BAB II KAJIAN TEOR
B. Status Keatletan Mahasiswa UNY
2. Karakteristik Atlet
Menurut Hasan Sadili (1990: 316), atlet merupakan individu yang memiliki prestasi yang lebih daripada individu yang lain dalam bidang olahraga. Kata atlet berasal dari bahasa Yunani yakni atlite. Atlet adalah orang yang melakukan latihan-latihan agar mendapatkan kekuatan badan, daya tahan, kecepatan, kelincahan, keseimbangan, dan kelentukan dalam mempersiapkan diri jauh sebelum pertandingan dimulai. Basuki Wibowo (2002: 5) mendefisinisikan atlet yaitu seseorang yang berprofesi atau menekuni suatu cabang olahraga tertentu dan berprestasi pada cabang olahraga tersebut. Atlet dapat mengukir prestasi pada tingkat daerah, nasional maupun internasional. Seorang atlet yang berprestasi tinggi memiliki karakteristik ambisi prestatif, kerja keras, gigih, komitmen, mandiri, cerdas, dan swakendali (Ali Maksum, 2007: 114). Atlet akan memperlihatkan kegigihan dan kerja keras apabila didukung oleh keluarga, lingkungan serta pelatih yang baik. Sedangkan menurut Sukadiyanto (2005: 4) atlet atau olahragawan adalah seseorang yang menekuni dan aktif melakukan latihan untuk meraih prestasi pada cabang olahraga yang dipilihnya. Pelatihan yang disiplin ditunjang dengan sarana dan prasarana yang baik akan menghasilkan atlet yang profesional. Selanjutnya Monty P. Satiadarma (2000: 29) menambahkan bahwa atlet merupakan
26
individu yang memiliki keunikan tersendiri. Atlet memiliki bakat, pola kepribadian serta latar belakang kehidupan yang mempengaruhi secara spesifik pada dirinya.
Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli, peneliti menyimpulkan atlet atau olahragawan adalah seseorang yang menekuni dan aktif melakukan latihan untuk meraih prestasi pada cabang olahraga yang dipilihnya serta mempersiapkan diri jauh sebelum pertandingan dimulai. Seorang atlet yang berprestasi tinggi memiliki karakteristik seperti memiliki ambisi prestatif, kerja keras, gigih, komitmen, mandiri, cerdas, dan swakendali.
b. Aspek Kepribadian Atlet
Terdapat tiga aspek kepribadian atlet menurut Weinberg & Gould dalam Monty P. Satiadarma (2000: 35) para psikolog secara garis besar terdiri atas 3 (tiga) aspek kepribadian atlet sebagai berikut.
1) Pendekatan “Trait”: kecenderungan untuk berperilaku secara tertentu dalam bereaksi terhadap situasi tertentu. Atlet memiliki kecenderungan perilaku seperti berprestasi tinggi dan pantang menyerah.
2) Pendekatan Situasional: pendekatan ini ditentukan oleh proses- belajar mencontoh dan adanya penguatan sosial. Perilaku atlet akan mengalami perubahan perilaku apabila lingkungannya mengalami perubahan. Namun, semakin tinggi prestasi atlet
27
berbanding terbalik dengan perubahan perilaku akibat lingkungan.
3) Pendekatan Interaksional: Pendekatan ini dipengaruhi oleh faktor pribadi, individu, dan lingkungan. Ketiga faktor tersebut mempengaruhi tingkah laku seorang atlet.
Berdasarkan uraian di atas peneliti menyimpulkan bahwa aspek kepribadian atlet memiliki tiga pendekatan. Masing-masing dari pendekatan tersebut terdapat perbedaan dan persamaan. Peneliti memiliki kecenderungan pada pendekatan interaksional yaitu, memiliki faktor yang mempengaruhi tingkah laku dari seorang atlet dari pribadi atlet tersebut dan lingkungan yang mendukung atlet itu sendiri.
