Analisis Statistik Uji Lanjut Sludge dengan Tailing KB. The SAS System
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.7 Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan Basa-basa
Kapasitas tukar kation merupakan salah satu sifat kimia tanah yang penting. Kapasitas Tukar Kation (KTK) merupakan sifat tanah dalam menjerap dan menukarkan kation. Besarnya KTK tergantung kepada kerapatan muatan negatif dan luas permukaan spesifik kol oid. Semakin tinggi kerapatan muatan negatif koloid dan semakin besar luas permukaan spesifik koloid, maka KTK akan semakin tinggi. Menurut Tan (1993), KTK adalah jumlah atau total miliekuivalen kation yang dapat dipertukarkan per 100 gram tanah (Hardjowigeno, 2007).
KTK memiliki peranan penting dalam penyerapan hara oleh tanaman, kesuburan tanah, retensi hara dan pemupukan. Kation yang terjerap umumnya tersedia bagi tanaman melalui pertukaran dengan ion H+ yang dihasilkan oleh respirasi akar tanaman. Hara yang ditambahkan kedalam tanah dalam bentuk pupuk akan ditahan oleh permukaan koloid untuk sementara waktu terhindar pari pencucian. Kation-kation yang dapat mencemari air tanah dapat tersaring oleh kegiatan jerapan koloid tanah. (Hardjowigeno, 2007)
Karena adanya muatan tergantung pH pada tanah, maka dalam menentukan KTK harus didasarkan pada pH larutan yang telah ditentukan. Dengan metode ekstraksi menggunakan amounium asetat yang disangga pada pH
7, maka pada tanah yang memiliki pH kurang dari 7 akan didapatkan nilai KT K yang lebih besar dari nilai yang sebenarnya (Hardjowigeno, 2007).
Kapasitas tukar kation merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah dengan KTK lebih tinggi mampu menjerap dan menyediakan unsur hara lebih baik daripa da tanah dengan KTK rendah. Tanah dengan KTK tinggi bila didominasi oleh kation baca, Ca, Mg, K, dan Na dapat meningkatkan kesuburan tanah., tetapi bila didominasi oleh kation asam, Al, H dapat mengurangi kesuburan tanah (Hardjowigeno, 2007).
Kation yang terdapat dalam kompleks jerapan koloid tersebut dapat dibedakan menjadi kation -kation basa dan kation-kation asam. Termasuk kation basa adalah Ca++, Mg++, K+, dan Na+. Termasuk kation asam adalah H+dan Al+++. (Hardjowigeno, 2007).
Kejenuhan basa menunjukkan perbandingan antara jumlah kation -kation basa dengan jumlah semua kation (kation basa dan kation asam) yang terdapat dalam kompleks jerapan tanah. Jumlah maksimum kation yang dapat dijerap tanah menunjukkan besarnya nilai kapasitas tukar kation tanah tersebut. Kation-kation basa merupakan unsur yang diperlukan tanaman . Kejenuhan basa selalu dihubungkan sebagai petunjuk mengenai kesuburan sesuatu tanah. Kemudahan dalam melepaskan ion yang dijerat untuk tanaman tergantung pada derajat kejenuhan basa. Di samping itu basa-basa umumnya mudah tercuci, sehingga tanah dengan kejenuhan basa tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut belum banyak mengalami pencucian dan merupakan tanah yang subur (Hardjowigeno, 2007).
2.8 Unsur Mikro (Fe, Cu, Mn, Zn)
Salah satu sifat umum dari unsur mikro ialah bahwa mereka diperlukan dalam jumlah yang sedikit dan dapat merusak bila dijumpai dalam jumlah banyak. pengendalian terhadap jumlah yang diberikan sebagai pupuk perlu dilakukan mengingat keseimbangan unsur hara secara menyeluruh (Soepardi. 1983).
Besi merupakan bagian dari grup prostetik dengan bobot molekul rendah atau bagian integral dari protein. Grup prostetik yang mengandung besi ialah porifin besi seperti sitokrom, katalase, peroksidase, dan dehidrogenase. Non -hem-protein besi meliputi feredoksin dan enzim besi mitokondria. Sitokrom dan mitokondria berperan dalam transfer elektron. Besi dapat pula berperan sebagai kofaktor dari berbagai enzim, tetapi jarang sekali mempunyai kekhususan tertentu. Sebagian besar dar i besi daun dijumpai sebagai bagian kloroplas dan besi sangat essensial dalam pembentukan klorofil (Soepardi. 1983).
