aeruginosa Roxb.) HASIL EKSPLORASI
Abstrak
Temu ireng atau Curcuma aeruginosa Roxb. merupakan salah satu tumbuhan obat penting di Asia bagian Selatan dan Tenggara, khususnya India, Indonesia, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Keragaman genetik tanaman merupakan hal yang penting bagi program pemuliaan yang dapat diperoleh melalui eksplorasi ataupun introduksi. Penelitian ini bertujuan unuk memperoleh karakter rimpang dan tanaman temu ireng hasil eksplorasi sebagai sumber keragaman genetik untuk kegiatan pemuliaan tanaman. Pengamatan karakter rimpang dilakukan dengan mengacu kepada descriptor Curcuma. Dari penelitian diperoleh hasil bahwa rimpang temu ireng hasil eksplorasi memiliki ukuran yang berbeda pada setiap aksesi. Rimpang temu ireng terdiri atas rimpang induk, primer, sekunder, dan fleshy root. Rimpang induk temu ireng memiliki panjang antara 3.9 cm (aksesi Natar) hingga 8.0 cm (aksesi Cianjur), diameter rimpang induk antara 3.4 cm (aksesi Rimbo ) hingga 5.1 cm (aksesi Cianjur). Ukuran panjang rimpang primer berkisar antara 3.1 cm (aksesi Natar) hingga 11.9 cm (aksesi Cianjur) dengan ukuran diameter terbesar 2.4 (aksesi Kendal) dan diameter terkecil 0.9 (aksesi Rimbo). Pengamatan terhadap warna daging rimpangdiperoleh dua warna rimpang yaitu kuning keabuan dan putih keabuan.
Kata kunci: aksesi, rimpang, rimpang induk, fleshy root
Abstract
Temu ireng or Curcuma aeruginosa Roxb. is an important medicinal plant in South and Southeast Asia, including Indonesia. Exploration, collection and characterization of temu ireng from various places in Indonesia would strongly support the breeding program of the species. Rhizomes of temu ireng were collected from several locations in Sumatera and Java were characterized based on the Curcuma Descriptor. Our results showed that the size and the flesh colour of the mother rhizome, primary rhizome, and secondary rhizome varied between accessions. The length of the mother rhizome varied between 3.9 cm (Natar accession) to 8.0 cm (Cianjur accession), while the diameter of the mother rhizome varied between 3.4 cm (Rimbo accession) to 5.1 cm (Cianjur accession). The length of the primary rhizome ranged from 3.1 cm (Natar accession) to 11.9 cm (Cianjur accession), while the diameter of the primary rhizome ranged from 0.9 cm (Rimbo accession) to 2.4 cm (Kendal accession). Based on the length and diameter of mother rhizome, Cianjur accession has the biggest mother rhizome size compared to other accessions. The flesh colour of rhizomes was divided into two main colours, i.e. yellowish gray and greyish white.
Pendahuluan
Curcuma aeruginosa Roxb. atau temu ireng tersebar luas di Asia Tenggara (Srivilai et al. 2011) merupakan salah satu dari sekian banyak tanaman obat yang tumbuh di Indonesia (Djauharia dan Sufiani 2007). Rimpang temu ireng telah digunakan sebagai bahan baku jamu gendong dengan nama ramuan jamu cekok dan cabe puyang di Indonesia. Rimpang temu ireng digunakan untuk ramuan galian dan anti inflamasi (Reanmongkol et al. 2006), penyakit kulit (Djauharia dan Sufiani 2007), batuk dan asma (Nasrullah et al. 2010), anti mikroba (Angel et al. 2012a; Kamazeri et al. 2012), anti cendawan (Srivastava et al. 2006), anti kanker (Elfahmi et al. 2014), anti oksidan (Nurcholis et al.2015), dan anti androgenik (Srivilai et al. 2011).
