• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

E. Manfaat Penelitian

3. Kajian Terhadap Pariwisata

Pariwisata sebenarnya bukanlah fenomena baru di dunia. Menurut Spinllane (1985) dalam Hadiwijoyo (2012 :41), pariwisata sudah ada sejak dimulainya peradaban manusia dengan ditandai oleh adanya pergerakan penduduk yang melakukan ziarah dan perjalanan agama. Menurut Suwantoro (2004) pada hakikatnya pariwisata adalah proses kepergian sementara dari seseorang atau lebih menuju tempat lain diluar tempat tinggalnya, dengan dorongan kepergiannya adalah karena berbagai kepentingan baik karena kepentingan ekonomi, sosial, kebudayaan, politik, agama, kesehatan, maupun kepentingan lain seperti sekedar ingin tahu, menambah pengalaman ataupun untuk belajar.

Menurut Hadiwijoyo (2012 :41) dalam UU nomor 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan, yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah. Selain itu, menurut WTO atau World Tourism Organization dalam Muljadi (2010 : 8) pariwisata adalah aktifitas yang dilakukan orang-orang yang mengadakan perjalanan untuk dan tinggal diluar kebiasaan lingkungannya dan tidak lebih dari satu tahun berturut-turut untuk kesenangan, bisnis dan keperluan lain. Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa pariwisata adalah suatu kegiatan atau perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau lebih ke suatu tempat baru diluar tempat tinggalnya yang bertujuan untuk mencari kesenangan, menenangkan diri, kepentingan bisnis, ataupun kepentingan lainnya.

Ada berbagai jenis dalam pariwisata dan salah satunya adalah pariwisata yang berdasarkan hal religiusitas atau biasa disebut dengan wisata religi. Menurut Soekadijo (2000 : 43), pariwisata religi merupakan salah satu wisata yang tertua. Sebelum orang mengadakan perjalanan untuk rekreasi, bisnis, olahraga dan sebagainya, orang sudah mengadakan perjalanan untuk berziarah (pariwisata ziarah) atau untuk keperluan keagamaan lain. Di Indonesia tipe wisata religi ini merupakan salah satu tipe wisata yang penting sekali. Bahkan pada hari-hari besar nasional salah satu acaranya ialah berziarah ke makam pahlawan. Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa

pariwisata religi merupakan jenis pariwisata tertua yang ada dan masih menjadi salah satu jenis wisata yang penting di Indonesia.

Menurut Yoeti (1996 : 118) mengemukakan bahwa ciri-ciri pariwisata sebagai berikut :(1) Perjalanan itu dilakukan untuk sementara waktu. (2) Perjalanan itu dilakukan dari satu tempat ke tempat lainnya. (3) Perjalanan itu walaupun apa bentuknya harus selalu dikaitkan dengan bertamasya atau rekreasi. (4) Orang yang melakukan tersebut tidak mencari nafkah ditempat yang dikunjunginya dan semata-mata sebagai konsumen ditempat tersebut.

Adapun tujuan dari penyelenggaraan kepariwisataan menurut UU No.10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan dalam Muljadi (2010 : 33), tujuan dari penyelenggaraan kepariwisataan di Indonesia adalah :

1. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi. 2. Meningkatkan kesejahteraan rakyat. 3. Menghapus kemiskinan.

4. Mengatsi pengangguran.

5. Melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya. 6. Memajukan kebudayaan.

7. Mengangkat citra bangsa. 8. Memupuk rasa cintah tanah air.

9. Memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa, dan 10. Memperat persahabatan antar bangsa.

Berdasarkan tujuan diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan penyelenggaraan kepariwisataan adalah untuk meningkatkan pertumbuhan

ekonomi, kesejahteraan masyarakat, mengurangi kemiskinan, memajukan kebudayaan serta dapat melestarikan alam dan lingkungan. Bagi wisatawan sendiri, penyelenggaraan kepariwisataan bertujuan untuk memberikan wadah rekreasi atau bertamasya.

b. Perencanaan dan Pengelolaan Pariwisata

Perencanaan berarti memperhitungkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan di masa yang akan datang. Perencanaan dan pengelolaan pariwisata berarti untuk memenuhi kesejahteraan masyarakat di masa datang. Oleh karena itu, kecenderungan pertumbuhan penduduk, persediaan lahan cadangan, pertumbuhan fasilitas, dan kemajuan teknologi dengan penerapannya harus dimasukkan dalam perencanaan tersebut. Selain itu, kualitas pengelola pariwisata juga sangat berpengaruh terhadap kemajuan dari industri pariwisata tersebut, seperti yang dikemukakan oleh salim dalam Hadiwijoyo (2012 : 57) bahwa berapapun banyaknya modal yang dimiliki, pembangunan tidak akan terlaksana kecuali disertai dengan sumberdaya manegerial yang mampu mengelola modal itu untuk pembangunan. Menurut Soewarno dalam Hadiwijoyo (2012: 57) pengelolaan adalah pengendalian atau menyelenggarakan berbagai sumberdaya secara berhasil guna untuk mencapai sasaran. Oleh karena itu, dalam pengelolaan pariwisata memerlukan kesesuain dengan kualitas dan kuantitasnya pengelolaan obyek dan daya tarik wisata harus memperhitungkan berbagai sumberdaya wisatanya secara berdayaguna agar tercapai sasaran yang diinginkan.

