4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 EVALUASI KINERJA PROGRAM PEMP DI KECAMATAN PEMANGKAT KABUPATEN SAMBAS
4.2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Program PEMP 1 Kelembagaan Program PEMP
4.2.3.3 Kapasitas Pemanfaat
Hasil evaluasi program PEMP yang sejak tahun 2001 hingga tahun 2006 pada Kabupaten Sambas status kapasitas pemanfaat yang terdiri dari Kelompok Pemanfaat/KMP (periode tahun 2001-2003) dan individu (periode 2004-2006) menunjukkan kondisi yangbaik.
Sebenarnya dari beberapa aspek penting dari kapasitas pemanfaat mulai nampak kecenderungan mengindikasikan kondisi yang positif terutama dari sisi proses penetapan jenis Usaha Ekonomi Produktif (UEP) yang difasilitasi program PEMP, dan kesesuaian kriteria penerima DEP. Meskipun masih terjadi kelemahan-kelemahan. Dalam hubungannya dengan proses penetapan jenis UEP dan penerima DEP, beberapa hal perlu dipenuhi seperti penggunaan format sistematik standar dalam pembuatan proposal (rencana bisnis) UEP yang disiapkan oleh LEPP-M3, rumusan kriteria sebagai acuan verifikasi UEP dan penerima DEP instrumen untuk survei faktual, dan yang terpenting adanya kerangka waktu yang digunakan mulai dari pengajuan usulan, verifikasi,
persetujuan proposal, kontrak kerja sampai pada likuiditas dana kepada pemanfaat (kelompok masyarakat atau individu). Untuk membantu pelaksanaan kegiatan- kegiatan tersebut, Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai penanggung jawab program PEMP telah menyediakan Pedoman Umum (Pedum), tetapi hal-hal yang sifatnya detail teknis belum disiapkan. Meskipun demikian, dengan melihat situasi dan kebutuhan-kebutuhan untuk efektifitas proses seharusnya penanggung jawab program PEMP di daerah dan pelaku-pelaku lainnya berinisiatif untuk menyusun instrumen-instrumen yang terkait dengan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan, sehingga proses pelembagaan (sistem, organisasi, penatakelolaan
program/internal governance) dan domestikasi (pengambil alihan peran pemangku kepentingan lokal) secara perlahan dapat terwujud.
Gambar 15. Diagram Analysis Leverage Kapasitas Pemanfaat Tabel 12. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kapasitas Pemanfaat
No. Faktor – faktor Berpengaruh Nilai Leverage
1. Perubahan pendapatan dan bertambahnya nilai manfaat 7,86 2. Adanya manajemen & administrasi keuangan UEP yg dilaksanakan 6,32
3. Penguasaan teknis UEP yang dilaksanakan 5,73
4. Tranformasi dan replikasi UEP bagi kelompok/individu non pemanfaat 5,68
5. Ekstensifikasi dan diversifikasi jenis UEP 5,57
Variabel penting lainnya pada indikator kapasitas pemanfaat terkait dengan pelaksanaan UEP dan pengelolaan DEP adalah tingkat keterampilan pemanfaat dalam memilih, menjalankan dan mengembangkan UEP. Keberhasilan UEP yang dilaksanakan oleh masyarakat pemanfaat dilihat dari sisi manfaat
Leverage of Attributes
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Adanya manajemen & administrasi Keuangan UEP yg dilaksanakan Penguasaan teknis UEP yg
dilaksanakan Ekstensifikasi dan diversifikasi jenis UEP Perubahan pendapatan dan bertambahnya nilai
manfaat Transformasi dan replikasi
UEP bagi kelompok/individu non pemanfaat A tt r ib u te
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)
ekonomi dari UEP, status keberlanjutan UEP, manajemen usaha yang efektif, dan pengadministrasian (pembukuan). Nilai manfaat ekonomi berupa peningkatan pendapatan (income gernerating) dari UEP yang dilaksanakan oleh pemanfaat merupakan tujuan utama program PEMP sebagai salah satu bentuk upaya penanggulangan kemiskinan masyarakat pesisir. Penghantaran sumberdaya DEP untuk mendukung pelaksaan UEP untuk masyarakat pemanfaat diharapkan dapat membantu dalam optimalisasi (intensifikasi), pengembangan (ekstensifikasi), dan perluasan usaha (diverfisifikasi), dengan itu akan terbangun kekuatan masyarakat pemanfaat, yang selanjutnya secara mandiri dapat melakukan UEP bahkan meneteskan manfaat bagi kelompok masyarakat lainnya. Manajemen usaha yang diterapkan oleh masyarakat pemanfaat untuk melakukan UEP dalam hal keterampilan merencanakan usaha, keterampilan teknis, keterampilan mengelola keuangan dan kemampuan mengembangkan jaringan kemitraan akan sangat membantu efektifitas dan pengembangan UEP. Tertib administrasi usaha akan mendukung masyarakat mewujudkan tertib administrasi, transparansi dan akuntabilitas usaha, sehingga akan menumbuhkan kepercayaan antar anggota kelompok dan lembaga-lembaga mitra (pemerintah, koperasi dan lembaga perbankan).
