mekanis, serta memandang rendah dorongan atau motif ekonomi yang dikaitkan dengan motif sosial, etika, adat, tradisi, suku, agama, dan sebagainya.
Dalam kehidupan pertanian, kapitalisme diasosikan dengan farmer yang berciri kota. Sementara itu prakapitalisme diasosiasikan dengan peasant yang ciri desa. Kalau mengacu pada Redfield; Kroeber; dan Steward, Marzali (1998:85) mengemukakan bahwa dari sisi perkembangan tingkat sosiokultural, petani peasant dipandang sebagai suatu masyarakat yang berada di antara, atau transisi antara, bentuk masyarakat primitif dan bentuk masyarakat modern. Posisi tersebut dalam bentuk diagram dapat dilihat pada Gambar II.3.
Masyarakat Primitif Masyarakat antara Masyarakat Modern Berburu
meramu
Petani primitif
Petani peasant Petani farmer Industri
Nomaden Menetap di pedesaan Urban
Gambar II.3. Posisi Masyarakat Peasant dalam Evolusi Masyarakat Manusia Sumber: Marzali, 1998:85.
II.5.1. Karakter Peasant-Farmer
Dalam kerangka ini peasant merupakan masyarakat yang (1) hidup dari mengolah tanah, (2) hidup menetap dalam komunitas pedesaan, (3) menggunakan teknologi pertanian, seperti pacul, bajak, dan garu untuk melakukan produksi pertanian, (4) memiliki hubungan dengan kota, (5) mengolah tanah dengan bantuan keluarga sendiri untuk menghasilkan bahan makanan guna keperluan hidup sehari-hari keluarga petani,
Kroeber dalam Foster (1967:2) mengemukakan bahwa peasant merupakan bagian masyarakat dari suatu bagian budaya yang hidup dalam kaitannya dengan pasar dan pusat-pusat kota. Golongan masyarakat ini tidak lagi terisolasi, namun masih memegang nilai-nilai tradisional. Selain itu merupakan golongan orang yang menempati jenjang yang lebih tinggi daripada suku (tribe) dan juga lebih tinggi daripada petani pimitif. Suku yang paling primitif hanya melakukan aktivitas berburu dan meramu, sementara petani primitif hanya melakukan perladangan berpindah dan tidak memiliki hubungan dengan pusat kota (pasar). Dalam kerangka ini dapat dikemukakan bahwa peasant merupakan suatu tipe masyarakat yang terletak antara masyarakat tribal dan urban.
Sementara itu dari sisi pandang sistem ekonomi peasant, Firth (Marzali, 1998:85), sistem ekonomi peasant adalah sistem ekonomi yang menggunakan ketrampilan dan sistem pembagian kerja yang sederhana. Selain itu juga memiliki keterbatasan akses ke pasar. Alat produksi dikuasai dan diorganisasikan secara nonkapitalistik. Skala produsen tergolong kecil dengan hubungan produksi bersifat lebih personal, sementara perhatian terhadap aspek sosial dan keagamaan lebih diutamakan darpada aspek materi.
Berbeda dengan Firth yang mengacu pada sistem ekonomi yang khas, maka Wolf mengacu pada jenis mata pencaharian yang khas. Menurut Wolf (1983:2), peasant merupakan orang desa yang bercocok tanam dan berternak di daerah pedesaan. Usahatani tersebut tidak dilakukannya sebagai petani farmer atau pengusaha pertanian (agricultural enterpreneur) karena tidak dilakukan sebagai kegiatan bisnis untuk meraih keuntungan ekonomis, namun dilakukan dalam kerangka pengelolaan rumahtangga.
Dalam melakukan produksi pertanian, peasant harus mengarahkan kegiatannya untuk melayani keluarga dan masyarakat. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Diaz (1967:50), yaitu bahwa peasant sebagai man economic harus mengarahkan aktivitasnya dalam dua ruang, yakni ruang keluarga dan ruang masyarakat. Keluarga petani dapat terdiri dari keluarga inti, yakni suami, isteri, dan anak, dapat pula terdiri dari keluarga luas yang mencakup orang-orang dari generasi yang sama atau berbeda, misalnya orangtua atau sepupu petani (Wolf, 1983:103). Perhatian peasant terhadap keluarga dan masyarakatnya dikemukakan pula oleh Popkins (1979:28), yaitu bahwa pihak-pihak yang menjadi perhatian utama peasant adalah diri sendiri, keluarga, tetangga, dan komunitas desanya.