Menurut Manusef dalam Hadiwijoyo (2012 : 57) menyatakan bahwa pengembangan pariwisata merupakan segala kegiatan dan usaha yang terkoordinasi untuk menarik wisatawan, menyediakan semua sarana dan prasarana, barang dan jasa, fasilitas yang diperlukan guna melayani kebutuhan wisatawan. Menurut Marpung dalam Hadiwijoyo (2012 : 58) menyatakan bahwa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan suatu daya tarik wisata yang potensial harus dilakukan penelitian, inventarisasi dan evaluasi sebelum fasilitas wisata dikembangkan. Terkait dengan hal tersebut, menurut Yoeti (1996 : 285) terdapat tiga faktor yang dapat menentukan keberhasilan pengembangan pariwisata sebagai suatu industri, ketiga faktor tersebut adalah : (1) Tersedianya atraksi wisata, (2) Adanya fasilitas asesibilitas, dan (3) Bernilai untuk dikunjungi dan dilihat. Menurut Acereze (1985) dalam Hadiwijoyo (2012 : 59) perencanaan yaitu suatu peroses terus menerus yang merupakan diagramatis dari kecenderungan literatur perencanaan pariwisata, yang mengangkat bergesernya pendekatan perencanaan dari yang bersifat fisik ke pendekatan yang lebih komperhensif yang menyertakan isu-isu dan pelaku yang lebih luas.

Pengertian dasar yang harus diketahui dalam perencanaan pariwiata adalah mengetahui komponen-komponen pengembangan pariwisata dan hubungan internal di antara komponen tersebut. Menurut Inskeep dalam Hadiwijoyo (2012 : 59) komponen pengembangan pariwisata secara garis besar dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Atraksi dan aktivitas pariwisata, semua atraksi baik yang bersifat alami, maupun khusus serta sebagai aktivasi yang berkaitan dengan kawasa yang menarik minat wisatawan untuk mengunjunginya.

2. Akomodasi, hotel dan fasilitas lain yang sejenis, serta jasa layanannya dimana wisatawan menginap selama waktu kunjungannya.

3. Fasilitas dan jasa layanan wisata lainnya, fasilitas-fasilitas dan jasa pelayanan yang diperlukan untuk pengembangan pariwisata meliputi : operasional tour and travel, restoran dan kafe, bank dan money changer, kantor informasi pariwisata, fasilitas keamanan dan lain sebagainnya.

4. Fasilitas dan jasa layanan transportasi, meliputi kemudahan akses transportasi masuk ke kota area dan area pengembangan, sistem transportasi internal penghubung lokasi wisata dan area pengembnagan.

5. Infrastruktur lainnya, seperti air, listrik dan telekomunikasi.

6. Elemen institusional, elemen ini penting untuk mengatur dan mengembangkan pariwisata. Elemen institusional antara lain berupa program perencanaan, pendidikan dan pelatihan SDM, promosi dan pemsaran strategis, kebijakan investasi, program pengendalian pengaruh ekonomi, lingkungan dan sosial kultural.

Berdasarkan penjelasan diatas, perencanaan dan pengelolaan pariwisata sangatlah dibutuhkan demi tercapainya tujuan dari pariwisata tersebut. Perencanaan dilakukan terus menerus untuk mengangkat daya tarik wisata, sehingga pariwisata yang di kelola akan bersifat berkelanjutan. Selain itu, kualitas pengelola pariwisata juga sangat berpengaruh terhadap kemajuan

dari industri pariwisata tersebut. Dengan pariwisata yang maju memberikan dampak positif bagi daerah dan masyarakat yang ikut terlibat dalam kegiatan kepariwisataan.

c. Pariwisata Berbasis Komunitas (Community Based Tourism)