Mangan berfungsi sebagai aktivator dari berbagai enzim, diantaranya enzim pentransfer-fosfat dan enzim dalam lingkar Kreb. Kekurangan manga n akan mengganggu pernafasan tanaman mengingat peranannya dalam lingkar Kreb. Mangan juga merupakan bagian penting dari kloroplas dan turut dalam reaksi yang menghasilkan oksigen. kekurangan unsur ini akan mempengaruhi susunan kloroplas. Kepekatan mangan y ang tinggi dapat menimbulkan kekurangan besi dalam tanaman (Soepardi. 1983).
Seng merupakan penyusun dari berbagai enzim -logam meliputi dehidrogenase, diantaranya dehidrogenase alkohol dan laktat. Seng juga berfungsi sebagai kofaktor tetapi tidak mempunyai kekhususan yang tinggi. Kekurangan seng menyebabkan pertumbuhan secara drasti s terganggu, daun mengecil dan ruas tanaman memendek. Kegiatan auksin dan asam indolasetat sangat dipengaruhi oleh seng. Sintesis protein yang dibantu oleh asam ribonukleat dikendalikan oleh kepekatan seng dalam tubuh tanaman (Soepardi. 1983).
Tembaga merupakan penyusun dari berbagai enzim, meliputi, asam askorbik oksidase, fenolase, lakase, sitokrom oksidase, dan lain -lain. Tembaga juga merupakan kofaktor dari berbagai enzim, tet api tidak memiliki kekhususan yang tinggi. Kekurangan nitrogen mengganggu sintesis protein dan menyebabkan senyawa -nitrogen larut meningkat. Kepekatan gula -reduksi pada tanaman yang kekurangan tembaga adalah rendah, sedangkan kadar asam organiknya tinggi (Soepardi. 1983).
Sumber mikro yang utama adalah bahan induk dan bahaan organik tanah. Pengaruh bahan induk terhadap unsur mikro mungkin lebih besar daripada
terhadap unsur makro. Besi, mangan, seng, dan tembaga dijumpai sebagai senyawa oksida, sulfida, dan silikat dalam tanah. Pada bahan organik, pelapukan bahan organik dapat membebaskan sebagian, meskipun unsur -unsru tersebut tidak segera tersedia (Soepardi. 1983).
Keadaan-keadaan dimana unsur mikro dapat membatasi pertumbuhan tanaman ialah : (a) tanah pas ir bereaksi masam dan telah mengalami pencucian hebat, (b) tanah organik, (c) tanah ber -pH tinggi, dan (d) tanah yang terus ditanami dan dipupuk berat dengan unsur makro (Soepardi. 1983).
Pengaruh tanah terhadap keempat unsur mikro (besi, tembaga, seng, da n mangan) berbeda-beda. Akan tetapi faktor tanah tertentu cenderung mempunyai pengaruh umum yang sama terhadap ketersediaan keempat unsur mikro tersebut. Kation unsur mikro dalam keadaan masam sangat larut dan tersedia bagi tanaman. Kenaikan pH menyebabkan bentuk ion dari kation unsur mikro berubah menjadi bentuk -bentuk hidroksida atau oksida. Besi, mangan, dan tembaga dapat dijumpai dalam beberapa tingkat oksidasi. Pada tanah yang teroksidasi buruk, sering mengandung besi dan mangan dalam jumlah beracun. Pemupukan fosfor dalam jumlah banyak dapat merugikan suplai dari beberapa unsur mikro. Serapan bei dan seng sangat terganggu bila fosfor berlebihan dijumpai didalam tanah. Adanya kombinasi organik juga dapat mengurangi ketersediaan unsur mikro. Pada tanah b erkadar organik tinggi, dapat terjadi pengikatan unsur mikro oleh bahan organik. Reaksi yang terjadi antara bahan organik dengan kation unsur mikro tersebut memungkinkan kita membuat senyawa sintetik yang disebut dengan kelat (chelates) (Soepardi. 1983).
