• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORITIK

2.1.5 Karakter Morfologi Bunga

Tanaman hias merupakan semua kelompok tanaman yang sengaja di tanam dengan maksud untuk dekoratif atau sebagai hiasan saja. Tanaman hias dapat ditanam di taman untuk melengkapi seni taman, ditumbuhi di dalam pot yang di tempatkan di dalam rumah ataupun di luar rumah, berfungsi sebagai bunga potong. Tanaman hias berbunga adalah tanaman hias yang banyak di sukai oleh banyak orang, sebab bunga dicirikan untuk di jadikan hiasan. Tanaman hias bunga pasti memiliki bentuk dan warna yang beragam disesuaikan dengan kelompok tanamannya (Aidah, 2020:10).

daun, yang memiliki warna hijau, seolah-olah termasuk perubahan pada daun hingga berupa perhiasan bunga.

2. Dasar bunga (Receptaculum)

Dasar bunga merupakan bagian awal tangkai yang sering meluas, dengan ruas yang sangat kecil, menyebabkan daun yang telah mengalami perubahan membentuk komponen-komponen bunga yang melekat sangat dekat satu dengan yang lainnya, malahan nampak melekat dalam satu lingkaran yang sama.

3. Hiasan bunga (Perianthium)

Hiasan bunga merupakan komponen bunga yang termasuk penjelmaan daun yang sedang nampak berupa lembaran dan tulang yang terlihat jelas. Umunya perhiasan bunga terdiri dari dua komponen yang sendiri-sendiri melekat dalam satu lingkaran.

4. Alat kelamin jantan (Androecium),

Alat kelamin jantan merupakan perubahan daun yang menciptakan serbuk sari. Alat-alat kelamin jantan terdiri dari beberapa benang sari (Stamen). Dalam bunga benang sarinya ada yang bebas maupun berlekatan, dan yang terstruktur dari satu lingkaran juga ada yang dua lingkaran. Komponen ini adalah komponen penwujutan daun, bisa dilihat seperti bunga tasbih pada bagian benang sari mandul memiliki bentuk lembaran-lembaran yang sama dengan daun mahkota.

Benang sari adalah satu perubahan daun, dimana struktur dan manfaatnya sudah diselaraskan dengan alat kelamin jantan. Bagian benang sari di bedakan menjadi tiga komponen terdiri dari, tangkai sari (Filamentum) yang merupakan komponen yang berwujud benang dengan penampang melintangnya berbentuk bulat. Kedua, kepala sari (Anthera) merupakan komponen benang sari yang ada

pada bagian ujung tangkai sarinya. Ketiga, penyambung ruang sari (Connectivum) yaitu sambungan tangkai sarinya yang menjadi sambungan kedua komponen kepala sarinya yang terdapat dikanan maupun kiri penyambungnya (Tjitrosoepomo, 2016: 170-172).

5. Alat kelamin betina (Gynaecium)

Alat kelamin betina adalah komponen yang umumnya dinamakan dengan putik (Pistillum), berisi metamorfosis daun dinamakan dengan daun buah (Carpella). Bagian bunga bisa di temukan satu maupun beberapa putik, dari satu putik terdapat sejumlah daun buah, ada yang terdiri dari satu atau dua buah.

Apabila ada sejumlah daun buah, pada dasarnya semuanya terbentuk sebagai lingkaran komponen-komponen bunga yang akhir. Putik adalah komponen bunga yang terletak dibagian paling dalam, tersusun dari daun-daun yang telah mengalami perubahan. Daun-daun penyusun dari putik dinamakan daun buah (Carpellum). Komponen putik terdapat sel telur yang sudah dibuahi oleh inti sperma yang bersumber dari serbuk sari, nantinya akan bertumbuh jadi lembaga, lembaga tersebut nanti menjadi tanaman baru. Komponen putik yang berisi sel telur tersebut dinamakan bakal biji (Ovulum) dan berakir menjadi biji (Semen), putik yang didalamnya terdapat bakal biji merupakan bakal buahnya (Ovarium) akan berubah menjadi buah (Fructus) (Tjitrosoepomo, 2016: 180).

