makna hidup.
(KH .DR (Hc) Abdullah Syukri Zarkasyi, MA, Pimpinan Pondok Pesantren Gontor) Pendidikan karakter jika ingin efektif dan berhasil diharapkan menyertakan basis desain di
antaranya membuat motto/slogan, Menggunakan konsep pendidikan karakter pada setiap kegiatan dan Pengawasan dan evaluasi.
KH.Masyudi Subari, MA (Direktur KMI Pondok Pesantren Gontor Pusat) Saya mensyukuri hikmah dari pengadilan subyektif itu. Bahkan penghargaan saya terhadap
Pesantren Gontor sama sekali tak pernah menurun,...pola dan nuansa pendidikan Karakter Pesantren Gontor adalah contoh
kongkret dari banyak hal.
(Emha Ainun Nadjib, Kiai Kanjeng, Budayawan asal Yogyakarta)
Pendidikan Pondok Pesantren adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim (karakter), yaitu kepribadian beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia,
bermanfaat bagi masyarakat.
(Prof.Dr. H.Syaripudin Basyar, M.Ag , Guru Besar IAIN Raden Intan dan STAIN Jurai Siwo lampung)
Pondok Pesantren salah satu lembaga yang mempunyai peran signifikan dan kontribusi besar dalam pembentukan dan pembangunan karakter
dan kapasitas bangsa.
Dr. H.Sofwan Manaf, M.Si (Pimpinan Pesantren Darunnajah Jakarta) Pondok Pesantren menerapkan totalitas pendidikan karakter dengan mengandalkan
keteladanan, penciptaan lingkungan dan pembiasaan melalui berbagai tugas dan kegiatan.
(Drs. Mustajab Shobari, Pusat Latihan Dakwah Hikmah, Kuching Sarawak Malaysia) Karakter pantang menyerah dan kemampuan para santri untuk bangkit dari
keterpurukan menjadikan mereka tangguh saat hidup dalam dunia nyata di masyarakat.
(Akbar Zainudin, MM, Penulis buku dan Pengelola Pelatihan “Man Jadda Wajada”) Di Pondok Gontor diberlakukan disiplin dalam rangka membentuk karakter pribadi menjadi
muslim yang muhsin sehingga membekas setelah pulang ke Thailand (Rosen Sunloh, Staf Pengajar Ulumuddeen Thailand) media tama
wafi
Jl. Ir. H. Juanda No. 27e Ciputat, Tangerang Selatan Kantor Pemasaran
Perum Vila Pamulang Jl. Angsana I DJ 7 / 23 Pondok Petir, Depok
Telp. 021 - 9508 8371
ISBN: 978-602-1146-38-5
PENDIDIKAN KARAKTER
BELAJAR ALA PESANTREN
Dr. M. Ihsan Dacholfany, M.Ed
GONTOR
GONTOR
media tama wafi
SAMBUTAN : KH.Hasan Abdullah Sahal)
(Pimpinan Pondok Gontor) PENGANTAR :
Dr. Hidayat Nur Wahid, MA
(Pengurus Badan Wakaf Pesantren Gontor)
Prof.Dr. H. Acmad Sanusi, M.PH
(Guru Besar UPI dan Direktur PPs Univ.Islam Nusantara)
san D ac ho lfa ny, M.E d Pe ndi di ka n K ara kte r, B ela ja r a la P es an tre n GO NT O R
BAGIAN I PENDAHULUAN
Pendidikan adalah modal dasar pembangunan yang akan menentukan kemajuan dan perkembangan suatu bangsa. Dengan pendidikan, potensi dan sumber daya individu dapat dikembangkan. Demikian pula dengan pendidikan diharapkan akan terbina kepribadian manusia yang sadar akan tanggung jawabnya sebagai individu, makhluk susila, makhluk sosial, dan makhluk beragama sehingga memiliki karakter yang baik dan bermartabat. Oleh karena itu, pendidikan harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan bangsa menuju Indonesia yang lebih baik, maju, dan berkembang di masa mendatang.
Dalam pasal 1, UU Sisdiknas, No. 20, Tahun 2003, dinyatakan bahwa:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Saat ini, kita menyaksikan bangsa Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan, integritas, dan
moral. Krisis kepemimpinan ditandai dengan beberapa ciri: 1) tidak menjadi teladan bagi orang-orang yang dipimpin; 2) menggunakan kekuasaan dan kewenangan untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan; 3) tidak berpihak kepada kepentingan rakyat; 4) menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi; 5) tidak bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan; 6) tidak merasa malu terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Jika ditelaah lebih jauh, krisis kepemimpinan tersebut muncul akibat adanya split personality dalam diri seseorang. Secara sederhana, split personality berarti memiliki kepribadian ganda. Misalnya, di satu satu sisi, sebagai umat beragama seseorang bisa saja rajin beribadah. Tetapi di sisi lain justru perilakunya tidak mencerminkan akhlak yang dianjurkan agamanya. Seluruh aktivitas ibadah yang dilakukannya tidak memengaruhi perilaku sehari-hari. Split personality tersebut salah satunya diakibatkan oleh adanya sistem pendidikan yang memisahkan antara materi pendidikan agama dengan materi pendidikan lainnya serta tidak mengamalkannya.
Menurut Ketua Perguruan Ar-Rafi Bandung, Hari
Suderadjat, split personality atau orang munafik itu
disebabkan tidak adanya kesatuan antara ucapan (ilmu), sistem nilai (iman), dan perbuatan (amal). Padahal, dalam
firman Allah ditegaskan agar orang-orang beriman masuk ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan) serta dilarang mengikuti langkah-langkah setan (Lihat QS Al-Baqarah [2]: 208). Oleh karena itu, selayaknya pembelajaran agama terintregasi pada semua mata pelajaran, baik dari tingkat PAUD/TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi. Pembelajaran materi lain seperti matematika, biologi, fisika, kimia dan lain-lain, seharusnya menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Sehingga akan dihasilkan para lulusan yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan seluruh sikap dan perilaku, yang diwujudkan dalam bentuk nilai-nilai moral.
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam sesi seminar menyampaikan bahwa krisis yang melanda dunia saat ini sama dengan krisis yang melanda Indonesia pada 1998, yang berakar dari krisis moral yakni terjadinya kolusi dan korupsi yang berlebihan. Dikatakannya, karena krisis dunia ini berakar dari krisis moral, maka perlu diselesaikan secara moral, sebelum ada penyelesaian secara teknis manajerial. Karena episentrum krisis dunia ini berpusat di jantung perekonomian dunia baik di Amerika maupun Eropa, maka imbasnya menjalar ke seluruh dunia ( http://lakpesdam.org-), sedangkan menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin, Indonesia perlu sebuah terobosan besar untuk
mengatasi krisis moral dan korupsi yang menjangkiti semua elite bangsa (http://sps.uhamka.ac.id)
Dalam usaha menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki integritas syarat dengan nilai-nilai agama dan moral, pemerintah membentuk berbagai lembaga pendidikan baik formal maupun non formal. Pemerintah juga membantu pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat, seperti Pondok Pesantren, pusat-pusat kajian, jamaah pengajian, dan lain-lain. Usaha peningkatan lembaga pendidikan ini sangat diperlukan, dan harus dilakukan secara simultan melalui tiga hal penting yang saling berhubungan; masukan (input), proses (process), dan hasil (output).
Menurut Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Kementrian Pendidikan Nasional, Baedhowi, peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama, bukan hanya tanggung jawab lembaga pendidikan, guru, dan siswa. Tetapi menjadi tanggungjawab masyarakat dan pemerintah (27 Mei 2011).
Di dalam Pasal 3 UU tersebut dinyatakan dengan jelas tentang fungsi pendidikan nasional, yaitu:
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Jauh sebelumnya, Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara, secara filosofis menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan tumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran, dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita. Dengan demikian, hakikat, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional tersebut mengisyaratkan, melalui pendidikan hendak diwujudkan peserta didik yang secara utuh memiliki berbagai kecerdasan, baik kecerdasan spiritual, emosional, sosial, intelektual maupun kecerdasan kinestetika. Sehingga pendidikan nasional mempunyai misi mulia terhadap individu peserta didik.
Di luar kegiatan tersebut, sudah banyak sekolah unggulan yang mengembangkan karakter secara terpadu dalam pelaksanaan pendidikan. Begitu pula tidak sedikit lembaga pendidikan sederhana seperti Pondok Pesantren di pedesaan yang mampu menumbuhkembangkan karakter peserta didik. Pengembangan pendidikan karakter dilakukan dalam budaya sekolah melalui pembiasaan
kehidupan keseharian di sekolah/Pondok, didukung oleh seorang Pimpinan atau guru/ustadz yang menjadi teladan utama sekaligus sebagai kunci sukses.
Sofyan Sauri, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, mengatakan bahwa Pendidikan karakter adalah pendidikan utama yang diajarkan di lingkungan Pesantren. Alasannya, hal yang penting dalam hidup adalah karakter seseorang. Dengan karakter yang baik, seseorang akan memiliki keterampilan baik serta memiliki jiwa dan kehidupan yang baik, banyak alumni Pesantren menduduki posisi penting di lingkungan masyarakatnya dan peranan dalam usaha pembinaan karakter dan mempertahankan eksistensi ummat Islam serta memberikan pengaruh terhadap sumber daya manusia di Indonesia.
Menurut Doni Koesoema, pada saat ini banyak sekolah di Indonesia yang sudah mengembangkan pendidikan karakter dan mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Seperti Sekolah Al-Azhar, Al-Kausar,
Jakarta Islamic School yang telah menanamkan karakter
pendidikan Islam yang kuat. Tantangan ke depan adalah bagaimana kesuksesan itu membangun pendidikan karakter yang mampu menyentuh semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan di Indonesia. Secara akademik, Lickona memaparkan bahwa pendidikan karakter
dimaknai sebagai pendidikan nilai, budi pekerti, moral, dan watak. Tujuannya adalah mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.
Selanjutnya, Ary Ginanjar Agustian pendidikan merupakan upaya memanusiakan manusia dengan mengupayakan kemampuan dalam bentuk potensi individu. Sehingga manusia bisa hidup optimal baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat, serta memiliki nilai-nilai moral dan sosial sebagai pedoman hidupnya. Namun demikian, yang terpenting yaitu membentuk keutuhan sebagai manusia yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha kuasa sebagai Khalifah di muka bumi agar berakhlak karimah, bermasyarakat dengan baik, serta berpendidikan luas baik secara spiritual maupun emosional, dengan begitu akan tercapai manusia seutuhnya di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tidak kalah penting apa yang disampaikan Guru Besar UIN Bandung, Ahmad Tafsir bahwa pendidikan menuntut keterlibatan semua pihak dalam mendidik para generasi penerus bangsa. Hal ini supaya para generasi tersebut mempunyai bekal yang cukup baik akademik maupun non-akademik (karakter dan mental yang kuat).
Karena itu, dalam dunia pendidikan kita dikenal istilah “Tri Pusat Pendidikan” yang berfungsi sebagai salah satu konsep dasar pendidikan. Istilah ini, menurut Sofyan Sauri pertama kali digunakan oleh Ki Hadjar Dewantara dalam menyebut lingkungan pendidikan, yaitu: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga elemen ini memiliki peran penting bagi keberhasilan pendidikan anak.
Akan tetapi, pada kenyataannya Tri Pusat Pendidikan ini seringkali tidak saling mendukung untuk menyukseskan pendidikan anak. Para orang tua dan masyarakat yang seharusnya ikut mendukung dan menyukseskan program tersebut tidak jarang terlalu mengandalkan sekolah sebagai pendidik anak-anak mereka. Sedangkan di sekolah, kepala sekolah dan para guru seringkali tidak mampu mencerminkan sebagai pendidik yang baik dalam keseharian mereka. Jika keadaan semacam ini dibiarkan terus-menerus, akan mengakibatkan tercetaknya generasi-generasi split personality sebagaimana diterangkan di atas.
Beberapa faktor yang memengaruhi permasalahan di atas bisa jadi karena para guru hanya sekadar menjadi pengajar yang baik, tetapi tidak mampu menjadi pendidik yang baik. Mereka cenderung mengandalkan lingkungan masyarakat dan rumah sebagai pendidik anak-anak. Lantas, bagaimana akan terdidik karakter yang baik jika
para pemimpin mereka di sekolah tidak menunjukkan perilaku yang layak untuk ditiru atau layak dijadikan teladan. Lebih tragis lagi ketika apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, dan apa yang mereka rasakan di lingkungan dan rumah tidak jauh berbeda dengan lingkungan sekolah. Anak-anak terlalu sering merekam penggunaan bahasa “kasar,” menyaksikan ketidaksopanan dan ketidaksantunan dalam berperilaku, minimnya teladan penghormatan kepada yang lebih tua, ingkar janji dan kemalasan beragama. Semua ini menjadi santapan mereka sehari-hari. Akankah kita mengharapkan mereka memiliki perangai dan karakter yang baik jika orang-orang yang lebih tua yang nota bene merupakan para pemimpin mereka tidak menunjukkan dan mencontohkannya ?.
Selayaknya pendidikan dan pengajaran yang telah dijalani para orang tua, guru, dan masyarakat yang ada di sekitar anak-anak mampu membentuk karakter yang baik dan kuat dalam keseharian mereka. Bahasa yang santun, menepati janji, menghormati yang lebih tua, sopan dan santun dalam berperilaku, taat beragama, dan lain sebagainya merupakan bagian dari karakter yang seharusnya dilihat dan ditiru oleh anak-anak. Dari sini diharapkan lahirnya akhlaqul karimah yang akan menjadi contoh bagi anak-anak mereka.
Di lain sebab, problematika Tri Pusat Pendidikan sebagaimana diterangkan di atas yang menjadikan pembentukan karakter anak ini terkadang diserap secara tidak efektif. Hal ini juga menjadi penyebab munculnya kecenderungan split personality. Di satu sisi mereka sangat patuh dan taat, tetapi di sisi lain mereka berubah dari kepatuhan menjadi pembangkangan, dari ketaatan menjadi pelanggaran. Maka dari itu, pendidikan yang berlatar belakang Pondok Pesantren mempunyai peranan penting dalam menumbuhkembangkan akhlak seseorang dalam berperilaku terhadap sesamanya. Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan alternatif yang menitikberatkan pengajarannya pada nilai-nilai islami. Selain itu, sebagai institusi pendidikan Islam tertua di tanah air, Pesantren juga memberikan andil besar dalam mencerdaskan kehidupan umat dan bangsa. Dari “rahim” Pesantren lahir tokoh-tokoh masyarakat, ulama, kaum intelektual, dan pemimpin-pemimpin bangsa. Akan tetapi, pada era globalisasi ini, Pesantren justru terkesan sebagai lembaga “kumuh,” dan bukan ‘pilihan’ populer dibandingkan sekolah-sekolah modern yang banyak bermunculan.
Sampai saat ini jumlah Pesantren di Indonesia mencapai 16.015 Pondok Pesantren yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Berdasarkan tipe Pondok Pesantren,
terdapat sebanyak 3.991 (24,9%) Pondok Pesantren salafiyah; 3.824 (23,9%) Pondok Pesantren modern; 8.200 (51,2%) Pondok Pesantren kombinasi. Adapun jumlah santri secara keseluruhan sebanyak 3.190.394, terdiri dari: 1.696.494 (53,2%) santri laki-laki, dan 1.493.900 (46,8%) santri perempuan. Sedangkan menurut pilihan aktivitas belajar santri di Pondok Pesantren, di antaranya: 38,2% santri mengaji, dan 61,8% santri mengaji dan sekolah.
Berkaitan dengan masalah di atas, Kementrian Agama RI mengemukakan, akhir-akhir ini ada tiga Pondok Pesantren yang tutup yakni Tarbiyatul Quran di Sodo, Kecamatan Paliyan, Syaroful Ummah di Ledoksari Wonosari dan Nurul ihsan di Ledutupoksari, Wonosari, Kementerian Agama Gunungkidul menyebut salah satu penyebabnya karena kurang minat warga mengenyam pendidikan di Pesantren. (http://www.solopos.com/2013/Pondok-Pesantren-ditutup)
Faktor utama penyebab tutupnya Pondok Pesantren lebih karena manajemen pengelolaan dan gaya kepemimpinan kyai pengelola Pondok Pesantren tersebut, terutama tipe Pesantren salafiyah.
Meskipun telah terjadi perubahan dalam sistem pendidikan dan pengajaran, dan telah dilakukan penyesuaian-penyesuaian dengan peraturan Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), namun Pesantren tetap dalam kulturnya sendiri. Sebagai salah satu institusi
pendidikan tradisional di Indonesia, Pesantren tetap menekankan pentingnya tradisi keislaman di tengah-tengah kehidupan masyarakat sekaligus menjadi sumber utama moral dan akhlak.
Secara historis, Pesantren telah ada sejak 300 - 400 tahun yang lalu, dan telah menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat Muslim Indonesia. Keberadaannya juga memiliki peranan sebagai salah satu benteng perlawanan terhadap kolonialisme dan feodalisme. Peranan multifungsi Pesantren di Indonesia ini dimulai sejak perang melawan penjajah di era kolonialisme, hingga menjadi penyumbang pemikiran konstruktif dalam pembangunan bangsa di era globalisasi. Dengan demikian, keunggulan Pesantren terletak pada prinsip “memanusiakan manusia” dalam proses pembelajarannya, dan menggabungkan Tri Pusat Pendidikan dalam lingkungannya agar mampu mencetak para santri yang memiliki karakter kuat, baik dari sisi keilmuan agama, umum, maupun perilaku sehari-hari. Dengan kata lain, jika dalam pendidikan formal lebih berorientasi pada pencapaian akademik dan raport atau materi semata, di Pesantren lebih ditekankan pada pembinaan karakter dan keteladanan guru. Inilah kondisi ideal bagi pembentukan karakter generasi penerus bangsa, sebagaimana menjadi pusat perhatian pendidik saat ini.
Adapun urgensi dari pelaksanaan komitmen nasional pendidikan karakter telah dinyatakan dalam Sarasehan Nasional bertajuk “Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa Sebagai Kesepakatan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.” Pada tanggal 14 Januari 2010. Sarasehan tersebut menghasilkan kesimpulan antara lain sebagai berikut:
1. Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari pendidikan nasional.
2. Pendidikan budaya dan karakter bangsa harus dikembangkan dan diwadahi secara komprehensif sebagai proses pembudayaan.
3. Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, sekolah, dan orang tua. 4. Dalam upaya merevitalisasi pendidikan dan
budaya karakter bangsa diperlukan gerakan nasional guna menggugah semangat kebersamaan dalam pelaksanaan di lapangan.
Dalam sambutan Menteri Agama RI pada peringatan Hari Amal Bakti Ke 65, tanggal 3 Januari 2011, beliau mengatakan bahwa peran Kementerian Agama ke depan semakin penting dan strategis karena sesuai dengan rekomendasi National Summit 2009. Rekomendasi tersebut berisi seputar isu utama pembangunan agama setidaknya mencakup tiga hal, yaitu: 1) peningkatan wawasan keagamaan yang dinamis; 2) penguatan peran
agama dalam pembentukan karakter dan peradaban bangsa; 3) peningkatan kerukunan umat beragama dalam membangun kerukunan nasional.
Dalam hal ini, Pesantren menyuguhkan beragam cara dalam membangun pendidikan karakter bagi para santri. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh pimpinan Pondok Gontor, Abdullah Syukri Zarkasyi:
Kegiatan ubudiah terwujud melalui shalat, tahajud, puasa sunah, zikir, dan wirid. Juga ada kegiatan belajar-mengajar, kegiatan organisasi, pidato, pramuka, dan kegiatan lainnya. Di Pesantren, pendidikan karakter berjalan melalui kegiatan yang syarat dengan muatan akhlak mulia dan filsafat hidup, termasuk memberikan pemahaman tentang makna hidup.
Apa yang disampaikan di atas semuanya menyentuh hati para santri sekaligus membuat etos kerja serta mental mereka semakin baik. Di dunia Pesantren, santri tidak hanya diajari berbagai mata pelajaran, mereka pun dibimbing untuk meniti kehidupan. Pelajaran tentang arti kehidupan inilah yang sebetulnya merupakan wujud pendidikan karakter di Pesantren.
Menurut Guru Besar IAIN Raden Intan Lampung,
Syaripudin Basyar bahwa pendidikan Pesantren bertujuan menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim (karakter santri), yaitu kepribadian beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, bermanfaat bagi
masyarakat atau berkhidmat kepada masyarakat dengan jadi abdi masyarakat, yaitu menjadi pelayan masyarakat sebagaimana kepribadian Nabi Muhammad SAW (mengikuti sunah Nabi), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia.
Menanggapi masalah di atas, Sapriya berargumen bahwa pendidikan karakter bangsa sangat penting untuk mengembangkan generasi muda Indonesia, hingga menghasilkan generasi yang beretika dan berbudi pekerti. Pendidikan karakter adalah gerbong untuk menanamkan karakter mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Penulis sendiri sependapat dengan Sapriya, pendidikan karakter hendaknya dilakukan sejak dini sebab akan berpengaruh pada waktu dewasa kelak, dan akan membekas dalam diri anak.
Lebih gamblang, Abdullah Syukri Zarkasyi mengatakan:
Pendidikan karakter adalah pendidikan utama yang diajarkan di lingkungan Pesantren. Alasannya, hal yang penting dalam hidup seseorang adalah karakter. Dengan karakter yang baik, seseorang akan memiliki keterampilan baik serta memiliki jiwa dan kehidupan yang baik. Banyak alumni Pesantren menduduki posisi
penting di lingkungan masyarakatnya dan peranan dalam usaha pembinaan karakter serta mempertahankan eksistensi umat Islam. Mereka memberikan pengaruh terhadap sumber daya manusia di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, banyak alumni Pondok Pesantren menjadi tokoh agama, ilmuwan, bahkan wirausahawan, mulai kepala desa, bupati, politisi, anggota DPR, duta besar, menteri. Juga ada yang memegang posisi sebagai pimpinan DPR dan MPR, dan Presiden. Apa pun jabatan seseorang, tentu akan memiliki pengaruh terhadap orang lain. Maka dari itu, karakter seseorang perlu dibina dan dibimbing, terlebih di dalam kehidupan Pesantren. Sebab, santri setelah tamat akan menghadapi dunia nyata yang jauh berbeda dari dunia Pesantren.
Dalam konteks Pondok Pesantren, perubahan dari yang semula hanya tempat belajar-mengajar agama Islam menjadi pusat kegiatan multifungsi membawa implikasi pada perluasan fungsi. Di antaranya pembinaan karakter santri dengan nilai-nilai Islami sehingga menjadi insan sempurna. Dengan harapan, nantinya dapat bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, agama, dan negaranya.
Pendidikan karakter di Pesantren pada mulanya dari kepemimpinan seorang kyai. Gaya kepemimpinan yang digunakan kyai dalam mendidik peserta didik tersebut diharapkan mampu mengubah peserta didik dalam
mengamalkan ajaran dan nilai-nilai pendidikan. Misalnya visi, misi, jiwa Pondok Pesantren, motto, orientasi, falsafah, sistem, kegiatan Pesantren, dan lain sebagainya.
Dalam hal inovasi, kepemimpinan kyai termasuk ke dalam kategori leggard atau penerima inovasi golongan akhir. Kecederungan tersebut terkait dengan keragaman latar belakang dan dasar keilmuan para kyai. Di beberapa Pondok Pesantren, kyai cenderung memandang perubahan sebagai salah satu ancaman yang dapat memengaruhi visi dan misi pendidikan Pondok Pesantren. Sebagai pemimpin Pondok Pesantren, seorang kyai memiliki tugas pokok membimbing pelajaran agama Islam di Pondok Pesantren. Selain itu, kyai juga menjadi rujukan bagi santri dan pendukungnya. Segala kebijakan yang dituangkan dalam ucapan-ucapannya seringkali dijadikan pegangan. Sikap dan tingkah laku keseharian seorang kyai dijadikan referensi atau panutan. Bahasa-bahasa kiasan yang dilontarkannya menjadi bahan renungan bagi santri dan para pengikutnya.
Posisi kyai yang serba menguntungkan itu membentuk mekanisme kerja Pondok Pesantren, baik yang berkaitan dengan struktur organisasi dan kepemimpinan maupun arah kebijakan pengembangan kelembagaan Pondok Pesantren. Kyai sebagai pucuk pimpinan bertugas
mengatur, mengelola, dan menata Pesantren sehingga menjadi baik dan sempurna.
Abdullah Syukri Zarkasyi secara lebih tegas mengatakan:
Besarnya peran yang dilakukan oleh kyai Pesantren tersebut bukan suatu kebetulan, tetapi ada nilai yang mendasarinya. Dimensi soft skill yang berpengaruh terhadap kinerja individu dan organisasi, yaitu nilai, keyakinan, budaya, dan norma perilaku. Nilai-nilai adalah pembentuk budaya, dan merupakan dasar bagi perubahan kehidupan pribadi atau kelompok.
Posisi kyai sebagai pemimpin di Pesantren dituntut untuk memegang teguh nilai-nilai luhur yang Islami, yang menjadi acuan dalam bersikap, bertindak, dan mengembangkan Pesantren. Nilai-nilai luhur menjadi keyakinan kyai dalam hidupnya. Sehingga, apabila dalam memimpin Pesantren bertentangan atau menyimpang dari nilai-nilai luhur Islami yang diyakininya, langsung maupun tidak langsung, kepercayaan masyarakat terhadap kyai atau Pesantren akan pudar.
Menurut Hasyim Muzadi bahwa keberadaan kyai sebagai pemimpin Pesantren sangat unik untuk diteliti. Hal ini jika dilihat dari sudut tugas dan fungsi seorang kyai tidak sekadar menyusun kurikulum, membuat sistem evaluasi, dan menyusun tata tertib lembaga. Seorang kyai juga menata kehidupan seluruh komunitas Pesantren,
sekaligus sebagai pembina warga Pesantren dan masyarakat. Oleh karena itu, sebagai elemen yang sangat esensial dari Pesantren, seorang kyai dituntut memiliki kebijaksanaan dan wawasan yang luas, terampil dalam ilmu-ilmu agama, dan menjadi suri teladan pemimpin yang baik. Bahkan, keberadaan kyai sering dikaitkan dengan fenomena kekuasaan yang bersifat supranatural. Figur seorang kyai dianggap sebagai pewaris risalah kenabian, Nurcholis Madjid sepakat bahwa keberadaan kyai nyaris dikaitkan dengan sosok yang memiliki hubungan dekat dengan Tuhan.
Dengan demikian, menurut Dhofier bahwa pertumbuhan suatu Pesantren sangat tergantung pada kemampuan pribadi kyainya.Terlebih pada saat intensitas dan frekuwensi perubahan yang sangat tinggi seperti pada abad ke-21 ini. Maka, di samping manajemen yang baik juga diperlukan kapasitas dan kualifikasi kepemimpinan yang handal. Manajemen Pondok Pesantren tidak dapat dilepaskan dari isu pembaharuan dan perubahan. Hal ini sebagaimana ungkapan Abdullah Syukri Zarkasyi bahwa pembaharuan Pondok Pesantren dapat terjadi pada aspek-aspek seperti: (1) orientasi; (2) gaya kepemimpinan; (3) sistem suksesi kepemimpinan; (4) mutu pelayanan pendidikannya.
Adapun salah satu ciri penting Pondok Pesantren adalah ditempatkannya kyai pada posisi tertinggi. Ciri ini tampak, misalnya, dalam pola hubungan antara kyai dengan santri, guru, dan masyarakat di sekitarnya. Para santri patuh dan taat kepada kyai. Apa yang difatwakan kyai biasanya selalu diikuti, bahkan pola hubungan tersebut telah diwujudkan ke dalam suatu doktrin sami’na
wa atha’na (kami mendengar dan kami patuh).
Menurut Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Aziz Fahrurrozi bahwa Persoalan kaderisasi bukan hanya persoalan kelangsungan (sustainable) melainkan kesanggupan mencetak pemimpin yang berbasis menejemen sifat kenabian yaitu sidiq, amanah,
tablig dan fathonah.Indonesia dewasa ini sedang
kehilangan tokoh pemimpin yang mempunyai karakter the
dancing leader, yakni tokoh pemimpin yang tegas dan
luwes bukan hanya melanjutkan masa lalu tanpa keberdayaan. Sekarang ini kita sedang kehilangan semua sifat kenabian itu dan Pesantren harus mampu mengawal kembalinya semua sifat nabi itu untuk hadir memimpin menjadi insan beradab, berwibawa, dan bermartabat.
Menurut siapa: .... Lain halnya dengan Pondok Gontor yang telah memiliki sistem kaderisasi, walaupun Kyai Trimurti (pendiri Pesantren) sudah meninggal, nama besarnya tetap dikenal dan dikenang oleh masyarakat,
meski kepemimpinan kyai telah mengalami pergantian generasi, tetapi tetap tidak melupakan kebijakan kepemimpinan Kyai Trimurti ketika masih hidup.
Akan tetapi, tidak ada salahnya jika ada perubahan kebijakan yang dilakukan generasi penerus atau kader pemimpin untuk mengelola Pondok Pesantren, justru terkadang sangat diperlukan. Misalnya, perubahan kebijakan dalam membangun pendidikan yang agamis dan sesuai dengan tuntutan zaman serta pola pembinaan karakter santri. Hal itu sangat diperlukan dalam rangka menanamkan nilai-nilai islami sehingga dapat membendung kerusakan akhlak serta memberikan semangat perjuangan dan pengorbanan agama.
Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, Pondok Pesantren sudah memberikan kemampuannya dalam membina dan mencetak ulama-umara dan telah berjasa mencerdaskan masyarakat Indonesia. Selain tugas utamanya mencetak dan membina kader ulama, Pondok Pesantren juga telah berhasil menjadi pusat kegiatan pendidikan yang memberikan semangat jiwa
keikhlasan, kewirausahaan, tidak menggantungkan hidup kepada orang lain, dan lain sebagainya.
Sedangkan Umar Samsudin, dosen STAI Binamadani Tangerang, mengatakan bahwa Sebagai
subsistem pendidikan nasional, Pesantren mempunyai peran penting dalam memenuhi kebutuhan nasional melalui upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional. Hal ini dapat dilakukan Pesantren secara terus menerus, karena Pesantren mampu mempertahankan identitasnya disatu pihak dan terbuka bagi kemajuan ilmu dan teknologi dipihak lainya, dalam rangka mencapai cita-cita nasional.
Eksistensi Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan sampai sekarang masih diakui, bahkan semakin memainkan peranannya di tengah-tengah masyarakat. Semua itu dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang handal dan berkualitas. Kendati demikian, bukan berarti Pondok Pesantren luput dari berbagai halangan dan kendala yang dihadapi. Akibat semakin meningkatnya kebutuhan pembangunan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kendala dan ujian yang dihadapinya pun semakin komplek dan mendesak. Tantangan dan halangan ini pun menyebabkan terjadinya pergeseran nilai, dan memaksa Pondok Pesantren untuk mencari bentuk baru yang sesuai dengan kebutuhan bangunan ilmu pengetahuan. Tetapi semua itu digali tanpa mengesampingkan kandungan keimanan dan ketakwaan kepada Allah serta nilai-nilai pendidikan yang ada di Pondok Pesantren tersebut.
Memang, diakui atau tidak pendidikan Pondok Pesantren sebelumnya hanya menekankan pada pengajaran keagamaan semata. Bahkan, sebagian dari ilmunya pun belum teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, untuk mengikuti perkembangan zaman sekaligus membendung kerusakan moral manusia, selayaknya Pondok Pesantren mulai membangun dan membina karakter santri dengan nilai-nilai islami dan memajukan sumber daya manusianya. Maka, hal yang tidak kalah penting dari proses pendidikan karakter di Pesantren salah satunya ditentukan oleh gaya kepemimpinan kyai di Pesantren. Sehingga, stigma negatif dari Pesantren dapat ditangkal dengan realitas yang berbeda.
Sungguh sangat disayangkan, saat ini masih banyak Pondok Pesantren yang mana pemimpinnya lebih banyak beraktivitas di luar hanya untuk membesarkan namanya. Di dalam Pesantrennya sendiri ia hanya berlaku sekadar menjadi manager administratif, dan tugas-tugas ke Pesantrenan hanya diwakilkan pada guru-guru muda yang masih minim pengalaman. Memang, Pondok Pesantren pun kemudian menjadi terkenal karena aktivitas pimpinannya yang sering keluar berdakwah. Akan tetapi, kondisi proses pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren kurang diperhatikan. Alhasil, tidak ada
kebersamaan, pengarahan langsung dari pimpinan, dan minimnya keteladanan sang kyai untuk para santri.
Kondisi demikian ini dapat dikatakan sebagai tidak mendukung proses pendidikan karakter melalui rekayasa lingkungan. Padahal, hal tersebut merupakan salah satu faktor pendukung dalam Tri Pusat Pendidikan sebagaimana telah dijelaskan di atas. Karena untuk dapat melakukan peran penting dalam pendidikan, Pondok Pesantren harus terus-menerus melakukan pengembangan dan pembenahan ke dalam. Di dalam pembinaan karakter santri terkandung pendidikan nilai-nilai kePesantrenan, dan setiap Pesantren memiliki ciri khas masing-masing, seperti visi, misi, metodologi, teknologi, dan aktivitas pendidikan lainnya. Dalam hal ini seorang kyai atau pengelola Pondok Pesantren harus memiliki strategi agar mampu bersaing dan berkompetisi secara positif. Paling tidak mampu mengejar ketertingggalan dengan berpedoman pada “menjaga yang lama dan masih layak;
mengambil yang baru yang lebih baik”.
Menurut Dosen Senior STAIN Jurai Siwo lampung yang juga Ketua MUI, M. Sholeh mengatakan bahwa Pondok Pesantren dinilai masih sangat efektif sebagai benteng pertahanan moral, sekaligus pusat pembangunan akhlak sehingga terbentuk pendidikan karakter bangsa
dengan pola pembinaan dilangsungkan selama 24 jam (dari tidur sampai tidur lagi).
Pondok Pesantren telah banyak memberikan kontribusi positif dalam pembangunan bangsa Indonesia. Baik di pemerintahan maupun di luar pemerintahan. Mereka adalah pemimpin besar dengan karakter keislaman yang kuat. Kualitas karakter lulusan Pondok Pesantren sangat dipengaruhi oleh kualitas manajemen dari lembaga Pesantren tersebut. Banyak Pondok Pesantren yang akhirnya bubar karena kesalahan manajemen. Sementara itu, kualitas manajemen lembaga Pondok Pesantren sangat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan kyai. Maka dari itu, untuk meningkatkan kualitas manajemen Pondok Pesantren, sangat diperlukan kajian dan tulisan dengan fokus masalah tentang gaya kepemimpinan kyai, terutama dalam konteks pendidikan karakter.[]
BAGIAN II
A. Sejarah Pondok Gontor
Pondok Modern Darussalam Gontor didirikan pada hari Senin, 12 Rabi'ul Awwal 1345/20 September 1926 oleh tiga bersaudara, yaitu K.H. Ahmad Sahal (1901-1977), K.H. Zainuddin Fannani (1905-1967), dan K.H. Imam Zarkasyi (1910-1985). Tiga bersaudara ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan “Trimurti”.
Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, atau biasa disingkat menjadi Pondok Modern Gontor atau Pondok Gontor merupakan kelanjutan dari Pesantren Tegalsari. Sebuah desa terpencil yang terletak 10 km di sebelah selatan pusat kerajaan Wengker di Ponorogo. Jika dicermati lebih jauh, Pesantren Tegalsari ini telah melahirkan para kyai, ulama, pemimpin, dan tokoh-tokoh masyarakat yang ikut berkiprah dalam membangun bangsa.
Menurut Yunus Aboe Bakar alumni Gontor mengatakan beberapa kyai dan pengasuh Pesantren, terutama di Jawa Timur mengatakan bahwa mereka adalah keturunan keluarga Pondok Tegalsari. Di antaranya adalah istri K.H. Hasyim Asy‘ari yang bernama Ny. Nafiqah—yang memiliki 10 anak, di antaranya K. H. A. Wahid Hasyim, kemudian menurunkan K.H Abdurrahman Wahid—keturunan dari K. H Ilyas Pondok Pesantren Sewulan Madiun termasuk kerabat K. H. Masykur, mantan
Menteri Agama RI. Pondok Pesantren Sewulan didirikan oleh santri sekaligus menantu dari Pesantren Tegalsari. Dari alur inilah pertemuan geneologis Pondok Gontor Ponorogo dengan Pesantren Tebuireng Jombang.
Gontor, sebuah kampung yang terletak lebih kurang 3 kilometer sebelah timur Tegalsari dan 11 kilometer ke arah tenggara dari kota Ponorogo. Pada saat itu Gontor masih kawasan hutan yang belum banyak didatangi orang. Bahkan, hutan ini dikenal sebagai tempat persembunyian para perampok, penjahat, penyamun, pemabuk, dan orang-orang yang berperangai kotor atau buruk. Karena itu, menurut riwayat kawasan tersebut dijuluki sebagai “tempat kotor,” atau dalam bahasa Jawa disebut enggon kotor. Penggabungan dua susunan kata dalam bahasa Jawa “nggon” dan “kotor” menjadi nama desa “Gontor”. Di desa tersebut, Pesantren yang didirikan Kyai Sulaiman Jamaluddin itu kemudian dikenal dengan sebutan Pondok Gontor sebagaimana dalam buku karangan Imam Zarkasyi. Maka menurut Hafidz Dasuki bahwa pada saat itu sesuai dengan keadaan dan kebutuhan zaman, pelajaran yang diberikan hanya masalah-masalah keagamaan saja. Karena tujuan utamanya mengembalikan kesadaran rakyat yang masih dipengaruhi kebiasaan-kebiasaan melanggar hukum agama dengan
dalih bahwa hal itu sudah menjadi kebiasaan nenek moyang sebelumnya.
Langkah pertama untuk membuka kembali Gontor dengan mendirikan Tarbiyat al-Atfal (Pendidikan anak-anak). Dalam program ini, para siswa diajarkan materi-materi dasar agama Islam, bimbingan akhlak, kesenian, dan pengetahuan umum sesuai tingkat pengetahuan masyarakat saat itu. Selain itu, juga diajarkan cara-cara menjaga kebersihan, bekerja, seperti bercocok tanam dengan cara praktik langsung mengelola sawah, beternak ayam dan kambing, pertukangan kayu dan batu, bertenun, dan berorganisasi. Setelah lembaga pendidikan dasar yang berjalan enam tahun itu menamatkan murid yang pertama, dibukalah program lanjutan yang diberi nama Sullam al-Muta'allimin (tangga para pelajar) yang berlangsung sampai tahun 1936.
Pada tingkat ini para santri diajari pelajaran Fikih, Hadis, Tafsir, Terjemah al-Qur’an, cara berpidato, cara membahas suatu persoalan secara mendalam. Juga diberi sedikit bekal untuk menjadi guru berupa ilmu jiwa dan ilmu pendidikan. Di samping itu, kegiatan ekstra kurikuler juga mendapat perhatian dari pengasuh Pondok melalui pengadaan klub-klub dan organisasi-organisasi keterampilan, kesenian, olah raga, kepanduan, dan lain-lain. Pada akhirnya, bermula dari didirikannya
Tarbiyat al-Atfal (1926), kemudian pada peringatan
kesyukuran satu dasawarsa Pondok, tanggal 19 Desember 1936, diadakan peresmian berdirinya sistem pendidikan baru, yaitu Kulliyatul al-Mu'allimin al-Islamiyah atau Sekolah Pendidikan Guru Islam sebagaiman menurut Dokumen Sekretariat Pondok Gontor. Seperti kebanyakan hal baru, sistem KMI tidak langsung diterima oleh masyarakat. Mereka malah meragukan keberadaan sistem yang berbeda, bahkan bertentangan dengan sistem pendidikan tradisional yang berlaku di Pondok Pesantren lainnya.
Menurut Ahmad Subhan Roza, staf pengajar STAIN Metro dan IAI Ma`arif mengatakan bahwa Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo adalah salah satu Pondok Pesantran yang mengikrarkan diri sebagai basis pendidikan ala modern.
Pada kesempatan itu pula diberlakukan penggunaan kata “modern” untuk Pesantren ini. Sebelumnya, nama Pondok hanya “Darussalam.” Kata “modern” hanya disebut oleh masyarakat di luar Pondok. Setelah disahkan penggunaan label “modern” maka nama lengkap Pondok Gontor berubah menjadi Pondok Modern Darussalam Gontor. Sekarang, sebutan “Pondok Modern” ini justru lebih dikenal oleh masyarakat daripada “Pondok
Darussalam, dan ada juga orang mengenal dengan sebutan Pondok Pesantren Gontor atau Pondok Gontor ”
Kata ”modern” yang sekarang melekat dan menjadi ciri khas dari Pondok Modern Darussalam Gontor mempunyai kesatuan arti yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Kesatuan arti yang tersirat dalam kata yaitu:
syumuliyah, dynamic, sistematic, homogenizing,
progressive, innovative, irreversible, evaluative.
Sedangkan pembahasan arti kata “modern”:
a. Syumuliyah berarti komprehensif atau holistik.
Dalam arti, Pondok Modern Gontor mendidik dan mengajarkan ilmu-ilmu agama dan pengetahuan umum dengan porsi yang sama, tidak ada dikotomi antarkeduanya. Sehingga mampu mencetak alumni yang sesuai dengan motto “menjadi ulama yang intelek, bukan intelek yang tahu agama.”
b. Dynamic, dinamis adalah penuh semangat dan
tenaga sehingga cepat bergerak dan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Maka, seluruh kegiatan di Pondok Modern Gontor diadakan berdasarkan asas ini, baik kurikuler, non-kurikuler, maupun ekstra kurikuler. Semua elemen yang berada di dalam Pondok harus mengikuti seluruh kegiatan yang ada secara maksimal. Setiap elemen juga harus siap dengan segala perubahan “rekayasa
lingkungan” yang selalu dijalankan demi mendukung suksesnya setiap kegiatan, kecil atau besar.
c. Sistematic, sistematis berarti teratur menurut dan
menggunakan sistem, dan dengan cara yang diatur secara baik. Sistem itu sendiri berarti; 1) perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas; 2) susunan yang teratur dari pandangan, teori, asas, dan sebagainya; 3) metode.
Adapun praktek dari konsep ini bahwa setiap proses pendidikan dan pengajaran harus selalu mengikuti peraturan yang telah ditetapkan. Sebagai misal, setiap guru harus menyiapkan persiapan mengajar (i’dad at-tadris) setiap hari dan diperiksakan kepada guru-guru senior untuk mendapatkan pengesahan. Jika ada guru yang mengajar tanpa pesiapan tertulis, ia akan dikeluarkan dari kelas, dan saat itu akan digantikan oleh guru piket kantor. Guru yang melanggar akan dikenakan sangsi, mulai mengajar 6 jam tiap hari selama satu minggu sampai skorsing.
Selain itu, Pondok Gontor juga menjunjung tinggi totalitas dalam setiap kegiatannya. Karena itu, berhubungan dengan konsep sebelumnya,
selalu dijalankan “rekayasa lingkungan” supaya mendukung setiap kegiatan yang akan dilaksanakan.
d. Homogenizing, Homogen berarti terdiri atas jenis,
macam, sifat, watak, dan sebagainya yang sama. Hal ini terejawantah dalam berbagai kegiatan, baik yang wajib maupun pilihan, seperti klub-klub olahraga, kesenian, keterampilan, pengembangan bahasa dan lain-lain. Semuanya merupakan bagian dari proses pendidikan untuk menaungi minat dan mengembangkan bakat santri yang beraneka rupa.
e. Progressive berarti: 1) ke arah kemajuan; 2)
berhaluan ke arah perbaikan keadaan sekarang; 3) bertingkat-tingkat.
f. Innovative artinya bersifat memperkenalkan
sesuatu yang baru; bersifat pembaruan (kreasi baru). Dengan kata lain, Pondok Gontor selalu terus berusaha berinovasi dalam proses pendidikan dan pengajaran dengan tidak keluar dari sesuatu yang telah ditetapkan sebagai rule of game dari Trimurti. Perubahan bertujuan untuk menyesuaikan segala hal memang diperlukan demi menjawab tantangan zaman dan perubahan teknologi informasi.
g. Irreversible berarti tidak dapat diubah. Artinya,
Pondok Modern tidak akan merubah visi, misi, nilai, sunah, motto, disiplin, dan orientasi yang dijalankan sejak berdiri sampai saat ini. Tidak adanya perubahan dalam hal ini dirasa penting untuk menjaga tradisi dan orientasi pendidikan dan pengajaran di Pondok Gontor. Contoh kongkrit dari pelaksanaan konsep ini, tidak diakuinya ijazah oleh Pemerintah Indonesia selama hampir 70 tahun, meski beberapa universitas terkemuka di luar negeri telah mengakui ijazah Gontor (mu’adalah). Baru pada akhir tahun 1990-an, ijazah Pondok Gontor diakui oleh Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional. Pengakuan ini pun dengan syarat tidak merubah kurikulum yang selama ini dijalankan. Sehingga, jika suatu saat ada tekanan untuk merubah kurikulum maka Pondok Gontor akan langsung melepas pengakuan-pengakuan ini dan kembali tidak diakui oleh Pemerintah Indonesia.
h. Evaluative adalah segala hal yang dijalankan dalam
rangka proses pendidikan dan pengajaran harus dapat dinilai pencapaiannya, termasuk kelebihan dan kekurangannya harus selalu di evaluasi. Maka, seiring adanya evaluasi berkala, segala kegiatan
akan mengalami peningkatan mutu, efektivitas, dan efisiensi. Di samping itu, Pondok Gontor selalu menuntut seluruh proses pendidikan dan pengajaran berjalan secara maksimal, tanpa terkecuali. Hal ini penting untuk menanamkan karakter santri yang unggul dan mampu berkiprah secara maksimal kelak di masyarakat.
Dalam perjalanan selanjutnya, didirikan tingkatan lebih tinggi (bovenbow) untuk mencukupi kebutuhan guru agama pada Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah (1940-1945). Kemudian dilakukan penyempurnaan penjenjangan enam tahun dengan nama Kulliyatu
al-Mu'allimin al-Islamiyah (KMI) dan menghapus
tingkatan bovenbow (1945-1954). Terakhir, pada tahun 1963 didirikan IPD (Institut Pendidikan Darussalam) dengan program sarjana muda. Kini lembaga ini bernama ISID (Institut Studi Islam Darussalam) dengan program Strata satu (SI) dan Pascasarjana. Sedangkan cita-cita selanjutnya telah terwujud menjadi Universitas Darussalam (UNIDA). Maka dari itu, dengan mempertimbangkan hajat masyarakat luas, sebagaimana salah satu diktum dalam Piagam Badan Wakaf yang berisi tentang kewajiban pihak kedua (Anggota Badan Wakaf) adalah; memelihara dan menyempurnakan agar Pondok
Gontor menjadi Universitas Islam yang bermutu dan berarti. Dengan demikian apa yang ada sekarang merupakan langkah pendahuluan ke arah cita-cita tersebut. Pada tanggal 12 Oktober 1958, Pondok Gontor mencatat peristiwa penting yang sangat menentukan perjalannya di masa depan. Suatu peristiwa yang belum pernah terjadi dalam sejarah Pesantren pada umumnya. Pada acara kesyukuran empat windu, para pendiri Pondok Gontor mewakafkan Pondok miliknya kepada umat Islam yang diwakili oleh lima belas anggota Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM). Dari lima belas orang ini kemudian dihimpun dalam satu wadah kelembagaan yang diberi nama Badan Wakaf Pondok Gontor. Sejak saat itu, Pondok sepenuhnya menjadi milik Islam yang dikelola oleh Badan Wakaf Pondok Gontor.
Selain peristiwa-peristiwa penting yang melingkupi perjalanan Pondok Gontor, pada tanggal 21 April 1985, K. H.Imam Zarkasyi wafat. Peristiwa ini cukup menghentakkan seluruh elemen Pondok Gontor karena “Trimurti” sudah meninggal dunia semua. Maka, Pondok Gontor diserahkan kepada Badan Wakaf sebagaimana amanat “Trimurti” yang tertulis di Anggaran Dasar Badan Wakaf Bab X, pasal 17. Oleh karena itu, berdasarkan sidang Badan Wakaf tahun 1985, amanat kepemimpinan
Pondok diserahkan bersifat kolektif kepada K. H. Shoiman Lukmanul Hakim, K.H Abdullah Syukri Zarkasyi dan K.H. Hasan Abdullah Sahal. Kemudian Tahun 1999, K.H. Shoiman Lukmanul Hakim wafat. Sebagai penggantinya, Badan Wakaf bermusyawarah dan mengangkat K.H. Imam Badri. Selang beberapa tahun, tepatnya tahun 2006 K.H. Imam Badri wafat. Maka Badan Wakaf mengangkat K.H. Syamsul Hadi Abdan. Ketiga kyai inilah yang memimpin Pondok Pesantren Darussalam Gontor sampai sekarang.
Dalam sejarah Pesantren Gontor, pemimpin Pesantren tidak harus dari keluarga atau pendiri Pesantren. Pimpinan bisa diangkat dari guru dan santri senior yang menurut pertimbangan para anggota badan wakaf Pondok Gontor layak dan mampu menjadi pimpinan, seperti K.H. Shoiman Lukmanul Hakim, K.H. Imam Badri, dan K.H. Syamsul Hadi Abdan. Mereka adalah santri sekaligus guru senior.
B. Profil Pondok Modern Darusalam Gontor
1)Profil Lembaga Pondok Modern Darussalam Gontor
Pondok Modern Darussalam Gontor memiliki banyak cabang yang tersebar di seluruh Indonesia, dan beberapa Negara di luar negeri. Pada saat ini, jumlah santrinya mencapai lebih 14. 273 santri. Semua cabang
tersebut berada di bawah naungan Pondok pusat yang berkantor di Pondok Gontor Ponorogo dan tahun 2013 – 2015 bertambah pesat apalagi didirikan Pondok Pesantren Cabang Gontor
Pondok Gontor didirikan pada tanggal 12 Oktober 1958 bertepatan dengan tanggal 28 Rabi’ul Awwal. Hal itu ditandai dengan pernyataan ikrar wakaf dari para pendirinya. Para pendiri Pondok Gontor mengikrarkan pewakafan harta kekayaan dan Pondoknya kepada umat Islam yang diwakili oleh para nazhir yang berjumlah 15 orang. Nazhir tersebut mewakili Badan Wakaf Pondok Gontor. Amanat para wakif kepada nazhir tertulis dalam Piagam Penyerahan Wakaf yang berbunyi sebagai berikut:
1) Bahwa wakaf Pondok Modern sebagai Balai Pendidikan Islam harus tunduk kepada ketentuan-ketentuan hukum agama, menjadi amal jariyah, dan tempat beramal.
2) Bahwa Pondok Modern harus menjadi sumber pengetahuan Islam, bahasa al-Quran/ Arab, ilmu pengetahuan umum, dan tetap berjiwa Pondok. 3) Bahwa Pondok Modern harus menjadi lembaga
yang berkhidmat kepada masyarakat dan membentuk karakter/ pribadi umat guna kesejahteraan lahir batin, dunia-akhirat.
4) Bahwa Pihak ke-2 (dua) berkewajiban: a) Memelihara dan menyempurnakan agar Pondok Gontor menjadi universitas Islam yang bermutu dan berarti; b) Mengusahakan agar pihak ke-2 (dua) mempunyai akte notaris di mana syarat-syarat dan peraturan-peraturannya ditetapkan dengan jelas, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Pada saat itu, harta benda yang diwakafkan terdiri dari: Tanah kering seluas 1.740 ha (lokasi Pondok), 12 buah gedung beserta peralatannya, dan tanah basah/sawah seluas 16.851 ha (terletak di Banyuwangi, Jember, Jombang, dan Kediri) dan masih banyak lagi wakaf Pesantren Gontor.
Dengan ditandatanganinya piagam penyerahan wakaf itu maka Pondok Gontor tidak lagi menjadi milik pribadi atau perorangan, sebagaimana umumnya dijumpai dalam lembaga pendidikan Pesantren tradisional. Secara kelembagaan, Pondok Gontor menjadi milik umat Islam, dan semua umat Islam bertanggung jawab atasnya. Lembaga Badan Wakaf ini selanjutnya menjadi badan tertinggi di Pondok Gontor.
Sebagai badan tertinggi di Pondok, badan inilah yang bertanggung jawab mengangkat kyai untuk masa jabatan lima tahun. Dengan demikian, kyai bertindak
sebagai mandataris dan bertanggung jawab kepada Badan Wakaf. Untuk ini badan wakaf memiliki lima program yang berkenaan dengan bidang pendidikan dan pengajaran, bidang peralatan dan pergedungan, bidang perwakafan dan sumber dana, bidang kaderisasi, serta bidang kesejahteraan.
Sistem wakaf ini sudah dikembangkan oleh Pondok Gontor dengan tujuan menghindari hal-hal berikut ini: Pertama, Pondok Pesantren biasanya akan ikut mati dan punah seiring meninggalnya sang kyai; kedua, sepeninggal kyainya, Pondok akan bisa menjadi rebutan/fitnah keturunan, sedangkan Idealisme keturunan/keluarga belum tentu sesuai dengan Pondok; ketiga, sepeniggal kyai seringkali mutu pendidikan Pesantren langsung menurun. Karena itu, untuk menghindari hal-hal tersebut, Pondok Gontor diwakafkan kepada badan/ lembaga yang diwakili oleh orang-orang yang memahami visi dan misi Pondok Gontor (alumni dan keluarga yang menghayati sunah, nilai, dan disiplin).
Dalam Pembentukan yayasan wakaf, di dalam akte wakaf dicantumkan wewenang pendiri, selama pendiri masih hidup, pengurus yayasan berlaku sebagai pembantu pendiri, dan anggota badan wakaf tidak menggantungkan hidupnya pada Pondok. Sedangkan Keluarga Pondok sebagai pembantu langsung Pondok dan keluarga tidak
mempunyai hak waris Pondok, kecuali yang terlibat langsung sesuai prosedur.
Untuk mempertahankan kelangsungan Lembaga Pendidikan Pondok Gontor, pihak nazhir membentuk berbagai unit usaha.Maka, seluruh aset Pondok berstatus wakaf karena unit-unit usaha yang didirikan Pondok juga berstatus wakaf. Unit-unit usaha milik Gontor terbagi menjadi beberapa unit usaha yang berada di bawah Koperasi La-Tansa, unit usaha yang tergabung dalam Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) dan Gerakan Pramuka, serta unit usaha yang dikelola oleh Dewan Mahasiswa (DEMA). Semua unit usaha tersebut memberikan kontribusi besar terhadap pemenuhan kebutuhan anggaran Pondok Gontor Tersebut.
Secara detail, unit-unit usaha di bawah Koperasi La-Tansa berjumlah sekitar 20 unit. Usaha ini dikembangkan sekaligus berada dibawah kontrol manejemen Koperasi La-Tansa, seperti : Penggilingan Padi, Percetakan Darussalam, Toserba (Mini Grosir) UKK Bahan Bangunan, Toko Buku dan Alat Tulis, Toko Palen (Kelontongan), Warung Bakso, Kedai Alat Tulis dan Fotokopi I dan II, Apotek La-Tansa, Wartel Pabrik Es Balok, Unit Perkulakan dan Pasar Sayur, Kredit Usaha Tani (KUT), Jasa Angkutan, Budi Daya Ayam Potong dan masih banyak lagi.
Ada beberapa unit usaha yang dikelola oleh para santri yang tergabung dalam Organisasi Pelajar Pondok Modern. Unit usaha tersebut antara lain: Koperasi Pelajar (KOPEL), Koperasi Warung Pelajar (KOPWAPEL),
Fastfood, kantin/ kafetaria, Koperasi Dapur (KOPDA),
toko obat-obatan, kedai fotokopi, kedai fotografi, kedai perlengkapan Pramuka dan benda pos, dan kedai binatu.
Di samping unit-unit usaha di atas, Pondok juga mendirikan usaha sosial berupa Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM) dan Wisma Darussalam untuk keperluan diklat dan penginapan. Selain mengelola berbagai usaha, Badan Wakaf mengangkat Pimpinan Pondok Pesantren untuk mengatur seluruh proses pendidikan di lembaga Pesantren. Setelah mangkatnya para pendiri Pondok, Pimpinan Pondok Gontor berlaku sebagai badan eksekutif yang dipilih oleh Badan Wakaf setiap 5 tahun sekali. Dengan demikian Pimpinan Pondok adalah mandataris Badan Wakaf yang mendapatkan amanah untuk menjalankan keputusan-keputusan Badan Wakaf, dan bertanggungjawab kepada Badan Wakaf Pondok Gontor. Maka, selain memimpin lembaga-lembaga dan bagian-bagian di Balai Pendidikan Pondok Gontor, pimpinan juga berkewajiban mengasuh para santri sesuai dengan sunah Balai Pendidikan Gontor.
Adapun lembaga-lembaga dan bagian-bagian yang dibawahi Pimpinan Pondok Gontor adalah sebagai berikut: 1) Lembaga perguruan menengah dengan masa belajar 6 atau 4 tahun setingkat Tsanawiyah dan Aliyah—bernama Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI).
2) Lembaga perguruan tinggi dengan nama Universitas Darussalam (UNIDA). Terdiri dari tiga fakultas setara dengan S-1, yaitu: Fakultas Tarbiyah, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Syari’ah, dan Pasca Sarjana (S-2) serta akan dibuka Fakultas Umum seperti: Manajemen bisnis, Akuntansi, Ekonomi pembangunan, Ilmu hubungan internasional, Ilmu komunikasi, Teknologi industri dan pertanian, Agroteknologi, Teknik informatika, Gizi, Farmasi, Kesehatan dan keselamatan kerja, dan lainya.
3) Lembaga Pengasuhan Santri yang mengurusi bidang pengasuhan santri, khususnya bidang ekstra kurikuler. Lembaga ini membawahi tiga organisasi santri: Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) atau organisasi siswa KMI, Koordinator Gugus depan Pondok Gontor atau organisasi kepramukaan siswa KMI, Dewan
Mahasiswa (DEMA) atau organisasi mahasiswa Universitas Darussalam (UNIDA).
4) Lembaga yang bergerak dalam bidang penggalian dana, pemeliharaan, perluasan, dan pengembangan aset-aset Pondok yang dikenal dengan nama Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern (YPPWPM). 5) Lembaga wadah pemersatu para alumni Gontor
yang disebut Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM).
Di samping kelima lembaga di atas, ada bagian-bagian tertentu yang dibentuk untuk memperlancar proses pendidikan dan pengajaran di dalam Pondok. Bagian-bagian tersebut adalah:
a. Bagian pembinaan masyarakat yang disebut Pusat Latihan Manajemen dan Pengembangan Masyarakat (PLMPM).
b. Bagian yang menangani pergedungan yang disebut Bagian Pembangunan Pondok Gontor.
c. Bagian yang menangani unit-unit usaha milik Pondok yang disebut Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) La-Tansa.
d. Bagian yang bergerak di bidang pelayanan kesehatan santri dan masyarakat yaitu Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM).
Struktur Organisasi Balai Pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor Lembaga tertinggi dalam organisasi Balai Pendidikan Pondok Gontor ialah Badan Wakaf. Lembaga ini menjadi semacam badan legislatif dalam tubuh Pondok. Beranggotakan 15 orang dan bertanggung jawab atas segala pelaksanaan dan perkembangan pendidikan dan pengajaran di Pondok Gontor. Untuk tugas dan kewajiban keseharian amanat ini dijalankan oleh Pimpinan Pondok.
Pimpinan Pondok Gontor merupakan semacam badan eksekutif (setelah wafatnya para pendiri Pondok) yang dipilih oleh Badan Wakaf setiap 5 tahun sekali. Dengan demikian Pimpinan Pondok adalah mandataris Badan Wakaf yang mendapatkan amanah untuk menjalankan keputusan-keputusan Badan Wakaf dan bertanggung jawab kepada Badan Wakaf Pondok Gontor. Pimpinan Pondok Gontor, di samping memimpin lembaga-lembaga dan bagian-bagian di Balai Pendidikan Pondok Gontor, juga berkewajiban mengasuh para santri sesuai dengan sunah Balai Pendidikan Pondok Gontor. Adapun lembaga-lembaga dan atau bagian-bagian yang di bawahi Pimpinan Pondok Gontor adalah sebagai berikut:
1. Lembaga perguruan menengah dengan masa belajar 6 atau 4 tahun, setingkat Tsanawiyah dan Aliyah, bernama Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) 2. Lembaga perguruan tinggi yang disebut Universitas
Darussalam (UNIDA), mempunyai fakultas Agama dan Umum.
3. Lembaga Pengasuhan Santri yang mengurusi bidang pengasuhan santri khususnya bidang ekstra kurikuler. Lembaga ini membawahi tiga organisasi santri:
a. Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM), yaitu organisasi siswa KMI
b. Koordinator Gugusdepan Pondok Modern Darussalam Gontor, yakni organisasi kepramukaan siswa KMI.
c. Dewan Mahasiswa (DEMA), yaitu organisasi untuk mahasiswa UNIDA.
4. Lembaga yang bergerak dalam bidang penggalian dana, pemeliharaan, perluasan, dan pengembangan aset-aset Pondok yang disebut Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern (YPPWPM).
5. Lembaga wadah pemersatu para alumni Gontor yang disebut Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM).
Di samping kelima lembaga di atas, ada bagian-bagian tertentu yang dibentuk untuk memperlancar proses pendidikan dan pengajaran . Bagian-bagian tersebut adalah:
1. Bagian pembinaan masyarakat yang disebut Pusat Latihan Manajemen dan Pengembangan Masyarakat (PLMPM).
2. Bagian yang menangani pergedungan atau Bagian Pembangunan Pondok Gontor.
3. Bagian yang menangani unit-unit usaha milik Pondok yang dikenal Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) La-Tansa.
4. Bagian yang bergerak di bidang pelayanan kesehatan santri dan masyarakat atau Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM).
Selain dikenal pencetak kader-kader andal, Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur, ternyata juga sukses mengelola wakaf. Bahkan, wakaf produktif tersebut beromzetkan miliaran rupiah. Sekretaris Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor, Amal Fathullah Zarkasyi, menjelaskan aset wakaf yang ada semaksimal mungkin digunakan untuk unit usaha Pondok. Selain dimanfaatkan untuk membangun Pesantren, tanah wakaf juga digunakan untuk unit usaha ekonomi. Aset wakaf Gontor pada mulanya hanya lima
hektarr tanah. Kini sudah berkembang menjadi 750 hektar. Tanah tersebut digunakan untuk Pesantren yang tersebar di lebih dari 20 titik di seluruh Indonesia (http://www.republika.co.id/berita).
Falsafah Pendidikan Pondok Gontor
Sebagai lembaga pendidikan, Pondok Gontor mempunyai beberapa landasan falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Pondok (TRIMURTI). (Zarkasyi, T.th.: 8-15). Beberapa falsafah pendidikan Pondok modern antara lain:
(1) Falsafah Kelembagaan
i) Pondok Gontor berdiri di atas dan untuk semua golongan;
ii) Pondok adalah lapangan perjuangan, bukan tempat mencari penghidupan;
iii) Pondok itu milik umat, bukan milik kyai. (2) Falsafah Kependidikan
i) apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialami oleh santri sehari-hari harus mengandung pendidikan;
ii) hidup sekali, hiduplah yang berarti;
iii) berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja;
v) sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya;
vi) hanya orang penting yang tahu arti kepentingan, dan hanya pejuang yang tahu arti perjuangan. (3) Falsafah Pembelajaran
i) Metode lebih penting daripada materi pelajaran, guru lebih penting daripada metode, dan jiwa guru lebih penting daripada guru itu sendiri;
ii) Pondok memberi kail, tidak memberi ikan; iii) ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian; iv) ilmu bukan untuk ilmu, tetapi ilmu untuk ibadah
dan amal.
Sintesa Pondok Gontor
Dengan tekad menjadi sebuah lembaga pendidikan berkualitas, Pondok Gontor bercermin pada lembaga-lembaga pendidikan internasional terkemuka. Empat lembaga pendidikan yang menjadi sintesa Pondok Gontor antara lain:
1. Universitas Al-Azhar, di Kairo, Mesir. Universitas ini memiliki wakaf yang sangat luas sehingga mampu mengutus para ulama ke seluruh penjuru dunia dan memberikan beasiswa bagi ribuan pelajar dari berbagai
belahan dunia untuk belajar di Universitas tersebut.
2. Aligarh, di India. Memiliki perhatian sangat besar terhadap perbaikan sistem pendidikan dan pengajaran.
3. Syanggit, di Mauritania. Kampus ini dihiasi kedermawanan dan keikhlasan para pengasuhnya.
4. Santiniketan, di India; dengan segenap kesederhanaan, ketenangan, dan kedamaiannya. Cabang Pondok Gontor
Pondok Gontor atau Pondok Modern Darussalam Gontor mempunyai banyak cabang yang berada di bawah bimbingan langsung Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, di antaranya:
1. Pondok Modern Gontor Pusat (Gontor I) Darussalam, Gontor Ponorogo Jawa Timur. Sejak 1926. (http://gontor.ac.id/)
2. Pondok Modern Gontor 2 Darussalam, Madusari Siman Ponorogo Jawa Timur. Sejak 1996.
3. Pondok Modern Gontor 3 Darul Ma’rifat, Sumbercangkring Gurah Kediri Jawa Timur. Sejak 1993.
4. Pondok Modern Gontor 4 (Putri) yang terdiri dari:
Pondok Modern Gontor Putri 1 Darussalam, Sambirejo Mantingan Ngawi Jawa Timur. Sejak 1990.
Pondok Modern Gontor Putri 2 Darussalam, Sambirejo Mantingan Ngawi Jawa Timur. Sejak 1997.
Pondok Modern Gontor Putri 3 Darussalam, Karangbanyu Widodaren Ngawi Jawa Timur. Sejak 2002.
Pondok Modern Gontor Putri 4 Darussalam, Konda, Konawe Selatan Kendari Sulawesi Tenggara. Sejak 2004.
Pondok Modern Gontor Putri 5 Darussalam, Kandangan Kediri Jawa Timur. Sejak 2006. 5. Pondok Modern Gontor 5 Darul Muttaqin,
Kaligung Rogojampi Banyuwangi Jawa Timur. Sejak 1990.
6. Pondok Modern Gontor 6 Darul Qiyam, Gadingsari Mangunsari Sawangan Magelang Jawa Tengah. Sejak 1999.
7. Pondok Modern Gontor 7 Riyadlatul Mujahidin, Podahua Landono Kendari Sulawesi Tenggara. Sejak 2002.
8. Pondok Modern Gontor 8 Darussalam, Labuhan Ratu VI Labuhan Ratu Lampung Timur Lampung. Sejak 2005.
9. Pondok Modern Gontor 9 Darussalam, Tajimalela Kalianda Lampung Selatan Lampung Lampung. Sejak 2005.
10. Pondok Modern Gontor 10 Darul Amin, Meunasah Baro Seulimum Aceh Aceh. Sejak 2008.
11. Pondok Modern Gontor 11 Darussalam, Sulit Air, Solok, Sumatera Barat. Sejak 2010.
12. Pondok Modern Gontor 12 Darussalam, Parit Culum I Muarasabak Barat Tanjungjabung Timur Jambi. Sejak 2010 dan masih dirancang Pondok Cabang di daerah lain.
Sudah puluhan ribu alumni yang dilahirkan oleh Gontor. Dalam keanekaragaman predikat para alumninya, dapat diyakini bahwa sebagian besar mereka telah menjadi guru, minimal sebagai guru untuk dirinya, keluarganya, bahkan ada yang sampai menjadi guru bangsa dan masyarakat dunia. Ikatan moral antara santri dengan kiyai dan ustadznya, antara santri dan Pondoknya memang tidak bisa putus, hubungan batin tersebut – meskipun tak bersua secara fisik – terus terjaga. Karena ikatan itulah maka dalam rangka untuk memberi wadah bagi alumninya
Gontor membentuk organisasi Ikatan Keluarga Pondok Modern yang berpusat di Gontor dengan cabang-cabangnya yang sudah ada hampir di semua wilayah Indonesia, dari Aceh sampai Papua, bahkan cabang-cabang IKPM di luar negeri, baik karena memang ada alumni Gonbtor yang berasal dari beberapa negeri jiran (Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Pilipina, Australia, Timor Leste, Suriname) juga karena banyak alumni Gontor warga negara Indonesiua yang berdomisili di beberapa negara.
Sebagian dari para alumni tersebut mengikuti jejak ‘ibu’ mereka – juga untuk mewujudkan cita-cita luhur ‘1000 Gontor’ – mendirikan Pondok-Pondok Pesantren. Kumpulan-kumpulan Pondok-Pondok Pesantren yang didirikan dan dipimpin oleh alumni Gontor tersebutk kemudian diberi nama “Pondok Pesantren alumni” dan tergabung dalam organisasi Forum Pondok Pesantren Alumni Gontor (FPA Gontor) yang jumlahnya telah mencapai 196 Pondok Pesantren yang tersebar di beberapa bagian wilayah Indonesia sebagai berikut: Pondok Pesantren Alumni Gontor di Jawa Timur: 30 Pesantren, di Jawa Tengah: 26 Pesantren, di Jawa Barat : 42 Pesantren, di Banten: Pesantren, di Indonesia Timur : 19
Pesantren, di Sumatra: 30 Pesantren, di Kalimantan: 14 Pesantren di Sulawesi 13 Pesantren. (http://indahcintamu)
Persamaan Ijazah Pondok Gontor
Sejak tahun 2000, ijazah Kulliyatu-l-Muallimin
Al-Islamiyah (KMI) telah mendapat persamaan dari
Departemen Pendidikan Indonesia melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 105/O/2000. Selain itu, ijazah Gontor juga telah mendapat pengakuan melalui Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam No. E.IV/PP.03.2/KEP/64/98.
Namun demikian, jauh sebelumnya ijazah Gontor KMI justru telah diakui oleh berbagai lembaga pendidikan internasional, di antaranya: Unversitas Al-Azhar dan Perguruan Darul Ulum di Kairo, Mesir, Universitas Islam Madinah dan Universitas Ummul Quro Mekah, Saudi Arabia, Universitas Islam Islamabad dan Universitas Punjab Lahore, Pakistan, Universitas Aligarh, Pakistan, International Islamic University Kuala Lumpur, Universitas Kebangsaan Malaysia, dan Universiti Malaya, Malaysia dan masih banyak lagi yang belum terdata dalam buku ini.
Motto Pondok Gontor
Pendidikan Pondok Gontor menekankan pada pembentukan pribadi Mukmin Muslim yang berbudi
tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas. Kriteria atau sifat-sifat utama ini menjadi motto pendidikan di Pondok Gontor.
1. Berbudi tinggi adalah landasan paling utama yang ditanamkan oleh Pondok ini kepada seluruh santri dalam semua tingkatan; dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Realisasi penanaman motto ini dilakukan melalui seluruh unsur pendidikan yang ada.
2. Berbadan Sehat maksudnya tubuh yang sehat adalah sisi lain yang dianggap penting dalam pendidikan di Pondok ini. Dengan tubuh yang sehat, para santri akan dapat melaksanakan tugas hidup dan beribadah dengan sebaik-baiknya. Pemeliharaan kesehatan dilakukan melalui berbagai kegiatan olahraga. Bahkan ada rutinitas olahraga yang wajib diikuti oleh seluruh santri sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
3. Berpengetahuan Luas, maksudnya para santri di Pondok ini dididik melalui proses yang telah dirancang secara sistematik agar dapat memperluas wawasan dan pengetahuan mereka. Santri tidak hanya diajari pengetahuan. Lebih dari itu, mereka diajari cara belajar yang dapat digunakan untuk membuka gudang pengetahuan. Dalam hal ini, Kyai sering berpesan bahwa pengetahuan itu luas, tidak terbatas, tetapi tidak boleh terlepas dari berbudi tinggi. Dengan demikian seseorang