15
BAB II. LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
Hal yang bersifat khusus dan unik sangat menarik untuk diperhatikan dan diteliti, seperti halnya pada masyarakat Samin yang dikenalkan sebagai sedulur sikep yang unik (Samiyono, 2010: 37-38).Berbeda dengan masyarakat Jawa pada umumnya, dalam berbagai fenomena sosial dan spiritualnya sangat menarik untuk diperhatikan dan diteliti.Oleh sebab itu banyak peneliti dari akademisi maupun non akademisi yang mencoba untuk mengungkap fenomena sosial dan spiritual masyarakat Samin atau sedulur sikep ini. Sekalipun tulisan dan penelitian yang sudah dilakukan masih sangat terbatas dalam terbitan sebuah buku yang dipasarkan pada khalayak umum.
Kajian dan penelitian tentang masyarakat Samin telah banyak dilakukan oleh para peneliti terdahulu yang mengungkapkan tentang ajaran, sejarah, budaya dan tradisi sosial masyarakat Samin termasuk budaya hukum maupun budaya politik masyarakat Samin. Antara lain tulisan Munadi (2014) tentang
“Budaya Politik Masyarakat Samin”, tulisan Octaviani (2016) tentang “Pola Komunikasi Suku Samin terkait dengan Ajarannya”, tulisan Setyaningrum, Astuti, dan Alimi, (2017) tentang “Pergeseran Nilai masyarakat Samin”, kemudian “Interaksi Sosial Suku Samin” yang ditulis oleh Huda (2013).
Penelitian-penelitian tersebut sudah banyak menerangkan dari segi kultur, agama dan budaya masyarakat Samin tetapi yang lebih fokus dalam kegiatan ritual mbrokohi panen padi dalam spiritual ritus keagamaannya masih belum ada yang meneliti dan menguraikannya. Sehingga objek dan subjek penelitian tentang makna etik-simbolik kultural nilai keagamaan ritual mbrokohi penghormatan kepada tokoh Dewi Sri yang dilaksanakan ini merupakan subjek penelitian yang baru untuk diuraikan dan dijabarkan. Oleh karena itu untuk memperjelas posisi penelitian ini perlu dipaparkan beberapa penelitian yang terdahulu. Hal penting dalam beberapa khasanah literatur yang dapat menjadi referensi penelitian ini di bagi dalam tiga bagian besar yaitu yang pertama literatur tentang upaya-upaya pelestarian alam melalui tradisi dan budaya
commit to user
lokal, bagian kedua literatur tentang munculnya Dewi Sri dalam ritual dan upacara panen padi sebagai peristiwa sakral masyarakat agraris, kemudian bagian ketiga adalah literatur tentang pokok-pokok ajaran masyarakat Samin berkaitan dengan pandangan konsepsinya terhadap alam dan lingkungan dan adat istiadatnya dalam memelihara lingkungan hidupnya
Penelitian IGP Suryadarma (2007) yang berjudul “ Kawasan Sakral Perspektif Perlindungan Keanekaragaman Hayati” .Dalam mempertahankan kawasan lingkungan hidup masyarakat tradisional berupaya dengan membuat tempat-tempat khusus yang dikeramatkan. Kawasan sakral yang dikhususkan untuk dijaga dan dipelihara biasa terdapat di berbagai etnik Nusantara bahkan di manca Negara. Hal tersebut dimunculkan sebagai tanda dan simbol pengakuan mereka terhadap alam raya. Masyarakat melalui tempat-tempat keramat mengakui adanya nilai-nilai yang tak terukur sebagai jaminan atas kehidupannya dari nenek moyangnya hingga sekarang sampai turun temurun.
Kawasan sakral muncul akibat interaksi manusia terhadap alam lingkungannya dengan pola alam dan keunikan geografi di Indonesia. Dari interaksi dan keunikan alam muncul pandangan antrophosentris menuju tahap biosentris dan terakhir pada tataran ekosentris. Alam semesta merupakan integrasi antara sistem kebenaran norma, di mana manusia sebagai pelaksana berlandaskan kebajikan dan diwujudkan dalam realitas kehidupan. Sehingga ditemukan simpulan bahwa pola pemanfaatan sumber daya alam idealnya mengintegrasikan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan lingkungan. Maka literatur ini membantu dalam memberikan pemahaman bahwa semua warisan tradisi termasuk di dalamnya penyelenggaraan sebuah ritual pun merupakan bagian integral dari upaya pengkeramatan kultur sosial sebagai pengakuannya terhadap alam yang terus dipertahankan dari generasi ke generasi.
Literatur berikut oleh Golar Baso (2007) berjudul “ Mopahilolonga Katuvua : Konsepsi Masyarakat Adat Toro dalam Mempertahankan Kelestarian Sumberdaya Hutan” Masyarakat Toro, Sulawesi Tengah secara turun temurun telah dibekali dengan falsafah pengelolaan sumber daya alam
“Mopahilolonga Katuvua” bahwa di dalam kehidupan ini terdapat tiga unsur commit to user
utama yang selalu berhubungan yaitu manusia, hewan dan tumbuhan. Dalam rinsip-prinsip yang disimpulkan telah dikembangkan menjadi sebuah larangan atau pantangan yang berfungsi sebagai sebuah aturan. Aturan tentang aktifitas penambangan tradisional contohnya, harus mensyaratkan beberapa hal diantaranya seperti penambangan harus dilakukan secara tradisional dengan menggunakan dulang yang terbuat dari kayu (mangemo), melarang menggunakan alat modern, dan bahan-bahan kimia yang akan berdampak terhadap kerusakan lingkungan. Bagi masyarakat Toro, aturan-aturan tersebut bukan semata-mata sanksi, namun lebih jauh dimaknai sebagai “pantangan”
bentuk pantangan ini terkait erat denga nilai-nilai yang tertanam pada setiap individu dalam komunitas masyarakat. Penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Toro, memiliki kemampuan dalam mengatur dan pengelolaan sumber daya alam hutan di wilayah kelola adatnya secara baik. Dari sisi aturan dan system nilai yang tercipta memberikan pemahaman terhadap aturan praktis dan teknis yang terpola juga di dalam masyarakat Samin yang diproduksi dari ajaran-ajaran lokal khususnya dalam perspektif etnoekologis komunitas masyarakat Samin. “
Pohaci sebuah abstraksi karya dari serat carios Dewi Sri”penelitian Hartanto (2013) dari ISI Surakarta. Menyampaikan kupasan penelitian bentuk garapan tari yang menggambarkan kisah turunnya Dewi Sri dari surga ke dunia yang membawa benih padi yang kemudian menjadi bahan makanan pokok orang Jawa .Dalam kehidupan masyarakat Jawa. Dewi Sri merupakan tokoh yang cukupterkenal, terutama dikalangan masyarakatpetani. Dalam masyarakat petani Jawa, tokohDewi Sri sering diindentikkan dengan dewipadi, dewi kekayaan, dewi kesuburan dankemakmuran, dewi yang melimpahiketenaran, kesuksesan, yang dapat memberi umur panjang, sehat, dan banyak anak. Dia juga dianggapsebagai dewi bumi dan ibu segala makhluk. Melalui tulisan ini membantu dalam melacak mitologi padi yang dikenal oleh masyarakat Samin sebagai dasar penyelenggaraan ritual mbrokohi panen padi sedulur sikep.
Suwardi (2009) dalam penelitiannya yang berjudul “Makna Simbolik Mitos Dewi Sri Dalam Masyarakat Jawa Kajian Linguistik Levi-Strauss”Dalam
commit to user
penelitian ini, penulis berusaha membuat komparasi dua mitos yang cukup populer dalam masyarakat Jawa. Perbandingan dua karya mitos Dewi Sri ini telah berhasil memanfaatkan model Levi-Strauss untuk menstrukturkan sebuah mitos. Akhirnya, dapat disimpulkan dalam dua hal. Pertama, di antara dua mitos Dewi Sri tersebuttidak saling terpengaruh. Kedua mitos Asal Mula Padi dan Sri Sadana adalah fenomena yang berdiri sendiri (mandiri) dan objektif. Di dalamnya terdapat ceritheme dan episode yang saling beroposisi. Kedua, dari mitos tersebut juga memiliki dunianya sendiri-sendiri. Jika ada beberapa homologi atau varian di dalamnya, semua itu berasal dari sebuah bayangan struktur yang sama dalam nalar Jawa. Bangunan struktur yang tampak tetap mengacu pada aspek kosmologi Jawa. Aspek ini merupakan refleksi ketidaksadaran pencerita yang masing-masing memiliki latar belakang budaya Jawa. Dari literatur yang dipaparkan dapat memberikan identifikasi mitologis dalam kajian lingguistik Levi-Strauss bahwa penokohan Dewi Sri dalam mitos yang berkembang adalah bentuk penyampaian pesan-pesan yang akan diketahui ketika sudah diketahui struktur dan makna dalam mitos tersebut.
