• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMAR SUNGAI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMAR SUNGAI"

Copied!
143
0
0

Teks penuh

(1)

Provinsi DKI Jakarta

1 PEMERINTAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBU KOTA JAKARTA

BADAN PENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP DAERAH

DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMAR SUNGAI Sungai Jati Kramat, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur,

Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat

sebagai Laporan Akhir

KEGIATAN PENETAPAN DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMAR Sungai Jati Kramat, Kali Baru Barat, Kali BaruTimur,

Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat

TAHUN 2014

(2)

i

KATA PENGANTAR

Sungai, sebagai salah satu komponen sumberdaya air di DKI Jakarta diharapkan menjadi alternatif sumber air baku untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi kebutuhan masyarakat. Namun kondisi sungai di DKI Jakara saat ini belum sepenuhnya memenuhi baku mutu sesuai peruntukannya, karena hampir semua sungai di DKI Jakarta dalam kondisi tercamar. Oleh karena itu pencemaran air sungai dan lingkungan sekitarnya perlu dikendalikan dan dipulihkan agar ekosistem tetap terjaga dan dapat memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat.

Pengendalian dan pemulihan kualitas air sungai di DKI Jakarta, tidak terlepas dari kegiatan perencanaan pembangunan seperti kegiatan Penataan Ruang, terutama dalam penataan ruang (lokasi dan luasan) yang berkaitan dengan sumber-sumber pencemaran, baik domestik maupun non domestik: aspek Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan kebijakan jangka waktu perencanaan sangat terkait dalam strategi pelaksanaan Pengendalian dan Pemulihan kualitas air sungai.

Buku laporan ini merupakan Laporan Akhir dari kegiatan “Penetapan Daya Tampung Beban Pencemar Sungai Jati Kramat, Kalibaru Barat, Kalibaru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat” di Provinsi DKI Jakarta pada Tahun Anggaran 2014.

Kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusuan Buku Laporan ini, kami ucapkan terimakasih.

Jakarta, Desember 2014

Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta,

Moh.TauchidTjakraAmidjaja

(3)

Provinsi DKI Jakarta

ii

DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

DaftarTabel iv

Daftar Gambar vi

BAB I PENDAHULUAN I – 1

1.1. Latar Belakang I – 1

1.2. Maksud Dan Tujuan I – 3

1.2.1. Maksud I – 3

1.2.2. Tujuan I – 3

1.3. Dasar Hukum I – 4

1.3.1. Undang-Undang I – 4

1.3.2. Peraturan Pemerintah I – 4

1.3.3. Peraturan/Keputusan Menteri I – 4

1.3.4. Peraturan Daerah/Keputusan Gubernur DkI Jakarta I – 5

1.4. Definisi Teknis I – 5

BAB II RUANG LINGKUP II – 1

2.1. Letak Geografis Wilayah Kajian II – 1

2.2. Lingkup Kegiatan DTBP II – 2

BAB III METODOLOGI KAJIAN III – 1

3.1. Metode Kajian III – 1

3.1.1. Inventarisasi Dan Identifikasi Data. III – 1 3.1.2. Pelaksanaan Kegiatan Pemetaan Dan Koordinasi III – 1

3.2. Pengumpulan Data III – 1

3.2.1. Pengumpulan Data Sekunder III – 1

3.2.2. Pengumpulan Data Primer III – 2

3.2.3. Survei Lapang III – 5

3.3. Analisis Data III – 5

3.3.1. Analisis Data Sekunder III – 5

3.3.2. Analisis Laboratorium Sampel Air Sungai III – 5 3.3.3. Pengolahan Data dengan Penggunaan Model QUAL2K/QUAL2Kw III – 6

BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN IV – 1

4.1. Morfologi dan Sistem Aliran Sungai di Provinsi DKI Jakarta IV – 1

4.2. Analisis Sungai untuk Kegiatan DTBP IV – 2

4.2.1. Pengembangan Koridor Sungai di DKI Jakarta IV – 2 4.2.2. Lokasi Pemantauan 13 Sungai dan Peruntukannya di DKI Jakarta IV – 3 4.3. Lokasi Sampel dan Hidromorfologi Sungai Wilayah Kajian IV – 8

4.3.1. Sungai Jati Keramat IV – 8

(4)

iii Halaman 4.3.2. Kali Baru Barat (KBB)

4.3.3. Kali Baru Timur (KBT) 4.3.4. Sungai Mampang 4.3.5. Sungai Tarum Barat

IV – 10 IV – 12 IV – 15 IV – 17 4.4. Analisis Kualitas Air Sungai Dari Data Sekunder 2008 – 2013

4.4.1. Kualitas Air Sungai Golongan B ( Data Sekunder 2008 – 2013) 4.4.2. Kualitas Air Sungai Golongan D ( Data Sekunder 2008 – 2013)

IV – 27 IV – 19 IV – 27 4.5. Analisis Kualitas Air Sungai Hasil Pengukuran Tahun 2014

4.5.1. Kualitas Air Sungai Jati Keramat (JTK) 4.5.2. Kualitas Air Sungai Kali Baru Barat (KBB) 4.5.3. Kualitas Air Sungai kali Baru Timur (KBT) 4.5.4. Kualitas Air Sungai Mampang (MMP) 4.5.5. Kualitas Air Sungai Tarum Barat (TRB)

IV – 33 IV – 33 IV – 35 IV – 37 IV – 40 IV – 42 4.6. Analisis Daya Tampung Beban Pencemar (DTBP) IV – 45

4.6.1. DTBP Sungai Jati Keramat (JTK) IV – 50

4.6.2. DTBP Kali Baru Barat (KBB) IV – 60

4.6.3. DTBP Kali Baru Timur (KBT) IV – 70

4.6.4. DTBP Sungai Mampang (MPP) IV – 83

4.6.5. DTBP Sungai Tarum Barat IV – 95

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V – 1

5.1. Kesimpulan V – 1

5.2. Saran V – 2

(5)

Provinsi DKI Jakarta

iv

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 2.1 Lokasi Sampel Pemantauan Kegiatan DTBP di DKI Jakarta II – 2 Tabel 3. 1 Lokasi Titik Pengambilan Sampel Kualitas Air Sungai III – 3 Tabel 3. 2 Metode Pengukuran Parameter Kualitas Air Sungai III – 6 Tabel 4.1 Sistem Sungai/Kali dan Peruntukan di DKI Jakarta IV – 4 Tabel 4.2 Peruntukan Air Sungai Sesuai Dengan Golongan Air Di Wilayah DKI

Jakarta

IV – 5 Tabel 4.3 Wilayah Kajian Sungai Sesuai Golongan dan Peruntukan Air di DKI Jakarta IV – 6 Tabel 4.4 Lokasi Sampel dan Hidromorfologi Sungai Jati Keramat (JTK) IV – 8 Tabel 4.5 Lokasi Sampel dan Hidromorfologi Kali Baru Barat (KBB) IV – 10 Tabel 4.6 Lokasi Sampel dan Hidromorfologi kali Baru Timur (KBT) IV – 12 Tabel 4.7 Lokasi Sampel dan Hidromorfologi Sungai Mampang (MMP) IV – 15 Tabel 4.8 Lokasi Sampel dan Hidromorfologi Sungai Tarum Barat (TRB) IV – 17 Tabel 4.9 Kondisi KuauParameter BOD Sungai Golongan B IV – 19 Tabel 4.10 Kecenderungan Parameter Kunci Kualitas Air Sungai Golongan B IV – 26 Tabel 4.11 Rekapitulasi Parameter Kunci Kualitas Air Sungai Golongan D IV – 27 Tabel 4.12 Kecenderungan Parameter Kunci Kualitas Air Sungai Gol. D IV – 32 Tabel 4.13 Hasil Pengukuran Kualitas Air Sungai Jati Keramat untuk Kajian DTBP IV – 33 Tabel 4.14 Hasil Pengukuran Kualitas Air Sungai Kali Baru Barat Untuk Kajian DTBP IV – 35 Tabel 4.15 Kualitas Air Sungai pada Wilayah Kajian Kegiatan DTBP: Golongan D Pada

