• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kamar Kecil

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 29-35)

Kamar kecil (toilet) di stasiun merupakan fasilitas sanitasi yang diperuntukkan secara umum maupun khusus. Toilet yang diperuntukkan secara umum merupakan fasilitas sanitasi yang aksesibel bagi semua orang termasuk penyandang cacat, orang tua dan ibu hamil. Sedangkan untuk toilet yang diperuntukkan secara khusus, aksesibilitasnya disesuaikan dengan orang yang menggunakannya toilet tersebut. Toilet yang diperuntukkan secara khusus misalnya toilet di Ruang KS, Ruang PPKA, dan ruang kerja lainnya.

Persyaratan umum untuk fasilitas toilet adalah sebagai berikut:

a) Ruangan toilet untuk pria didesain terpisah dengan ruangan toilet untuk wanita. Pemisahan ini juga termasuk pemisahan akses menuju ruangan masing-masing dengan pintu masuk terpisah.

b) Masing-masing toilet dilengkapi dengan tanda toilet pria/wanita pada bagian luar ruangan.

c) Wastafel sebaiknya menggunakan kran ungkit. d) Lantai menggunakan material yang tidak licin.

e) Pada tempat-tempat yang mudah dicapai, seperti pada daerah pintu masuk dianjurkan untuk disediakan tombol pencahayaan darurat (emergency light button) bila sewaktu-waktu terjadi listrik padam. Persyaratan khusus untuk fasilitas toilet sehubungan dengan aksesibilitas bagi penyandang cacat adalah sebagai berikut:

a) Toilet harus dilengkapi dengan tanda aksesibilitas penyandang cacat pada bagian luar ruangan.

b) Toilet harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk, keluar dan manuver kursi roda.

c) Pintu harus mudah dibuka untuk memudahkan pengguna kursi roda membuka dan menutup pintu.

d) Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian kursi roda, yaitu 45 – 50 cm.

commit to user

DEA KARINA PUTRI | I0212030 40

e) Letak kertas tissue, air, kran air, pancuran (shower), tempat sabun, pengering dan perlengkapan lainnya harus dipasang sedemikian rupa sehingga mudah digunakan oleh orang yang memiliki keterbatasan fisik dan bisa dijangkau oleh pengguna kursi roda.

f) Kunci atau grendel pintu dipilih sedemikian rupa sehingga bisa dibuka dari luar jika terjadi kondisi darurat.

Ukuran dan penerapan standar untuk toilet yang didesain aksesibel bagi penyandang cacat dapat dilihat pada tabel-tabel sebagai berikut.

Gambar 2. 26 Ukuran Sirkulasi Masuk Toilet

Sumber : Unit Station Maintenance, Preservation and Architecture PT. KAI (Persero), Buku Pedoman Standardisasi Stasiun Tahun 2011

Gambar 2. 27 Tinggi Perletakan Kloset

Sumber : Unit Station Maintenance, Preservation and Architecture PT. KAI (Persero), Buku Pedoman Standardisasi Stasiun Tahun 2011

commit to user

DEA KARINA PUTRI | I0212030 41

Gambar 2. 28 Ruang Gerak di dalam Toilet

Sumber : Unit Station Maintenance, Preservation and Architecture PT. KAI (Persero), Buku Pedoman Standardisasi Stasiun Tahun 2011

Gambar 2. 29 Simulasi Pergerakan di Toilet

Sumber : Unit Station Maintenance, Preservation and Architecture PT. KAI (Persero), Buku Pedoman Standardisasi Stasiun Tahun 2011

Gambar 2. 30 Kran Wudhu bagi Penyandang Cacat

Sumber : Unit Station Maintenance, Preservation and Architecture PT. KAI (Persero), Buku Pedoman Standardisasi Stasiun Tahun 2011

commit to user

DEA KARINA PUTRI | I0212030 42

2. Peron

Peron berfungsi sebagai tempat untuk aktifitas naik turun penumpang kereta api yang terbagi menjadi 3 jenis, yaitu peron tinggi, peron sedang dan peron rendah. Peron ditempatkan di tepi jalur kereta api (side platform) dan di antara dua jalur (island platform).

