• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TORITIS DAN PRAKTEK EMPIRIS

D. Kajian Terhadap Implikasi Penerapan Sistem Baru

Aspek Kehidupan Masyarakat Dan Dampaknya Terhadap Aspek Beban Keuangan Negara

Bagian ini menguraikan tentang penerapan sistem baru yang akan diatur dengan Peraturan Daerah terhadap aspek kehidupan masyarakat

24

dan dampaknya terhadap aspek beban keuangan daerah. Terdapat beberapa implikasi yang potensial timbul, yakni beban pengeluaran masyarakat dan penerimaan PAD.

Pemungutan pajak parkir akan mendorong tempat-tempat usaha, yang sebelumnya tidak melakukan pengutan parkir, akan melakukan pungutan parkir.

1. Hal ini akan menambah beban pengeluaran masyarakat.

Kondisi seperti harus mendorong diambilnya kebijakan untuk memberi perlindungan kepada masyarakat pengguna tempat parkir dari kemungkinan kerugian yang ditimbulkan oleh penyelenggaraan tempat parkir.

2. Berdasarkan pengamatan, sejumlah tempat usaha (seperti pasar swalayan) yang semestinya merupakan obyek Pajak Parkir sebaiknya melakukan pemungutan Pajak Parkir.

Apabila tidak melakukan pemungutan dengan baik maka penerimaan penerimaa dari Pajak Parkir akan mengurangi penerimaan PAD.

3. Di satu sisi perubahan tariff akan menimbulkan beban keuangan bagi masyarakat tetapi di sisi lain akan memberikan penambahan pendapat yang tentunya akan dimanfaatkan kembali oleh masyarakat dalam bentuk pelayanan public baik pelayanan jasa, pelayanan barang maupun pelayanan administrasi yang lebih baik..

Kondisi ini harus mendorong adanya kebijakan untuk melakukan pendataan dan penentuan obyek Pajak Parkir dalam

25

rangka peningkatan penerimaan PAD dari Pajak Parkir, tidak sekedar pergeseran dari Retribusi Parkir ke Pajak Parkir.

26

BAB III

EVALUASI DAN ANALISIS TERHADAP PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN TERKAIT PAJAK PARKIR

A. Kajian Terhadap Peraturan Perundang-Undangan Terkait Dengan Kondisi Hukum Yang Ada.

Pajak adalah salah satu jenis pungutan yang memiliki sifat dan fungsi sangat strategis, karena pajak merupakan sumber utama bagi negara dalam membiayai pembangunan dan juga operasional pemerintahan. Eksistensi pajak sangat menentukan keberlanjutan dari pembangunan saat ini maupun masa yang akan datang. Bagi rakyat pajak merupakan instrumen untuk berkontribusi kepada negara sehinggga negara mempunyai kemampuan melindungi rakyat dan menyelenggarakan kesejahteraan rakyat. Jadi dengan instrumen pajak rakyat atau masyarakat berhak untuk memperoleh perlindungan dalam segala sisi kehidupannya, sedangkan negara berkewajiban menyelenggarakan kesejahteraan umum dan demikian pula sebaliknya. Hubungan antara rakyat dan negara tentunya diatur sedemikian lupa dengan instrumen berupa hukum pajak.

Hukum Pajak memberikan jaminan hukum dan tentunya keadilan untuk negara selaku pemungut pajak dan tentunya rakyat sebagai wajib pajak. Sebagai negara hukum, di Indonesia pajak tentunya diatur berdasarkan undang-undang. Hal tersebut tercantum dan diatur dalam Pasal 23A UUD NRI 1945 yakni bahwa pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa ditetapkan dengan undang-undang. Ketentuan ini merupakan dasar hukum pemungutan pajak oleh negara, yang pelaksanaanya dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Pajak yang dipungut berdasarkan undang-undang mengandung arti bahwa pajak merupakan kewajiban bagi wajib pajak dan apabila tidak dipenuhi kewajiban tersebut maka dapat dikenakan sanksi.

27

Pelaksanaan pemungutan pajak dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah, berdasarkan pembagian kewenangan. Pembagian kewenangan ini membawa konsekuensi pengkategorian jenis – jenis pajak yang diistilahkan sebagai pajak pusat dan pajak daerah. Pajak pusat adalah jenis pajak yang kewenangan pemungutannya adalah pemerintah pusat, sedangkan pajak daerah kewenangan pemungutannya adalah pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten/kota. Konteks dari kewenangan pemungutan pajak adalah melingkupi kewenangan pengaturan dan kewenangan pelaksanaan.

