No SPM/Standar Nasional IKK/IKU Indikator Tahun Target Renstra SKPD (%) Realisasi Capaian Proyeksi Catatan Analisis
2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015
1. Cakupan Pelayanan Korban Tindak Kekerasan terhadap perempuan dan anak yang mendapatkan penanganan Jumlah korban
yang melapor dibandingkan jumlah korban yang
tertangani 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% SPM Indikator ke-1 Bidang Pemberdayaan Perempuan dilaksanakan oleh P2TP2A dan jejaring
2. Angka Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak
Jumlah kekerasan terhadap
perempuan dan anak 0,032 0,021 0,034 - - <5 <5 <5 <5 IKK: kriteria nasional adalah di bawah 500/100.000 klg. 3. Persentase jumlah peserta yang
telah mendapat pelatihan/pembinaan/ sosialisasi terkait Kesetaraan gender, pemberdayaan
perempuan dan anak dibanding dengan jumlah sasaran pelatihan.
Jumlah perempuan yang telah dilatih dibandingkan Jumlah perempuan
Sasaran pelatihan 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% IKU #1
4 Persentase jumlah lembaga yang telah memperoleh penguatan kelembagaan dibandingkan jumlah kelembagaan PUG dan KLA
jumlah peserta yang mengikuti penguatan jumlah anggota dibandingkan jumlah kelembagaan PUG dan KLA
100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% IKU#2 5 Persentase Capaian Indikator
pemenuhan hak anak dalam rangka menuju Kabupaten Malang Layak Anak
Indikator yang dicapai dari keseluruhan Indikator
2.3 Isu-Isu Penting Penyelenggaraan Tugas & Fungsi SKPD Analisa Gambaran Pelayanan SKPD
Penjelasan dalam Amandemen UUD 1945 disebutkan bahwa ”Setiap warga Negara berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dan ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”. Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai salah satu lembaga teknis daerah mempunyai tugas koordinasi dan sinkronisasi program-program pembangunan bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yang merupakan salah satu urusan wajib pemerintah daerah sehingga memiliki peranan dalam rangka membuka sudut pandang para stake holder mengenai prespektif gender dan anak serta mensosialisasikan pola pikir strategis dimana perempuan dan anak dapat dijadikan aset dan potensi penting dalam pembangunan.
Hasil perhitungan jumlah penduduk tahun 2012 jumlah penduduk perempuan dan usia anak mencapai lebih dari eparuh jumlah penduduk di Kabupaten Malang. Potensi yang besar menjadi alasan bahwa urusan wajib pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak untuk meningkatkan kualitas perempuan dan anak menjadi agenda penting pembangunan. Kesenjangan Indeks Pembangunan Gender (IPG) Kabupaten Malang sebesar 66,72 dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencapai 71,17 mengindikasikan bahwa kualitas dan kapasitas perempuan di Kabupaten Malang perlu ditingkatkan. Di sisi lain IPG Kabupaten Malang masih sedikit diatas IPG Propinsi Jawa Timur yaitu sebesar 65,61. Maka dengan potensi daerah dan sumberdaya manusia yang besar tersebut menjadi pemicu untuk dapat mengembangkan daya saing yang positif bagi pembangunan di Kabupaten Malang secara makro. Berbagai indikator capaian keberhasilan pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak secara nasional menjadi indikator acuan keberhasilan pembangunan daerah adalah:
No. Data Capaian Indikator Penyedia Data Dasar dan
1. IPG (Indeks Pembangunan Gender) BPS
- Angka Harapan Hidup - Angka Melek Huruf - Rata-rata Lama Bersekolah - Pengeluaran Perkapita disesuaikan
2. IDG (indeks Pengembangan Gender) BPS
- Keterlibatan Perempuan dalam Parlemen
- Angka partisipasi perempuan sebagai tenaga manager, profesional dan administrasi
- Sumbangan perempuan dalam pendapatan kerja
3. Tingkat Capaian MDG’s ke-3 Nasional
- Rasio perempuan terhadap laki-laki di tingkat pendidikan dasar, menengah dan tinggi APM SD, SMP-SMA, PT
- Rasio Melek Huruf perempuan terhadap laki-laki pada klp. usia 15-24 tahun
- Kontribusi perempuan dalam pekerja upahan di sektor non pertanian - Proporsi kursi yang diduduki perempuan di DPR
32
- Cakupan Layanan Pengaduan Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan
Anak KP3A, P2TP2A
- Cakupan Layanan Rehabilitasi Sosial Dinsos - Cakupan Layanan Bantuan Hukum PN, Kejaksanaan
& UPPA - Cakupan Layanan Kesehatan RSUD/Dinkes
- Cakupan Reintegrasi Sosial Dinsos
5. Indikator Kinerja Kunci Kemendagri &
KPPPA
- Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah - Angka Melek Huruf perempuan usia 15 ke atas - Partisipasi angkatan kerja perempuan
6. Indikator Kinerja Utama KP3A
- Jumlah peserta/kelompok yang mendapatkan pelatihan/pembekalan/ sosialisasi dibandingkan jumlah peserta/ kelompok sasaran
- Jumlah lembaga yang mengikuti penguatan kapasitas - Jumlah indikator pemenhuhan hak anak yang dapat dicapai
Berkaitan dengan hal tersebut maka penyediaan data atas capaian indikator diatas dipengaruhi oleh ketepatan dan komunikasi lintas sektor untuk merekam dan melaporkan perkembangan data tiap tahun dapat diinventarisir sebagai dasar perumusan kebijakan dan mengatasi berbagai isu-isu dan permasalahan.
