BAB III METODOLOGI PENELITIAN
F. Kalibrasi Instrumen
Instrumen diuji coba terlebih dahulu pada kelas 4 yang terdiri dari 42 siswa. Pengujian instrumen dilakukan dikelas 4 karena kelas 4 sudah mempelajari materi kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan. Uji coba instrumen dilakukan untuk mengukur validitas, realibilitas, taraf kesukaran dan daya pembeda soal. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah suatu instrumen layak digunakan sebagai alat pengumpul data atau tidak.
a. Uji Validitas
Validitas berasal dari kata validity, dapat diartikan tepat atau sahih, yakni sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu instrumen evaluasi dikatakan valid apabila instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur. Jadi, jika tes tersebut adalah tes pencapaian hasil belajar maka hasil tes tersebut apabila diinterpretasikan secara intensif, hasil yang dicapai memang benar menunjukan ranah evaluasi pencapaian hasil belajar.10
Sebagaimana dikutip oleh Suharsimi Arikunto, Scarvia B. Aderson dan kawan-kawan menyatakan sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur.11Validitas instrumen yang digunakan adalah validitas isi. Maksudnya butir-butir soal yag disusun
10
Sukardi, Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), cet 3, h. 31
11
Suharsimi Arikunto, Dasar- dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h. 80.
disesuaikan dengan materi. Pengujian validitas butir dalam penelitian ini menggunakan rumus product moment dari Pearson.
√
= Reliabilitas antar variabel X da variabel Y Banyak siswa
= Skor butir soal = Skor total
Untuk mengetahui valid atau tidaknya butir soal, maka dibandingkan dengan . Harga diperoleh dengan menentukan derajat kebebasanya dengan rumus df = n – 2 pada taraf signifikan 5%, dengan ketentuan jika sama atau lebih besar dengan , maka soal tersebut dinyatakan valid.
Berdasarkan hasil perhitungan uji validitas instrumen penelitian, dari 33 soal yang diujicobakan diperoleh 27 soal valid.
b. Uji Realibilitas
Realibilitas dapat diartikan sebagai kepercayaan bahwa suatu soal dapat dengan tetap memberikan data yang sesuai dengan kenyataan. Tes dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali-kali. Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukan ketetapan.dengan kata lain, jika siswa diberikan tes yang sama pada waktu yang berlainan, maka setiap siswa akan tetap berada dalam urutan (ranking) yang sama dalam kelompoknya.12
Teknik yang digunakan untuk menentukan reliabilitas tes dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan rumus K-R 20
12
Rochardson 20) karena instrumen yang digunakan berupa soal pilihan ganda, dengan rumus sebagai berikut:13
= reliabilitas tes secara keseluruhan
n = banyaknya item
p = proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
q = proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q = 1 – p)
= jumlah hasil perkalian antara p dan q
S = standar deviasi dari tes (standar deviasi adalah akar varians) Tabel 3.5
Indeks reliabilitas diklasifikasikan sebagai berikut:
Keterangan
< 0,20 Tidak ada realibilitas 0,21 – 0,40 Reliabilitas rendah 0,41 – 0,70 Reliabilitas sedang 0,71 – 0,90 Reliabilitas tinggi 0,90 – 1,00 Reliabilitas sangat tinggi
1,00 Reliabilitas sempurna
Berdasarkan hasil perhitungan uji reliabilitas instrumen, diperoleh
sebesar 0,90. Dengan nilai reliabilitas demikian, maka instrunen
tersebut memiliki reliabilitas yang tinggi dan memenuhi persyaratan instrumen yang baik.
c. Pengujian taraf kesukaran instrumen
Taraf kesukaran tes adalah kemampuan tes tersebut dalam menjaring banyak subjek peserta tes yang dapat mengerjakan dengan benar. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi
13
usaha memecehkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi.14 Adapun rumus untuk menentukan tingkat kesukaran soal adalah sebagaii berikut:
Dimana :
P = Indeks Kesukaran
B = banyaknya siswa yang menjawab soal benar JS = jumlah seluruh siswa yang mengikuti tes Klasifikasi taraf kesukaran sebagai berikut:
Tabel 3.6 Tingkat Kesukaran
Tingkat Kesukaran Nilai P Sukar Sedang Mudah 0,00 – 0,30 0,31 – 0,70 0,71 – 1,00
Berdasarkan hasil perhitungan uji tingkat kesukaran butir soal instrumen penelitian, diperoleh 3 butir soal dengan tingkat kesulitan “sukar”, 7 butir soal dengan tingkat kesulitan “sedang” dan 23 butir soal dengan tingkat kesulitan “mudah”.
d. Daya pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang kurang pandai (berkemampuan rendah).15
Adapuan rumus yang digunakan untuk menentukan daya pembeda adalah
14
Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2012), h. 179-180.
15
daya pembeda
= Banyaknya kelompok atas yang menjawab benar
= Banyaknya kelompok bawah yang menjawab benar
= Banyaknya peserta kelompok atas = Banyaknya peserta kelompok bawah
= = proposi peserta kelompok atas yang menjawab benar = = proposi peserta kelompok bawah yang menjawab benar Dengan klasifikasi daya pembedanya sebagai berikut:
Tabel 3.7
Klasifikasi daya pembeda Klasifikasi daya beda Kriteria
D< 0 0,00 – 0,20 0,20 – 0,40 0,40 – 0,70 0,70 – 1,00 Sangat Jelek Jelek Cukup Baik Sangat Baik
Berdasarkan hasil perhitungan uji daya pembeda butir soal intrumen, diperoleh 15 butir soal dengan daya beda “jelek”, 6 butir soal dengan daya beda “cukup”, dan 11 butir soal dengan daya beda “baik”. Berdasarkan hasil perhitungan uji validitas, daya pembeda, dan taraf kesukaran dari tiap soal dapat dilihat rekapitulasi analisis butir soal.
Dari 33 soal yang telah diuji coba, diperoleh 27 soal yang valid, dengan reliabilitas 0,90. Namun, peneliti hanya menggunakan 20 butir soal. Hal ini berdasarkan pada proporsi keterwakilan masing-masing indikator. Maka dari itu peneliti hanya menggunakan soal no 2, 3, 4, 5, 7, 8, 10, 13, 14, 15, 16, 18, 20, 21, 23, 24, 26, 27, 28, 33 untuk mengukur
kemampuan pemahaman siswa mengenai pengaruh lingkungan terhadap kesehatan. Rekapitulasi analisis butir soal dapat dilihat pada lampiran 7.
Untuk mempermudah teknik analisis instrumen seperti tingkat kesukaran, daya pembeda, validitas dan reliabilitas soal maka dalam penelitian ini dihitung dengan program komputer ANATES.
2. Non Tes
Non tes yaitu berupa lembar observasi. Lembar observasi digunakan untuk melihat proses pembelajaran selama berlangsungnya pembelajaran. Lembar observasi ini didalamnya terdapat indikator-indikator sikap siswa yang mengarah pada keaktifan atau kepasifan siswa selama berlangsungnya pembelajaran dengan menggunakan media komik.