HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Jenis
5.7 Struktur Tegakan
5.8.2 Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan Kejenuhan Basa (KB)
Unsur-unsur hara esensial yang terkandung dalam tanah berbentuk ion-ion positif (kation). Sehingga kemampuan tanah dalam menjerap ion-ion tersebut sangatlah penting untuk menunjang pertumbuhan tumbuhan yang ada. Menurut Hardjowigeno (2003), penjerapan ion-ion positif (kation) dalam besaran miliekivalen oleh koloid-koloid tanah tersebut dikenal dengan nama kapasitas tukar kation (KTK). Sedangkan, kejenuhan basa (KB) menunjukkan perbandingan antar jumlah kation-kation basa dengan semua kation basa (kation basa dan kation asam) yang terdapat dalam kompleks jerapan tanah. Jumlah maksimum kation yang dijerap tanah menunjukkan besarnya nilai KTK tanah
54
tersebut. Pada Tabel 15 menunjukkan hasil dari nilai KTK, KB maupun tekstur tanah pada tiap kondisi hutan.
Tabel 15. Nilai Kapasitas Tukar Kation Tanah (KTK), Kejenuhan Basa (KB) dan tekstur tanah pada tiap kondisi hutan
Kondisi Hutan
KTK KB Tekstur
Pasir Debu Liat
(me/100g) (%) (%)
TT 22,15 - 27,15 18,9 - 27,5 13,45 - 21,35 39,96 - 56,74 29,81 -39,83 TKR 29,81 - 31,71 22,5 - 29,1 19,07 - 20,88 43,9 - 44,53 35,22 - 36,4 TKS 25,80 - 32,47 22,4 - 35,4 18,11 - 18,9 43,28 - 49,26 32,63 - 37,82 TKB 25,8 - 26,35 19,2 - 25,9 15,02 - 22,03 38,94 - 53,16 31,82 - 39,03
Keterangan: TT (TT); TKR (Tingkat Kebakaran Ringan); TKS (Tingkat Kebakaran Sedang);
TKB (Tingkat Kebakaran Berat)
Pada data hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai KTK tiap kondisi hutan. Menurut PPT (1983) dalam Perdana (2009), kondisi hutan tidak terbakar yang memiliki nilai kisaran antara 22,15 – 27,15 me/100 g tergolong rendah, sedangkan seluruh kondisi hutan terbakar memiliki nilai dengan kisaran antara 25,00 – 40,00 me/100 g tergolong tinggi. Data ini dapat menunjukkan bahwa kejadian kebakaran meningkatkan nilai KTK tanah. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai KTK berarti semakin tinggi pula daya jerap ion-ion positif dalam tanah. Semakin besarnya penjerapan ion-ion dalam tanah menyebabkan semakin besar unsur hara yang tersimpan dalam tanah. Menurut Foth (1995), kapasitas tukar kation bahan organik meningkat sesuai dengan humifikasi. Sedangkan liat mempunyai variasi kapasitas tukar kation yang tinggi. Namun, pada data hasil presentase liat tidak lebih besar dari debu. Hal ini menunjukkan bahwa liat tidak terpengaruh terhadap KTK pada seluruh kondisi hutan. Nilai KTK ini menunjukkan kemampuan dari masing-masing kondisi hutan dalam menjerap kation (unsur hara esensial).
Pada kondisi hutan terbakar dengan tingkat kebakaran berat menunjukkan nilai C-organik sangat tinggi dan nilai KTK yang tinggi menunjukkan bahwa dalam kondisi hutan tersebut memiliki nilai indeks kekayaan jenis (R1) tertinggi pada bentuk pertumbuhan semak belukar. Walaupun nilai indeks kekayaan jenis kondisi hutan dengan tingkat kebakaran berat tergolong rendah sebesar 1,70, namun nilai indeks ini terbesar dibandingkan nilai indeks kondisi hutan lainnya.