a. Ukuran Teknis Peron

Tabel 2. 6 Ukuran Teknis Peron

No. Uraian Jenis Peron

Tinggi Sedang Rendah 1 Tinggi Peron, diukur dari kepala rel

sampai dengan lantai peron 100 cm 43 cm 18 cm 2 Jarak Tepi Peron dari As Jalan Rel

Lurus 160 cm

135 cm 120 cm 3 Jarak Tepi Peron dari As Jalan Rel

Lengkung 165 cm

4 Lebar Minimal untuk Peron di Antara

Dua Jalur KA (Island Platform) 200 cm 250 cm 280 cm 5 Lebar Minimal untuk Peron di Tepi

Jalur KA (Side Platform) 165 cm 190 cm 205 cm 6 Jarak Garis Batas Aman, diukur dari

sisi tepi luar peron ke arah as peron 35 cm 600 cm 750 cm 7 Panjang Peron

disesuaikan dengan rangkaian terpanjang KA penumpang

yang beroperasi

Sumber : Unit Station Maintenance, Preservation and Architecture PT. KAI (Persero), Buku Pedoman Standardisasi Stasiun Tahun 2011

Dengan mempertimbangkan kapasitas penumpang, lebar peron dapat dihitung dengan menggunakan formula sebagai berikut:

𝑏 =𝟎, 𝟔𝟒 𝐦𝟐/𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐱 𝐕 𝐱 𝐋𝐅 l

b = lebar peron (meter)

V = jumlah rata-rata penumpang per jam sibuk dalam 1 tahun (orang) LF = load factor (80%)

l = panjang peron sesuai dengan rangkaian terpanjang KA penumpang yang beroperasi (meter)

commit to user

DEA KARINA PUTRI | I0212030 43

Pembangunan peron baru harus menggunakan jenis peron tinggi atau peron rendah. Peron sedang dipertimbangkan tidak memenuhi

aspek efisiensi utilitas karena operasionalnya masih harus menggunakan tangga khusus (bancik) untuk naik turun penumpang.

Gambar 2. 31 Potongan Melintang Peron Tinggi

Sumber : Unit Station Maintenance, Preservation and Architecture PT. KAI (Persero), Buku Pedoman Standardisasi Stasiun Tahun 2011

Gambar 2. 32 Potongan Melintang Peron Rendah

Sumber : Unit Station Maintenance, Preservation and Architecture PT. KAI (Persero), Buku Pedoman Standardisasi Stasiun Tahun 2011

b. Kelengkapan Peron

Hal-hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan kelengkapan di area peron adalah sebagai berikut:

commit to user

DEA KARINA PUTRI | I0212030 44

1) Area peron harus dilengkapi dengan lampu penerangan yang memadai, papan nama peron, papan nama jalur KA, papan petunjuk arah,

petunjuk waktu, tanda batas aman peron dan papan

peringatan/larangan.

2) Untuk memenuhi aspek kenyamanan, peron di stasiun besar, stasiun sedang dan stasiun komuter harus dilengkapi dengan overkaping. 3) Untuk akses pergerakan vertikal, peron tinggi dan peron sedang harus

dilengkapi dengan ramp sehingga aksesibel bagi penyandang cacat dan memudahkan bagi orang yang membawa barang dengan alat bantu angkut beroda.

c. Material Lantai Peron

Hal-hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan material lantai peron adalah sebagai berikut:

1) Untuk memenuhi aspek keselamatan, lantai peron harus menggunakan material yang tidak licin sehingga tidak menyebabkan orang terpeleset atau tergelincir. Material yang digunakan juga harus mempunyai permukaan yang rata sehingga tidak menyebabkan orang tersandung. 2) Jenis-jenis material yang dapat digunakan sebagai permukaan lantai

peron adalah sebagai berikut: a) hotmix aspal

b) granit bertekstur c) keramik bertekstur

d) plat lantai beton dengan permukaan bertekstur

3) Material sejenis paving block sebaiknya tidak digunakan karena materialnya mudah bergeser sehingga permukaan peron menjadi tidak rata. Material keramik yang digunakan harus berkualitas baik dengan ketebalan yang cukup sehingga tidak mudah pecah.

4) Warna untuk material lantai yang digunakan adalah warna abu-abu tua yang merupakan warna natural dari material beton, batu atau jalan aspal. Sedangkan untuk garis tanda batas aman peron digunakan warna putih.

commit to user

DEA KARINA PUTRI | I0212030 45

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 29-35)

Dokumen terkait