“Motif asal-usul tanaman padi dalam tiga cerita rakyat Indonesia”
penelitian Erli Yetti (2014) Penulis mengambil tiga ceritarakyat yang belum pernah dijadikanobjek penelitian motif cerita, yaitucerita ”Si Beru Dayang”
dari SumateraUtara, ”Asal Mula Padi” dari Madura,dan ”Cerita Tentang Padi”
dari Kei,Maluku. Cerita ini merupakan cerita mitos yang menggambarkan asal- usul tanaman padi berawal dari tubuh manusia/hewan atau penjelmaan. Dari kajian data pustaka dalam ketiga cerita rakyat tersebut menyampaikan kesamaan motif cerita.Bahwa ada motif sama yang ditemukan, terutama yaitu asal-usulpohon dan tanaman/mythologicalmotives origin of trees and plants;
kemudian bagian tubuhmanusia atau hewan yang berubah menjaditanaman/part of human or animal bodytrasformed nto plants dan penjelmaan manusia jadi objeklain/magic transformation man to object. Dari penelitian ini dapat memberikan pemahaman secaraantrophosentris dan biosentris bahwa padi dihargai dan dipandang sebagai sesuatu yang hidup dan setara dengan makhluk-makhluk yang lain sehingga menjadi bagian yang
commit to user
integral dengan alam. Seperti halnya masyarakat Samin di dalam memperlakukan padi layaknya manusia.
“Wong Sikep: penjaga eksistensi ajaran Samin” tulisan Grendi Hendrastomo (2011) ini merupakan data dan laporan observasi yang mengupas tentang wong sikep atau sedulur sikep yang memiliki keunikan kultur sekaligus memiliki ajaran yang identik dengan perlawanan terhadap penjajah. Ajaran tersebut adalah ajaran Samin Surosentiko yang dilahirkan pada tahun 1859 di desa Ploso Kedhiren Randublatung, Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah. Ajaran tersebut sampai sekarang masih dipegang kuat oleh komunitasnya. Dari sifat wong sikep yang umumnya lugu dan terkesan polos justeru merupakan ekspresi implikatif dari ajaran Samin. Pada intinya bahwa ajaran Samin adalah ajaran yang menyangkut nilai-nilai moral kehidupan manusia. Khususnya dalam berbuat baik dan bertindak jujur sebagai pedoman bebuat dan bertingkah laku.
Ajaran Samin merupakan gerakan meditatif dan pengerahan kekuatan batiniah untuk memerangi hawa nafsu. Sekalipun dalam literatur ini tidak menyinggung langsung dengan penyelenggaraan ritual panen padi masyarakat Samin namun dari hasil analisis yang muncul dapat mengidentifikasi sebuah ajaran sebagai kearifan lokal sekaligus sebagai falsafah hidup yang tidak dapat dipisahkan dari pandangan hidup mereka terhadap alam dan lingkungannya.
Etnoekologi Masyarakat Samin Kudus Jawa Tengah” Jurnal Bioma (2012) yang ditulis oleh Jumari, Dede , Purwanto dan Edy Guhardja lebih memperjelas antara ajaran moral yang terkait dalam pandan masyarakat Samin terhadap alam lingkungannya. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan etnoekologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dan mendokumentasi pengetahuan lokal Masyarakat Samin Kudus mengenai pandangan masyarakat terhadap lingkungannya. Etnologi merupakan ilmu multi disiplin yang mengkaji hubungan timbal balik antara aspek pola pikir dan aspek praktis suatu etnik terhadap sumberdaya alam mereka berikut pengaruhnya dalam suatu proses produksi. Dalam pembahasan dan kesimpulannya mengatakan bahwa masyarakat Samin masih mempunyai kearifan lokal dalam mengelola lingkungannya. Interaksi antara masyarakat Samin denganlingkungannya
commit to user
dipengaruhi oleh pandanganhidupnya, ibarat manusia dengan sandang pangan, atau ibarat hidup dengan yangmemberi penghidupan. Pandangan hidup mereka terhadap lingkungannya membantu untuk merumuskan jawaban atas persoalan dalam penyelenggaraan ritual mbrokohi panen padi di masyarakat Samin.
“Samin Kudus : Bersahadja di Tengah Asketisme Lokal” penelitian Rosyid (2008) menyimpulkan bahwa masyarakat Samin Kudus di desa Kutuk, Dukuh Kaliyoso Desa Karangrowo dan Desa Larekreja, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah sebenarnya dipandang dari perspektif modernisasi secara mayoritas belum mengalami kesejahteraan..
Dengan perekonomian yang mengandalkan pertanian ynag tidak menentu hasil dan harga jual produksinya, ditambah dengan norma ajaran Samin yang fatalis terhadap kemiskinan.Sekalipun demikian masyarakat Samin Kudus tetap mampu bertahan di era gelombang modernisasi. Dalam kewajaran jaman yang modern, masyarakat Samin Kudus dipandang sebelah mata oleh orang awam.
Padahal sesungguhnya masyarakat Samin Kudus memiliki kekayaan budaya dan pesan etika yang adiluhung untuk dimiliki olehsemua insan karena pesan yang tinggi berupa berupa prinsip dasar hidup yang mengedepankan norma etika kemanusiaan yang tinggi dan mulia dari sisi budaya dan agama. Melalui penelitian ini didapatkan indikasi realitas warisan ajaran dan budaya yang dihidupi dan dihidupkan oleh masyarakat Samin, guna mengantisipasi modernisasi jaman.
Beberapa tulisan dan penelitian yang menyinggung soal ritual dan adat istiadat slametan atau brokohan di masyarakat Samin adalah buku “Etnografi Masyarakat Samin di Bojonegoro” yang ditulis oleh Munawaroh, Ariani dan Suwarno (2015) yang bertujuan mengetahui makna hidup bagi masyarakat Samin serta perubahan yang terjadi. Kupasan mereka tentang slametan sudah banyak warna dominasi akulturasi dengan tradisi budaya dan agama islam yang bukan merupakan keagamaan asali dan keagamaan asli sedulur sikep. Tetapi kupasan dalam pendekatan etnografisnya memberikan pemahaman yang mendasar bahwa sruktur budaya dan ajaran Samin telah banyak mengalami akulturasi budaya dengan datangnya agama baru di dalam komunitas
commit to user
masyarakat Samin. Dengan demikian upaya untuk melacak dan meneliti kemurnian ajaran Samin perlu dipertajam untuk mengetahui keagamaan asli dan asali.
Berikutya adalah tulisan dan penelitian oleh Samiyono (2010) dalam bukunya berjudul :“Sedulur Sikep” ( Struktur sosial dan agama Masyarakat Samin di Sukolilo). Dalam uraian hasil penelitiannya yang disampaikan khususnya informasi tentang ritual yang dilakukan saat panen padi di daerah Jawa pinggiran masyarakat Samin. Bahwa upacara ungkapan petani atas pemeliharaan yang sudah dilakukan oleh Dewi Sri disebut sebagai najeni (Samiyono, 2010: 161) seperti yang tertulis dalam glosarium disertasinya.
Istilah tersebut menurut klarifikasi dengan peneliti istilah najeni sebenarnya menunjuk pada ritual mbrokohi . Istilah najeni sebenarnya telah dikenal oleh para pendahulu sedulur sikep, seperti yang telah dikatakan oleh mbah Sampir almarhum, bahwa istilah tersebut telah dikenal oleh generasi pendahulu hanya saja tidak diturunkan kepada generasi penerusnya sehingga ada kesenjangan informasi dari generasi pendahulu dengan generasi muda penerusnya. Hal ini oleh peneliti disebabkan karena di dalam budaya sedulur sikep tidak ada budaya tulisan yang dapat dijadikan referensi adat. Yang ada adalah budaya lisan saja, yang biasanya juga hanya disampaikan oleh tokoh tertentu atau pribadi tertentu yang berani untuk menyampaikan hal yang terkait dengan sejarah, adat istiadat atau budaya setempat. Sekalipun akan dipandang aneh dan cukup mengundang pertanyaan ketika dari masyarakat Samin sendiri pada waktu sekarang secara umum memang ternyata tidak mengenal istilah najeni tersebut. Maka istilah najeni yang asing bagi masyarakat Jawa pinggiran komunitas Samin ini perlu di klarifikasi diteliti kembali dan direinterpretasikan. Sekalipun tulisan penelitian Samiyono telah menyinggung hal ritual panen padi di Masyarakat Samin, tetapi tulisanya pun masih bersifat umum dan tidak mengupas tuntas arti khusus dari mata ritual keagamaan masyarakat Samin dan makna asalinya. Persoalan istilah najeni di atas justeru menjadi salah satu pendorong dan dasar alasan pemilihan judul dalam
commit to user
penelitian ini, sehingga sampai istilah ritual mbrokohi yang sesuai dengan istilah umum di masyarakat Samin dimunculkan menggantikan istilah najeni.