Kali Baru Timur

IV – 38 Tabel 4.16 Hasil Pengukuran Kualitas Air Sungai Mampang Untuk Kajian DTBP 2014 IV – 40 Tabel 4.17 Hail Pengukuran Kualitas Air Sungai tarum Barat untuk Kajian DTBP 2014 IV – 42 Tabel 4.18 Estimasi Daya Tampung dan Beban Pencemar Wilayah Kajian Kegiatan

DTBP

IV – 45 Tabel 4.19 Potensi Beban Pencemar Domestik (Non Point Sources) Sungai Jati

Keramat

IV – 50 Tabel 4.20 Beban Pencemaran (BOD dan COD) Sungai Jati Keramat IV – 51 Tabel 4.21 Daya Tampung Beban Pencemaran (BOD dan COD) Sungai Jati Kramat IV – 51 Tabel 4.22 Data dan Model Simulasi Beban Pencemaran BOD Sungai Jati Kramat IV – 55 Tabel 4.23 Data dan Model Simulasi Beban Pencemaran COD Sungai Jati Kramat IV – 56 Tabel 4.24 Skenario Penurunan Beban Pencemar COD Kali Jati Kramat IV – 57 Tabel 4.25 Alokasi Daya Tampung dan Beban Pencemaran Sungai Jati Kramat IV – 58 Tabel 4.26 Sumber Pencemar Point Sources Kali Baru Barat IV – 60 Tabel 4.27 Potensi Beban Pencemar Domestik (Non Point Sources) Kali Baru Barat IV – 61 Tabel 4.28 Beban Pencemaran (BOD dan COD) Kali Baru Barat IV – 61 Tabel 4.29 Daya Tampung Beban Pencemaran (BOD dan COD) Kali Baru Barat IV – 62 Tabel 4.30 Data dan Model Simulasi Beban Pencemaran BOD di Kali Baru Barat IV – 65

(6)

v Halaman Tabel 4.31 Skenario Penurunan Beban Pencemaran BOD di Kali Baru Barat IV – 66 Tabel 4.32 Skenario Penurunan Beban Pencemaran COD Kali Baru Barat IV – 67 Tabel 4.33 Alokasi Daya Tampung dan Beban pencemaran Kali Baru Barat IV – 68 Tabel 4.34 Sumber Beban Pencemar Sungai Kali Baru Timur IV – 70 Tabel 4.35 Potensi Beban Pencemar Domestik (Non Point Sources) Kali Baru timur IV – 71 Tabel 4.36 Beban Pencemaran (BOD dan COD) Kali Baru Timur IV – 72 Tabel 4.37 Daya Tampung Beban Pencemaran (BOD dan COD) kali Baru Timur IV – 73 Tabel 4.38 Data dan Model Simulasi Beban Pencemaran BOD Kali Baru timur IV – 76 Tabel 4.39 Skenario Penurunan Beban pencemaran BOD kali Baru Timur IV – 77 Tabel 4.40 Skenario Penurunan Beban pencemaran COD kali Baru Timur IV – 78 Tabel 4.41 Alokasi Daya Tampung dan Beban Pencemaran kali Baru Timur IV – 80 Tabel 4.42 Sumber Pencemaran (Point Sources) Sungai mampang IV – 83 Tabel 4.43 Potensi Beban Pencemar Domestik (Non Point Sources) Sungai mampang IV – 84 Tabel 4.44 Beban Pencemaran (BOD dan COD) Sungai Mampang IV – 85 Tabel 4.45 Daya Tampung Beban Pencemaran Sungai Mampang IV – 86 Tabel 4.46 Data dan Model Pencemaran BOD Sungai Mampang IV – 89 Tabel 4.47 Skenario Penurunan Beban Pencemaran BOD Sungai Mampang IV – 90 Tabel 4.48 Skenario Penurunan Beban Pencemaran COD Sungai Mampang IV – 91 Tabel 4.49 Alokasi Daya Tampung dan Beban Pencemaran Sungai Mampang IV – 93 Tabel 4.50 Potensi Beban Pencemar Domestik (Non Point Sources) Sungai Tarum

Barat

IV – 95 Tabel 4.51 Beban Pencemaran (BOD dan COD) Sungai Tarum Barat IV – 96 Tabel 4.52 Daya Tampung Beban Pencemaran Sungai Tarum Barat IV – 97 Tabel 4.53 Data dan Model Pencemaran BOD Sungai Tarum Barat IV – 100 Tabel 4.54 Data dan Model Pencemaran COD Sungai Tarum Barat IV – 101 Tabel 4.55 Skenario Penurunan Beban Pencemaran COD Sungai Tarum Barat IV – 102 Tabel 4.56 Alokasi Daya Tampung dan Beban Pencemaran Sungai Tarum Barat IV – 103

(7)

Provinsi DKI Jakarta

vi

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1 Provinsi DKI Jakarta dan Wilayah Aliran Sungai II – 1 Gambar 2.2 Lokasi Sampel Pemantauan Kegiatan DTBP di DKI Jakarta II – 3 Gambar 3.1 Tahapan Penetapan Daya Tampung beban Pencemaran Air III – 8 Gambar 4.1 Arahan Pengembangan Koridor 13 Sungai Di DKI Jakarta IV – 2 Gambar 4.2 Lokasi Pemantauan Kualitas Air Pada 13 sungai di DKI Jakarta IV – 3

Gambar 4.3 Peta Peta Sungai Wilayah Kajian IV – 7

Gambar 4.4 Pengamatan Kondisi Sungai tarum Barat IV – 8

Gambar 4.5 Peta Lokasi Sampel Sungai Jati Keramat (JTK) IV – 9 Gambar 4.6 Pengamatan Kondisi Sungai Kali Baru Barat IV – 10 Gambar 4.7 Peta Lokasi Sampel Kali Baru Barat (KBB) IV – 11 Gambar 4.8 Pengamatan Kondisi Sungai Kali Baru Timur IV – 13 Gambar 4.9 Peta Lokasi Sampel Kali Baru Timur (KBT) IV – 14

Gambar 4.10 Pengamatan Kondisi Sungai Mampang IV – 15

Gambar 4.11 Peta Lokasi Sampel Sungai Mampang (MMP) IV – 16

Gambar 4.12 Pengamatan Sungai Tarum Barat IV – 17

Gambar 4.13 Peta Lokasi Sampel Sungai Tarum Barat (TRB) IV – 18 Gambar 4.14 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (BOD) Sungai Kali Baru Barat IV – 20 Gambar 4.15 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (COD) Sungai kali Baru Barat IV – 20 Gambar 4.16 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (TSS) Sungai kali Baru Barat IV – 21 Gambar 4.17 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (TDS) Sungai kali Baru Barat IV – 21 Gambar 4.18 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (DO) Sungai kali Baru Barat IV – 21 Gambar 4.19 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (BOD) Sungai tarum Barat IV – 22 Gambar 4.20 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (COD) Sungai Tarum Barat IV – 22 Gambar 4.21 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (TSS) Sungai Tarum Barat IV – 23 Gambar 4.22 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (TDS) Sungai tarum Barat IV – 23 Gambar 4.23 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (DO) sungai tarum Barat IV – 23 Gambar 4.24 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (BOD) Sungai Mampang IV – 24 Gambar 4.25 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (COD) Sungai Mampang IV – 24 Gambar 4.26 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (TSS) Sungai Mampang IV – 25 Gambar 4.27 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (TDS) Sungai Mampang IV – 25 Gambar 4.28 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (DO) Sungai Mampang IV – 25 Gambar 4.29 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (BOD) Sungai kali Baru Timur IV – 28 Gambar 4.30 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (COD) Sungai Kali Baru Timur IV – 28 Gambar 4.31 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (TDS) Sungai Kali Baru Timur IV – 29 Gambar 4.32 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (TSS) Sungai Kali Baru Timur IV – 29 Gambar 4.33 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (DO) Sungai Kali Baru Timur IV – 29 Gambar 4.34 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (BOD) Sungai Jati Keramat IV – 30