Selanjutnya Monty P. Satiadarma (2000: 41) menjelaskan beberapa disposisi psikologis atlet sebagai berikut.
1) Keberanian Mengambil Resiko
Atlet yang memiliki banyak prestasi cenderung lebih berani dalam mengambil resiko. Atlet yang memiliki banyak prestasi memiliki kecenderungan untuk bisa menjadi penguasa gelanggang bahkan superior di lingkungan kehidupannya. Dengan kata lain semakin seseorang atlet mengikuti pertandingan dan memenangkannya memiliki tingkat keberanian dalam mengambil resiko semakin tinggi.
28 2) Haus Terhadap Tantangan
Seorang atlet yang mengikuti pertandingan selalu menghadapi situasi yang berbeda sehingga menimbulkan tantangan yang berbeda pula. Atlet cenderung mencari tantangan karena hal yang menantang merupakan motivator bagi mereka.
3) Kompetitif
Atlet yang mendapat banyak prestasi lebih mengutamakan keinginan berkompetisi dan tampil secara baik daripada sekedar menang atau memperoleh penghargaan atas kemenangannya. Dengan kata lain, yang penting yaitu atlet dapat membandingkan kemampuannya dengan orang lain.
4) Percaya Diri
Rasa percaya diri berkaitan erat dengan upaya atlet mempertahankan kendali emosi, berpikir positif, mempertahankan konsentrasi, meningkatkan usaha untuk memenangkan pertandingan, membuat keputusan tepat dan akurat. Atlet yang lebih sering mendapatkan prestasi memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi.
5) Kemampuan Meningkatkan Konsentrasi
Konsentrasi dibutuhkan seorang atlet dalam pertandingan. Konsentrasi digunakan untuk menyusun strategi dalam memenangkan pertandingan. Seorang atlet profesional akan
29
lebih mampu meningkatkan konsentrasi dan membentuk strategi.
6) Memiliki Harapan untuk Sukses
Atlet yang menjalani latihan secara berkala serta memiliki kematangan persiapan memiliki harapan yang lebih tinggi untuk memenangkan sebuah pertandingan. Atlet dapat menilai kemampuannya dalam menentukan harapan bagi karir ke depannya.
7) Mampu Mengatasi Tekanan atau Stress
Seorang atlet yang sering mengikuti pertandingan lebih mampu mengatasi stres pada saat latihan, pertandingan maupun saat gagal.
Berdasarkan uraian di atas peneliti menyimpulkan bahwa karakteristik atlet dalam hal disposisi psikologis memiliki kecenderungan berani mengambil resiko, haus terhadap tantangan, kompetitif, percaya diri, kemampuan meningkatkan konsentrasi, memiliki harapan untuk sukses, mampu mengatasi tekanan atau stres.
c. Permasalahan Psikologi Atlet
Permasalahan psikologi atlet yang dapat dialami oleh atlet menurut Soeharsono (dalam Yusup Hadisasmita, 1996: 87) meliputi:
1) Ketahanan Mental
Menurut Monty P. Satiadarma (2000: 43) ketegangan yang dialami oleh atlet disalurkan sebagai penggugah kewaspadaan
30
dalam bertanding. Atlet yang sering mendapat prestasi sudah lebih siap dalam menghadapi kekalahan maupun kemenangan sehingga mentalnya sudah terbentuk.
2) Kepercayaan diri
McClelland (dalam Luxori Y., 2005: 56) bahwa kepercayaan diri merupakan kontrol internal, perasaan akan adanya sumber kekuatan dalam diri, sadar akan kemampuan- kemampuan dan bertanggung jawab terhadap keputusan- keputusan yang telah ditetapkannya. Pada atlet kepercayaan menghadapi pertandingan lebih tinggi ketika atlet tersebut sudah merasa cukup dalam mempersiapkan pertandingan serta merasa lawan yang dihadapi memiliki kemampuan dibawah dari dirinya.