Rimpang temu ireng digunakan sebagai obat tradisional karena mengandung bahan bioaktif seperti saponin, flavonoid, polifenol, guaiane (Takano et al. 1995), dan glukan (Ranjini dan Vijayan 2005). Srivastava et al. (2006) melaporkan bahwa terdapat kandungan minyak yang diidentifikasi sebagai α-pinene, sabinene,
α-terpine, camphor dan tumerone. Selain itu menurut Nugrahaningtyas et al. (2005) minyak atsiri yang terkandung di dalam temu ireng mengandung pula 1.8 sineol. Penelitian fitokimia pada rimpang temu ireng menyebutkan bahwa terdapat tiga golongan sesquiterpen, yang diidentifikasi sebagai zedoarol, curcumenol, isocurcumenol (Sukari et al. 2007), dan curcumin (Srivastava et al. 2006). Aeruginon dan curcuminon telah diidentifikasi sebagai senyawa penciri temu ireng (Atun et al. 2012).
Pemuliaan tanaman merupakan sebuah metode yang secara sistematik merakit keragaman genetik tanaman menjadi bentuk yang lebih bermanfaat sesuai dengan idiotipe yang diinginkan. Pemuliaan tanaman terdiri atas serangkaian kegiatan yang dilakukan secara berkesinambungan diantaranya adalah koleksi atau pengumpulan plasma nutfah dengan cara eksplorasi atau introduksi. Keberhasilan kegiatan pemuliaan tanaman bergantung pada tersedianya keragaman genetik tanaman koleksi.
Tanaman koleksi hasil eksplorasi selanjutnya digunakan sebagai bahan tanaman pada kegiatan seleksi berdasarkan karakter yang diinginkan untuk mendapatkan varietas tanaman baru. Oleh karena belum adanya tanaman temu ireng dengan kejelasan varietas dengan produktivitas dan kandungan bahan bioaktif yang tinggi mendorong perlu dilakukannya kegiatan koleksi dan karakterisasi temu ireng yang terdapat di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter kualitatif dan kuantitatif rimpang temu ireng hasil eksplorasi dari beberapa wilayah di Indonesia .
Bahan dan Metode
Kegiatan eksplorasi temu ireng dilakukan di beberapa lokasi di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Kegiatan koleksi tanaman dan rimpang temu ireng dilakukan mulai bulan Juli hingga September 2013 di Laboratorium Kultur Jaringan 3. Pengumpulan rimpang dilakukan dengan mengambil langsung dari sentra produksi temu ireng, ladang, hutan, dan pasar tradisional. Alat yang digunakan meliputi caliper, penggaris, kamera digital Canon IXUS, kain hitam background, dan perlengkapan tulis.
Pengamatan karakter morfologi diperoleh melalui survei, wawancara dan pengamatan langsung pada tanaman contoh di lapangan berdasarkan deskriptor Curcuma yang mengacu pada BPPP (2005) dan PPV & FRA (2007). Karakter yang diamati meliputi karakter kuantitatif yaitu :
1. Diameter rimpang induk dilakukan dengan mengukur bagian tengah rimpang induk dengan menggunakan caliper yang ditunjukkan oleh Gambar 4a. 2. Panjang rimpang induk dilakukan dengan mengukur panjang dari pangkal
hingga ke ujung rimpang induk (cm) yang ditunjukkan oleh Gambar 4b. 3. Panjang rimpang primer dilakukan dengan mengukur panjang rimpang primer
dari pangkal hingga ujung rimpang yang ditunjukkan oleh Gambar 4c.
4. Diameter rimpang primer dilakukan dengan mengukur bagian tengah rimpang primer dengan menggunakan caliper. Seluruh rimpang primer dalam satu cluster diukur, yang ditunjukkan oleh Gambar 4d
Gambar 4 Rimpang temu ireng, diameter rimpang induk (a), panjang rimpang induk (b), panjang rimpang primer (c), diameter rimpang primer (d). Rimpang induk (1), rimpang primer (2), dan rimpang sekunder (3) 5. Jumlah mata tunas per kluster dilakukan dengan menghitung calon mata tunas
setiap rimpang, baik rimpang induk, rimpang primer, maupun rimpang sekunder.