Penelitian yang diterbitkan dalam sebuah buku, ditulis oleh LaksantoUtomo (2013) yang berjudul :“Budaya Hukum Masyarakat Samin”telah memaparkan tentang budaya hukum masyarakat Samin khususnya dalam bidang agraria pertanahan. Dalam penelitian ini disampaikan pola penguasaan tanah pada masyarakat Samin, bahwa masyarakat Samin terhadap tanah pertanian sangat erat hubungannya, ini tergambar dalam prisip hidup orang Samin “sekolahnya dengan cangkul”. Satu sisi bahwa bertani atau bercocok tanam adalah nafas kehidupannya sisi lain bahwa hal itu dipedulikan berperilaku untuk sebuah tanggung jawab di dalam pelestarian alam lingkungan. Pola penguasaan tanah dipahami dari begitu pentingnya arti tanah bagi masyarakat Samin sehingga mereka sampai memiliki prinsip bahwa hidup harus memiliki tanah. Pandangan hidup masyarakat Samin membuahkan paugeran (tatanan) terhadap tanah yang dilakukan untuk menjadi pedoman hidupnya dalam kehidupan. Penelitian ini membuka tentang pengertian nomistik (hukum) pada masyarakat Samin yang akan melengkapi pemahaman terkait dengan benih padi yang ditanam di dalam tanah dan ritual panen padi.
Literatur yang telah menjadi bagian manfaat dalam penelitian inibanyak mengungkap fakta kajian ilmiah pada masyarakat Samin, tetapi dalam tulisan dan penelitian ini akan lebih memperhatikan gejala sosial masyarakat Samin di Sukolilo yang tetap bertahan dalam konteks modernisasi dalam memahami nilai-nilai etik kultural dan spiritualnya, khususnya memperhatikan gerak ritual penghormatan kepada tokoh Dewi Sri yang diyakini oleh masyarakat Samin sebagai sosok spiritual yang memelihara kehidupan mereka atas tanah dan tanaman padi. Sekalipun penyelenggaraan ritual tradisional ini mengalami tantangan dari stigma masyarakat modern. Masyarakat modern yang dipandang sebagai struktur sosial atau lingkungan kehidupan publik tempat relasi antar manusia yang diatur atas dasar bisnis, produksi, konsumsi, dan komersialisasi dan lebih memperhatikan nilai-nilai individu
commit to user
Wakit Abdullah dalam penelitian Bahasa Jawa Orang Samin di Kabupaten Blora menegaskan pandangan Michael R. Dove dalam suntingannya tentang buku Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia dalam Modernisasi (l985:xv) mengemukakan bahwa peranan kebudayaan tradisional sering keliru dipersepsikan oleh sebagian orang dalam pembangunan, karena dianggap sebagai penghambat kelancaran sebuah pembangunan atau modernisasi, pada hal sebenarnya terkait erat dengan proses sosial, ekonomis dan ekologismasyarakat secara mendasar, dan kebudayaan tradisional bersifat dinamis, selalu mengalami perubahan, karena itu tidak bertentangan dengan proses pembangunan itu sendiri. Kasus masyarakat Samin di Blora, mereka mempertahankan Saminisme, untuk melawan orang lain, pada waktu dahulu adalah penjajah Belanda. Tetapi pada saat sekarang berhadapan pada stigmatisasi penguasa atau masyarakat modern yang memandang negatif kepada masyarakat Samin. Seperti dalam prakteknya, kebudayaan tradisional ritual mbrokohi panen padi di masyarakat Samin ini dipandang remeh dan diabaikan oleh masyarakat modern. Sekalipun demikian ritual tersebut tetap bertahan, sehingga masyarakat Samin yang akan memanen hasil padi pada ritual mbrokohi sebagai tanda hormat mereka kepada Sang Dewi Sri.
B. Terminologi Penelitian
Fokus kajian dalam penelitian ini adalah pada Ritual Mbrokohi Panen Padi Sedulur Sikep di Sukolilo dalam Perspektif Semiotik. Dalam judul penelitian tersebut terdapat dua konsep utama yang perlu dideskripsikan dan diimplementasikan dalam penelitian ini, yaitu kalimat Ritual Mbrokohi dan Sedulur Sikep. Deskripsi konseptual sebagai terminologi dalam penelitian ini perlu didefinisikan terlebih dahulu untuk memberi batasan konseptual yang akan disajikan sebagai materi analisisya.
1. Ritual Mbrokohi
Ritual adalah suatu kegiatan yang berhubungan terhadap keyakinan dan kepercayaan spiritual dengan suatu tujuan tertentu yang dilaksanakan terutama untuk tujuan simbolis.kegiatan dalam ritual biasanya sudah diatur dan commit to user
ditentukan dan tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Sedangkan pengertian ritual menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah hal ihwal tata cara dalam upacara keagamaan (Tim Penyusun , 2002: 1386).
Kata ritual sering kali didahului dengan kata upacara, sehingga menjadi kalimat upacara ritual. Kata upacara sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengertian upacara adalah sebagai berikut : a. Rangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat kepada aturan-aturan tertentu menurut adat atau agama. b. Perbuatan atau perayaan yang dilakukan atau diadakan sehubungan dengan peristiwa penting. Menurut Purba dan Pasaribu upacara ritual dapat diartikan sebagai peranan yang dilakukan oleh komunitas pendukung suatu agama, adat istiadat, kepercayaan atau prinsip dalam rangka pemenuhan kebutuhan akan ajaran atau nilai-nilai budaya dan spiritual yang diwariskan turun temurun oleh nenek moyang mereka (Purba dan Pasaribu, 2004: 134).
Menurut Koentjaraningrat pengertian upacara ritual atau ceremony adalah : system aktifitas atau rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan (Koentjaraningrat, 1990: 190). Menurut Situmorang pengertian upacara ritual adalah sebuah kegiatan yang dilakukan sekelompok orang yang berhubungan terhadap keyakainan dan kepercayaan spiritual dengan suatu tujuan tertentu ( Situmorang, 2004: 175) Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa upacara ritual atau ritual terkait dengan seperangkat tindakan yang selalu melibatkan keyakinan agama atau magi dan dimantantabkan melalui tradisi dan norma masyarakat tertentu. Dalam hal ini penyelenggaraan ritual mbrokohi pada masyarakat Samin dilaksanakan juga dengan sebuah tindakan aktif layaknya pelaksanaan upacara yang berlangsung.
Kata mbrokohi secara etimologis berasal dari kata kerja aktif mbarokahi dengan kata dasar barokah yang merupakan bahasa Arab dengan arti yang dimaksud adalah “mengharapkan berkat”. Dalam tradisi Jawa secara umum ritual mbrokohi atau brokohan ialah tradisi yang digelar ketika seorang ibu
commit to user
melahirkan anak. Dalam penyelenggaraannya, mbrokohi selalu disertai dengan rasa syukur sehingga menjadi lazim bahwa upacara mbrokohi ini sebagai bentuk ungkapan rasa syukur dan sukacita keluarga yang mendapatkan berkat anak sebagai buah hatinya. Untuk masyarakat Samin atau Sedulur Sikep penggunaan kata mbrokohi diperlukan untuk sebutan yang lebih luas. Tidak hanya untuk ritual (upacara keagamaan) kelahiran seorang bayi saja, tetapi semua ritual atau upacara ungkapan syukur yang lain. Misalnya mbrokohi kambing atau lembunya yang sedang beranak, atau mbrokohiweton hari kelahirannya, kemudian mbrokohi panen jagung atau panen padi yang merupakan sebuah ritus istimewa dalam konteks masyarakat agraris. Sebagai implementasi umum mbrokohi yang dipahami sebagai ungkapan syukur, diwujudkan oleh masyarakat sedulur sikep atau masyarakat Samin dengan memelihara dan merawat alam lingkungan mereka.