Status kapasitas pemanfaat yang dicapai saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Secara internal, masyarakat pesisir dan kepulauan memiliki potensi untuk mengembangkan diri, semangat berkarya dan berprestasi, serta motivasi meningkatkan taraf kesejahteraan mereka. Pengelolaan potensi internal tidak dapat berjalan secara optimal untuk mewujudkan harapan-harapan masyarakat pesisir. Perkembangan potensi internal masyarakat dipengaruhi oleh input / stimulus dan proses interaksi dengan lingkungan sekitar. Pengetahuan, wawasan dan kompetensi masyarakat ditentukan antara lain oleh latar belakang pendidikan, pembelajaran, pengalaman (formal dan informal) dan intervensi luar yang dapat merangsang tumbuhnya kecerdasan berfikir masyarakat. Secara spesifik, kemampuan masyarakat untuk mengembangkan usaha ekonomi dipengaruhi oleh keterampilan manajemen teknis, kemitraan, dan dukungan fasilitas termasuk akses terhadap jaringan pemasaran.
Beberapa dekade perjalanan pembangunan, masyarakat pesisir dan kepulauan belum mendapatkan fasilitas dan pelayanan yang memadai dapat mengembangkan potensi internal yang dimilikinya dalam rangka memanfaatkan sumberdaya alam (perikanan). Dengan paradigma pembangunan yang bertumpu pada sektor agraris dan urban (masyarakat perkotaan) yang diterapkan oleh pemerintah, menyebabkan intervensi pembangunan di wilayah pesisir dan kepulauan sangat minim, bahkan beberapa wilayah yang letaknya sangat terpencil (pulau-pulau tertular dan perbatasan) hampir tidak tersentuh pembangunan sama sekali. Kebijakan-kebijakan yang dilahirkan untuk semua bidang / sektor, seperti kesehatan, pendidikan, infra struktur, dan sosial kemasyarakatan tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan membantu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat yang berdiam di wilayah ini. Implikasinya, komunitas pesisir mengalami marginalisasi kepentingan dan kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup dan mengelola sumberdaya lingkungan sehingga sulit berpartisipasi dalam proses pembangunan.
Program PEMP merupakan wujud keberpihakan pemerintah untuk mendistribusi sumberdaya bagian pengembangan wilayah pesisir dalam rangka pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berdiam di dalamnya. Strategi pemberian insentif yang dikembangkan oleh PEMP dalam bentuk kemudahan mengakses modal usaha dalam bentuk dana ekonomi produktif (DEP) dan pembinaan kelembagaan diharapkan secara bertahap dapat memperbaiki derajat kesejahteraan masyarakat kemampuan yang relatif terbatas, masyarakat tidak serta merta dapat berperan efektif dan mengambil tanggung jawab dalam program PEMP. Adanya pola interaktif masyarakat dengan program PEMP yang akomodatif terhadap situasi dan kecenderungan pilihan-pilihan perubahan, merupakan keniscayaan yang akan memhawa masyarakat pada status siap untuk menjadi bagian dalam program PEMP.
