BAB III KANDUNGAN AYAT dan MUNASABAH
1. Kandungan Surat Al Baqarah ayat 247
Surat Al Baqarah (sapi betina) adalah surat kedua dalam Al Qur‟an surat ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata dan 25.500 huruf dan tergolong surat madaniyah. Sebagian besar ayat dalam surat ini diturunkan pada permulaan hijriah, kecuali ayat 281 yang diturunkan di Mina saat peristiwa haji wada. Surat ini merupakan surat terpanjang dalam Al Qur‟an.
Surat ini dinami Al Baqarah yang artinya sapi betina karena di dalam surat ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74). Surat ini juga dinamai fustatul ur’an (puncal Al Qur‟an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain. dinamai juga surat
alif lam mim karena surat ini dimulai dengan huruf Arab alif lam mim.
Setelah penulis menyajikan teks dan terjemahan dari suart Al Baqarah ayat 247 dan Al Munafiqun ayat 4 selanjutnya penulis akan menyajikan beberapa pokok yang terkandung didalamnya. Penjelasan mengenai isi kandungan surat Al Baqarah ayat 247 tertuang didalam beberapa tafsir sebagai berikut:
27 a. Tafsir Al Misbah
Menurut Quraish Shihab dalam Al Qur‟an surat Al Baqarah ayat 247 ini menguraikan kisah tentang kedurhakaan kelompok Bani Israil yang mengakibatkan direbutnya Tabut dari tangan musuh. Peristiwa tersebut membuat mereka bertaubat kepada Allah dan memohon diangkatnya raja dari kalangan mereka sendiri untuk memimpin dalam memerangi musuh. Tetapi, ketika Allah SWT menunjuk Thalut sebagai raja karena kelebihannyadalam fisik dan pengetahuan, sebagian dari mereka justru menolaknya.
Sebagai bentuk pembuktian Allah SWT mengembalikan Tabut lewat malaikat sehingga memunculkan ketenangan batin dan kekuatan mental bagi kaum Bani Israil (Shihab, 2012: 81). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan, kecerdasan dan kekuatan fisik.
b. Tafsir An Nur
Setelah Nabi Samuel menerima wahyu dari Allah, ia berkata: Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu. Diriwayatkan dalam akhbar Bani Israil telah berpaling di zaman Nabi Syamuwil kaum Bani Israil. Telah berpaling dari syariat yaitu menyembah berhala dan melakukan pembunuhan besar-besaran serta merampas Tabut.
28
Beberapa lama mereka tidak mempunyai raja atau panglima perang. Mereka hanya dipimpin oleh pemuka-pemuka agamanya. Diantara Nabi-nabi mereka ialah: Syamuwil yang juga menjadi hakim. Sesudah beliau tua, beliau mengangkat anak-anaknya menjadi qadhi.akan tetapi mereka berlaku curang dan memakan uang sogok. Maka pada suatu ketika berkumpullah kepal-kepal Bani Israil yang disebut dalam ayat ini dengan Al-Mala’a meminta kepada Syamuwil , memilih seorang raja untuk mengendalikan pemerintahan. Syamuwil meneragkan kepada mereka kekejaman-kekejaman raja dan keinginan menjajah bangsa lain. Mereka berkeras memintanya. Maka Allah mengilhamkan kepada
Syamuwil supaya memilih Thalut seorang menjadi raja.
Betapa ia dapat menjadi raja kami padahal masih ada orang yang lebih berhak dari padanya. Dia bukan seorang yang berhata yang perlu dipunyai oleh seorang raja dan dia bukan keturunan raja dan bukandari keturunan Nabi.
Telah menjadi tradisi mereka, bahwa raja itu harus dari keturunan Yahuza ibn Ya‟kub tidak bolehh dari oarang lain dan diantar mereka adalah Daud As dan Sulaiman As, sedang keabian
29
adalah keturunan Lawa ibn Ya‟kub dan keturunan Musa As dan Harun.
Telah menjadi tradisi manusia, bahwa pemerintahan itu dipegang oleh ahli waris raja, atau bangsawan tinggi yang memudahkan pemuka-pemuka rakyat tunduk kepadanya. Disamping itu harus mempunyai harta. Mereka tidak memperdulikan ilmu, keutamaan budipekerti dan sifat-sifat pribadi.
Nabi Syamuwil berkata pada kaumnya; Allah telah memilih Thalut menjadi raja mereka karena Thalut mempunyai beberapa keistimewaan.
Pertama, fitrahnya, dan itulah yang sangat penting.
