BAB II KOMPILASI AYAT
C. Kandungan Surat Ali Imran Ayat 133-135
Surah Ali Imran (keluarga Imran) adalah surah ke-3 dalam
al-Qur‟an. Surah Ali Imran (bersama surah Al-Baqarah) juga memiliki nama lain Az-Zahrawan yang berarti dua yang cemerlang, karena kedua surah tersebut menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur‟an
disembunyikan oleh para ahli kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa dan kedatangan Nabi Muhammad. Alasan lain mengapa disebut Az-Zahrawan ialah karena isi kandungan dua surah tersebut mencakup keseluruhan ajaran Islam, di antaranya akidah, akhlak, hukum, kisah orang terdahulu dan sebagainya (Al-Jumanatul, 2007:34).
Surah ini dinamakan Ali Imran karena di dalamnya mencakup kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu juga disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan mukjizatnya, serta disebutkan pula kelahiran Maryam binti Imran (Al-Jumanatul, 2007:36).
a. Surat ini membahas tentang keesaan dan kekuasaan Allah SWT, Al-Qur‟an dan kitab-kitab sebelumnya, janji dan ancamaa Allah serta balasan kepada orang-orang yang berbuat dzolim.
b. Menceritakan tentang keluarga Imran, keutamaan-keutamaan apa saja yang dimiliki keluarga ini serta kisah Isa Al-Masih putra Maryam.
c. Bantahan Allah tentang pendapat-pendapat ahli kitab yang keliru, menjelaskan tentang kelebihan umat isllam dibandingkan dengan umat lain serta keharusan menjaga kesatuan ayat.
d. Mengisahkan tentang peristiwa perang badar dan uhud, penjelasan tentang sabar dan tawakal sebagai pangkal dari kemenangan, perintah untuk bertakwa dan larangan melakukan riba serta penjelasan tentang berbagai sifat-sifat orang munafik (Asy-Syaikh, 2003:24).
2. Kandungan Surat Ali Imran ayat 133-135
Surat Ali Imran ayat 133, menjelaskan tentang seruan Allah kepada mukmin agar berpacu meraih ampunan dari segala dosa dan menempuh jalan ke surga sebagai imbalan beribadah dan beramal soleh selama di dunia. Pada ayat tersebut juga diterangkan mengenai gambaran surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang hanya diberikan kepada orang-orang bertakwa.
Menurut Ar-Razi, (2000:203) berpendapat bahwa tidak ada jalan untuk meraih maghfirah selain melaksanakan perintah dan menjauhi
larangan Allah. Para ahli ushul fiqih menyimpulkan bahwa bersegera meraih ampunan itu hukumnya wajib, karena tidak ada perintah paksa selain wajib segera dipenuhi. Dengan demikian jalan menuju keselamatan abadi adalah menjauhi segala yang dilarang dan menaati segala yang diperintahkan.
Jadi, dalam ayat ini mengandung pemahaman bahwa Allah menyeru kepada umat mukmin untuk segera memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa yang telah ia perbuat. Adapun cara meraih ampunan tersebut dengan cara melaksanakan segala perintah dan menjauhi apa yang dilarang Allah. Hal demikian itulah salah satu jalan menuju keselamatan abadi yaitu surga.
Surat Ali Imran ayat 134, menjelaskan tentang karakter orang-orang bertakwa yang akan mendapat balasan surga. Ayat ini berhubungan dengan ayat sebelumnya yang akan menjelaskan siapa saja orang bertakwa yang akan masuk surga.
Pada awal ayat ini bisa berfungsi sebagai penjelas dari orang-orang bertakwa dan menerangkan sifat orang-orang bertakwa yang mendapat jaminan surga. Orang yang bertakwa memiliki sifat baik, bukan hanya terhadap Allah, tetapi juga dalam kehidupan sosial, tidak hanya menggunakan badan, tetapi juga menggunakan harta. Dalam ayat ini diterangkan tentang karakteristik orang bertakwa yang pertama ialah mereka yang berinfak dengan harta karena Allah, baik diwaktu sempit maupun luas. Nilai infak tidak dipandang dari besar kecilnya jumlah
yang diberikan, akan tetapi sangat dipengaruhi oleh keikhlasannya (Asy-Syiddiqy, 2000:93).
Kemudian, karakteristik orang bertakwa yang kedua adalah mereka yang mampu menahan amarahnya ketika melihat orang yang tidak ia sukai, meskipun sebenarnya mereka memiliki kekuasaan untuk meluapkan amarahnya tersebut. Menahan marah memang terlihat mudah, akan tetapi dalam prakteknya sangat susah untuk diterapkan. Orang yang mampu menahan amarahnya akan memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding dengan mereka yang melontarkan amarahnya karena mereka memiliki kekuasaan. Menahan amarah itu sendiri mengarah pada pengendalian diri terhadap lisan, sikap dan tindakan. Maka dari itu Allah menjanjikan balasan surga kepada orang yang mampu menahan amarahnya.