Isu-isu penting dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang meliputi pengarusutamaan gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Adapun beberapa isu dan analisa yang dapat diuraikan adalah sebagai berikut:
1. Pengarusutamaan Gender
a. perlunya penguatan peran, kapasitas dan jaringan kelembagaan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dengan lembaga-lembaga penggiat dan pemerhati perempuan dan anak. b. perlunya penguatan fungsi koordinasi, sinkronisasi dan sinergi
lintas SKPD dan Focal Group Discussion.
c. perlunya fasilitasi penyusunan, perencanaan dan penganggaran yang Responsif Gender (PPRG) atas kebijakan program/kegiatan SKPD;
d. perlunya penyediaan data terkait perkembangan PUG, PP dan PA termasuk penyusunan profil data terpilah gender dan anak
e. perlunya pengembangan materi Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) Pengarusutamaan Gender (PUG), Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak;
f. perlunya pemantauan, evaluasi, dan pelaporan program/kegiatan PUG, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak;
2. Perlindungan Perempuan dan Anak korban kekerasan
a. perlunya fasilitasi/penanganan dan perlindungan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan melalui pusat pelayanan terpadu;
b. perlunya peningkatan koordinasi, sinkronisasi, fasilitasi di bidang perlindungan dan pemenuhan hak-hak perempuan dan anak dengan instansi dan lembaga layanan;
c. perlunya penyediaan data terkait penyelenggaraan Standar Pelayanan Minimal bidang layanan terpadu bagi perempuan dan anak korban kekerasan.
d. perlunya pelaksanaan kebijakan/program dan kegiatan terkait penyelenggaraan pengarusutamaan dan pemenuhan hak anak. e. perlunya peningkatan kerjasama lintas sektor/lintas SKPD dalam
rangka kebijakan Kabupaten Layak Anak.
f. perlunya evaluasi dan monitoring pelaksanaan tugas urusan Perlindungan Perempuan dan Anak.
3. Perlindungan Perempuan dan Pemenuhan Haknya
a. perlunya peningkatan kualitas hidup perempuan yang termasuk kelompok rentan melalui sosialisasi, bimbingan, keterampilan dan berbagai upaya pemberdayaan.
b. perlunya peningkatan koordinasi, sinkronisasi dan fasilitasi berbagai kegiatan pemberdayaan perempuan dan capaian tingkat keberhasilan pembangunan dan pemberdayaan perempuan secara makro di Kabupaten Malang;
c. perlunya peningkatan kerjasama lintas sektor dan lintas lembaga peningkatan kapasitas dan pemberdayaan perempuan.
d. perlunya program perempuan pengembang ekonomi lokal melalui pemberdayaan ekonomi perempuan.
e. perlunya program peningkatan peran perempuan dalam peningkatan kesejahteraan keluarga.
f. perlunya evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas urusan Pemberdayaan Perempuan.
4. Perlindungan Anak dan Pemenuhan Haknya
a. perlunya peningkatan kualitas hidup anak melalui fasilitasi kebijakan Kabupaten Layak Anak.
b. perlunya penguatan Forum anak/kelompok anak di tingkat Kabupaten dan Kecamatan.
c. perlunya pengembangan Materi Komunikasi, Informasi dan Edukasi.
d. perlunya sinkronisasi program dan kegiatan lintas SKPD. e. perlunya penguatan Pokja Kabupaten Malang Layak Anak.
f. perlunya evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas urusan perlindungan dan peningkatan kualitas hidup anak.
2.4. Review Terhadap RKPD
A. Dampak Terhadap Pencapaian MDGs
Sebagaimana tersebut dalam tujuan dan sasaran millenium development goals secara keseluruhan akan bermuara pada tujuan ke-3 yaitu mendukung adanya kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dalam pembangunan melalui strategi pengarusutamaan gender yang dapat mengintegrasikan dimensi gender ke dalam
34
perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi atas kebijakan, program dan kegiatan. Dampak pencapaian sasaran pembangunan melalui Indikator pencapaian kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dalam pembangunan antara lain sebagai berikut:
1. Rasio perempuan dan laki-laki ditingkat pendidikan dasar, menengah dan tinggi (APM perempuan/laki-laki ditingkat SD, SMP, SMA).