Di dalam ruang keluarga maupun ruang masyarakat, peasant memberi dukungan dengan produksi usahatani. Dukungan peasant dengan usahataninya tersebut cenderung dilakukan dalam kondisi kesederhanaannya sebagai produsen pertanian berskala kecil yang menerapkan teknologi non industri dan bertumpu pada rumahtangga (household based), serta produksi pertanian berorientasi subsistensi (Elson, 1997:xix). Menurut Scott
(1981:7), usaha subsistensi adalah usahatani yang mengutamakan keamanan (safety first).
Dalam kehidupan tertib sosial masyarakat, peasant perlu selalu menjaga relasi antar rumahtangga. Selain itu juga harus senantiasa memelihara keseimbangan antara kepentingan-kepentingan keluarga dan masyarakat yang dapat mengikat peasant dengan masyarakat yang lebih luas. Menurut Wolf (1983:170), dalam kerangka ini upacara atau ritual memiliki suatu fungsi melegetimasi unit-unit sosial dan relasi di antara sesama
warga desa. Selain itu dari sudut komunikasi sosial, hal ini dapat mengukuhkan eksistensi peasant dalam komunitasnya.
Sebagai produsen pertanian berskala kecil, tindakan-tindakan dan pilihan-pilihan petani selalu dikaitkan dengan sumberdaya alam, seperti tanah, air, iklim, dan matahari.
Hal ini seperti dikemukakan oleh Weizt (1971:19), yaitu bahwa kehidupan peasant erat berdekatan dengan tanah. Dengan demikian peasant memiliki hubungan yang kuat dengan sistem ekologis. Dongeng, kebiasaan kalender, tanda-tanda iklim, peribahasa, dan ritual-ritual yang terdapat di dalam masyarakat ini menunjukkan kesadarannya atas sebuah ekologi yang bertalian dengannya.
Sesuai dengan kuatnya pertalian peasant dengan kondisi ekologis, Wolf (1983:32) mengemukakan beberapa ekotipe petani yang berkaitan dengan cara-cara petani memperoleh makanan dan surplus-surplus dari tanah. Ada dua ekotipe petani, yaitu tipe paleoteknik yang mengandalkan organisme-organisme manusia dan hewan serta tipe neoteknik yang bergantung pada energi yang berasal dari bahan bakar dan ketrampilan-ketrampilan yang berasal dari pengetahuan. Tipe paleoteknik terdiri dari (1) sistem yang memperlakukan tanah yang sudah tandus dibiarkan untuk tidak ditanami dalam jangka waktu lama, (2) sistem tanam sebagian, (3) sistem tanam bergilir dengan siklus singkat, (4) sistem tanam permanen, dan (5) penanaman permanen lahan-lahan pilihan. Sementara tipe neoteknik terdiri dari (1) penanaman hortikultura yang dispesialisasikan, dengan ciri produksi hasil kebun yang dipelihara secara permanen, (2) perusahaan susu yang merupakan cabang sistem pertanian dengan bajak dan siklus rotasi lahan yang tergolong pendek, (3) pertanian campuran yang dilakukan petani dengan memelihara ternak dan
bercocoktanam, dan (4) perkebunan yang menghasilkan sebagian hasil kebun daerah tropis, seperti kopi, tebu, atau coklat.
Kuatnya pertalian peasant dengan kondisi ekologis menciptakan pula posedur dalam melakukan usahatani. Keadaan ini menyebabkan petani akan sangat berhati-hati dalam menerima introduksi teknologi baru. Sulitnya menembus pertahanan peasant ketika mengintroduksi teknologi baru menunjukkan ketakutan peasant atas perubahan prosedur yang dapat meningkatkan risiko berusahatani. Hal ini seperti dikemukakan oleh Scott (1981:4), yaitu bahwa nilai-nilai dalam praktek pertanian yang sudah teruji telah membuat para petani itu bersikap keras terhadap para ahli agronomi dan pekerja sosial yang hendak mengadakan perbaikan-perbaikan. Dalam pandangan peasant, perubahan-perubahan teknologis sekecil apapun akan membawa pada konsekuensi-konsekuensi yang tidak terantisipasi yang dapat mengancam sistem produksi pertanian. Oleh karena itu dapat dikemukakan bahwa introduksi teknologi baru tidak hanya akan diadaptasi secara ekologis, tetapi juga akan diadaptasi dalam nilai-nilai, sikap, dan kemampuan petani (Weitz, 1971:9).
Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian pendahuluan, bahwa ada perbedaan antara budaya perkebunan dataran rendah (lowland plantation) dan budaya perkebunan dataran tinggi (upland plantation). Perkebunan dataran rendah mengusahakan tanaman semusim, seperti tembakau dan tebu, sementara perkebunan dataran tinggi mengusahakan tanaman tahunan, seperti teh dan kopi. Penelitian ini dilakukan di kawasan perkebunan teh yang memiliki budaya upland.
Menurut de los Angeles (1986:170), petani upland pada umumnya dihadapkan pada masalah kekurangan waktu untuk produksi pertanian. Petani mengandalkan tenaga kerja keluarga dengan kendala musim, modal yang terbatas, dan uang tunai. Sementara itu dengan teknologi pertanian yang terbatas, petani mengalami masalah menurunnya produktivitas lahan yang tidak bisa dipecahkan dengan keterbatasan tenaga kerja. Untuk mengatasi permasalahannya, ada beberapa kombinasi upaya petani upland, yaitu (1) mengembangkan teknologi pertanian untuk pengamanan lahan, (2) melakukan diversifikasi sumber-sumber pendapatan, (3) menggeser harapan yang hanya bertumpu pada produksi upland, dan (4) memantapkan sistem atas hak-hak atas tanah untuk menjaga harmonisasi hubungan di antara para petani.
Dalam menerima teknologi baru yang berimplikasi adanya prosedur yang berbeda dengan kebiasaan bertani, petani menggunakan pola pikir safety first demi keamanan subsistensinya. Analisis Scott (1981:3) dalam studi tentang pergolakan dan subsistensi di Asia Tenggara menemukan bahwa etika subsistensi di kalangan petani Asia Tenggara, Perancis, Rusia, dan Italia merupakan akibat dari kehidupan petani yang dekat dengan garis batas. Garis batas itu merupakan garis antara keamanan dan risiko yang ditanggung oleh petani beserta keluarganya. Faktor-faktor pembentuknya adalah sangat kecilnya pemilikan lahan, cara-cara bertani tradisional, ketergantungan pada kondisi alam, dan pajak yang berupa uang tunai serta hasil tanaman yang dipungut oleh negara. Adapun risiko yang dimaksud adalah datangnya bencana kelaparan bagi peasant dan keluarganya.
Menurut Popkins (1979:28), moral ekonomi petani memiliki asumsi bahwa hanya petani kaya yang mampu untuk mengikuti perkembangan inovasi dan keuntungan yang
akan diperoleh dengan mengadopsi inovasi itu. Dalam pandangan peasant, inovasi atau teknologi baru tidak akan menguntungkan bagi petani pemilik lahan sempit atau petani penyewa. Oleh karena itu dapat dikemukakan bahwa dalam perspektif moral ekonomi petani peasant merupakan golongan petani yang selalu menentang risiko.
Dalam pada itu, Soekartawi (2003:173) dikemukakan bahwa agribisnis akan terdiri dari petani yang selalu melakukan upaya memaksimalkan pendapatan dengan penguasaan sumberdaya yang terbatas. Petani demikian akan selalu memaksimalkan keuntungan pada setiap usahataninya. Adapun ciri-cirinya, pertama, cepat mengadopsi inovasi sehingga digolongkan sebagai pengadopsi awal (early adopters). Kedua, memiliki derajat kosmolitan yang tinggi. Ketiga, memiliki keberanian menanggung risiko dalam berusahatani. Keempat, memiliki sikap mau dan kemampuan mencoba teknologi baru yang ditunjang oleh sumberdaya yang memadai untuk melakukan percobaan tersebut.
Slamet (2003:16) mengemukakan bahwa untuk peningkatan produksi dalam pembangunan pertanian diperlukan teknologi maju. Oleh karena itu petani sebagai pelaku pembangunan pertanian perlu mengadopsi teknologi maju. Dalam perspektif penyuluhan pembangunan, petani maju adalah petani yang memiliki kemampuan untuk memerankan diri sebagai warga negara yang baik sesuai dengan profesinya, dan sanggup berswadaya untuk meningkatkan kesejahteraannya sendiri dan masyarakatnya (Slamet, 2003:18).