6. Warna kulit rimpang diamati pada kulit rimpang yang telah dibersihkan dan kering udara.
7. Warna daging rimpang diamati dengan melakukan pemotongan rimpang primer secara cross section.
8. Kekasaran permukaan rimpang dilakukan dengan melakukan pengamatan permukaan rimpang.
9. Jarak antar buku rimpang dapat dibedakan menjadi rapat (< 1 cm) dan renggang (> 1 cm).
Analisis Data
Data hasil pengamatan karakter kuantitatif diolah dengan menghitung rataan dan standar deviasi dari setiap peubah yang diamati, sedangkan data hasil pengamatan karakter kualitatif dijelaskan secara deskriptif.
Hasil dan Pembahasan
Tanaman dan rimpang temu ireng hasil eksplorasi dilakukan di pulau Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Rimpang temu ireng diperoleh dengan pengumpulan tanaman utuh atau pengumpulan rimpang. Rimpang hasil koleksi terdiri atas 10 aksesi, yang terdiri atas 5 aksesi yang berasal dari Jawa Barat (aksesi Cianjur, Bogor, Cirebon, Kuningan 1, dan Kuningan 2), 3 aksesi berasal dari pulau Sumatera dan kepulauan Riau (aksesi Liwa, Natar dan Riau), 1 aksesi dari Jawa Tengah (aksesi Kendal), dan 1 aksesi dari Jawa Timur (aksesi Malang). Aksesi Cianjur, Bogor, Cirebon, dan Kuningan 2 diperoleh dari pasar tradisional, sedangkan aksesi lainnya diperoleh dari petani dan warga yang menanam di ladang atau pekarangan (Tabel 3).
Karakterisasi rimpang dilakukan untuk memastikan rimpang hasil eksplorasi merupakan jenis temu ireng. Rimpang temu ireng utuh terdiri atas rimpang induk, rimpang primer, dan rimpang sekunder (Gambar 5), namun tidak semua aksesi temu ireng hasil ekplorasi memiliki bagian rimpang yang lengkap. Rimpang induk berukuran lebih besar mengerucut tempat menempelnya rimpang primer, sedangkan rimpang sekunder menempel pada rimpang primer. Pada aksesi Liwa dan Natar ditemukan sejumlah fleshy root pada rimpang (Gambar 6). Fleshy root adalah akar tanaman dari genus Curcuma yang mengalami pertambahan ukuran menjadi lebih besar yang memiliki fungsi penyerapan dan penyimpan cadangan makanan (Ravindran et al. 2007).
Gambar 5 Rimpang temu ireng aksesi Cianjur, rimpang induk (a), rimpang primer (b), dan rimpang sekunder (c)
Gambar 6 Fleshy root pada rimpang temu ireng aksesi Natar (a), Liwa (b). Lingkaran merah menunjukkan bagian fleshy root
Tabel 3 Aksesi temu ireng hasil eksplorasi
Kode aksesi Asal aksesi Letak geografis Tipe iklim Kuningan 1 Desa Cileuleuy Kec. Cigugur Kab. Kuningan
Jawa Barat
6°47’-7° 12’ LS/ 108° 23’-108° 47’ BT
C Cianjur Pasar Ramayana Kota Cianjur Jawa Barat 7° 20’-7° 25’ LS/
106° 48’-106° 57’ BT
A Bogor Pasar Anyar Kota Bogor Jawa Barat 6°26’ LS/
106°48’BT
A Malang Desa Turirejo Kec. Lawang Kab. Malang Jawa
Timur
7°06’-8°02’ LS/
112°06’ -112°07 BT
B
Liwa Desa Sebarus Kec. Bukit Tinggi Kab. Liwa Lampung 4°47’16”- 5°56’42”5°56’42” LS/ 103°35’08”- 104°33’51”BT B
Cirebon Pasar Kanoman Kota Cirebon Jawa Barat 6°30’-7°00’ LS/
108°48’ BT
C Kuningan 2 Pasar Kepuh Kab. Kuningan Jawa Barat 6°30’-7°00’ LS/
108°48’ BT
C Kendal Desa Sukokarang Kec.Weleri Kab.Kendal Jawa
Tengah
6°32’ - 7°24’ LS/
109°40’-110°18’ BT
B Natar Desa Karang Sari Kec. Natar Kab. Lampung
Selatan Lampung
5°15’ 6°00’ LS/ 105°14’-105°45’ BT
B Rimbo Desa. Karangdadi Kec. Rimbo Ilir Kab. Tebo
Jambi
0°52’-0°54’ LS/ 101°48’-102°49’
B Keterangan : Tipe iklim mengacu kepada Schmidt dan Ferguson (1951)
Pengambilan gambar rimpang temu ireng dilakukan dengan memotong secara melintang/radial dan cross section untuk mengamati warna daging rimpang. Rimpang temu ireng memiliki warna keabuan seperti warna timah yang dapat diamati baik pada rimpang induk, rimpang primer, maupun rimpang sekunder. Irisan melintang pada fleshy root tidak menunjukkan warna keabuan. Adanya warna abu pada rimpang temu ireng menunjukkan karakter penciri yang membedakan antara temu ireng dengan anggota genus Curcuma yang lainnya.