Kedua, luas pengetahuan yang dibutuhkan untuk pentadbiran.
Ketiga, sehat tubuh dan sempurna tenaganya yang diperlukan untuk kecerdasan pikiran
Keempat, mendapatkan taufik dari Allah yang diperlukan untuk memerintah.
Tidak diperlukan orang yang menjadi raja itu orang yang telah kaya. Apabila dia telah mendapat taufiq dari Allah, mudahlah
30
ia memperoleh harta yang diperlukan untuk mengurus pemerintahan.
Allah itu, maha luas tassarufnya dan kekuasaan-Nya. Apabila Allah menghendaki sesuatu urusan yang dikehendaki oleh hikmat-Nya dalam susunan makhluk-Nya, maka itulah yang terjadi.
Allah maaha mengetahui segala jalan hikmat. Maka Allah meletakkan untuk makhluk-Nya, undang-undang nidham yang amat indah ini dan amat kokoh yang tak kuasa diatasi oleh seorang juapun. Tuhan mendahulukan ilmu atas kesehatan tubuh, adalah untuk memberi pengertian, bahwa kesehatan badan itu, wajib didahului oleh ilmu yang luas (Asy Syiddieqy, 1995: 425).
c. Tafsir Muyasar
Nabi Syam‟un AS berkata kepada mereka “Sesungguhnya Allah telah memilih untuk kalian seorang pemimpin, yaitu Thalut. Lalu mereka menentang dan berkata, “Bagaimana mungkin kepemimpinan dan kerajaan diberikan kepada Thalut, orang yang miskin dan tak berharta, sedangkan seorang raja itu harus membutuhkan harta. Bukankah dengan harta itu seorang raja akan ditaati dan perang bisa dilaksanakan? Mengapa kepemimpinan kami diserahkan kepada seorang yang seperti itu, sedang harta
31
berada disisi kami? Jadi , sebenarnya kamilah yang lebih pantas untuk menjadi raja daripadanya, karena kekayaan ada pada kami dan dia orang fakir.”
Nabi mereka pun menjawab, “Pilihan telah ditetapkan oleh Allah. Dia lebih mengetahui hikmah, maslahat (yang terbaik), dan kesudahan dari setiap perkara. Dan ketahuilah, bahawa Thalut adalah seorang yang mempunyai ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa. Dengan ilmunya ia bisa memimpin manusia dan dengan tubuhnya yang kuat ia bisa mengendalikan perang. Orang yang memiliki ilmu mempunyai jiwa yang kuat, dan pemilik tubuh perkasa memiliki ketegasan, sehingga orang seperti inilah yang lebih pantas untuk berpengaruh dan berkuasa. Hanya Allah saja yang berkuasa untuk memilih siapa hamba Nya yang pantas menjadi raja, karena Dialah pemilik seluruh kerajaan dan Dia lebih mengetahui siapa yang lebih pantas untuk menjadi raja.
Tidak ada seorangpun yang berhak untuk menentang; karena Allah mempunyai karunia yang luas, kebaikan yang banyak, Maha Mengetahui perkara-perkara yang tersembunyi dan juga atas rahasia-rahasia dari berbagai persoalan. Dia memberi anugrah dengan kelapangan dan memilih berdasarkan pengetahuan (Al Qarni, 2007: 194-195).
32 d. Tafsir Ibnu Katsir
Allah mengangkat Thalut sebagai raja Bani Israel. Dia berasal dari salah seorang tentara Bani Israel, dan bukan dari keturunan Yahuda. Maka mereka berkata, “bagaimana mungkin dia dapat memerintah kami, padahal kami lebih berhak memerintah dari pada dia, dan dia pun tidak dianugrahi kelapangan harta benda?”. Maksudnya, dia bukan dari keturunan raja, dia orang miskin dan tidak memiliki kekayaan untuk mendirikan kerajaan. Ucapan itu merupakan bantahan Bani Israil terhadap nabinya. Yang seharusnya mereka lakukan adalah menaati dan berkata makruf.
Maka nabi mereka berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilih Thalut untuk menjadi raja kalian” dan Allah lebih mengetahui dia daripada kalian, dan aku bukanlah orang yang menentukannya, namum Allahlah yang menyuruhku untuk memilihnya berdasar permintaan kalian kepadaku, dan menganugrahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Walaupun demikian, dia lebih pandai dari pada kamu, lebih kuat dan sabar dalam menghadapi peperangan. Oleh karena itu, Dia berfirman: “Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui,” yakni MahaLuas karunia-Nya dan Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapat kerajaan dan siapa yang tidak (Ar Rifa‟i, 1999: 413).
