• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Alat Pelindung Diri (APD)

2.2.3 Karakteristik Alat Pelindung Diri (APD)

Berikut adalah karakteristik dari Alat Pelindung Diri (APD) (Rijanto, 2011):

1. Alat pelindung diri mempunyai keterbatasan yang umum yaitu tidak dapat menghilangkan bahaya pada sumbernya.

2. Apabila alat pelindung diri tidak berfungsi dan kelemahannya tidak diketahui maka risiko bahaya yang timbul dapat menjadi lebih besar.

3. Saat digunakan, alat pelindung diri harus sudah dipilih dengan tepat dan harus selalu dimonitor.

4. Pekerja yang menggunakannya harus sudah terlatih.

2.2.4 Jenis Alat Pelindung Diri (APD) bagi Petugas Isntalasi Sanitasi dan K3 Menurut KepMekes 1204/Mekes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan rumah sakit bahwa petugas pengelola sampah harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang terdiri dari:

1. Topi/helm

Menurut Rijanto (2011) yang mengutip pendapat American National Standard Institute (ANSI) Z89.1-1986 bahwa topi/helm pengaman adalah sebagai

suatu alat yang dipakai untuk memberikan perlindungan untuk kepala, atau bagian-bagiannya, terhadap benturan, benda-benda kecil/partikel-partikel berterbangan, sengatan listrik, atau kombinasi diantaranya. Topi atau helm pengaman yang digunakan adalah topi/helm Kelas C. Topi/helm pengaman yang dimaksudkan untuk melindungi kepala dari kekuatan benturan benda-benda yang jatuh, tanpa pengaman terhadap listrik.

2. Masker

Menurut Tarwaka yang dikutip oleh Veronica (2015), alat pelindung pernafasan digunakan untuk melindungi pernafasan dari risiko paparan gas, uap, debu, atau udara terkontaminasi atau beracun, korosi atau yang bersifat rangsangan. Sebelum melakukan pemilihan terhadap suatu alat pelindung pernafasan yang tepat, maka perlu mengetahui informasi tentang potensi bahaya atau kadar kontaminan yang ada di lingkungan kerja. Hal-hal yang perlu diketahui antara lain:

a. Bentuk kontaminan di udara, apakah gas, uap, kabut, fume, debu, atau kombinasi dari berbagai bentuk kontaminan tersebut.

b. Kadar kontaminan di udara lingkungan kerja.

c. Nilai ambang batas yang diperkenankan untuk masing-masing kontaminan.

d. Reaksi fisiologis terhadap pekerja, seperti dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit.

e. Kadar oksigen di udara tempat kerja cukup tidak, dan lain-lain.

Masker digunakan untuk mengurangi paparan debu atau partikel-partikel yang lebih besar masuk kedalam saluran pernafasan dan mencegah percikan yang bersifat infeksius masuk ke dalam mulut.

3. Pelindung mata

Menurut Tarwaka yang dikutip oleh Veronica (2015), alat pelindung mata digunakan untuk melindungi mata dari percikan bahan kimia korosif, debu dan partikel-partikel kecil yang melayang di udara, gas atau uap yang dapat menyebabkan iritasi mata, radiasi gelombang elegtromagnetik, panas radiasi sinar matahari, pukulan atau benturan benda keras dan lain-lain. Jenis alat pelindung mata antara lain:

a. Kaca mata biasa (Spectacle Goggles), alat ini berfungsi untuk melindungi mata dari partikel-partikel kecil, debu dan radiasi gelombang elektromagnetik.

b. Goggles, alat ini berfungsi untuk melindungi mata dari gas, debu, uap, dan percikan larutan bahan kimia. Goggles biasanya terbuat dari plastik transparan dengan lensa berlapis kobalt untuk melindungi bahaya radiasi gelombang elektromagnetik mangion.

4. Pakaian panjang (coverall)

Merupakan pakaian pelindung yang memiliki kemampuan melindungi seluruh tubuh pekerja, mulai dari pergelangan tangan sampai pergelangan kaki.