Dengan mengambil dari indikator perubahan perilaku dalam memajukan petani, maka petani maju memiliki ciri-ciri sebagai berikut, pertama, memiliki perbendaharaan yang tinggi tentang informasi pertanian, kedua, memiliki keterampilan, kemampuan, dan kebiasaan baru yang sesuai dengan bidang yang digelutinya, serta ketiga, memiliki sikap
mental dan motivasi yang kuat dalam memajukan usahataninya. Adapun sumber motivasi itu adalah terpenuhinya kebutuhan akan (1) kepastian atau keamanan (security) dalam bidang ekonomi, sosial, psikologi, dan spiritual, (2) pengalaman, minat, gagasan, dan cara-cara baru berusahatani, (3) keakraban, yang terdiri dari persahabatan, kebersamaan, keramahtamahan, dan perasaan ikut memiliki, serta (4) pengakuan, yang meliputi status, gengsi, prestasi, dan penghargaan (Slamet, 2003:21).
Pambudy (2003:235) mengemukakan bahwa modal manusia yang diperlukan dalam membangun agribisnis adalah wirausahawan. Wirausahawan agribisnis merupakan orang yang pertama, menjadi pusat pertumbuhan pekerjaan dan ekonomi dan kedua, memberikan mekanisme pembagian yang bergantung pada inovasi, kerja keras, dan pengambilan risiko. Konkritnya adalah bahwa seorang usahawan agribisnis merupakan orang yang mampu untuk menyelesaikan proses dari menghasilkan ide-ide kreatif, inovasi, hingga menghasilkan produk barang atau jasa untuk dapat dipasarkan dengan keuntungan yang memadai.
Dalam pada itu menurut Soetrisno (1995:160), sebagai petani komersial yang berbudaya industri, memiliki ciri-ciri pertama, rasional dan kreatif dalam memandang berbagai fenomena yang ada di alam sekitarnya. Kedua, memiliki komitmen yang tinggi dalam menyelesaikan masalah dengan tuntas, dan ketiga, memiliki ketaatan yang tinggi pada hukum (Soetrisno, 1995:160).
Selain sebagai petani komersial berbudaya industri, farmer juga dapat digolongkan sebagai petani modern. Menurut Suriasumantri (2000:384), masyarakat modern yang urban memiliki indikator-indikator sebagai berikut, pertama, bersifat analitik. Di samping
itu, sebagian besar aspek kehidupannya dilandaskan pada asas efisiensi secara teknis maupun ekonomis. Indikator ini menempatkan nilai teori dan nilai ekonomi pada posisi penting. Nilai teori terkait dengan aspek penalaran, ilmu, dan teknologi, sedangkan nilai ekonomi berpusat pada penggunaan sumber dan benda ekonomi secara efektif dan efisien berlandaskan perhitungan yang bertanggungjawab. Sementara itu pengambilan keputusan berlandas pada argumentasi kuat. Kekuatan berpikir bersifat dominan yang mengabaikan penarikan kesimpulan dari intuisi, perasaan, dan tradisi. Kedua, bersifat individual. Nilai sosial dan kekuasaan dalam kerangka ini harus berorientasi pada kepercayaan diri sendiri serta keberanian untuk mengambil keputusan sendiri. Hubungan antar manusia bersifat individual, sementara untuk mempertahankan hidup seseorang harus mampu bersaing secara produktif.
Petani farmer dapat disebut pula sebagai petani maju yang memiliki mentalitas pembangunan. Menurut Koentjaraningrat (1985:73), mental pembangunan memiliki ciri (1) orientasi ke masa depan, (2) sifat hemat, (3) keinginan untuk eksplorasi dan inovasi, (4) nilai tinggi atas pencapaian atas karya, (5) kepercayaan pada kemampuan diri, (6) disiplin, dan (7) rasa tanggungjawab. Uraian tersebut dirangkum dalam Tabel II.2.
Sumber: Foster (1967); Marzali (1998); Diaz (1967); Wolf (1983); Popkins (1979); Scott (1981); Weizt (1971); de los Angeles (1986); Sukartawi (2003); Slamet (2003);
Pambudi (2003), Soetrisno (1995); Suriasumantri (2000); Koentjaraningrat (1985).
Perbedaan budaya lainnya dari peasant dan farmer lainnya dapat dikaitkan dengan dikotomi budaya yang dapat dijelaskan dengan konsep orientasi nilai dari Kluckhohn dan Strodtbeck, individualisme-kolektisme, variabilitas budaya Hofstede, Pola-pola Parsons, dan keketatan Struktral.