BAB IV PENILAIAN DISERTASI SECARA KUALITAS
A. Kajian Tafsir
Klasifikasi kajian tafsir yang dimaksud disini adalah kajian yang menyangkut penafsiran ayat-ayat al-Qur‟an baik yang memakai metode tematis ataupun yang lainnya. Namun, dari disertasi yang ada baik di UIN Jakarta, UIN Yogyakarta dan IAIN Surabaya kajian tafsir tematis lebih mendominasi, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya.
Referensi utama yang sering dirujuk dalam pembuatan tafsir tematis adalah kitab al-Bidayah fi Tafsir al-Maudhui karya Abd Hayy Farmawi. Karya al-Farmâwî ini menjadi rujukan siapa saja yang akan menulis metode maudhû‘î baik teori maupun prakteknya.1 Dalam bukunya ia menjelaskan, dengan menerapkan metode tafsir maudhû‘î, seseorang dapat mengetahui masalah-masalah al-Qur‟an dengan segala aspeknya secara sempurna, sehingga ia akan mampu menyajikan argumen yang jelas. Disamping itu, adanya tafsir tematis juga dapat membantu seseorang menemukan dan mengungkap segala rahasia dan kedalaman kandungan
al-Qur‟an yang pada akhirnya mampu mengarahkan akal manusia kepada
1 Terbukti dari beberapa literatur tentang maudhû‘î, nama al-Farmâwî dengan al-Bidâyahnya selalu
dijadikan pijakan pertama untuk merumuskan maudhû’î meski pada penjabaran berikutnya terdapat beberapa perbedaan.
pengakuan kemahasucian dan kasih sayang Allah yang terdapat di dalam syariat yang Ia tetapkan bagi hambaNya2
Pernyataan serupa diungkapkan oleh Mahmud Syaltût bahwa al-Qur‟an tidak hanya berisi tentang norma-norma teoritis semata tetapi juga memiliki hubungan yang riil dengan berbagai bentuk pengalaman individu maupun masyarakat.3 Penegasan ini menunjukkan bahwa metode tafsir maudhû‘î yang ditawarkan al-Farmâwî bertujuan untuk mengungkap petunjuk al-Qur‟an secara tematis sehingga dapat dijadikan contoh ideal yang dalam menjalani kehidupan. Semakin banyak tafsir maudhû‘î berarti semakin banyak pula tematisasi al-Qur‟an sehingga semakin memudahkan masyarakat ketika mencari-cari tema tertentu sesuai dengan kebutuhannya. Inilah prinsip maudhû‘î al-Farmâwî yang juga diikuti oleh tokoh-tokoh berikutnya.
Pernyataan al-Farmâwî tersebut menunjukkan bahwa proses penafsirannya hanya tertuju pada teks al-Qur‟an dan mengesampingkan problem realitas.4
Keberadaan tafsir maudhû‘î adalah sebagai pedoman melangkah bukan untuk pemecahan problem. Langkah seperti ini, di satu sisi akan menjaga obyektifitas ayat-ayat al-Qur‟an karena tidak terkontaminasi dengn isu-isu riil, tetapi di sisi lain tawaran maudhû‘î seperti ini dinilai sebagai produk kumpulan norma-norma al-Qur‟an karena kurang merespon permasalahan yang mungkin berkembang di masyarakat terkait dengan tema yang ditetapkan. Oleh karena itu, sangat layak bila produk tafsir maudhû‘î yang menerapkan metode Farmawi secara utuh akan lengkap secara konsep Qur‟ani tetapi kurang menyentuh problem realitasnya penulis.
Berikut akan diulas beberapa disertasi yang fokus pada kajian tafsir. Yang termasuk dalam kajian tafsir adalah pertama, kajian tafsir tematis dalam perspektif
2 Abd al-Hayy al-Farmâwî,
al-Bidâyah fî al-Tafsîr al-Maudhû‘î: Dirâsah Manhajiyyah Maudhû‘îyyah,(t.tp.: t.p, 1977), h.xv
3 Mahmûd Syaltût,
Min Hudâ al-Qur'ân, h. 323.