5. Apron untuk industri

Apron ataupun pakaian pelindung yang terbuat dari bahan timbal yang dapat menyerap radiasi pengion.

6. Pelindung kaki

Menurut Tarwaka yang dikutip oleh Veronica (2015), alat pelindung kaki digunakan untuk melindungi kaki dan bagian lainnya dari benda-benda keras, benda tajam, logam/kaca, larutan kimia, benda panas, kontak dengan arus listrik.

a. Sepatu kulit, yaitu sepatu khusus yang digunakan oleh petugas pada pekerjaan yang membutuhkan keamanan oleh benda-benda keras, panas dan berat, serta kemungkinan tersandung, tergelincir, terjepit, panas, dingin.

b. Sepatu boot, yaitu sepatu khusus yang digunakan oleh petugas pada pekerjaan yang membutuhkan keamanan oleh zat kimia korosif, bahan-bahan yang dapat menimbulkan dermatitis, dan listrik.

7. Sarung tangan khusus (disposable gloves atau heavy duty gloves).

Pelindung tangan (sarung tangan) adalah alat pelindung diri yang berfungsi untuk melindungi tangan dan jari-jari tangan dari pajanan api, suhu panas, suhu dingin, radiasi elektromagnetik, radiasi mengion, arus listrik, bahan kimia, benturan, pukulan dan tergores, terinfeksi zat patogen (virus, bakteri) dan jasad renik (Permenakertrans, 2010).

Menurut Tarwaka yang dikutip oleh Veronica (2015), sarung tangan rumah tangga (gloves), sarung tangan jenis ini bergantung pada bahan-bahan yang digunakan diantaranya:

a. Sarung tangan yang terbuat dari bahan asbes, katun, wool untuk melindungi tangan dari api, panas, dan dingin.

b. Sarung tangan yang terbuat dari bahan kulit untuk melindungi tangan dari listrik, panas, luka, dan lecet.

c. Sarung tangan yang terbuat dari bahan yang dilapisi timbal (Pb) untuk melindungi tangan dari radiasi elektomagnetik dan radiasi pengion.

d. Sarung tangan yang terbuat dari bahan karet alami (sintetik) untuk melindungi tangan dari kelembaban air, zat kimia.

e. Sarung tangan yang terbuat dari bahan Poli Vinyl Chlorida (PVC) untuk melindungi tangan dari zat kimia, asam kuat, dan dapat sebagai oksidator.

2.3 Rumah Sakit

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

Rumah sakit Umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit (PMK RI, 2014).

Pasal 4 Undang-Undang No 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit menjelaskan bahwa Rumah Sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang memiliki fungsi diantaranya:

1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.

2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.

3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.

4. Penyelenggaraan penelitian dan pembangunan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

Menurut Pasal 10 Undang-undang No 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, bangunan Rumah Sakit paling sedikit terdiri atas ruang:

1. Rawat jalan.

2. Ruang rawat inap.

3. Ruang gawat darurat.

4. Ruang operasi.

5. Ruang tenaga kesehatan.

6. Ruang radiologi.

7. Ruang laboratorium.

8. Ruang sterilisasi.

9. Ruang farmasi.

10. Ruang pendidikan dan latihan.

11. Ruang kantor dan administrasi.

12. Ruang ibadah.

13. Ruang tunggu.

14. Ruang penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit.

15. Ruang menyusui.

16. Ruang mekanik.

17. Ruang dapur.

18. Laundry.

19. Kamar jenazah.

20. Taman.

21. Pengolahan sampah.

22. Pelantar parkir yang mencukupi.

Prasarana Rumah Sakit menurut Undang-Undang No 44 Tahun 2009 dapat meliputi:

1. Instalasi air,

2. Instalasi mekanikal dan elektrikal.

3. Instalasi gas medik.

4. Instalasi uap.

5. Instalasi pengelolaan limbah.

6. Pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

7. Petunjuk, standard dan sarana evakuasi saat terjadi keadaan darurat.

8. Instalasi tata udara.

9. Sistem informasi dan komunikasi.

10. Ambulan.

Prasarana tersebut harus memenuhi standar pelayanan, keamanan, serta keselamatan dan kesehatan kerja penyelenggaraan rumah sakit.