Selain warna abu di dalam pengamatan rimpang temu ireng ditemukan warna kuning muda pada bagian innerside rimpang, sehingga pada pengamatan daging rimpang diketahui terdapat dua kombinasi warna daging rimpang temu ireng yaitu putih keabuan dan kuning keabuan (Gambar 7).
Gambar 7 Warna keabuan pada rimpang induk temu ireng aksesi Kendal (a), rimpang primer aksesi Kendal (b), tidak ditemukan warna keabuan pada fleshy root aksesi Natar (c), skala : 5 cm
Warna kulit rimpang temu ireng hasil eksplorasi memiliki warna yang berbeda, rimpang dengan warna kulit rimpang cokelat kekuningan meliputi aksesi Kuningan 1, Bogor, Liwa, Natar, kunyit, temulawak, dan temu putih. Warna kulit rimpang cokelat keabuan meliputi aksesi Cianjur, Malang, Cirebon, Kuningan 2, Kendal, dan Rimbo. Potongan melintang rimpang primer pada setiap aksesi temu ireng menunjukkan bahwa terdapat warna abu pada setiap rimpang dengan kekuatan warna abu yang berbeda-beda. Aksesi Kuningan 1, Bogor, Malang, Liwa dan Kendal menunjukkan warna keabuan yang begitu jelas dibandingkan dengan aksesi lainnya. Warna kuning pada bagian tengah diameter dapat dilihat pula pada aksesi Cianjur, Bogor, Malang, Liwa, Kendal, Cirebon, dan Rimbo, untuk aksesi Kuningan 2 dan Natar tidak terlihat begitu jelas (Tabel 4).
Kekasaran permukaan rimpang temu ireng meliputi halus, sedang, dan kasar. Aksesi temu ireng yang memiliki kekasaran permukaan rimpang halus meliputi aksesi Cianjur, Malang, Kendal, temulawak dan temu putih. Aksesi temu ireng dengan kekasaran kulit permukaan rimpang sedang meliputi aksesi Kuningan 1, Bogor, dan Liwa. Aksesi cirebon, Kuningan 2, Natar, dan Kunyit memiliki kekasaran permukaan rimpang yang kasar (Tabel 4). Jarak antar buku pada rimpang temu ireng menunjukkan bahwa aksesi Kuningan 1, Bogor, Liwa, Cirebon, Kuningan 2, Natar, kunyit temulawak, dan temu putih memiliki jarak antar buku yang rapat sedangkan aksesi Cianjur, Malang, Kendal, dan Rimbo memiliki jarak antar buku yang lebih renggang. Keragaan rimpang temu ireng ditunjukkan pada Gambar 8.