4 Artinya, penilaian penulis ini berdasarkan pada penjelasan yang tertulis dalam masing-masing
karya mereka bukan pada penjelasan lisan sebelum atau sesudah karya tersebut diterbitkankarya-karya, juga bukan berdasarkan pada karya orang lain yang mencoba mengembangkan metode tersebut atau merevisinya. Buku Wawasan al-Qur’an karya Quraish Shihab misalnya, merupakan pengembangan atau modifikasi dari metode al-Farmâwî. Lihat M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1996 M.)
al-Qur‟an. Maksudnya sebuah disertasi yang menerapkan metode tafsir maudhu’i
secara murni yaitu menemukan pandangan al-Qur‟an secara komprehensif terkait tema tertentu. Kedua, tematis dalam perspektif kitab tafsir tertentu yaitu disertasi yang menemukan sebuah konsep utuh terkait tema tertentu tetapi tidak secara langsung dari al-Qur‟an tetapi dibatasi dari pandangan mufassir atau kitab tafsir tertentu. Ketiga, disertasi yang membahas khusus tantang jender. Keempat, disertasi yang fokus pada tafsir Nusantara atau tafsir karya mufassir Indonesia.
1. Kajian Tafsir Tematis Persepktif al-Qur’an
Judul: “Laut Dan Pengelolaannya Dalam Perspektif Alquran” Penulis: Ahmad Yusam Thobroni
Tahun Lulus: 2009
Pendidikan S1: Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya
Pendidikan S2: Pascasarjana IAIN Alauddin Makasar.
Disertasi ini menyimpulkan bahwa laut dan berbagai potensinya pada hakekatnya merupakan anugerah Allah swt. yang diperuntukkan bagi umat manusia. Penganugerahan ini memberikan konsekuensi bagi manusia, sebagai khalifah Allah di muka Bumi, memiliki hak pengelolaan dengan melakukan eksplorasi terhadap laut guna mengambil manfaat darinya, di samping memiliki tanggung jawab (kewajiban) untuk melakukan upaya konservasinya guna menjaga keseimbangan ekologi. Upaya pelestarian tersebut tidak saja dapat memelihara kelangsungan ekologi lingkungan laut, tetapi juga kelangsungan kehidupan manusia itu sendiri dalam jangka panjang, khususnya generasi mendatang yang juga memiliki hak terhadap anugerah ini. Oleh karena itu, untuk keperluan eksplorasi tersebut diperlukan metode eksplorasi yang tepat, seimbang, dan proporsional untuk menghindari terjadinya kerusakan laut beserta isinya.
Dengan demikian, manusia hendaknya tidak hanya melihat laut sebagai obyek—untuk “pengkayaan diri” bagi satu generasi saja (generasinya
sendiri), tanpa mempedulikan kebutuhan generasi mendatang—tetapi juga harus memandangnya sebagai anugerah Tuhan yang harus dijaga kelestariannya. Mengenai hubungan laut dan eksistensi manusia menurut Al-Quran dapat dijelaskan bahwa Allah swt menciptakan manusia di muka bumi ini dan memberikan kedudukan serta fungsi yang sangat tinggi untuk mengelola dan mengatur bumi (dalam hal ini mengelola laut) untuk diambil manfaatnya. Dengan begitu, hubungan antara manusia dengan alam beserta segala isinya berada dalam kerangka istikhlaf atau tugas-tugas kekhalifahan manusia.
Konsep kekhalifahan menjadikan faktor lingkungan sebagai pertimbangan utama dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Dengan begitu ia tidak mengeksploitasi alam secara besar-besaran demi kepentingan manusia. Konsep kekhalifahan bersifat transenden. Artinya penguasaan manusia terhadap lingkungannya adalah amanah dari Allah, tidak mutlak dan akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Itulah sebabnya prinsip yang mendasari hubungan antara manusia dengan alam tidak hanya hubungan eksploitatif, tetapi juga apresiatif. Alam tidak hanya dimanfaatkan, tetapi juga harus dihargai. Hubungan antara manusia dengan alam bukan merupakan hubungan antara penakluk dan yang ditaklukkan, atau antara tuhan dengan hamba, tetapi hubungan kebersamaan dalam ketundukan kepada Allah swt.