3) Penguasaan diri
Penguasaan diri merupakan poin penting bagi seorang atlet. Penguasaan diri yang dilakukan oleh atlet diperlihatkan dengan adanya sikap berdiam diri untuk memusatkan perhatikan dan mempersiapkan diri dalam menghadapi pertandingan.
4) Disiplin, Motivasi dan Semangat Juang
Kedisiplinan dapat ditumbuhkan dari pembiasaan lingkungan dan keteguhan individu dalam melaksanakan kegiatan latihan maupun jadwal istirahat yang sudah ditentukan oleh pelatih. Namun, tidak semua atlet mematuhi jadwal yang
31
sudah tersedia. Sedangkan disiplin merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan.
5) Ketenangan, Ketekunan dan Kecermatan
Ketenangan, ketekunan dan kecermatan merupakan salah satu point penting ketika menghadapi lawan. Ketika tenang dan cermat maka atlet dapat menentukan strategi yang baik untuk melumpuhkan lawan.
Dalam pembinaan atlet terdapat beberapa permasalahan seperti permasalahan pembinaan atlet, masalah medis, dan psikologis. Permasalahan dapat muncul karena berbagai faktor misalnya masalah muncul dari atlet, pembina maupun kendala teknis.
d. Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Individu dalam Menjadi Atlet
Menurut Gould, Dieffenbach & Moffett (dalam Toho Cholik Mutohir & Ali Maksum, 2007: 140) mengidentifikasi sejumlah faktor lingkungan yang mempengaruhi atlet untuk berkembang diantaranya lingkungan keluarga (orangtua, saudara, anggota keluarga yang lain), lingkungan sekolah (guru olahraga) dan lingkungan olahraga (pelatih, pembina, psikolog, atlet atau kompetitor). Hal ini dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut.
1) Orang tua
Menurut Patrikakou & Markum (dalam Toho Cholik Mutohir & Ali Maksum, 2007: 140) orang tua memiliki peran
32
penting dalam prestasi anak. Hal ini ditinjukkan dengan orang tua yang menentukan standar prestasi yang tinggi kepada anaknya. Prestasi yang dicapai berkaitan dengan harapan orang tua terhadap prestasi yang ingin dicapai anaknya. Orang tua yang menerapkan pola asuh otoritatif lebih mungkin memunculkan anak berprestasi dibandingkan dengan pola asuh yang lainnya.
2) Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah memberikan iklim bagi tumbuhnya minat anak terhadap olahraga. Pengaruh lingkungan sekolah juga berasal dari guru olahraga baik melalui pengajaran langsung dengan menciptakan proses pembelajaran yang menarik, bimbingan terhadap potensi yang dimiliki anak, maupun pola bina yang ditampilkan seorang guru.
3) Lingkungan Olahraga
Lingkungan olahraga menjadi lingkungan utamanya dalam meraih dan meniti karir sebagai atlet yang berprestasi. Pelatih merupakan pelatih figur sentral yang memiliki peranan penting seperti menyusun dan melaksanakan program latihan, selain itu memiliki peran sosial (orang tua, kakak maupun sahabat). Pola pembinaan yang diberikan pelatih mempengaruhi atlet untuk meraih prestasi (Gould, Dieffenbach & Moffett dalam Toho Cholik Mutohir & Ali Maksum, 2007: 141).
33
Berdasarkan uraian di atas peneliti menyimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi atlet diantaranya faktor keluarga, faktor lingkungan sekolah dan faktor lingkungan olah raga. Individu pertama kali mendapat pendidikan di lingkungan keluarga hal ini menuntukan bagaimana karakter individu terbentuk. Ketika keluarga memberikan dukungan kepada anak untuk berprestasi di bidang olahraga maka memiliki kesempatan yang lebih untuk mencapai prestasi di bidang olahraga.
C. Perkembangan Dewasa Dini