2. Sedulur Sikep
Pada awalnya para pengikut Samin memakai nama Samin sebagai identitas yang dipandang akrab dan bernuansa kesetaraan. Bagi masyarakat Samin, kata Samin merupakan akronim dari “sami-sami amin” yang artinya kita adalah semua sama sebagai manusia dan sesama. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, mereka tidak lagi suka dipanggil Samin, sebab orang Samin tidak mau dikatakan sebagai orang blo’on dan atau orang gendheng. Mereka menyebut diri sedulur sikep (Samiyono, 2010, 1). Jadi, sebutan Sedulur sikep adalah istilah yang muncul dari niat baik komunitas Samin sebagai bentuk identitas baru dan sekaligus sebagai ekspresi resistensi terhadap stigmatisasi masyarakat umum kepada masyarakat Samin. Upaya secara natural oleh warga Samin yang menyebut diri mereka dengan sebutan baru “wong sikep”mau menunjukkan sisi mulia dan niat baik layaknya sebagai makhluk yang bermartabat. Disebut sebagai“wong sikep” atau masyarakat sedulur sikep, hal ini terkait dengan ajaran Samin Surontiko. Mereka sendiri menyebut diri mereka sendiri sebagai “masyarakat Sikep”, dan mereka sendiri lebih suka disebut masyarakat Sikep.
commit to user
Ada pendapat dari warga Samin yang menggunakan jarwa dhosok ( jarwa : arti, dhosok : dipaksakan) bahwa arti kata sikep “sikep kuwi sisihane wis jangkep” ( pasangan hidupnya sudah lengkap) Sikep dalam penuturan adalah kepanjangannnya adalah “sikep alaki-rabi” yaitu pria rabi (menikahi) wanita dan wanita alaki (menikahi) pria. Sementara sikep memuat dua arti : sikep (sikap) bakohing kalbu atau keteguhan hati, sedangkan sikep atau ngekep (memeluk) sebagai kata kerja memuat makna “persatuan hati”. Sikep-sikepan atau sikap saling memeluk adalah sebagai lambang puncak dari sebuah katresnan atau cinta kasih juga lambang perdamaian dan ketentraman manusia.
Tindakan sikep-sikepan ini tidak lepas dari sebuah realitas perkawinan atara laki-laki dan perempuan.Istilah wong sikep tersebut dapat diartikan sebagai orang dewasa yang sudah menjalani tatane wong sikep rabi (pernikahan dengan tatacara ajaran Samin), dan mengakui apa yang dijalankannya. Orang Samin yang belum menjalani pernikahan dengan cara mereka belum disebut wong sikep. Sebutan untuk anak-anak atau orang yang belum dewasa, belum
‘brai’ (akil balik) atau belum disunat disebut dengan istilah Adam Timur.
(Jumari, 2012, 13) Menurut mereka manusia di mana-mana saja semua sama yaitu melaksanakan kehidupan pria menikahi wanita, dan wanita menikahi pria, dan pasti melakukan tindakan sikep-sikepan atau berpelukan. Akan tetapi disadari bahwa hanya masyarakat merekalah yang mengemukakannya dalam pengakuan formal dan menyebutnya sebagai identitas kemasyarakatannya (Utomo, 2013: 196).
Istilah sikep juga dimaknai melalui akronim “isine wis jangkep” kata
“isine” ini mau menjelaskan dari kepribadian warga masyarakat Samin yang telah jangkep atau lengkap sempurna jika telah menunjukkan bakti diri dan kepatuhannya dengan “makyung” (mak lan biyung)atau orang tua mereka ayah dan ibu yang dipresentasikan sebagai “Gusti allah kang katon” atau Tuhan yang nampak dan kelihatan.
commit to user
C. Landasan Teori
Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang ingin menjelaskan makna dan pesan moral etik-simbolik, dengan langkah tahapan penyelenggaraan ritual Mbrokohi tersebut,lalu menjelaskan langkah antisipasi apa yang dilakukan Masyarakat Samin sebagai bentuk resistensi terhadap stigma masyarakat modern maupun para kapitalis. Kemudian dipaparkan penjelasan tentang alasan dan argumentasi yang mendasari penyelenggaraan ritual Mbrokohi sebagai ritual penghormatan kepada Dewi Sri sehingga masih tetap dilakukan sampai sekarang oleh masyarakat Samin yang menginspirsasi masyarakat Samin di daerah Dukuh Bombong, Desa Baturejo, Kecamantan Sukolilo, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah terhadap kepedulian alam dan pelestarian lingkungan. Untuk mempertajam perspektif cultural studies diperlukan teori pokok dan teori tambahan didalam menyusun struktur penelitian ini dengan beberapa teori sosial dan budaya sebagai berikut:
1. Semiotika Pragmatik sebagai jembatan memahami makna
Menurut Ferdinand de Seassure (1857-1913) Semiotika adalah ilmu yang mempelajari peran tanda (sign) sebagai bagian dari kehidupan sosial (Barthes, 2007:262) oleh Roland Barthes dijabarkan bahwa ilmu semiotika adalah ilmu yang mempelajari struktur, jenis, tipologi, serta relasi-relasi tanda dalam penggunaannya di dalam masyarakat (Barthes, 2007: 266). Dalam analisis semiotik, Roland Barthes menekankan hubungan tanda, petanda, dan penanda.
Tanda adalah kesatuan asosiatif antara penanda dan petanda, sedangkan petanda adalah konsep dan penanda merupakan citra mental (Barthes, 2012:158-159) hubungan ketiganya merupakan entitas konkrit. Penanda merupakan penghubung atau mediator. Jadidapat dipahami bahwa semiotika merupakan ilmu yang mempelajari sistem tanda-tanda dan segala yang berhubugan dengannya: cara berfungsinya, hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengirimannya dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya (Pradopo, 2005: 121) dalam ilmu semiotik sejumlah besar tindakan dan hasil kerja manusia seperti gerakan tubuh, pakaian, makanan, bangunan;
kesemuanya mengandung arti tertentu sehingga dapat dianalisias sebagai tanda. commit to user
Jadi dalam ilmu semiotik bukan hanya sebuah sistem komunikasi yang secara eksplisit menggunakan tanda seperti bahasa, morse atau yang lainnya. Tanda akan hidup atau memiliki nilai/ makna apabila sudah terjadi dialog antara penanda / signifier; citraan atau kesan mental dari dari sesuatu yang bersifat verbal atau visual, seperti : suara, tulisan atau benda dengan petanda signified:
konsep abstrak atau atau makna yang dihasilkan oleh tanda. Sedangkan hubungan antara penandadan petanda, yaitu cara tertentu sebuah citraan mental berhubungan dengan sebuah makna disebut pertandaan signification ( Cavallaro, 2004: 30) Maka untuk membaca fenomena penyelenggaraan ritual mbrokohi panen padi sedulur sikep secara simbolis yang dapat menghasilkan makna, digunakanlah ilmu semiotika sebagai jembatan memahami makna
Menurut Doede Nauta (1972) Semiotik dibagi ke dalam tiga tingkatan atau wilayah kajian, yaitu semantic, sintatic dan pragmatic. Semantik, berbicara tentang bagaimana tanda-tanda berhubungan dengan yang ditunjuknya atau apa yang ditunjukan oleh tanda-tanda. Sintatik, mengacu pada aturan-aturan yang dengannya orang mengkombinasikan tanda-tanda ke dalam system makna yang kompleks. Pragmatik, adalah kajian utama semiotik yang memperlihatkan bagaimana tanda-tanda membuat perbedaan dalam kehidupan manusia atau penggunaan praktis serta berbagai akibat dan pengaruh tanda pada kehidupan sosial. Demensi pragmatik dalam semiotika adalah study mengenai hubungan tanda dan penggunanya (interpreter) khususnya yang berkaitan dengan pengguna tanda secara konkret dalam berbagai peristiwa (discourse), serta efek atau dampaknya terhadap pengguna. Pendeknya penerima dan efek tanda pada masyarakat (Kondoahi, 2013) Tanda-tanda yang diproduksi oleh masyarakat sedulur sikep menjadi sebuah objek penelitian terkait dengan penggunanya yang telah memaknai tanda sebagai simbol-simbol keramat untuk mempertahankan kehidupan yang bersumber dari alam lingkungan dan semesta. Secara natural tanda-tanda yang diciptakan dan dimaknai dalam arti tertentu oleh warga masyarakat sedulur sikep ini telah mengalami pertukaran di antara partisipan komunikasi. Supaya proses pertukaran tanda atau simbol dan pesan yang disampaikan di antara partisipan dapat terjadi secara terstruktur dan
commit to user
sistematis maka diperlukan alat analisis dalam metoda tafsir semiotik seperti yang disebutkan oleh Roland Barthes sebagai semiotika pragmatik atau semiotika komunikasi. Semiotika pragmatik hadir oleh karena terdapat persoalan komunikasi yang ingin dipecahkan. Salah satu ranah persoalan komunikasi adalah problem komunikasi dalam kehidupan sosial dan budaya, yang terangkum dalam ranah komunikasi antar budaya dan komunikasi sosial (etnografi komunikasi). Dalam penelitian ini persoalan yang muncul adalah terkait bagaimana mengkomunikasikan makna dalam kehidupan masyarakat secara etik-simbolikpada budaya ritual mbrokohi panen padi sedulur sikepdi Sukolilo.