Kemampuan manusia dalam mengelola alam bukanlah disebabkan kekuatan yang dimilikinya, tetapi disebabkan anugerah Allah swt. Jadi, intervensi Tuhan-lah yang menundukkan seluruh alam untuk manusia, sehingga manusia dapat mengolahnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan kata lain, alam semesta dapat dimanfaatkan oleh manusia setelah ada campur tangan aktif dari Tuhan. Tanpa upaya penundukan Tuhan, alam ini tidak mungkin dapat dimanfaatkan dengan mudah. Begitu pula dengan lautan, ia tidak begitu saja dapat dikelola dan dimanfaatkan oleh manusia dengan mudah, tetapi lautan sesungguhnya telah mengalami proses penundukan (taskhr³) oleh Allah swt., sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal.
Sebagai imbalannya, pengelolaan laut tersebut tentu harus dibarengi dengan tanggung jawab. Dengan demikian, alam ini adalah karya besar dari Yang Maha Kuasa, ia tidak diciptakan hanya untuk memperlihatkan kebesaran dan kekuasaan-Nya, tetapi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan vital manusia.
Dilihat dari perspektif Alquran, pengelolaan laut juga termasuk dalam tugas isti’mar (tugas memakmurkan bumi). Konsep isti‟mar tersebut bermakna membangun di atas bumi atau dalam hal ini mengolah potensi kelautan untuk memperoleh hasil. Dengan begitu konsep isti‟mar mengandung makna pembangunan peradaban di muka bumi untuk mencapai kehidupan yang sejahtera. Isti’mar disebut sebagai konsep pengelolaan lingkungan, karena di dalamnya terkandung usaha pengolahan alam, perluasan pembangunan, dan pemeliharaan untuk mencapai kehidupan yang
lebih baik dan maju. Perintah isti‟mar ditujukan kepada manusia dalam
kerangka istikhlaf, yaitu pemberian kekuasaan kepada manusia dalam kapasitas sebagai khal³fah untuk mengolah dan memakmurkan bumi. Dari sini terlihat posisi manusia sebagai khalifah yang diberi kekuasaan untuk
mengolah bumi. Jadi obyek isti‟mar adalah bumi (beserta seluruh isinya
termasuk laut). Sedangkan subyeknya atau pelaksana isti‟mar adalah manusia dalam posisi sebagai khalifah.
Pengelolaan laut harus berpijak pada prinsip-prinsip etika pengelolaan lingkungan, yaitu;
(1) Seluruh alam raya beserta isinya (baca; laut) adalah milik Tuhan dan ciptaan-Nya;
(2) Seluruh isi alam diperuntukkan bagi manusia (dan makhluk hidup lainnya);
(3) Alam ini ditundukkan agar dapat dikelola oleh manusia;
(4) Prinsip istikhla>f, yaitu manusia dititipi amanah oleh Tuhan untuk mengelola lingkungan;
(5) Sebagai khalifa>h, manusia bertugas mengantarkan lingkungan untuk mencapai tujuan penciptaannya;
(7) Kerusakan lingkungan adalah akibat perbuatan manusia, dan oleh karena itu manusia harus bertanggungjawab di dunia dan di akhirat; dan (8) kasih sayang manusia kepada seluruh makhluk bermakna menghargai seluruh makhluk (biotik dan abiotik) dan memperlakukannya dengan baik.