Dalam konteks program PEMP, masyarakat tidak diposisikan sebagai obyek atau pihak yang akan di intervensi, melainkan masyarakat sebagai subyek atau pihak yang berperan penting bersama-sama dengan koperasi LEPP-M3 dalam menentukan sistem, mekanisme, dan tata cara pengelolaan fasilitas yang diberikan oleh PEMP, khususnya dana ekonomi produktif (DEP). Melalui
penumbuhan wawasan dan pengetahuan, peningkatan kapasitas, penguatan jaringan usaha, serta pembinaan terhadap masyarakat diharapkan dapat mendorong partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam mengelola DEP yang difasilitasi program PEMP. Sebelum masyarakat memanfaatkan DEP untuk mendukung UEP, dilakukan beberapa kegiatan sebagai "early action".Tujuan kegiatan-kegiatan tersebut tidak hanya untuk memberikan pemahaman tentang tujuan, hasil dan target program PEMP, tetapi juga untuk meningkatkan kepercayaan dan membangun kompetensi masyarakat dalam mengelola usaha.
Perjalanan proram PEMP selama 5 tahun, status kapasitas pemanfaat belum dapat diakselerasi untuk mencapai performa kinerja yang baik. Dari hasil evaluasi program PEMP, kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor,antara lain: - Latar belakang pendidikan masyarakat yang relatif rendah menyebabkan
proses tranformasi pengetahuan, keterampilan dan teknologi tidak berjalan efektif. Hal ini menyebabkan masyarakat sulit melakukan inovasi dan improvisasi dalam manajemen usaha;
- Model-model manajemen modern masih dianggap suatu yang baru oleh masyarakat, sehingga masih membutuhkan waktu bagi masyarakat untuk beradaptasi dan internalisasi;
- Pada beberapa daerah, masih efektif sistem sosial “juragan-pekerja”, menyebabkan pola pengambilan keputusan dan kontrol terhadap manajemen usaha masih didominasi oleh pihak yang memiliki kekuatan dan kekuasan; - Kultur menabung dan orientasi jangka panjang belum terbangun secara kuat
ditengah-tengah masyarakat, sehingga model manajemen dan hasil-hasil yang diperoleh dalam berusaha belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan- kebutuhan masyarakat; dan
- Terjadi preseden buruk mengenai bantuan-bantuan yang diberikan oleh pemerintah dan pihak-pihak lainnya (NGO’s,, sektor swasta) dimasa lalu yang umumnya bersifat “charity” atau hibah dimana masyarakat tidak punya kewajiban untuk mengembalikannya, sehingga terbangun image pada masyarakat yang menggeneralisasi bantuan-bantuan yang ada ( termasuk program PEMP).
Selain faktor-faktor dia atas, masih terdapat hal-hal lain yang turut berkontribusi terhadap status kapasitas pemanfaat yang belum baik, yaitu tidak efektifnya proses tranformasi serta pembaruan wawasan dan kemampuan masyarakat yang difasilitasi oleh Konsultan Manajemen (KM), Tenaga Pendamping Desa (TPD) dan Koperasi LEPP-M3 yang diangkat dan dibentuk oleh Dinas Kelautan dan Perikanan. Fungsi-fungsi asistensi, supervisi dan pembinaan yang diperankan oleh pihak-pihak tersebut belum dijalankan secara baik dan konsisten. Fakta-fakta yang banyak dijumpai ditingkat lapangan adalah banyaknya kelompok-kelompok yang dibentuk tidak berdasarkan kebutuhan dan kepentingan berkelompok, tetapi hanya sekedar “artificial” untuk memenuhi kewajiban administrasi (ada kelompok yang dapat menyerap dana yang tersedia). Hal ini berdampak pada orientasi usaha serta soliditas kelompok yang tidak fokus dan rapuh. Dalam pengajuan usulan usaha, memang tidak diwajibkan usaha sejenis yang akan dilakukan oleh kelompok, tetapi kelompok bertanggung jawab memfasilitasi anggota baik dalam melaksanakan usahanya, penerapan manajemen maupun pengembalian kredit. Dengan adanya pola pembentukan kelompok yang artificial seperti diatas, maka “perekat” dalam kelompok tidak akan berfungsi, manfaat berkelompok tidak akan dirasakan oleh anggota, dan pada akhirnya kelompok akan bubar bersamaan dengan gagalnya usaha atau terhentinya program PEMP. Pada periode tahun 2004 sampai dengan 2006, pendekatan yang digunakan program PEMP dalam mendistribusi DEP tidak lagi difokuskan pada kelompok-kelompok masyarakat, melainkan individu-individu dengan syarat tertentu. Hal ini dilakukan tidak bermaksud untuk membatasi sekuritas dan efektiftas pengelolaan DEP.