Kejenuhan basa tertinggi berada pada kondisi hutan dengan tingkat kebakaran sedang memiliki kisaran nilai antara 22,4 % - 35,4 %. Walaupun nilai KB kondisi hutan dengan tingkat kebakaran sedang merupakan nilai tertinggi dibanding seluruh kondisi hutan namun nilai ini masih tergolong rendah (Lampiran 51). Pada data pun menunjukkan bahwa nilai KB pada kondisi hutan tidak terbakar dan tingkat kebakaran berat tergolong sangat rendah hingga rendah, karena memiliki nilai KB masing-masing berkisar antara 18,9 % - 27,5% dan 19,2% - 25,9%. Presentase KB berbanding lurus dengan pH tanah, semakin rendah pH tanah maka semakin rendah pula presentase kejenuhan basa (Hardjowigeno 2003). Dari data sebelumnya menunjukkan bahwa hubungan erat antara pH tanah dan KB terbukti, kecuali pada kondisi hutan tidak terbakar. Presentase nilai KB kondisi hutan tidak terbakar termasuk rendah dibandingkan presentase kejenuhan basa pada kondisi hutan lainnya. Hal ini dapat disebabkan oleh kandungan unsur-unsur hara yang mempengaruhi perhitungan dari KB. 5.8.3 Analisis Unsur-unsur Hara Tanah
Analisis unsur hara tanah dilakukan untuk menunjang hasil penelitian. Unsur hara tanah termasuk dalam unsur hara esensial. Dalam unsur hara esensial terbagi dalam dua kategori, yaitu unsur makro dan unsur mikro. Unsur makro dibutuhkan oleh tumbuhan dalam jumlah banyak. Sedangkan unsur mikro dibutuhkan oleh tumbuhan dalam jumlah sedikit. Menurut Hardjowigeno (2003), unsur makro terdiri atas C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, dan S. Berikut merupakan data hasil dari unsur hara makro yang tersaji dalam Tabel 16.
Tabel 16. Analisis kimia unsur hara makro tanah pada tiap kondisi hutan. Kondisi
Hutan
Kjeidhal Bray l NNH4OAc pH 7,0
N-total P Ca Mg K Na (%) (ppm) (me/100g) TT 0,24 - 0,32 5,4 - 5,9 2,89 - 3,42 1,31 - 2,08 0,46 - 0,54 0,31 - 0,34 TKR 0,24 - 0,25 4,6 - 6,5 4,11 - 5,17 2,15 - 2,69 0,48 - 0,59 0,28 - 0,34 TKS 0,23 5,7 - 6,3 1,41 - 4,26 3,10 - 3,48 0,43 - 0,62 0,26 - 0,46 TKB 0,23 - 0,34 6,3 - 6,8 1,41 - 3,14 1,54 - 3,48 0,39 - 0,48 0,28 - 0,46
Keterangan: TT (TT); TKR (Tingkat Kebakaran Ringan); TKS (Tingkat Kebakaran Sedang);
TKB (Tingkat Kebakaran Berat)
Berdasarkan Tabel 16 menunjukkan bahwa presentase N-total tertinggi berada pada kondisi hutan dengan tingkat kebakaran berat memiliki kisaran nilai antara 0,23 % - 0,34 %. Dari keseluruhan presentase N-total memiliki kisaran
56
yang tidak berbeda jauh antar kondisi hutan. Selain itu presentase N-total pada seluruh kondisi hutan termasuk sangat rendah. Menurut Hamzah (1981), nitrogen merupakan bagian vital dari protoplasma. Protoplasma adalah tempat dimana berlangsung pembelahan sel dan karena proses inilah terjadi pertumbuhan tumbuh-tumbuhan. Kemudian kandungan fosfor (P) tertinggi dimiliki oleh kondisi hutan dengan tingkat kebakaran berat memiliki kisaran nilai sebesar 6,3 – 6,8 ppm. Tingginya nilai fosfor dalam suatu kondisi hutan belum tentu diserap dalam jumlah yang tinggi pula. Menurut Hamzah (1981), di kebanyakan tanah fosfor asli terikat atau difikasi dalam bentuk-bentuk tidak larut sehingga hanya sebagian kecil saja dari seluruh persediaan dapat dijamah dalam suatu musim tanam. Pada tanah masam unsur P tidak dapat diserap tanaman karena diikat (difiksasi) oleh Al (Hardjowigeno 2003).