Hal yang krusial dalam pengaturan pajak dan pelaksanaan oleh pemerintah daerah adalah persoalan tarif. Penetapan tarif pajak oleh pemerintah daerah tentunya menggunakan parameter yang utama adalah kemauan ekonomi masyarakat, hal ini menentukan besaran nilai pajak yang layak di daerah. Kekuasaan bertindak dari pemerintah daerah untuk menetapkan tarif pajak tentunya didasarkan atas peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu:

1. UUD NRI 1945

Dasar hukum pemungutan pajak dalam konstitusi yakni pada Pasal 23 A UUD NRI 1945 yang mengatur bahwa pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa ditetapkan dengan undang-undang. Aturan tersebut mengandung makna bahwa pajak yang bersifat memaksa adalah merupakan beban dari masyarakat secara ekonomi untuk negara. Pajak akan mengurangi kemampuan ekonomi masyarakat secara mikro, sehingga memperkuat ekonomi negara secara makro. Pembebanan secara ekonomi kepada masyarakat ini yang menjadi pertimbangan agar pajak itu pemungutannya harus berdasarkan undang-undang, artinya masyarakat sebagai wajib pajak berhak juga untuk menyetujui adanya pembebanan pajak, melalui wakil-wakilnya di parlemen.

28

2. Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah

Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah (selanjutnya disebut UU Pajak Daerah), merupakan undang-undang yang dibentuk untuk memperkuat sistem pemerintahan desentralisasi yaitu adanya pelimpahan kekuasaan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Pemerintah daerah diberi kebebasan untuk mengatur wilayahnya sendiri atau sering disebut otonomi daerah. Dalam bagian menimbang UU Pajak Daerah, pada hurup a disebutkan bahwa Indonesia adalah negara hukum yang tujuannya mewujudkan tata kehidupan bangsa yang aman, tertib, sejahtera, dan berkeadilan. Kemudian pada huruf b dinyatakan bahwa penyelenggaraan pemerintah daerah dilakukan dengan memberi kewenangan seluas-luasnya, disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. Pada huruf c dinyatakan bahwa pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang penting guna membiayai pelaksanaan pemerintahan daerah.

Selanjutnya dalam huruf d disebutkan bahwa dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan kemandirian daerah, perlu dilakukan perluasan obyek pajak daerah dan retribusi daerah dan pemberian diskresi dalam penetapan tarif. Kemudian pada huruf e dinyatakan bahwa kebijakan pajak daerah dan retribusi daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip demokrasi, pemerataan dan keadilan, peran serta masyarakat, dan akuntabilitas dengan memperhatikan potensi daerah.Berdasarkan bagian menimbang UU Pajak Daerah diatas, bahwa tiap-tiap daerah diberi hak dan kewajiban mengatur dan mengurus daerahnya dan lebih efektif dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan masyarakat. Untuk penyelenggaraan pemerintahan daerah tersebut diamanatkan bahwa daerah berhak mengenakan pungutan kepada masyarakat berdasarkan undang-undang, yaitu berupa pajak daerah. Kewenangan pemungutan pajak oleh pemerintah daerah ini berupa perluasan basis pajak daerah dan juga pemberian kewenangan penetapan

29

tarif. Perluasan basis pajak dilakukan sesuai dengan prinsip pajak yang baik, artinya bahwa perluasan wajib pajak dilakukan tersebut tidak akan menimbulkan ekonomi biaya tinggi dan selalu mempertimbangkan perkembangan ekonomi masyarakat. Dalam penetapan tarif, walaupun pemerintah diberikan kewenangan diskresi, namun diamanatkan pula bahwa dalam penetapan tarif agar menghindari penetapan tarif pajak yang tinggi, sehingga dapat menambah beban bagi masyarakat secara berlebihan. Pemerintah daerah hanya diberi kewenangan untuk menetapkan tarif pajak dalam batas maksimum yang ditetapkan dalam UU Pajak Daerah. Adanya UU Pajak Daerah ini maka kemampuan daerah akan semakin besar untuk membiayai pembangunan daerah dalam kerangka otonomi.