Dari hasil eveluasi pelaksanaan program PEMP khususnya periode tahun 2001 sampai dengan 2003 ditemukan kegagalan (macet) pelaksanaan UEP, bahkan penyimpangan dalam penggunaan DEP. Hal tesebut disebabkan lemahnya sistem verifikasi usulan usaha, dan tidak kuatnya mekanisme pencairan dan pengawasan penggunaan DEP oleh Dinas Perikatan dan Kelautan. sementara pendekatan yang dilakukan pada periode tahun 2004 sampai dengan 2006, DEP diinternalisasikan pada bank-bank pelaksana yang ditunjuk (berdasarkan MoU Bank dengan Departemen Kelautan dan Perikanan RI). Dengan pola seperti ini,
pemanfaat DEP ditujukan bagi individu-individu yang berminat dan memenuhi kriteria. Perkembangan UEP dapat dipantau secara berkala, dan tingkat akuntabilitas pemanfaat akan lebih besar, karena tanggung jawab dan resiko sepenuhnya ditanggung oleh individu pemanfaat. Pendekatan yang berbasis individu akan bertumpu pada keinginan atau motivasi untuk memanfaatkan fasilitas yang disiapkan oleh program PEMP. Beberapa hal yang dapat mendorong keinginan atau motivasi masyarakat untuk memanfaatkan DEP, seperti informasi rinci mengenai program PEMP (yang dilakukan melalui sosialisasi, diseminasi dan penyuluhan-penyuluhan) serta kemudahan dalam mengakses DEP di lembaga keuangan (bank pelaksana). keinginan masyarakat untuk mengakses lembaga keuangan tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh suku bunga pinjaman, melainkan kemudahan persyaratan dan prosedur pengajuan pinjaman serta lamanya waktu yang diperlukan sejak pengajuan hingga pencapain pinjaman.
Kabupaten Sambas sebagai menerima program PEMP lebih dari 3 tahun dan menjalankan program-program pemberdayaan lainnya, nampaknya telah belajar dari pengalaman-pengalaman dalam melakukan strategi penguatan kapasitas masyarakat. Hal tersebut sangat membantu pihak pengelola dan masyarakat dalam melaksanakan UEP. Pendekatan dan strategi yang dikembangkan untuk mendorong proses penguatan kapasitas masyarakat pemanfaat dan optimalisasi pengelolaan UEP adalah sebagai berikut :
- Melakukan seleksi yang ketat dalam mengangkat KM dan TPD berdasarkan kualifikasi standar (sesuai Pedum), karena yang akan berfungsi melakukan asistensi, penguatan kapasitas supervisi dan pembinaan bagi koperasi LEPP- M3 dan masmyarakat pemanfaat;
- Merumuskan sistem dan mekanisme dalam bank pelaksana sifatnya lebih akomodatif terhadap kondisi masyarakat dalam hal penentuan suku bunga, persyaratan, prosedur, waktu pinjaman;
- Melakukan kajian bersama dalam menentukan kebutuhan penentuan jenis usaha, penumbuhan kelompok (pembentukan penguatan kelompok yang sudah eksis), dan peningkatan kapasitas masyarakat pemanfaat;
dapat menghambat pelaksanaan usaha pengajuan kredit dan lain-lain terdeteksi dan segera melakukan upaya pemecahannya;
- Koordinasi dan komunikasi yang intensif dengan para pelaku program (Dinas, KM, TPD, Koperasi, dan Bank pelaksana), sehingga terbangun sinergisitas dan keterpaduan dalam bertindak mendukung program PEMP khususnya bagi pengembangan usaha masyarakat pemanfaat;
- Melakukan pelatihan-pelatihan, kursus-kursus, magang, dan studi banding dalam rangka meningkatkan keterampian masyarakat pemanfaat untuk mengelola dan mengembangkan usaha, penguatan akses permodalan serta pemasaran, dan membangun jaringan kemitraaan strategis; dan
- Mendorong partisipasi keiompok-kelompok perempuan yang secara psikologis memiliki semangat wirausaha yang baik, manajemen yang rapi dan tanggung jawab yang besar dalam mengelola usaha yang berbasis pinjaman.