Pada akhir tulisannya Yossam menjelaskan bahwa uraian di atas merupakan argumen yang mendukung tuntutan ishlah yang menghasilkan hukum wajib memelihara kelestarian laut (lingkungan) serta merehabilitasinya bila rusak, dan larangan ifsa>d yang menghasilkan hukum haram merusak lingkungan. Itulah sebabnya dilarang membuang kotoran ke dalam air, baik air yang tergenang maupun yang mengalir. Pertimbangan utamanya adalah untuk mewujudkan kemaslahatan manusia dan makhluk hidup lainnya. Kewajiban memelihara meliputi seluruh aspek yang menjadi wahana, sarana, dan perantara yang dapat menyampaikan kepada terwujudnya kewajiban memelihara laut, juga menjadi wajib hukumnya. Sebaliknya, seluruh washilah yang dapat mengantar kepada terjadinya mafsadat, dalam hal ini kerusakan lingkungan laut (misalnya pencemaran), juga menjadi haram hukumnya.
Disertasi yang ditulis Yossam secara metodologi ada 2 hal yang perlu tim peneliti komentari: pertama, pijakan teori metode tematis al-Qur‟an menggunakan al-Farmawi maka produk yang dihasilkan adalah konsep
Qur‟an tentang Laut dan pengelolaannya, bisa dinilai, komprehensif. Namun,
kurang menyentuh permasalahan riil terkait dengan pencemaran laut dampak dan solusinya. Hal ini karena al-Farmawi tidak menekankan pemecahan problem realitas tetapi hanya melahirkan konsep normative.
Kedua, tehnik maudhu‟i dalam bab I tentang metodologi penelitian disebutkan bahwa penulis disertasi menggunakan kronologi ayat terkait laut dan pengelolaannya, tetapi dalam uraiannya tim peneliti tidak menemukannya. Menurut tim peneliti, seyogyanya kronologi ayat tentang kelautan tidak perlu tertera dalam terhnik penelitian ayat karena, sebagaima
al-Farmawi jelaskan bahwa tartib nuzuli hanya diperuntukkan bagi yang mengambil tema hukum.5
Sedangkan sisi pengembangan keilmuan belum terlihat jelas oleh tim peneliti, karena penulis disertasi tidak menyebutkan secara jelas titik bedanya disertasi ini dengan penelitian atau tulisan sebelumnya terutama tulisan Muin Salim yang berjudul Pokok-Pokok Pikiran tentang Laut dalam al-Qur’an.
Judul : “Perspektif al-Qur’an Tentang Pluralitas Agama ” Penulis: Abdul Moqsith
Tahun Lulus: 2007
Pendidikan S1:STAI al-Aqidah Jakarta
Pendidikan S2: Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Abdul Moqsith dalam disertasinya ingin mengetahui secara mendalam perspektif al-Qur‟an tentang pluralitas umat beragama. Menurutnya, pluralitas agama adalah fakta sosial mengenai kemajemukan agama. Dalam menyikapi pluralitas agama tersebut, dapat dikatakan bahwa
al-Qur‟an adalah kitab suci yang memandang umat agama lain secara positif,
bukan sebagai ancaman.
Moqsith menegaskan bahwa Islam adalah kelanjutan dari agama sebelumnya. Sebagaimana Isa al-Masih datang untuk menggenapi hukum Taurat, begitu juga Nabi Muhammad. Ia hadir bukan untuk menghapuskan Taurat dan Injil, melainkan untuk menyempurnakan dan mengukuhkannya.
Moqsith lahir di Situbondo, Jawa Timur, 07 Juni 1971. Ia pernah belajar di sejumlah pesantren di Jawa Timur. Pendidikan S2-nya ia tempuh di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia pernah mengikuti program dialog lintas agama selama sebulan di Amerika Serikat pada Februari 2004. Dan selama satu semester, ia pernah mengikuti perkuliahan di Universitas Leiden Belanda pada tahun 2006.