Dalam konsepsi perluasan basis pajak daerah, UU Pajak Daerah mengatur mengenai Jenis Pajak daerah. Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) UU Pajak Daerah mengatur jenis pajak daerah provinsi dan pajak daerah kabupaten/kota, selengkapnya sebagai berikut :

Jenis pajak provinsi terdiri dari : a. Pajak Kendaraan Bermotor;

b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;

c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;

d. Pajak Air Permukaan;

e. Pajak Rokok.

Jenis pajak Kabupaten /Kota terdiri dari : a. Pajak Hotel;

b. Pajak Restoran;

c. Pajak Hiburan;

d. Pajak Reklame;

30

e. Pajak Penerangan Jalan;

f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;

g. Pajak Parkir;

h. Pajak Air Tanah;

i. Pajak Sarang Burung Walet;

j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan;

k. Bea Perolehan Hak Atas Tanah.

Dalam Pasal 2 juga diatur bahwa daerah dilarang memungut pajak selain jenis pajak sebagaimana telah diatur pada ayat (1) dan ayat (2).

Apabila diantara jenis pajak yang telah diatur tersebut potensinya kurang memadai maka jenis pajak tersebut dapat tidak dipungut oleh pemerintah daerah.

Berdasarkan hal-hal yang diatur dalam UU Pajak Daerah seperti yang telah dijelaskan diatas, maka wacana dari Pemerintah Daerah Kabupaten Badung untuk meningkatkan tarif Pajak Parkir telah sesuai dengan ketentuan-ketentuan UU Pajak daerah. Pajak Parkir adalah salah satu jenis Pajak yang merupakan perluasan basis pajak untuk pemerintah daerah yang diamanatkan UU Pajak Daerah, artinya pungutan Pajak Parkir telah berdasarkan undang-undang. Upaya peningkatan tarif Pajak Parkir juga merupakan tindakan yang terlegitimasi berdasarkan UU Pajak Daerah yaitu bahwa pemerintah daerah dalam hal ini Pemerintah Daerah Kabupaten Badung diberikan kewenangan diskresi untuk menentukan tarif pajak parkir maksimum seperti yang diatur dalam UU Pajak Parkir.

Ketentuan Pajak Parkir dalam UU Pajak Parkir diatur dalam Pasal 62 sampai dengan Pasal 65 UU Pajak Daerah. Pasal 62 ayat (1) UU Pajak Daerah diatur bahwa obyek Pajak Parkir adalah penyelenggara tempat parkir di luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor. Kemudian dalam ayat (2) diatur

31

yang tidak termasuk obyek pajak parkir adalah penyelenggaraan tempat parkir oleh pemerintah dan pemerintah daerah, penyelenggaraan tempat parkir oleh perkantoran yang hanya digunakan untuk karyawannya sendiri, penyelenggaraan tempat parkir oleh kedutaan, konsulat dan perwakilan negara asing dengan asas timbal balik serta penyelenggaraan tempat parkir lainnya yang diatur dengan peraturan daerah. Berdasarkan ketentuan Pasal 62 UU Pajak Parkir ini diatur mengenai obyek dari Pajak Parkir dan pengecualiannya, serta pemerintah daerah juga diberikan kewenangan untuk mengatur tentang penyelenggaraan tempat parkir yang bukan obyek dari Pajak Parkir.

Selanjutnya dalam Pasal 63 UU Pajak Parkir, diatur mengenai subyek Pajak Parkir dan Wajib Pajak Pajak Parkir. Subyek Pajak Parkir adalah orang pribadi atau badan yang melakukan parkir kendaraan bermotor, sedangkan wajib Pajak Parkir adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan tempat parkir. Dalam Pasal 64 UU Pajak Parkir diatur mengenai dasar pengenaan Pajak Parkir yaitu jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada penyelenggara parkir. Persoalan penetapan Tarif Parkir diatur dalam Pasal 65 UU Pajak Parkir, yaitu bahwa Tarif Pajak Parkir ditetapkan paling tinggi sebesar 30% (tiga puluh persen) dan Tarif Pajak Parkir ini ditetapkan dengan peraturan daerah. Cara perhitungannya yaitu dengan cara mengalikan Tarif Pajak Parkir dengan jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada penyelenggara tempat parkir.