Kelemahan dan kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat perlu difasilitasi agar menjadi potensi yang berdaya guna bagi mereka sehingga peran-peran strategis dapat difungsikan secara baik. Kelemahan masyarakat tidak harus dijadikan sebagai alasan untuk tidak memberikan kesempatan dan tanggung jawab, tetapi dengan kelemahan tersebut dijadikan dasar untuk menggali kebutuhan-kebutuhan ril dalam kerangka pemberdayaan masyarakat. Kekuatan masyarakat harus dikelola secara baik, agar dapat membantu masyarakat memanfaatkan kesempatan dan menjalankan tanggung jawabnya secara proporsional dalam mengelola UEP. Status kapasitas pemanfaat saat ini, harus dijadikan sebagai cambuk untuk mengembangkan strategi dan pendekatan yang relevan dengan program PEMP, sehingga daya masyarakat yang hilang (mispower) dapat dibangkitkan kembali (empowerment) yang pada gilirannya mewujudkan bergeraknya Tridaya Masyarakat, yakni daya ekonomi, daya sosial dan daya pembangunan.
Status kapasitas pemanfaat yang dicapai saat ini, tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal seperti latar belakang pendidikan, kultur masyarakat yang belum kondusif untuk pengembangan program, kemampuan adaptasi dan improvisasi, kemampuan dalam manajemen modern, kemampuan teknis, dan
jaringan kemitraan. Akan tetapi, kondisi tersebut juga banyak dipengaruhi oleh faktor ekstenal seperti intensitas dan konsistensi pembinaan, upaya peningkatan kapasitas, pengembangan model usaha, dan fasilitasi kemitraan usaha.
Input yang diberikan oleh PEMP, sebaiknya dimaknai sebagai simulasi sekaligus apresiasi atas kesiapan masyarakat untuk berperan dan berpartisipasi dalam pelaksanaan program PEMP. Proses yang berlangsung dan hasil-hasil yang telah dicapai harus dijadikan sebagai masukan-masukan bagi penyempurnaan strategi dan pendekatan yang berorientasi untuk memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat selain memanfaatkan fasilitas DEP, tetapi juga untuk mengembangkan diri dalam proses pemberdayaan dan pembangunan masyarakat
(community development).
Perbaikan kapasitas pemanfaat tidak terlepas dari peran Dinas, KM, TPD dan koperasi LEPP-M3, karena pihak-pihak inilah yang berinteraksi secara intensif, baik dalam proses penumbuhan kelompok, penyiapan proposal usaha, pendampingan kelompok (manajemen keuangan dan teknis usaha), dan pembinaan usaha, Kapasitas yang baik dan kompetensi yang relevan sangat mempengaruhi performa kapasitas pemanfaat Sensitifitas KM, TPD, koperasi LEPP-M3 untuk menjaring kebutuhan-kebutuhan masyarakat pemanfaat dan kemampuan mengelola potensi dan situasi bagi pengembangan UEP merupakan keniscayaan dalam membangun kapasitas pemanfaat.
Status kapasitas pemanfaat menunjukkan Baik (68,32). Perkembangan status kapasitas pemanfaat memiliki pola yang cenderung lamban, hal tersebut disebabkan oleh faktor internal dan eksternal latar belakang pendidikan masyarakat yang rendah berpengaruh secara signifikan terhadap proses transformasi pengetahuan dan keterampilan, sehingga kemampuan adaptasi dan praktek manajemen modern dalam pelaksanaan usaha ekonomi produktif (UEP) masih lemah.
Pencapaian status kapasitas pemanfaat. dapat diakselerasi melalui, asistensi, supervisi dan pembinaan bagi masyarakat pemanfaat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pembinaan dan penguatan masyarakat pemanfaat harus didasari atas kebutuhan peningkatan kapasitas melaksanakan dan mengembangkan UEP yang dikaji secara partisipatoris.