2.9. Kemantapan Agregat Tanah
Tanah memiliki kerawanan terhadap gaya perusak dari luar. Stabilitas agregat adalah ukuran dari kerawanan tersebut. Secara lebih khusus, hal tersebut menyatakan ketahanan tanah terhadap perusakan bila dikenakan proses -proses yang bersifat merusak. Karena r eaksi tanah terhadap gaya yang bekerja padanya, tidak hanya tergantung pada tanah itu sendiri, tetapi juga sebagian besar terhadap kondisi dan cara gaya -gaya tersebut diberikan. Stabilitas agregat tidak dapat
diukur secara pasti. Hal tersebut bersifat rela tif, dan kadang-kadang merupakan onsep bersifat subyektif. (Hilel, 1982)
Pembentukan agregat tergantung pada terdapatnya butir -butir primer yang dapat beragregasi, pengumpulan dan penjojotan butir -butir tanah, serta sementasi dari bahan-bahan yang menggumpal menjadi agregat yang stabil. Analisis agregat dapat dilakukan terhadap distribusi dan kemantapan agregat, yang dapat dipakai dalam penilaian struktur tanah. Kemantapan agregat adalah ketahanan agregat tanah terhadap daya penghancuran agregat tersebut. (Sitorus, et al).
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, dan Laboratorium Konsaervasi Tanah dan Air, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dimulai pada bulan November 2010 sampai dengan bulan Februari 2011.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan dari penelitiian ini adalah sludge industri kertas dan tailing dari tambang emas, aquades, alkohol 80%, dan bahan -bahan kimia untuk analisis sifat kimia tanah. Alat yang digunakan adalah pH meter, labu kjeldal/digestion, destilator dan labunya, spectrophotometer, flamephotometer, thermal plate, tabung sentrifuse, ultrasoma, AAS, ayakan kering dan basah, dan oven.
3.3. Metode Penelitian
Sludge terdiri dari satu jenis yang berasal dari industri pabrik kertas. Tailing yang digunakan merupakan tailing dari pertambangan emas den gan dua jenis, yaitu tailing dump dan tailing pond. Sludge dan Tailing digunakan sebanyak tiga kali ulangan.
Menurut hasil penelitian Widyati (200 6) dengan menggunakan dua jenis sludge industri kertas, menunjukkan bahwa konsentrasi sludge yang memberikan pengaruh yang nyata adalah 25% dan 50% (v/v). Oleh karena itu, penggunaan untuk masing-masing sludge menggunakan dua tingkat konsentrasi yang berbeda yaitu 25% dan 50% (v/v). Perlakuan yang diberikan adalah sebagai berikut:
A. 25% sludge : 75% tailing pond (A1) B. 50% sludge : 50% tailing pond (A2) C. 25% sludge : 75% tailing dump (B1) D. 50% sludge : 75% tailing dump (B2)
Setelah dicampur homogen, dari masing -masing perlakuan disimpan dalam wadah plastik lalu dipindahkan ke dalam wadah tabung kecil pada waktu pengamatan. Percobaan dilakukan dalam 3 kali ulangan. Diberikan air secukupnya
setiap hari untuk memelihara kondisi bahan. Pengamatan dilakukan pada hari ke 0, 5, 10, dan 15.
Untuk pengolahan data statistik dan analisis uji nyata dilakukan dengan menggunakan program statistik SPSS. Rancangan percobaan yang dianalisis dengan menggunakan metode Repeated Measurement atau sering disebut dengan Factorial in Time.
Rancangan percobaan dapat dilihat pada Tabel 1. Parameter sifat-sifat kimia tanah yang diukur dan metode yang digunakan untuk analisis sifat -sifat tersebut disajikan pada Tabel 2.
Tabel 1. Rancangan Percobaan.
Jenis Tailing Dosis Sludge Pengamatan ke Perlakuan
Tailing Pond Kontrol 0 T.A 0
5 T.A 5 10 T.A 10 15 T.A 15 25% 0 A1. 0 5 A1. 5 10 A1. 10 15 A1. 15 50% 0 A2. 0 5 A2. 5 10 A.2 10 15 A2. 15
Tailing Dump Kontrol 0 T.B 0
5 T.B 5 10 T.B 10 15 T.B 15 25% 0 B1. 0 5 B1. 5 10 B1. 10 15 B1. 15 50% 0 B2. 0 5 B2. 5 10 B2. 10 15 B2. 15
Tabel 2. Analisis dan Metode Yang Digunakan.
