• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

C. Kajian Tentang Hasil Belajar

a. Pengertian hasil belajar

Hasil belajar merupakan tingkat keberhasilan siswa yang diperoleh dari tindakan atau aktivitas yang dilakukan dalam proses pembelajaran. Hasil belajar yang diperoleh siswa dapat dikatakan baik jika siswa tersebut dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik, serta perubahan tingkah laku yang mengacu pada tercapainya tujuan pembelajaran. dalam memperoleh hasil belajar yang baik diperlukan sebuah metode yang tepat artinya sesuai dengan kondisi dan keadaan kehidupan sehari-hari sehingga apa yang menjadi hasil belajar dapat dapat terpenuhi dalam jumlah dalam pengukuran hasil belajar di atas standar yang ada.

Menurut Purwanto (2010: 44), mengatakan bahwa hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata “hasil” dan “belajar” pengertian hasil (product) menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan input secara fungsional. Hasil produksi adalah perolehan yang didapatkan karena adanya kegiatan mengubah bahan (raw materials) menjadi barang jadi (finished goods).

Adapun menurut Ahmad Susanto (2014: 5) bahwa, hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari

seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran guru menetapkan tujuan pembelajaran. Anak yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan intruksional.

Sementara menurut Rusmono (2014: 7-8) bahwa hasil belajar merupakan semua akibat yang dapat terjadi dan dapat dijadikan sebagai indikator tentang nilai dari penggunaan suatu metode dibawah kondisi yang berbeda. Akibat ini dapat berupa akibat yang sengaja dirancang, karena itu ia merupakan akibat yang diinginkan dan bisa juga berupa akibat nyata sebagai hasil penggunaan metode pengajaran tertentu.

Menurut Dimyati dan Mujiono yang dikutip ( Henny Yule Astute, dkk, 114) hasil belajar merupakan dua hal yang dipandang yaitu siswa dan sisi guru. Dari sisi siswa hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan dari dua sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesaikannya bahan pelajaran.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar suatu aktivitas atau proses yang dilakukan siswa sehingga memperoleh kemampuan melalui kegiatan belajar. Hasil belajar juga merupakan

perubahan tingkah laku yang mengarah pada tercapinya tujuan pembelajaran. Hasil belajar yang diperoleh juga dapat dikatakan keberhasilan dari suatu penggunaan metode pengajaran.

b. Taksonomi hasil belajar kognitif

Bloom ( Via Ngalim Purwanto, 2010: 43-47) membagi tingkat kemampuan yang termasuk aspek kognitif menjadi enam, yaitu:

1) Pengetahuan

Kemampuan yang hanya meminta responden atau testee untuk mengenal atau mngetahui adanya konsep, fakta, atau istilah tanpa harus mengerti, atau dapat menilai, atau dapat menggunakannya. Dalam hal ini testee biasanya hanya dituntut untuk menyebutkan kembali (recall) atau menghafal saja.

2) Pemahaman

Tingkat kemampuan yang mengharapkan testee mampu memahami arti atau konsep, situasi, serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini testee tidak hanya hafal secara verbalitas, tetapi memahami konsep dari masalah atau fakta yang ditanyakan.

3) Penerapan

Responden dituntut kemampuannya untuk menerapkan atau menggunakan apa yang diketahuinya dalam situasi yang baru

baginya. Dengan kata lain, aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi kongkret atau situasi khusus.

4) Analisis

Tingkat kemampuan testee atau manganalisis atau menguraikan situasi integritas atau situasi tertentu ke dalam komponen- komponen atau unsur-unsur pembentukannya. Hal ini dapat berupa kemampuan untuk memahami dan menguraikan bagaimana proses terjadinya sesuatu, cara bekerjanya sesuatu, atau mungkin juga sistematikanya.

5) Sintesis

Penyusunan unsur-unsur atau bagian-bagian kedalam suatu bentuk yang menyeluruh. Dengan kemampuan sintesis seseorang dituntut untuk dapat menemukan hubungan kausal atau urutan tertentu, atau menemukan abstraksinya yang berupa integritas.