(8)

vii Halaman Gambar 4.35 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (COD) Sungai Jati Keramat IV – 30 Gambar 4.36 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (TSS) Sungai Jati Keramat IV – 31 Gambar 4.37 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (TDS) Sungai Jati Keramat IV – 31 Gambar 4.38 Kecenderungan Nilai Parameter Kunci (DO) Sungai jati Keramat IV – 31 Gambar 4.39 Kecenderungan Nilai Parameter BOD Sungai Jati Keramat IV – 34 Gambar 4.40 Kecendurangan Nilai Parameter COD Sungai Jati Keramat IV – 34 Gambar 4.41 Kecendurangan Nilai Parameter BOD Kali Baru Barat IV – 36 Gambar 4.42 Kecendurangan Nilai Parameter COD Kali Baru Barat IV – 36 Gambar 4.43 Kecendurangan Nilai Parameter BOD Sungai Kali Baru Timur IV – 37 Gambar 4.44 Kecendurangan Nilai Parameter COD Sungai Kali Baru Timur IV – 37 Gambar 4.45 Kecendurangan Nilai Parameter BOD Sungai Mampang IV – 41 Gambar 4.46 Kecendurangan Nilai Parameter COD Sungai Mampang IV – 41 Gambar 4.47 Kecendurangan Nilai Parameter BOD Sungai Tarum Barat IV – 43 Gambar 4.48 Kecendurangan Nilai Parameter COD Sungai Tarum Barat IV – 43 Gambar 4.49 Peta Lokasi Sampel Wilayah kajian DTBP DKI Jakarta Tahun 2014 IV – 44 Gambar 4.50 Potensi Beban Pencemaran Domestik (BOD) Sungai Jati Keramat IV – 53 Gambar 4.51

Gambar 4.52 Gambar 4.53 Gambar 4.54

Gambar 4.55 Gambar 4.56 Gambar 4.57 Gambar 4.58 Gambar 4.59

Gambar 4.61 Gambar 4.62 Gambar 4.63 Gambar 4.64 Gambar 4.65 Gambar 4.66 Gambar 4.67 Gambar 4.68 Gambar 4.69 Gambar 4.70 Gambar 4.71

Potensi Beban Pencemaran Domestik (COD) Sungai Jati Keramat Model Simulasi Beban pencemaran BOD Sungai jati Keramat Model Simulasi Beban pencemaran COD Sungai jati Keramat Model Skenario Penurunan Beban Pencemaran COD Sungai Jati Kramat

Segmen Sungai Jati Keramat

Potensi Beban Pencemaran Domestik (BOD) Kali Baru Barat Potensi Beban Pencemaran Domestik (COD) Kali Baru Barat Model Simulasi Beban Pencemaran BOD di Kali Baru Barat

Model Skenario Penurunan Beban Pencemaran BOD Kali Baru Barat KBB

Segmen Kali baru Barat

Potensi Beban Pencemaran Domestik (BOD) Kali Baru Timur Potensi Beban Pencemaran Domestik (COD) kali Baru timur Model Simulasi Beban pencemaran BOD kali Baru Timur

Model Skenario Penurunan Beban Pencemaran BOD Kali Baru Timur Model Skenario Penurunan Beban Pencemaran COD Kali Baru Timur Segmen Kali Baru Timur

Potensi Beban Pencemaran Domestik (BOD) Sungai mampang Potensi Beban Pencemaran Domestik (COD) Sungai mampang Model Simulasi Beban Pencemaran BOD Sungai Mampang Model Skenario Penurunan Beban Pencemaran BOD Sungai Mampang

IV – 54 IV – 55 IV – 56 IV – 57

IV – 59 IV – 63 IV – 64 IV – 65 IV – 66

IV – 69 IV – 74 IV – 75 IV – 76 IV – 78 IV – 79 IV – 82 IV – 87 IV – 88 IV – 89

IV – 91

(9)

Provinsi DKI Jakarta

viii Halaman Gambar 4.72

Gambar 4.73 Gambar 4.74 Gambar 4.75 Gambar 4.76 Gambar 4.77 Gambar 4.78

Gambar 4.79

Model Skenario Penurunan Beban Pencemaran BOD Sungai Mampang

Segmen Sungai Mampang

Potensi Beban Pencemaran Domestik BOD Sungai Tarum Barat Potensi Beban Pencemaran Domestik COD Sungai Tarum Barat Model Simulasi Beban Pencemaran BOD Sungai Tarum Barat Model Simulasi Beban Pencemaran BOD Sungai Tarum Barat Model Skenario Penurunan Beban Pencemaran COD Sungai Tarum Barat

Segmen Sungai tarum Barat

IV – 92

IV – 94 IV – 98 IV – 99 IV – 100 IV – 101 IV – 102

IV – 104

(10)

LAPORAN AKHIR

BAB I PENDAHULUAN

KEGIATAN

PENETAPAN DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMAR SUNGAI JATI KRAMAT, SUNGAI KALI BARU BARAT,

SUNGAI KALI BARU TIMUR, SUNGAI MAMPANG DAN TARUM BARAT

PROVINSI DKI JAKARTA

2014

(11)

BADAN PENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP DAERAH

BAB I. PENDAHULUAN

DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN (DTPB) SUNGAI PROVINSI DKI JAKARTA, 2014

(Sungai Jati Kramat, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat/Kalimalang) I - 1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Meningkatnya aktivitas manusia seiring dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia akan mengakibatkan meningkatnya juga limbah yang dihasilkan sebagai konsekuensi dan dampak dari aktivitas manusia sehari-hari yang apabila tidak dikelola dengan baik, maka hal tersebut akan mengakibatkan pencemaran lingkungan yang berpotensi ke arah kerusakan lingkungan, dimana lingkungan yang terkena dampak pencemaran tersebut bisa lingkungan perairan, daratan maupun udara.

Lingkungan perairan khususnya sungai dan Daerah Aliran Sungai (DAS) nya merupakan salah satu objek dimana kita dapat melihat langsung dampak yang diakibatkan oleh aktivitas manusia, dimana aktivitas manusia akan menghasilkan limbah dalam bentuk limbah padat (sampah) dan limbah cair (grey water dan black water) yang apabila limbah tersebut tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan pencemaran terhadap sungai.

Sungai sebagai ekosistem perairan sebetulnya memiliki kemampuan untuk membersihkan sendiri (self purification) sehingga apabila ada limbah yang masuk ke sungai, secara otomatis akan diuraikan dan sungai kembali bersih. Tetapi hal tersebut tidak bisa terjadi lagi karena besarnya beban pencemaran yang masuk ke sungai tersebut melebihi dari kemampuannya untuk membersihkan sendiri (self purification), sehingga yang terjadi adalah sungai tersebut mengalami pencemaran.

Untuk itu pada setiap sungai yang ada perlu dilakukan penghitungan daya tampung beban pencemar untuk mengetahui sebesar apa daya tampung sumber daya air tersebut terhadap masuknya limbah, baik domestik maupun non domestik.

Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air yang mengamanatkan pemerintah daerah untuk menetapkan daya tampung beban pencemar pada sumber-sumber air, yang akan digunakan sebagai dasar dalam: penetapan rencana tata ruang, pemberian izin usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kualitas sumber air, pemberian izin pembuangan air limbah, penetapan mutu air sasaran serta kebijakan pengendalian pencemaran air.

(12)

Sungai-sungai di DKI Jakarta pada umumnya sudah mengalami pencemaran, baik yang disebabkan oleh limbah padat (sampah) maupun limbah cair (grey water dan black water) sebagai akibat dari berbagai aktivitas penduduk dan aktivitas pembangunan yang mana hal tersebut akan memberikan beban tambahan terhadap kemampuan lingkungan, sehingga lingkungan cenderung mengalami penurunan kualitas dan memberikan dampak terhadap penurunan tingkat kesehatan masyarakat. Lingkungan perairan (sungai) yang dirasakan mengalami degradasi lingkungan diantaranya adalah Sungai Jati Kramat, Sungai Kalibaru Barat, Sungai Kalibaru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat.

Mengingat sungai – sungai tersebut diatas mempunyai berbagai fungsi dan kepentingan yang menunjang kehidupan masyarakat di sekitarnya (DAS), maka perlu dilakukan penghitungan daya tampung beban pencemar sungai – sungai tersebut, sehingga hal tersebut akan menjadi acuan dalam rangka penyusunan program/kegiatan baik yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan sungai – sungai tersebut.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melaksanakan penghitungan daya tampung beban pencemar di 10 sungai besar di DKI Jakarta dan sisanya diselesaikan pada Tahun Anggaran 2014 ini.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, antara lain menetapkan bahwa:

1. Pemerintah, Pemerintah Propinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangan masing-masing, dalam rangka pengendalian pencemaran air pada sumber air berwenang menetapkan daya tampung beban pencemaran

2. Daya tampung beban pencemaran dipergunakan untuk : a. Pemberian ijin lokasi.

b. Pengelolaan air dan sumber air.

c. Penataan ruang.

d. Pemberian ijin pembuangan air limbah.

e. Penetapan mutu air sasaran dan program kerja pengendalian pencemaran air.

f. Penegakan hukum dalam rangka pengendalian pencemaran air.