No. Jenis Analisis Metode
1 pH H2O pH-meter
2 Unsur Makro (N, P, K) N (Kjehdahl) , P (Bray 1), K(NH4OAc pH 7)
3 Unsur Mikro (Fe, Cu, Mn, Zn) HCl 25%
4 Basa-basa dan KTK Total Basa/KTK N
NH4OAc pH 7
5 Kemantapan Agregat Pengayakan kering dan
pengayakan basah
Satuan waktu yang digunakan untuk menganalisis pH, N, P, dan unsur mikro adalah hari ke-0, 5, 10, dan 15. Sedangkan kemantapan agregat, KTK , dan basa-basa dianalisis pada hari ke -0 dan 15 saja. Hal tersebut dikarenakan asumsi tidak terjadi perubahan signifikan pada proses yang terjadi pada KTK, dan basa-basa. Kemantapan agregat hanya pada hari pertama da n hari terakhir dikarenakan asumsi sudah terjadi adanya perbedaan agregasi hari pertama dan hari ke -15.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Analisis Pendahuluan
Analisis awal dari karakteristik bahan menunjukkan bahwa tailing memiliki kesuburan yang lebih rendah daripada sludge. Dalam penelitian ini sludge diharapkan mampu memperbaiki kualitas tailing. Karakteristik Tailing dan sludge yang digunakan dalam percobaan disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Analisis Awal Tailing Pond, Tailing Dump, dan Sludge .
No. Parameter
Nilai
Kriteria
(Pusat Penelitian Tanah) Tailing pond Tailing dump Sludge Tailing pond Tailing dump Sludge 1 pH H2O 7,23 7,47 4,17 Netral Netral Sangat masam 2 N-Total (%) 0,0092 0,0116 0,6214 Sangat rendah Sangat rendah Tinggi 3 P (ppm) 4,88 4,33 46,98 Sangat rendah Sangat rendah Sangat tinggi 5 Fe 14,62 13,69 3,80 Berlebih Berlebih Cukup 6 Cu 0,463 0,467 0,037 Cukup Cukup Defisiensi 7 Mn 2,427 2,703 0,057 Cukup Cukup Defisiensi 8 Zn 0,65 0,50 0,11 Marginal Marginal Defisiensi 9 Ca (me/100g) 13,34 12,30 1,54 Tinggi Tinggi Sangat
rendah 10 Mg (me/100g) 0,266 0,301 0,992 Sangat Rendah Rendah Sangat tinggi 11 K (me/100g) 0,050 0,047 0,061 Sangat rendah Sangat rendah sangat rendah 12 Na
(me/100g) 0,65 0,36 0,23 Sedang Sedang Rendah 13 KTK 5,415 5,603 22,724 Rendah Rendah Sedang 14 Agregasi 74,42 63,62 114,25 Stabil Agak
Stabil
Sangat Stabil
4.2. Kemasaman Tanah (pH)
Tailing memiliki nilai pH netr al untuk kedua jenis tailing dump dan tailing pond, sedangkan sludge memili ki nilai pH yang masam. Menurut Sitorus, et al (1980), penggunaan O2 untuk respirasi akan menyebabkan kadar O2 menurun. Semakin tinggi aktivitas respirasi mikroorganisme tanah, maka s emakin banyak O2 yang digunakan dan semakin banyak pula elektron yang digunakan. Hal tersebut dapat menjelaskan mengapa sludge memiliki nilai pH yang rendah. Tingginya jumlah mikrob yang terdapat dalam sludge menyebabkan nilai pH yang rendah. Alkalinitas yang tinggi pada tailing disebabkan karena adanya konsentrasi oksida Ca, yang membentuk hidroksida (OH-) di dalam air. Selain itu adanya pengapuran pada proses pengolahan tailing menyebabkan tailing memiliki nilai pH yang netral.
Nilai pH sangat berpengaru h terhadap mobilitas dan kelarutan logam essensial dan non essensial di dalam tanah, mempengaruhi aktivitas mikroorganisme dalam mendekomposisi bahan organik serta penyediaan unsur hara bagi tanaman. Nilai pH tanah masam, dapat mengakibatkan unsur -unsur mikro seperti Fe, Mn, Cu, dan Zn menjadi mudah larut. pH akhir yang didapatkan yang berada dalam kisaran netral mampu menyediakan kondisi yang ideal untuk tanaman.
