PROVINSI DKI JAKARTA
2014
BADAN PENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP DAERAH
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMAR (DTPB) SUNGAI PROVINSI DKI JAKARTA, 2014
(Sungai Jati Kramat, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat/Kalimalang)
V - 1 pemantauan tahun 2008 – 2013 dan pengukuran tahun 2014:
a). Kualitas air sungai golongan B (Kali Baru Barat, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat) adalah sebagai berikut:
• Kali Baru Barat : Parameter BOD cenderung menurun mendekati baku mutu.
Parameter TSS cenderung menurun dan di bawah (sesuai) baku mutu dan parameter TDS walaupun meningkat tetapi masih sesuai baku mutu.
Parameter DO cenderung menurun, tetapi masih di atas (sesuai) baku mutu.
Sementara parameter COD cenderung menurun dan di bawah (tidak sesuai) baku mutu.
• Sungai Mampang: Parameter BOD cenderung menurun mendekati baku mutu. Parameter TSS cenderung menurun dan di bawah (sesuai) baku mutu, sedangkan parameter TDS walaupun menurun masih di atas (belum sesuai) baku mutu. Parameter DO cenderung meningkat dan di atas (sesuai) baku mutu. Sementara parameter COD cenderung menurun dan di bawah (tidak sesuai) baku mutu.
• Sungai Tarum Barat : Parameter BOD, TSS, TDS dan COD cenderung meningkat dan di atas (tidak sesuai) baku mutu. Sementara parameter DO pada bagian hiir sungai cenderung meningkat dan di atas (sesuai) baku mutu.
Secara umum kualitas air sungai golongan B (Kali Baru Barat dan Sungai Mampang) dari parameter BOD, TS, TDS cederung menurun (membaik) dan di bawah (sesuai) baku mutu, kecuali parameter COD walaupun cenderung menurun tetapi masih di atas (belum sesuai) baku mutu.
Sementara, kecendrungan peningkatan pencemaran kualitas air pada Sungai Tarum Barat yang ditandai dengan parameter kunci (BOD, COD dan TSS), walaupun pada bagian hilir sungai parameter DO meningkat, tapi tidak mampu menurunkan secara beban secara alamia, hal ini karena besarnya input beban pencemaran dari kegiatan domestik permukiman dan kegiatan lain yang juga berasal dari bagian hulunya (di luar DKI Jakarta).
Kondisi kualitas air sungai ini terlihat juga dari fluktuasi (naik turunnya) parameter DO. Parameter DO yang tinggi di atas baku mutu, berguna untuk membersihkan pencemaran diri secara alamiah (self purification) sehingga mampu menampung biota air/mikroorganisme air atau menjaga ekosistem air.
Kondisi ini sudah terlihat pada Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat, di mana parameter DO terus meningkat dibagian hilir sungai walaupun belum mampu menurunan beban pencemaran (BOD dan COD) sesuai baku mutu. Oleh karena itu sungai golongan B di atas memerlukan pengendalian (penurunan beban) dan pemulihan kualitas air sungai (perbaikan sempadan dan pembersihan sampah). untuk memudahkan pengendalian dan pemulihannya pencemaran air, perlu bagian-bagia sungai (segmen) wilayah tertentu sehingga dapat mempercepat dan mendukung ketersediaan air bersih (baku air minum).
b). Kualitas air sungai golongan D (Kali Baru Timur dan Sungai Jati Kramat) adalah sebagai berikut:
• Kali Baru Timur: Parameter BOD dan COD cenderung meningkat dan di atas (tidak sesuai) baku mutu. Sementra parameter TSS dan TDS cenderung meningkat tetapi masih di bawah (sesuai) baku mutu. Parameter DO cenderung menurun di bawah baku mutu/tidak sesuai baku mutu. Hal ini memperlihatkan pencemaran atau penurunan kualitas air semakin tinggi.
• Sungai Jati Kramat : Parameter BOD cenderung menurun tetapi masih di bawah (sesuai) baku mutu. Sementara parameter COD dan TSS cenderung meningkat dan di atas (tidak sesuai) baku mutu, demikian juga dengan parameter TDS juga cenderung meningkat, tapi masih di bawah (sesuai) baku mutu. Parameter DO cenderung meningkat tetapi masih di bawah baku mutu/tidak sesuai baku mutu.