Berdasarkan peraturan pemerintah tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam rangka pengendalian pencemaran dan pemulihan kualitas air, daya tampung beban pencemaran dapat dimanfaatkan untuk menyusun program kerja yang lebih terarah dengan target yang terukur.

(13)

BADAN PENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP DAERAH

BAB I. PENDAHULUAN

DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN (DTPB) SUNGAI PROVINSI DKI JAKARTA, 2014

(Sungai Jati Kramat, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat/Kalimalang) I - 3

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup menerbitkan Keputusan Nomor 110 Tahun 2003 tentang Pedoman Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air pada Sumber Air. Dalam keputusan menteri tersebut disebutkan bahwa QUAL2E adalah salah satu model (software) yang dapat digunakan untuk menghitung daya tampung beban pencemaran.

Model QUAL2E dikembangkan pertama kali oleh US-EPA dan dimanfaatkan di banyak negara seperti Korea, Jepang dan Malaysia. Model tersebut terus dikembangkan hingga versi ketiga yang diberi nama QUAL2Kw.

Berdasarkan hasil kajian yang akan dilakukan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2014 ini, melalui Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup, mengadakan suatu Kegiatan Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran (DTBP) Sungai Jati Kramat, Sungai Kalibaru Barat, Sungai Kalibaru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat.

1.2. MAKSUD DAN TUJUAN 1.2.1. Maksud

Maksud dari kegiatan ini adalah untuk menghitung daya tampung beban pencemar parameter- parameter kunci untuk kualitas air dari Sungai Jati Kramat, Sungai Kalibaru Barat, Sungai Kalibaru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat.

1.2.2. Tujuan

Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai bahan untuk Penetapan Daya Tampung dan Beban Pencemaran pada Sungai Jati Kramat, Sungai Kalibaru Barat, Sungai Kalibaru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat sehingga dapat dirumuskan program pengelolaan dan pengendalian pencemaran air sungai sebagai upaya peningkatan kualitas air sungai – sungai tersebut.

1.3. DASAR HUKUM 1.3.1. Undang-Undang

 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya

 Undang-Undang RI No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

 Undang-Undang RI No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

(14)

 Undang-Undang RI No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

 Undang-Undang RI No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

1.3.2. Peraturan Pemerintah

 Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai.

 Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

 Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air.

 Peraturan Pemerintah RI No. 38 tahun 2011 tentang Sungai.

 Peraturan Pemerintah RI No. 27 Tahun Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan.

1.3.3. Peraturan/Keputusan Menteri

 Peraturan Menteri PU No. 63 Tahun 1993 tentang Garis Sempadan Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah Pengaman Sungai Dan Bekas Jalan.

 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 110 Tahun 2003 tentang Pedoman Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air Pada Sumber Air.

 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI No. 112 tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik.

 Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor: 114 tahun 2003 tentang Pedoman Pengkajian Pembuangan Air Limbah Cair.

 Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor: 115 tahun 2003 tentang Pedoman penentuan Status Mutu Air.

 Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor: 142 tahun 2003 tentang Perubahan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor: 111 tahun 2003 tentang Pedoman Mengenai Syarat dan Tata Cara Perijinan serta Pedoman Kajian Pembuangan Air Limbah Cair.

 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan.

 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05/PRT/M/2008 tetang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kawasan Perkotaan.

 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 17 tahun 2009 tentang Pedoman Penentuan Daya Dukung Lingkungan Hidup dalam Penataan Ruang Wilayah.

 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 1 Tahun 2010 tentang Tata Laksana Pengendalian Pencemaran Air.

(15)

BADAN PENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP DAERAH

BAB I. PENDAHULUAN

DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN (DTPB) SUNGAI PROVINSI DKI JAKARTA, 2014

(Sungai Jati Kramat, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat/Kalimalang) I - 5

1.3.4. Peraturan Daerah/Keputusan Gubernur DKI Jakarta

 Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah.

 Keputusan Gubernur KDKI Jakarta No. 1893 Tahun 1991 tentang Tindakan Administratif bagi Perusahaan/Industri/ Kegiatan yang menimbulkan Perusakan dan Pencemaran Lingkungan.

 Keputusan Gubernur KDKI Jakarta No. 123 Tahun 1995 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tindakan Administratif bagi perusahaan /Industri/Kegiatan Peserta Prokasih di DKI Jakarta.

 Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 582 Tahun 1995 tentang Penetapan Peruntukan dan Baku Mutu Air Sungai/Badan Air serta Baku Mutu Limbah Cair di Wilayah DKI Jakarta.

 Keputusan Gubernur KDKI Jakarta No. 299 Tahun 1996 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penerapan Kep.Gub. KDKI No. 582/1995.

 Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No.122 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik Di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta

 Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 165 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengelolan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta.

 Keputusan Gubernur KDKI Jakarta No. 220 Tahun 2010, Perizinan Pembuangan Air Limbah.

1.4. DEFINISI TEKNIS

Definis teknis terkait Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: kegiatan penetapan daya tampung beban pencemar, berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 01 Tahun 2010 Tentang tata Laksana Pengendalian Pencemaran Air : Bab I Pasal 1), yang dimaksud dengan:

a. Air adalah semua air yang terdapat di atas dan di bawah permukaan tanah, kecuali air laut dan air fosil.

b. Sumber air adalah wadah air yang terdapat di atas dan dibawah permukaan, termasuk dalam pengertian ini akuifer, mata air, sungai, rawa, danau, situ, waduk, dan muara.

c. Sumber air lintas kabupaten/kota adalah sumber air yang melintasi lebih dari satu kabupaten/kota dan/atau yang terletak pada perbatasan kabupaten/kota dalam satu provinsi.

d. Sumber air lintas provinsi adalah sumber air yang melintasi lebih dari satu provinsi dan/atau yang terletak pada perbatasan antar provinsi.

e. Mutu air adalah kondisi kualitas air yang diukur dan/atau diuji berdasarkan parameter- parameter tertentu dan metoda tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan.

(16)

f. Mutu air sasaran adalah mutu air yang direncanakan untuk dapat diwujudkan dalam jangka waktu tertentu melalui penyelenggaraan program kerja dalam rangka pengendalian pencemaran air.

g. Baku Mutu Air adalah ukuran batas atau kadar makluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air.

h. Status mutu air adalah tingkat kondisi mutu air yang menunjukkan kondisi cemar atau kondisi baik pada suatu sumber air dalam waktu tertentu dengan membandingkan dengan baku mutu air atau kelas air yang ditetapkan.

i. Pencemaran air adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu air limbah yang telah ditetapkan.

j. Inventarisasi sumber pencemar air adalah kegiatan penelusuran, pendataan, dan pencacahan terhadap seluruh aktivitas yang berpotensi menghasilkan air limbah yang masuk ke dalam sumber air.

k. Identifikasi sumber pencemar air adalah kegiatan penelaahan, penentuan dan/atau penetapan besaran dan/atau karakteristik dampak dari masing-masing sumber pencemar air yang dihasilkan dari kegiatan inventarisasi.

l. Beban pencemaran air adalah jumlah suatu unsur pencemar yang terkandung dalam air atau air limbah.

m. Daya tampung beban pencemaran air adalah kemampuan air pada suatu sumber air untuk menerima masukan beban pencemaran tanpa mengakibatkan air tersebut menjadi cemar.

n. Air limbah adalah sisa dari suatu hasil usaha dan/atau kegiatan yang berwujud cair.

o. Baku mutu air limbah adalah ukuran batas atau kadar polutan yang ditenggang untuk dimasukkan ke media air.

p. Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemeliharaan air sehingga tercapai kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukannya untuk menjamin agar kualitas air tetap dalam kondisi alamiahnya.

q. Pengendalian pencemaran air adalah upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air untuk menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air.

(17)

III - 0

LAPORAN AKHIR

BAB II RUANG LINGKUP

KEGIATAN

PENETAPAN DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMAR SUNGAI JATI KRAMAT, SUNGAI KALI BARU BARAT,

SUNGAI KALI BARU TIMUR, SUNGAI MAMPANG DAN TARUM BARAT

PROVINSI DKI JAKARTA

2014

(18)

DKI JAKARTA

DAS CILIWUNG Tangerang

Bekasi Bekasi

Depok

DAS CISADANE

BAB II RUANG LINGKUP

2.1. LETAK GEOGRAFIS WILAYAH KAJIAN

Wilayah kajian secara umum adalah provinsi di DKI Jakarta. Letaknya berada pada bagian hilir (utara) sistem daerah aliran sungai (DAS) atau Wilayah Aliran (WA) Sungai utama yaitu Sungai Ciliwung dan 12 sungai kecil yang mengalir di dalamnya.

Secara administrasi, lokasi studi adalah aliran Sungai Jati Kramat, Sungai Kalibaru Barat, Sungai Kalibaru Timur, Sungai Mampang dan

Sungai Tarum Barat yang berada di Provinsi DKI Jakarta, dengan posisi geografis berada antara 106˚40’00” BT- 107˚00’00” BT dan 06˚5’00” LS - 06˚25’00” LS.

Provinsi DKI Jakarta dialiri 13 sistem aliran sungai atau kali. Sungai atau kali yang terdapat di wilayah DKI Jakarta ini terdapat pada Daerah Aliran Sungai (DAS) utama, yaitu DAS Ciliwung dan Sub DAS dari sungai/kali kecil yang berada di sisi Timur daerah pengaliran Sungai Ciliwung serta Sub DAS yang berada di sisi Barat daerah pengaliran Ciliwung yang berbatasan dengan DAS utama Cisadane.

Gambar 2.1. Provinsi DKI Jakarta dan Wilayah Aliran Sungai

(19)

BADAN PENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP DAERAH

BAB II. RUANG LINGKUP

DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN (DTBP) SUNGAI PROVINSI DKI JAKARTA, 2014

(Sungai Jati Kramat, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat/Kalimalang) II - 2

2.2. LINGKUP KEGIATAN DTBP

Lokasi sampel untuk pemantauan kegiatan Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran (DTBP) Sungai Mampang, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Sungai Tarum Barat dan Jati Keramat adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1 Lokasi Sampel Pemantauan Kegiatan DTBP di DKI Jakarta

No NAMA SUNGAI KODE_SAMPLE KOORDINAT

dmsX dmsY

1 S. KALI MAMPANG MMP-01 106°49'19.79"E 6°19'2.86"S 2 S. KALI MAMPANG MMP-02 (14C) 106°49'11,169"E 6°17'32,649"S 3 S. KALI MAMPANG MMP-03 106°49'40,433"E 6°17'10,432"S 4 S. KALI MAMPANG MMP-04 06°49'28,545"E 6°15'30,049"S 5 S. KALI MAMPANG MMP-05(14B) 106°49'16,366"E 6°14'25,886"S 6 S. KALI BARU BARAT KBB-01(7) 106°49'45,444"E 6°20'15,084"S 7 S. KALI BARU BARAT KBB-02(7A) 106°50'39,256"E 6°16'58,348"S 8 S. KALI BARU BARAT KBB-03 106°50'33,794"E 6°14'40,736"S 9 S. KALI BARU BARAT KBB-04 06°50'39,495"E 6°12'43,209"S 10 S. KALI BARU TIMUR KBT-01(33) 106°51'35,303"E 6°21'12,346"S 11 S. KALI BARU TIMUR KBT-02 106°51'44,054"E 6°18'40,434"S 12 S. KALI BARU TIMUR KBT-03 106°52'17,185"E 6°17'27,295"S 13 S. KALI BARU TIMUR KBT-04 106°51'55,714"E 6°15'50,129"S 14 S. KALI BARU TIMUR/Sentiong KBT-05(33A) 106°52'10,514"E 6°13'53,604"S 15 S. KALI BARU TIMUR/Sentiong KBT-06 106°51'26,46"E 6°11'47,27"S 16 S. KALI BARU TIMUR/Sentiong KBT-07 106°51'5,62"E 6°11'10,44"S 17 S. KALI BARU TIMUR/Sentiong KBT-08 106°51'18,501"E 6°9'36,795"S 18 S. KALI BARU TIMUR/Sentiong KBT-09 106°51'29,14"E 6°8'55,29"S 19 S. KALI BARU TIMUR/Sentiong KBT-10 106°51'14,203"E 6°7'34,461"S 20 S. TARUM BARAT TRB-01(17) 106°56'59,986"E 6°14'59,304"S 21 S. TARUM BARAT TRB-02 106°54'37,164"E 6°14'51,073"S 22 S. TARUM BARAT TRB-03(18) 106°52'50,739"E 6°14'23,667"S 23 S. JATI KRAMAT JTK-01(PAM) 106°56'2,623"E 6°15'21,893"S 24 S. JATI KRAMAT JTK-02(36A) 106°55'56,875"E 6°14'54,977"S 25 S. JATI KRAMAT JTK-03 106°55'34,43"E 6°13'44,7"S Sumber: BPLHD dan Pra Survei Lapang, 2014

(20)

Gambar 2.2 Lokasi Sampel Pemantauan Kegiatan DTBP di DKI Jakarta

(21)

III - 0

LAPORAN AKHIR

BAB III METODOLOGI

KEGIATAN

PENETAPAN DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMAR SUNGAI JATI KRAMAT, SUNGAI KALI BARU BARAT,

SUNGAI KALI BARU TIMUR, SUNGAI MAMPANG DAN TARUM BARAT

PROVINSI DKI JAKARTA

2014

(22)

BAB III METODOLOGI

3.1. METODE KAJIAN

3.1.1. Inventarisasi dan Identifikasi Data

Inventarisasi dan identifikasi data yang dibutuhkan dilakukan setelah evaluasi terhadap hasil kajian/studi yang sudah dilakukan (geofisik sistem sungai, pengunaan tanah, kependudukan dan pola kualitas air sungai). Data yang dikumpulkan adalah data sekunder dan data primer.

a. Data sekunder adalah data yang sudah dilakukan oleh pihak lain terkait dengan geo- hidrologis dan sebaran pangambilan sampel kualitas air di DKI Jakarta.

b. Data primer adalah data yang langsung didapat dari sumbernya dalam rangka mendukung tujuan kajian ini, diantaranya:

 Infomasi dan dokumentasi dari kegiatan/pelaksanaan pemantauan

 Data Pernyataan Tertulis dari nara sumber tentang kegiatan ini (rapat-rapat pembahasan).

3.1.2. Pelaksanan Kegiatan Pemetaan dan Koordinasi

Pekerjaan-pekerjaan yang termasuk dalam tahap pelaksanaan ini meliputi:

a. Inventarisasi sistem sungai wilayah kajian

b. Identifikasi dan pemetaan sumber-sumber pencemar c. Pemetaan lokasi sampel

d. Inventarisasi inovasi pengelolaan yang sudah dilakukan

e. Pemetaan Sebaran Jumlah dan Kepadatan penduduk (sosial budaya) dalam satuan kelurahan (sekitar sungai yang dikaji)

f. Membuat segementasi/ruas (reach) pada tiap sungai yang dikaji

g. Tabulasi data panjang sungai, koordinat lokasi sampel dan sumber pencemar

3.2. PENGUMPULAN DATA 3.2.1. Pengumpulan Data Sekunder Pengumpulan data sekunder, meliputi:

 Data hasil monitoring kualitas air sungai pada periode sebelumnya (2008 – 2013).

 Data iklim (curah hujan, tekanan udara, suhu) dari BMKG dan SLHD Provinsi DKI Jakarta.

 Data hidrologi sungai dan Peta Tata Guna Lahan.

(23)

BADAN PENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP DAERAH

BAB III. METODE KAJIAN

DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN (DTBP) SUNGAI PROVINSI DKI JAKARTA, 2014

(Sungai Jati Kramat, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat/Kalimalang) III - 2

 Batasan DAS dan Peta tata guna lahan di lokasi studi yang diperoleh dari BPLHD DKI Jakarta. Selain itu, peta saluran drainase diperoleh dari masing-masing Suku Dinas Pekerjaan Umun Kota Administrasi: Jakarta Selatan, Jakarta Pusat dan Jakarta Timur.