Berdasarkan hal yang telah dijelaskan diatas, penetapan Tarif Pajak Parkir diatur dengan peraturan daerah dan upaya peningkatan Tarif Pajak Parkir oleh Pemerintah Kabupaten Badung, berdasarkan ketentuan Pasal 65 ayat (1) UU Pajak Parkir, hanya diperbolehkan maksimal sebesar 30%.

3. Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah Pemungutan Pajak Parkir oleh Pemerintah Kabupaten Badung dilakukan dengan tujuan untuk membiayai urusan-urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya serta membiayai pembangunan dan pengembangan wilayah dalam kerangka otonomi daerah. Adapun urusan-

32

urusan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah diatur dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah (selanjutnya disebut UU Pemda). Dalam bagian menimbang dari UU Pemda, huruf b disebutkan bahwa penyelenggaraan pemerintahan daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, seerta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, dan kekhasan daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemudian dalam huruf c disebutkan bahwa sfisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dan antara daerah, potensi, dan keanekaragaman daerah, serta peluang dan tantangan persaingan global dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara.

Berdasarkan bagian menimbang huruf b dan huruf c UU Pemda diatas dapat dimaknai bahwa pemberian otonomi yang luas kepada pemerintah daerah dilakukan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat, melalui pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat. Melalui otonomi ini juga dalam lingkungan global diharapkan daerah mampu meningkatkan daya saing dengan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan serta potensi daerah. Selanjutnya bahwa dengan otonomi maka pemerintah daerah berwenang mengatur dan mengurus daerahnya sesuai dengan aspirasi dan kepentingan masyarakatnya sepanjang tidak bertentangan dengan norma hukum nasional dan kepentingan umum.

Hal-hal yang merupakan urusan pemerintahan daerah yang menjadi dasar pelaksanaan otonomi daerah berdasarkan Pasal 9 ayat (4) UU Pemda disebut dengan urusan pemerintahan konkuren. Urusan pemerintahan konkuren yang menjdi kewenangan daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 11 ayat (1) UU Pemda terdiri atas urusan pemerintahan wajib dan urusan pemerintahan pilihan. Urusan pemerintahan wajib terdiri dari urusan

33

pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar dan urusan pemerintahan yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar.

Untuk selengkapnya urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar diatur dalam Pasal 12 ayat (1) yaitu terdiri dari :

a. Pendidikan;

b. Kesehatan;

c. Pekerjaan umum dan penataan ruang;

d. Perumahan rakyat dan kawasan pemukiman;

e. Ketentraman, ketertiban umum, dan perlindungan masyarakat;

f. Sosial.

Urusan pemerintahan daerah yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar diatur dalam Pasal 12 ayat (2) meliputi:

a. Tenaga kerja;

b. Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak;

c. Pangan;

d. Pertanahan;

e. Lingkungan hidup;

f. Administrasi kependudukan dan pencatatan sipil;

g. Pemberdayaan masyarakat dan desa;

h. Pengendalian penduduk dan keluarga berencana;

i. Perhubungan;

j. Komunikasi dan informatika;

k. Koperasi, usaha kecil dan menengah;

l. Penanaman modal;

m. Kepemudaan dan olah raga;

34

n. Statistik;

o. Persandian;

p. Kebudayaan;

q. Perpustakaan;

r. Kearsipan.

Adapun urusan pemerintahan pilihan diatur dalam Pasal 12 ayat (3) yaitu : a. Kelautan dan perikanan;

b. Pariwisata;

c. Pertanian;

d. Kehutanan;

e. Energi dan sumber daya mineral;

f. Perdagangan;

g. Perindustrian;

h. Transmigrasi.

Selain urusan pemerintahan konkuren, pemerintah daerah juga diberikan kewenangan menyelenggarakan urusan pemerintahan umum, sebagaimana diatur dalam Pasal 25 UU Pemda, yaitu :

a. Pembinaan wawasan kebangsaan dan ketahan nasional dalam rangka memntapkan pengamalan pancasila, pelaksanaan UUD 1945, pelestarian bhineka tunggal ika, serta pemeliharaan keutuhan Negara Republik Indonesia;

b. Pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa;

c. Pembinaan kerukunan antar suku dan intra suku, umat beragama, ras, dan golongan lainnya guna mewujudkan stabilitas keamanan lokal, regional, dan nasional;

35

d. Penanganan konflik sosial sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;

e. Koordinasi pelaksanaan tugas antar instansi pemerintahan yang ada di wilayah daerah provinsi dan kabupaten/kota untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul dengan memperhatikan prinsip demikrasi, hak asasi manusia, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan, potensi serta keanekaragaman daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

f. Pengembangan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila;

g. Pelaksanaan semua urusan pemerintahan yang bukan merupakan kewenangan daerah dan tidak dilaksanakan oleh instansi vertikal.