Dengan persoalan tersebut diperlukan formulasi yang berguna untuk menguji atau mengetahui terhadap pesan komunikasi yang problematis.
Menguji pesan berarti membangun argumentasi untuk menyusun sebuah pemaknaan yang mendekati kebenaran. Ada 9 kaidah (formula) pengujian pesan yaitu : (1) menguji pesan secara denotatif, yaitu menguji berdasarkan konvensi masyarakat pada konteks sosial dan budaya di mana pesan itu dibangun. (2) menguji pesan secara konotatif yaitu pengujian melalui motif dan latar belakang ideologi komunikator. (3) menguji pesan secara kontekstual yaitu pengujian konteks fisik seteempat dan konteks waktu di mana tanda itu digunakan. (4) menguji pesan secara struktural, yaitu menguji pesan dengan menghubungkan keterkaitan dengan pesan yang ada di dekatnya. (5) menguji pesan secara fungsional, dengan melihat fungsi pesan-pesan yang digunakan oleh partisipan komunikasi. (6) menguji pesan secara intertekstual dengan cara membandingkan pesan pada fakta yang sama pada peristiwa yang berbeda. (7) menguji pesan secara intersubyektif dengan mengambil penafsiran atas pesan tersebut dari penafsir lainyang digunakan untuk peristiwa yang berbeda. (8) menguji pesan dengan cara meminta pendapat dari penafsir lain yang dianggap berkompeten dalam bidang yang berkaitan dengan psan itu. (9) menguji pesan secara subyektif dengan melakukan tafsir intuitif oleh peneliti sendiri dengan mendasarkan pada pengalaman intelektual, keyakinan dan pengembaraan ilmiahnya (Purwasito, 2007, 65-81) .
commit to user
Roland Barthes (1915-1980) memaparkan suatu gagasan yang dikenal dengan order of signification, Barthes membagi semiotika menjadi dua tahapan pertandaan, yaitu denotatif sebagai tahapan pertama, dan konotatif sebagai tahapan kedua. Makna denotatif merupakan makna yang sesungguhnya dan disepakati secara universal dan tak memiliki artian tersembunyi. Sedangkan makna konotatif adalah makna kiasan (ideologis, mitologis, teologis) yang terkandung pada tanda. Pada signifikasi tahap kedua, tanda bekerja melaui mitos. Dalam semiotika Barthes, mitos lebih mengacu kepada budaya. Mitos adalah bagaimana kebudayaan menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam (Wibowo, 2013, 22). Dalam memahami tujuan, maksud dan makna ritual mbrokohi panen padi masyarakat Samin, diperlukan penghayatan secara holistik. Dari aspek sosial, kultural sampai aspek spiritual semua selalu kait mengkait. Maka substansi dasar yang merupakan isi sesungguhnya dapat dilihat dan diketahui dari konsepsi ideologis dari fenomena ritual yang sarat dengan maksud, makna konotatifnya.Dari makna denotatif (denotative sign) yang telah dipaparkan di atas telah menguraikan dari penanda (signifier) dan petanda (signified) baik yang bersifat material diam maupun material gerak. Dalam sistem pemaknaan tataran pertama dapat memunculkan makna konotatif sebagai sistem pemaknaan yang kedua. Seperti halnya pada kelengkapan ritual jenang abang putih yang menunjukkan kiasan tentang sel telur dan spermatozoa yang bertemu dan munculah kehidupan. Menurut Roland Barthes dari sistem tataran kedua ini muncul dan terdiri atas penanda konotatif (connotative signifier) dan petanda konotatif (connotative signified) kemudian dari keduanya bersamaan munculah tanda konotatifnya (sign connotative)yaitu sebuah makna kiasan yang sifatnya subjektif. Dalam penelitian ini teori semiotika dari Roland Barthes menjadi teori utama (grands theory) sebagai alat pisau bedahnya untuk menemukan makna-makna simbolis yang terdapat pada keseluruhan rangkaian upacara ritual mbrokohi panen padi Sedulur sikep di Sukolilo.
commit to user
1. Signifier (penanda)
2. Signified (petanda) 3. Denotative Sign (first system) (tanda denotasi)
4. Connotative Signifier (penanda konotasi)
5. Connotative Signified (petanda konotasi) 6. Connotative Sign (second system)
(tanda konotasi) Gambar 1
Peta Tanda Roland Barthes (Sumber : Sobur, 2006:69)
Memahami fenomena sosiologis bagi masyarakat umum adalah sesuatu yang bersifat kompleks. Baik dari segi makna maupun faktanya. Dari kacamata semiotika semua ditunjukkan bahwa ternyata manusia tidak pernah berhadapan langsung dengan realitas. Sesuatu yang lazim disebut sebagai realitas itu datang kepada manusia melalui bantuan tanda, jadi tanda memberikan jarak antara manusia dan realitas (Nazaruddin, 2015, 7) .Sekalipun manusia sendirilah yang memproduksi dan mengonsumsi tanda, maka manusia punya kuasa untuk ikut membangun sebuah realitas. Untuk memahami lebih dalam sebuah ritual yang suci sakral dan bersifat simbolis tersebut maka dibutuhkan sebuah pendekatan teori (theoretical approach) yang dapat memaparkan makna dan arti dari tanda dan simbol yang memiliki nilai-nilai kearifan lokal. Di mana kearifan lokal ini kemudian menjadi norma masyarakat Samin dalam mengantisipasi setiap persoalan dan masalah kehidupan. Adanya tanda dan simbol yang muncul dalam ritual mbrokohi maka ilmu semiotik akan banyak membantu dalam penelitian ini, baik dari sudut pandang tafsir semiotik komunikasi, semiotik konotatif maupun semiotik ekspansif. Menurut Eco (1976:7) semiotika berhubungan dengan segala sesuatu yang secara signifikan dapat menggantikan sesuatu yang lain, sesuatu yang lain tidak harus eksis atau hadir secara aktual.
Seperti halnya dengan eksistensi tokoh Dewi Sri yang kehadirannya dimunculkan oleh tanda atau simbol dari pengalaman alamiah masyarakat Samin yang selalu berupaya untuk menghayati sebuah siklus kehidupan dari hasil panen tanaman padi dan dari kesuburan tanah.
commit to user
2. Pemaknaan simbol dalam tinjauan hermeneutik
Dalam penelitian berikut yang akan dilakukan sifatnya lebih radikal untuk mengeksplorasi kemurnian tradisi keagamaan masyarakat Samin yang sejak awal mula telah menerapkan ajaran yang mengakar pada “agama alam” artinya dalam mendekati dan menyelami tentang hal kedewaan, agama itu sangat mengarahkan pandangannya terhadap alam (Honig, 1988: 80). Hal “kedewaan”
adalah cara pengenalan manusia terhadap gejala alam yang dipersonifikasikan menjadi seolah berpribadi bahkan diyakini sampai memiliki “hati”. Paradigma agama alam inilah yang membuahkan sebuah cara bagaimana mereka berekspresi menghormat dan menghargai terhadap alam dan lingkungan melalui simbol-simbol keagamaan dan keyakinan mereka. Salah satu cara yang menonjol dari masyarakat Samin atau sedulur sikep berekspresi menghormat dan menghargai terhadap alam adalah di dalam ritual mbrokohi penghormatan kepada Dewi Sri atau mbok Sri. Kajian khusus mbrokohi tersebut selain dianalisis secara semiotik juga akan dikaji secara etnografis menurut cara pandang asli masyarakat Samin yang dapat mendekonstruksi terminologi mbrokohi yang selama ini digunakan oleh masyarakat Jawa pada khususnya.