3.2.2. Pengumpulan Data Primer

 Pengumpulan data primer kualitas air sungai meliputi pengambilan sampel air sungai pada titik yang telah ditentukan (Tabel 3.1).

Pengukuran debit aliran sungai dengan current-meter pada titik pengambilan sampel air sungai.

 Dokumentasi kondisi sekitar lokasi sampling dan kondisi fisik sungai.

(24)

TITIK SAMPLING

dmsX (BT) dmsY (LS) KELURAHAN KECAMATAN KOTA

I S. Kali Mampang

1 MMP-01 106°49'19.79"E 6°19'2.86"S Jl. Sagu/Sutera Raya/Jagakarsa-

Dari Jl. Kebagusan (Selatan TMR) Jagakarsa Jagakarsa Jakarta Selatan D 2 MMP-02 (14C) 106°49'11,169"E 6°17'32,649"S Jl. TB. Simatupang-SPBU-(Sisi

Utara TMR) Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan D

3 MMP-03

(Cabang Sungai) 106°49'40,433"E 6°17'10,432"S Jl. Ragunan Raya (Sisi Timur Jl.

Raya Warung Jati Barat) Jati Padang Pasar Minggu Jakarta Selatan D

4 MMP-04 06°49'28,545"E 6°15'30,049"S Jl. Duren Bangka/Kemang Utara

Raya, SMA 60 dan SLT 124 Bangka/Duren Tiga

Mampang Prapatan/

Pancoran

Jakarta Selatan D

5 MMP-05(14B) 106°49'16,366"E 6°14'25,886"S Jl. Kapten Piere Tendean Mampang Prapatan Mampang

Prapatan Jakarta Selatan D II S. Kali Baru Barat

6 KBB-01(7) 106°49'45,444"E 6°20'15,084"S Jl. Komplek Zeni (Srengseng

Sawah) Srengseng Sawah Jagakarsa Jakarta Selatan B

7 KBB-02(7A) 106°50'39,256"E 6°16'58,348"S Jl. Pasar Minggu/Terminal Pasar Minggu Pasar Minggu Jakarta Selatan B

8 KBB-03 106°50'33,794"E 6°14'40,736"S

Jl. Pasar Minggu Raya- Pancoran/Gatot Subroto (Pom Bensin)

Pancoran Pancoran Jakarta Selatan D

9 KBB-04 06°50'39,495"E 6°12'43,209"S Jl. Minang Kabau Barat/Raya R.

Saharjo Manggarai Tebet Jakarta Selatan D

III S. Kali Baru Timur

10 KBT-01(33) 106°51'35,303"E 6°21'12,346"S Jl. Raya Bogor/YKK Pekayon Pasar Rebo 1) Jakarta Timur D 11 KBT-02 106°51'44,054"E 6°18'40,434"S Jl. Raya Bogor, Depan Mall

Cijantung Cijantung Pasar Rebo Jakarta Timur D

12 KBT-03 106°52'17,185"E 6°17'27,295"S Jl. Raya Bogor/Depan KOMSEKO Kampung Tengah Kramat Jati Jakarta Timur D 13 KBT-04 106°51'55,714"E 6°15'50,129"S Jl. Raya Bogor, Pusat Grosir

Cililitan Cililitan Kramat Jati Jakarta Timur D

14 KBT-05(33A)/Sentiong 106°52'10,514"E 6°13'53,604"S Jl. Otista III Cipinang Cimpedak Cipinang Cimpedak Jatinegara Jakarta Timur D 15 KBT-06/Sentiong 106°51'26,46"E 6°11'47,27"S Jl. Murtado (Pramuka) Paseban Cempaka Putih Jakarta Pusat D 16 KBT-07/Sentiong 106°51'5,62"E 6°11'10,44"S Jl. Kramat Sentiong Johar Baru Johar Baru Jakarta Pusat D 17 KBT-08/Sentiong 106°51'18,501"E 6°9'36,795"S Jl. Jiung- 100 m Setelah Pasar

Kemayoran Utan Panjang Kemayoran Jakarta Pusat D

(25)

III - 4 No NAMA SUNGAI / KODE

TITIK SAMPLING

KOORDINAT

NAMA JALAN/ALAMAT WILAYAH ADMINISTRASI PROVINSI DKI JAKARTA GOLONGAN SUNGAI

dmsX (BT) dmsY (LS) KELURAHAN KECAMATAN KOTA

III S. Kali Baru Timur

18 KBT-09/Sentiong 106°51'29,14"E 6°8'55,29"S Jl. Landas Pacu Sunter Agung Tanjung Priok Jakarta Utara D 19 KBT-10/Sentiong/Sunter 106°51'14,203"E 6°7'34,461"S Jl. Danau Sunter Barat-RE

Martadinata Sunter Agung Tanjung Priok Jakarta Utara D

IV S. Tarum Barat

20 TRB-01(17) 106°56'59,986"E 6°14'59,304"S Jl. Kalimalang-Bekasi

Pondok Kelapa (Berbatasan dgn Bintaro Jaya

Duren Sawit (Batas dgn Bekasi Barat) 2)

Jakarta Timur B

21 TRB-02 106°54'37,164"E 6°14'51,073"S Jl. Kalimalang Duren Sawit/Cipinang Melayu

Duren Sawit

/Makasar Jakarta Timur D 22 TRB-03(18) 106°52'50,739"E 6°14'23,667"S Jl. Kalimalang-Halim Cipinang Melayu Makasar Jakarta Timur D

V S. Jati Kramat

23 JTK-01(PAM) 106°56'2,623"E 6°15'21,893"S Jl. Persada (Persada Golf) Pondok Kelapa/Jati Bening Baru

Duren Sawit/Pondok Gede

Jakarta Timur D

24 JTK-02(36A) 106°55'56,875"E 6°14'54,977"S Jl. Kalimalang Pondok Kelapa Duren Sawit Jakarta Timur D 25 JTK-03 106°55'34,43"E 6°13'44,7"S Jl. Inspeksi BKT- Perumahan

Taman Malaka Malaka Sari Duren Sawit Jakarta Timur D

Keterangan:

1) Berbatasan dengan wilayah Kota Depok, Jawa Barat 2) Berbatasan dengan wilayah Kota Bekasi Jawa Barat

(26)

3.2.3. Survei Lapang

Survei lapang (pengamatan dan pengukuran lapangan).

a. Survei pengamatan lapangan adalah:

1) Pengamatan tentang morfologi daerah kajian (pola aliran sungai).

2) Morfometri sungai : luas aliran sungai, panjang sungai, kelerengan ailiran.

b. Pengukuran sungai di lapangan adalah:

1) Pengukuran lebar sungai, kedalaman dan kecepatan pada setiap titik (koordinat) sampel dan pengukuran debit sungai dengan current-meter.

2) Pengukuran kualitas air (yang dilakukan oleh tim Laboratorium).

c. Pengamatan dan pemetaan Sebaran Suber Pencemar

1) Pengamatan sebaran sumber pencemar: baik di sekitara lokasi sampel dan sepanjang aliran sungai (wilayah aliran sungai).

2) Pemetaan sumber pencemar dilakukan berdasarkan penggunaan tanah (landuse) yang ada di sepanjang aliran sungai.

3.3. ANALISIS DATA

3.3.1. Analisis Data Sekunder

Interpretasi data time-series hasil analisis laboratorium kulaitas air dari hasil studi terdahulu (data SLHD periode 2008 – 2012). Data tersebut dibandingkan dengan baku mutunya dan interpretasi kecenderungan parameter kunci kualitas air sungai.

3.3.2. Analisis Laboratorium Sampel Air Sungai

Data kualitas air sungai diperoleh melalui analisis laboratorium, dibandingkan dengan baku mutu berdasarkan Kep.Gub DKI Jakarta No. 582 Tahun 1995 (Tabel 3.2).

(27)

BADAN PENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP DAERAH

BAB III. METODE KAJIAN

DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN (DTBP) SUNGAI PROVINSI DKI JAKARTA, 2014

(Sungai Jati Kramat, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat/Kalimalang) III - 6

Tabel 3.2. Metode Pengukuran Parameter Kualitas Air Sungai

No. Parameter Kualitas Air Unit Metode Analisis

Baku Mutu: SK Gub. DKI Jaya No. 582/95 Kadar Maksimum*)

B C D

A FISIK

1 Daya Hantar Listrik (DHL) µmhos/cm SNI 06-6989.1-2004 500 750 1.000 2 Zat padat Terlarut (TDS) mg/l SNI. 06-6989.27-2005 500 500 2.000

3 Kekeruhan NTU SNI 06-6989.25-2005 100 100

4 Zat padat tersuspensi (TSS) mg/l SNI. 06-6989.3-2004 100 100 200

5 Suhu oC SNI. 06-6989.23-2004 Normal Normal Normal

6 Warna Pt-Co SNI 6989.80-2011 100 - -

B KIMIA

1 Air Raksa (Hg) mg/l APHA Ed. 22nd 3114.B, 3500-Hg-2012 0,001 0,002 0,0005

2 Amoniak bebas (NH3-N) mg/l SNI. 06-2479-1991 1,0 2,0

3 Arsen(As) mg/l APHA Ed. 22nd 3114.B, 3500-As-2012 0,050 0,50 0,050

4 Barium (Ba) mg/l SNI. 06-6989.39-2005 1,0 - -

5 Besi (Fe) mg/l SNI. 06-6989.4-2004 2,0 - -

6 Flourida (F) mg/l APHA Ed. 22nd 4500-F.D-2012 1,50 1,50

7 Kadmium (Cd) mg/l SNI. 06-6989.16-2004 0,010 0,010 0,01

8 Klorida (Cl) mg/l SNI. 06-6989.19-2004 250 20

9 Klorin bebas mg/l HACH - 0,003 -

10 Krom hexavalen (Cr6+) mg/l SNI. 06-6989.53-2005 0,050 0,050 -

11 Mangan (Mn) mg/l SNI. 06-6989.5-2004 0,50 - 1,0

12 Nikel (Ni) mg/l SNI 6989.18:2009 0,10 0,10 0,10

13 Nitrat (NO3) mg/l SNI. 6989.74:2009 10,0 - -

14 Nitrit (NO2-N) mg/l SNI. 06-6989.9-2004 1,0 1,0 -

15 pH - SNI. 06-6989.11-2004 6,0 - 8,5 6,0 - 8,5 6,0 - 8,5

16 Pospat (PO4) mg/l SNI. 06-6989.31-2005 0,50 0,50 0,50

17 Residual Sodium Carbonat (RSC) mg/l SNI 03-6852-2002 - - 1,25 - 2,50 18 Selenium (Se) mg/l APHA Ed. 22nd 3114.B, 3500-Se-2012 0,010 0,050 0,050

19 Seng (Zn) mg/l SNI. 06-6989.7-2004 1,0 0,050 1,0

20 Sodium Absorption Ratio (SAR) mg/l SNI 03-6853-2002 - - 10,0 - 18,0

21 Sianida (CN) mg/l SNI. 6989.76:2011 0,050 0,010 -

22 Sulfat (SO4) mg/l SNI 6989.20:2009 100 50 100

23 Sulfida (H2S) mg/l SNI. 06-2497-1991 0,10 0,002 -

24 Tembaga (Cu) mg/l SNI. 06-6989.6-2004 0,10 0,020 0,01

25 Timbal (Pb) mg/l SNI. 06-6989.8-2004 0,10 0,030 0,10

26 Seny. Aktif Biru Metilen/MBAS mg/l SNI. 06-6989.51-2005 1,0 0,50 0,50

27 Zat organik (KMnO4) mg/l SNI 06-2506-1991 15,0 25,0 25,0

28 Kobalt (Co) mg/l SNI. 06-2471-1991 - - 0,2

29 Natrium (Na) % SNI 03-6852-2002 - - 50,0

30 Boron (Bo) mg/l SNI 06-2481-1991 - - 1,0

31 Sodium Absrbtion Ratio - - -

32 Minyak dan lemak mg/l SNI. 06-6989.10-2004 Nihil 1,0 Nihil

33 DO mg/l SNI. 06-6989.14-2004 3 3 3

34 BOD mg/l SNI. 06-2503-1991 10 20 20

35 COD mg/l SNI. 06-6989.2-2004 20 30 30

C BAKTERIOLOGI

1 E Coliform (coli tinja) MPN/100

ml SNI 2897-2008 2.000 4.000 4.000

2 Coliform Total MPN/100

ml SNI 2897-2008 10.000 20.000 20.000

Sumber : Lampiran III SK Gub. DKI Jaya No. 582/95

Keterangan: *)Target Operasional Yang Harus Dicapai Pada Tahun 2000 Air Sungai Di Dki Jakarta.

Baku Air Golongan B: Air Baku Air Minum; Baku Air Golongan C: Pertanian Dan Peternakan; Baku Air Golongan D: Pertanian Dan Usaha Perkotaan.

3.3.3. Pengolahan Data dengan Penggunaan Model QUAL2K/QUAL2Kw

Faktor-faktor yang menentukan daya tampung beban pencemar sumber air (sungai,muara, situ, danau dan waduk) secara umum adalah sebagai berikut: (Lampiran II Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 01 Tahun 2010)

(28)

a. Kondisi hidrologi, dan morfologi sumber air termasuk kualitas air sumber air yang ditetapkan DTBP-nya

b. Kondisi klimatologi sumber air seperti suhu udara, kecepatan angin dan kelembaban udara

c. Baku mutu air atau kelas air untuk sungai dan muara atau baku mutu air dan kriteria status tropik air bagi situ, danau dan waduk

d. Beban pencemar sumber tertentu/point source e. Beban pencemar sumber tak tentu/non-point source

f. Karakteristik dan perilaku zat pencemar yang dihasilkan sumber pencemar g. Pemanfaatan atau penggunaan sumber air

h. Faktor pengaman (margin of safety) yang merupakan nilai ketidakpastian dalam perhitungan. Ketidakpastian tersebut bersumber dari tidak memadainya data dan informasi tentang hidrolika dan morfologi sumber air, selain kurangnya pengetahuan mengenai karakteristik dan perilaku zat pencemar.

Tahapan Pelaksanaan Perhitungan DTBP

1. Menetapkan prioritas sumber air yang akan ditentukan DTBPnya yang didasarkan pada:

a. Hasil kajian status mutu air, yaitu: Sungai dan muara yang memiliki status mutu air paling tercemar.

b. Sumber air yang dimanfaatkan sebagai air baku untuk air minum.

c. Tingkat potensi sumber pencemar yang berpotensi menerima jumlah beban pencemar yang terbesar.

2. Melakukan inventarisasi dan identifikasi kondisi hidrologi, morfologi dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kondisi sumber air yang akan ditentukan DTBP-nya yang meliputi paling sedikit:

a. Peta dasar (peta rupa bumi atau peta topografi).

b. Data klimatologi dan meteorologi, antara lain: radiasi sinar matahari, curah hujan, suhu udara, kecepatan angin dan kelembaban udara.

c. Data hidrolik sumber air yang meliputi: debit, volume, panjang, lebar, kedalaman, kemiringan hidrolis, kecepatan air.

d. Data kualitas air sumber air

3. Melakukan identifikasi baku mutu air untuk sungai dan muara atau baku mutu air yang akan ditentukan DTBP-nya. Apabila baku mutu air belum ditetapkan, dapat digunakan

(29)

BADAN PENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP DAERAH

BAB III. METODE KAJIAN

DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN (DTBP) SUNGAI PROVINSI DKI JAKARTA, 2014

(Sungai Jati Kramat, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat/Kalimalang) III - 8

kualitas air kelas II sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

4. Melakukan inventarisasi dan identifikasi jenis, jumlah beban (debit dan konsentrasi) dan karakteristik sumber pencemar yang meliputi:

a. Sumber pencemar tertentu (point source): saluran irigasi, drainase, anak sungai, oulet limbah industri atau domestic (IPAL rumah tangga terpadu, hotel, dan rumah sakit)

b. Sumber pencemar tak tentu (non-point/diffuse source) : rumah tangga tanpa IPAL, pertanian, peternakan dan pertambangan.

