Kanon adalah kata Yunani yang berasal dari kata ‘qane’ (bahasa Ibrani), yang berarti galah atau tongkat pengukur. Kata kanon dalam Gereja diartikan sebagai daftar resmi kitab-kitab yang diakui sebagai Sabda Allah. Inilah yang menjadi ukuran, pedoman dan kaidah iman Gereja.
II.2 Terjadinya Kanon Alkitab
Proses terjadinya kanon Alkitab ini sangat panjang dan rumit. Pada awalnya orang Yahudi belum mempunyai daftar resmi dari kitab-kitab yang diakui sebagai Kitab Suci. Pada zaman Yesuspun belum ada ketentuan yang pasti mengenai jumlah Kitab-kitab (Perjanjian Lama) yang diakui oleh semua jemaat Yahudi, sebab selain kitab-kitab berbahasa Ibrani, beredar juga kitab berbahasa Yunani yang jumlahnya tidak sama.
II.2.1 Kanon Yahudi / Kanon Yamnia / Kanon Ibrani
Sekolah Yamnia pada tahun 91-100 memutuskan kitab-kitab yang termasuk kanonik adalah: Kitab Taurat: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan
Kitab-kitab para nabi (Nebiim) : mengenal pembagian nabi-nabi awali dan nabi-nabi kemudian
Kitab-kitab lain (Ketubim) yaitu: Mazmur, Amsal, Ayub, Kidung Agung, Rut, Ratapan, Pengkhotbah, Ester, Daniel, Ezra, Nehemia, dan 1-2 Tawarikh.
Inilah yang disebut kanon Ibrani yang kemudian diikuti oleh orang Kristen Protestan.
II.2.2 Septuaginta, Vetus Latina, Vulgata
Septuaginta yang berbahasa Yunani memuat lebih banyak kitab daripada yang terdapat dalam kanon Yamnia. Selain kitab-kitab yang termuat dalam kanon Yamnia (Ibrani), Septuaginta juga memuat kitab-kitab berikut:
Tobit Yudit 1-4 Makabe Doa Manaseh
Kebijaksanaan Salomo Yesus Bin Sirakh Mazmur Salomo Barukh
Jelas dari daftar ini bahwa tidak semua kitab yang terdapat dalam Septuaginta kemudian diterima oleh Gereja Katolik sebagai kanonik.
Gereja Para Rasul menggunakan Kitab-kitab (Perjanjian Lama) berbahasa Yunani yaitu Septuaginta karena perkembangan Gereja ke arah internasional.
Sementara itu di bagian barat dunia Kekristenan yang tidak berbahasa Yunani, Septuaginta diterjemahkan kedalam bahasa Latin dan disebut Vetus Latina.
Karena naskah terjemahan Vetus Latina sangat beragam, maka tahun 382 St. Hieronimus diperintahkan oleh Paus Damasus untuk membuat terjemahan yang lebih kritis langsung dari Kitab berbahasa Ibrani. Tidak semua kitab yang terdapat dalam kanon Yahudi diterjemahkan. Lama kelamaan terjemahannya ini dipakai bersama Vetus Latina dan disebut Vulgata.
II.2.3 Penetapan Kanon Perjanjian Lama dan Baru Gereja Katolik
II.2.3.1 Kanon Perjanjian Lama
Kanon Perjanjian Lama ditetapkan secara definitif oleh Gereja Katolik dalam konsili Trente pada sidang yang keempat tanggal 8 April 1546. Konsili mengambil sikap ini karena orang Protestan menolak semua kitab yang tidak terdapat dalam kanon Yamnia / Yahudi. Kitab-kitab yang diakui dalam konsili Trente tapi ditolak oleh orang Protestan sejak Sixtus dari Siena (abad 16) disebut Deuterokanonik. Deuterokanonik artinya yang diterima kemudian dalam kanon. Kitab-kitab yang lain disebut protokanonik, yang artinya diterima pertama dalam kanon. Kedua istilah ini tidak tepat karena tidak mengungkapkan secara benar sejarah terjadinya kanon.
Dasar atau tolok ukur penetapan kanon Perjanjian Lama pada Konsili Trente adalah penggunaan kitab-kitab tersebut secara terus-menerus dalam Gereja baik dalam ibadat, teologi maupun dalam katekese. Penetapan Konsili Trente bersifat definitif, artinya kanon Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian baru sudah ditutup, tidak mungkin ditambah lagi.
Cara menghitung jumlah kitab PL menurut kanon Katolik : 1. Kej 2. Kel 3. Im 4. Bil 5. Ul 6. Yos 7. Hak 8. Rut
9. 1 Sam 10. 2 Sam 11. 1 Raj 12. 2 Raj 13. 1 Taw 14. 2 Taw 15. Ezr 16. Neh 17. Tob 18. Ydt
19. Est dan tamb Est 20. 1 Mak 21. 2 Mak 22. Ayb 23. Mzm 24. Ams 25. Pkh 26. Kid 27. Keb 28. Sir 29. Yes 30. Yer 31. Rat
32. Bar dan S. Yer 33. Yeh
34. Dan dan tamb Dan 35. Hos 36. Yl 37. Am 38. Ob 39. Yun 40. Mi 41. Nah 42. Hab 43. Zef 44. Hag 45. Za 46. Mal
Pengurutan ini (yang diikuti oleh Alkitab terbitan Nusa Indah dan Bimas Katolik dalam 3 jilid) dibuat berdasarkan kelompok menurut jenis kesusasteraannya dan isinya:
Kelompok I (no. 1-5) disebut Pentateukh, artinya Panca Gulungan. Kitab-kitab ini memandang ke masa lampau, ke awal mula dunia dan Israel. Pada umumnya berbentuk ceritera dan hukum. Kelima kitab ini disebut Taurat Musa.