Karena pada umumnya ritual mbrokohi yang dimaksud oleh masyarakat Jawa pada umumnya selalu terkait dengan upacara slametan atau syukuran bayen atau kelahiran seorang bayi. Berbeda untuk masyarakat Samin yang menggunakan istilah itu justeru sesuai dengan arti dan makna etimologisnya
Makna secara leksikal, diartikan sebagai sesuatu pengertian yang diberikan kepada suatu objek. Subjek dan objek adalah term-term yang korelatif atau saling berhubungan. Tanpa subjek maka tidak akan ada objek.
Sebuah benda menjadi objek karena kearifan subjek yang menaruh perhatian atas benda itu. Makna diberikan objek oleh subjek sesuai dengan cara pandang subjek. Jika tidak demikian maka objek menjadi tidak bermakna sama sekali (Sumaryono, 1999 : 30) Menurut Gadamer, makna hadir selalu didahului oleh pemahaman subjek terhadap objek. Pemahaman dapat diperoleh, bila subjek
commit to user
memiliki kesadaran terhadap objek. Kegiatan memaknai sesuatu pada dasarnya adalah melakukan interpretasi (Muzir, 2008: 98) untuk membuat interpretasi seseorang harus memahami dan mengerti terlebih dahulu. Antara mengerti dan membuat interpretasi ini ada sebuah kesertamertaan, artinya ketika seseorang dapat mengerti sebenarnya ia telah melakukan interpretasi, demikian sebaliknya. Keduanya bukanlah satu proses yang menunjukkan dua momen.
Mengerti dan interpretasi menimbulkan lingkaran hemeneutik (Sumaryono, 1999 : 30 – 31) Dalam memaknai simbol tidak akan lepas dari sebuah proses penafsiran objek. Proses penafsiran tersebut menggunakan hermeneutika sebagai salah satu jenis filsafat atau ilmu yang mempelajari tentang interpretasi makna.
Berkaitan dengan simbol, bahwa simbol diartikan sebagai sesuatu mengenai pengantaraan pemahaman terhadap objek yang manifestasi dan karakteristiknya tidak terbatas pada isyarat fisik. Pengertian simbol secara etimologi diambil dari kata kerja Yunani simbolein yang berarti
“berwawancara, merenungkan, memperbandingkan, mempertemukan, melemparkan jadi satu, menyatukan”. Simbol adalah penyatuan dua hal menjadi satu (Dillistone, 2002 : 21) Ada kerancuan pemahaman tentang arti kata simbol dan tanda. Dalam pembahasannya akan dibedakan supaya dalam penerapannya tidak lagi ditemukan kerancuan. Tanda, merupakan gejala atau objek fisik yang tidak memerlukan perasaan subjektif dan tidak diperlukan penjelasan ilmiah untuk menerangkannya,maka tanda hanya memerlukan keterangan yang bersifat mutlak. Contoh seperti asap adalah tandanya ada api, bel di sekolah tanda murid sekolah masuk atau keluar kelas, lampu merah di jalan tanda berhenti, lampu hijau di jalan raya tanda mulai berjalan dan sebagainya. Dari objek fisik yang disebut sebagai tanda hampir tidak memerlukan perdebatan atau memang tidak untuk diperdebatkan.
Sedangkan Simbol yang berasal dari bahasa Yunani simballo, συμβαλλω (bertemu, berjumpa, benda ingat-ingatan) atau simbolein, συμβαλέίν mepersatukan, melemparkan yang satu dengan yang lain, sehingga menjadi satu ( sym = sama, ballo = melempar ) Tuan rumah Yunani memberikan
commit to user
sepotong papan kecil (bagian dari papan yang utuh) atau cincin kepada tamu sebagai tanda penghargaan (bagian dari sepasang cincin). Apabila suatu saat mereka bertemu dan saling mencocokkan potongan papan atau cincin masing- masing, maka peristiwa itu disebut συμβολα , συμβουλίον (berkomplot) jadi Simbol seringkali melibatkan emosi individu, gairah, keterlibatan dan kebersamaan, sebab simbol menyertakan kenang-kenangan. Simbol terbuka terhadap berbagai arti sedangkan tanda tidak, simbol tak dapat dimutlakkan sedangkan tanda bersifat mutlak artinya dan tak dapat diperdebatkan. Simbol berfungsi menangkap dan menjembatani diri pribadi pada saat ini dengan masa lampau. (Rachman, 2005: 156) Dalam penelitian etik-simbolik ritual mbrokohipenghormatan kepada Dewi Sri di masyarakat Samin ini lebih fokus dalam pembahasan pemaknaan simbol.
Berdasarkan sifat penggunaannya terdapat empat peringkat simbol yaitu : yang pertama, Simbol konstruktif yaitu bersifat metafisik yang penggunaannya berkaitan dengan hal-hal religious dan kepercayaan terhadap sang Pencipta yang biasanya merupakan inti dari agama. Kedua, simbol etika atau simbol evaluasi yaitu simbol-simbol yang berkaitan dengan nilai-nilai, norma, atau aturan-aturan, seperti kesopanan, kewajaran dalam masyarakat. Ketiga, simbol kognitif yaitu simbol-simbol yang bersifat logik dan penerapannya banyak ditemui pada simbol-simbol yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang dimanfaatkan manusia untuk memperoleh pengetahuan tentang realitas dan keteraturan agar manusia lebih memahami lingkungannya. Keempat, simbol ekspresif, yaitu simbol-simbol yang berkaitan dengan nilai-nilai estetis simbol.
Hampir seluruh simbol tersebut bersifat shared values yaitu disepakati bersama serta memiliki fungsi integrative untuk mempertahankan pengawasan social dan memelihara kebersamaan dalam masyarakat atau sebaliknya, yaitu sesuatu yang dapat mewujudkan disintegrative (Geertz dalam Triguna, 1997: 78)
Dalam penyelenggaraan ritualmbrokohipanen padi sedulur sikepini terdapat nilai keagamaan yang bersifat etik-simbolik sebagai cerminan harmonisasinya terhadap alam. Menurut masyarakat Samin alam ini memiliki energi yang “maha besar” untuk mentransfer segala kebutuhan hidup termasuk
commit to user
energi yang menginspirasi manusia untuk belajar dan melatih diri mereka dari alam sehingga dapat menjadi manusia yang utuh. Masyarakat Samin di Sukolilo juga memiliki sikap dan tindakan yang bersifat simbolik dalam kehidupan kesehariannya. Salah satu kebiasaan unik masyarakat Samin, sebelum menikmati sepiring nasi ia menyentil sedikit nasi dan terbuang ke tanah. Tindakan simbolis ini memiliki makna untuk ingat pada siapa yang telah memberi makanan. Tindakan simbolik masyarakat Samin tersebut memberikan pesan moral yang dalam terhadap peran dan manfaat alam bagi kehidupan keluarga dan masyarakat. Jadi mereka sungguh-sungguh merasakan bagaimana alam yang ditempatinya merupakan satu-satunya realitas (monocosmos) yang sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat Samin.
3. Mitos : Resistensi budaya sebagai bentuk perlawanan
Sikap resistensi merupakan tindakan pertahanan sekaligus perlawanan baik dilakukan secara pribadi maupun kolektif. Sikap yang ditunjukkan secara fisik oleh pribadi maupun kolektif didorong oleh sebuah berkembangnya wacana yang telah mewarnai pola pikir masyarakat hingga melahirkan sebuah tradisi dan budaya. Wacana yang mendasari pemahaman realitas terkandung sebuah ideologi yang dapat berfungsi sebagai perisai penolak sehingga hal-hal inti kearifan lokal dapat terlindung dari tantangan dan serangan peluru hegemonitas penguasa maupun modernitas. Faktanya sebuah ideologi tidak dapat dipisahkan dari pemahaman akar-akar mitologis yang memiliki peran penting dari sebuah bangunan konstruktif ideologi. Melalui teori semiotik Roland Barthes dapat dijelaskan secara radikal fenomena resistensi yang berkaitan dengan ideologi dan mitos. Barthes secara lugas menjelaskan apa yang disebutkan sebagai sistem pemaknaan tataran kedua, yang dibangun di atas sistem lain yang sudah ada dari sebelumnya. Sistem tataran kedua ini disebut oleh Barthes dengan “konotasi”. Dalam kerangka berpikir Barthes konotasi ini identik dengan operasi ideologi yang disebutnya sebagai “mitos”
dan berfungsi untuk pembenaran-pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku di dalam masyarakat dalam suatu periode tertentu. Ia menyatakan
commit to user
mitos sebagai modus pertandaan, sebuah tipe wicara yang dibawa melalui sebuah wacana. Masyarakat Samin telah menunjukkan bagaimana sikap dan tanggapannya terhadap hegemonitas penguasa, yang didorong oleh operasi ideologi (mitos) dan wacana mereka perihal tentang pemeliharaan alam dan lingkungannya.