Berdasarkan hasil yang didapat pada penelitian pencampuran tailing dengan sludge mampu merubah nilai pH kearah keseimbangan (netral). Nilai awal pH campuran berada di sekitar 4,1 ; 4,2 dan 4,3. Pada hari ke -5 terlihat adanya mekanisme perubahan pH yang meningkat. Pada hari ke -10, nilai pH sudah berada dalam nilai netral dan berada pada kisaran 6,7 - 7,1. Pada hari ke-15 telah terlihat nilai pH yang sudah semakin stabil berada pada kisaran 7,1 -7,3. Pergerakan nilai pH untuk setiap bahan dapat dilihat dari tabel 4.
Tabel 4. Pengaruh Sludge Terhadap Nilai pH Pada Tailing .
Bahan Waktu (Hari ke-)
0 5 10 15 Sludge 4,17 4,23 4,43 4,53 Tailing Pond 7,23 7,27 7,33 7,43 Tailing Dump 7,47 7,47 7,43 7,50 A1 4,13 6,23 6,70 7,13 A2 4,33 6,77 7,07 7,17 B1 4,23 6,63 6,97 7,13 B2 4,23 6,97 7,17 7,30
Keterangan : (A1 = Dosis Sludge 25% pada Tailing Pond, A2 = Dosis sludge 50% pada Tailing Pond, B1 = Dosis Sludge 25% pada Tailing Dump, B2 = Dosis sluge 50% pada Tailing Dump)
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa ketiga faktor antara tailing, sludge dan waktu pengamatan memberikan pengaruh signifikan terhadap nilai pH . Akan tetapi ketiga faktor tidak menunjukkan adanya interaksi. Interaksi yang terjadi adalah antara faktor tailing dengan waktu pengamatan dan faktor sludge dengan waktu pengamatan. Menurut hasil analisis uji lanjut ha ri ke-15 merupakan hasil terbaik. Hasil statistik uji lanjut interaksi tailing dengan waktu pada pH dapat dilihat pada tabel 5, sedangkan hasil statistik uji lanjut interaksi sludge dengan waktu pada pH dapat dilihat pada tabel 6
Tabel 5. Analisis Statistik Uji Lanjut Tailing dengan Waktu Pada pH.
Waktu Jenis Tailing
Tailing Pond Tailing Dump
0 4.23 E 4.23 E
5 6.5 D 6.8 C
10 6.88 BC 7.06 BA
15 7.15 A 7.21 A
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam kolom yang sama tidak berbeda Nyata oleh uji Duncan 5% .
Tabel 6. Analisis Statistik Uji Lanjut Sludge dengan Waktu Pada pH.
Waktu Dosis Sludge
25% 50%
0 4.18 D 4.28 D
5 6.43 C 6.86 B
10 6.83 B 7.11 A
15 7.13 A 7.23 A
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam kolom yang sama tidak berbeda Nyata oleh uji Duncan 5% .
4.3. Penetapan Nitrogen
Menurut penilaian kriteria sifat kimia yang ditetapkan oleh Pusat Penelitian Tanah (1983) dalam Hardjowigeno (2007), kandungan total N yang dimiliki oleh tailing sangat rendah, yaitu 0.04% untuk tailing pond dan 0.06% untuk tailing dump, sedangkan sludge memiliki kandungan total N yang tinggi yaitu sebesar 0.62%. Sangat rendahnya total N dalam tailing disebabkan tidak adanya bahan organik, KTK yang rendah, dan proses pencucian dalam pengolahan. Sludge memiliki nilai total N yang tinggi disebabkan adanya residu dari pemberian pupuk N dalam bentuk urea selama proses pengolahan sludge dalam instalasi pengolahan air limbah (IPAL) serta proses penambahan N lainnya. Tingginya nilai total N untuk sludge menandakan bahwa sludge dapat dijadikan sebagai alternatif bahan organik. (Widyati, 2006)
0.0000 0.0500 0.1000 0.1500 0.2000 0.2500 0 5 10 15 N ila i (% )
Waktu (Hari ke-)
A1 A2 B1 B2
Gambar 1. Grafik Nilai N-total Pengaruh Sludge Pada Tailing
Keterangan : (A1 = Dosis Sludge 25% pada Tailing Pond, A2 = Dosis sludge
50% pada Tailing Pond, B1 = Dosis Sludge 25% pada Tailing
Dump, B2 = Dosis sluge 50% pada Tailing Dump)
Gambar 1. menunjukkan nilai total N mengalami penurunan terlebih
dahulu sebelum meningkat pada semu a bahan yang dianalisis. Pada tailiing pond
yang dicampur dengan sludge, perubahan nilai N -total terjadi pada hari ke -15
setelah sebelumnya mengalami penurunan yang mencapai nilai terendah sebesar
0,034% (A1) dan 0,07% (A2) dari angka awal 0,06% (A1) dan 0,085%. Tailin g
dump yang dicampur menunjukkan mekanisme pergerakan yang sama, akan tetapi
pada tailing dump, peningkatan nilai N -total terjadi pada hari ke 10 dan terus
meningkat hingga hari ke 15. Pada Tailing dump yang telah dicampur didapatka n
nilai terendahnya adalah 0,06% (B1) dan 0.14% (B2) Dinamika perubahan
tersebut dapat disebabkan karena perubahan dan proses mineralisasi antara sludge
dengan tailing. Untuk mengetahui mekanisme perubahannya dip erlukan penelitian
lebih lanjut.