5„Abd al-Hayy al-Farmâwî, al-Bidâyah fî al-Tafsîr al-Maudhû„î: Dirasah Manhajiyyah al-Maudhu‟iyyah, (t.p.: Matba‟ah al-Hadarah al-Arabiyah, 1977 M), h. 56
Moqsith pernah menjadi peneliti di The WAHID Institute dan The Religious Reform Project (RePro) Jakarta. Selain itu, ia juga pernah menjadi Redaktur Jurnal Tashwirul Afkar PP Lakpesdam NU Jakarta, konsultan fikih Majalah Syir’ah Jakarta, dan pernah menjadi anggota Dewan Pengasuh PP Zainul Huda Arjasa, Sumenep, Jawa Timur.
Ia juga aktif menuliskan pemikirannya lewat buku dan sejumlah artikel di media massa. Karya tulisnya dalam bentuk buku yaitu: Fiqh Anti Trafiking: Jawaban Atas Berbagai Kasus Kejahatan Perdagangan Manusia dalam Perspektif Hukum Islam (Cirebon: Fahmina Institute, 2006) dan Membangun Pluralisme Agama di Indonesia: Modul Workshop Islam dan Pluralisme (Jakarta: The WAHID Institute, 2007)
Ia juga menyumbangkan karya ilmiahnya di sejumlah buku, seperti Islam, Negara, dan Civil Society (Jakarta: Paramadina, 2005), Menggugat Tradisi Pergulatan Pemikiran Anak Muda NU (Jakarta: Kompas, 2004), Islam Pribumi, Mendialogkan Agma dan Membaca Realitas (Jakarta: Erlangga, 2003), Kala Fatwa Menjadi Penjara (Jakarta: The WAHID Institute, 2006), Bincang Tentang Agama di Udara, Fundamentalisme, Pluralisme, dan Peran Publik Agama (Jakarta: MADIA, 2005), dan lain-lain.6
2. Tafsir Tematis Perspektif Mufassir
Judul : “Konsep Syifā’ dalam Tafsīr Mafātiḥ al-Ghayb karya Fakhruddin al-Rāzī”
Penulis : Aswadi
Institusi : Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun Lulus: 2007.
Penulis disertasi ini adalah orang yang memiliki latarbelakang pendidikan pesantren. Pedndidikan kesarjanaannya (S1) di bidang dakwah di
6 Silahkan lihat halaman biografi penulis dalam disertasinya Abdul Moqsith,
Perspektif al-Qur’an
IAIN Sunan Ampel Surabaya.7 Gelar magisternya ia raih pada tahun 1997 di
IAIN Alauddin Makasar dengan judul tesis “Konsep Mujādalah dalam
al-Qur'an : Kajian Metodologi Dakwah.” Dalam beberapa karyanya ia berupaya mengabungkan kajian dakwah sebagai basic S1-nya dengan Kajian
al-Qur‟an yang ia tekuni di S2 dan S3.8 Namun demikian, pemilihan tema
konsep shifā’ menjadi agak janggal bila hanya dihubungkan dengan Fakultas Dakwah dimana ia mengajar tapi harus juga dilihat matakuliah yang dia ampu di sana dalam kajian al-Qur‟an dan Ulum al-Qur‟an.
Pilihan penulis pada al-R zi dan Mafātiḥ al-Ghayb-nya, karena dipandang sebagai tafsir rasional. Mufassir yang menggabungkan berbagai macam ilmu ke dalam tafsirnya. Hanya saja ada pandangan yang menganggap bahwa tafsirannya masih parsial, sehingga tidak bisa diambil kesimpulan yang konprehensif. Alasan itu pula mengapa Aswadi cenderung menggunakan metode tematik dalam disertasinya. Agar pandangan al-R zi tentang kesehatan bisa dibaca dan dimaknai secara baik pada masa sekarang.9 Sekalipun demikia, penulis tidak menjaabarkan adakah kegelisahan sosial kontemporer terkait tema shifā’ (kesehatan dalam al-Qur‟an). Bila mana ada penelusuran awal atas keingintahuan masyarakat atas hal itu, maka signifikansi praktis dari disertasi ini akan sangat terlihat dan bermakna langsung di masyarakat Muslim Indonesia. Penulis hanya mencantumkan
harapan: “hasil penelitian inidiharapkan dapat membantu usaha-usaha
peningkatan, penghayatan dan pengamalan ajaran-ajaran maupun nilai-nilai
7 Sarjana Muda Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya tahun 1984; Sarjana Lengkap
Fakult as Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya Jurusan Penyiaran dan Penerangan Agama I slam (PPAI ) lulus tahun 1987.