Selain hal-hal tersebut di atas, beberapa faktor lain yang turut mempengaruhi secara signifikan efektifitas pelaksanaan peran pemanfaat khususnya dalam pengelolaan DEP maka sebaiknya dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
- KM, TPD dan koperasi LEPP-M3 harus meakukan identifikasi obyektif terhadap kebutuhan-kebutuhan bagi pengembangan usaha dapat berjalan secara baik;
- Koperasi LKPP-M3 harus melakukan asistensi, supervisi dan pembinaan bagi masyarakat pemanfaat, sehingga kemanfaatan UEP dapat dirasakan oleh masyarakat secara keseluruhan;
- Dinas Kelautan dan Perikanan setempat perlu membuat sistem dan mekanisme monitoring dan evaluasi bagi KM, TPD, koperasi LEPP-M3 dan pelaksanaan UEP oleh pemanfaat, sehingga secara berkala tersedia data dan informasi mengenai perkembangan status dari masing-masing pihak;
- Dinas Kelautan dan Perikanan setempat: perlu menerapkan manajemen penghargaan (reward) dan sanksi (punishment) bagi KM. TPD, koperasi LEPP-M3 dan masyarakat pemanfaat, agar tumbuh motivasi prestasi, dan sikap tanggung jawab.
Dari hasil analysis leverage diperoleh bahwa umumnya indikator-indikator penting yang digunakan dalam evaluasi program PEMP yang mengGambarkan status kapasitas pemanfaat, seperti; (1) ekstensifikasi dan intensifikasi jenis usaha ekonomi produktif (UEP), (2) penguasaan teknis UEP yang dilaksanakan, (3) perubahan pendapatan dan bertambahnya nilai manfaat, (4) Transformasi dan replikasi UEP bagi pemanfaat dan non pemanfaat, dan (5) Adanya manajemen dan administrasi keuangan UEP yang dilaksanakan menunjukkan perbedaan nilai yang relatif kecil (berturut-turut 5.68, 7.86, 5.57, 5.73, dan 6.32). Indikator- indikator tersebut menjadi faktor yang mempengaruhi derajat status kapasitas pemanfaat yang terefleksi riil pada aspek wawasan dan keterampilan pemanfaat dalam mengelola serta mengembangkan jenis UEP, termasuk intensitas pengembalian pinjaman / kredit. Kondisi tersebut mengGambarkan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap pencapaian status kapasitas pemanfaat adalah
Perubahan pendapatan dan bertambahnya nilai manfaat, meskipun faktor lainnya juga turut mempengaruhi, akan tetapi pengaruhnya tidak signifikan.
Dalam proses peningkatan kapasitas pemanfaat, arah perbaikan kapasitas pemanfaat dapat terlihat, beberapa pembelajaran penting yang dapat diungkap terkait dengan peningkatan kapasitas pentanfaat antara lain:
- Produktifitas usaha ekonomi produktif (UEP) sangat dipengaruhi oleh kultur wirausaha, wawasan dan kemampuan relevan yang dimiliki masyarakat. Penumbuhan atau revitalisasi kultur wirausaha dan peningkatan kapasitas masyarakat dapat terwujud melalui proses pendampingan yang intensif. Aktualisasi pengalaman dan proses berfikir produktif dari masyarakat perlu dirangsang dengan pendekatan relasi sosial yang baik. demonstrasi contoh-contoh UEP yang baik dan pembinaan teknis secara kontinyu.
- Nilai manfaat dari sebuah UEP sangat dipengaruhi atau ditentukan oleh manajemen usaha dan admnistrasi keuangan yang efektif dan efisien. Semakin baik manajemen usaha dan administrasi keuangan UEP maka semakin besar pula nilai manfaat yang akan diperoleh. termasuk meneteskan manfaat bagi masyarakat yang lain. Membangun manajemen usaha administrasi keuangan dalam implemetasi UEP dapat dilakukan dan berbagai pendekatan,seperti penguatan kapasitas individu dan kelembagaan dalam bentuk latihan-latihan dan praktek-praktek manajemen usaha.