Menurut Tjitrosoepomo, (2016: 169) tangkai kepala putik adalah bagian putik pada umumnya berbentuk benang dan merupakan lanjutan dari bakal buah ke atas. Tangkai kepala putik juga merupakan komponen dari daun buah, oleh karena itu pada bakal buah yang tersusun atas beberapa daun buah, seringkali nampak diatasnya sejumlah tangkai kepala putik yang sesuai dengan jumlah daun

buah penyusun bakal buahnya, karena tiap daun buah ke atas membentuk satu tangkai kepala putik. Tangkai kepala putik sebagian ada yang bercabang dan ada yang tidak, apabila bercabang tiap ujung cabang tangkai kepala putik mendukung satu kepala putik, yang bercabang dapat lebih banyak kepala putik dari pada tangkai kepala putiknya. Tangkai kepala putik ada yang lebih panjang, ada yang sama panjang, dan ada yang lebih pendek dari pada tangkai sarinya.

Kepala putik merupakan komponen putik yang paling atas, terletak pada bagian ujung tangkai kepala putik ataupun pada ujung cabang tangkai kepala putik. Berfungsi untuk menangkap serbuk sari, jadi mempunyai peranan penting dalam proses penyerbukan. Oleh karena itu bentuk dan sifatnya disesuaikan dengan kegunaanya yaitu untuk menangkap serbuk sari tersebut. Apabila kepala putik sudah siap untuk diserbuki, maka umumnya berperekat, dengan demikian serbuk sari yang telah jatuh padanya, maka tidak akan terlepas lagi. Kepala putik memiliki berbagai macam bentuk, disesuaikan dengan cara penyerbukan yang dilakukan ada yang berbentuk seperti benang, bibir dan cawan (Tjitrosoepomo, 2016: 191-192).

Menurut Tjitrosoepomo, (2016: 142-158) komponen-komponen hiasan bunga pada dasarnya terdiri dari dua lingkaran:

a. Kelopak (Calyx)

Kelopak merupakan komponen perhiasan bunga yang merupakan lingkaran bagian luar, umumnya memiliki warna hijau, jika masih kuncup merupakan selubungnya, yang menjadi pelindung kuncup sebelum mekar dari ancaman lingkungan. Kelopak terdapat beberapa daun kelopak. Daun kelopak pada bunga bisa bersatu satu dengan yang lain, bisa juga tersebar. Apablila

bunganya telah memperbanyak persarian dan buah, umumnya selalu rontok, jarang sampai terbentuk buah.

b. Mahkota bunga (Corolla)

Mahkota bunga adalah komponen perhiasan bunga yang ada pada lingkaran bagian dalam, umumnya tidak memiliki warna hijau lagi. Mahkota bunga terdiri dari beberapa daun mahkota (Petal) seperti pada daun kelopak yang berlekatan atau tidak. Mahkota bunga pada dasarnya besar, memiliki warna yang bagus, menarik, dengan karakter urutan yang bagus, kadang juga memiliki bau yang harum (Umumnya banyak yang tidak berbau maupun memiliki bau tidak sedap) dianggap memiliki warna yang indah dan bau yang tersendiri mengakibatkan predator menghinggapi bunga sebagai tempat mencari makan, biasanya serangga menjadi perantara berlangsungnya penyerbukan (Tjitrosoepomo, 2016: 163).

Menurut Tjitrosoepomo, (2016: 169) tidak semuanya bunga memiliki perhiasan bunga yang jelas bisa diperbedakan antara kelopak maupun tajuk bunganya. Macam-macam kelompok tanaman memiliki perhiasan bunga yang tidak bisa di bedakan antara yang kelopak maupun tajuk, dengan sebutan lain kelopak maupun tajuk bunganya sama, dari segi bentuk maupun warnanya yang dinamakan dengan tenda bunga (Perigonium).

Menurut Tjitrosoepomo, (2016: 143-144), jika dilihat dari komponen-komponen yang ada pada bunga, sehingga bunga dapat dibedakan diantaranya yaitu:

1. Bunga sempurna (Flos completus), terdiri dari satu lingkaran daun kelopak, satu lingkaran daun mahkota, beberapa benang sari serta satu lingkaran daun buah, bunga yang komponen-komponennya tersusun dari empat

lingkaran di katakan bersifat tetrasiklik, sedangkan komponen-komponen yang terdiri dari lima lingkaran bersifat Pentasiklik.

2. Bunga tidak sempurna (Flos incompletus), apabila dari satu komponen pelengkap bunga maupun salah satu dari alat kelamin tidak ditemukan.