2. Rasio melek huruf perempuan/laki-laki pada kelompok usia 15-24 tahun.
3. Kesempatan kerja perempuan dan pekerjaan yang layak.
4. Proporsi kursi yang diduduki oleh perempuan di DPRD ( Keterwakilan perempuan dalam kepengurusan partai dan kursi legislatif).
5. Tingkat kematian ibu, bayi dan anak (Angka kematian ibu, bayi dan anak, Angka Pemakaian Kontrasepsi bagi perempuan, Angka Kelahiran Remaja (perempuan usia 16-19 tahun), Cakupan Layanan Antenatal, Angka Kematian Balita, Bayi dan Neonatal, Prosentase imunisasi Dasar).
B. Dampak Terhadap Pencapaian Visi Misi Madep Manteb
Visi Madeb Manteb ”Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Malang yang Mandiri, Agamis, Demokratis, Produktif, Maju Aman, Tertib dan Berdaya Saing” diwujudkan melalui 8 Misi. yaitu: 1) Mewujudkan pemahaman dan pengamalan niilai-nilai agama, adat istiadat dan budaya. 2) Mewujudkan pemerinthan Good Governance (tata kelola pemerintahan yang baik) , Clean government (pemerintah yang bersih, berkeadilan dan demokratis. 3) Mewujudkan supremasi hukum dan HAM. 4) Mewujudkan kondisi lingkungan yang aman, tertib dan damai. 5) Mewujudkan peningkatan ketersediaan dan kualitas infrastruktur. 6)Mewujudkan sumbher daya manusia yang produktif dan berdaya saing. 7)Mewujudkan peningkatan pertumbuhan eknomi yang berbasis pertanian dan pemberdayaan masyarakat perdesaan dan 8) Mewujudkan peningkatan kualitas dan fungsi lingkungan hidup, serta pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan.
Upaya pencapaian sasaran pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dilaksanakan untuk mewujudkan visi Kabupaten Malang dan sejalan dengan Misi ke-3 (Mewujudkan
supremasi hukum dan HAM) serta misi ke 6 (mewujudkan sumberdaya manusia yang produktif dan berdaya saing), dan melaksanakan prioritas
pembangunan melalui program dan kegiatan:
1. Program Peningkatan Kualtas Hidup dan Perlindungan Perempuan. 2. Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan
Anak.
3. Program Keserasian Kebijakan Peningkatan Kualitas Anak dan Perempuan.
4. Program Peningkatan Peran Serta dan Kesetaraan Gender dalam Pembangunan.
Hasil dan manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan program pada urusan pemberdayaan adalah sebagai berikut:
1. Meningkatnya jumlah kebijakan daerah untuk peningkatan kualitas perempuan dan anak, ditunjukkan dengan tersedianya perangkat dan produk kebijakan dan mendorong implementasi kebijakan melalui sistem perencanaan dan penganggaran berbasis gender.
2. Meningkatnya kapasitas kelembagaan berbasis perempuan.
Kapasitas kelembagaan berbasis perempuan menjadi tolok ukur semakin berkembangnya kemampuan lembaga untuk ikut serta dan mengambil bagian dalam upaya pemberdayaan perempuan. Kuantitas anggota dan lembaga serta meningkatnya kualitas kelembagaan berbasis perempuan menjadi motor penggerak pemberdayaan perempuan, yang dilaksanakan baik secara internal organisasi maupun melalui kerjasama dan lintas lembaga.
3. Meningkatnya kualitas hidup dan perlindungan perempuan dan anak, melalui upaya perlindungan terhadap upaya pemenuhan hak anak dan perlindungan bagi perempuan kelompok rentan antara lain perempuan pekerja rumahan, terhadap perempuan dan anak, fasilitasi GSI, fasilitasi penanganan kasus kekerasan melalui unit-unit pelayana, upaya pemenuhan hak ana, fasilitasi dan implementasi Kebijakan Kabupaten Malang Layak Anak. Upaya peningkatan kualitas hidup perempuan dan anak yang menjadi tolok ukur adalah:
a. Tingkat kesenjangan Human Development Indeks dengan Gender
Development Indeks.
b. Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
c. Akses Perempuan terhadap pendidikan termasuk APK/APM dan perempuan melek huruf.
d. Persentase penduduk perempuan berusia 10 tahun ke atas yang tidak/belum pernah sekolah.
