• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kapital budaya dalam kompetensi pendidikan masyarakat

Dalam dokumen BAB II. LANDASAN TEORI (Halaman 25-28)

Teori tentang kapital budaya diperkenalkan oleh Pierre Bourdieu yang dilahirkan di Denguin Prancis Selatan pada Agustus 1930 dan meninggal pada 23 Januari 2002 di Paris dalam usia 71 tahun. Dalam berhubungan dengan dunia sosial, individu tidak terlepas dari interaksi dan ruang sosial. Untuk memenuhi syarat atau penerimaan secara sosial, individu harus mempunyai kapital dalam memenuhi interaksi dan ruang sosialnya dengan orang lain.

Kapital menurut Bourdieu bukan hanya berorientasi pada ekonomi saja tetapi kapital terdiri dariekonomi, sosial, budaya, dan simbolik. Ranah adalah sejenis pasar kompetitifyang di dalamnya berbagai jenis modal (ekonomi, kultural, sosial, simbolis)digunakan dan dimanfaatkan (Ritzer & Goodman, 2012, 583) sebelumnya Bourdeu telah mengengenalkan tentang konsep habitus yaitu sebuah “struktur mental atau kognitif” di mana dengan struktur mental atau kognitifnya orang dapat berhubungan dengan dunia sosial. Dalam bahasa Latin, habitus bisa berarti kebiasaan(habitual), penampilan diri (appearance), atau bisa pula merujuk pada tatapembawaan yang terkait dengan kondisi tipikal tubuh. oleh Pierre Bourdieu mendefinisikan habitus sebagai pengkondisian yangdikaitkan dengan syarat-syarat keberadaan suatu kelas. Habitus adalah merupakan hasil ketrampilan yangmenjadi tindakan praktis (tidak selalu disadari) yang kemudian diterjemahkanmenjadi suatu kemampuan yang kelihatannya alamiah dan berkembang dalamlingkungan sosial tertentu. Selain konsep habitus, kelanjutan dari pemikiran Bourdieu adalahmengenai capital (modal).

Kapital (modal) adalah hal yang memungkinkan seseorang untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan di dalam hidup. Kapital menurut Bourdieu terdiri dari commit to user ekonomi, sosial, budaya, simbolik. Dalam

perkembangannya ada banyak jenis kapital, seperti kapital intelektual (pendidikan), kapital ekonomi (uang), dan kapital budaya (latar belakang dan jaringan). Kapital bisa diperoleh, jika orang memiliki habitus yang tepat dalam hidupnya. Dimensi kapital atau modal disini beragam, mungkin itu modal sosial, modal budaya, maupun modal ekonomi. Modal memainkan peran yang cukup sentral dalam hubungan kekuatan sosial. Dimana modal menyediakan sarana dalam bentuk non-ekonomi dominasi dan hierarkis, sebagai kelas yang membedakan dirinya. Penjelasan mengenai batasan Bourdieu tentang kapital ditulisakn oleh Lee,dalam Damsar (2011, 197),bahwa kapital budaya di definisikan sebagai kepemilikan kompentensi kultural tertentu, atau seperangkat pengetahuan kultural yang dibedakan secara khusus dan klasifikasi rumit dari barang kultural dan simbolis.Menurut lawang (2004, 16-18), Bourdie menjelaskan kapital budaya dalam tiga dimensi: yaitu dimensi manusia yang wujudnya adalah badan, dimensi objek yang wujudnya dalambentuk apa saja yang pernah di hasilkan oleh manusia, dan dimensi institusional, khususnya menunjukan pada pendidikan. Dalam pengertian kapital budayamemberikan seseorang modal pengetahuan dan kompetensi yang di butuhkan untuk membuat pembedaan atau penaksiran nilai.Pendidikan membentuk kompetensi dan pengetahuan kultural seseorang yang berkembang di tengah masyarakat.