Apabila belum memiliki perhiasan bunga, maka dapat disebut bunga telanjang (Nudus), apabila memiliki satu dari dua macam alat kelamin, dinamakan berkelamin tunggal (Unisexualis).

B. Jumlah dan Tata Letak pada Tumbuhan

Suatu tumbuhan ada masanya hanya terdapat satu bunga saja, namun pada umumnya suatu tumbuhan dapat dijumpai banyak bunga. Tumbuhan yang hanya menghasilkan satu bunga saja disebut dengan tumbuhan berbunga tunggal (Planta uniflora), sedangkan tumbuhan yang menghasilkan beberapa bunga disebut

dengan tumbuhan berbunga banyak (Planta multiflora). Tumbuhan yang hanya mempunyai satu bunga saja, umumnya bunganya terdapat pada bagian ujung batang, apabila bunganya banyak sebagian bunga-bunga tersebut terdapat dalam ketiak-ketiak daun dan selebihnya pada ujung batang maupun cabang-cabangnya.

Setiap tumbuhan mempunyai letak bunga yang berbeda diantaranya yaitu bunga yang terletak pada ujung batang (Flos terminalis), contohnya pada kembang merak (Caesalpinia pulcherrima Swartz.) dan bunga yang terletak diketiak daun (Flos lateralis atau Flos axillaris) (Tjitrosoepomo, 2016: 122-124).

C. Bunga Majemuk (Anthotaxis/Inflorescecentia)

Bunga majemuk terdiri dari beberapa bunga tunggal yang berada dalam satu tangkai bunga tersebut, sehingga dapat dibedakan sesuai dengan cabang yang mendukung sejumlah bunga diketiaknya. Suatu cabang yang jelas kelihatannya

dari beberapa bunga diketiak terdapat daun-daun biasa yang berfungsi untuk berasimilasi. Sumbu yang mendukung kumpulan bunga yang sudah berkelompok tersebut tidak berdaun, walaupun ada daunnya, daun tersebut sudah mengalami metamorfosis dan tidak dapat digunakan untuk alat asimilasi (Tjitrosoepomo, 2016, 124). Bunga majemuk memiliki bagian-bagian dan sifat bunga yang terdiri dari:

1) Bagian yang bersifat seperti batang atau cabang

Bagian yang bersifat seperti batang atau cabang pada bunga majemuk terdiri dari ibu tangkai bunga (Penduculus) yang merupakan sambungan batang maupun cabang yang mendukung bunga majemuk tersebut. Kedua, tangkai bunga (Pedicellus), merupakan cabang dari ibu tangkai yang mendukung bagian-bagian bunga lain. Ketiga, dasar bunga (Receptaculum), merupakan ujung tangkai bunga, yang mendukung bagian-bagian bunga lain.

2) Bagian yang bersifat seperti daun

Bagian yang bersifat seperti daun terdiri dari, daun pelindung (Bractea) yang merupakan bagian-bagian mirip daun yang dari ketiaknya muncul cabang-cabang ibu tangkai. Daun tangkai (Bracteola) merupakan satu maupun dua daun kecil yang terdapat pada tangkai bunga. Seludung bunga (Spatha) merupakan daun perlindung yang besar, yang seringkali menyelubungi seluruh bunga manyelubungi seluruh bunga majemuk waktu belum mekar dan daun pembalut (Bractea involuclaris) yang merupakan sejumlah daun-daun pelindung yang tersusun dalam suatu lingkaran. Serta lelopak tambahan (Epicalyx), merupakan bagian-bagian serupa daun yang berwarna hijau, tersusun dalam suatu lingkaran dan terdapat di bawah kelopak.

Bagian-bagian lainnya yang bersifat seperti daun terdiri dari daun-daun kelopak (Sepalae), daun-daun mahkota atau daun tajuk (Petalae), daun-daun tenda bunga (Tepalae), apabila kelopak dan mahkota sama bentuk dan warnanya.