4. Meningkatnya peran serta perempuan dalam pembangunan, peningkatan kualitas SDM perempuan melalui pendidikan dan keterampilan, perempuan kelompok ekonomi produktif dan mandiri. Peran perempuan untuk ikut melakukan usaha ekonomi produktif menunjukkan bahwa upaya pemberdayaan perempuan yang dilaksanakan melalui berbagai pola pemberdayaan oleh lintas sektor/wilayah, antara lain: perkembangan kelompok perempuan pengembang ekonomi lokal, koperasi wanita, perempuan pelaku usaha ekonomi produktif, perempuan yang termasuk dalam program PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan dan Perkotaan).
36
5. Meningkatnya peran serta perempuan dalam proses pembangunan di segala bidang ditandai dengan antara lain:
a. Tingkat keterwakilan perempuan di lembaga legislatif. b. Tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan (TPAK) c. Persentase perempuan pada jabatan publik
d. Akses perempuan untuk untuk terlibat dalam kegiatan publik.
C. Dampak Terhadap Pencapaian SPM
Penyelenggaraan layanan bagi perempuan dan anak korban tindak
kekerasan diamanatkan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2007 tentang Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) menerapkan pelayanan minimal yang harus dilaksanakan oleh lintas sektor dan instansi vertikal. SPM Bidang Layanan Terpadu bagi Perempuan dan Anak korban kekerasan adalah penyelenggaraan 5 layanan yaitu:
1. Layanan Penanganan Pengaduan/Laporan Korban Kekerasan terhadap perempuan dan anak
2. Layanan Kesehatan bagi perempuan dan anak korban kekerasan 3. Rehabilitasi Sosial bagi Perempuan dan anak korban kekerasan
4. Penegakan dan bantuan hukum bagi perempuan dan anak korban kekerasan.
5. Pemulangan dan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan.
SPM Bidang layanan terpadu diselenggarakan bersama dan lintas SKPD/instansi vertikal yakni:
1. Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) untuk pelayanan pengaduan dan fasilitasi dan pendampingan korban ke unit-unit layanan kesehatan, bantuan dan penegakan hukum maupun rehabilitasi dan reintegrasi sosial serta komunikasi jaringan pemerhati dan penggiat perempuan dan anak.
2. Dinas Sosial Kabupaten Malang sebagai penyelenggara dan fasilitator korban untuk mendapat layanan rehabilitasi dan reintegrasi sosial melalui unit-unit layanan sosial milik pemerintah maupun swasta. 3. Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Kepolisian Resor Kabupaten
Malang sebagai penyelenggara dan fasilitator layanan penegakan hukum tingkat penyidikan.
4. Kejaksaan Negeri di Kepanjen yang bertindak sebagai penyedia layanan penegakan hukum tingkat penuntutan, yang dituntut secara profesional mampu melaksanakan penanganan khusus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.
5. Pengadilan Negeri di Kepanjen yang menyelenggarakan penegakan hukum tingkat peradilan terkait dengan kebijakan restoratif justice
dan ketersediaan hakim terlatih menangani perkara kekerasan terhadap perempuan dan anak.
D. Permasalahan dan Hambatan
Dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi, Kantor Pemberdayaan Prempuan dan Perlindungan Anak mengalami permasalahan dan hambatan yang dihadapi antara lain adalah:
1. Dukungan sumberdaya aparatur belum secara optimal dapat meningkatkan kinerja organisasi baik dari kuantitas dan kualitas SDM aparatur.
2. Pemahaman terhadap konsep gender, kesetaraan dan pengarusutamaan gender yang masih terbatas di semua tingkatan. 3. Belum optimalnya bentuk-bentuk fasilitasi dalam rangka koordinasi,
sinkronisasi, harmonisasi terhadap penyusunan kebijakan /program /kegiatan yang berprespektif gender.
4. Belum optimalnya upaya perlindungan dan pemenuhan hak-hak perempuan dan anak, antara lain:
a. layanan kesehatan perempuan dan anak, misalnya upaya kesehatan reproduksi, kesehatan ibu dan anak.
b. layanan pendidikan dan akses perempuan dalam pendidikan, termasuk bagi anak berkebutuhan khusus.
c. upaya layanan bantuan/advokasi penegakan hukum tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.
d. upaya peningkatan kesejahteraan perempuan melalui berbagai pola pemberdayaan sebagai bekal memperoleh pekerjaan disemua sektor, termasuk peningkatan partisipasi perempuan pada lembaga-lembaga legislatif dan lembaga-lembaga politik.
Adapun analisa masalah berdasarkan faktor-faktor eksternal dan internal untuk mengatasi kelemahan dan ancaman dan memanfaatkan kekuatan dan peluang sebagai bahan pertimbangan, solusi dan strategi yang akan dilaksanakan dijelaskan sebagaimana tabel di bawah ini: