BAGIAN IV KONSEP DASAR
C. Karakter Santri Pondok Gontor
Pada hakikatnya, tujuan pendidikan Pesantren adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian Muslim (karakter santri). Atau yang tercermin dalam Motto Pondok Gontor
“Menjadi ulama yang intelek, bukan intelek yang tahu agama”,
yaitu kepribadian beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, bermanfaat dan berkhidmat kepada masyarakat dengan menjadi kawulo atau abdi masyarakat. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh teladan agung Rasul Saw. yang menjadi pelayan
masyarakat. Kepribadian mulia Nabi Muhammad Saw. yang mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama Islam dan menegakkan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat. Idealnya, pengembangan kepribadian yang dituju ialah kepribadian Muhsin bukan sekadar Muslim.
Menurut Azhar Amir yang pernah menjadi salah satu Pengasuhan Pondok Gontor bahwa esensi dari pendidikan Pesantren adalah pembinaan kepribadian Muhsin, yakni melaksanakan ihsan dalam arti yang sesungguhnya. Dalam hal ini, mendidik kader ulama atau ahli agama dalam ruang lingkup pendidikan Pesantren masih tetap menjadi prioritas utama. Karena hal itu menjadi ciri khas lulusan Pondok Pesantren mana pun. Sedangkan bidang keilmuan lain menduduki peringkat secondary, atau sekadar tambahan bekal mengarungi kehidupan dan mengembangkan wawasan keilmuan.
Terciptanya proses pendidikan seperti itu tentu harus didasari kesadaran akan makna hidup dan kehidupan. Para Kyai di Pondok Darussalam Gontor selalu menanamkan suatu pandangan bahwa hidup harus bermakna, “Hidup sekali, hiduplah yang
berarti.” Hidup akan bermakna bila dapat memberi manfaat
kepada orang lain. Semakin besar manfaat seseorang bagi orang lain maka semakin besar nilai kebaikan orang itu. Atau sebagaimana sebuah jargon yang juga selalu ditanamkan bahwa
“Sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat untuk sesamanya.” Dengan ungkapan yang berbeda, “Berjasalah tapi
jangan minta jasa.” Artinya, yang penting itu berbuat dahulu bagi
kemaslahatan orang banyak, lalu biarkan orang lain menilainya, bukan sebaliknya. Betapa pentingnya kesadaran akan nilai-nilai hidup ini sehingga manfaat yang diperoleh oleh setiap santri banyak ditentukan dengan besar kesadarannya akan makna dari proses belajarnya, “Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula
keuntunganmu” sebagai yang dikatakan K.H. Abdullah Syukri
Zarkasyi dalam bukunya.
Dalam perspektif pendidikan modern, menurut Hakimul Ikhwan, Dosen UGM yang sedang belajar S3 Sosiologi University of Essex, UK menyatakan bahwa pendidikan Gontor mengandung setidaknya tiga unsur pendidikan karakter yang diperlukan oleh siswa didik (santri) untuk maju dan berkembang. Pertama adalah pendidikan yang mengembangkan kemampuan bernalar dan berargumentasi yang terkandung dalam pendidikan dan pengajaran bahasa, terutama melalui Bahasa Arab dan Inggris. Kedua adalah kemampuan (skill) bersosialisasi melalui interaksi sosial di asrama dan beragam aktivitas sosial, seni, dan olah raga. Ketiga adalah pendidikan untuk taat dan patuh pada sistem hukum dan norma sosial yang berlaku.
Selanjutnya, pimpinan Pondok Gontor KH. Abdullah Syukri Zarkasyi mengatakan bahwa orientasi pendidikan Pesantren adalah kemasyarakatan. Lingkungan Pesantren diciptakan untuk mendidik santri agar dapat menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bermanfaat. Pendidikan ini
menjadikan alumni Pesantren tidak canggung untuk terjun dan berjuang ke masyarakat. Sehingga, dalam bidang pekerjaan, misalnya, dapat dikatakan tidak ada istilah nganggur (menunggu pekerjaan) bagi tamatan Pesantren pada acara Seminar Jakarta Design Center.
Lain halnya pendapat Fauzan Azim salah satu Staf Pengajar di Pesantren (PPMD) Pasia, Bukit Tinggi selalu ingat bahwa hidup itu perjuangan, karena berani berjuang berarti berani membawa perubahan, maka beranilah mengubah kehidupanmu menjadi lebih baik” Setelah semua orator tampil dengan persiapannya masing-masing sementara waktu latihan masih ada, hal ini sesuai dengan pesan KH. Ahmad Sahal yaitu berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja.
Pendidikan kemasyarakatan tidak berarti terjun langsung dan bergaul dengan masyarakat. Konsep pendidikan bermasyarakat ala Pondok Gontor terintegrasi dalam kegiatan-kegiatan santri untuk mengelola kehidupan mereka sendiri, baik di dalam organisasi dengan ruang lingkup yang luas, seperti OPPM dan Koordinator Gerakan Pramuka maupun organisasi yang lebih kecil seperti asrama, kelas, konsulat, klub bahasa, klub olahraga, klub keterampilan, klub seni, dan lain-lain. Konsep ini dijalankan agar para santri dapat meresapi idealisme bermasyarakat yang baik dan penuh tanggung jawab ketika santri menjadi yang dipimpin atau saat memimpin. Proses pendidikan seperti ini juga memudahkan proses rekayasa lingkungan yang kondusif untuk kondisi-kondisi tertentu, seperti peniadaan
kegiatan ekstra-kurikuler menjelang ujian, penyambutan tamu-tamu Pondok, pekan perkenalan (Khutbatul ‘Arsy), dan lain-lain. Dengan begitu, para santri dapat mengikuti seluruh kegiatan—yang merupakan bagian dari proses pembentukan karakter–dengan baik dan maksimal.
Novan Hariansyah, mahasiswa Pascasarjana Universitas al-Azhar Kairo mengatakan bahwa kegiatan dan gerakan di dalam Pondok Gontor sangat padat, maka pantas jika istilah
al-ma’hadu la yanamu Abadan, yang maknanya bahwa Pondok
tidak pernah sepi dari aktivitas-aktivitas dan gerakan-gerakan yang bermanfaat disematkan pada diri Pondok. Ketika seseorang bergerak dan melakukan sebuah aktivitas maka ia akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Ibarat sebuah dinamo, ketika ia diam, maka ia tidak menghasilkan sesuatu yang bisa dimanfaatkan. Namun ketika ia bergerak, muncul sebuah energi listrik yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Disitulah letak makna berkah sebuah gerakan. Keberkahan dari sebuah gerakan dapat dilihat dari dampak yang ditimbulkan dari sesuatu yang tidak bergerak. Ketika suatu benda tidak bergerak maka ia akan kehilangan berkah yang didapat dari sebuah pergerakan. Bahkan bukan hanya kehilangan berkah, lebih parahnya lagi terkadang ia akan menimbulkan kemudharatan.
Masykur Hasan, salah seorang alumni KMI dan UNIDA Gontor selalu ingat akan pesan kyai di Pesantren Gontor kepada para santri dan guru bahwa dalam pembinaan karakter agar selalu menjaga hubungan baik antar manusia. Kyai juga berpesan supaya
tidak mendasarkan hubungan baik dengan hal-hal material, melainkan hubungan batin yang amat kuat. Hubungan batin yang kuat diwujudkan seperti seorang murid akan senantiasa ingat jasa gurunya selama hayat di kandung badannya; dalam mengamalkan ilmunya selalu berorientasi kepada kebermaknaan bagi orang lain; saling mengingatkan dan menitipkan diri, bersikap toleran, pemaaf dan penyambung silaturahmi, ingat nama gurunya dan caranya mengajar, juga ingat segala jasa baiknya.
Lain halnya menurut Hanif Hafidz, salah seorang kader
Pondok Gontor yang saat ini memaparkan bahwa jika kita harus ikhlas dalam mengerjakan sesuatu. Asalkan kita ikhlas, insya Allah petunjuk dan pertolongan Allah akan datang. Ingat, in
tanshurullah yanshurukum wa yutsabbit aqdamakum (Kalau anda
menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan pendirianmu). Selain itu kita harus kerja keras, kerja sekuat tenaga, ada istilah dari pak kiai, berkerja keras, berpikir keras, bersabar keras dan berdoa keras. Perlu diingat, potensi yang kita miliki, kalau tidak kita gunakan akan mati. Tapi kalau digunakan, insya Allah akan berkembang. Contoh latihan angkat barbel, gerakannya kan sama, tapi kalau dilakukan terus menerus, hasilnya kan semakin kuat, demikian potensi kita. (http://www.yayasantazakka.com-)
Hubungan keikhlasan ini perlu dikekalkan di Pondok Gontor. Sehingga proses pendidikan karakter menjadi cerminan kepribadian dan karakter yang bersumber dari 6 nilai sebagaimana dijelaskan oleh Achmad sanusi, yaitu:1.nilai teologik
(ketuhanan/keberagamaan), 2. nilai fisik-fisiologik (keberadaan dan keberfungsian lingkungan, alam), 3. nilai etika (sopan santun), 4.nilai estetika (tata tertib, kebersihan, keindahan dan keserasian), 5.nilai teleologik (kemanfaatan, kegunaan), 6. nilai logik (ketepatan, kecocokan, benar-salah)
Manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna, baik fisik maupun non-fisik (akal, hati, dll.) Kata makhluk merupakan serapan dari bahasa Arab makhluq, berarti “yang di ciptakan”, dan Allah berlaku sebagai pencipta adalah “khaliq”. Tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Sang Pencipta, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,
Sesungguhnya Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku. (QS Adz-Dzariyat [51]: 56)
Pada titik inilah, manusia berusaha untuk selalu menjaga “hubungan baik” dengan Sang Pencipta. Mereka senantiasa mengikuti apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang sebagai bagian dari beribadah kepada-Nya. Kewajiban beribadah hanya kepada-Nya tidak hanya berimplikasi pada tataran vertikal, tetapi juga pada tataran horizontal.
Pesan KH Hasan Abdullah Sahal yang selau diingat oleh
Anang Rikza Masyhadi, Pimpinan Pondok Modern Tazakka, Jawa Tengah, bahwa “Banyak orang berfikir bagaimana mencari hidup yang lebih baik, tetapi mereka lupa bagaimana mencari mati yang paling baik"
Tidak ada istilah dikotomi akhirat dan dunia dalam beribadah kepada-Nya. Menjaga keberlangsungan kehidupan di
dunia dengan baik merupakan bagian dari ibadah, sebagaimana ibadah-ibadah lainnya yang bersifat ketaatan atau ibadah
mahdhah. Sehingga, menjaga keberlangsungan dunia ini dari
kehancuran yang diakibatkan oleh eksploitasi berlebihan membutuhkan pengembangan ilmu pengetahuan yang tepat guna. Hal ini supaya segala bentuk perkembangan kehidupan menuju hidup yang lebih baik akan berbanding sejajar dengan semakin terjaganya bumi ini dari kehancuran. Demikianlah, pendidikan karakter harus mampu menanamkan nilai fisik-fisiologik, nilai teleologik, dan nilai logik.
Sisi lain dari fitrah manusia adalah sebagai makhluk sosial yang mempunyai ketergantungan pada interaksi sosial. Dalam menjaga hubungan baik antarsesama manusia ini diciptakan norma-norma dan etika-etika yang mendasari hubungan mereka, agar dapat menjaga nilai-nilai baik dan positif di antara mereka. Norma-norma dan etika-etika juga diciptakan untuk mengakomodir fitrah manusia terhadap keindahan, ketertiban, keserasian, dll. Rasulullah Saw. bersabda dalam salah satu hadisnya, “Sesungguhnya Allah itu Indah dan mencintai
keindahan.”
Menurut Mahrus As’ad, dosen PPs STAIN Jurai Siwo Lampung mengatakan bahwa Kulliyatul Mu’allimin Islamiyah (KMI) Pondok Gontor mengedepankan azas ukhuwah, kesederhanaan, dan kemasyarakatan untuk mendasari pendidikan karakternya kepada santrinya agar mampu menyiapkan diri dalam menghadapi tantangan global. Kyai Zarkasyi sendiri tidak pernah
secara eksplisit memberikan alasan mengapa. Namun, dengan menggunakan logika Weberian tidak sulit untuk memperoleh jawabannya, bahwa untuk mampu memasuki kehidupan global, seorang santri memerlukan kesiapan diri dalam bentuk kecukupan modal budaya bersifat moral-etik-spiritual yang selayaknya dimiliki, yang oleh Kyai Zarkasyi dirumuskan dalam cakupan sejumlah nilai-nilai dan sikap perilaku dasar, seperti ditetapkan dalam konstruk pendidikan karakternya. Karena itu, bukan secara kebetulan, bila Kyai Zarkasyi mendesign kurikulumnya sedemikian rupa agar setiap unsur pendukungnya bekerja secara terintegrasi guna memberikan para santrinya kesempatan mengembangkan karakternya secara kuat dan utuh
Berdasarkan keterangan singkat di atas, nilai-nilai inilah yang harus selalu ditempa dan ditanamkan dalam proses pendidikan, baik pada tataran keluarga, lingkungan, maupun sekolah. Sehingga, penanaman nilai-nilai tersebut diharapkan akan menciptakan generasi-generasi penerus bangsa yang, tidak sekadar menguasai bidang keilmuan praktis, melainkan kuat secara karakter diri. Karena karakter yang mengakar kuat akan menjadi benteng dari godaan-godaan menggunakan ilmunya dari hal-hal yang negatif. Maka dari itu, diharapkan santri Pondok Gontor adalah santri yang beriman dan bertakwa serta mampu mengaplikasikan ilmu dan ketakwaannya ke dalam prilaku sehari-hari. Seorang santri yang mampu mengintegrasikan ilmunya yang mereka dapat di kelas atau tempat lain ke dalam praksis kehidupannya.
