BAB I PENDAHULUAN
D. Pembahasan
1. Strategi Komunitas Pesantren Dalam Pengembangan Wisata
itu dimasukkan kedalam uang khas Masjid Drangong. yang nantinya memang digunakan juga untuk kepentingan masyarakat.
D.Pembahasan
1. Strategi Komunitas Pesantren Dalam Pengembangan Wisata Makam Kapal Bosok
Wisata makam kapal bosok merupakan wisata religi baru yang ada di Kota Serang tepatnya di Kecamatan Curug Desa Curugmanis. Sebagai wisata yang masih terbilang baru, wisata makam kapal bosok memiliki permasalahan baik dari sisi internal (Strength dan Weakness) maupun eksternal (Opportunities dan Threats) dalam kepengurusan dan pengelolaan wisata yang dilakukan dan harus di selesaikan guna kemajuan wisata makam kapal bosok. Oleh karena itu, komunitas pesantren sebagai pihak pengelola butuh
strategi-strategi yang tepat untuk pengembangan destinasi wisata makam kapal bosok, sehingga potensi yang telah dimiliki oleh wisata makam kapal bosok dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. Untuk dapat membuat strategi-strategi yang tepat, maka dalam penelitian ini digunakan analisis SWOT. Analisis SWOT adalah mengidentifikasi faktor-faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan atau organisasi, analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (Threats) (Rangkuti, 1997). Analisis SWOT ini selain untuk mendapatkan strategi-strategi yang tepat dengan melihat ancaman, kekuatan, kelemahan dan peluang yang ada diwisata makam kapal bosok juga bisa menentukan akan seperti apa kedepannya wisata makam kapal bosok ini.
Seperti yang telah dijelaskan diatas, dalam analisis SWOT terdapat empat komponen yaitu ancaman, kekuatan, peluang dan kelemahan. Berdasarkan empat komponen dasar ini, faktor analisis SWOT dapat dibagi menjadi dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal tersebut meliputi kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness), sedangkan faktor eksternal meliputi peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Dari kedua faktor inilah nantinya digunakan untuk membuat strategi berdasarkan matriks SWOT yang dikembangkan oleh Wheelen dan Hunger (Rangkuti, 1997). Kolom vertikal berisi faktor eksternal dan baris horizontal berisi faktor internal.
Tabel 8 : Matriks SWOT SW Strengths Tentukan 5-10 faktor kekuatan internal Weakness Tentukan 5-10 faktor kelemahan internal OT Opportunity Tentukan 5-10 faktor peluang eksternal Strategi SO Menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang Strategi WO
Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang Threats Tentukan 5-10 faktor ancaman eksternal Strategi ST
Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman
Strategi WT
Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman (Sumber : Rangkuti, 1997)
Pada sel Strenghts-Opportunity (SO) diprogramkan strategi memanfaatkan peluang berkembang dengan menggunakan kekuatan yang ada. Pada sel Weakness-Opportunity (WO) diprogramkan strategi memanfaatkan peluang berkembang dengan mengatasi kelemahan internal. Pada sel Strength-Threat (ST) disusun strategi memanfaatkan kekuatan untuk menghindari ancaman. Pada sel Weakness-Threats (WT) dibangun strategi memperkecil ancaman eksternal.
a. Uraian empat Komponen Utama Analisis SWOT Wisata Makam Kapal Bosok
Penguraian ke empat komponen utama dalam analisis SWOT ini guna untuk mempermudah dalam menentukan strategi-strategi yang tepat yang dapat
dilakukan oleh komunitas pesantren untuk pengembangan destinasi wisata makam kapal bosok.
1) Kekuatan (Strength)
1. Merupakan situs peniggalan sejarah kesultanan Banten. 2. Makam seorang sosok ulama Ki Angga Derapa.
3. Adanya sejarah asal usul makam kapal bosok yang berkembang di masyarakat.
4. Adanya mitos terkait makam kapal bosok yang berkembang di masyarakat.
5. Memiliki bangunan unik berupa bangunan berbentuk kapal dan menjadi daya tarik tersendiri.
2) Kelemahan (Weakness)
a) Kapasitas managerial pengelola tempat wisata yang terbatas. b) Pengelolaan wisata yang masih tradisional (sederhana).
c) Pengelolaan wisata yang kurang baik berpotensi terjadinya kerawanan sosial.
d) Bentuk kerjasama dengan pemerintah belum jelas dalam hal pengelolaan wisata.
e) Pembagian keuntungan yang didapat wisata makam kapal bosok belum jelas.
f) Fasilitas wisata yang masih kurang memadai. 3) Peluang (Opportunity)
b) Dapat menarik perhatian masyarakat sehingga mau datang untuk berkunjung.
c) Terciptanya lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar.
d) Menjadi basis ekonomi baru yang strategis bagi para pelaku ekonomi. e) Meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat sekitar. f) Menjadi salah satu sumber pemasukan bagi penghasilan asli daerah
(PAD) Kota Serang. 4) Ancaman (Threats)
a) Dapat terjadinya kerawanan sosial.
b) Banyaknya wisata religi lain yang ada di luar sana yang kualitasnya lebih baik.
c) Fasilitas wisata religi pesaing lebih memadai.
d) Menjadi wisata yang tidak berklanjutan (sepi pengunjung) berkat kurang baiknya dalam hal pengelolaan wisata makam kapal bosok.
b. Analisis Strategi berdasarkan Matriks SWOT
Setelah menguraikan berdasarkan empat komponen SWOT, maka selanjutnya adalah membuat strategi berdasarkan matriks SWOT. Matriks SWOT terdiri atas dua faktor yaitu faktor internal yang meliputi kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness), dan juga faktor eksternal yang meliputi peluang (opportunity) dan ancaman (threats). Kedua faktor ini digunakan untuk membuat strategi berdasarkan matriks SWOT yang dikembangkan oleh
Wheelen dan Hunger (Rangkuti, 1997). Sehingga menghasilkan strategi SO, strategi WO, strategi ST, dan strategi WT.
Tabel 9 :
Analisis Strategi Dengan Menggunakan Matriks SWOT Strengths
1. Merupakan situs peniggalan sejarah kesultanan Banten. 2. Makam seorang sosok
ulama Ki Angga Derapa.
3. Adanya sejarah asal usul makam kapal bosok yang berkembang di masyarakat.
4. Adanya mitos terkait makam kapal bosok yang berkembang di masyarakat.
5. Memiliki bangunan unik berupa bangunan berbentuk kapal dan menjadi daya tarik
Weakness
1. Kapasitas managerial pengelola tempat wisata yang terbatas. 2. Pengelolaan wisata
yang masih tradisional
(sederhana).
3. Pengelolaan wisata yang kurang baik berpotensi terjadinya kerawanan sosial. 4. Bentuk kerjasama
dengan pemerintah belum jelas dalam hal pengelolaan wisata. 5. Pembagian
keuntungan yang didapat wisata makam kapal bosok belum
tersendiri. jelas.
6. Fasilitas wisata yang masih kurang memadai.
Opportunity
1. Menjadi destinasi wisata religi baru. 2. Dapat menarik perhatian masyarakat sehingga mau datang untuk berkunjung. 3. Terciptanya lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar. 4. Menjadi basis ekonomi baru yang strategis bagi para pelaku ekonomi.