Dalam membahas resistensi perlu mengingat penjelasan James C. Scott (1990). Resistensi dipahami sebagai sebuah respon terhadap suatu inisiatif perubahan, suatu respon hasil rangsangan yang membentuk kenyataan di mana individu hidup. Sebuah resistensi, sekurangnya ditemukan dalam bentuk protes terbuka, petisi-petisi, kerusuhan dan sebuah revolusi yang adakalanya meledak tetapi juga ada kalanya lebih dalam hanya diam namun dengan pola pengelaan yang besar-besaran (Scott, 1990: 195). Lebih lanjut Scott menjelaskan bahwa bentuk resistensi bisa dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu perlawanan publik atau terbuka (publict transcript) dan perlawanan tersembunyi atau tertutup (hidden transcript).Kedua kategori tersebut oleh Scott dibedakan atas artikulasi perlawanan, bentuk, karakteristik, wilayah sosial dan budaya.
Perlawanan terbuka dikarakterisasikan oleh adanya interaksi terbuka antara kelas-kelas subordinant dengan kelas-kelas superdinant. Sementara bentuk perlawanan sembunyi-sembunyi dikarakterisasikan oleh adanya interaksi tertutup, tidak langsung antara kelas-kelas subordinant dengan kelas-kelas superdinant (Scott, 2000, 385-386)
Scott mengungkapkan bahwa ada empat karakteristik yang menunjukkan perlawanan terbuka, diantaranya sebagai berikut : (1) Perlawanan yang berwujud sesuai system yang berlaku, terorganisir antara satu pihak dengan pihak yang lain. (2) Terdapat dampak perubahan (konsekuensi revolusioner) dalam pergerakan yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup. (3) Bersifat rasional dengan berfokus pada kepentingan banyak orang. (4) Bertujuan menghapuskan tindakan dominasi dan penindasan dari kaum penguasa.
Sedangkan dalam Perlawanan tertutup memiliki empat karakteristik diantaranya adalah: (1) Terjadi secara tidak teratur. (2) tidak terorganisir. (3) Bersifat individual (bertujuan untuk mencari keuntungan dengan berfokus pada
commit to user
kepentingan individu) (4) Tidak mengandung dampak perubahan. Tindakan masyarakat Samin atau sedulur sikep di dalam melakukan resistensi terhadap para kapitalis dan kepada modernitas yang mengatas namakan kemajuan jaman, cenderung menampakkan tipe perlawanan tertutup (hidden transcript) karena tidak masuk dalam empat karakteristik pada perlawanan terbuka.
Sekalipun memiliki dampak secara sosio psikologis dalam menunjukkan antisipasinya.
Seperti halnya makna struktural modernitas yang selalu diindikasikan dengan wacana kemajuan jaman. Melalui teori resistensi ala Roland Barthes ini wacana modernitas sebagai label sosial kemajuan jaman dapat dikritisi dan dibongkar untuk memunculkan fakta dan wacana baru, bahwa modernitas ternyata memiliki ciri dan unsur kemunduran jaman. Dengan demikian masyarakat Samin di Sukolilo di dalam mempertahankan tradisinya di tengah arus modernisasi itu adalah justeru mempertahankan sebuah pola kehidupan dalam kemajuan jaman. Dari fakta yang ditemui dalam realitas masyarakat pada jaman sekarang, pasti akan menunjukkan berbagai latar belakang sejarah dan budaya. Sejarah dan budaya itulah yang menjadi bukti sekaligus tolok ukur untuk menentukan modernitas. Sejarah yang dimaksud adalah sejarah perkembangan dari masyarakat yang mengutamakan pola kehidupan tradisional kemudian mengalami perubahan ke pola kehidupan yang rasional. Modern sendiri biasanya merujuk pada sesuatu yang “terkini” dan “baru” (latin:
modernus) beberapa ciri masyarakat modern itu adalah perkembangan sains, teknik, ekonomi kapitalis dan adanya “kesadaran” yang menempatkan manusia sebagai titik sentral jagad raya ini. Sehingga kosmosentrisme berubah menjadi antrophosentrisme. Semua dampak arus jaman yang disebut modernitas ternyata membawa pengaruh pola pikir orang pada jaman sekarang kepada antroposentrisme yang membatasi keberlakuan etika lingkungan hanya pada komunitas manusia saja. Hal ini bertolak belakang dengan etika lingkungan ekosentrisme sebagai lanjutan dari teori biosentrisme, di mana ekosentrisme memusatkan etika pada pada seluruh komunitas ekologis, baik yang hidup maupun yang tidak ( Sonny Keraf, 2002, 75). Khususnya di dalam
commit to user
diskusi tentang pelestarian alam dan lingkungan, etika lingkungan antroposentrisme sangat membahayakan keberlangsungan kehidupan karena hanya terpusat pada kepentingan dan keinginan pribadi manusia semata. Pada titik kesadaran yang berhenti pada keinginan egoistis inilah maka perilaku naluriah hewani muncul. Maka ketika manusia yang hidupnya sudah mencapai keberadaban tetapi kemudian kembali hidup menggunakan pola naluri hewani, berarti terjadi kemunduran jaman bukan kemajuan jaman.
Interaksi manusia terhadap alam menumbuhkan saling ketergantungan secara natural. Ketergantungan satu dengan yang lain merupakan rangkaian yang terdapatdalam ekosistem dan habitatnya. Menurut Aristoteles, substansi sifat kemanusiaan zoon politicon menunjukkan bahwa manusia dikodratkan untuk berinteraksi satu sama lain, di samping memiliki sifat individual juga memiliki sifat sosial. Sehingga interaksi manusia terhadap alam lingkungan pun juga memungkinkan manusia menganggapnya sebagai teman sesamanya.
Dari kebutuhan inilah muncul pandangan-pandangan personifikasi terhadap objek alam dan lingkungan. Fenomena ini sering dijumpai di dalam mitos- mitos, cerita legenda atau mitologi. Mitologi terkait dengan legenda atau cerita rakyat. Mitologi acapkali menyajikan kisah penciptaan dunia sampai asal mula suatu bangsa. Dalam mitologi peristiwa interaktif antara manusia dan alam acapkali juga mengisahkan asal usul segala sesuatu. Alam kahyangan atau dunia dewa dewi sering melatarbelakangi kisah-kisah mitologis. Sehingga segala sesuatu yang awal mulanya bersifat material seperti halnya benda-benda alam dan sekitar, diungkap menjadi hal yang spiritual seperti sosok dewa ataupun dewi dengan alam kahyangannya, bahkan benda-benda yang mati pun dihidupkan di dalam dunia mitos. Dampak kisah mitologis tersebut di kalangan masyarakat secara struktural dengan pemahaman dan sudut pandang theologis agamawi mereka menangkap bahwa peran dewa-dewi ini benar-benar ada secara personal spiritual atau dalam bentuk roh. Sehingga pemahaman yang menjadi keyakinan ini secara struktural menjadi dasar untuk memandang realitas. Paradigma inilah yang memenjarakan manusia hingga sekarang, bahwa pemahamannya masih bertahan di jaman mitologis. Pengertian dan
commit to user
keyakinan itu satu sisi menunjukkan cara berpikir konservatif tetapi satu sisi justeru menunjukkan orisinalitas budaya untuk mengungkap kesadaran baru yang membawa dalam pemikiran dan gagasan yang lebih memperkaya kasanah keyakinan sebuah agama dan budaya .
4. Kapital budaya dalam kompetensi pendidikan masyarakat
Teori tentang kapital budaya diperkenalkan oleh Pierre Bourdieu yang dilahirkan di Denguin Prancis Selatan pada Agustus 1930 dan meninggal pada 23 Januari 2002 di Paris dalam usia 71 tahun. Dalam berhubungan dengan dunia sosial, individu tidak terlepas dari interaksi dan ruang sosial. Untuk memenuhi syarat atau penerimaan secara sosial, individu harus mempunyai kapital dalam memenuhi interaksi dan ruang sosialnya dengan orang lain.