Kelompok II (no. 6-21) disebut Kitab-kitab Sejarah. Pada dasarnya kitab-kitab ini menceritakan karya-karya Allah di masa lampau kepada bangsa Israel dan reaksi Israel terhadap karya Allah itu. Bentuknya prosa.
Kelompok III (no. 22-28) disebut Kitab-kitab Kebijaksanaan dan Nyanyian. Kitab-kitab ini pada dasarnya merefleksikan hidup, yakni bagaimana menghayati hidup secara benar. Ciri pengajaran amat menonjol. Umumnya berbentuk puisi.
Kelompok IV (no. 29-46) disebut Kitab-kitab Kenabian. Kita-kitab ini berbicara tentang karya Allah di masa mendatang berdasarkan kenyataan dan pengalaman sekarang dan karya Allah di masa lampau. Umumnya berbentuk puisi.
Kita perlu mengetahui urutan dan pengelompokkan ini bukan saja untuk mempermudah mencari tempatnya dalam Alkitab tetapi juga untuk menyadari sifat dan hakikatnya masing-masing.
II.2.3.2 Kanon Perjanjian Baru
II.2.3.2.1 Proses Terbentuknya Kanon Perjanjian Baru
Kanon Perjanjian Baru mengalami proses lebih sederhana. Pada mulanya tidak ada kesepakatan mengenai jumlah kitab. Antara tahun 40 sampai 120 para murid Yesus menyebarkan ajaran lisan. Setelah di banyak tempat terjadi hubungan, maka mulailah ditulis surat-surat, terutama bila para rasul melihat adanya masalah khusus dan mendesak (bdk 2 Tes 2:2,15; 1 Kor 5:9). Lama-kelamaan dengan adanya pergantian generasi, mulailah juga ditulis pokok-pokok iman yang penting termasuk ajaran dan wejangan Yesus.Dari situlah mulai berkembang penulisan kisah Yesus yang disebut Injil dan Kisah Para Rasul.
Menjelang akhir abad pertama banyak beredar tulisan-tulisan. Ada juga tulisan yang menyesatkan, sehingga menimbulkan keresahan di kalangan umat. Pada akhir abad kedua sejumlah tokoh penting menyusun daftar tulisan yang berwibawa. Tahun 190 ada Kanon Muratori, tahun 254 Origenes menyusun daftar juga, tahun 303 Eusebius menyusun daftar kitab yang diterima, yang masih diperdebatkan dan ditolak. Hanya melalui proses yang perlahan-lahan, kumpulan kitab orang Kristen itu menjadi Perjanjian Baru yang sekarang. Sejarah singkat terbentuknya kanon Perjanjian Baru adalah sebagai berikut:
Kesaksian tertua tentang jumlah Perjanjian Baru yang 27 kitab itu berasal dari Athanasius, Uskup Alexandria (dalam surat Paskah tahun 367).
Suatu sinode di Roma dalam dokumen yang disebut ‘Dekrit Damasus’ (tahun 382) menetapkan 27 kitab untuk PB, yakni seperti yang kita miliki sekarang. Keputusan sinode ini sama dengan ajaran Athanasius dan Hieronimus. Dekrit Damasus menyatakan dengan jelas bahwa kanon Kitab Suci itu ditetapkan oleh Gereja Katolik yang universal. Perlu diingat primat dan otoritas Gereja Roma yang diakui oleh gereja-gereja lokal lainnya.
Pada akhir abad IV banyak gereja lokal menerima keputusan dekrit Damasus tersebut, yakni konsili di Hippo (Afrika) pada tahun 393; konsili Kartago (Afrika) pada tahun 397 dan 419.
Konsili umum di Firenze (Italia) pada tahun 1441 juga meneguhkan kanon tersebut. Keputusan yang definitif bagi Gereja Katolik terjadi dalam Konsili Trente (tahun 1546)
yang menetapkan kanon seluruh Alkitab, yaitu 45 kitab untuk Perjanjian Lama dan 27 kitab untuk Perjanjian Baru.
II.2.3.2.2 Isi Kanon Perjanjian Baru
Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab dan surat yang diatur dengan urutan sebagai berikut: a) Injil terdiri dari Matius, Markus, Lukas, Yohanes yang memberi kesaksian tentang ajaran
dan karya Yesus selama hidupNya di dunia.
b) Kisah Para Rasul yang berbentuk cerita dan wejangan seperti terdapat dalam Injil. Kisah yang mendapat sorotan utama adalah apa yang terjadi setelah Yesus tidak lagi berkarya di dunia.
c) Surat-surat yang terdiri dari:
13 surat Paulus dengan menempatkan surat-surat kepada jemaat pada tempat pertama disusul dengan surat-surat kepada tokoh-tokoh tertentu.
Surat kepada Orang Ibrani ditempatkan menyusul setelah surat-surat Paulus karena gaya bahasanya memang mirip dengan gaya bahasa Paulus. Namun diragukan sebagai benar-benar karangan Paulus.
Surat-surat Katolik yang terdiri dari 7 karangan. Disebut Katolik yang berarti umum karena tidak ditujukan kepada jemaat tertentu. Surat-surat Katolik terdiri dari 1 Ptr (ditujukan kepada sejumlah jemaat), 1 Yoh (kepada umum), Yak, 2 Ptr, Yud (tanpa alamat), 2 Yoh dan 3 Yoh (ditujukan kepada orang tertentu).
d) Wahyu Yohanes ditempatkan paling akhir sebab kitab ini berbicara tentang akhir dari seluruh sejarah manusia.