- Perluasan UEP dalam bentuk replikasi UEP sejenis akan terjadi apabila UEP yang sedang diimplementasikan dapat terlihat secara mudah hasil yang dicapainya ataupun UEP tersebut memiliki potensi untuk berhasil. Situasi psikologi masyarakat yang cenderung mengikuti arus tanpa adanya pertimbangan Substansi atas pilihannya harus dikelola secar tepat, agar pilihan untuk melakukan UEP tidak hanya sekadar melihat hasil UEP dari luar, tetapi secara paralel memiliki kapasitas dan kompetensi yang relevan dengan UEP tersebut. Upaya-upaya yang dapat dilakukan masyarakat tidak bersikap "latah" melalui sosialisasi intensif, latihan motivasi prestasi, praklek-praktek perencanaan, dan pembinaan.
4.2.3.4 Kemitraan
Sebagai salah satu elemen kinerja program PEMP, kemitraan dapat diihat dari sejumlah indikator, yakni: (1) sinergitas peran pemangku kepentingan mendukung pelaksanaan program PEMP (2) pengembangan dan diversifikasi UEP yang difasilitasi oleh pihak lain; (3) penggunaan modal LEPP-M3 dari perbankan; (4) penganggaran di APBD oleh Pemda dan lembaga lainnya untuk mendukung program; (5) pembinaan UEP oleh lembaga mitra.
Kecenderungan yang terjadi pada kemitraan program PEMP tidak bisa dipisahkan dari sisi pemangku kepentingan dan sisi pelaku program sebagai penentu keberhasilan kemitraan tersebut. Berbagai alasan yang diberikan mengapa kemitraan masih rendah, antara lain misalnya tidak adanya dukungan dari para pemangku kepentingan sehingga tidak terjadi kerjasama, tidak terjadi sinergisitas. Beberapa pemangku kepentingan yang diindikasikan sebagai faktor penyebab sulitnya terjalin dan terbangun kemitraan secara etektif adalah sebagai berikut:
Bank pelaksana. Bank pelaksana dinilai kurang mendukung dalam hal
pencairan dana. Sistem perbankan dirasa masih menghambat pelaksanaan kegiatan koperasi, maka Koperasi LEPP-M3 Kabupaten Sambas mengusulkan perbaikan sistem perbankan. Kemitraan dalam pengelolaan anggaran masih sangat terbatas khususnya dalam mendukung program PEMP.
Departemen Kelautan dan Perikanan. Kita melihat bahwa kebijakan
DKP pusat sebagai faktor yang kurang mendukung kegiatan kerjasama dengan perbankan melalui penunjukan bank pelaksana tertentu, tanpa memperhatikan eksistensi bank tersebut di daerah, sehingga kondisi ini cenderung merugikan nasabah (sulit untuk dapat mengakses, karena letaknya jauh dari dimana program dilaksanakan). Dari diskusi dengan Pengurus Koperasi LEPP-M3 terungkap kesan bahwa pedoman dan petunjuk pelaksanaan dari pusat menjadi salah satu kendala dalam upaya penumbuhan dan penguatan kemitraan dalam konteks implementasi program PEMP.
Pemda dan Legislatif. Hasil diskusi dengan Konsultan Manjemen dan pengurus Koperasi LEPP-M3, pada umumnya menilai kurangnya dukungan dari pihak Pemerintah Daerah dan Legislatif khususnya dalam hal penganggaran di APBD dan kebijakan. Lemahnya dukungan pemangku kepentingan ini disebabkan belum adanya kerangka acuan kerja bersama antara pemangku kepentingan sehingga tidak terbangun persepsi yang sama terhadap program PEMP utamanya dikalangan anggota DPRD belum terwujud.
LEPP-M3. LEPP-M3 adalah salah satu pelaku program yang dinilai belum memiliki profesionalisme menyebabkan calon mitra belum percaya penuh. Ketidakpercayaan pemangku kepentingan lainnya terhadap kinerja LEPP-M3 berpengaruh atas terjalinnya kemitraan yang dapat mendukung program. Jaringan kerjasama yang dimiliki masih terbatas dan tidak ada