2.3.1 Instalasi Sanitasi dan K3

Menurut Arifin yang dikutip oleh Kuning (2012), Sanitasi adalah suatu cara untuk mencegah berjangkitnya suatu penyakit menular dengan jalan memutuskan mata rantai dari sumber. Sanitasi merupakan usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada penguasaan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan.

Persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit berdasarkan Permenkes No.

1204/Menkes/SK/X/2004 adalah meliputi: Sanitasi pengendalian berbagai faktor lingkungan fisik, kimia, biologi, dan sosial psikologi di rumah sakit. Program sanitasi di rumah sakit terdiri dari penyehatan bangunan dan ruangan, penyehatan makanan dan minuman, penyehatan air, penyehatan temmpat pencucian umum termasuk tempat pencucian linen, pengendalian serangga dan tikus, sterilisasi/desinfeksi, perlindungan radiasi, penyuluhan kesehatan lingkungan, pengendalian infeksi nosokomial, dan pengelolaan sampah/limbah.

2.3.1.1 Sistem kerja petugas instalasi sanitasi dan K3 di Rumah Sakit Umum Haji Medan

Jam kerja petugas instalasi sanitasi dan K3 di Rumah Sakit Umum Haji Medan dimulai pada pukul 07:00 WIB – 20:30 WIB yang terbagi kedalam 2 shift, yaitu:

1. Shift pertama pada pukul 07:00 WIB – 14:30 WIB 2. Shift kedua pada pukul 13:00 WIB – 20:30 WIB

Dalam melaksanakan tugas setiap harinya petugas instalasi sanitasi dan K3 dibagi menjadi 4 tim, yaitu:

1. Tim ruangan, bertanggung jawab untuk membersihkan setiap ruangan yang ada di Rumah Sakit Umum Haji Medan seperti kantor, kamar pasien, kamar mandi/WC, koridor, serta pengangkutan sampah (baik sampah medis maupun sampah non medis). Bahaya yang dapat mengancam petugas kebersihan disini antara lain adalah terpapar debu yang dibersihkan, terpeleset saat mengepel lantai, terpapar bahaya biologi saat membersihkan laboratorium atau ruangan yang mengandung virus dan bakteri, tertusuk benda tajam seperti jarum suntik saat pengangkutan, dapat tertular penyakit seperti hepatitis dan HIV/AIDS, dermatitis kontak, serta musculoskeletal.

2. Tim taman/gardener, bertanggung jawab untuk membersihkan taman, menata taman, dan keindahan lingkungan di Rumah Sakit Umum Haji Medan.

Bahaya yang dapat mengancam petugas kebersihan disini adalah tertusuk duri, musculoskeletal, dan terpapar debu.

3. Tim Pest Control, bertanggung jawab untuk membasmi/menangkap hama seperti kucing, tikus, lalat, dan hewan pengerat lainnya. Bahaya yang dapat mengancam petugas disini adalah musculoskeletal.

4. Sanitasi limbah, bertanggung jawab untuk mengelola limbah rumah sakit.

Bahaya yang mengancam petugas disini adalah musculoskeletal dan terpapar bahaya biologi, bahan kimia, dan virus dari limbah yang dihasilkan rumah sakit.

Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif, yang bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku penggunaan alat pelindung diri pada petugas instalasi sanitasi dan K3 di Rumah Sakit Umum Haji Medan Tahun 2018.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RSU Haji Medan, dengan alasan bahwa belum pernah dilakukan penelitian sejenis ditempat tersebut dan ditempat penelitian masalah perilaku penggunaan APD perlu mendapat perhatian.

3.2.1 Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada Januari – Mei 2018.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh petugas instalasi sanitasi dan K3 yang menangani kebersihan (Tim Ruangan) di RSU Haji Medan, yaitu sebanyak 42 orang.