33 e. Tafsir Departemen Agama
Pada masa itu telah menjadi kebiasaan Bani Israil bahwa soal-soal kenegaraan diatur oleh seorang raja dan soal agama dipimpin oleh seorang yang juga ditaati oleh raja sendiri. Samuel (nabi mereka pada saat itu) yang mengetahui tabiaat Bani Israil, ketika mendengar usul mereka mengangkat seorang raja, timbul keraguan dalam hatinya tentang kesetiaan Bani Israil itu, sehingga beliau berkata, “Mungkin sekali jika kepada kamu nanti diwajibkan perang, kamu tidka mau berperang.” Beliau sering menyaksikan sifat penakut di kalangan mereka.
Mereka menjawab, “mengapa kami tidka berperang di jalan Allah. Padahal telah cukup alasan yang mendorong kami untuk melaksanakan perang itu? Kami telah diusir dari kampung halaman kami dan anak-anak kamipun banyak yang di tawan oleh musuh.”
Mereka menyatakan bahwa penderitaan mereka sudah cukup berat sehingga jalan lain tidak adal lagi, kecuali dengan mempergunakan kekerasan. Ternyata benar apa yang diragukan oleh Samuel, yaitu tatkala perang telah diwajibkan kepada bani Israil dan Samuel telah memilih seorang raja untuk memimpin mereka, mereka banyak yang berpaling dan meninggalkan jihad di jalan Allah serta sedikit sekali yang tetap teguh mengenai janjinya.
34
Allah mengetahui orang-orang yang tidak ikut berjihad itu dan mereka dimasukkan dalam golongan orang-orang yang zalim, yang menganiaya dirinya sendiri disebabkan tidak mau berjihad untuk membela hak dan menegakkan kebenaran. Mereka di dunia menjadi orang-orang yang celaka dan mendapat siksa.
Samuel mengatakan kepada Bani Israil, bahwa Allah telah mengangkat Thalut (dalam Bibel Saul ) sebagai raja. Orang-orang Bani Israil tidak mau menerima Thalut sebagai raja dengan alasan, bahwa yang boleh dijadikan raja hanyalah kabilah Yehuda, sedangkan Thalut dari kabilah Bunnyamin. Lagi pula disyaratkan yang boleh menjadi raja itu harus seorang hartawan, sedang Thalut bukan hartawan. Oleh karena itu secara spontan mereka menolak. “Bagaimana Thalut akan memerintah kami, padahal kami lebih berhak untuk mengendalikan pemerintahan dari pada dia, sedangkan diapun tidak diberi kekayaan yang cukup untuk menjadi raja”.
Samuel menjawab bahwa Thalut diangkat menjadi raja atas pilihan Allah karena itu Allah menganugrahkan kepadanya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa sehingga mampu mempimpin Bani Israil. Dari ayat ini dapat diambil pengertian bahwa seorag yang akan dijadikan itu hendaklah.
1) Mempunyai kekuatan fisik sehingga mampu untuk melaksanakan tugas-tugasnya sebagai kepala negara,.
35
2) Menguasai ilmu pengetahuan yang luas, mengetahui letak kekuatan umat dan kelemahannya, sehingga dapat memimpinnya dengan penuh bijaksana.
3) Memiliki kesehatan jasmani dan kecerdasan pikriran.
4) Bertakwa kepada Allah agar mendapat taufik dan hidayah Nya, untuk mengatasi segala kesulitan dan tidak mungkin diatasinya sendiri, kecuali denga taufik dan hidayahnya.
Adapun harta kekayaan tidak dimasukkan menjadi syarat untuk menjadi raja, karena bila syarat-syarat yang empat tersebut telah dipenuhi maka mudah baginya untuk mendapat harta yang diperlukan, sebab Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui (Departemen Agama, 2009: 365).
Dapat diambil kesimpulan bahwa inti surat dari Al Baqarah ayat 247 adalah kisah Thalut yang diangkat menjadi raja, karena dia memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan yang dimiliki Thalut diantaranya adalah memiliki keluasan ilmu, sehingga mengetahui letak kekuatan umat dan kelemahannya, maka ia dapat memimpin negaranya dengan penuh bijaksana. Selain ituThalut memiliki kesehatan jasmani, sehingga mampu melaksanakan tugas-tugasnya sebagai raja. Kelebihan lain yang dimiliki Thalut adalah ketaqwaan kepada Tuhannya. Berdasarkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki Thalut digolongkan sebagai ciri manusia sempurna dalam Islam.
36