5. Melakukan identifikasi pemanfaatan sumber air.

6. Melakukan perhitungan DTBP sumber air dengan menggunakan berbagai metode sebagai berikut:

a. Perhitungan kesetimbangan (neraca) masa.

b. Pemodelan analitis menggunakan persamaan matematika yang secara ilmiah telah teruji misalnya: metode streeterphelps.

c. pemodelan numerik terkomputerisasi (computerized numerical modeling)

d. Metode lain yang didasarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sepanjang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Tahapan penetapan daya tampung beban pencemaran air disajikan pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1. Tahapan Penetapan Daya Tampung beban Pencemaran Air

(30)

Versi terakhir dari model QUAL2K adalah QUAL2Kw yang dapat mensimulasikan kualitas air sungai beserta anak-anak sungai yang masuk ke aliran utama. Dijalankan dengan menggunakan MS – Excell (minimal MS – Excell 2000), model ini terdiri atas beberapa sheet utama yang harus diisi oleh pengguna, yaitu :

1. QUAL2K 2. Headwater 3. Reach

4. Air Temperature

5. Dew Point Temperature 6. Wind Speed

7. Cloud Cover 8. Shade

9. Point Source (jika perlu) 10. Diffuse Source (jika perlu) 11. Hydraulics Data

12. Temperature Data 13. WQ Data

Fasilitas lain yang disediakan untuk menjalankan model ini adalah tombol Run yang ada di bagian atas pada 13 sheet tersebut. Tombol yang digunakan adalah [Run VBA] yang di klik setelah semua data pada 13 sheet tersebut diisi. Karena pengoperasian tombol [Run VBA] menggunakan Visual Basic, maka fasilitas macro dari MS – Excell harus diaktifkan terlebih dahulu sebelum tombol ini dapat digunakan.

(31)

BADAN PENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP DAERAH

BAB IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMAR (DTPB) SUNGAI PROVINSI DKI JAKARTA, 2014

(Sungai Jati Kramat, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat/Kalimalang) IV - 1

BAB IV

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. MORFOLOGI DAN SISTEM ALIRAN SUNGAI DKI JAKARTA

Secara morfologi, DKI Jakarta umumnya termasuk dalam wilayah dataran rendah dan termasuk dalam wilayah endapan (kipas aluvial). Sistem sungai mengalir dari hulu (di bagian Selatan) di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dataran DKI Jakarta masuk dalam satuan morfologi yang terbentang dari Selat Sunda hingga ke Teluk Cirebon, sebagian terdiri dari sedimen marin yang memiliki sedikit perlipatan, tertutup tuf kuarter, dan deposit alluvium (Bemmelen, 1949).

Berdasarkan morfologi dan arah kelerengannya, 13 sistem sungai DKI Jakarta mengalir dari arah Selatan ke Utara: Sungai Ciliwung (utama) dan 12 (dua belas) sungai kecil seperti Kali Moonkervart, Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Grogol, Sungai Krukut, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Sungai Jati Kramat, dan Kali Cakung serta beberapa sungai kecil lainnya. Sungai-sungai tersebut (13 sungai), bagian hulunya terletak pada ketinggian 100 – 200 m dpl yang secara gravitasi alirannya melalui wilayah endapan puing berkipas (alluvial fan) bermuara ke Teluk Jakarta.

Sungai lain yang mengalir di DKI Jakarta di antaranya Sungai/Kali Tarum Barat. Sungai Tarum Barat (menjadi bagian dalam kajian ini) untuk suplai air baku yang arah alirannya dari Timur (Purwakarta-Bekasi) ke Jakarta dengan bagian hilirnya menyatu pada Kali Cipinang.

Tiga belas (13) sistem sungai/kali yang mengalir di wilayah DKI Jakarta adalah:

1) Kali Mookervart.

2) Kali Angke.

3) Kali Pesanggrahan.

4) Kali Grogol 5) Kali Krukut.

6) Kali Baru Barat.

7) Sungai Ciliwung.

8) Kali Baru Timur 9) Kali Cipinang.

10) Kali Sunter.

11) Kali Buaran.

12) Sungai Kali Jati Kramat.

13) Kali Cakung.

(32)

4.2. PERUNTUKAN DAN PEMANTAUAN KUALITAS AIR SUNGAI DI DKI JAKARTA

4.2.1. Pengembangan Koridor Sungai Di DKI Jakarta

Berdasarkan Perda DKI Jakarta No. 5 tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI Jakarta (perda pengganti Perda No. 1 Tahun 2012 Tentang RTRW DKI Jakarta 2030), di madan arahan pengembangan koridor dari 13 sungai adalah untuk:

a. Perkantoran, perdagangan, komersial/pergudangan, rumah susun, rekreasi dan ruang terbuka hijau.

b. Rumah susun, rekreasi dan ruang terbuka hijau.

c. Rekreasi dan ruang terbuka hijau.

Sistem Sungai (13 sungai) di DKI Jakarta: (1). Kali Mookervart, (2) Kali Angke, (3) Kali Pesanggrahan, (4) Kali Grogol, (5) Kali Krukut, (6) Kali Baru/Srengseng Sawah-Pasar Minggu, (7) Sunga Ciliwung, (8) Kali Baru Timur, (9) Kali Cipinang, (10) Kali Sunter, (11) Kali Buaran, (12) Kali Jati Keramat/Tarum Barat, (23) Kali Cakung.

Gambar 4.1. Arahan Pengembangan Koridor 13 Sungai Di DKI Jakarta

Sumber: Perda DKI Jakarta No. 5 tahun 1999 Tentang RTRW DKI Jakarta 1

2

3

4

5 6

KOTA DEPOK TANGERANG

BEKASI

7

BEKASI

8

9 10 11

12

13

KABUPATEN BOGOR TANGERANG

DKI JAKARTA

Teluk Jakarta

(33)

BADAN PENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP DAERAH

BAB IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMAR (DTPB) SUNGAI PROVINSI DKI JAKARTA, 2014

(Sungai Jati Kramat, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Sungai Mampang dan Sungai Tarum Barat/Kalimalang) IV - 3

4.2.2. Lokasi Pemantauan 13 Sungai dan Peruntukannya di DKI Jakarta

Pemantauan kuantitas dan kualitas air sungai yang pada 13 sungai yang mengalir di Provinsi DKI Jakarta yang meliputi 67 titik pemantauan. Lokasi pemantauan tersebut, letaknya berada pada perbatasan DKI Jakarta – Jawa Barat (lihat Gambar 4.2,Tabel 4.1 dan Tabel 4.2).

Gambar 4.2. Lokasi Pemantauan Kualitas Air Pada 13 Sungai di DKI Jakarta

Pemantuan pada 13 Sistem Sungai/Kali sesuai peruntukan di DKI Jakarta (pada Gamabar 4.2 di atas) seperti pada Tabel 4.1.

1

2

3

4

5 6

KOTA DEPOK TANGERANG

BEKASI

7

BEKASI

8

9 10

11 12

KABUPATEN BOGOR KOTA

TANGERANG

13

13

1 Tiga belas (13)

Sistem Sungai DKI Jakarta

×1 - - - 67 Lokasi pengambilan sampel

Referensi

Dokumen terkait

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada seluruh staf Dosen dan staf Tata Usaha di Program Studi Ilmu Lingkungan

Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi Jawa Barat Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Provinsi Banten.. Bekerjasama

Dalam rangka menindaklanjuti Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Perwakilan Provinsi DKI Jakarta atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Provinsi DKI

Pemerintah Kabupaten Lebak perlu melakukan kajian Daya Tampung Beban Pencemaran di seluruh DAS Ciujung (wilayah Kabupaten Lebak) serta menjadikan kajian tersebut sebagai

Pada skenario III , dilakukan simulasi dengan mengasumsikan beban pencemar berupa konsentrasi BOD yang berasal dari point source dan diffuse source lebih

Dilihat dari hasil simulasi skenario 3 yang dimana kualitas air Sungai Badung diasumsikan memenuhi baku mutu air Kelas II dan diasumsikan tidak ada sumber pencemar yang masuk ke

BPK Perwakilan Provinsi DKI Jakarta mempunyai tugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan daerah pada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, BUMD dan lembaga

Di Tahun 2016, Pemerintah Provinsi Papua melalui Badan Pengelola Lingkungan Hidup telah merencanakan program dan atau kegiatan perlindungan dan pengelolaan