Dewasa ini, pengembangan pariwisata haruslah menempatkan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat sebagai sasaran utamanya. Menurut Hausler (Sunaryo : 2013) pada hakekatnya Community Based Tourism merupakan suatu pendekatan dalam pembangunan pariwisata yang menekankan pada masyarakat lokal, baik yang terlibat langsung maupun tidak dalam industri pariwisata, dalam bentuk pemberian akses pada manajemen dan sistem pembangunan kepariwisataan yang berujung pada pemberdayaan politis melalui kehidupan yang lebih demokratis, termasuk dalam pembagian keuntungan dari kegiatan kepariwisataan secara lebih adil bagi masyarakat lokal. Menurut Hadiwijoyo (2012: 71), Community Based Tourism (CBT) adalah pariwisata yang menyadari kelangsungan budaya, sosial, dan lingkungan. Bentuk pariwisata ini dikelola dan dimiliki oleh masyarakat untuk masyarakat, guna membantu para wisatwan untuk meningkatkan kesadaran mereka dan belajar tentang masyarakat dan tata cara hidup masyarakat lokal (local way of life). Sedangkan menurut Murphy dalam Sunaryo (2013: 138), menyatakan bahwa pembangunan kepariwisataan tidak bisa lepas dari sumber daya dan keunikan komunitas lokal, baik berupa elemen fisik maupun non fisik (tradisi dan budaya), yang merupakan unsur penggerak utama kegiatan wisata

itu sendiri sehingga semestinya kepariwisataan harus dipandang sebagai “Kegiatan yang berbasis pada komunitas setempat”.

Menurut Pinel (Hadiwijoyo: 2012), Community Based Tourism merupakan model pengembagan pariwisata yang berasumsi bahwa pariwisata harus berangkat dari kesadaran nilai-nilai kebutuhan masyarakat sebagai upaya membangun pariwisata yang lebih bermanfaat bagi kebutuhan, inisiatif dan peluang masyarakat lokal. Community Based Tourism bukanlah bisnis yang bertujuan untuk memaksimalkan profit atau keuntungan bagi para investor. Community Based Tourism lebih terkait dengan dampak pariwisata bagi masyarakat setempat dan sumber daya lingkungan (environmental resources). Selain itu menurut Isnaini Mualissin dalam Hadiwijoyo (2012: 72) Community Based Tourism lahir dari strategi pengembangan masyarakat dengan menggunakan pariwisata sebagai alat untuk memperkuat kemampuan organisasi masyarakat rural/lokal. Jadi, dari bebrapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa CBT merupakan suatu pendekatan dengan menempatkan masyarakat atau komunits dalam berbagai kegiatan kepariwisataan, sehingga kemanfaatan kepariwisataan sebesar-besarnya diperuntukan bagi masyarakat setempat, dan juga untuk memperkuat kemampuan organisai masyarakat lokal.

Menurut Sansri dalam Sunaryo (2013: 141), prinsip-prinsip yang menjadi tumpuan dan arahan pembangunan pariwisata yaitu :

1. Mengakui, mendukung, dan mengembangkan kepemilikan komunitas dalam industri pariwisata.

2. Melibatkan anggota komunitas/masyarakat dalam memulai setiap tahap pengembangan pariwisat dalam berbagai aspeknya.

3. Mengembangkan kebanggan terhadap komunitas bersangkutan. 4. Meningkatkan kualitas hidup komunitas.

5. Menjamin kelestarian lingkungan kepariwisataan.

6. Mempertahankan ciri khas (keunikan) karakter dan budaya masyarakat lokal.

7. Mengembangkan pembelajaran lintas budaya.

8. Menghormati perbedaan budaya dan martabat manusia di lingkungan destinasi.

9. Mendistribusikan keuntungan dan manfaat yang diperoleh secara proporsional kepada anggota masyarakat.

10. Memberikan kontribusi dalam menentukan persentase pendapatan yang diperoleh dari setiap kegiatan proyek pengembangan masyarakat.

11. Menonjolkan keaslian (authenticity) hubungan masyarakat dengan lingkungannya.

Sedangkan menurut Sunaryo (2013: 140) terdapat 3 prinsip pokok dalam strategi perencanaan pembangunan kepariwisataan yang berbasis pada masyarakat (CBT), yaitu: (1) Mengikutsertakan anggota masyarakat dalam pengambilan keputusan. (2) Adanya kepastian masyarakat lokal menerima manfaat dari kegiatan. (3) Pendidikan kepariwisataan bagi masyarakat lokal.

Berdasarkan prinsip diatas, dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip CBT secara umum merupakan kegiatan penyelenggaraan

kepariwisataan yang dimana dalam pelaksanaannya melibatkan komunitas dan masyarakat lokal dengan adanya kepastian dalam penerimaan manfaat kepariwisataan bagi masyarakat. Dalam penelitian ini konsep CBT yang akan digunakan adalah konsep CBT menurut Hausler dengan 3 prinsip pokok menurut Sunaryo dalam strategi perencanaan pembangunan kepariwisataan yang berbasis pada masyarakat. Konsep tersebut akan menjadi alat analisa dalam penelitian ini untuk dapat mengetahui pengelolaan wisata berbasis komunitas di wisata religi makam kapal bosok dan juga menjadi tumpuan dalam pembangunan pariwisata berbasis komunitas.