3.3.2 Sampel

Adapun sampel pada penelitian ini adalah seluruh petugas instalasi sanitasi dan K3 yang menangani kebersihan (Tim Ruangan) di RSU Haji Medan, yaitu sebanyak 42 orang.

3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer

Data primer diperoleh melalui hasil observasi dan wawancara dengan kuesioner yang telah dimodifikasi dari penelitian sebelumnya yaitu Theresia Veronika tentang Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan terhadap Pemakaian Alat Pelindung Diri dalam Penanganan Sampah Medis pada Petugas Cleaning Service di RSUD Dr. Pirngadi di Medan Tahun 2015. Berikut adalah hasil uji validitas dan reliabilitas dari kuesioner tersebut:

3.4.1.1 Validitas

Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur (Notoadmodjo, 2005). Pada tabel Product moment, nilai r untuk 30 responden yaitu 0,361 dengan taraf signifikansi 5% atau taraf kepercayaan 95%. Hasil perhitungan validitas didapatkan dari jumlah 12 pertanyaan dalam kuesioner tentang pengetahuan, terdapat 3 pertanyaan yang dinyatakan tidak valid yaitu pertanyaan nomor 4 (- 0,101 < 0,361), pertanyaan nomor 5 (0,244 < 0,361) dan pertanyaan nomor 7 (0,106 < 0,361). Kemudian didapatkan dari jumlah 10 pertanyaan dalam kuesioner tentang sikap, terdapat 2 pertanyaan yang dinyatakan tidak valid yaitu pertanyaan nomor 6 (0,067 < 0,361) dan pertanyaan nomor 7 (0,025 < 0,361). Pertanyaan yang tidak valid dikendalikan dengan cara dihilangkan dikarenakan pertanyaan tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap hasil penelitian.

3.4.1.2 Reliabilitas

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Notoadmojo, 2005). Uji reliabilitas kuesioner dari 9 pertanyaan tentang pengetahuan, 8 pertanyaan tentang sikap diketahui bahwa Alpha Cronbach lebih besar dari r tabel dan bernilai positif (0,656 > 0,361) untuk pertanyaan tentang pengetahuan, (0,451 > 0,361) untuk pertanyaan tentang sikap. Dapat disimpulkan bahwa 9 pertanyaan tentang pengetahuan, dan 8 pertanyaan tentang sikap tersebut reliabel.

3.4.2 Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari pihak RSU Haji Medan berupa data mengenai petugas instalasi sanitasi dan K3 dan profil RSU Haji Medan.

3.5 Variabel dan Definisi Operasional

1. Pengetahuan adalah hasil dari tahu petugas instalasi sanitasi dan K3 terhadap pemakaian alat pelindung diri dalam bekerja.

2. Sikap adalah respon petugas instalasi sanitasi dan K3 sehubungan dengan pemakaian alat pelindung diri dalam bekerja.

3. Tindakan adalah perbuatan nyata atau praktek petugas instalasi sanitasi dan K3 dalam bekerja untuk memakai alat pelindung diri sesuai peraturan yang ditetapkan.

4. Umur adalah lama waktu perjalanan hidup petugas instalasi sanitasi dan K3 yang dihitung sejak saat ia dilahirkan sampai batas waktu wawancara ini dilakukan yang dinyatakan dalam satuan tahun sesuai pengakuan responden.

5. Pendidikan adalah pendidikan formal terakhir responden yang pernah diikutinya selama ini.

6. Masa kerja adalah jangka waktu bekerja responden yang dihitung mulai saat ia mulai melakukan tugasnya di RSU Haji Medan.

7. Petugas instalasi sanitasi dan K3 adalah petugas yang langsung berhubungan dengan kebersihan lingkungan di rumah sakit.