Dalam penyelenggaraan ritual mbrokohi panen padi sedulur sikep di masyarakat Samin, terdapat kapital budaya yang merupakan habitus dan hasil implikasi dari seperangkat pengetahuan kultural yang dimiliki oleh masyarakat Samin di Sukolilo. Menurut penjelasan di atas, kapital budaya dalam ritual mbrokohi panen padi sedulur sikep terdapat sebuah dimensi manusia yaitu embodied state, yaitu keadaan yang membadan atau keadaan yang terwujud dalam badan manusia, atau yang menyatu seluruhnya dengan manusia sebagai satu kesatuan yaitu mereka para pelaku ritual. Yang kedua terdapat objectified state yaitu keadaan yang sudah dibendakan atau dijadikan objek oleh manusia dalam hal ini dapat terwujud di dalam ritualisasi dan segala perlengkapan upacara panen padi sedulur sikep. Adapun yang ketiga adalah dimensi

commit to user

institusional dari kapital budaya yaitu keadaan yang sama sekali terpisah dan mandiri, sebagai contoh konkrit yang diperlihatkan adalah dengan sistem pendidikan tertentu dalam lembaga pendidikan seperti pada sekolah-sekolah formal. Tetapi dalam hal mbrokohi panen padi sedulur sikep ini dapat diperlihatkan dalam sistem ritual atau sistem penyelenggaraan upacara panen padi di dalam menghormati “tokoh” Dewi Sri. Secara formal upacara panen padi sedulur sikep tidak masuk dalam dimensi institusional, tetapi sebuah norma pendidikan dan pesan moral yang terkandung di dalamnya adalah sebagai bentuk nilai-nilai kearifan lokal yang telah berkembang luas di tengah masyarakat Samin. Hal ini disusun secara terstruktur dalam ritual yang telah disiapkan dan dipertahankan dari generasi ke generasi sedulur sikep. Sehingga kapital budaya yang berkembang menjadi hasil warisan yang berwujud dan cukup potensial untuk terus dikembangkan.

Hasil penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan secara akademis akan cukup membantu di dalam menyampaikan solusi persoalan masyarakat, baik konklusi maupun rekomendasinya. Khususnya pada komunitas Samin dan umumnya bagi masyarakat di seluruh dunia. Hasil penelitian ini berupa studi uraian makna dan arti dari tanda dan simbol yang digunakan dalam penyelenggaran ritual mbrokohi penghormatan kepada tokoh Dewi Sri. Studi etik-simbolik kultural dalam pemahaman nilai nilai keagamaan masyarakat Samin merupakan hasil penelitian yang diharapkan akan menambah kasanah keilmuan yang bermanfaat untuk pembangunan mental negeri dan spiritualitas bangsa Indonesia. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan muara penelitian dan merupakan sebuah hasil penelitian ini adalah didapatkannya uraian makna dan arti dari tanda dan simbol ritual mbrokohi dengan keberadaan dan existensi ritual tradisional lokal masyarakat Samin yang terus dipertahankan hingga mendapatkan pula sebuah kesimpulan dan sebuah rekomendasi praktis bagi misi pelestarian alam dan lingkungan hidup.

Melalui pembahasan singkat di atas dapat disimpulkan bahwa manusia dalam menjalani kehidupannya tidak akan bisa lepas dari alam. Alam adalah satu-satunya objek fisis material konkrit yang dapat mencukupi segala commit to user

kebutuhan manusia. Bahkan kesadaran religious manusia yang bersifat abstrak sekalipun telah terinspirasi dari sebuah objek alam semesta dan lingkungannya.

Sehingga pelestarian alam dan lingkungannya sangat perlu diupayakan dan harus dilakukan yang sekaligus merupakan gerak langkah antisipasif dari hegemoni kekuasaan kapitalisme. Implikasi dari makna etik-simbolis kultural ritual mbrokohipenghormatan kepada Sang Dewi Sri di masyarakat Samin desa Sukolilo memilikih sebuah kandungan nilai-nilai hidup mulia yang membentuk norma dan budaya sebagai sarana upaya manusia untuk melakukan tindakan pelestarian alam dan lingkungannya. Sehingga penerapannya di tengah masyarakat dan bangsa sangat berperan penting dalam menggapai keselamatan bumi, lingkungan hidup dan keselamatan manusia dalam arti slamet yang sejati.

Dalam dokumen BAB II. LANDASAN TEORI (Halaman 25-28)

Dokumen terkait