LANDASAN TEORI
B. Kajian Tentang Perilaku Ihsan Siswa 1.Pengertian Perilaku Ihsan 1.Pengertian Perilaku Ihsan
Perilaku ihsan diartikan keadaan dimana seseorang yang dalam hal ini adalah siswa berkelakuan baik, khususnya di lingkungan sekolah. Hal ini berdasarkan arti “ihsan” dalam surat An Nahl ayat 90:
َِّن إ
ََِّالله
ُِرُمْأَي
ِ لْدَعْلا ب
ِ ناَسْح ْلْاَو
1621
Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.”17
Perilaku ihsan dalam pembahasan ini diarahkan pada perilaku disiplin siswa yang berkaitan dengan ketaatan belajar serta etika belajar.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa perilaku ihsan yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah bagaimana cara siswa dalam melakukan kegiatan sehari-hari di sekolah. Siswa dapat dikatakan berperilaku ihsan dilihat dari kepatuhannya terhadap tata tertib di sekolah.
2. Indikator Perilaku Ihsan Siswa
Perilaku ihsan siswa dapat dilihat dari beberapa indikator berikut : a. Masuk keluar kelas sesuai peraturan
Kelancaran proses belajar mengajar banyak ditentukan oleh kedisiplinan pihak-pihak yang terkait dalam proses pendidikan. Salah satunya adalah tingkah laku, kerajinan, dan ketertiban siswa pada saat masuk dan keluar kelas.
Suasana kelas yang gaduh yang disebabkan adanya siswa yang terlambat sangat mengganggu kelancaran kegiatan belajar mengajar. Begitu pula guru yang dibuat sibuk siswanya yang suka pulang sebelum waktunya. Siswa yang taat pada peraturan akan
17
22
membiasakan diri masuk dan keluar kelas sesuai waktu yang telah ditentukan.
b. Menggunakan pakaian seragam sekolah dengan benar
Salah satu identitas yang membedakan anak sekolah dengan yang bukan anak sekolah adalah pakaian yang dikenakannya, berikut dengan cara berpakaian. Setiap sekolah biasanya telah menentukan seragam sekolah demi menjaga ketertibaban, kerapian, dan keseragaman.
Setiap sekolah juga mempunyai batasan. Batasan sendiri tentang model pakaian berikut atribut-atribut yang dikenakan siswa.
Siswa yang patuh pada tata tertib tidak pernah merasa terpaksa memakai seragam berikut atributnya sesuai ketentuan sekolah, bahkan mungkin saja merasa bangga terhadap apa yang dipakai.
Secara psikoligis, anak yang berpakaian rapi dapat menimbulkan rasa simpatik dari para guru dan teman-temannya dan biasanya anak tertib berpakaian cenderung rajin dalam kegiatan sekolah lainnya.
c. Ikut menjaga nama baik sekolah
Kepatuhan siswa pada peraturan sekolah juga dapat ditunjukkan melalui komitmennya dalam menjaga nama baik sekolah. Penjagaan nama baik sekolah dapat dilakukan dengan cara
23
meraih prestasi sebaik-baiknya, berbudi luhur di lingkungan masyarakat dan lain sebagainya.
Bagi siswa yang merasa tidak mempunyai perhatian terhadap kemajuan sekolahnya, akan merasa berat dan sulit melakukan hal-hal di atas, sedangkan bagi siswa yang patuh dan merasa memiliki almamaternya, maka akan dilakukan dengan semangat dan sungguh-sungguh.
d. Menghormati guru dan karyawan
Guru dan karyawan sebagai pendidik dan yang melayani kebutuhan kebutuhan kegiatan belajar mengajar siswa sudah sewajarnya jika siswa menghormati. Rasa hormat terhadap guru bisa dilakukan dengan cara bersikap sopan, tidak gaduh di kelas, mengajukan pertanyaan dengan bahasa yang santun dan sebagainya. e. Bergaul dengan teman
Teman dalam kelas merupakan teman sebaya, sedangkan teman di luar kelas adalah teman sepermainan. Teman sebaya artinya teman bergaul yang umurnya sama atau hampir sama.