Tabel 4 Karakter kualitatif rimpang temu ireng hasil eksplorasi Aksesi Warna kulit rimpang Warna daging
rimpang Kekasaran permukaan rimpang Jarak antar buku Kuningan 1 Cokelat kekuningan Putih keabuan Sedang Rapat Cianjur Coklat keabuan Kuning keabuan Halus Renggang Bogor Cokelat kekuningan Kuning keabuan Sedang Rapat Malang Coklat keabuan Kuning keabuan Halus Renggang Liwa Cokelat kekuningan Putih keabuan Sedang Rapat Cirebon Cokelat keabuan Kuning keabuan Kasar Rapat Kuningan 2 Cokelat keabuan Putih keabuan Kasar Rapat Kendal Cokelat Keabuan Kuning keabuan Halus Renggang Natar Cokelat kekuningan Putih keabuan Kasar Rapat Rimbo Cokelat keabuan Putih keabuan Halus Renggang Kunyit Cokelat kekuningan Kuning kemerahan Kasar Rapat Temulawak Cokelat kekuningan Kuning kecokelatan Halus Rapat Temu putih Cokelat kekuningan Putih kekuningan Halus Rapat
Rimpang temu ireng memiliki ukuran panjang rimpang induk berkisar antara 3.9 cm (aksesi Natar) hingga 8.0 cm (aksesi Cianjur) dengan ukuran diameter berkisar antara 3.4 cm (aksesi Rimbo) hingga 5.1 cm (aksesi Cianjur). Rimpang primer terpanjang sebesar 11.9 cm (aksesi Cianjur) sedangkan rimpang primer terpendek sebesar cm (aksesi). Jumlah mata tunas temu ireng terbanyak sebesar 40 mata tunas (aksesi Natar), sedangkan terendah sebanyak 10 mata tunas (aksesi Kuningan 1, Liwa, dan Rimbo) (Tabel 5).
Tabel 5 Karakter rimpang induk, rimpang primer dan jumlah mata tunas aksesi temu ireng hasil eksplorasi
Aksesi Diameter rimpang induk (cm) Panjang rimpang induk (cm) Diameter rimpang primer (cm) Panjang rimpang primer (cm) Jumlah mata tunas (cluster) Kuningan 1 3.8±1.72 5.0±2.65 1.6±0.25 5.1±1.61 10±0.82 Cianjur 5.1±0.54 8.0±1.32 2.2±0.48 11.9±4.91 21±0.69 Bogor 4.2±1.02 5.4±2.23 1.5±0.74 4.2±0.74 23±1.34 Malang 4.3±0.96 6.7±1.09 1.5±0.45 6.8±1.60 82±1.58 Liwa 4.4±0.96 4.4±1.00 1.8±0.62 3.5±2.21 10±1.58 Cirebon 3.8±0.49 5.2±0.71 1.7±0.23 5.5±2.57 15±1.50 Kuninga 2 3.5±0.73 4.8±1.29 1.8±0.45 6.2±2.19 25±1.30 Kendal 4.9±1.29 6.6±0.79 2.4±0.27 9.9±1.04 11±0.71 Natar 3.5±0.73 3.9±2.97 1.2±0.19 3.1±0.84 40±1.78 Rimbo 3.4±0.49 6.5±0.71 0.9±1.23 3.6±1.27 10±0.84
Gambar 8 Keragaan rimpang temu ireng, kunyit, temulawak, dan temu putih hasil eksplorasi
Simpulan
Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa rimpang temu ireng hasil eksplorasi memiliki ukuran yang berbeda pada setiap aksesi. Rimpang induk temu ireng memiliki panjang antara 3.9 cm (aksesi Natar) hingga 8.0 cm (aksesi Cianjur), diameter rimpang induk antara 3.4 cm (aksesi Rimbo ) hingga 5.1 cm (aksesi Cianjur). Ukuran panjang rimpang primer berkisar antara 3.1 cm (aksesi Natar) hingga 11.9 cm (aksesi Cianjur) dengan ukuran diameter terbesar 2.4 (aksesi Kendal) dan diameter terkecil 0.9 (aksesi Rimbo). Karakter warna daging rimpang terdiri atas dua warna, yaitu kuning keabuan dan putih keabuan.