6) Evaluasi

Dengan kemampuan evaluasi, testee diminta untuk membuat suatu penilaian tentang suatu pernyataan, konsep, situasi, dsb. Berdasarkan suatu kriteria tertentu, kegiatan penilaian dapat dilihat dari segi tujuannya, gagasannya, cara bekerjanya, cara pemecahannya, metodenya, materinya, atau lainnya.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan ada enam aspek. Dari keenam tingkatan kognitif tersebut sangat diperlukan bagi guru dalam usaha menyusun tes-tes hasil belajar yang

lebih mengacu kepada tujuan pendidikan serta acuan untuk mengembangkan instrumen penilaian.

Dalam penelitian ini peneliti hanya mengambil tiga aspek yang meliputi: aspek pengetahuan, pemahaman dan aplikasi. Ketiga aspek tersebut yang dianggap sesuai dengan usia sekolah dasar. Sementara pada ranah afektif berupa sikap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi tipe buzz group. Pada ranah psikomotorik hasil belajar siswa akan dinilai dari segi keterampilan siswa saat mengikuti proses diskusi.

Dari ketiga ranah penjelasan di atas maka dapat di simpulkan, bahwa hasil belajar merupakan hasil dari proses aktifitas yang dilakukan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Hasil belajar siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dapat di lihat dari segi tingkah laku berpikir siswa, besikap dan perbuatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, karena hasil belajar yang baik dan optimal merupakan hasil belajar yang mencapai tujuan pembelajaran serta tujuan pendidikan.

2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Berdasarkan teori Gestalt (dalam Ahmad Susanto: 12), hasil belajar siswa dipengaruhi oleh oleh dua hal, yaitu:

a. Siswa dalam arti kemampuan berpikir atau tingkah laku intelektual, motivasi, minat, dan kesiapan siswa, baik jamanai maupun rohani.

b. Lingkungan, yaitu sarana dan prasarana, kompetensi guru, kreativitas guru, sumber-sumber belajar, metode serta dukungan lingkungan, keluarga, dan lingkungan.

Wasliman (2007: 159) mengatakan ada dua faktor yang memepengaruhi hasil belajar diantaranya:

a. Faktor internal; faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik yang meliputi: kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan. b. Faktor eksternal; faktor yang berasal dari luar diri peserta disik yaitu

keluarga, sekolah dan masyarakat. Keluarga yang morat-marit keadaan ekonominya, pertengkaran suami istri, perhatian oarng tua kurang terhadap anaknya, serta kebiasaan sehari-hari berperilaku kurang baik daro orang tua dalam kehidupan sehari-hari berpengaruh dalam hasil belajar peserta didik.

Untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang baik serta tercapainya tujuan pembelajaran, maka hal ini diperlukan peran guru yang baik pula. Menurut Wina Sanjaya (2008: 52), guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran. Tanpa guru, bagaimanapun bagus dan idealnya suatu strategi, maka strategi itu tidak mungkin bisa diaplikasikan. Keberhasilan implementasi suatu strategi pembelajaran akan tergantung pada kepiawaian guru dalam menggunakan metode, teknik, dan taktik pembelajaran dan juga memahami karakteristik siswa.

Heronimus Delu Pingge (2016: 135) berpendapat bahwa dalam memahami peserta didik maka guru akan mengetahui cara mengelola pembelajaran siswa atau dengan kata lain membelajarkan siswa. Pengelolaan pembelajaran siswa dimulai dari perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dan mengevaluasi hasil belajar untuk mengkur tingkat pencapaian pemahaman siswa terhadap pembelajaran.

Peningkatan hasil belajar diperlukan sebuah metode yang dapat memberikan dampak pada hasil belajar siswa yang baik. Tri Intan sari (2014: 37) mengemukakan bahwa, peningkatan hasil belajar siswa melalui penggunaan metode yang tepat dan menarik dalam pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang bisa dijadikan untuk mendukung proses pembelajaran yaitu metode diskusi. Pendapat lain disampaikan oleh Dewi Anggarini ( 2015: 154) mengatakan bahwa penggunaan metode diskusi dapat mendorong dan memotivasi siswa dalam proses belajar mengajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas dalam proses belajar mengajar.

Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa peningkatan hasil belajar yang baik yang dicapai oleh siswa ada pengaruh dari faktor- faktor diantaranya dari segi kemampuan dan lingkungan yang ada dalam diri siswa ataupun yang ada disekitar siswa. Dalam faktor-faktor tersebut yang mempengaruhi hasil belajar sangat berkaitan satu sama lain. Selain itu hasil belajar siswa juga sangat berpengaruh terhadap kualitas mengajar

guru. Metode diskusi dapat digunakan guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Dokumen terkait