Serta benang-benang sari (Stamen), dan daun-daun buah (Carpella). Berdasarkan sifat-sifat bunga tersebut bunga majemuk dapat dibedakan menjadi:

a) Bunga majemuk tak berbatas (Inflorescentia racemosa, inflorescentia botryoides, inflorescentia centripetala)

Bunga majemuk tak berbatas merupakan bunga majemuk yang ibu tangkainya dapat terus tumbuh, dengan cabangnya dapat bercabang lagi maupun tidak, yang mempunyai susunan acropetal yaitu semakin muda semakin mendekati ibu tangkai, dan bunga-bunga pada bunga majemuk mekar berturut-turut dari bawah ke atas.

b) Bunga majemuk berbatas (Inflorescentia cymosa atau centrifuga)

Bunga majemuk berbatas merupakan bunga yang ujung ibu tangkainya yang selalu ditutupi dengan suatu bunga, sehingga memiliki pertumbuhan yang terbatas. Bunga majemuk ysng berbatas bunga ysng mekar pertama merupakan bunga yang terdapat di sumbu pokok maupun ibu tangkainya. Bunga majemuk terbatas yang dilihat dari jumlah cabang pada ibu tangkainya terdiri dari tiga jenis bunga yang terdiri dari “Monochasial”, dengan kategori yaitu apabila ibu tangkainya mempunyai satu atau lebih cabang. Namun, cabang tersebut tidak berhadapan dan salah satu cabangnya berukuran lebih besar. Selanjutnya bersifat

“Dichasial” dengan kategorinya yaitu apabila ibu tangkai mengeluarkan dua cabang yang berhadapan. Kemudian bersifat “Pleiochasial” dengan kategorinya

yaitu apabila ibu tangkai mengeluarkan lebih dari dua cabang pada satu tempat yang sama tingginya.

c) Bunga majemuk campuran

Bunga majemuk campuran (Inflorescentia mixta) merupakan bunga majemuk memperlihatkan ciri-ciri bunga majemuk berbatas ataupun ciri-ciri bunga mejemuk tak terbatas (Tjitrosoepomo, 2016: 124-130).

D. Kelamin Bunga

Bunga umumnya memiliki dua macam alat kelamin dan merupakan alat-alat yang sebenarnya merupakan bagian dari bunga yang terpenting.

1) Bunga banci atau berkelamin dua (Hermaphroditus)

Bunga banci atau bunga berkelamin dua merupakan bunga dengan alat kelamin yang lengkap, yang memiliki benang sari (Stamen) sebagai alat kelamin jantan dan putik (Pistilum) sebagai alat kelamin betina. Bunga banci sering disebut sebagai bunga lengkap seperti pada bunga terung (Solanum melongena L.).

2) Bunga berkelamin tunggal

Bunga berkelamin tunggal merupakan bunga yang hanya memiliki satu alat kelamin, baik hanya memiliki putik maupun benang sari saja, yang terdiri dari dua jenis yaitu bunga jantan (Flos masculus) yang hanya memiliki memiliki benang sari, dan bunga betina (Flos femineus) yang hanya memiliki putik saja.

3) Bunga mandul atau tidak berkelamin

Bunga mandul merupakan bunga yang tidak memiliki alat kelamin baik benang sari (Stamen) maupun putik (Pistilum), seperti pada bunga matahari

(Helianthus annus L.). Berdasarkan kelamin bunga yang terdapat pada suatu tumbuhan dapat dibedakan menjadi tumbuhan:

a. Berumah satu (Monoecus), yang merupakan tumbuhan yang memiliki bunga jantan dan bunga betina pada satu tumbuhan. Contohnya pada tumbuhan mentimun (Cucumis sativus L.).

b. Berumah dua (Dioecus), apabila bunga jantan maupun betina terpisah tempatnya, yang merupakan salah satu individu bunga yang hanya mendukung bunga jantan saja, maupun individu yang hanya mendukung bunga betina saja. Contohnya terdapat pada salak (Zalacca edulis Reinw.).

c. Polygami (Polygamus), apabila disuatu tumbuhan terdapat bunga jantan, bunga betina, maupun bunga banci yang bersamaan.

Contohnya pada pepaya (Carica papaya L.) Tjitrosoepomo, 2016:

144-145).

E. Simetri pada Bunga

Simetri merupakan ciri-ciri yang dimiliki untuk bagian-bagian tumbuhan, sedangkan bidang simetri merupakan bidang yang dapat digunakan untuk memisahkan suatu benda dalam dua bagian yang satu dengan lainnya. Menurut Tjitrosoepomo (2015: 179) berdasarkan bidang simetrinya, maka bunga dapat dibedakan menjadi bunga yang:

1) Asimetri atau tidak simetris

Bunga dapat dikelompokkan asimetri atau tidak simetris, yaitu apabila suatu bunga tidak dapat dibuat bidang simetrinya dengan cara apapun, contohnya pada bunga tasbih (Canna hybrida Hort.).

