• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KOMUNIKASI INTERPERSONAL DAN KEHIDUPAN

B. Kajian Teori

Komunikasi interpersonal waria dalam persperktif teori sebagi berikut: Hebert Blumer mengembangkan pemikiran George Herbert Mead melalui pokok pikiran interaksionisme simbolik sebagai berikut. Manusia bertidak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning) yang dipunyai objek tersebut berdasarkan bagi dirinya. Makna yang dipunyai berupa sesuatu tersebut berasal dari interaksi sosial antara seseorang dengan sesamanya. Makna tersebut diubah melalui suatu proses penafsiran yang digunakan

61 Zunly nadia, waria laknat atau kodrat!?, (Yogyakarta : Pustaka Marwa, 2005), hal : 40 62 Ibid, hal : 44

74

seseorang dalam menghadapi sesuatu. Makna itu tidak begitu saja diterima seseorang, malinkan ditafsirkan lebih dahulu. 63

Interaksionisme simbolis merupakan sebuah cara berpikir mengenai pikiran, diri sendiri, dan masyarakat. yang telah memberikan kontribusi yang besar terhadap tradiri sosiokultural dalam teori komunikasi.64 Teori interaksionisme simbolis berfokus pada cara-cara manusia membentuk makna dan susunan dalam masyarakat melalui percakapan.

Barbara Ballis Lal meringkaskan dasar-dasar pemikiran teori interaksionisme simbolis 65:

 Manusia membuat keputusan dan bertindak sesuatu dengan pemahaman subjektif ereka terhadap situasi ketika ereka menemunkan diri mereka.

 Kehidupan sosial terdiri dari proses-proses interaksi daripada susunan, sehingga terus berubah.

 Manusia memahami pengalaman mereka melalui makna-makna yang ditemukan dalam simbol-simbol dari kelompok utama mereka dan bahasa merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial.

 Dunia terbentuk dari objek-objek sosial yang memiliki nama dan makna yang ditentukan secara sosial.

 Tindakan manusia didasarkan pada penafsiran mereka, di mana objek dan tindakan yang berhubungan dalam situasi yang dipertimbangkan dan diartikan.

63 Wiranto, pengantar ilmu komunikasi (jakarta :grasindo, 2004),hal : 42 64 Stephen W. Littlejohn, Karen A. FossAll,

Teori Komunikasi Edisi 9, (Jakarta : Salemba

Humanika, 2009), hal : 121 65 Ibid, hal : 231

75

 Dari seseorang merupakan sebuah objek yang signifikan dan layaknya semua objek sosial, dikenalkan melalui interaksi sosial dengan orang lain.

Tiga konsep utama dalam teori Mead ditangkap dalam judul karyanya yang paling terkenal, yaitu masyarakat, diri sendiri dan pikiran.66 Kategori- kategori ini merupakan aspek-aspek yang berbeda dari proses umum yang sama yang disebut tindak sosial, yang merupakan sebuah kesatuan tingkah laku yang tidak dapat dianalisis ke dalam bagian-bagian tertentu. Tindakan saling berhubungan dan dibangun seumur hidup. Tindakan dimulai dengan sebuah dorongan; melibatkan perpepsi dan penunjukan makna, repetisi mental, pertimbangan alternatif, dan penyempurnaan.

Dalam bentuknya yang paling mendasar, sebuah tindak sosial melibatkan sebuah hubungan dari tiga bagian: gerak tubuh awal dari salah satu individu, respon dari orang lain terhadap gerak tubuh tersebut, dan sebuah hasil. Hasilnya adalah arti tindakan tersebut bagi pelaku komunikasi. Misalnya seorang custemer menunjukkan ekspresi wajah atau gesture yang menunjukkan ia puas seperti mengacungkan jempol dengan suatu pelayanan. Maka pemberi layanan akan meresponnya dengan senyuman atau lainnya, sehingga terjadi hasil (sebuah pelayanan yang memuaskan).