Berdasarkan Pusat Penelitian Tanah (1983), Nilai N-total pada hari
pertama berada pada kategori sangat rendah pada bahan A1, A2, dan B1, dan
kategori rendah pada bahan B2. Pemberian dosis sludge sebanyak 25% ternyata
masih belum cukup untuk meningkatkan kategori kadar N -total baik pada Tailing
Pond (A1) dan Tailing Dump (B2). Pada dosis sludge 50% dapat meningkatkan
kategori kadar N-total menjadi rendah pada Tailing Pond (A2), dan kategori
sedang pada Tailing Dump (B2).
Hasil statistik menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara faktor tailing dengan waktu pengamatan dan juga interaksi antara faktor tailing dengan sludge. Menurut hasil analisis uji lanjut, didapatkan bahwa interaksi tailing dengan waktu hasil terbaik terdapat pada hari ke-15. Hasil terbaik interaksi tailing dengan sludg e terdapat pada dosis sludge 50% dengan Tailing Dump. Hasil statistik uji lanjut interaksi tailing dengan waktu pada N dapat dilihat pada tabel 7, sedangkan hasil statistik uji lanjut interaksi tailing dengan sludge pada N dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 7. Analisis Statistik Uji Lanjut Tailing dengan Waktu Pada N.
Waktu Jenis Tailing
Tailing Pond Tailing Dump
0 0.07277 BC 0.12936 BAC
5 0.06468 BC 0.10049 BA
10 0.05313 C 0.1259 BA
15 0.12705 BA 0.15593 A
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam kolom yang sama tidak berbeda Nyata oleh uji Duncan 5%
Tabel 8. Analisis Statistik Uji Lanj ut Sludge dengan Tailing pada N .
Dosis Sludge Jenis Tailing
Tailing Pond Tailing Dump
25% 0.05717 C 0.07565 CB
50% 0.10164 B 0.18018 A
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam kolom yang sama tidak berbeda Nyata oleh uji Duncan 5%
4.4. Penetapan Total dan Ketersediaan Fosfor.
Total Fosfor yang terdapat pada tailing sangat tinggi, hal tersebut dapat dikarenakan pengapuran dan bahan induk pada tailing. Akan t etapi, ketersediaan P pada pada kedua tailing tergolong rendah . Rendahnya P-tersedia pada tailing diakibatkan adanya proses pencucian ( leaching) pada proses pengolahan emas, nilai pH yang tinggi, serta tidak adanya bahan organik dalam tailing.
Sludge memiliki nilai P-tersedia yang tinggi dikarenakan adanya residu dari pemberian pupuk P dalam bentuk TSP selama proses pengolahan sludge dalam instalasi pengolahan air limbah (IPAL) Tingginya nilai P yang tersedia untuk sludge dapat dimanfaatkan untuk mendorong terjadinya engineered bioremediation (Widyati, 2006). Menurut Bear (1985) dalam Andri, bahan organik mengandung Asam organik seperti a sam tartat, asam malonat, dan asam malat dapat mencegah unsur besi dan alumunium bereaksi dengan fosfat sehingga tidak terjadi endapan yang tidak tersedia.
1200 1300 1400 1500 1600 1700 1800 0 5 10 15 N ila i (p p m )
Waktu (Hari ke-)
A1 A2 B1 B2
Gambar 2. Grafik Nilai P-total Pengaruh Sludge Pada Tailing
Keterangan : (A1 = Dosis Sludge 25% pada Tailing Pond, A2 = Dosis sludge
50% pada Tailing Pond, B1 = Dosis Sludge 25% pada Tailing
Dump, B2 = Dosis sluge 50% pada Tailing Dump)
Dari gambar 2. dapat dilihat adanya dinamika perubahan P -total. P-total
pada semua bahan memperlihatkan kisaran nilai yang tinggi pada hari pertama. P
-total yang tinggi tersebut dikarenakan batuan induk pada tailing yang memiliki
nilai P yang tinggi. Nilai P -total yang semakin menurun dikarenakan adanya
aplikasi pemberian air pada metode penelitian sehingga P yang terkandung
tercuci.