Berdasarkan urusan pemerintahan yang merupakan kewenangan daerah sebagaimana yang telah dipaparkan diatas, menunjukan secara kuantitas beban kerja pemerintahan daerah begitu tinggi, dan tentu pula dalam pelaksanaanya dituntut kualitas pelaksanaan yang baik.

Pelaksanaan urusan pemerintahan daerah sedemikian banyak tentunya memerlukan pembiayaan yang tinggi, sehingga kewenangan melakukan pungutan berupa pajak sebagai salah satu sumber pendapatan daerah untuk pembiayaan menjadi benar adanya.

Pasal 285 ayat (1) UU Pemda mengatur, sumber pendapatan daerah terdiri atas :

a. Pendapatan asli daerah, meliputi pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, lain-lain pendapatan asli daerah yang sah;

b. Pendapatan transfer;

c. Lain-lain pendapatan daerah yang sah.

Berdasarkan ketentuan Pasal 285 ayat (1) tersebut jelas disebutkan bahwa pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan asli daerah yang tentunya digunakan untuk membiayai pelaksanaan urusan

36

pemerintahan daerah. Apabila dalam konteks pembiayaan pelaksanaan kewajiban Pemerintah Kabupaten Badung dalam usaha melaksanakan urusan pemerintahan yang sedemikian banyak dan berkualitas sesuai amanat UU Pemda, tentunya rencana membuat perubahan peraturan tentang Pajak Parkir dan menaikan Tarif Pajak Parkir menjadi sangat logis dan sangat rasional.

4. Peraturan Daerah Kabupaten Badung No. 14 Tahun 2011 Tentang Pajak Parkir

Peraturan Daerah Kabupaten Badung No. 14 Tahun 2011 Tentang Pajak Parkir (selanjutnya disebut Perda Pajak Parkir), dalam konsideran menimbang huruf a dinyatakan bahwa Pajak Parkir merupakan sumber penting guna membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan meningkatkan pelayanan pada masyarakat berdasarkan prinsip demokrasi, pemerataan, dan keadilan, peran serta masyarakat, dan akuntabilitas dengan memperhatikan potensi daerah. Berdasarkan konsideran mengingat huruf a terlihat bahwa alasan pembentukan perda ini masih relevan, akan tetapi apabila dilihat dari dimensi waktu pembentukannya tentunya sangat wajar dilakukan perubahan- perubahan. Dasar hukum pembentukannya juga telah berubah yaitu UU No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah telah diganti dengan UU No. 23 Tahun 2014. Perubahannya pun cukup fundamental terutama terkait dengan jenis urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. Kemudian Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten /kota, tentunya sudah tidak relevan karena telah diatur sedemikian rupa dan cukup rinci dalam UU 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah. Berdasarkan alasan-alasan yang telah dipaparkan maka wajar apabila Pemerintah Kabupaten mewacanakan rencana perubahan dan penggantian Perda Pajak Parkir ini.

Persoalan Tarif Pajak Parkir dalam Perda Pajak Parkir ini diatur dalam Pasal 6 yaitu bahwa Tarif Pajak Parkir ditetapkan sebesar 25% (dua puluh luma persen). Perjalanan waktu yang sudah cukup panjang sampai

37

saat ini, tentunya telah banyak terjadi perubahan-perubahan kondisi dalam segala bidang di Kabupaten Badung, yang saat ini juga sedang fokus terhadap pelaksanaan pengembangan inovasi daerah.

Berdasarkan alasan-alasan yang telah dipaparkan tersebut maka wacana rencana Pemerintah Daerah Kabupaten untuk melakukan perubahan ataupun penggantian Perda Pajak Parkit tidak terbantahkan dan sangat wajar untuk dilakukan.