Memang, perlu disadari bahwa awal pembentukan karakter harus dipaksakan sebelum akhirnya para santri terbiasa menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari, baik selama di Pesantren maupun kelak di kehidupan luar Pondok. Ini berarti, mereka mampu menerapkan hasil hubungan dengan Allah dalam
hablun minan nas dan hablun minal alam. Fakta ini sejalan
dengan teori karakteristik seorang Mukmin yang kompeten yang digagas Hari Suderadjat. Karena proses pendidkan karakter itu adalah sebuah proses panjang yang tidak terputus dari santri, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Bahkan, dalam tidur pun ada banyak peraturan yang harus mereka jalankan, seperti tidur harus memakai celana dan ikat pinggang, atau para pengurus asrama tidak boleh tidur di dalam kamar untuk menjaga anggotanya dari hal-hal yang tidak diinginkan, dan lain-lain.
Pada akhirnya, pendidikan semacam ini mampu menghasilkan santri yang beriman dan bertakwa, serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Karakter mereka akan muncul dalam semangat pantang menyerah dan bekerja keras untuk mencari ilmu dengan mengharap ridha Allah untuk dunia akhirat. Mereka dipersiapkan menjadi pribadi pemaaf dan penolong, bermanfaat bagi orang lain, bersikap toleran dan senang menyambung silaturahmi. Pribadi dan anggota masyarakat yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga memiliki kesalehan sosial, sebagaimana diungkapkan dalam teori pendidikan karakter Dedi Mulyasana. Mereka dididik menjadi santri yang kompeten serta mampu mempertimbangkan aspek
integrasi pengetahuan (ilmu), nilai dan sikap (iman), dan perbuatan (amal). Dalam definisi yang lebih operasional, kompetensi lulusan adalah penguasaan dan pemililikan dalam bidang ilmu pengetahuan (knowledge) dengan nilai-nilai akhlak mulia (attitude) yang dapat diterapkan dalam kehidupan (skill) serta dapat diamalkan secara saleh. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa esensi dari Pesantren adalah pembinaan kepribadian Muhsin, yakni melaksanakan ihsan dengan sebenar-benarnya.
Menurut Thony selaku Direktur Pendidikan dan Pengajaran Pesantren Modern Al-Manar dan Sekretaris IKPM Gontor cab. Aceh menyatakan bahwa karakter islami yang menjadi konsentrasi Islam dalam mendidik generasinya adalah landasan dasar yang kuat untuk membentuk karakter yang berbudi tinggi dan dapat diterima secara universal.
Dalam pembacaan yang lebih cermat, sebenarnya gambaran karateristik santri hasil didikan Pondok Gontor itu hampir sama dengan teori yang dikemukakan oleh Hari Suderadjat. Ia menyatakan bahwa karakter lulusan lembaga pendidikan Islam adalah sebagai berikut: 1) beriman dan bertakwa kepada Allah; 2) memiliki keterampilan berpikir secara ilmiah; 3) selalu mengamalkan ilmunya dalam rangka mengembangkan konsep kebermaknaan bagi banyak orang; 4) mereka memiliki kompetensi untuk memecahkan berbagai masalah dalam kehidupan nyata.
Pernyataan di atas senada dengan harapan dari pendidikan karakter sebagaimana digambarkan pada Pasal 1, ayat 1, UU Sisdiknas, No 20 tahun 2003, yang menyatakan bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif bisa mengembangkan potensi dirinya; untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Gambaran di atas sejalan dengan suasana pendidikan yang diciptakan di Pondok Gontor. Suasana pendidikan islami, yang bisa mendidik siswa selama 24 jam penuh. Siswa menerima pendidikan (pengasuhan) melalui berbagai jenis kegiatan mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Dengan menggunakan sistem Boarding School dan pengelolaan organisasi self
government, nuansa lingkungan Pesantren 100% merupakan
suasana yang mendukung proses pendidikan dan pembelajaran. Pembelajaran yang dikembangkan pun bagian dari pembelajaran yang aktif, bukan pasif. Siswa tidak hanya duduk di dalam kelas dan mendengarkan ceramah dari guru, melainkan aktif melakukan berbagai kegiatan yang mengandung Hiden Curriculum yang sarat dengan nilai-nilai. Dalam hal ini, Hari Suderadjat menyatakan bahwa lulusan yang berkarakter kuat adalah lulusan yang cerdas otaknya, lembut hatinya, dan terampil tangannya. Sementara ukuran keberhasilan dalam membangun karakter dari Pondok Gontor adalah kualitas kebermaknaan. Maka, semakin banyak
kebermaknaan yang bisa ia lakukan untuk orang banyak, semakin baik karakter orang tersebut.
D. Hambatan Kyai Pondok Gontor dalam Penyelenggaraan