BADAN PENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP DAERAH
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMAR (DTPB) SUNGAI PROVINSI DKI JAKARTA, 2014
(Sungai Jati Kramat, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat/Kalimalang)
V - 3
Secara umum peningkatan pencemaran kualitas air Kali Baru Timur untuk air golongan D (BOD dan COD) cenderung meningkat di atas baku mutu (tidak sesuai baku mutu) dan kuaitasnya semakin menurun dengan ditandainnya penurunan parameter DO. Demikian juga dengan Sungai Jati Kramat, tetapi hanya parameter COD yang meningkat, parameter BOD masih sesuai baku mutu.
Hal ini karena ada perbaikan/peningkatan kualitas (membaik) dari meningkatnya parameter DO.
Sungai golongan D di atas memerlukan pengendalian dan pemulihan kualitas air sungai lebih lanjut agar dapat dipergunakan sesuai peruntukannya.
2). Kualitas air sungai wilayah kajian (Sungai Jati Kramat, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat) sudah tercemar mikrobiologi (Coli tinja dan coliform) dari kegiatan domestik, secara keseluruhan sudah melebihi batas baku mutu sesuai golongannya (B dan D) yang cenderung meningkat. Oleh karena itu perlu dilakukan penurunan beban pemcemar atu pengendalian dan pemulihan kualitas air seiring dengan pelaksanaan program pembangunan.
3). Target pencapaian penurunan beban pencemar (khusus dari parameter BOD dan COD) disusun sknario waktu pencapaian dan upaya pengendaian pencemaran dengan acuan target awal hingga tahun 2017 (RPJMD DKI Jakarta, 2013-2017) dan hingga 2030 mengacu pada RTRW DKI Jakarta:
• Target pencapaian jangka pendek 2013 – 2017 : 60%;
• Target pencapaian jangka menengah 2018 – 2022 : 20% (kumulatif 80%);
• Target pencapaian jangka panjang 2023 – 2030 : 20% (kumulatif 100%).
4). Berdasarkan hasil model simulasi daya tampung dan beban pencemar (DTBP) menggunakan program Qual2Kw, dengan parameter kunci (BOD dan COD) kondisi sungai wilayah kajian adalah:
a). Sungai Jati Kramat (JTK)
(1) Total beban pencemar aktual parameter BOD 0,3494 ton/jam belum melampaui daya tampung bebannya (1,0165 ton/jam), sehingga tidak perlu dilakukan penurunan beban, tetapi tetap menjaga/mempertahankan kualitas airnya saat ini (tahun 2014).
(2) Total beban pencemarn COD adalah 2,2899 ton/jam lebih tinggi dari daya tampungnya (1,5247 ton/jam) sehingga perlu penurunan beban.
• Penurunan beban parameter COD sebesar 0,7651 ton/jam atau sebesar 60%
yang dapat dicapai pada target ke-1 (hingga tahun 2017). Upaya pengendalian dan pemulihan kualitas air dilakukan pada Segmen-1 khususnya Reach: JTK 02-JTK 03 atau jarak 3,158 km dari hilir sungai wilayah kajian).
(1) Sumber Pencemar dan Potensi Pencemaran:
• Sumber pencemar adalah umumnya didominasi berasal dari sumber tidak tentu (Non Poins Sources) yaitu permukiman penduduk sepanjang aliran sungai dengan potensi beban pencemaran maksimum 0,30 ton BOD ton/jam dan 0,57 ton COD/jam.
b). Kali Baru Barat (KBB)
(1) Total beban pencemar aktual BOD 0,0489 ton/jam telah melampaui daya tampung bebannya (0,0381 ton/jam) khususnya pada Segmen-3 dan Segmen-4.
Beban BOD yang harus diturunkan sebesar 0,0163 ton/jam.
• Penurunan beban BOD sebesar 0,0163 ton/jam atau sebesar 60% yang dapat dicapai pada target ke-1 yaitu hingga tahun 2017. Upaya pemulihan yaitu pada Segmen-3 dan Segmen-4.
(2) Total beban pencemar aktual COD 0,2232 ton/jam sudah melampaui daya tampung bebannya (0,0763 ton/jam).
Penurunan beban COD sebesar 0,1469 ton/jam atau penurunan sebesar 100%
yang dapat dicapai pada target ke-3 yaitu hingga tahun 2030, upaya pemulihan sungai pada segmen-2 dan Segmen-4.
(3) Sumber Pencemar dan Potensi Pencemaran:
• Sumber pencemar adalah umumnya didominasi berasal dari sumber tidak tentu (Non Poins Sources) yaitu permukiman penduduk dan jasa perdagangan sepanjang aliran sungai dengan potensi beban pencemaran maksimum 1,39 ton BOD ton/jam dan 2,66 ton COD/jam.