B. Keterkaitan Dan Harmonisasi Peraturan Daerah Yang Baru Dengan Peraturan Perundang – Undangan Lainnya.

Pembentukan rancangan Peraturan Daerah tentang perubahan Peraturan Daerah Kabupaten Badung tentang Pajak Parkir, disatu sisi merupakan usaha untuk menyesuaikan kembali peraturan daerah yang berlaku dengan kondisi dan perkembangan masyarakat, Disisi lain peraturan daerah tentang pajak parkir yang berlaku perlu diharmonisasi dengan perubahan – perubahan peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pembentukannya dan juga peraturan perundang – undangan yang terkait.

Adapun peraturan perundang undangan yang terkait dan sebagai langkah harmonisasinya akan disampaikan sebagai berikut :

1. Undang – Undang No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah.

Undang – Undang No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah, merupakan dasar hukum dari pembentukan dari peraturan daerah tentang pajak parkir. Substansinya mengatur tentang pemberian kewenangan – kewenangan dalam bidang perpajakan kepada pemerintah daerah dalam rangka memperkuat pelaksanaan otonomi daerah. Pajak parkir adalah salah satu yang di serahkan kewenangan untuk memungut kepada pemerintah daerah.

Dalam Pasal 64 ayat (2) Undang – Undang No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah, diatur bahwa dasar pengenaan pajak parkir ditetapkan dengan peraturan daerah.

38

Kemudian dalam ketentuan Pasal 65 ayat (2) diatur bahwa tarif pajak ditetapkan dengan peraturan daerah. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa perubahan peraturan daerah tentang pajak parkir yang berlaku, terutama berkaitan dengan perubahan ketentuan tarif pajak parkir dilakukan dengan bentuk instrumen peraturan daerah yang baru adalah sesuai perintah Undang – Undang No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah, sehingga dapat dikatakan satu aturan dengan aturan yang lain harmonis.

2. Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah.

Undang- undang ini mengatur mengenai penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi. Dalam Pasal 236 ayat (1) Undang – Undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, diatur bahwa untuk menyelenggarakan otonomi daerah dan tugas pembantuan, daerah membentuk perda.

Pada ayat (3) diatur bahwa perda memuat penyelengaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan, serta penjabaran lebih lanjut ketentuan peraturan perundang-undangan. Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut, maka pembentukan peraturan tentang pajak parkir dalam bentuk perda adalah bagian dari penyelenggaraan otonomi daerah, terutama berkaitan dengan sumber pembiayaan otonomi daerah tersebut. Kemudian disamping itu muatan dari peraturan daerah tentang pajak parkir yang baru, sebagai perubahan peraturan daerah tentang pajak parkir yang berlaku adalah penjabaran lebih lanjut ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi yaitu Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah. Jadi apabila dilihat dari hal-hal yang telah dijelaskan, ada keterkaitan yang harmonis antara peraturan daerah tentang pajak parkir yang baru dengan undang – undang pemerintahan daerah.

39

3. Peraturan Daerah Kabupaten Badung No. 14 Tahun 2011 Tentang Pajak Parkir

Peraturan daerah ini mengatur tentang ketentuan pajak parkir, yang salah satu substansi pengaturannya adalah persoalan tarif parkir.

Wacana perubahan tarif parkir di Kabupaten Badung dari aspek yuridis adalah wacana perubahan terhadap peraturan daerah yang mengatur tentang tarif parkir. Dengan demikian peraturan daerah yang baru akan merubah/menggantikan peraturan daerah tentang pajak parkir yang berlaku saat ini, sehingga tidak terjadi tumpang tindih antara satu dengan yang lainnya.

40

BAB IV

LANDASAN FILOSOFIS SOSIOLOGIS DAN YURIDIS

Landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis dimuat dalam pokok-pokok pikiran pada konsiderans Undang-Undang maupun Peraturan Daerah.

Ketiga unsur tersebut menjadi pertimbangan dan alasan dibentuknya Undang-Undang ataupun Peraturan Daerah tersebut. Unsur filosofis diartikan sebagai pertimbangan atau alasan yang menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk mempertimbangkan pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum yang meliputi suasana kebatinan serta falsafah bangsa

Ketiga unsur tersebut menjadi pertimbangan dan alasan dibentuknya Undang-Undang ataupun Peraturan Daerah tersebut. Unsur filosofis diartikan sebagai pertimbangan atau alasan yang menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk mempertimbangkan pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum yang meliputi suasana kebatinan serta falsafah bangsa

Dokumen terkait