Negeri 1 Enrekang.
Ungkapan Kepala Sekolah, Bapak Nasruddin:
“Usaha guru di SMP Negeri 1 Enrekang sudah saya katakan baik, terutama pada mata pelajaran pendidikan agama Islam utamanya peserta didik dalam membaca al-Qur’an karena adanya usaha bimbingan kepada peserta didik yang dilakukan secara terus menerus oleh guru dalam memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik”.4
Guru pendidikan agama Islam di SMP Negeri 1 Enrekang sangat berperan penting dalam kemajuan membaca al-Qur’an peserta didik. Berikut kegiatan usaha yang dilakukan guru pendidikan agama Islam dalam memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik yang peneliti dapatkan melalui wawancara dengan informan yaitu Bapak Muhammad Irfan Akbar, mengemukakan:
“kami melatih peserta didik dengan menyuruh membaca ayat yang ada di buku paket contohnya surah al-alaq, dengan itu kami menentukan atau mengetahui bahwa peserta didik ini sudah baik bacaannya dan ini yang belum”.5
4 Nasruddin, Kepala sekolah, Wawancara, Enrekang, Tanggal 20 Desember 2021
5Muhammad Irfan Akbar, Wawancara, Enrekang, Tanggal 21 Desember 2021
Senada dengan hal di atas, peneliti juga melakukan wawancara dengan Ibu Salmah sebagai guru pendidikan agama Islam kelas VIII, mengemukakan:
“usaha yang saya lakukan yaitu melakukan bimbingan dengan memberikan arahan kepada peserta didik agar membaca ayat al-Qur’an yang saya tentukan dan kami juga selalu memberi motivasi kepada peserta didik agar semangat dalam belajar, serta memberikan pandangan-pandangan atau pemahaman betapa pentingnya dalam membaca al-Qur’an”.6
Berdasarkan hasil wawancara di atas, peneliti dapat mengetahui bahwa usaha guru pendidikan agama Islam dalam memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik yaitu dengan melatih peserta didik membaca al-Qur’an yang ada pada buku paket, maka guru pendidikan agama Islam dapat menilai atau mengetahui kemampuan baca al-Qur’an peserta didik apakah sesuai dengan standar yang telah ditentukan atau belum sesuai.
Hal lainnya yang menjadi usaha guru pendidikan agama Islam dalam memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik di SMP Negeri 1 Enrekang yaitu memberikan dorongan dan motivasi agar peserta didik semangat dalam belajar dan memberikan contoh yang baik kepada peserta didik serta memberikan pemahaman bahwa sangat penting untuk membaca al-Qur’an.
Kemudian Informan, menambahkan lagi dengan mengemukakan:
“kami juga mengajar peserta didik dalam penyebutan huruf-huruf hijaiyah yang pada umumnya sulit dibedakan, contohnya Sa, Sya, Tsa, Za dan juga tentang hukum tajwid”.7
Hasil wawancara tersebut dapat peneliti ketahui bahwa peran guru pendidikan agama Islam sangat penting, dengan guru pendidikan agama Islam berusaha memberikan pemahaman tentang materi yang diajarkan seperti yang telah disebutkan oleh informan, sehingga peserta didik mampu memahami apa yang diajarkan.
6Salmah, Guru Pendidikan Agama Islam, Wawancara, Enrekang, Tanggal 21 Desember 2021
7Salmah, Guru Pendidikan Islam, Wawancara, Enrekang, Tanggal 21 Desember 2021
3. Faktor Pendukung dan Penghambat Guru Pendidikan Agama Islam dalam Memperbaiki Bacaan al-Qur’an Pesera Didik Kelas VIII di SMP Negeri 1 Enrekang.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti di SMP Negeri 1 Enrekang, perlu adanya faktor pendukung dan penghambat agar suatu program kegiatan berjalan dengan baik. Ada beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik di SMP Negeri 1 Enrekang, sebagai berikut:
a. Faktor Pendukung
Hasil observasi, wawancara yang dilakukan peneliti bahwa di SMP Negeri 1 Enrekang yaitu, kelengkapan fasilitas yang memadai contoh buku paket,speaker dan lainnya serta motivasi dari orang tua peserta didik.
Hal tersebut berdasarkan hasil wawancara dengan guru pendidikan agama Islam tentang faktor pendukung dalam memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik, yang dikemukakan oleh Bapak Muhammad Irfan Akbar, yaitu:
“faktor pendukung dalam memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik adanya kelengkapan buku paket yang bisa digunakan untuk mengajar siswa
”.8
Adapun wawancara dengan guru pendidikan agama Islam, mengemukakan:
“faktor pendukung guru dalam memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik yaitu sarana dan prasarana yang mendukung seperti buku, kitab suci al-Qur’an dan yang lainnya”.
Dari hasil wawancara dengan guru pendidikan agama Islam dalam memperbaiki bacaan al-Qur’an peserta didik, peneliti dapat mengetahui bahwa kelengkapan fasilitas sarana dan prasarana sangat dibutuhkan karena dengan
8Muhammad Irfan Akbar, Guru Pendidikan Agama Islam ,Wawancara, Enrekang, Tanggal 22 Desember 2021
pemenuhan fasilitas dapat membantu proses mengajar dan belajar untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Kemudian media pembelajaran yang biasanya digunakan guru dalam
Kemudian media pembelajaran yang biasanya digunakan guru dalam