Dari Tabel 16 menunjukkan bahwa nilai sebagian besar unsur hara makro pada kondisi hutan setelah terbakar meningkat. Pada kondisi hutan dengan tingkat kebakaran ringan memiliki nilai unsur P (4,6 – 6,5 ppm), Ca (4,11 – 5,17 me/100g), Mg (2,15 – 2,69 me/100g), dan K ( 0,48 – 0,59 me/100g) yang lebih besar dibandingkan nilai unsur hara tersebut pada kondisi hutan tidak terbakar. Pada kondisi hutan dengan tingkat kebakaran sedang memiliki nilai unsur P (5,7 – 6,3 ppm), Ca (1,41 – 4,26 me/100g), Mg (3,10 – 3,48 me/100g), K (0,43 – 0,62 me/100g), dan Na (0,26 – 0,46 me/100g) yang lebih besar dibandingkan nilai unsur hara tersebut pada kondisi hutan tidak terbakar. Kemudian, pada kondisi hutan dengan tingkat kebakaran berat memiliki nilai unsur Na (0,23% - 2,24%), P (6,3 – 6,8 ppm), Mg (1,54 – 3,48 me/100g), dan Na (0,28 – 0,46 me/100g) yang lebih besar dibandingkan nilai unsur hara tersebut pada kondisi hutan tidak terbakar. Dari data tersebut menunjukkan bahwa kondisi hutan dengan tingkat kebakaran sedang memiliki lima nilai unsur hara makro yang lebih tinggi dibandingkan pada kondisi hutan tidak terbakar. Sedangkan pada kondisi hutan dengan tingkat kebakaran ringan dan berat hanya memiliki empat nilai unsur hara makro yang lebih tinggi dibandingkan kondisi hutan tidak terbakar. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan meningkatkan sebagian besar unsur hara makro yang terkandung dalam tanah dan mempengaruhi kesuburan tanah.
Unsur hara makro Ca, Mg, K, dan Na merupakan unsur yang dijerap oleh tanah dalam bentuk ion, sehingga nilai unsur-unsur ini berpengaruh dalam besaran KTK. Nilai unsur Ca tertinggi berada pada kondisi hutan dengan tingkat kebakaran rendah memiliki kisaran 4,11 – 5,17 me/100g, sedangkan nilai terendah berada pada kondisi hutan dengan tingkat kebakaran berat memiliki kisaran 1,41 – 3,14 me/100g. Nilai Mg tertinggi berada pada kondisi hutan dengan tingkat kebakaran sedang memiliki kisaran 3,10 – 3,48 me/100g, sedangkan nilai terendah berada pada kondisi hutan tidak terbakar dengan kisaran 1,31 – 2,08 me/100g. Nilai unsur K tertinggi berada pada kondisi hutan dengan tingkat kebakaran sedang memiliki kisaran nilai 0,43 – 0,62 me/100g, sedangkan nilai terendah berada pada kondisi hutan dengan tingkat kebakaran ringan (0,39 – 0,48 me/100g). Nilai Na tertinggi berada pada kondisi hutan tidak terbakar dengan kisaran 0,31 – 0,34 me/100g, sedangkan nilai terendah berada pada kondisi hutan dengan tingkat kebakaran sedang (0,26 – 0,48 me/100g). Nilai unsur hara yang beragam menunjukkan bahwa kesuburan tanah yang berbeda-beda, sehingga tumbuhan yang hidup menjadi beragam tergantung pada unsur hara yang tersedia.
Kemudian Tabel 17 menunjukkan unsur-unsur hara mikro yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit oleh tumbuhan, dan apabila tersedia terlalu banyak akan menjadi racun bagi tumbuhan itu sendiri.
Tabel 17. Analisis kimia unsur hara mikro tanah pada tiap kondisi hutan Kondisi Hutan NKCl 0,05 N HCl Al Mg Fe Cu Zn Mn (me/100g) (ppm) TT 0,82 - 1,86 0,65 - 0,72 24,3 - 28,6 0,5 - 0,8 18,2 - 23,4 56,2 - 76,4 TKR 0,96 - 2,04 0,70 - 0,73 28,1 - 30,7 0,6 - 1,1 15,3 - 17,9 56,7 - 63,8 TKS 1,32 - 3,40 0,65 - 0,96 24,9 - 49,3 0,2 - 0,7 16,7 - 31,4 52,4 - 93,2 TKB 0,94 - 3,40 0,82 - 8,72 26,9 - 49,3 0,2 - 1,2 18,5- 31,4 58,3 - 61,1
Keterangan: TT (TT); TKR (Tingkat Kebakaran Ringan); TKS (Tingkat Kebakaran Sedang);
TKB (Tingkat Kebakaran Berat)
Al merupakan racun bagi tumbuhan dan juga memfiksasi P, namun dalam Tabel 17 menunjukkan nilai Al yang tidak terlalu membahayakan atau masih dalam ambang normal. Dari Tabel 17 menunjukkan bahwa nilai tertinggi Al dimiliki kondisi hutan dengan tingkat kebakaran sedang dan ringan memiliki nilai kisaran tertinggi sebesar 3,4 me/100g. Nilai Mg pada tiap kondisi hutan