Siswa yang baik, maka terhadap teman-temannya dia tidak akan membeda-bedakan, berlaku sombong, atau bahkan menyakiti.
24
3. Faktor-Faktor Yang Memperngaruhi Perilaku Ihsan Siswa Di Sekolah a. Keteladanan dari guru
Akhlak guru mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap akhlak murid-muridnya. Tingkah laku, cara berbuat, dan beribicara seorang guru akan ditiru oleh anak didiknya. Oleh karena itu sudah seharusnya seorang guru berpegang teguh pada ajaran-ajaran agama serta berakhlak mulia, berbudi luhur, pengasih, dan penyayang kepada murid-muridnya sebagai anak yang cinta pada keluhuran budi pekerti gurunya, guru harus mengamalkan ilmunya dan jangan memperbuat sesuatu yang bertentangan dengan perkataannya.
Hendaklah seorang guru selalu sadar bahwa ia adalah imam yang jadi panutan murid-muridnya dalam akhlak, perkataan, dan semua gerak-geriknya.
Bahkan menjadi pendidik adalah model bagi para siswa, kapan dan dimana saja menjadi teladan yang baik bagi mereka. Mekanisme pembelajaran bukan hanya di ruang-ruang kelas dan jam-jam pelajaran, tetapi sepanjang siswa berada di lingkungannya, di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
b. Tata tertib sekolah
Setiap sekolah biasanya mempunyai aturan-aturan tersendiri yang sengaja dibuat untuk mengatur para siswanya. Tata tertib
25
sekolah memegang peranan penting dalam mempengaruhi perilaku ihsan siswa di sekolah.
Sebagai contoh di sekolah kami, sebelum dibuat tata tertib tentang siswa yang hendak masuk kantor untuk mengambil sesuatu, mereka cenderung bebesa dan kurang memperhatikan etika dan kesopanan, akan tetapi setelah kami buat tata tertib secara tertulis dan kami sosialisasikan kepada mereka, perilaku mereka sudah tidak seperti yang sebelumnya. Para siswa yang tadiya masuk kantor tanpa mengucapkan salam, kini mereka telah terbiasa dengan salam ini. Yang dulunya mereka menggunakan bahasa Jawa untuk mengatakan sesuatu kepada bapak ibu guru, namun setelkah diberi aturan bahwa dalam menyampaikan segala sesuatu kepada bapak ibu guru harus dengan bahas Indonesia yang baik, kini mereka telah terbasa dengan hal ini, dan masih banyak lagi contoh yang lainnya.
Demikian juga dengan tata tertib yang lainnya, misalnya tata tertib masuk perpustakaan, tata tertib masuk ruang komputer, dan tata tertib masuk mushola, dan lain sebagainya. Semua tata tertib tersebut besa sekali pengaruhnya terhadap perilaku ihsan siswa di sekolah.
c. Sanksi dan hukuman
Betapapun tata tertib telah dibuat oleh sekolah untuk mengatur para siswanya, akan tetapi manusia bersifat tidak sempurna, maka kemungkinan-kemungkinan untuk berbuat salah,
26
penyimpangan dari anjuran selalu ada. Lagi pula anak-anak bersifat pelupa, lekas melupakan larangan atau perintah yang baru saja diberikan kepadanya.
Oleh karena itu tata tertib yang telah dibuat, sengaja kami lengkapi dengan sanksi dan hukuman bagi mereka yang lalai dari tata tertib, misalnya bagi putra-putri kami yang terlanjur melanggar tata tertib masuk kantor, maka hukuman bagi mereka adalah mengulangi masuk kantor sesuai dengan tata tertib yang telah disepakati bersama. Bagi para siswa yang melanggar tata tertib di ruang perpustakaan, maka mereka harus menata buku-buku yang ada di rak perpustakaan. Demikian juga jika ada yang melanggar tata tertib di ruang komputer, maka terpaksa mereka harus membersihkan ruang komputer dampai bersih.
Hukuman biasanya membawa rasa tidak enak yang mana tidak diinginkan oleh anak didik.. diharapkan hal ini akan mendorong anak untuk tidak berbuat lagi.
C. Hubungan Kedisiplinan Guru terhadap Perilaku Ihsan Siswa di Sekolah