Kapital menurut Bourdieu bukan hanya berorientasi pada ekonomi saja tetapi kapital terdiri dariekonomi, sosial, budaya, dan simbolik. Ranah adalah sejenis pasar kompetitifyang di dalamnya berbagai jenis modal (ekonomi, kultural, sosial, simbolis)digunakan dan dimanfaatkan (Ritzer & Goodman, 2012, 583) sebelumnya Bourdeu telah mengengenalkan tentang konsep habitus yaitu sebuah “struktur mental atau kognitif” di mana dengan struktur mental atau kognitifnya orang dapat berhubungan dengan dunia sosial. Dalam bahasa Latin, habitus bisa berarti kebiasaan(habitual), penampilan diri (appearance), atau bisa pula merujuk pada tatapembawaan yang terkait dengan kondisi tipikal tubuh. oleh Pierre Bourdieu mendefinisikan habitus sebagai pengkondisian yangdikaitkan dengan syarat-syarat keberadaan suatu kelas. Habitus adalah merupakan hasil ketrampilan yangmenjadi tindakan praktis (tidak selalu disadari) yang kemudian diterjemahkanmenjadi suatu kemampuan yang kelihatannya alamiah dan berkembang dalamlingkungan sosial tertentu. Selain konsep habitus, kelanjutan dari pemikiran Bourdieu adalahmengenai capital (modal).
Kapital (modal) adalah hal yang memungkinkan seseorang untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan di dalam hidup. Kapital menurut Bourdieu terdiri dari commit to user ekonomi, sosial, budaya, simbolik. Dalam
perkembangannya ada banyak jenis kapital, seperti kapital intelektual (pendidikan), kapital ekonomi (uang), dan kapital budaya (latar belakang dan jaringan). Kapital bisa diperoleh, jika orang memiliki habitus yang tepat dalam hidupnya. Dimensi kapital atau modal disini beragam, mungkin itu modal sosial, modal budaya, maupun modal ekonomi. Modal memainkan peran yang cukup sentral dalam hubungan kekuatan sosial. Dimana modal menyediakan sarana dalam bentuk non-ekonomi dominasi dan hierarkis, sebagai kelas yang membedakan dirinya. Penjelasan mengenai batasan Bourdieu tentang kapital ditulisakn oleh Lee,dalam Damsar (2011, 197),bahwa kapital budaya di definisikan sebagai kepemilikan kompentensi kultural tertentu, atau seperangkat pengetahuan kultural yang dibedakan secara khusus dan klasifikasi rumit dari barang kultural dan simbolis.Menurut lawang (2004, 16-18), Bourdie menjelaskan kapital budaya dalam tiga dimensi: yaitu dimensi manusia yang wujudnya adalah badan, dimensi objek yang wujudnya dalambentuk apa saja yang pernah di hasilkan oleh manusia, dan dimensi institusional, khususnya menunjukan pada pendidikan. Dalam pengertian kapital budayamemberikan seseorang modal pengetahuan dan kompetensi yang di butuhkan untuk membuat pembedaan atau penaksiran nilai.Pendidikan membentuk kompetensi dan pengetahuan kultural seseorang yang berkembang di tengah masyarakat.
Dalam penyelenggaraan ritual mbrokohi panen padi sedulur sikep di masyarakat Samin, terdapat kapital budaya yang merupakan habitus dan hasil implikasi dari seperangkat pengetahuan kultural yang dimiliki oleh masyarakat Samin di Sukolilo. Menurut penjelasan di atas, kapital budaya dalam ritual mbrokohi panen padi sedulur sikep terdapat sebuah dimensi manusia yaitu embodied state, yaitu keadaan yang membadan atau keadaan yang terwujud dalam badan manusia, atau yang menyatu seluruhnya dengan manusia sebagai satu kesatuan yaitu mereka para pelaku ritual. Yang kedua terdapat objectified state yaitu keadaan yang sudah dibendakan atau dijadikan objek oleh manusia dalam hal ini dapat terwujud di dalam ritualisasi dan segala perlengkapan upacara panen padi sedulur sikep. Adapun yang ketiga adalah dimensi
commit to user
institusional dari kapital budaya yaitu keadaan yang sama sekali terpisah dan mandiri, sebagai contoh konkrit yang diperlihatkan adalah dengan sistem pendidikan tertentu dalam lembaga pendidikan seperti pada sekolah-sekolah formal. Tetapi dalam hal mbrokohi panen padi sedulur sikep ini dapat diperlihatkan dalam sistem ritual atau sistem penyelenggaraan upacara panen padi di dalam menghormati “tokoh” Dewi Sri. Secara formal upacara panen padi sedulur sikep tidak masuk dalam dimensi institusional, tetapi sebuah norma pendidikan dan pesan moral yang terkandung di dalamnya adalah sebagai bentuk nilai-nilai kearifan lokal yang telah berkembang luas di tengah masyarakat Samin. Hal ini disusun secara terstruktur dalam ritual yang telah disiapkan dan dipertahankan dari generasi ke generasi sedulur sikep. Sehingga kapital budaya yang berkembang menjadi hasil warisan yang berwujud dan cukup potensial untuk terus dikembangkan.
Hasil penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan secara akademis akan cukup membantu di dalam menyampaikan solusi persoalan masyarakat, baik konklusi maupun rekomendasinya. Khususnya pada komunitas Samin dan umumnya bagi masyarakat di seluruh dunia. Hasil penelitian ini berupa studi uraian makna dan arti dari tanda dan simbol yang digunakan dalam penyelenggaran ritual mbrokohi penghormatan kepada tokoh Dewi Sri. Studi etik-simbolik kultural dalam pemahaman nilai nilai keagamaan masyarakat Samin merupakan hasil penelitian yang diharapkan akan menambah kasanah keilmuan yang bermanfaat untuk pembangunan mental negeri dan spiritualitas bangsa Indonesia. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan muara penelitian dan merupakan sebuah hasil penelitian ini adalah didapatkannya uraian makna dan arti dari tanda dan simbol ritual mbrokohi dengan keberadaan dan existensi ritual tradisional lokal masyarakat Samin yang terus dipertahankan hingga mendapatkan pula sebuah kesimpulan dan sebuah rekomendasi praktis bagi misi pelestarian alam dan lingkungan hidup.
Melalui pembahasan singkat di atas dapat disimpulkan bahwa manusia dalam menjalani kehidupannya tidak akan bisa lepas dari alam. Alam adalah satu-satunya objek fisis material konkrit yang dapat mencukupi segala commit to user
kebutuhan manusia. Bahkan kesadaran religious manusia yang bersifat abstrak sekalipun telah terinspirasi dari sebuah objek alam semesta dan lingkungannya.
Sehingga pelestarian alam dan lingkungannya sangat perlu diupayakan dan harus dilakukan yang sekaligus merupakan gerak langkah antisipasif dari hegemoni kekuasaan kapitalisme. Implikasi dari makna etik-simbolis kultural ritual mbrokohipenghormatan kepada Sang Dewi Sri di masyarakat Samin desa Sukolilo memilikih sebuah kandungan nilai-nilai hidup mulia yang membentuk norma dan budaya sebagai sarana upaya manusia untuk melakukan tindakan pelestarian alam dan lingkungannya. Sehingga penerapannya di tengah masyarakat dan bangsa sangat berperan penting dalam menggapai keselamatan bumi, lingkungan hidup dan keselamatan manusia dalam arti slamet yang sejati.
D. Kerangka Berpikir
Gambar 2.
BaganSkema Kerangka Berpikir
FAKTA FISIK MATERIAL KERUSAKAN ALAM
(COSMOS) DAN LINGKUNGAN (KAPITALISME) SOLUSI ANTISIPASI
FISIK & MATERIAL
SOLUSI ANTISIPASI MENTAL , MORAL &
SPIRITUAL
EKO-RITUAL MBROKOHI MASYARAKAT SAMIN
AGAMA ADAM MASYARAKAT SAMIN
EKO-PRAXIAL PELESTARIAN ALAM
DAN LINGKUNGAN
BUDAYA JAWA EKO-DOCTRINAL MANUSIA DAN
MAKLHUK HIDUP
ALAM DAN LINGKUNGAN EKOLOGI
(BIOLOGI & FISIKA)
TEKHNOLOGI LINGKUNGAN
TEKHNOLOGI ANTARIKSA
MONOCOSMOISME
(MICRO & MACRO COSMOS)
TEKHNOLOGI PERTANIAN
HARMONI
“SLAMET”
commit to user