8. Alat pelindung diri adalah alat yang digunakan petugas instalasi sanitasi dan K3 disediakan oleh rumah sakit bertujuan untuk melindungi tubuh dan meminimalkan risiko tubuh dari kemungkinan adanya pemaparan potensi bahaya lingkungan kerja terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

3.6 Metode Pengukuran 3.6.1 Pengetahuan

Pengetahuan responden di ukur dengan memberikan skor berdasarkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang terdapat pada kuesioner. Pegukuran menggunakan skala Guttman yaitu multiple choise. Skala Guttman, adalah suatu skala pengukuran yang bentuk jawabannya tegas, misalnya: baik-buruk, positif-negatif, tinggi-rendah, setuju-tidak setuju, dll. Untuk jawaban positif seperti benar, ya, tinggi, baik, dan semacamnya diberi skor 1; sedangkan untuk jawaban negatif misalnya tidak atau salah, atau rendah, buruk, dan semacamnya diberi skor 0 (Machfoedz, 2013). Pertanyaan berjumlah 9 dengan total skor 9. Adapun ketentuan pemberian skor yaitu “benar” diberi skor 1 dan “salah” diberi skor 0.

Maka total skor tertinggi yang dapat dicapai responden adalah 9 dan total skor

terendah adalah 0. Menurut Arikunto (2006), pengetahuan dibagi dalam 3 kategori, yaitu:

a. Baik : Bila subyek mampu menjawab dengan benar > 75% dari seluruh pertanyaan.

b. Cukup : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 56% - 75% dari seluruh pertanyaan.

c. Kurang : Bila subyek mampu menjawab dengan benar ≤ 55% dari seluruh pertanyaan.

3.6.2 Sikap

Pengukuran sikap dilakukan melalui 8 pertanyaan menggunakan skala Guttman responden yang menjawab “setuju” pada pertanyaan positif diberi skor 1 dan “tidak setuju” diberi skor 0. Untuk pertanyaan negatif, jika responden menjawab “setuju” diberi skor 0 dan “tidak setuju” diberi skor 1. Maka total skor tertinggi yang dapat dicapai responden adalah 8 dan total skor terendah adalah 0.

Kategori sikap menurut Irianto (2004) adalah sebagai berikut:

a. Sikap positif : bila jumlah nilai skor > nilai rata-rata.

b. Sikap negatif : bila jumlah nilai skor ≤ nilai rata-rata.

3.6.3 Tindakan

Pengukuran tindakan dalam pemakaian alat pelindung diri (APD) pada saat bekerja (pada jam kerja selama 1 hari). Dikategorikan sebagai berikut:

1. Lengkap : Bila memakai semua APD (masker, sarung tangan, dan sepatu) yang disyaratkan.

2. Tidak lengkap : Bila tidak memakai salah satu dari APD (masker, sarung tangan, dan sepatu) yang disyaratkan.

3.7 Pelaksanaan Perolehan Data

Rancangan kegiatan pelaksanaan perolehan data dari awal hingga akhir penelitian secara rinci (Tabel 3.1):

Tabel 3.1 Pelaksanaan Kegiatan Perolehan Data

No. Hari & tanggal Pelaksanaan Kegiatan Waktu 1. Kamis,

1 Maret 2018

Administrasi perolehan surat izin meneliti di RSU Haji Medan Instalasi Sanitasi dan K3 dan pengawas petugas

di ruangan Hijir Ismail 07.00 WIB 10. Jum’at,

4 Mei 2018

Observasi penggunaan APD

di ruangan Al-Ikhsan 07.00 WIB 11. Sabtu, Observasi penggunaan APD

07.00 WIB

12. Minggu,

di ruangan Hijir Ismail 07.00 WIB 17. Jum’at

11 Mei 2018

Observasi penggunaan APD

di ruangan Al-Ikhsan 07.00 WIB 6. Sabtu,

3.8 Metode Analisis Data

Data yang diperoleh berupa hasil kuesioner dan observasi dengan petugas instalasi sanitasi dan K3 yang menangani kebersihan lingkungan di RSU Haji Medan akan diolah dan ditabulasikan kedalam bentuk tabel distribusi frekuensi, dan diagram pie. Kemudian akan dianalisa secara deskriptif untuk menjelaskan gambaran perilaku terhadap pemakaian alat pelindung diri pada instalasi sanitasi dan K3 di RSU Haji Medan.