Strategi SO
1. Mempertahankan dan memberdayakan sejarah dan mitos yang ada untuk menjadi daya tarik bagi masyarakat. S2, S3, S4, O2, O3, O4, O5, O6)
2. Memanfaatkan dunia maya dengan membuat website atau medsos sehingga masyarakat luas tau tentang wisata makam kapal bosok. (S1, S2, S3, S4, S5, O1, O2, O3, O4, O5, O6) 3. Mengadakan
Strategi WO
1. Meningkatkan
kualitas managerial dan pengelolaan yang ada di wisata makam kapal bosok dengan bekerjasama dengan pemerintah. (W1, W2, W3, O2, O3, O4, O5) 2. Melakukan kerjasama kemitraan dengan para stakeholder di wisata sehingga mendatangkan keuntungan bagi semua pihak terkait. (W1, W2, W3, W4, W5, O2, O3, O4, O5,
5. Meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat sekitar. 6. Menjadi salah satu sumber pemasukan bagi penghasilan asli daerah (PAD) Kota Serang. kegiatan-kegiatan keislaman di area wisata makam kapal bosok untuk menarik para investor. (S5, O1, O2, O3, O4, O5, O6)
O6)
3. Meningkatkan
kualitas dan fasilitas sarana prasarana di wisata makam kapal bosok. (W5, O2, O3, O4, O5)
Threats
1. Dapat terjadinya kerawanan sosial. 2. Banyaknya
wisata religi lain yang ada di luar sana yang kualitasnya lebih baik. 3. Fasilitas wisata religi pesaing lebih memadai. Strategi ST
1. Membuat baliho atau papan informasi terkait sejarah makam kapal bosok sehingga wisatawan dapat mengetahui sejarah dari makam kapal bosok. (S1, S2, S3, S4, T2, T3, T4,)
Strategi WT
1. Meningkatkan
kualitas keamanan di area wisata makam kapal bosok dengan membuat pos penjagaan dan pusat informasi. (W1, W2, W3, T1, T2)
4. Menjadi wisata yang tidak berklanjutan (sepi pengunjung) berkat kurang baiknya dalam hal pengelolaan wisata makam kapal bosok. (Sumber : Peneliti, 2018)
1) Strategi SO (Strength – Opportunity)
a) Mempertahankan dan memberdayakan sejarah dan mitos yang ada untuk menjadi daya tarik bagi masyarakat.
b) Memanfaatkan dunia maya dengan membuat website atau medsos sehingga masyarakat luas tau tentang wisata makam kapal bosok. c) Mengadakan kegiatan-kegiatan keislaman di area wisata makam kapal
bosok untuk menarik para investor. 2) Strategi WO (Weakness – Opportunity)
a) Meningkatkan kualitas managerial dan pengelolaan yang ada di wisata makam kapal bosok dengan bekrjasama dengan pemerintah.
b) Melakukan kerjasama kemitraan bersama dengan para stakeholder di wisata sehingga mendatangkan keuntungan bagi semua pihak yang terlibat.
c) Meningkatkan kualitas dan fasilitas sarana prasarana di wisata makam kapal bosok.
3) Strategi ST (Strength – Threats)
a) Membuat baliho atau papan informasi terkait sejarah makam kapal bosok sehingga wisatawan dapat mengetahui sejarah dari makam kapal bosok
4) Strategi WT (Weakness – Threats)
a) Meningkatkan kualitas keamanan di area wisata makam kapal bosok dengan membuat pos penjagaan dan pusat informasi.
Setelah didapatkannya strategi alternatif guna meningkatkan pengelolaan di wisata makam kapal bosok berdasarkan analisis SWOT yaitu strategi SO, strategi WO, strategi ST, dan strategi WT. Dari ke empat strategi ini nantinya harus dijalankan oleh pihak pengelola wisata makam kapal bosok yaitu komunitas pesantren berdasarkan prinsip CBT (Communty Based Tourism). Dalam konsepnya, menurut Sunaryo CBT memiliki tiga prinsip pokok yang wajib dilaksanakan yaitu : (1) Mengikutsertakan anggota masyarakat dalam pengambilan keputusan. (2) Adanya kepastian masyarakat lokal menerima manfaat dari kegiatan. (3) Pendidikan kepariwisataan bagi masyarakat lokal. Maka dari itu pihak pesantren sebagai pengelola yang harus menjalankan strategi yang telah dibuat dengan menggunakan analis SWOT harus dijalankan sesuai dengan tiga prinsip pokok yang ada pada konsep pengembangan pariwisata berbasis CBT ini, yang berarti selalu melibatkan daripada peran masyarakat lokal dalam proses pengembangan dan
pengelolaan wisata makam kapal bosok, dan keuntungan yang didaptkan dari kegiatan kepariwisataan ini pada akhirnya untuk masyarakat itu sendiri. Pengembangan dan pengelolaan wisata makam kapal bosok ini dimaksudkan agar wisata makam kapal bosok bisa menjadi lebih baik lagi dan terus memberikan keuntungan bagi pengelola ataupun masyarakat sekitarnya.
2. Pengelolaan wisata Makam Kapal Bosok berbasis CBT (Community