• Beberapa sumber pencemar tertentu (Point Sources): terdapat 5 (lima) sumber pencemar titik (point source) dari jenis industri farmasi dan susu, dari jenis kegiatan rumah sakit dan bengkel diantara titik Segmen-2 (KBB-02) dan Segmen-3 (KBB-03). Potensi beban pencemaran tiap jenis kegiatan adalah 0,16 – 64 ton BOD/jam dan 0,33 – 1,76 ton COD/jam.
BADAN PENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP DAERAH
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMAR (DTPB) SUNGAI PROVINSI DKI JAKARTA, 2014
(Sungai Jati Kramat, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat/Kalimalang)
V - 5
c). Kali Baru Timur (KBT)
(1) Total beban pencemar aktual BOD 0,4651 ton/jam secara keseluruhan telah melampaui daya tampung bebannya (0,3461 ton/jam). Beban yang harus dikurangi/diturunkan adalah 0,2353 ton/jam.
• Penurunan beban BOD sebesar 0,2353ton/jam atau sebesar 60% yang dapat dicapai pada target ke-1 yaitu hingga tahun 2017. Upaya pengndalian dan pemulihan yaitu pada Segmen-4 dan Segmen-5. Kemudian dilanjutkan target ke-2 dan ke-3 (tahun 2018 – 2030) penurunan beban cemaran sebesar 40% pada pada Segmen-5.
(2) Total beban pencemar aktual COD 1,7447 ton/jam secara keseluruhan telah melampaui daya tampung bebannya (0,5191 ton/jam). Beban yang harus dikurangi: 1,2256 ton/jam.
• Penurunan beban COD sebesar 1,2256 ton/jam atau penurunan hingga 100%
yang dapat dicapai pada target ke-3 yaitu hingga tahun 2030, upaya pemulihan sungai pada Segmen-4, Segmen-5 dan Segmen-6.
(3) Sumber Pencemar dan Potensi Pencemaran:
• Sumber pencemar adalah umumnya didominasi berasal dari sumber tidak tentu (Non Poins Sources) yaitu permukiman penduduk dan jasa perdagangan sepanjang aliran sungai dengan total potensi beban pencemaran maksimum 3,018 ton BOD/jam, sedangkan potensi dari beban COD adalah 5,784 ton COD/jam.
• Beberapa sumber pencemar tertentu (Point Sources): tersebar mulai pada segmen-4 hingga segmen-6 atau pada jarak 8 km dari hilir.
Beberapa sumber pencemar tertentu (point source) di antara segmen sungai, diantaranya merupakan sumber dari kegiatan industri, yang meliputi industri farmasi (3 sumber), industri susu dan makanan dari susu (2 sumber), masing-masing sumber memberikan kontribusi tiap kegiatan dengan beban pencemar 0,02 – 21,57 ton BOD/jam atau rata-rata 4,5 ton BOD/jam, dan 0,03 – 100,66 ton COD/jam atau rata-21,6 ton COD/jam.
d). Sungai Mampang (MMP)
(1) Total beban pencemar aktual BOD 0,1647 ton/jam secara keseluruhan telah melampaui daya tampung bebannya (0,0718 ton/jam). Beban yang harus dikurangi: 0,0948 ton/jam.
• Penurunan beban BOD sebesar 0,0929 ton/jam atau sebesar 100% yang dapat dicapai pada target ke-2 dan ke-3 yaitu hingga tahun 2030. Upaya pemulihan yaitu pada Segmen-2 (Reach: MMP 04-MMP05 atau pada jarak 2,668 km dari downstream).
(2) Total beban pencemar aktual COD 0,1442 ton/jam secara keseluruhan telah melampaui daya tampung bebannya (0,1072 ton/jam). Beban yang harus dikurangi/diturunkan: 0,37 ton/jam.
• Penurunan beban COD sebesar 0,0370 ton/jam atau penurunan sebesar100%
yang dapat dicapai pada target ke-3 yaitu hingga tahun 2030, upaya pemulihan sungai pada Segmen-1 dan Segmen-2.
(3) Sumber Pencemar dan Potensi Pencemaran:
• Sumber pencemar adalah berasal dari sumber tidak tentu (Non Poins Sources) yaitu permukiman penduduk sepanjang aliran sungai dengan potensi beban pencemaran maksimum 0,88 ton BOD ton/jam dan 1,68 ton COD/jam.
• Beberapa di antaranya terdapat 18 (delapan belas) sumber pencemar titik (point sources), di antara titik MMP-01 – MMP-02 terdapat 5 sumber titik; di antara titik MMP-02 – MMP-03 terdapat 5 sumber titik; di antara MMP-03-MMP-04 terdapat 10 sumber titk.