4. Analisis SWOT

Menurut Rangkuti (1997 :18) analisis SWOT adalah indentifikasi faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). Proses pengembalian keputusan strategis selalu berkaitan berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencanaan strategies (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. Sedangkan menurut Udaya, dkk (2013: 40) analisis SWOT adalah analisis kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), ancaman (threats) yang dihadapi perusahaan atau organisasi.

Melalui analisis ini pemimpin tau manajer dapat menciptakan tujuan sepintas (overview) secara cepat mengenai situasi stratejik organisasi.

a. Kekuatan (strengths)

Kekuatan merupakan sumber atau kemampuan yang dikuasai atau yang tersedia bagi perusahaan dan memberikan keuntungan dibandingkan dengan para pesaingnya dalam melayani kebutuhan para pelanggan. Umumnya, daerah kekuatan berkaitan dengan keunggulan dari para pegawai atau berdasarkan sumber daya (rescources based). Dalam hal ini yang menjadi kekuatan dari wisata religi makam kapal bosok adalah merupakan situs sejarah peninggalan kerajaan Islam Banten, adanya mitos yang berkembang di masyarakat terkait makam kapal bosok, dan juga memiliki bangunan unik berbentuk kapal yang menjadi daya tarik tersendiri.

b. Kelemahan (weakness)

Kelemahan merupakan keterbatasan atau kekurangan dalam salah satu sumber daya atau kemampuan (capability) organisasi dibandingkan dengan para pesaingnya yang menciptakan kerugian dalam usaha memenuhi kebutuhan para pelanggan secara efektif. Dalam hal ini, yang menjadi kelemahan dari wisata makam kapal bosok adalah kapasitas managerial pengelola tempat wisata yang terbatas. terjadinya penyalahgunaan fungsi tempat beribadah. Kurangnya pendataan terkait jumlah pengunjung yang datang dan juga banyak dari pedagang asongan yang tidak tertata dengan baik, sehingga memenuhi area penziarahan.

c. Peluang (opportunities)

Peluang merupakan situasi yang menguntungkan didalam lingkungan organisasi. Kecenderungan-kecenderungan yang terdapat di dalam lingkungan yang dapat dimanfaatkan oleh organisasi merupakan sebuah peluang. Begitu pula perubahan-perubahan di dalam peraturan-peraturan pemerintah pusat atau setempat dan perubahan-perubahan yang terjadi di bidang teknologi, serta perbaikan hubungan antara pembeli dan penjual merupakan sebuah peluang. Peluang yang dimiliki oleh wisata makam kapal bosok adalah dengan kekuatan yang dimiliki, bisa banyak mendatangkan pengunjung untuk berdatangan sehingga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat atau komunitas pesantren dengan melakukan kegiatan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

d. Ancaman (threasts)

Ancaman merupakan situasi utama yang tidak menyenangkan di dalam sebuah lingkungan. Ancaman adalah rintangan terhadap posisi saat ini atau posisi yang diinginkan perusahaan atau organisasi. Dalam hal ini, ancaman yang dimiliki wisata makam kapal bosok adalah adanya kerwanan sosial akibat mulai ramainya pengunjung yang datang, kualitas wisata religi pesaing lebih baik, dan fasilitas wisata religi pesaing lebih memadai.

Analisis SWOT digunakan karena beberapa manfaat sebagaimana disebutkan dalam Nur’aini (2016: 12) bahwa SWOT bermanfaat untuk:

1. Membantu melihat suatu persoalan dari empat sisi sekaligus menjadi dasar sebuah analisis persoalan.

2. Mampu memberikan hasil berupa analisis yang cukup tajam sehingga mampu memberikan arahan atau rekomendasi untuk mempertahankan kekuatan sekaligus menambah keuntungan berdasarkan sisi peluang yang ada, serta mengurangi kekurangan dan juga menghindari ancaman.

3. Membantu kita “membedah” organisasi dari empat sisi yang menjadi dasar dalam proses identifikasinya dan dengan analisis ini kita dapat menemukan sisi-sisi yang terkadang terlupakan atau tidak terlihat sama sekali.

4. Dapat menjadi instrumen yang cukup ampuh dalam melakukan analisis strategi, sehingga dapat menemukan langkah yang tepat dan terbaik sesuai dengan situasi saat itu.

5. Dapat digunakan untuk membantu organisasi meminimalisasi kelemahan yang ada serta menekan munculnya ancaman yang mungkin akan timbul.

Dapat disimpulkan bahwa dengan penggunaan analisis SWOT dalam penelitian ini dapat membantu peneliti dalam memberikan hasil analisis serta dapat menjadi instrumen dengan melihat faktor-faktor yang menjadi landasan atau dasar dalam penyusunan strategi yang terbaik.