Pada hasil statistik untuk P-total didapatkan bahwa tidak terjadi interaksi
antara semua faktor. Interaksi yang terjadi adalah interaks i antara faktor tailing
dengan waktu pengamatan dan juga interaksi antara faktor sludge dengan waktu.
Menurut hasil analisis uji lanjut, didapatkan bahwa nilai terbaik dari interaksi
tailing dengan waktu dan interaksi sludge dengan waktu yaitu pada hari pertama. Hasil statistik uji lanjut interaksi tailing dengan waktu pada P-total dapat dilihat pada tabel 9, sedangkan hasil statistik uji lanjut interaksi sludge dengan waktu pada P-total dapat dilihat pada tabel 10 .
Tabel 9. Analisis Statistik Uji Lanjut Tailing dengan Waktu Pada P -total.
Waktu Jenis Tailing
Tailing Pond Tailing Dump
0 1626.16 A 1607.41 BA
5 1567.97 BAC 1522.74 C
10 1545.02 BC 1413.47 D
15 1455.76 D 1336.36 E
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam kolom yang sama tidak berbeda Nyata oleh uji Duncan 5%
Tabel 10. Analisis Statistik Uji Lanjut Sludge dengan Waktu Pada P-total.
Waktu Dosis Sludge
25% 50%
0 1588.33 BA 1645.24 A
5 1553.4 BC 1537.31 BC
10 1477.65 DC 1480.84 DC
15 1397.58 D 1394.53D
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam kolom yang sama tidak berbeda Nyata oleh uji Duncan 5%
0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 0 5 10 15 N ila i (p p m )
Waktu (Hari ke-)
A1 A2 B1 B2
Gambar 3. Grafik Nilai P-tersedia Pengaruh Sludge Pada Tailing
Keterangan : (A1 = Dosis Sludge 25% pada Tailing Pond, A2 = Dosis sludge
50% pada Tailing Pond, B1 = Dosis Sludge 25% pada Tailing
Dump, B2 = Dosis sluge 50% pada Tailing Dump)
Gambar 3. memperlihatkan dinamika perubahan P -tersedia pada bahan.
Berdasarkan kriteria dari Pusat Penelitian Tanah (1983), P -tersedia pada hari
pertama berada dalam kategori sedang pada bahan A2 (8,84 ppm), sedangkan
pada bahan A1 (4,57 ppm), B1 (6,55 ppm), dan B2 (6,98 ppm) termasuk kedalam
kategori rendah. Sludge terlihat mampu dapat langsung meningkatkan P -tersedia
pada tailing di hari pertama pada bahan A2, B1, dan B3. Pada hari ke-15
memperlihatkan nilai P-tersedia yang meningkat dimana hanya pada bahan
campuran A1 (9,77 ppm) yang berada pada kategori sedang, sedangkan A2 (12,24
ppm) dan B1 (11,81 ppm) berada dalam kategori tinggi, dan B2 (23,49 ppm)
berada dalam kategori sangat tinggi.
Lambatnya laju peningkatan P -tersedia pada tailing dikarenakan sifat
fosfor yang sukar larut dalam air, dan terlihat pada tailing pond yang memiliki
kandungan air lebih tinggi dibandingkan tailingdump. Nilai P-tersedia meningkat
secara perlahan dikarenakan pengaruh sludge yang dapat memberikan fosfor
dalam bentuk P-tersedia.
Hasil statistik didapatkan bahwa terjadi interaksi antara semua faktor. Menurut hasil analisis uji lanjut, didapatkan bahwa nilai terbaik dari interaksi dimiliki oleh kombinasi Tailing Dump dengan dosis sludge 50% pada waktu hari ke-15. Nilai terendah didapatkan pada kombinasi Tailing Pond dengan dosis sludge 50% di hari pertama . Hasil statistik uji lanjut P-tersedia dapat dilihat pada tabel 11.
Tabel 11. Analisis Statistik Uji Lanjut P -tersedia.