4.1.1 Sejarah RSU Haji Medan

Sejak awal Tahun 1960-an sudah mulai terdengar suara dari kalangan umat islam di Sumatera Utara, khususnya di Kotamadya Medan, yang mendambakan sebuah rumah sakit yang benar-benar bernafaskan islam. Hal ini disebabkan karena rumah sakit yang telah ada dirasa belum mampu membawakan misi dari agama lain sudah lebih dulu ada di kota medan. Sementara gagasan mendirikan rumah sakit yang bernafaskan islam terus berkembang. Pada musim haji tahun 1990 terjadi musibah terowongan Mina yang banyak menimbulkan korban jemaah haji Indonesia. Gagasan dan pelaksanaan pembangunan rumah sakit ini sejalan dengan niat pemerintah untuk membangun rumah sakit haji di empat emberkasi calon jemaah haji Indonesia. Gagasan mendirikan sebuah rumah sakit yang bernafaskan islam dicetuskan oleh Bapak Gubernur Provinsi Sumatera Utara pada kegiatan safari Ramadhan 1410 H.

Rencana pendirian rumah sakit yang masih dalam proses ini segera mendapat persetujuan dan dukungan dari pemerintah pusat yakni berupa penyaluran bantuan dari Garuda Indonesia, Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila bahkan bantuan-bantuan Pemerintah Daerah Tingkat II se-Sumatera Utara, instansi-instansi Pemerintah dan Swasta serta dukungan masyarakat melalui infaq para jemaah haji dan infaq pegawai negeri yang beragama Islam.

Pada tanggal 28 Februari 1991 di Jakarta, Presiden Republik Indonesia

menandatangani Prasasti untuk keempat Rumah Sakit Haji, yakni Jakarta, Surabaya, Ujung Pandang dan Medan. Melalui surat keputusan gubernur provinsi Sumatera Utara No 445.05/712.K. Pada tanggal 7 Maret 1991 dibentuk panitia pembangunan Rumah Sakit Haji Medan dan akhirnya diletakkan batu pertama oleh Bapak Menteri Agama Republik Indonesia (Bapak H. Munawir Sjadzali) dan Bapak Gubernur Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 11 Maret 1991. Pada tanggal 4 Juni 1992, Rumah Sakit Haji Medan diresmikan oleh Bapak Presiden Soeharto. Pada tanggal 3 Juni 1998 dibentuk Yayasan Rumah Sakit Haji Medan dengan ketua umum Gubernur Provinsi Sumatera Utara. Pada tanggal 30 November 2011 Yayasan Rumah Sakit Haji Medan dibubarkan/dilikuidasi berdasarkan persetujuan rapat koordinasi dan rapat paripurna badan pengurus yayasan Rumah Sakit Haji Medan. Pada tanggal 29 Desember 2011 secara resmi dilakukan acara pengalihan pengelolaan yayasan Rumah Sakit Haji Medan kepada pemerintah provinsi Sumatera Utara.

Setelah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia tanggal 4 Juni 1992, Rumah Sakit Haji Medan saat ini telah mempunyai 250 tempat tidur untuk rawat inap, hampir dua kali lipat sewaktu diresmikan. Rumah Sakit Haji Medan saat ini semakin dikenal masyarakat, tercermin dari masyarakat yang dilayani terdiri dari semua golongan, agama, dan etnis serta frekuensi pemakaian tempat tidur yang terus meningkat. Rumah Sakit Haji Medan selain untuk masyarakat umum, juga melayani peserta Askes, Jamkesmas, Jamsostek, Asuransi kesehatan lain, dan beberapa perusahaan terutama yang ada di Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam (Profil RSU Haji Medan, 2016).

4.1.2 Visi RSU Haji Medan

Visi rumah sakit umum haji medan adalah “Rumah Sakit unggulan dan pusat rujukan dengan pelayanan bernuansa islami, ramah lingkungan, berdaya saing sesuai standar nasional dan internasional”.