8Misalnya, karyanya tentang “Konsep Dakwah Dalam Al-Qur'an: Pendekatan Tafsir Tematik
(Penelitian Individualtahun 1998), artikel tentang: Yang Tersembunyi (Kajian Met odologi Tafsir Karya M.Quraish Shihab), tahun 2000, artikel tentang “Misteri Alam Jin Perspektik al-Qur'an” dalam Jurnal Paramedia Vol. 5, No.3 (Juli 2004). Lihat “Riwayat Hidup” dalam Aswadi, “Konsep Syif ‟ dalam Tafsīr Mafātiḥ al-Ghayb karya Fakhruddin al-R zī,” Disertasi Doktor, Sekolah Pascasarjana UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta: 2007, 369-371
Al-Qur'an, khususnya berkaitan dengan pemanfaatan syifā’ bagi kehidupan
manusia”10.
Bagaimana pengungkapan shifā dalam al-Qur‟an? dan Bagaimana konsep shifā dalam Tafsīr Mafātiḥ al-Ghayb karya Fakhruddin al-R zī? Merupakan dua rumusan masalah yang ingin diuji oleh penulis disertasi. Kekosongan karya akademik yang belum diisi ditelaah oleh penulis melalui pelacakan atas kajian terdahulu yang relevan. Sebuah penelaahan yang cukup konfrehensif baik dari sisi kajian shifā dalam al-Qur‟an dan sunnah maupun psikoterafi.11 Kekurangan yang tidak dilakukannya adalah melacak siapa saja yang telah mengkaji al-R zi dan tafsirnya. Mengapa akhirnya pilihannya pada konsep shifā’. Padahal ada beberapa karya disertasi yang membahas tentang al-R zi begitu pula tafsirnya.
Aswadi menjadikan metode tematik sebagai pendekatan dalam menganalisis al-Qur‟an. Kronologi turun ayat yang dibangun oleh „A[I]zzah Darwazah dijadikan penekanan kapan dan dimana suatu surat/ayat turun. Setelah itu, penulis berupaya mengkonfirmasikannya dengan al-Muʻjam al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’ān karya Mu ammad Fuʻ d „Abd al-B qī.12 Penulis tidak menjelaskan bagaimana data tematik yang ada dianalisis? Metode analisis apa yang digunakan, misalnya analisis wacana kah atau yang lainnya? Aswadi hanya menyebutkan bahwa ia menggunakan pendekatan dari ilmu-ilmu lainnya yang dianggap relevan. Terlebih lagi, penulis mengangkat judul bab studi kritis dan relevansi syifādengan sains dan teknologi modern.13
Pertanyaan berikutnya adalah „apakah bab-bab sebelumnya bukan studi
kritis? Sejatinya jawabannya pasti “ya”, karena ini karya ilmiah
Judul: Millah Ibra>hi>m dalam Al-Mi>za>n fi> Tafsi>r al-Qur’a>n karya Muh{ammad H{usein al-Thaba>t}aba>’i
10Aswadi, “Konsep Syif ‟ dalam
Tafsīr Mafātiḥ al-Ghayb karya Fakhruddin al-R zī,” 18
11Aswadi, “Konsep Syif ‟ dalam Tafsīr Mafātiḥ al-Ghayb karya Fakhruddin al-R zī,” 19-27.
12Aswadi, “Konsep Syif ‟ dalam Tafsīr Mafātiḥ al-Ghayb karya Fakhruddin al-R zī,” 28-30.