Masyarakat (Society) atau kehidupan masyarakat, terdiri atas perilaku kooperatif anggota-anggotanya. Kerja sama manusia mengharuskan seorang individu untuk memahami maksud orang lain yang juga mengharuskannya

66 Ibid, hal : 232

76

untuk mengetahui apa yang akan dilakukan selanjutnya.67 Dalam hal ini, kerja sama disini maksudnya yaitu, seorang individu harus dapat menafsirkan (memaknai) maksud atau tindakan orang lain, dan menanggapinya secara tepat.

Mead menyebutkan gerak tubuh sebagai simbol signifikan. Gerak tubuh (gesture) mengacu pada setiap gerakan tubuh yang memiliki makna.68 Gesture bisa berupa verbal (bahasa) atau non verbal (gerakan tubuh). Ketika ada makna yang dibagi, gesture menjadi niali dari simbol yang signifikan. Masyakarat terdiri dari sebuah jaringan interaksi sosial di mana anggota- anggotanya menempatkan makna untuk bertindak pada diri individu dan tindakan orang lain.

Kegiatan saling mempengaruhi antara merespon pada orang lain dan diri sendiri ini adalah sebuah konsep penting dalam teori Mead dan hal ini memberikan peralihan yang baik ke konsep keduanya __diri.69 Pada dasarnya diri adalah kemampuan untuk menerima diri sendiri sebagai sebuah obyek. Diri sendiri merupakan objek sosial yang penting, dijelaskan dan dipahami dengan cara yang selalu berkembang dalam interaksi. Konsep diri seorang individu tidak lebih dari rencana tindakan terhadap diri sendiri, identitas, minat, keengganan, cita-cita, ideologi, dan penilaian diri seorang individu.70

Kadang-kadang seseorang bereaksi dengan baik pada dirinya serta merasakan kebanggaan, kebahagaan, dan keberanian. Cara utama, seorang individu dapat melihat dirinya seperti orang lain melihat dirinya.

67 Ibid, hal : 233 68 Ibid, hal : 233 69 Ibid, hal : 234 70 Ibid, hal : 122

77

Menggunakan sudut pandang orang lain, untuk mengetahui konsep diri. Istilah lain konsep diri adalah refleksi umum orang lain, semacam gabungan sudut pandang yang memandang diri sendiri. Refleksi umum orang lain merupakan keseluruan persepsi seorang individu dari cara orang lain melihat nya.

Diri memiliki dua segi,71 masing-masing menjalankan fungsi yang penting. I adalah bagian dari seorang individu yang menurutkan kata hati, tidak teratur, tidak terarah, dan tidak dapat ditebak. Me adalah refleksi umum orang lain yang terbentuk dari pola-pola yang teratur dan tetap, yang dibagi dengan orang lain. Setiap tindakan dimulai dengan sebuah dorongan dari I dan selanjutnya dikendalikan oleh me. I adalah tenaga penggerak dalam tindakan, sedangkan me memberikan arahan dan petunjuk.

Kemampuan seseorang untuk menggunakan simbol-simbol yang signifikan untuk merespon pada diri sendiri menjadikan ia berpikir. Berpikir adalah konsep ketiga Mead, yang ia sebut pikiran.72 Pikiran bukanlah sebuah benda, tetapi merupakan sebuah proses percakapan seseorang dengan dirinya sendiri, dan tidak di temukan didalam diri individu, pikiran adalah fenomena sosial. Pikiran muncul dan berkembang dalam proses sosial dan merupakan bagian integral dari proses sosial. Berpikira melibatkan keraguan ketika seorang individu menafsirkan situasi. Seorang individu berpikir melalui situasi dan merencanakan tindakan selanjutnya.

Manusia menggunakan simbol-simbol yang berbeda untuk menamai objek. Seseorang selalu mengaartikan sesuatu berhubungan dengan

71 Ibid, hal : 234 72 Ibid, gal : 235

78

bagaimana ia bertindak terhadap hal itu. misalnya seorang individu memiliki perasaan suka kepada temannya. Pastinya ia memiliki tindakan berbeda terhadap teman yang di anggap sebagai teman dan teman yang di kasihi. Manusia mendefinisikan objek secara berbeda, tergantung pada bagaimana mereka bertindak terhadap objek tersebut. Interaksionisme simbolis sebagai sebuah gerakan, ada untuk meneliti cara-cara manusia berkomunikasi, memusatkan, atau dapat membagi makna.

Dokumen terkait