Jenis kegiatan terbanyak, berturut-turut berupa gedung perkantoran 8 sumber), apartemen 6 sumber, perumahan, pertokoan, bengkel dan rumah sakit masing-masing 1 sumber.
Masing-masing sumber kegiatan memberikan kontribusi tiap kegiatan dengan beban pencemar 0,09 – 29,57 ton BOD/jam atau rata-rata 1,74 ton BOD/jam, dan 0,09 – 29,57 ton COD/jam atau rata-rata 7,56 ton COD/jam.
BADAN PENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP DAERAH
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMAR (DTPB) SUNGAI PROVINSI DKI JAKARTA, 2014
(Sungai Jati Kramat, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat/Kalimalang)
V - 7
e). Sungai Tarum Barat (TRB)
(1) Total beban pencemar aktual BOD 0,2490 ton/jam belum melampaui daya tampung beban pencemar (0,5723 ton/jam) sehingga tidak perlu diturunkan.
(2) Total beban pencemar aktual COD 1,2019 ton/jam secara keseluruhan telah melampaui daya tampung bebannya, dengan daya tampung beban pencemar 1,1447 ton/jam. Beban yang harus dikurangi/diturunkan: 0,0572 ton/jam.
• Penurunan beban hanya dari parameter COD sebesar 0,572 ton/jam atau sebesar 60% yang dapat dicapai pada target ke-1 (tahun 2017). Upaya pemulihan dilakukan secara merata yaitu pada Segmen-1 dan Segmen-2 atau sepanjang Sungai Tarum Barat
(3) Sumber Pencemar dan Potensi Pencemaran:
• Sumber pencemar adalah berasal dari sumber tidak tentu (Non Poins Sources) yaitu permukiman penduduk sepanjang aliran sungai dengan potensi beban pencemaran maksimum 0,17 ton BOD ton/jam dan 0,33 ton COD/jam.
• Beberapa sumber pencemar yang bersifat Point Source (PS) belum terdata dengan rinci, hal ini karena secara umum sumber pencemar adalah berasal dari penggunaan tanah perumahan penduduk dan jasa perdagangan.
5.2. SARAN
Saran atau arahan dalam pengendalian dan pemulihan kualitas air sungai di DKI Jakarta:
1). Penurunan konsentrasi limbah dan pencemar dari point source yang telah melampaui baku mutu Pergub DKI No. 69/2013 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Kegiatan Dan/Atau Usaha, dengan peningkatan pengelolaan IPAL.
2). Melakukan Identifikasi dan pendataan secara rinci sebaran sumber-sumber pencemar sebagai acuan dalam pemgendalian dan pemulihan atau reduksi beban pencemar.
3). Pengendalian pencemaran air sungai dilakukan dengan menurunkan beban pencemaran dan peningkatan status mutu air sungai sesuai peruntukannya secara bertahap: kumulatif 100% hingga tahun 2030.
• Melakukan perbaikan saluran drainase dan sistem sungai (pengerukan dan normalisasi) untuk memperlancar aliran dan meningkatkan oksigen terlarut (DO) yang dapat menurunkan BOD dan COD.
• Revitaliasi sempadan sungai/kali dari bangunan yang bukan peruntukannya dan melakukan revegetasi/penghijauan sempadan agar berfungsi sebagai kawasan lingung setempat dan menjadi perlindungan tata air di bawahnya.
• Mencegah masuknya sampah/limbah ke dalam saluran serta melakukan pembersihan sampah dari badan air.
• Pembuatan sistem pengelolaan limbah domestik setempat (on-site) pada permukiman dan dilakukan penyedotan tinja pada septick tank secara reguler untuk dikelola pada sistem IPLT yang tersedia.
• Melaksanakan penggantian septic tank konvensional menjadi septic tank modern sesuai Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No.122 Tahun 2005.
• Melakukan kerjasama lintas sektoral dalam pengendalian dan pemulihan sungai, yaitu dengan daerah yang berada pada bagian hulu dan berada di luar daerah administrasi Provinsi DKI Jakarta: Bekasi, Kabupaten Bogor dan Kota Depok.
• Meningkatkan peranserta masyarakat dalam pengelolaan air limbah domestik (misalnya penggunaan tangki septik sesuai Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No.122 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik Di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta) dan peningkatan sanitasi berbasis masyarakat dengan IPAL komunal.
4). Penegakan hukum terhadap pelanggar tata ruang yang ada dan dan bagi orang/lembaga/institusi yang memberi pencemaran pada badan air sungai.
BADAN PENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP DAERAH