Penulis: Waryono Abdul Ghafur > Tahun lulus: 2008
Pendidikan S1: IAIN Sunan kalijaga Yogyakarta Pendidikan S2: UIN Sunan kalijaga Yogyakarta
Disertasi yang ditulis oleh Waryono Abdul Ghafur ini menitikberatkan kajiannya pada Millah Ibra>hi>m. Ia mencoba meredefinisi terhadap istilah milla>h Ibra>hi>m pada masa kekinian. Kajian ini dilatarbelakangi karena seringnya intensitas konflik yang terjadi di antara para pengikut agama Samawi (Yahudi, Nasrani, dan Islam) padahal ketiga agama Samawi ini memiliki satu figur yang signifikan, yaitu Ibrahim dan millah (tuntunan)nya.
Kajian terhadap millah Ibra>hi>m ini, Ghafur lihat dari perspektif Muh{ammad H{usein al-T{aba>t{aba>‟i> melalui karyanya Al-Mi>za>n fi> Tafsi>r al-Qur’a>n. Menurutnya, al-T{aba>t{aba>‟i> merupakan salah seorang mufasir yang konsen dalam isu pluralitas agama yang bertitik tolak dari al-Qur‟an dan Sunnah. Selain itu, model penafsiran yang ditawarkan oleh
al-T{aba>t{aba>‟i> yakni integratif-interkonektif, komprehensif dan
interdisipliner menjadi model dalam memahami al-Qur‟an dihubungkan dengan masalah kekinian.
Tujuan disertasi ini diharapkan dapat meminimalisasi bahkan menghilangkan salah paham antarpemeluk agama (khususnya umat agama Samawi) dan seumat beragama. Ghafur menambahkan, disertasi ini dapat memberi dan menjadi landasan yang kuat bagi peneguhan identitas dan dalam rangka membangun hubungan yang konstruktif di antara pemeluk agama yang plural. Dan dalam konteks Indonesia, Ghafur mengharapkan hasil dari kajiannya ini dapat menjadi landasan (dalil-dalil) normatif dalam rangka mendukung kehidupan yang konstruktif sehingga pluralitas bukan sebagai hambatan, tetapi justru menjadi modal dalam membangun bangsa.
3. Tafsir Jender
Penulis: Hamka Hasan Tahun Lulus: 2009
Pendidikan S1:Jurusan Tafsir Universitas al-Azhar Mesir Pendidikan S2: Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Disertasi ini menunjukkan sejumlah faktor yang menyebabkan penafsiran bias atau sensitif jender oleh tokoh-tokoh di Indonesia dan Mesir, di antaranya: Ideologi, budaya patriarki, latar belakang sosial dan akademis tokoh tersebut. Tokoh yang berideologi bias jender dengan menggunakan metodologi tafsir modern dalam penafsiran ayat-ayat al-Qurân, hasil penafsirannya adalah bias jender. Sebaliknya, tokoh yang berideologi sensitif jender, meskipun menggunakan metodologi tafsir klasik, mereka akan melahirkan tafsir sensitif jender.
Menurut analisa Hamka sebagaimana beberapa tokoh jender mengatakan bahwa budaya patriarki yang menjadikan posisi laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan mempengaruhi lahirnya tafsir bias jender. Tafsir klasik yang pada umumnya ditulis pada daerah yang berbudaya patriarki dipandang sebagai sosok yang bertanggung jawab dalam penafsiran bias jender. Indonesia dan Mesir adalah wilayah yang mewarisi budaya patriarki.
Tokoh-tokoh penulis tafsir jender di Indonesia dan Mesir yang hidup dalam lingkungan sosial yang terbuka terhadap pemikiran-pemikiran kesetaraan jender dan memiliki hubungan personal dengan tokoh-tokoh feminis dalam pertemuan mereka dalam perkuliahan maupun seminar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri adalah mereka yang menghasilkan tafsir sensitif jender. Sebaliknya, tokoh-tokoh yang tertutup terhadap pemikiran kesetaraan jender dan tidak pernah berhubungan dengan pemerhati jender,