4.1.3 Misi RSU Haji Medan

Adapun misi dari rumah sakit umum haji medan dalah:

1. Meningkatkan profesionalisme, kompetensi sumber daya manusia Rumah Sakit Umum Haji Medan Provinsi Sumatera Utara yang memiliki integritas dan religius.

2. Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana Rumah Sakit Haji Medan sesuai standar nasional dan internasional dengan prinsip kenyamanan dan keselamatan.

3. Meningkatkan kesejahteraan sumber daya manusia Rumah Sakit Umum Haji Medan Provinsi Sumatera Utara melalui pola pengelolaan keuangan badan layanan umum.

4. Meningkatkan kemudahan jangkauan pelayanan kesehatan.

5. Meningkatkan pelayanan yang berkualitas, transparan, bersih, ramah, aman dan nyaman serta lingkungan yang sehat bernuansa Go Green.

4.1.4 Struktur Organisasi RSU Haji Medan

Sesuai dengan surat yayasan Rumah Sakit Haji Medan tentang struktur Rumah Sakit Haji Medan termasuk klasifikasi B. Rumah Sakit pendidikan sebagai berikut:

2. Instalasi Rawat Inap 3. Instalasi Rawat

Rumah Sakit Haji Medan dipimpin oleh seorang Direktur dengan dibantu oleh tiga orang Wakil Direktur, yaitu:

1. Wakil Direktur Bidang Pelayanan Medis dan Keperawatan.

2. Wakil Direktur Bidang Medis dan Pendidikan.

3. Wakil Direktur Bidang Umum dan Keuangan.

Wakil Direktur bidang pelayanan medis dan kesehatan mengkoordinasikan bidang pelayanan medis dan keperawatan serta enam instalasi, yaitu:

1. Instalasi Rawat Jalan.

2. Instalasi Rawat Inap.

3. Instalasi Gawat Darurat.

4. Instalansi Bedah.

5. Instalasi Hemodialis.

Wakil Direktur bidang Penunjang Medis dan pendidikan mengkoordinasi bidang medis serta pendidikan dengan sepuluh instalasi, yaitu:

1. Instalasi Radiologi.

2. Instalasi Laboratorium.

3. Instalasi Farmasi.

4. Instalasi Gizi.

5. Instalasi Binatu.

6. Instalasi Pemeliharaan Rumah Sakit.

7. Instalasi Rehabilitasi Medis.

8. Sanitasi dan K3.

9. CSSD.

10. Instalasi Pemulasaran Jenazah.

Wakil Direktur bidang Umum dan Keuangan , mengkoordinasikan kegiatan di:

1. Bagian umum, yang meliputi urusan tata usaha kepegawaian, rumah tangga dan perlengkapan serta keamanan.

2. Bagian penyusunan anggaran dan perbendarahan, yang meliputi urusan penyusunan anggaran dan vertifikasi perbendaharaan.

3. Bagian akuntansi, yang meliputi urusan akuntansi keuangan, akuntansi manajemen dan mobilitasi dana.

4. Bagian perencanaan dan rekam medis, yang meliputi peyusunan program dan laporan dan laporan rekam medis/hokum dan perpustakaan publikasi dan pemasaran.

5. Bagian kerohanian, selain itu direktur didampingi oleh dewan penyatuan dan satuan pengawas intern dan dibantu juga oleh komite medik untuk urusan teknik medis.

4.2 Karakteristik Petugas Instalasi Sanitasi dan K3 dalam Penggunaan alat Pelindung Diri di RSU Haji Medan

Responden dalam penelitian ini adalah petugas instalasi sanitasi dan K3 yang menangani kebersihan (Tim Ruangan) di RSU Haji Medan yaitu sebanyak 42 orang responden dengan deskripsi sebagai berikut:

4.2.1 Umur

Berdasarkan kelas median maka diperoleh distribusi responden menurut

Berdasarkan kelas median maka diperoleh distribusi responden menurut

Dokumen terkait