2) Setangkup tunggal (Monosimteris atau Zygomorphus)

Bunga dapat dikelompokkan setangkup tunggal, apabila bunga hanya dapat dibagi menjadi satu bidang simetri, sehingga bunga menjadi dua bagian ketika dibagi. Contohnya pada bunga kecubung (Datura metel L.).

3) Setangkup menurut dua bidang (Bilateral simetri atau Disimetris)

Bunga dapat dikelompokkan setangkup menurut dua bidang, apabila bunga hanya dapat dijadikan dua bagian yang sama, menurut dua bidang simetri yang tegak lurus satu dengan yang lainnya. Contohnya pada bunga lobak (Raphanus sativus L.).

4) Beraturan atau bersimetri banyak (Polysimetris atau Actinomorphus)

Bunga yang dapat dikelompokkan beraturan, apabila bunga dapat dibagi menjadi banyak bidang simetri untuk membagi bunga dalam dua bagian yang setangkup.

F. Diagram Bunga

Diagram bunga merupakan gambar yang melukiskan keadaan dari bunga dan bagian-bagian bunga itu sendiri atau dapat diartikan pula sebagai gambar proyeksi dalam bidang datar disemua bagian bunga yang telah dipotong secara melintang, sehingga dalam diagram tersebut digambarkan penampang-penampang melintang daun-daun kelopak, tajuk bunga, benang sari, maupun putiknya, serta bagian-bagian bunga lainnya yang masih ada selain dari keempat bagian tersebut.

Berdasarkan diagram bunga tersebut sehingga dapat mengetahui jumlah masing-masing bagian bunga serta bagaimana letak dan susunannya antara satu dengan yang lainnya.

Gambar pada diagram penampang melintang masing-masing bagian bunga memungkinkan adanya persamaan gambar hanya bagian yang berhubungan dengan daun-daun kelopak dan daun tajuk bunga, sedangkan yang berhubungan dengan benang sari dan putik kemungkinan tidak terjadi kesalahan. Dalam menggambarkan bagian-bagian bunga dapat memperhatikan beberapa ketentuan seperti berapa jumlah masing-masing bagian bunganya, bagaimana susunannya terhadap sesamanya.

Bunga yang berada pada ujung batang ataupun cabang tidak dikenal bidang mediannya, disebelah atas lingkaran yang terluar tidak digambarkan penampang melintang batangnya karena pada bunga yang demikian batangnya akan bersambung dengan tangkai bunga, namun di sebelah bawah umumnya masih ditambahkan gambar penampang melintang daun pelindung (Tjitrosoepomo, 2016: 205-208).

G. Rumus Bunga

Rumus bunga merupakan susunan yang terdapat pada bunga yang dinyatakan dalam beberapa lambang maupun angka. Lambang yang digunakan menunjukkan mengenai sifat bunga yang berhubungan dengan simetrinya maupun jenis kelamin, sedangkan huruf-huruf yang digunakan singkatan dari nama bagian-bagiannya. Kelopak bunga dilambangkan dengan (K), mahkota bunga (C), benang sari (A), dan putik (G). Apabila terdapat kelopak dan mahkota yang tidak dapat dibedakan maka dapat menggunakan huruf P yang diartikan sebagai tenda bunga (Perigonium) (Tjitrosoepomo, 2016:210-211).

Penulisan rumus bunga, dibagian belakang huruf-huruf yang digunakan ditambahkan angka-angka yang menunjukkan jumlah dari bagian-bagian bunga

tersebut. Antar dua bagian huruf dan angka dapat diberikan tanda koma (,).

Bagian depan rumus bunga diberi lambang yang menunjukkan simetri bunganya, (*) digunakan untuk bunga yang bersimetri banyak dan (↑) digunakan untuk bunga bersimetri satu. Apabila bunga memiliki dua alat kelamin maka dapat dilambangkan dengan ( ̌ , bunga yang memiliki kelamin jantan menggunakan lambang (♂) dan bunga betina menggunakan lambang (♀) (Kimball, 1999).

Karakter morfologi bunga selengkapnya disajikan pada Gambar 2.1.

Gambar 2. 2Bagian-Bagian Morfologi Bunga (Dokumentasi Penulis, 2022)