Karakteristik orang bertakwa ketiga adalah orang-orang yang dengan ikhlas memaafkan kesalahan orang lain. Orang yang dapat menahan amarahnya belum tentu terbebas dari rasa sakit hati bahkan rasa dendam. Mukmin yang baik bukan hanya mereka yang dapat menahan amaranya, akan tetapi juga mereka yang mampu memaafkan kesalahan orang lain. Memaafkan orang lain terutama pada orang yang berbuat salah dinilai lebih mulia daripada menjatuhkan hukuman ataupun membalas kesalahannya. Hal ini bukan berarti melarang untuk melawan pada orang yang berbuat dzalim, akan tetapi kalau
memaafkan bisa lebih bermanfaat maka nilainya lebih baik karena termasuk dalam kategori sabar (Shihab, 2002:265).
Jadi, dalam ayat ini mengandung pemahaman tentang karakteristik orang-orang yang mendapat jaminan surga yang telah dijanjikan Allah kepada orang yang bertakwa. Kategori orang bertakwa tersebut adalah, orang yang berinfaq diwaktu luang dan sempit, orang yang mampu menahan amarahnya padahal sebenarnya ia memiliki kuasa untuk melontarkannya, serta orang yang mampu memaafkan kesalahan orang lain dengan ikhlas. Itulah ketiga karakteristik orang yang dicintai oleh Allah SWT, karena Allah mencintai kebijakan.
Surat Ali Imran ayat 135, masih menjelaskan tentang kriteria orang yang mendapat jaminan masuk surga oleh Allah. Sifat serta sikap orang yang bertakwa selanjutnya dijelaskan Allah dalam ayat ini.
Karakteristik pertama orang yang bertakwa dalam ayat ini adalah mereka yang selalu mengingat Allah ketika hendak atau sedang melakukan perbuatan keji. Menurut Shihab, (2002:268) mengatakan bahwa melakukan perbuatan keji mengandung arti, melakukan dosa besar seperti zina, perbuatan dosa yang berdampak negatit terhadap orang lain, perbuatan dosa yang berdampak negatif pada diri sendiri serta perbuatan maksiat yang amat dibenci Allah. Dengan senantiasa mengingat Allah pasti akan menjadi solusi untuk tidak berbuat keji.
Mengingat Allah disini dapat diaplikasikan dengan berdzikir, mengingat ciptaan Allah serta mengingat ancaman Allah.
Karakter kedua adalah mereka yang memohon ampun kepada Allah, karena tidak ada yang dapat memberikan ampunan selain Allah. Orang yang bertakwa atau orang yang akan mendapat jaminan surga akan segera mengingat Allah juga dalam arti sadar akan kesalahan yang terlanjur dilakukan. Pada saat itu pula mereka memohon ampun kepada Allah dengan bertaubat. Perlu disadari bahwa tidak ada manusia yang terlepas dari dosa, disadari atau tidak, besar atau kecil, pasti semua orang pernah melakukan perbuatan dosa. Seorang mukmin bukan berarti tidak pernah berbuat salah, tetapi mukmin sejati adalah mereka yang berbuat salah, kemudian mereka segera memohon ampunan kepada Allah, karena mereka tahu tidak ada yang mampu memberikan ampunan kecuali Allah SWT. Itulah alasan kenapa Allah menjanjikan surga kepada orang bersifat seperti ini.
Kemudian, karakter ketiga adalah mereka yang tidak meneruskan perbuatan kejinya karena mereka tahu kalau itu adalah perbuatan salah. Setelah diberi kabar gembira oleh Allah yang memiliki ampunan luas, maka pada penghujung ayat ini ditekankan syarat untuk mendapat surga tetap berlaku. Ampunan akan tercurah bagi mereka yang berbuat dosa, sekalipun itu dosa yang sangat besar, apabila mereka tidak meneruskan perbuatannya, alias mereka menghentikan kesalahan yang sudah terlanjur dilakukan. Dengan demikian ampunan Allah akan
diberikan kepada yang bertaubat dengan catatan tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut (Shihab, 2002:272).
Jadi, dapat disimpulkan dalam ayat ini mengandung pemahaman tentang lanjutan karakteristik orang-orang yang mendapat jaminan surga yang telah dijanjikan Allah kepada orang yang bertakwa. Karakteristik orang-orang tersebut adalah, mereka yang selalu mengingat Allah ketika hendak atau sedang melakukan perbuatan keji, mereka yang memohon ampun kepada Allah, karena tidak ada yang dapat memberikan ampunan selain Allah serta mereka yang tidak meneruskan perbuatan kejinya karena mereka tahu kalau itu adalah perbuatan salah.